
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, karena aku sangat mencintaimu. Percayalah, jika aku masih bernafas, maka aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu ataupun melukaimu walaupun seujung kuku." kata Rakha sambil mengelus punggung Dinar.
"Terimakasih sayang." kata Dinar dan semakin mengeratkan pelukannya pada Rakha.
"Hemm, sekarang mandilah. Atau mungkin kau ingin mandi berdua?" tanya Rakha menggoda Dinar
"Hey, kau ternyata mesum." kata Dinar lalu melepaskan pelukannya dari Rakha
"Lihatlah sayang, aku masih laki-laki normal." kata Rakha
"Yah, aku tahu. Jika kau tidak normal, mana mungkin aku mau menikah denganmu." kata Dinar dengan nada mengejek pada Rakha
"Oh jadi begitu, kemarilah. Aku ingin menerkammu sekarang." kata Rakha sambil mendekati Dinar tapi Dinar sudah keburu berlari menuju kamar mandi.
Rakha tersenyum melihat Dinar yang seakan ketakutan.
"Sayang." kata Dinar keluar dari kamar mandi setelah beberapa menit dia masuk tadi.
"Kenapa belum mandi? Kau benar-benar ingin kita mandi bersama?" tanya Rakha yang melihat Dinar keluar masih menggunakan gaun tadi.
"Berhentilah berpikiran mesum, aku kesusahan membuka resleting gaun ini. Bisakah kau membantuku." kata Dinar
"Kemarilah biar kubantu." kata Rakha
Dinar mendekati Rakha dan membelakanginya agar Rakha lebih mudah membantunya membuka resleting gaun.
Rakha perlahan menurunkan resleting gaun Dinar, dan otomatis punggung mulus Dinar terekpos begitu saja. Rakha menelan salivanya kasar, dia perlahan meraba punggung Dinar dan hal itu membuat Dinar terperanjat kaget karena baru pertama ada laki-laki yang menyentuhnya seperti itu.
"Ehm, aku akan mandi." kata Dinar berdehem menghilangkan rasa gugupnya sebelum meninggalkan Rakha ke kamar mandi.
"Gila, aku bisa gila. Tunggu sebentar lagi Rakha junior." gumam Rakha sambil menarik nafasnya.
Sudah setengah jam lebih Dinar di kamar mandi, tapi dia belum juga keluar.
"Oh Tuhan, kenapa aku lupa membawa baju ganti. Ah sudahlah, dia juga suamiku, toh dia juga akan melihat semuanya nanti." gumam Dinar dalam kamar mandi yang siap keluar hanya menggunakan handuk yang dililit.
Barusaja Rakha berniat beranjak dari duduknya untuk mengetuk pintu kamar mandi, tapi saat dia akan berdiri, pintu kamar mandi sudah terbuka.
Dan lagi-lagi Rakha menelan salivanya melihat penampilan Dinar.
"Sayang, kau berniat menggodaku?" kata Rakha pada Dinar
"Hey, aku lupa membawa baju ganti ke kamar mandi, buanglah pikiran kotormu itu." kata Dinar jengkel karena Rakha.
"Tapi kau benar-benar menggoda." goda Rakha pada Dinar dan perkataan Rakha mampu membuat pipi Dinar memerah.
"Oh benarkah?" kata Rakha yang sudah berada di depan Dinar sambil mengangkat dagu Dinar agar bertatapan dengannya.
"Aku ingin melakukannya sekarang." kata Rakha.
"Aku tidk mau karena kau bau. jadi cepatlah mandi." kata Dinar mengusir Rakha.
"Baiklah, aku akan cepat-cepat mandi agar bisa cepat-cepat menerkam istriku yang manis ini." kata Rakha dan perkataannya membuat pipi Dinar semakin merah seperti tomat.
"Sayang lihatlah, pipimu merah sekali." kata Rakha semakin menggoda Dinar
"Mana ada." kata Dinar salting sambil memalingkan wajahnya dari Rakha.
"Cepatlah mandi." kata Dinar lagi sambil mendorong tubuh Rakha menuju kamar mandi.
"Cupp, tunggu aku." kata Rakha mengecup bibir Dinar sekilas sebelum masuk kedalam kamar mandi.
"Heyy, first kissku." teriak Dinar dari luar kamar mandi sambil memegang bibirnya sehabis dikecup Rakha.
Rakha yang mendengar teriakan Dinar berbalik membuka pintu kamar mandi yang telah ia tutup.
"Benarkah?" kata Rakha tidak percaya
"Terserah, aku tidak menyuruhmu percaya." kata Dinar kesal meninggalkan Rakha menuju tempat tidur.
"Aku percaya sayang. Tunggu sebentar, aku akan mandi secepat mungkin." kata Rakha girang dan segera menutup pintu kamar mandi.
Dinar tersenyum geli dengan sikap suaminya tersebut.
"Tuhan, terimakasih kau sudah mengirimkan orang yang bisa membuatku tersenyum kembali." gumam Dinar dalam hati.
20 menit kemudian Rakha sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya.
"Sayang, kita mulai sekarang." kata Rakha mengahampiri Dinar yang membaca buku di atas tempat Tidur.
Dinar hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya berikutnya.
Dan mereka melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan. (Kalian tahu lah, ngga usah author jelasin yah wkwk.)
.
Adegannya ngga usah di tulis lah yak, author masih polos jadi gatau yang begituan😆