
"Sayang, apa kau sudah membahas semuanya dengan papa dan mama?" tanya Rika pada Dimas di dalam mobil
"Sudah, tenang saja. semuanya akan berjalan dengan lancar." kata Dimas sambil tersenyum licik
"Aku sangat mencintaimu." kata Rika sambil bergelayut manja di lengan Dimas yg sedang mengemudikan mobil
Rumah Rakha
"Bagaimana?" tanya Rakha dengan ambigu hingga membuat org yang diseberang telfon mendengus kesal
"Bagaimana apanya bos? kau ini irit sekali berbicara." kesal pria manis itu yang tak lain adalah Keynan.
"Bagaimana dengan Black Lion, apa semuanya baik baik saja?" tanya Rakha jengah dengan anak buahnya yg satu ini
"Nah gitu kek, yang jelas. tenang aja bos, semuanya beres jika seorng Keynan yang menangani." kata Keynan menyombongkan diri, setelah itu Rakha langsung mematikan sambungannya sehingga membuat Keynan kembali mendengus kesal. "Dasar es kutub." gerutu Keynan.
Setelah menghubungi Keynan, Rakha segera menghubungi Daddynya untuk memberitahukan perkembangan perusahaan yang di Indonesia
"Halo Daddy, perusahaan sekarang sudah stabil dan sudah beroperasi seperti biasanya." kata Rakha
"Bagus lah, jika semuanya sudah stabil, kau bisa pulang bersama adikmu." kata Daddy dari Rakha
"Rakha akan disini sampai semuanya stabil, kemungkinan 2 bulan lagi Rakha baru bisa pulang. lagipula Rakha masih ingin menemani nenek." kata Rakha
"Yah, terserah kau saja. Daddy akan mengundur jadwal peresmianmu menjadi Presdir jika begitu."
"Terimakasih Dad." kata Rakha sambil mengakhiri panggilannya.
"2 bulan, hanya 2 bulan." gumam Rakha dalam hati.
.
Paginya seperti biasa, semua orang melakukan aktifitasnya seperti hari hari biasa.
"Halo, apa ada kabar dari pria itu?" tanya Dinar
"Ya, dia bilang akan kesini dengan orang tuanya siang ini." jawab Widya
"Ya, terimakasih untuk semuanya. hiks" kata Widya mulai terisak
"Sudahlah, jangan menangisi hal tidak penting. ini sudah kewajibanku melindungi orang yang aku sayang. berhenti menangis, aku tidak suka." kata Dinar tegas dan seketika itu Widya langsung menghentikan tangisannya.
"Aku akhiri telponnya, sampaj jumpa." kata Dinar dan langsung mematikan sambungan telponnya dengan Widya.
Baru saja Dinar meletakkan ponselnya, tetapi ponselnya kembali berbunyi.
Ddrrrttttt
"Halo kak Dinar." sapa orang di seberang telpon yang tak lain adalah Dinda
"Halo, Dinda. ada apa?" tanya Dinar
"Tidak ada apa apa. Dinda hanya ingin tau kabar kakak saja." kata Dinda
"Hmm, kakak baik baik saja. Ah yah, maaf untuk kemarin. kakak tidak menghiraukanmu." kata Dinar
"Tak apa, aku sangat kagum dengan kakak. kakak hebat." puji Dinda, Dinar hanya tersenyum meskipun Dinda tidak melihatnya.
"Ya sudah, kakak akhiri dulu. kakak sedang dalam perjalanan." kata Dinar
"Yah, hati hati." kata Dinda dan langsung mematikan sambungannya.
"Kakak, bisakah nanti malam kau kesini. nenek mengajakmu untuk makan malam bersama." kata Dinda melalui pesan singkat
"Yah, tentu saja." balas Dinar
Dinar kembali melajukan mobilnya menuju kantor milik Ayahnya. Dia berniat mengecek perkembangan perusahaan semenjak paman Joe yg memegang, sebelumnya Dia tidak memberi tahu kepada pamannya jika ia akan berkunjung kesana hari ini. Dia hanya mengabari orang kepercayaan Ayahnya saja jika ia akan berkunjung.
"Ku rasa semua dugaanku benar." gumam Dinar dalam hati sambil mengemudikan mobilnya.
Sesampainya di kantor, Dinar memarkirkan mobilnya dan langsung menuju lobby untuk bertanya dimana ruangan orang kepercayaan Ayahnya tersebut.