
Setelah kepergian Johan, Rakha terus berpikir. apakah iya dia harus memperjungkan cintanya atau berhenti karena orang yang dia cintai sudah menjadi milik orang lain. dan akhirnya Rakha memutuskan untuk terus memperjuangkan Dinar, dia pikir kan Dinar tidak mencintai suaminya, toh apa yang tidak bisa dilakukan seorang Rakha Adijaya.
"Dia akan menjadi milikku, dan tidak akan ada yang bisa melarang ataupun mencegah seorang Rakha Wijaya." guman Rakha dengan seringainya yg mampu membuat orang bergidik ngeri jika melihatnya.
1 minggu kemudian
sudah satu minggu ini Dinda ikut dengan Dinar membantu mempersiapkan pesta pertunangan Widya, dan hal itu membuat Dinda dan Dinar semakin dekat begitu juga dengan hubungan Dinar dan Rakha, mereka terlihat semakin dengan, kadang juga mereka makan bersama dan ntah mengapa Dinar merasa nyaman berada di tengah tengah mereka, kedekatan Dinar dan Rakha membuat Dinda merasa senang, dia senang karena rencananya untuk menjodohkan mereka berjalan dengan lancar dan Dinda juga merasa senang dengan perubahan sikap kakaknya yang tidak terlalu dingin, itu membuat Dinda semakin ingin cepat cepat menyatukan mereka.
"Persiapannya sudah 90%, Ya Tuhan aku benar benar tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada kalian. Terimakasih Dinar dan Dinda." kata Widya tersenyum tulus
"Sama sama kakak, aku sangat senang bisa membantu." ucap Dinda tersenyum
"Hmm, sekarang kita akan kemana?" tanya Dinar yang sudah siap menancap gas mobilnya.
"Bagaimana jika kita pergi ke cafe saja." usul Widya
"Ya aku setuju, tapi aku harus mengabari kakakku dulu." kata Dinda
"Ya, aku takut Rakha khawatir." kata Dinar
Dinda mengambil ponselnya dalan tas dan saat akan dinyalakan ternyata ponselnya Lowbat. "Huft, ponselku mati." kata Dinda lesu
"Pakai ponselku." kata Dinar dan msngambil ponselnya, "Argh, aku lupa. aku tidak memiliki nomornya." kata Dinar. "apa kau hafal nomornya?" tanya Dinar pada Dinda tapi Dinda menggelengkan kepala.
"Kita ke kantornya saja, kau tau kan alamatnya?" tanya Dinar pada Dinda
"Yah, Wijaya Group." kata Dinda dan Dinar langsung menancap gas mobilnya menuju kantor Rakha.
Sampainya di kantor, mereka langsung menuju meja Resepsionis.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan pak Rakha." kata Dinda
"Maaf, apa sebelumnya sudah ada janji?" tanya resepsionis tersebut dan Dinda menggeleng.
"Maaf, anda harus membuat janji terlebih dahulu." kata resepsionis
"Mbak, bisakah kau menghubungi Rakha. katakan padanya, aku ingin bertemu. dia pasti mau." kata Dinar yg sudah mulai bosan
"Maaf, tapi harus membuat janji terlebih dahulu." kata Resepsionis itu dengan wajah yg sudah kesal dan menatap mereka bertiga sinis.
"Oh Tuhan, susah sekali hanya untuk bertemu saja." kesal Dinar
"Dilantai berapa ruangannya." tanya Dinar
"Apa yang akan anda lakukan, saya sudah bilang jika tidak bisa bertemu jika tidak menbuat janji." kata Resepsionis itu dengan nada semakin meninggi.
"Security, bawa mereka." kata Resepsionis itu memerintah dan security langsung datang untuk membawa mereka keluarm melangkah mendekati mereka, Dinar menatap tajam mereka seakan akan ingin membunuh mereka dan tatapan itu mampu membuat nyali mereka menciut. "Percaya tidak percaya, aku bisa memecat kalian semua sekarang juga." kata Dinda yg juga sudah tersulut emosi karena dipanggilkan security, dia merasa seperti seorang maling yang harus berurusan denga keamanan.
"Hahaha, jangan mimpi bocah." kata Resepsionis itu pada Dinda
"Sepertinya kau memang sudah benar benar bosan hidup." kata Dinda
"memangnya kau bisa apa?" tanya resepsionis itu dengan tatapan sinis pada Dinda. "Bocah sepertimu bisa apa hah?" tanya resepsionis itu lagi diiringi tawa.
Dinar sudah benar benar bosan sedari tadi. Dia berniat mengakhiri semua ini.
"Dia bisa membuatmu tidak melihat mentari besok pagi." kata Dinar datar sembari melipat kedua tangannya di dada, dia sudah tau dari Dinda jika Rakha jabatannya adalah seorang CEO, jadi dia bisa dengan mudah berbicara seperti itu.
"Bicara kalian semua tinggi sekali, kurasa kalian ingin numpang tenar di perusahaan kami dengan cara membuat keributan." kata resepsionis itu lagi dan diiyakan oleh para karyawan lain.
"Apa kau perlu bukti?" tanya Dinar datar
"Kalian semua perlu bukti?" tanya Dinar lagi
"Panggil Rakha sekarang kesini, katakan padanya. Dinara mencarinya." kata Dinar
"Huh itu hanya alasanmu saja untuk bertemu dengan CEO kami." kata salah satu karyawan yang bernama susi di nametagnya.
"Huh bagaimana Rakha bisa mempekerjakan karyawan yang tidak bisa bersikap sopan pada calon istrinya ini." kata Dinar, dan ucapan Dinar mampu membelalakkan mata Dinda dan Widya yg sedari tadi hanya menonton saja.
"Oh Tuhan, apa aku sudah keterlaluan. bagaimana jika Rakha sudah memiliki kekasih, tapi aku sudah terlalu lapar karena sedari tadi menunggunya." kata Dinar dalan Hati
Hahahahahaha
semua karyawan tertawa dengan ucapan Dinar.
"Ini bukan yang pertama kalinya kami menghadapi wanita sepertimu." kata resepsionis lagi dengan wajah angkuh.
"Orang seperti apa yang kau maksud?" suara berat dan dingin yg seakan menusuk itu mampu membuat orang yang ada disana berdiri menegang.
"Kutanya sekali lagi, wanita seperti apa yang kau maksud?" tanya Rakha lagi
"Wanita murahan yang mengaku ngaku sebagai calon istri anda tuan." kata Resepsionis masih dengan wajah bangga seakan memenangkan medali karena bisa mencegah wanita yg mau mencari keributan.
"Berani sekali kau menyebut calon istriku wanita murahan?" tanya Rakha
Deg
semua karyawan membelalakkan matanya, mereka merutuki kebodohan mereka.
"Johan, pecat semua karyawan yg sudah berani menertawakan calon istriku dan adikku." kata Rakha pada Johan
"Siap Bos."
semua karyawan yang ada disana tertunduk lemas.
"Kalian sudah kuperingatkan." kata Dinda pada mereka semua.
Setelah itu, mereka semua menuju Restoran untuk makan siang bersama.