A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 19



"Kak, kakak duduk dulu ya. aku mau ambil minum." kata Dinda sesampainya di Halaman belakang.


Dinar duduk di ayunan yang menghadap kolam renang, suasana malam yang indah membuat Dinar sangat nyaman berada disana hingga dia tidak menyadari kalau Rakha sudah sedari tadi duduk di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Rakha yang membuat Dinar terkejut


"Hmm?" tanya Dinar bingung karena tidak menyadari kedatangan Rakha


"Ada masalah?" tanya Rakha lagi


"Hmm, begitulah." kata Dinar dan mencoba untuk tersenyum pada Rakha


"Ceritakan." kata Rakha masih dengan nada datar


"Hufhh." Dinar menghela napas panjang sebelum melanjutkan omongannya. "maaf, aku tidak bisa." kata Dinar sembari menunduk


"Terserah, ayo aku antar pulang. sudah malam." kata Rakha


"Tidak usah, aku membawa mobil sendiri." kata Dinar tersenyum


"Mobilmu tinggal disini, besok akan ada yang bawa." kata Rakha sembari menarik tangan Dinar dan Dinar hanya menurut saja.


"Loh, kakak sama kak Dinar mau kemana?" tanya Dinda yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan


"Pulang." kata Rakha datar.


"Kakak, pulang dulu ya Dinda." kata Dinar tersenyum sambil melambaikan tangan pada Dinda


"Iya kak, hati hati." teriak Dinda


.


Selama perjalanan Dinar dan Rakha tidak mengobrol sama sekali sampai di rumah.


"Masuklah." kata Rakha setelah sampai di rumah Dimas


"Hemm, hati hati." kata Dinar sambil melambaikan tangan.


Setelah mobil Rakha tidak terlihat, Dinar segera masuk kedalam rumah.


"Darimana saja kamu?" tanya Dimas yang menunggu Dinar di ruang tamu


"Apa pentingnya untukmu." kata Dinar sambil berlalu menuju kamarnya meninggalkan Dimas.


Dinar berbalik badan dan menatap Dimas dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Suami?" tanya Dinar sambil tersenyum sinis


"Suami yang seperti apa?" tanya Dinar sambil setengah teriak dengan sorot mata tajam.


Dimas tercengang karena baru pertama kali melihat Dinar yg berteriak didepannya, biasanya Dinar hanya memasang muka datar dan dingin.


Setelah tidak mendapat respon dari Dimas, Dinar melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa memperdulikan Dimas.


Setelah Dinar pergi, Dimas langsung menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Maaf, aku tidak bisa membuat dia jatuh cinta." kata Dimas pada seseorang yang ada di seberang sana


"Baiklah, kita akhiri saja semuanya." jawab orang tersebut dan langsung mematikan sambungannya.


"Cihhh, sampah." ucap Dinar yang mendengar pembicaraan Dimas


"Baiklah. Kalian mengakhiri, dan aku memulai." kata Dinar lagi sambil menyeringai.


.


"Dia pasti berbohong." kata Rakha yang berbicara sendiri selama perjalanan pulang.


"Apa aku harus membantunya."


"Tapi bagaimana jika dia tidak nyaman karena aku terlalu ikut campur."


"Tapi bagaimana jika masalahnya sangat serius."


"Tidak, tidak. Dia wanita yang kuat, dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."


"Arghhhhh, aku bisa gila jika begini terus menerus." kesal Rakha sambil menjambak rambutnya frustasi.


Sesampainya di rumahnya, Rakha langsung menuju kamarnya untuk berendam di air dingin supaya bisa lebih rileks karena otaknya yang sedari tadi tidak bisa fokus karena memikirkan Dinar.


"Aku benar benar bisa gila karena wanita itu." kata Rakha sambil tersenyum.


"Wanita tangguh dan mandiri. terlalu banyak kelebihannya, sampai sampai aku tidak menemukan sedikitpun kekurangannya."


kata Rakha yang masih setia dalam bak mandi, dia menerawang jauh membayangkan sosok Dinar, wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.