A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 17



"Permisi, dimana letak ruangan tuan Rio?" tanya Dinar pada dua Resepsionis yang ada disana.


"Apakah sebelumnya sudah membuat janji nona?" tanya salah satu resepsionis


"Sudah. Dinara Atmaja." kata Dinar


"Nona Dinar. maaf nona, kami benar benar tidak tahu jika itu Anda. mari saya antar." kata resepsionis tersebut menunduk takut karena dia tahu jika Dinar pemilik perusahaan tersebut.


"Tak apa, kalian katakan saja dilantai berapa. aku akan kesana sendiri." kata Dinar


"Lantai 5 nona, ruangan paling ujung." kata Resepsionis tersebut.


"Terimakasih." kata Dinar seraya pergi menuju lift.


"Huft, hampir tamat kita." kata Resepsionis tersebut.


Sesampainya di ruangan yang dimaksud resepsionis, Dinar mengetuk pintu dan langsung masuk setelah mendapat persetujuan dari pemilik ruangan tersebut.


Saat Dinar masuk, Tuan Rio langsung berdiri dan menundung hormat pada Dinar.


"Silahkan duduk nona." ucapnya pada Dinar


"Terimakasih" kata Dinar dan langsung duduk di depan Tuan Rio


"Ini berkas yang anda minta nona." kata Tuan Rio sembari menyerahkan sebuah berkas pada Dinar.


"Setelah saya lihat, ternyata dugaan anda benar." kata Tuan Rio


"Baiklah, aku akan pulang dulu." kata Dinar


"Terimakasih." kata Dinar sembari berjabat tangan dengan Tuan Rio


"Sudah kewajiban saya nona. anggap saja saya membalas budi atas kebaikan Ayah nona kepada saya dulu." kata Tuan Rio sembari tersenyum tulus. Setelah itu Dinar berpamitan untuk pulang.


.


"Cihh, ternyata bermain kotor." seru Dinar dalam mobil.


Setelah sekian lama dalam kemacetan, akhirnya Dinar memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran untuk makan siang.


Setelah sampai di restoran tersebut, Dinar langsung memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam restoran.


Dinar memilih duduk di pojokan restoran yang jauh dari orang orang.


Setelah memesan makanan, Dinar memutuskan untuk memainkan poselnya sembari menunggu pesanannya datang.


Tak lama kemudia ada seseorang yang menghampiri Dinar.


"Boleh saya duduk disini?" tanya pria dengan suara berat dan terkesan dingin


"Silahkan." kata Dinar tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Tak berselang lama, akhirnya pelayan datang membawa pesanan Dinar. Setelah pesanannya tertata rapi diatas meja, Dinar memasukkan ponselnya kedalam tas dan berniat untuk menyantap makanannya, tapi sebelum menyantap makanannya, Dinar mengalihkan pandangannya pada pria yang sedang duduk santai dihadapannya.


"Rakha." kata Dinar terkejut karena pria yang sedari tadi dia acuhkan ternyata adalah Rakha.


Dan Rakha hanya tersenyum pada Dinar.


"Makanlah." kata Rakha dengan senyum yang cukup manis walaupun masih terkesan kaku


"Tidak, aku kenyang."


Dinar mengernyit heran. "Lalu untuk apa kamu disini?" tanya Dinar lagi


"Menemanimu." kata Rakha sambil tersenyum, dan ucapannya mampu membuat Dinar merona.


"Makanlah." kata Rakha lagi, dan Dinarpun menurutinya.


Setelah Dinar makan, dia bergegas ingin pulang begitu juga dengan Rakha.


"Apa kamu membawa mobil?" tanya Dinar saat sudah di parkiran


"Tidak." kata Rakha


"Aku akan menelfon bawahanku untuk menjemputku." kata Rakha


"Biar kuantar, sebentar lagi jam makan siang habis. pasti kau juga banyak kerjaan, pasti lama jika menunggu anak buahmu kemari." kata Dinar


Rakha tersenyum lalu mengiyakan tawaran Dinar. "Biar aku yang bawa." kata Rakha dan diangguki Dinar.


"Nenek mengajakku makan malam bersama." kata Dinar membuka suara


"Dimana?" tanya Rakha


"Rumahmu." jawab Dinar


"Baiklah, aku akan pulang cepat." kata Rakha tersenyum sambil melihat Dinar


"Hey, aku hanya memberitahumu. bukan menyuruhmu pulang cepat." kata Dinar


"Jadi kau tidak senang jika aku pulang cepat hmm?" tanya Rakha


"Apa urusannya denganku, itu kan rumahmu bukan rumahku." kata Dinar


"Sebentar lagi akan menjadi rumahmu." kata Rakha enteng


"Apa maksudmu? aneh sekali kau ini." kata Dinar pada Rakha, dan Rakha hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Ah iya. Rakha, apa kau dan Dinda akan menetap di Indonesia?" tanya Dinar


"Tidak, aku akan kembali ke Amerika 2 bulan lagi." kata Rakha


"Kenapa cepat sekali?" kata Dinar terkejut


"Ah, ma..maksudku. a-ku masih ingin bersama Dinda." kata Dinar tergagap karena baru menyadari ucapannya barusan.


Rakha langsung tertawa terbahak bahak dengan ucapan Dinar.


"Ya Tuhan, kejadian langka apa ini. aku bisa melihat Rakha tertawa puas seperti ini. Tampan sekali." gumam Dinar dalam hati sambil mengamati Rakha dari samping.


"Sudah puas mengamatiku?" tanya Rakha, seketika itu pula Dinar mengalihkan pandangannya dari Rakha karena malu.


"Aku tahu, kau pasti takut berpisah denganku kan? Oh mimpi apa aku, sampai sampai bisa menaklukkan hati Nona Dinara ini." kata Rakha menggoda Dinar.


"Yah, kau pemenangnya. Tapi kurasa aku juga sudah menaklukkan hati dari seorang Rakha si gunung es ini." kata Dinar mengejek Rakha dengan sebutan gunung es.


Mereka berdua baru menyadari ucapan mereka barusan, secara tidak langsung mereka sudah mengungkapkan perasaan masing masing. Mereka sama sama tidak tahu kapan rasa itu tumbuh. Mereka melanjutkan percakapan mereka sampai di parkiran kantor milik Rakha. Mereka memutuskan untuk memastika terlebih dahulu perasaan mereka masing masing, mereka takut ini bukan perasaan cinta melainkan hanya merasa nyaman sesaat saja. karena sebelumnya mereka sama sekali belum pernah jatuh cinta. Dinar juga sudah bercerita kepada Rakha bahwa dia memiliki suami dan yg membuat Dinar terkejut, ternyata Rakha sudah mengetahuinya.