A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 38



Hari Pernikahan


"Kak, kau sangat cantik." kata Dinda saat masuk kedalam kamar dan mendapati Dinar sedang memperhatikan dirinya di cermin saat menggunakan gaun pernikahan.


"Kau lebih cantik." kata Dinar sambil tersenyum pada Dinda.


"Kak, apakah kau gugup?" tanya Dinda pada Dinar


"Lumayan." saut Dinar sambil menarik nafas


"Akhirnya, sebentar lagi aku akan memiliki kakak perempuan." kata Dinda senang


"Kemarilah." kata Dinar sambil merentangkan tangannya ingin dipeluk Dinda.


"Aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi Gio." kata Dinar


"Terimakasih kak." kata Dinda yang sudah berkaca-kaca. Jika ditanya siapa yang paling bahagia saat ini, mungkin Dinda adalah orangnya. Pasalnya dia adalah orang yang dari dulu sangat menginginkan hal ini terjadi karena dia sangat menyayangi Dinar, dan dia yakin bahwa Dinar adalah orang yang sangat tepat untuk mendampingi kakaknya.


"Ayo kak, saatnya kita turun." kata Dinda dan diangguki oleh Dinar.


Semua orang sudah menunggu kedatangan Dinar. Tidak banyak yang hadir, hanya kerabat dekat dari keluarga Wijaya saja, dan dari pihak Dinar hanya ada Jackson. Dinar hanya memberitahu paman Lee saja jika dia akan menikah, tapi Dinar melarang pamannya untuk memberitahu yang lain, Dinar akan memberitahu sendiri saat nanti Dinar sudah merebut kembali perusahaan milik Ayahnya.


Dinar berjalan menuju altar didampingi Dinda.


"Rakha, sambut calon istrimu." kata Daddy sambil menyenggol Rakha yang masih tidak berkedip.


"Kak, hapus ilermu." kata Dinda berbisik pada Rakha setelah mengantar Dinar.


Rakha mendelik kesal pada adiknya, lalu dia mengulurkan tangannya pada Dinar, Dinar menyambut uluran tangan Rakha sambil tersenyum manis.


Setelah mengucapkan janji dan bertukar cincin, akhirnya Rakha dan Dinar telah resmi menjadi suami istri. Setelah menyalami tamu tamu yang tidak terlalu banyak, akhirnya acara pernikahan mereka selesai.


Sekarang mereka sudah berada di dalam kamar untuk istirahat.


Sekarang Dinar dan Rakha sedang duduk di sofa dalam kamar mereka, mereka mengistirahatkan badan mereka sejenak sebelum membersihkan diri.


"Terimakasih." kata Rakha memecah keheningan mereka.


"Terimakasih karena sudah mempercayaiku untuk menjadi suamimu. Aku memang kaku, dan aku bukan orang yang romantis, tapi percayalah aku sangat mencintai dan menyayangimu dengan tulus walaupun aku tidak bisa menunjukkan rasa cintaku dengan cara memberimu kejutan ataupun hal hal romantis seperti kebanyakan orang diluar sana." sambung Rakha lagi sambil memutar posisinya untuk mengahadap Dinar.


"Aku mencintaimu." kata Rakha, dan tanpa dia sadari bahwa dia meneteskan air mata. Dan itulah Rakha, dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Dinar, bahkan saat mereka dekatpun, Rakha tetap saja bersikap dingin walaupun sikap dinginnya dengan Dinar tidak sedingin sikapnya pada orang lain. Dan lihatlah, sekalinya dia mengatakan bahwa dia mencintai Dinar, dia langsung meneteskan air mata. Siapa percaya bahwa laki-laki sedingin dan sekaku Rakha bisa luluh karena cinta.


Dinar juga memutar posisisnya untuk berhadapan dengan Rakha, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya melihat Rakha meneteskan air mata. Dinar menatap Rakha dalam, dan dia langsung memeluk Rakha dengan erat sambil menangis.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, seharusnya aku yang berterimakasih. Terimakasih karena sudah sudi menjadikanku istrimu, terimakasih karena kau sudah sudi menerimaku yang tidak sempurna, aku bukanlah wanita yang sempurna, jadi tolong isi segala kekuranganku dengan segala kelebihanmu. Tolong jangan pernah tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu." kata Dinar dengan keadaan masih terisak.