A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 6



"Kita pergi kemana nek?" tanya Dinar pada nenek.


"Kita ke rumah nenek nak, di jalan XXX ya." kata nenek lembut


"Iya nek, tapi sebenarnya tadi nenek mau kemana kok jalan sendirian dan juga tidak membawa apapun seperti handphone." tanya Dinar


"Sebenarnya tadi nenek mau pergi ke perusahaan cucu nenek, tapi tiba tiba nenek pusing dan ya nenek pingsan." kata nenek


"Oh gitu, tapi lain kali nenek harus inget. kalau mau kemana mana harus ada yang menemani." kata Dinar


"Iya nak." kata nenek sambil tersenyum karena nasehat Dinar.


*****


Sementara dilain tempat kini sedang ada pria dingin yang kejam sedang menatap penuh amarah pada semua pelayan dirumahnya yang tidak becus menjaga neneknya. Ya, pria itu adalah Rakha Wijaya, dia sangat marah ketika sampai dirumah dan tidak mendapati neneknya berada dalam rumah. semua pelayan sudah tertunduk lemas hanya dengan tatapan tajam saja, apalagi jika sampai Rakha bersuara dan membentak mereka. mungkin mereka akan mati seketika jika itu terjadi.


Drttt


bunyi suara hp Rakha


"Hallo, apa kau sudah menemukan nenek?" Tanya Rakha pada orng di telfon, orang itu adalah Johan tangan kanan Rakha di perusahaan maupun di BL (BlackLion).


"Belum tuan, saya sudah mencari kemana mana tapi belum menemukan nenek." kata Johan


Rakha mengusap wajahnya kasar.


"Terus cari nenek, jangan hubungi aku jika kamu belum menemukan nenek." Kata Rakha dengan nada mulai meninggi.


Diluar Rumah


"Ini rumah nenek, ayo masuk." kata nenek pada Dinar


"Ehmm, iya nek." ucap Dinar sambil mengikuti langkah nenek


nenek mengetuk pintu dan keluarlah anak gadis berusia 16 tahun, gadis itu adalah Dinda


"Nenekkkk" ucap Dinda sambil memeluk neneknya.


celoteh Dinda panjang lebar hingga membuat nenek dan Dinar tertawa kecil karena gemas


"Kakakmu itu memang terlalu berlebihan, padahal nenek masih bisa jaga diri." kata nenek


"Iya, aku sudang mengatakannya padanya tapi dia tidak mau mendengarkan aku. oh iya, siapa kakak cantik ini?" tanya Dinda


"Oh, ini Dinara. Dia tadi menolong nenek, nenek sempat pingsan di pinggir jalan dan dia yang membawa nenek ke rumah sakit dan juga mengantar nenek pulang." kata nenek


"oh, begitu. terimakasih kakak cantik karena sudah menolong nenek." kata Dinda sambil tersenyum manis dan Dinar membalas juga dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya


"Ayo Dinar masuk." ajak nenek


"Ah, sepertinya Dinar tidak bisa nek. ini sudah terlalu malam." tolak Dinar halus


"Hemm, padahal aku ingin sekali mengobrol banyak dengan kakak." kata Dinda sambil cemberut


"Lain kali kita bisa bertemu lagi bukan?" kata Dinar sambil tersenyum pada Dinda


"Benarkah?" kata Dinda senang.


Dan Dinar menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Bagaimana jika besok kakak kesini, aku ingin sekali jalan jalan di jakarta. aku baru sampai disini kemarin sore dan aku tidak memiliki teman untuk diajak jalan jalan, masa iya aku harus jalan jalan bersama bodyguard kakak yang mukanya datar semua." kata Dinda


"Bagaimana kak?" tanyanya lagi


"Hemm, baiklah." kata Dinar


Dinda tersenyum dan langsung memeluk Dinar sambil mengatakan terimakasih


"Ya sudah, Dinar pamit pulang dulu nek."


kata Dinar pada nenek dan bergegas pulang setelah mendapat persetujuan nenek berupa anggukan, dan tak lupa nenek mengingatkan Dinar untuk hati hati dijalan.