A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 14



Restoran


sesampainya di restoran, mereka semua memesan makanan.


"Rakha, maafkan aku." kata Dinar tiba tiba setelah pelayan meninggalkan meja mereka


"Untuk apa?" tanya Rakha


"Aku sudah mengaku sebagai calon istrimu. sungguh aku benar benar tidak sengaja, aku terlalu kesal karena aku sudah lapar, dan menunggumu itu sangat lama." kata Dinar malu.


"Tak apa." kata Rakha


"Aku menyukainya." kata Rakha lagi tapi sangat pelan akan tetapi masih bisa di dengar oleh Dinar yang duduk di sebelahnya, dan hal itu mampu membuat pipi Dinar merona karena malu.


Setelah itu pesanan mereka datang dan mereka menyantap makanan mereka. setelah mereka selesai makan, mereka masih setia mengobrol. Bukan mereka, tetapi Dinda dan juga Widya sementara Rakha dan Dinar sama sama diam.


Saat Widya dan Dinda asik mengobrol, tidak sengaja Dinar melihat kearah pintu restoran, baru saja masuk seorang pria dan seorang wanita yang sangat mesra seperti seorang kekasih. Dinar mengenali pria itu, tiba tiba dia mengepalkan tangannya dan wajahnya berubah menjadi merah karena menahan amarah.


"Sayang, sudah lama kita tidak begini." kata sang wanita.


"Yah, aku sangat merindukanmu sayang." balas si pria


"Aku sudah menyuruh asisten papa untuk mengurus semua persiapan pertunangan kita." kata wanita.


Perkataan wanita semakin membuat Dinar panas


"Bukankah itu terlalu awal, pertunangan kita masih 2 bulan lagi." kata pria


"Tidak, aku menyiapkannya dari sekarang karena aku ingin semuanya sempurna" ucap wanita dengan nada manja


"Baiklah, apapun untuk orang yang sangat aku cinta." kata pria


Dinar sudah tidak tahan sedari tadi, dia memegang tangan Widya yang diatas meja dan berkata "Widya maafkan aku, tapi kali ini aku sudah benar benar tidak tahan. kau mau membenciku itu terserah padamu." setelah mengatakan itu, Dinar beranjak dari kursinya sementara Rakha,Dinda dan Widya bingung dengan ucapan Dinar. Mereka melihat kemana Dinar pergi, setelah melihat kemana arah tujuan Dinar, tiba tiba Widya terkejut meja yang sedang dituju Dinar ternyata disana ada Deni calong tunangan Widya bersama seorang wanita.


Plakkk


"Hey, apa yang kau lakukan pada pacarku." teriak si wanita karena melihat Deni sudah tersungkur jatuh dari kursi karena tamparan keras Dinar. Dan hal itu mampu menyita semua perhatian pengunjung yang ada disana.


"Tanyakan pada Pacarmu." kata Dinar dengan penuh penekanan pada kata terkahir.


"Apa maksudmu? Aku saja tidak mengenalmu, kau datang datang langsung menamparku." kata Deni yg sudah marah


"Yah, kau memang tidak mengenalku. tapi kau kenal dengan saudari sepupuku. Bahkan aku juga mengenal baik dirimu sampai semua kelakuan busukmu pun aku tahu dengan baik." kata Dinar dengan santai sambil melipat tangan di dada dan menatap mereka berdua dengan tatapan datar dan dingin.


"Aku tidak kenal dengamu, apalagi dengan saudaramu. Dan apa maumu huh?" kata Deni menahan amarah karena malu dilihat semua pengunjung restoran


"Ah ya? bagaimana kalian bisa bertunangan jika tidak saling mengenal? dan mauku? aku juga bingung apa mauku." kata Dinar dengan wajah bingung yg di buat buat


"Apa maksudmu?" tanya Deni seolah bingung


"Ya Tuhan, kau masih tidak kenal dengan sepupuku? benar benar sampah." ucap Dinar sinis


"Hey apa yang kau katakan?" kata wanita yang ada di sebelah Deni dengan mengangkat tangannya akan menampar Dinar tapi cepat ditangkap oleh Dinar dan di cengkram kuat sampai si wanita meringis kesakitan


"Tangan kotormu tak pantas menyentuhku. sebenarnya aku tak ingin menyakitimu karena disini kau juga korban, untung saja aku masih memiliki belas kasihan jika tidak, mungkin sudah kupatahkan tanganmu sekarang." kata Dinar dengan nada dingin dan sorot mata tajam sembari melepaskan tangan si wanita tersebut.


"Deni, apa maksudnya ini?" tanya wanita itu geram


"Sayang, sungguh aku tidak mengerti. aku tidak mengenalnya."


"Huft, aku sudah mulai bosan. datang ke rumah Widya bersama orang tuamu dan batalkan pertunangan yang akan dilakukan 3 hari lagi, atau aku yang datang kerumahmu dan mematahkan leher dan semua tulang sendimu di depan orang tuamu." kata Dinar dan meninggalkan Deni beserta wanita itu


"Kita pulang sekarang. Dinda, kau pulang bersama kakakmu." kata Dinar datar karena masih menahan emosi dan Dinda hanya mengangguk sedangkan. Widya sudah mengekori Dinar dibelakang. Widya benar benar takut melihat Dinar, bahkan Widya tidak berani menatap Dinar yang masih terlihat menahan amarah.