A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 45



"Siapa kau?" tanya tante Reta dengan wajah sombong


Rakha mendekati Dinar tanpa menjawab pertanyaan bibi Reta, dia langsung melingkarkan tangannya dipinggang Dinar dengan mesra dan berbisik pada Dinar.


"Hai sayang." kata Rakha dengan senyumnya.


"Aku adalah suami dari nyonya Dinara Atmajaya." kata Rakha dengan suara lantang.


"Sayang, sejak kapan namaku berubah menjadi Atmajaya?" tanya Dinar sambil berbisik


"Ntahlah, aku menggabung nama Atmaja dan Wijaya." kata Rakha


"Suami?" kata orang-orang yang terkejut mendengar bahwa Dinar sudah memiliki suami


"Tunggu, sepertinya aku mengenalmu." kata Dimas sambil memperhatikan Rakha.


"Bukankah kau Rakha Wijaya? pemilik Wijaya corporation, perusahaan terbesar itu?" tanya Dimas dengan wajah terkejut, begitu juga dengan para undangan yang ada disana. siapa yang tidak mengenal Wijaya Corporation, perusahaan besar dan sukses.


"Ya." kata Rakha santai


"Kami barusaja menikah beberapa hari yang lalu, tetapi istriku ingin segera kembali ke Indonesia untuk mengambil perusahaannya. Dan karena aku belum memberikan apapun untuk istriku setelah menikah, jadi aku berinisiatif untuk memberikan hadiah untuknya berupa parusahaan Pratama Group." kata Rakha yang membuat semua orang terkejut lagi tak terkecuali Dinar.


Dengan mudahnya Rakha memberikan perusahaan itu untuknya, semudah membalikkan telapak tangan.


"Apa maksud anda tuan?" tanya Dimas


"Perusahaan Pratama Group sudah resmi berada dibawah naungan Wijaya Corporation dan sudah beralih nama dari Dimas Pratama menjadi Dinara Atmaja." jawab asisten Dimas yang sudah menerima informasi dari perusahaan


"Apa-apaan ini Dimas?" tanya bibi Reta yang mendengar semuanya


"Aku juga tidak tahu ma." jawab Dimas yang mulai frustasi.


"Ayo sayang, kita pulang." ajak Rakha pada Dinar dan diangguki oleh Dinar.


.


"Kau mengikutiku diam-diam?" kata Dinar pada Rakha saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Ya, mana mungkin aku membiarkan istriku pergi sendiri." jawab Rakha sambil mencium pucuk kepala Dinar dan mengusapnya dengan lembut.


"Terimakasih." kata Dinar yang berada di dekapan Rakha sambil mengeratkan pelukannya.


"Untuk apa?" tanya Rakha


"Kita akan kemana?" tanya Dinar


"Ke rumah paman dan bibimu." kata Rakha dengan santai


"Hah?" jawab Dinar terkejut lalu melepaskan pelukannya dari Rakha


"Kenapa?" tanya Rakha yang melihat ekspresi Dinar


"Sayang, aku belum mengatakan bahwa aku sudah menikah. Bagaimana nanti respon bibi jika aku tiba-tiba membawamu kesana. aku belum menyiapkan kata-kata yang pas." kata Dinar dengan wajah bingung dan cemas.


"Aku sudah menghubungi pamanmu, dia sudah menjelaskan pada semua orang." kata Rakha


"Kemarilah." kata Rakha menyuruh Dinar untuk bersandar lagi padanya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu." kaya Dinar kesal karena Rakha membuatnya terkejut.


"Surprise." kata Rakha santai.


.


"Ayo." kata Rakha mengajak Dinar masuk kedalam rumah karena sedari tadi Dinar hanya diam saja.


"Aku merasa bersalah pada mereka, aku tidak memberitahu dari awal." jawab Dinar


"Ayolah, mereka pasti mengerti." jawab Rakha dan Dinar mengangguk sambil mengikuti Rakha masuk kedalam rumah.


Sesampainya mereka didalam, semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Dinar tidak berani mengangkat kepalanya, dia merasa sangat bersalah apalagi pada bibinya.


"Maaf." hanya kata itu yang keluar dari mulut Dinar.


Bibi Citra berdiri lalu menghampiri Dinar yang berdiri di samping Rakha


"Sayang, bibi senang." kata bibi Citra memeluk Dinar dengan erat sambil menangis.


"Bibi sangat senang akhirnya kamu menemukan orang yang tepat, awalanya bibi kecewa karena kamu tidak memberitahu bibi, tapi bibi bisa maklumi itu. Selamat sayang." kata bibi Citra dengan tulus


"Maaf bi, maafin Dinar." kata Dinar yang ikut menangis.


"Tidak apa-apa sayang." kata bibi Citra sambil mengecup kening Dinar dengan penuh rasa sayang layaknya pada anak sendiri.