A Journey Of Love

A Journey Of Love
Bab 5



"Dinar, tolong kamu panggilkan saudarimu yang malas itu. suruh dia turun untuk makan siang." kata bibi Citra..


"Siap bibiku sayang." ucap Dinar sambil menirukan gaya hormat pada bibinya dan berjalan menuju kamar Widya


"Widyaaaaaaaaaaaa." teriak Dinar dari arah tangga


"Apasih Din, berisik tau ngga sih" kesal Widya kepada saudarinya itu


"Lagian kamu sih. tadi kan aku pesen sama kamu, kalau selesai beres beres tuh turun nyusul aku. eh ini malah asik males malesan." kata Dinar


"Siapa juga yang males malesan, aku tuh baru selesai telfonan sama Deni."


Btw Deni itu pacarnya Widya guys, mereka udah pacaran sekitar 2 tahunan


"Deni mulu, ngga bosen apa pacaran lama lama, suruh dateng lah kerumah nyamperin paman. kalau perlu bawa orang tuanya sekalian."


kata Dinar pada sepupunya itu, dia sudah bosan dengan kisah cinta daei sepupunya ini. Dia tidak pernah setuju jika Widya berpacaran dengan Deni karena Deni terkenal Playboy. Jadi dia terus mendesak Widya agar bicara pada Deni suapaya mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, ya mininal tunangan dulu lah.


"Dia bilang dia belum siap buat serius Din, tapi dia bilang akan usahain buat mantepin hati. Aku juga bakal nunggu dengan setia kok sampe dia siap." ucap Widya sambil tersenyum getir


"Yaudah lah, ayok turun kita makan siang bareng." ajak Dinar


*****


Setelah makan siang, Dinar berpamitan untuk pulang.


"Paman dan Bibiku sayang, Dinar yang cantik ini pamit pulang yah." ucap Dinar sambil memeluk bibinya


"Hati hati dijalan nak." ucap pamannya


"Siap paman." ucap Dinar sambil tersenyum


"Apakah kau tidak mau berpamitan denganku juga." Ucap Widya sambil memasang muka cemberut


"Oh saudariku sayang, aku pamit pulang dulu. jangan pasang muka seperti itu, kau tambah jelek." ejek Dinar sambil tertawa bersama paman dan bibinya


"Cih, kau membuatku semakin kesal. pergilah, jangan lupa kabari aku jika sudah sampai rumah." ucap Widya


"siap sayangku." kata Dinar sambil mencium pipi Widya


*****


Saat dijalan pulang, Dinar merasa haus. akhirnya dia berhenti di sebuah mini market untuk membeli minum. setelah membeli minum, Dinar memutuskan untuk duduk dikursi yang ada didepan mini market tersebut.


Saat sedang asik duduk, Dinar melihat di seberang jalan ada banyak kerumunan orang. karena dia penasaran akhirnya dia berjalan kearah kerumunan orang tersebut. Ternyata ada seorang nenek yang sedang pingsan. tapi tidak ada yang membantunya.


"Hello, permisi. apakah kalian hanya akan melihatnya dan tidak berniat membantunya." kata Dinar pada orang banyak itu. Semua orang menatap Dinar seperti berkata "*kalau kamu mau menolongnya ya tolong saja, kami tidak tau siapa dia jadi kami tidak menolongnya."


"Tolong bantu saya angkatkan dia kedalam mobil saya, saya akan membawanya ke rumah sakit." kata Dinar pada semua orang.


akhirnya Dinar yang membawa nenek itu ke Rumah Sakit


*Rumah Sakit


Dinar sudah sampai di Rumah Sakit, dan nenek juga sudah ditangani dokter. Tapi masalahnya sekarang dia tidak tau harus mengabari siapa, karena dia tidak tau keluarga nenek itu dan nenek tidak membawa apapun sehingga Dinar memutuskan untuk menunggu nenek sadar agar dia bisa menanyakan langsung pada nenek.


sekitar 2 jam an Dinar menunggu akhirnya nenek sadar.


"Hallo nenek, apakah nenek sudah merasa baikan?" tanya Dinar ramah pada nenek


"Ya, tapi dimana aku sekarang. dan siapa nona cantik ini?" tanya nenek


"Nama saya Dinara nek, nenek sekarang ada di Rumah Sakit." kata Dinar


"Rumah Sakit?" tanya nenek kebingungan


"Iya nek, Rumah Sakit. Tadi Dinar menemukan nenek pingsan dijalan, jadi Dinar bawa nenek ke Rumah Sakit." kata Dinar


"Oh iya nek, apakah aku bisa menghubingi keluarga nenek?" tanya Dinar


"Ah iya, tapi nenek tidak punya nomor telfon mereka." kata nenek


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantar nenek pulang. bagaimana?" tanya Dinar


"Tapi kita harus menanyakan kedaan nenek dulu kepada Dokter, sebentar Dinar panggilkan Dokter."


Dinar keluar ruangan untuk memanggil Dokter, dan dia kembali masuk membawa Dokter ke kamar nenek. Dokter memeriksa nenek dengan teliti dan akhirnya selesai.


"Bagaimana dok? apakah nenek sudah baikan?" tanya Dinar


"Iya, nenek hanya kelelahan saja. itu juga karena faktor usia jadi dia mudah lelah." ucap dokter ramah


"Apakah nenek sudah bisa pulang dok?" tanya Dinar lagi


"Yah, nenek sudah bisa pulang. tapi sebelumnya tolong urus administrasinya dulu." kata dokter


"Baik dokter, terimakasih." kata Dinar


"Ayok nek, kita pulang. Biar Dinar anter nenek." kata Dinar sambil tersenyum


"Terimakasih nak, ternyata masih ada anak muda sebaik dirimu." kata nenek pada Dinar


"Iya nek, ayo." ajak Dinar lagi dan akhirnya Dinar mengantar nenek