
"Aku pulang." kata Dinar pada Rakha
"Hati hati dijalan." kata Rakha sambil tersenyum dan Dinar segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor Rakha, setelah dirasa mobil Dinar sudah tidak ada, Rakha segera masuk kedalam kantornya.
Dinar menghela napasnya panjang. "Apa aku benar benar mencintai Rakha?" kata Dinar sambil mengemudikan mobilnya.
Dinar mengemudikan mobilnya menuju rumah Widya, dia berniat untuk menginap disana. karena jarak rumah Widya juga tidak terlalu jauh dari rumah Rakha, jadi dia tidak perlu mengemudikan mobil terlalu lama nantinya jika harus pergi ke rumah Rakha.
Tokk...Tok....Tokk....
Dinar mengetuk pintu rumah Widya, tak lama kemudian Art membukakan pintu untuknya.
"Eh ada non Dinar, masuk non." kata Art tersebut pada Dinar
"Iya bi, Widya ada ngga?" tanya Dinar
"Ada non di kamarnya, masuk aja." kata bibi tersebut.
Setelah itu Dinar bergegas menuju kamar Widya, Dinar langsung masuk kedalam kamar Widya karena pintunya tidak dikunci. Dinar melihat Widya sedang melamun diatas ranjangnya sehingga tidak menyadari kedatangan Dinar.
"Woyyyyyy." teriak Dinar diambang pintu sehingga membuat Widya terkejut
"Dinarrrrr, kaget tau." kata Widya sambil cemberut.
"Lagian melamun mulu. mikirin apa sih? cowo brengs*k itu?" tanya Dinar tetapi Widya tida menjawab.
"Yaudah sih, mungkin belum jodohnya aja. ikhlasin Wid, dia ngga baik buat lo." kata Dinar lagi.
"Oh iya. tumben lo sore sore kesini, ngapain?" tanya Widya mengalihkan pembicaraan
"Ya gapapa, lu gaseneng gua kesini?" kata Dinar ketus
"Gagitu sayang. tumben aja gitu." kata Widya
"Gua mau nginep. ntar malem diajakin Dinda buat Diner." kata Dinar
"Eh iya lu mau ikut ga?" tanya Dinar
"Cuma lu sama Dinda?" tanya Widya
"Enggak, ada Rakha sama nenek juga." kata Dinar.
"Ngga ah, gamau ganggu acara keluarga." goda Widya pada Dinar
"Serah." kata Dinar menahan malu karena godaan dari sahabat sekaligus saudaranya tersebut.
"Udah sana mandi, siap siap." kata Widya sambil mendorong tubuh sahabatnya
"Masih sore kali Wid." kesal Dinar karena dia lelah baru sampai
.
"Wid, aku berangkat yah." pamit Dinsr pada Widya
"Iya, hati hati." kata Widya seraya melambaikan tangannya pada Dinar. saat diarasa mobil Dinar sudah tak terlihat, Widya masuk kedalam Rumah
Rumah Rakha
"Huh, males bgt kalo ke rumah Rakha. penjagaannya ketat bgt." seru Dinar dalam hati
"Permisi pak." sapa Dinar pada beberapa penjaga yang ada disana sambil menurunkan kaca mobilnya
"Silahkan masuk nona." kata salah satu dari penjaga tersebut dan Dinar hanya membalasnya dengan senyum manis.
Setelah sampai di depan rumah, Dinar langsung diantar masuk ke meja makan karena nenek, Dinda, serta Rakha sudah menunggunya.
"Ehm, halo." sapa Dinar canggung karena terlambat datang.
"Hai nak, ayo duduk." sapa nenek lembut
"Iya nek, maaf membuat kalian menunggu." kata Dinar sambil duduk
"Tidak apa apa, ayo kita makan." lanjut nenek dan diangguki Dinar
Setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk mengobrol ringan.
"Kak Dinar, Dinda 2 bulan lagi bakalan pulang ke Amerika." kata Dinda cemberut.
"Padahal Dinda tuh masih pengen disini." lanjutnya lagi
"Kam Dinda bisa kesini lagi kapan kapan, jangan cemberut gitu dong." kata Rakha
"Iya, Dinda kan bisa kesini lagi kapanpun mau Dinda." sambung nenek
"Gimana kalo kak Dinar ikut Dinda ke Amerika." kata Dinda antusias
"Dinda." tegur Rakha
"Iya, nanti kalo ada waktu kakak pasti nemuin Dinda ya disana. Tapi ngga untuk sekarang, sekarang kakak masih sibuk dan banyak yang harus diururus." kata Dinar menjelaskan dengan lembut.
"Janji ya kak." kata Dinda
"Iya janji." saut Dinar sambil tersenyum lembut.
"Kak, kita ke taman belakang yuk." kata Dinda sambil menarik tangan Dinar dan Dinar hanya bisa pasrah.