7 SLEEPER

7 SLEEPER
Rusuh, Kerusuhan di Mansion Penguasa Tanah.



Dikarenakan kami yang tidak sadarkan diri, kami dibawa ke rumah Tuan Alberd.


Dengan keramahan tuan rumah, kami di jamu dengan mewah.


Aku tidak tau apa yang terjadi setelah pingsan, Saat sadar aku sudah berada dikamar mewah dan kasur empuk besar.


Kami juga disambut dengan banyak makanan mewah. Kami juga diperkenalkan dengan anggota keluarga yang lain, ternyata tuan Alberd mempunyai dua anak kembar berbeda kelamin dan umur mereka kira-kira hampir sama dengan Miki dan Miku, melihat mereka membuatku rindu rumah.


" Apa ada yang tidak kau suka Rion dono ?" Tanya tuan Alberd ketika melihatku yang hanya memainkan sendok ku.


" Tidak, bukan apa apa" Sebenarnya ada, Rasa sup nya hambar sekali, seperti air diberi bawang. Dagingnya terlalu berserat dan lembek, rotinya keras bahkan Susu nya terlalu manis. Tapi kita harus menjaga perasaan orang yang berbaik hati menjamu kita.


" Aku hanya rindu rumah, di jam seperti ini biasanya adik-adikku sudah menempel dan menggangu ku belajar " Jawabku beralasan.


" Benarkah ? Lalu bagaimana anda bisa menjelaskan ini " Sambil mengelap bibirnya dengan serbet, tuan Alberd menunjuk kedua temanku dan para gadis.


Wajah mereka hampir menangis ketika memaksa memasukan semua makanan ke mulut mereka.


" Aduh, kalian ini "


Aku hanya bisa menahan malu melihat mereka, terutama teman-temanku yang tidak bisa berakting untuk menjaga perasaan tuan rumah yang sudah berbaik hati menjamu kita.


" Rion... " Mata mereka menangis penuh harap.


" Tuan Alberd, mohon maafkan ketidak sopan nan kami, dan juga tolong izinkan aku meminjam dapurmu " Ucapku menunduk rendah.


" Tentu tidak masalah, kalau begitu aku menanti masakan yang membuat semua orang bahagia, Rion-dono. "


" Terima kasih banyak " Ucapku bahagia. " Momo aku butuh itu " Ucapku beralih.


Didepan semua orang, Momo tidak lagi segan. Dari celah udara Momo mengeluarkan beberapa karung beras, minyak goreng, tepung, bumbu dapur, telur, dan beberapa alat masak seperti panci, kuali, Mixer dan yang lainnya.


Setelah serah Terima aku pun pamit menuju dapur, diantar oleh pelayan.


Setelah menerima penjelasan dari Pelayan, sang Koki mempersilahkan aku untuk menggunakannya. Tapi mengingat tuan Albert dan yang lainnya menunggu lama aku meminta bantuan dari pekerjaan dapur.


Ku sebar semua bahan dan alat di meja. Ku perintahkan masing-masing dari mereka membuat berdasarkan perintahku aku juga menggunakan beberapa alat yang mirip untuk mereka gunakan untuk membuat banyak sekaligus.


Setelah dirasa cukup untuk penjelasan dan mereka mengerti, aku mulai memproses daging segar sisa kemarin malam, ku jelaskan pada koki dan asistennya bagian mana yang bagus untuk dimasak dan bagian mana yang seharusnya tidak di buang.


Aroma sup lezat yang tidak mengkhianati mulai tercium. Aku mencicipi nya, tidak jauh beda dengan yang kuinginkan hanya perlu di tambahkan beberapa rempah. Untungnya semua bahan dapur lengkap di rumah ini, jadi aku tidak perlu menggunakan semua yang ku punya.


Untuk roti perlu dibuat ulang, tapi mustahil siap disajikan hari ini. Karena itu aku menyarankan di hidangkan saat sarapan esok saja.


Selanjutnya Gorengan, itu lezat dan renyah.


Salad, tidak ada masalah. Hanya sayur dan tomat, ku tambahkan saja saos kacang yang banyak.


Untuk susu, ku masak ulang dan tambahkan sari buah yang di peras, simpel.


Selanjutnya yang paling penting dan tidak boleh sampai tidak ada.


Makanan penutup. Ada 3 pilihan, Es krim, Puding atau Crepes.


Ku masak saja sekaligus, aku juga punya alat-alat nya. Masalahnya crepes hanya aku yang bisa membuatnya.


Oleh karena itu, dengan instruksi dariku aku memerintahkan pinjaman tenaga kerja tambahan.


Beberapa pelayan datang untuk mengambil makan malam dan terkejut melihat kesibukan.


Namun dikarenakan profesionalitas mereka kembali ke mode pekerja. Dengan fokus tinggi mereka mendengarkan instruksi ku ditengah hiruk pikuk.


Krim untuk crepes selesai, buah juga sudah dipotong potong. Selanjutnya ku mulai memanggang adonan dan ku ratakan dengan memutar, Berhati-hati agar tidak terlalu gosong.


Untuk urusan menghias kuserahkan pada yang lain, tugasku hanya memasak kulitnya saja.


Melihat hasil yang cantik, mereka menjadi bersemangat dalam menghias. Serasa cukup untuk semua orang Aku beralih pada adonan selanjutnya.


Tiga bakul krim yang berbagai rasa juga baru saja mereka selesaikan, senyum dibibir mereka tidak bisa mereka sembunyikan. Sepertinya mereka juga mencicipi, bahkan dikarenakan saking bersemangat nya mereka sampai sampai membuat sangat banyak.


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanak-kanakan mereka.


Dengan dibantu dua orang dari mereka memindahkan 3 bakul Es Krim berbagai rasa ke wadah khusus, tepatnya panci besar untuk mendinginkan Es krim, dengan memanfaatkan dinginnya pecahan Es batu di sisi luar panci.


Hal ini bertujuan agar Eskrim tidak beku seutuhnya, sekaligus sebagai trik untuk para koki kedepannya.


Dengan mereka yang akan menuang tiga bakul berisi krim secara bersamaan, tugas ku yang akan mendinginkan dengan bongkahan Es batu sampai setengah beku.


Aku mengabaikan mereka yang menjilati sisa krim di panci. Tidak masalah, ini saja lebih dari cukup untuk semua orang.


Ku mulai mendinginkan panci dan ku putar-putar setengah lingkaran secara bolak balik agar adonan eskrim merata dan tidak ada ruang kosong maupun adonannya menggumpal.


Tak lama panci sudah terasa berat menandakan isinya sudah jadi, setelah di coba, rasa dingin dan lembut mengisi mulutku.


Untuk tugas hidang-menghidang ku serahkan pada ahlinya.


Tetapi Masalah baru datang, bagai mana cara nya nanti mereka bisa membekukan Es Krim ini.


Karena saat ku tanyakan, tidak ada satupun dari mereka yang bisa sihir pembekuan.


Alternatif lain juga masih membutuhkan sihir es untuk membekukan.


Ya sudahlah, untuk sekarang mereka harus bersabar sampai mereka menemukan pekerja yang bisa sihir pembekuan, aku juga sudah menitipkan resep dan caranya.


Untuk puding, sepertinya mereka juga harus menunggu. Karena juga membutuhkan pendingin agar lebih segar. Mereka juga bisa menggunakan kristal Es untuk membuat Es batu, itu pun kalau mereka mau mengeluarkan biaya yang mahal hanya untuk sebuah Eskrim.


" Kurasa sudah semua.. " Ujar ku setelah menghitung semua menu. Mulai nasi, lauk, salad, sup dan makanan penutup. Cukup untuk semua orang dan pelayan.


" Kalau begitu, ayo kita kejutkan mereka dengan hasil kerja keras kita, Ooou !!"


Teriakku di ikuti Sorakan semangat dari mereka.


******


Kami masuk ke ruang makan untuk menghidangkan makanan baru, dan ternyata mereka masih di sana menunggu.


" Dengan bangga, kami persembahkan... "


Satu persatu aku memerintahkan pelayan masuk, mereka masuk dengan bangga sembari mendorong terali.


Pelayan lain juga mulai menaruh ulang piring piring baru di meja yang kosong.


Hidangan pertama, sup daging dan kentang. Ketika tutup panci itu pertama kali dibuka, uap panas mengepul keatas mengantar aroma sedap ke setiap hidung orang-orang di ruangan.


Mereka menelan ludah dan tidak sabar ingin mencicipi.


" Eit, sabar dulu. Pilihan kedua, nasi dengan kari. "


Dengan aba-aba ku pelayan yang membawa terali kari maju, dia membuka tutup panci, uap panas juga mengepul dan menyebar di udara.


Kuambil piring kosong di hadapan tuan Alberd, ku tuangkan beberapa sendok nasi ke piring beliau lalu untuk sentuhan akhir, sang pelayan menuangkan banyak kaldu kari dengan gading dan kentang yang banyak, cukup untuk menutup separuh nasi.


Pelayan tersebut mengantar kan langsung kemeja tuannya yang tidak sabar menunggu.


Setelah dari meja tuannya pelayan tersebut berkeliling menghidangkan kari bawaannya sesuai urutan.


Aku tidak langsung duduk. Tetapi aku ikut berbaris memimpin para pelayan di belakangku dengan elegan.


" Silahkan di nikmati "


Tanpa menunggu lagi, mereka menyendok makanan mereka dan mengantarkannya ke mulut.


Mata mereka berkilau. Tampak wajah bahagia dari mereka, tangan mereka tidak berhenti bergerak. Bahkan keluarga tuan Alberd tidak lagi mementingkan etiket makan seorang bangsawan.


Semua makanan habis dengan cepat, pelayan kembali berkeliling mengisi ulang piring yang kosong.


Sementara itu, tuan Alberd yang penasaran dengan mangkok kecil berisi sup menatap ku dengan heran seakan menanyakan " Bagaimana cara aku memakan nya".


Namun ketika beliau melihat Izumi dan Momo yang langsung menyeruput mangkok mereka, beliau juga langsung menirunya.


Matanya tampak puas hanya dari satu tegukan.


Tegukan selanjutnya beliau semakin ketagihan, beliau terus meneguk dan meneguk sampai habis.


" Rasanya seperti daging, tetapi aku sama sekali tidak menemukan daging di sup ku."


" Untuk pertanyaan itu cukup simpel, sup yang Anda minum barusan adalah variasi dari sup yang biasa anda konsumsi. Untuk perisa dagingnya sendiri kami menggunakan tulang kaki dari daging Rusa yang begitu kental, dagingnya sendiri kami gunakan untuk kari yang Anda konsumsi di hidangan pertama. Tetapi jika anda menginginkan sup yang barusan anda minum ada dagingnya kami bisa mengusahakan kedepannya. " Jawabku panjang lebar.


" T.. Tolong lakukan " Jawab Tuan Alberd malu-malu.


Hey, ini rumahmu sendiri, mengapa malu?.


" Untuk hidangan selanjutnya" ku tepuk tanganku dua kali, Satu pelayan maju ke depan mendorong kereta yang sedari tadi masih ia genggam ke hadapanku.


" Apa ini ?"


Tanya tuan Alberd heran.


Aku mulai meracik susu kocok, kopi panggang dan coklat bubuk.


Ku hidangkan untuk ketiga pria di sana, sebuah minuman dengan busa berlimpah.


" Cappucino, sedikit panas, tolong hati-hati."


Untuk para wanita, ku hidangkan susu kocok dan karamel, dengan banyak krim, di akhiri dengan sebuah seni lukis di permukaannya.


Mereka menatap heran pada minuman di hadapan mereka, meski aromanya wangi namun mereka tampak enggan setelah melihat wajah kucing lucu di minuman mereka.


" Untuk anak manis, Onii-Chan beri susu hangat rasa melon dan stroberi "


Mereka takjub dengan susu yang biasa mereka minum kini menjadi berwana. Tanpa menunda mereka meminumnya sampai habis.


"" Tambah.. ""


Sang pelayan dengan senang hati mengisi ulang gelas mereka. Izumi juga menikmati capuccino nya diikuti oleh Roy dan Tuan Alberd.


" Dan yang terakhir. "


" Masih ada lagi ?" Sebenarnya Tuan Alberd perutnya sudah penuh, tetapi dia tidak mau merasa ketinggalan sendirian, mau bagaimanapun dia harus mencoba menu selanjutnya.


" Yang satu ini di Negaraku hanya populer dikalangan para gadis, tetapi jika Tuan Alberd dan Tuan Roy mau, aku bisa menghidangkan nya untuk kalian."


" Rion, Jangan-jangan itu.. ?!" Saking bersemangat nya, Momo melompat dari tempat duduknya.


" Yup, benar sekali." Pelayan kembali membuka tudung, kali ini uap dingin mengepul keluar. Sebuah hidangan seperti kerupuk berbentuk kerucut, dengan toping buah Stroberi, Kiwi dan pisang di permukaannya.


" Tuan-tuan dan nyonya nyonya, dengan bangga kami persembahkan, produk populer di kalangan remaja"


" Jangan terlalu banyak iklan, cepat serahkan padaku " Momo merampas Crepe itu dari tanganku.


Bahkan aku tidak sempat menyebut nama makanan ini.


" Crepe yang terbaik " Pipinya menggembung seperti tupai ketika Crepe itu habis dalam satu gigitan.


Ya tidak apa-apa masih ada banyak, lebih dari cukup. Para gadis yang penasaran juga mendekati pelayan yang membuat langsung didepan mereka. Para gadis tampak bersemangat. Ini sudah seperti penjual Crepe dan gadis pelajar sepulang sekolah saja.


" Padahal masih ada lagi " Keluh ku.


" Jangan-jangan eskrim ?" Sahut Momo.


" Juga puding"


Para gadis semakin bersemangat dan menyerbu tudung yang belum terbuka.


" Maafkan kami atas keributan yang kami buat " Pinta ku.


" Hahaha jangan dipikirkan, sekali-sekali makan malam seperti ini sangat menyenangkan "


Tuan Alberd dengan tenang menyeruput minumannya.


Aku yang belum makan akhirnya dilayani oleh pelayan. Aku memesan sepiring kari dan eskrim.


" Tetapi apa anda tau Rion-Dono, sebuah Negara dengan sekuat tenaga akan berperang hanya untuk mendapatkan makanan enak ?"


" Apa-apaan pikiran konyol itu. Apa mereka bodoh ?"


" Ya.. Benar juga jika dipikir-pikir. "


" Tentu saja itu benar.. "


" Tetapi Rion-Dono asalkan anda tau, di Dunia ini, pernah ada Kota dengan tingkat kematian yang tinggi karena kelaparan, bahkan negara damai pun masih mempunyai rakyat yang kelaparan, karena itu makanan adalah alasan tepat untuk semua orang untuk berperang. Tidak peduli dengan resiko yang di tanggung orang lain, asalkan mereka dapat makan, mereka bahkan rela untuk merebut bahkan menghabisi nyawa orang"


" Tuan Alberd, tolong jangan bawa pembicaraan berat ketika makan"


" benar juga, maaf membuat anda merasa tidak nyaman "


" Terima kasih. Kalau begitu, mari kita lihat apa penyebab nya," Meski tadi pada awalnya ia menolak untuk membahas nya, namun Aku tetap mengungkitnya lagi. Membuat Tuan Alberd membuat ekspresi aneh.


" Pertama yang paling sering terjadi, Perang berkepanjangan, yang menyebabkan banyaknya kematian sehingga membuat tulang punggung keluarga banyak yang hilang.


Kedua, Lapangan pekerjaan yang sedikit, sedangkan permintaan pekerjaan berlimpah. Dalam kasus ini, rakyat yang tidak kebagian pekerjaan akan kesulitan bertahan hidup, pilihan mereka hanya dua, mengemis untuk hidup atau merampok untuk hidup.


Yang ketiga, lapangan pekerjaannya ada, namun tenaga kerjanya tidak cocok. Ini berpengaruh pada negara, proyek tidak akan berjalan dengan lancar, jika para pekerjanya tidak mempunyai skill yang memenuhi kualifikasi. Alhasil pekerja akan di pecat dan lambat laun akan kelaparan.


Jika salah satu nya saja terjadi maka rakyat tidak akan bisa membayar pajak, lalu keuangan negara akan menipis sehingga tidak akan mampu lagi membayar tentara atau penjaga, lalu karena mereka tidak lagi dibayar mereka akan kesulitan menghadapi biaya hidup, harga barang akan naik melonjak, lama-kelamaan mereka akan kelaparan dan meninggal, negara kehilangan tentaranya. Dan musuh dengan mudah menyerang.


Tamat. "


Panjang lebar aku bercerita sampai-sampai aku sudah menghabiskan 2 gelas eskrim.


" Hahahaha aku tidak percaya anak semuda dirimu sudah mampu berfikir sejauh itu. Sepertinya dirimu sudah dibekali dengan pendidikan yang bagus, Rion-Dono."


" Meski tidak bisa ku banggakan, tapi aku sudah berjuang keras "


" Hahaha, dirimu terlalu merendah.. , lalu jika melihat kotaku ini, dari pandanganmu bagaimana cara agar kotaku ini dapat berkembang tanpa ada rakyat yang mati kelaparan."


" Mudah saja. Beri saja mereka uang, mereka bisa membeli makanan mereka sendiri. " Ucapku dengan nada bercanda


Tuan Alberd mengerut kan dahinya ketika aku mengintip dari ujung mataku.


" Ah, aku tau. Anda pasti sedang mengujiku ku kan ?"


" Anda menyadarinya ?"


" Rion-Dono... Aku adalah pria yang berhati-hati. "


" Hahaha baiklah aku menyerah. Bayangkan jika anda membangun sebuah sekolah gratis untuk anak-anak dari keluarga berekonomi kebawah. Anda mengajari mereka mengenal huruf, Anda mengajari mereka bagaimana caranya membaca dan Anda mengajari mereka bagaimana caranya berhitung.


Sehingga nantinya didalam otak mereka akan tertanam sebuah doktrin, 'aku harus sukses dengan ilmu yang sudah diberikan kepadaku'


Dan pada akhirnya nanti mereka akan kembali ketempat mereka, mengajarkan orang-orang di negara mereka cara bertani yang baik, mengajari mereka pola tanam musiman, atau mengajari mereka cara membuat kesenian yang mampu menghasilkan uang sehingga di gemari oleh orang-orang sampai terkenal keluar negri.


Turis akan sering mampir, hasil Expor meningkat, pajak barang dan pendatang akan bertambah, keuangan Kota akan menumpuk. jadi jikalau ada rakyat yang kesulitan, memberikan bantuan tidak akan sulit lagi, sehingga rakyat itu kembali bangkit dan semakin Royal kepada Pemerintah. Ini namanya idiom balas budi."


" Sangat menarik, tetapi masalahnya hanya satu ?"


" Uang bukan ?"


" Seperti yang Anda pikirkan Rion Dono"


" Kalau itu yang Anda pikirkan, anda tidak perlu khawatir. Di luar sana pasti banyak donatur yang ingin bekerja sama dengan anda kan ? Setidaknya satu atau dua, remuk kan bersama-sama buat kesepakatan, tarik minat mereka dengan ide-ide menarik, donasi tidak perlu harus berupa uang, mau itu barang ataupun makanan, Terima mereka semua. Kuras semua uang bangsawan, tarik mereka dengan sesuatu yang menguntungkan dalam jangka panjang.


Yang harus anda lakukan adalah membangun sebuah sekolah. Ketika sekolah ini selesai, katakan pada mereka semua yang telah membantu Anda membangun sekolah itu. Bisikan ke hati mereka, 'ini sekolah yang kita buat, ini juga sekolah untuk anak cucu kita, kelak mereka akan menjadi orang hebat yang akan membawa perubahan untuk negara kita menjadi lebih maju lagi'. Serang hati mereka bukan uang mereka."


Tuan Alberd dan putranya melepaskan nafas panjang.


" Eh, ada apa ?"


" Entahlah, tiba-tiba saja aku serasa lupa untuk bernafas "


" Anda baik-baik saja ?"


" Ya, tidak apa-apa, tidak perlu khawatir."


" Baiklah kalau begitu."


" Rion-dono, izinkan kami meminjam kepintaran Anda, kami akan."


" STOP !!"


" Rion-dono ?"


" Aku tau ini akan mengarah kemana, cukup hentikan, tidak perlu sampai merendahkan dirimu sendiri Alberd dono. Jika sampai ada rakyat Anda melihat Anda memohon pada seorang pelajar seperti ini, impian Anda itu hanya akan tinggal mimpi. Jadi hentikanlah."


" Kau benar, maafkan kekhilafan saya "


" Sebaiknya Anda pikirkan dulu matang-matang apakah kata-kata saya sebelumnya bisa diterapkan atau tidak, Buat dulu rancangannya, susun rencananya. Lagi pula tidak perlu terburu-buru, di dunia ini masih banyak orang baik yang saling peduli pada sesamanya."


" Begitu kah ?"


" Jika rakyat Anda benar-benar membutuhkan pekerjaan, mengapa tidak buat saja lapangan pekerjaan untuk mereka ?, kulihat masih banyak tempat seperti hutan di sana, kayunya bisa dijual atau di jadikan perabot, lahannya bisa dijadikan ladang. Orang dewasa akan bekerja, sedangkan anak-anak akan bersekolah. Mau Bagaimana pun tanah disini terlihat subur dan jika saja kota ini punya satu saja makanan khas ataupun kesenian khas, anda bisa bayangkan bukan, kedepannya akan seperti apa ?"


" Itu lebih dari cukup, Terima kasih banyak Rion-dono "


" Senang rasanya dapat membantu "


Topik berat ini berakhir bersamaan dengan habisnya minuman penutup kami.


Aku membubarkan para gadis yang tidak ada kenyang kenyang nya, mereka hanya mengeluh.


" Jangan, mengeluh, masih ada bahan makan untuk besok, lagi pula para pelayan sudah kelelahan, mereka juga belum makan malam "


Dengan dua tepukan, para pelayan membereskan peralatan makan dengan sigap, setelah itu mereka pamit undur diri.


Dan kami pun kembali ke kamar kami masing-masing untuk beristirahat.


Sedangkan pelayan yang belum makan malam menyantap makanan dengan bahagia, bagai mana aku tau ? Karena aku melihat mereka ketika aku tengah berusaha mencari dimana kamarku berada.


" Rion-Sama, apa Anda membutuhkan sesuatu ?"


Masa bodoh, daripada aku tidur di lorong ku katakan saja alasanku.


Mereka tertawa kecil, tidak percaya.


Sesampainya dikamar aku langsung mengambil selimut tebal di kasur, ku gulung tubuhku  dengan selimut tebal itu dan... langsung melompat ke Lantai.


Dalam hitungan detik, aku sudah terbang ke alam mimpi.


Futon yang terbaik.