7 SLEEPER

7 SLEEPER
Tekanan dan Kejutan Lain



Rion datang menemui Ibunya.


Dengan perasaan amarah yang besar, dia terus menarik kedua kakinya untuk melangkah menuju Ruangan Ibunya di Institut Penelitian.


Meski dengan langkah yang nyaris senyap itu dia bahkan mampu menarik perhatian setiap peneliti yang bahkan tidak dapat melihat wujudnya sekalipun.


Dengan aura tidak menyenangkan dia terus membuat perasaan tidak nyaman, dan membuat berbagai kekacauan terjadi di berbagai ruangan.


Tentu saja dia sama sekali tidak menyadari keributan yang terjadi di Institut itu sampai akhir, fokus nya saat ini hanya tertuju pada bagaimana caranya dia akan mendapatkan izin dari ibunya yang Over Protektif itu.


Meskipun sekalinya Ibunya sendiri sudah tau bagai mana sebenarnya Keluarga besar Kazuma ketika keluarga mereka di ganggu, namun Ibunya tetap melarang Putra satu-satunya itu untuk terjun langsung membereskan para pengganggu.


Pernah dulu terjadi satu kejadian, dimana Rion menyerbu satu kelompok Mafia sendirian dan pulang dengan banyak luka di tubuhnya dan masih tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.


Meskipun tidak sampai mengancam nyawa, namun naluri seorang ibu tetap saja tidak sanggup untuk melihat Anaknya terluka meski hanya satu goresan pisau saja.


Semenjak hari itu, Rion dilarang kelapangan meski keadaan kelompok mereka terancam sekalipun.


Malam itu benar-benar malam yang paliing ribut sepanjang sejarah keluarga Kazuma, dimana Mio ibunya Rion Memboikot Rion dari keluarga besar.


Sampai-sampai Rion dilarang keluar Rumah hampir satu bulan lamanya. Bahkan pihak sekolah sekalipun menjadi cemas karena Rion lama tidak masuk meski ujian Nasional kala itu tersisa 1 Minggu lagi.


Beruntung, informasi tentang Invasi nya ke Kelompok Mafia Malam itu berhasil dimanipulasi oleh kelompoknya, sebelum terjadi keributan besar yang mempengaruhi wibawa dari kelompok yang bersangkutan. Meskipun mereka bermusuhan namun mereka tetap menjaga wibawa dari musuh mereka.


Yang lebih penting lagi, adalah agar kalangan umum tidak mengetahui betapa berbahayanya seekor Ri.. Maksudnya seorang Rion, yang sudah di Tempa dan di lempar ke hutan untuk belajar bertahan hidup semenjak umur 5 Tahun.


Memang terdengar mustahil dan gila.


Siapa orang Gila yang berani melakukan hal keji dan tidak berprikemanusiaan melakukan hal tercela seperti itu.


Orang yang tidak bertanggung jawab itu, tidak lain tidak bukan adalah Kepala Keluarga dari Keluarga utama saat ini.


Yup, benar...


Orang Gila yang kelewat batas itu adalah, Kakeknya sendiri.


Tetapi, itu dilakukannya bukan tanpa alasan.


Dengan pemikiran cermat dan menimbang dari segala aspek, Beliau ini berpikiran bahwa Rion sudah sepantasnya melakukan itu semua sedari dini sekali.


Meski Ibunya mengamuk dan hampir meratakan Kediaman keluarga ketika mendengar Putra Tersayangnya di kirim ke hutan tanpa sepengetahuannya.


Hari itu adalah hari yang paling terburuk sepanjang Karir Keluarga Kazuma dimana mereka bahkan tidak mampu menghentikan AMUKAN dari seorang Loli.


Pertahanan tak tertembus yang mereka banggakan selama beberapa dekade, Runtuh hanya karena seorang Loli Lucu.


Ups...


Cukup sekian tentang prestasi mengagumkan tentang pasangan Ibu dan Anak ajaib ini.


Sekarang mari kita kembali ke tokoh utama kita.


Rion Masuk kedalam gedung besar yang di percaya adalah Kantor tempat Ibunya bekerja, tanpa ada satu orang pun yang berani menegur ataupun menyapanya, karena saking takutnya dengan ekspresi menyeramkan yang secara tidak sadar ia tunjukan.


Meski lantai pertama besar dan luas karena tidak di beri sekat atau dinding pembatas, Rion menghabiskan waktu hampir Lima Belas Menit untuk menemukan Tangga menuju Lantai Dua.


" Ah, aku harus ke lantai dua. " seorang Pria Figuran entah kenapa berteriak sedikit keras dan karena lantai itu sedang dalam keadaan sunyi, suara Pria tadi terdengar nyaring.


Rion langsung melirik kearah sumber suara dan berhasil menemukan pelaku.


Mata mereka bertatapan. Tanpa menunggu ba- dan bu- pria figuran tadi berpura pura membereskan beberapa berkas secara acak dan menuju tangga di belakang meja kerjanya.


Dengan canggung pria figuran tadi melirik kearah Rion sebelum menginjakan kaki ke anak tangga pertama, memastikan Rion melihat kemana ia pergi.


Rion yang sadar kalau dirinya sedang di papah, mengutuk dirinya yang bahkan tidak bisa pergi keruangan Ibunya sendirian.


Meski terkenal dengan Manusia dengan urat malu yang sudah putus, untuk yang satu ini Rion sama sekali tidak punya Counter.


Rion menarik tudung Hoodie nya, menutupi wajah merahnya dan mempercepat langkahnya agar tidak ketinggalan.


Beruntung pria figuran menunggu nya dan melanjutkan langkahnya ketika Rion tepat di belakangnya.


" Maaf sudah merepotkan " Gumam Rion, pelan karena tenaganya hilang karena malu.


" Dan, Terima kasih " Ucap Rion lagi.


Sebuah ivent 'Tsun' yang seharusnya tidak dimiliki seorang laki-laki.


Namun, pria figuran tetap mendapatkan damage yang luar biasa, meski tidak dapat melihat jelas wajah Rion yang tersipu.


Karena terlalu senang, Pria itu menunjukan jalan sampai ke depan pintu Ruangan direktur.


Rion tidak lupa berterima kasih lagi dan menunduk dalam atas bantuan Pria Figuran yang sudah menolongnya sampai akhir.


Pria itu kembali ke mejanya dan membagikan pengalamannya bersama Rion dan mulai membual kepada teman-temannya. Kenekatannya tadi membuatnya merasa di saingi oleh teman-temannya.


Tetapi itu bukan bagian dari cerita kita, mari kita kembali ke tokoh utama kita sekali lagi.


Ehem...


Rion mengetuk pintu ruangan Ibunya, sekarang emosinya sedikit bisa ia kendalikan.


" Masuklah "


Suara Lucu gadis remaja yang familiar itu dapat ia konfirmasi, dan izin sudah ia dapati.


" I.. Ibu... Aku... It..itu.. "


Meski tadinya ia sudah mantap untuk menghadapi ibunya, namun karena mendengar suara ibunya dan menimbang kejadian berbahaya sebelumnya, nyalinya menjadi ciut untuk meminta izin.


Meskipun dia berandalan, Yakuza, dan mahluk dengan saraf yang sedikit korslet, Mahluk ini sama sekali lemah jika berhadapan dengan ibunya.


Siapapun pasti juga begitu.


" Itu.. Ayah... Bahaya..  A.. A... Aku... "


Bahkan Rion sama sekali tidak mampu melihat wajah Ibunya, padahal sangat Lucu dan menggemaskan.


" Aku tau... Ricchan ingin pergi kan ? "


" ... "


" Pergilah "


" Eh ?!"


Rion untuk pertama kalinya terkejut mendengar satu penggalan kata dari ibunya itu.


Ibunya yang terkenal sangat protektif jika itu menyangkut dirinya, sekarang malah mengizinkannya.


Ini bukan izin seperti pergi ke Mini Market atau semacamnya, ini adalah hal yang jauh lebih besar bahkan melibatkan Politik antara 2 Kubu.


Rion sempat berfikir apakah Ibunya ikutan korslet seperti dirinya.


" Ibu... ?, apakah Ibu marah ?"


" Mana mungkin aku marah ?"


" Itu, tidak biasanya Ibu begini "


" Itu karena... Jika Ibu melarang Ricchan  pasti akan pergi sendiri, kan ?"


" Hehe, Ibu benar " Rion tertawa canggung, namun ia masih dapat melihat kesedihan dari wajah ibunya yang berhenti Mengerjakan berkas dihadapannya.


" Ibu... Terima kasih "


Rion menunduk jauh lebih rendah dari semua orang yang pernah ia hormati.


Tanpa menunda waktu dan takut membuat ibunya berubah pikiran, Rion langsung berbalik dan keluar dari Ruangan Ibunya dengan perasaan lega, sebutir air telaga dari ujung matanya tumpah dan jatuh membuat sungai kecil di pipinya.


Rion berjalan dengan perasaan yang sedikit lega, ada lebih banyak tenaga dari senyuman yang berhasil ia tangkap dari senyuman yang di buat ibunya di saat saat terakhir. Itu bukanlah senyuman sembarangan, senyuman itu mengandung banyak harapan, senyuman seorang Ibu kepada anaknya yang sudah dewasa. Senyuman Lega seorang Ibu yang melepas Putranya ke dunia Orang dewasa.


Rion sadar akan hal itu, di lain sisi dirinya sedikit sedih jika dirinya tidak lagi di manja oleh Ibunya. Karena mereka jarang bertemu sebelumnya.


Seperti yang kita tau, mereka sekeluarga terpisah antara dunia dunia untuk waktu yang lama. Banyak momen indah yang seharusnya mereka sekeluarga lewati namun tidak sempat mereka alami.


" Terima kasih, Ibu... "


Dari arah belakangnya, seorang pria menghentikan langkahnya. Rion dengan sigap menghapus air matanya, dan memperbaiki posturnya.


" Ya  ?"


Suaranya masih serak, tapi itu tidak terhindarkan.


" Nyonya, menitipkan sesuatu untukmu sebelum berangkat. Silahkan ikuti aku "


Rion mengikuti pria itu dengan patuh, ia kembali menutupi wajahnya.


Kesampingkan hal itu, saat ini Tokoh Utama kita sedang kegirangan melihat kedewasaan karena Ibunya yang sudah mulai bisa melepasnya, meski dirinya sedikit kesepian.


Rion di giring ke fasilitas pengujian dan di pertemukan kembali dengan orang orang dari tim penguji yang pernah ia bantu.


Beruntung mereka tidak lagi canggung, karena waktu itu ada Ibunya. Rion dapat berbaur lagi dengan orang-orang tersebut.


Rion digiring ke ruangan lain yang lebih kecil, itu adalah gudang. Mungkin lebih tepatnya garasi.


Yup, garasi di dunia lain. Dunia yang masih belum ada kendaraan namun garasi nya sudah ada. Terbukti dari peralatan yang terpajang di meja dan dinding, terlihat seperti garasi dan bengkel pada umumnya. 


Dan yang paling utama adalah benda yang ditutupi kain perak di tengah ruangan.


Lampu ruangan menyala sepenuhnya ketika mereka sudah sampai di depan benda yang di tutupi kain perak itu.


Terlihat jelas berapa kerennya garasi itu, terlihat baru dan keren dengan Lampu Neon biru di sepanjang garis dinding.


Lebih seperti di film masa depan dimana dunia sudah di dominasi oleh Hybrid dan Robot.


Cyber Punk.


Tidak, karena ini adalah di dunia lain, cocoknya adalah Cyber Fantasy.


Rion sangat kegirangan bukan main hanya karena desain interiornya saja, belum lagi nanti jika dia sampai melihat apa yang ada di balik kain perak itu. Pasti tidak akan kalah heboh.


Dan saat yang dinanti pun tiba, tokoh utama kali ini adalah benda yang saat ini di tengah di pameran.


Para peneliti yang masih mengenakan pakaian jas putih labor itu berbaris di depan maha karya mereka.


Mereka tersenyum percaya diri meski dengan lingkaran hitam di sekitar mata mereka.


Rion sudah tidak sabar, dengan kejutan lainnya. Jika melihat garasi saja mereka bisa membuat Rion puas, apalagi senyuman bangga dari mereka dengan yang satu ini.


Rion mempercayai senyum percaya diri mereka dan bersiap dengan kejutan di depan matanya.


Berharap dirinya tidak akan terkena serangan jantung karena terlalu girang.


Para peneliti yang namanya masih belum ia tau itu mempersilahkan Rion naik ke podium dan membuka sendiri kejutan nya.


Rion yang semakin gugup karena harus melakukan kejutan nya sendiri itu semakin gemetar setiap kali tangannya akan mendekati kain perak itu.


Merasa masa bodoh dengan serangan jantungnya, ia menarik kuat kain itu, dengan menutup mata tentunya.


Reflek.


Membuat Para Peniti kecewa karena sudah merusak momen berharga yang sebelumnya sudah mereka bangun.


Mereka berharap Rion akan terpesona ketika melihat hadiah untuknya, dan akan memuji mahakarya yang sudah mereka buat seminggu belakangan.


Apa dia tidak suka ?, apa desainnya terlalu buruk ?, apa warnanya dia tidak suka ? Apa karena itu bukan apa yang dia harapkan ?.


Berbagai macam spekulasi muncul di benak masing-masing peneliti melihat Rion yang hanya melihat hadiahnya dengan tatapan kosong.


Mereka gagal sebagai peneliti dan sebagai penemu.


Rasa percaya diri mereka hancur melihat ekspresi biasa dari Rion.


Mereka kehilangan muka untuk berhadapan dengan Direktur yang sudah mempercayakan Proyek skala besar ini pada mereka.


Mereka tidak tau harus bagai mana caranya untuk menghadap Direktur mereka. Kata-kata apa yang harus mereka sampaikan ekspresi seperti apa yang harus mereka tunjukan, mereka tidak tau.


Mereka ikut kecewa dengan diri mereka sendiri, kebanggaan mereka runtuh dalam sekejap.


" Bagaimana, kau suka ?"


Mendengar asisten Direktur mereka menanyai Rion seperti itu membuat nyali mereka untuk menemui Direktur semakin ciut.


" Hah.. Hah.. Hah.. "


Rion bernafas dengan tersengal-sengal dan jatuh kebelakang dan mendarat dengan keras. Dari suaranya siapapun pasti merasa jika itu sangatlah sakit, terlebih Rion mendarat dengan bokongnya.


" Aku sampai lupa untuk bernafas " Lanjutnya kemudian. Senyum yang ia tahan bahkan membuat rahangnya kesakitan, otot di wajahnya bahkan bekerja lebih keras sampai membuat wajahnya keram.


" Ini pasti mimpikan ?, ini mimpi kan ?" Rion berkali-kali mencubit pahanya karena tidak sanggup mengangkat tangannya lebih tinggi lagi.


Rion juga meraung tidak jelas karena saking senangnya.


Sedangkan para peneliti yang sedang depresi sempat menunda depresinya melihat perubahan Ekspresi Rion yang berubah.


Akal sehat mereka bahkan tidak menyadari bahwa saat ini Rion sedang menahan rasa girangnya yang kelewat batas.


" Apa boleh ku sentuh ?"


Rion melirik kearah asisten Ibunya.


" Seharusnya bukan aku yang memutuskan itu kan ?"


Asisten itu memberikan satu kedipan matanya dengan senyum puas.


" Boleh aku menyentuhnya ?"


Rion beralih ke arah peneliti yang ia sama sekali tidak sadar jika sudah membuat mereka depresi secara instan.


Meskipun begitu mereka mengangguk secara bersamaan.


Rion mendekati benda menakjubkan itu dengan perlahan. Menyentuh logam hitam metalik dengan sedikit mengandung garis warna biru itu.


" Dingin... "


Rion masih menahan senyumnya yang siap meledak.


Rion mengusap telunjuknya di sepanjang garis berwarna biru api yang menyala sepanjang garis Bodi benda itu.


Terdapat mesin yang mencuat di sisi kiri. Terbuat dari logam yang jauh lebih dingin, keras dan terlihat keren.


Bangku yang di alasi kulit hitam, lembut dan empuk ketika di tekan. Layer depan dengan angka digital tercantum, mode Cyber yang sangat di impikan nya.


" Boleh aku naik ?"  Pintanya karena tidak puas hanya menyentuh saja.


Dan lagi-lagi para peneliti yang mulai mendapatkan kepercayaannya mengangguk lebih semangat.


Rion menaiki benda tersebut. Menyentuhnya lebih banyak, bodi depan, bodi belakang, hingga ganggang kiri dan kanan. Mencoba menaiki kedua kakinya, dan menapaki.


" Ini pas sekali, terasa nyaman.... "


Rion masih menahan bibirnya agar tidak tersenyum.


Rion memeluk bodi depan ketika menaikinya, memejamkan matanya sejenak merasakan sensasi dari logam yang terlihat cantik itu.


" Ahn~~~ ini terlalu keren untuk menjadi sebuah kenyataan, aku tidak mau bangun dari mimpi ini"


" Sayang sekali mengecewakanmu, tapi ini bukanlah mimpi"


" Ini bukan mimpi, karena itu tolong dengarkan penjelasan kami, ku mohon "


Salah seorang peneliti maju mendekat, ikut menyadarkan Rion dari delusi nya.


" Ah, maafkan aku. "


Rion juga sedikit kelewatan sampai senang sendiri, sehingga melupakan orang di sekitarnya.


Rion mendengarkan dengan hikmat penjelasan dari peneliti itu, semua atribut hinga segala fungsi, kondisi hingga tenaga bahan bakar yang menggunakan Sihir si pengguna.


Selain itu, ada hal yang jauh lebih penting dari itu semua.


" Ah, benar juga. Apa anda ingin memberi nama Untuk Motor Pertama anda ?"