
Sudah seminggu semenjak kejadian itu.
Dan semua orang menjalani hari hari dengan normal, seakan akan hari itu tidak pernah terjadi. Bahkan Sora-nee tidak pernah lagi muncul, tidak di rumah, juga tidak di rumah Utama.
Kazu yang saat itu terluka parah pun enggan memberikan keterangan. Apalagi Rin yang saat itu di sandra, tidak mau mengatakan sepatah katapun menyangkut kejadian itu.
Meski Rin tetap tersenyum seperti biasa, tapi aku jelas tau bahwa gadis itu dan semua orang yang terlibat saat itu tengah merahasiakan sesuatu dariku.
Terlebih Yuki-chan, yang saat itu bersama Kazu. Entah angin apa yang membuat ku bisa melupakan dirinya, pasti mereka menanamkan semacam sihir di otakku, menimbang semua sihir yang sudah kulihat lihat sebelumnya.
Dan itu membuatku kesal.
Secara tidak langsung mereka seakan mengatakan bahwa ini bukanlah urusan ku. Jika mereka benar berfikir seperti itu, mereka salah.
Ini sudah menjadi urusan ku juga, apa mereka tidak sadar bahwa aku juga terlibat langsung dalam insiden itu?, aku hampir mati asal mereka tau.
Tetapi aku juga tidak bisa memaksa, pasti ada alasan dibalik diamnya mereka. Mencari tau seperti ini rasanya sulit, bahkan petunjuk yang ku dapat hanyalah sedikit dari sisa pertarungan yang luput dipulihkan.
Dua Katana yang ku pungut dari Minotaurus dan rasa nyeri yang masih membekas di sekujur tubuhku.
"Jelas semua itu bukan mimpi"
Jelas itu bukan mimpi. Tapi tetap saja ini semua membuatku kepikiran, kesal jengkel menggerogoti kepalaku.
"Aagggghh... Semua ini membuatku kesal"
"Rion kun"
Ah benar saat ini ada hal penting lainnya yang tidak kalah penting dari kejadian minggu lalu. Saat ini aku sedang bertempur di Medang perang lain. Ini menyangkut masa depan ku.
Di hadapanku saat ini, berdiri seorang gadis teman masa kecilku, gadis manis dengan perawakan mungil yang mempunyai bibir yang tampak lembut mirip bayi, rambut hitam lurus berkilau sebahu. Wajah polos yang membuat orang ingin melindunginya.
Dibawah pohon sakura yang berguguran serta siraman mentari pagi yang mengintip dari sela-sela dahan yang bergoyang lembut, membuat kilauan senyumannya semakin indah, aku bahkan membayangkan dari balik punggungnya yang mungil itu keluar dua sayap malaikat, seakan menginginkan aku untuk memeluknya agar tidak terbang kembali ke surga.
Gadis ini Adalah Kanzaki Risu, cinta tak terbalas ku selama 12 tahun. Meski setelah sekian lama kami bermain bersama, gadis ini masih tetap tidak memandangku sebagai seorang pria, dimatanya aku hanyalah seorang kakak dan teman masa kecil yang berharga. Tapi... aku tidak mau menyerah.
" Risu, aku menyukaimu, pacaran lah denganku."
Aku menunduk seraya mengulurkan tanganku, jantungku berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Berharap kali ini akan berhasil. Namun tanpa di jawab pun aku tau jawabannya. Dan benar saja, gadis di hadapanku ikut menunduk bersamaku dan tidak menjabat tangan yang gemetar ini.
Aku tau akan seperti ini, aku juga tau rasanya di tolak, kupikir aku sudah terbiasa, namun tetap saja aku tidak sanggup menahannya. Perasaan selama 12 Tahun yang menggelora ini nyata adanya, juga rasa denyutan di hati ini.
Untuk saat ini aku hanya mampu menatap langit, mencoba menahan agar air mata ini tidak jatuh. Padahal aku sudah sampai sejauh ini, namun masih saja gagal. Aku tidak tau lagi harus bagaimana, mencari cinta baru itu mustahil, gadis ini sudah tertanam erat di hati ini.
"Terima kasih atas perhatian mu selama ini, aku tau ini kejam. Tetapi tetap saja aku tidak bisa berpacaran dengan mu."
"Begitu ya.. Hmm.. " Suaraku bergetar, air mata ini sudah tak sanggup ku bendung lagi, akhirnya air mata dari dua belas tahun yang lalu melimpah dan membentuk sungai kecil di pipiku.
Aku ingin berteriak namun tidak mungkin, untuk apa? Tidak ada manfaatnya. Tidak akan merubah apapun. Ingin marah tidak bisa, bukan hak ku. Aku hanya bisa diam, mengasihani diri sendiri hanya akan membuat ku semakin terluka.
"Maaf.."
Melihat sosok mungil itu masih menunduk menandakan kesungguhan dalam kata-katanya.
Tercium wangi buah dari dirinya disaat angin musim semi membelai rambutnya yang lembut, menggelitik hidungku. Air Mataku sirna seketika itu juga. Benar mungkin ini yang terbaik, untuk saat ini.
"Terima kasih untuk selama ini, sudah mau mendengarkan keegoisan ku"
"Tidak masalah" Wajahnya tersenyum manis lebih dari biasanya, terlebih aku bisa melihat efek cahaya dari senyuman indah nya.
"Kamu pasti repot bukan, selama 12 Tahun ini harus mendengarkan pengakuan dari orang egois sepertiku?"
"Itu tidak merepotkan sama sekali kok, bisa dibilang aku sangat senang, diperhatikan olehmu" Wajah malunya ketika menggaruk pipinya yg tidak gatal itu adalah yang terbaik.
"Kau menikmati aku yang patah hati ini ?" Goda ku dengan wajah memelas.
"Tidak tidak.. Bukan bukan begitu, maksud ku.." Wajahnya pun lucu saat panik.
"Puffft...maaf aku hanya menggoda mu"
Pipinya menggembung
"Aku senang dengan pengakuan cintamu, itu membuat ku bahagia melebihi semua. Namun aku tidak bisa berpacaran denganmu. Setidaknya tidak untuk saat ini"
Meski yang terakhir itu ia katakan dengan pelan, tapi aku yakin dengan jelas aku mendengarnya.
Apa-apaan itu, apa itu gap moe? Tsundere akut? Tetapi yang jelas era baru cintaku semakin bersemi. Hatiku semakin lega, menandakan masih ada harapan lainnya untukku.
Karna masih ada pengakuan cinta ke 145 dan seterusnya.
Eh.. Apa aku belum bilang?. Ini adalah pengakuan ku yang ke 144 kali. Dan aku bangga dengan itu, Tak ada yang harus disembunyikan.
"Terimakasih"
"Sama-sama" Jawabnya membuang wajah malunya.
"Sudah saatnya masuk kelas, aku duluan" Saut gadis itu menjauh.
"Oy, tunggu aku.. "
Yup... Begitulah pengakuan cintaku yang sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya, sedikit bumbu manis dan jalan baru masih terbentang luas.
*****
Kami masuk ke kelas tepat disaat bel sekolah berbunyi. Kelas 2-2 yang kebanyakan diisi oleh teman-teman yang sudah sedari SD sampai SMP.
Meski menyenangkan bersama orang-orang yang sudah kenal lama, namun mengenal orang-orang baru adalah satu pengalaman yang menyenangkan bagiku.
Bukan bermaksud menyombongkan diri, meski berwajah sangar aku ini adalah anak yang suka bergaul dengan sekitar. Yah.. Bisa dibilang aku ini takut sendirian.
Sebagai contoh, Cowok yang sedang sibuk dengan ponselnya di duduk belakang kelas dekat jendela, tepat di belakang bangkuku.
Namanya Izumi Kazehaya, cowok ini sedikit tertutup dengan orang-orang bahkan ke teman sekelas sekalipun. Dia lebih percaya diri ketika menyelam di dunia maya, terlihat jelas ketika ia mengetik chat dengan cepat di dalam game online yang selalu ia mainkan.
Mengapa aku tau? Itu karena aku selalu memperhatikan sekitarku dan tidak mungkin dia yang berada paling dekat tempat duduk ku luput dari pantauan ku.
Lama aku ikut menatap layar ponselnya, permainannya begitu intens, gaya bertarungnya sudah mencangkup pemain Pro.
Satu jam, dua jam berlalu.
Guru masih belum masuk, kemungkinan jam kosong. Dan aku masih asik mengikuti petualangannya yang epik, ia juga tampak bersenang senang. Aku tak kuasa mengganggunya, hingga sampai akhirnya tangan yang begitu aktif bergerak itu, berhenti.
Wajahnya terkejut, bibirnya bergetar lucu karna aku ketahuan mengintip.
" Selamat siang Kazehaya kun." Sapaku memecah kekakuan
"S.s...siang"
"Tak perlu pedulikan aku, lanjut saja"
Dengan enggan ia melanjutkan petualangannya, namun aku sedikit kesulitan melihatnya karena ia sedikit menutupi layar ponselnya, Tubuhnya pun tampak bergetar. Menyenangkan mengerjai orang ketika bermain game.
"Anoo..."
" Ya??!"
"Aku tidak bisa konsentrasi jika di lihat seperti itu"
"Ah maafkan ketidak sopan'an saya Kazehaya dono, saya hanya terpukau dengan permainan anda Kazehaya Dono"
" T.. **.terima kasih banyak" Balasnya, tidak ku sangka ia akan membalas candaanku.
"Hey, mau Party dengan ku ?"
"Eh?"
" Ayolah, mumpung saat ini jam kosong, dan aku juga bermain game itu juga"
"Eh??"
"Bagai mana? Kita bisa mengalahkan Naga Ivent itu bersama?"
" Tidak..mustahil... Ivent itu hanya berlaku untuk pemain yang berada dalam satu guild"
"Hee... Benarkah? "
" Y.. Ya.. Ji.. "
" Ji?"
"Jika kau mau, aku bisa mengundang mu ke dalam guild ku"
"Ho... "
" T..tapi.. "
"Tapi?"
" Tapi jika guild mu bagus, kamu bisa meminta anggota guild mu untuk menyelesaikannya bersama"
"Karna itu aku mengundang mu kan.."
Ting!!
Sebuah Notifikasi masuk kepadanya.
"Gu-ild-Mas-ter!!" Ucapku.
"Eeeeeeeh!!!"
Dengan konyolnya ia bereaksi berlebihan seperti itu, meski terkejut ia bahkan tidak menolak bahwasanya ia adalah seorang Guild Master.
"Hahahahahaha, maaf maaf kau terkejut?"
"**.. Tentu saja terkejut, siapapun pasti terkejut "
" Tidak tidak, kurasa hanya dirimu saja yang akan bereaksi seperti itu."
"Uuh.."
"Biarkan aku memperkenalkan diriku lagi"
"Hen.. Hentikan"
Menolak penolakannya aku pun mulai berpose.
"Tubuh keras seperti baja " Kusilangkan kedua lengan didada " Armor berkilau seperti permata" Ku balikan tubuhku dan menatap kebelakang kearahnya " Dan wajah gagah seperti Dwarf" Aku berlutut dengan satu kaki dan menopang dagu dengan tangan dan siku di lutut. "Golem, Desu"
Meski menahan malu berpose dengan 3 emoticon yang sama dengan yang ada di Game, reaksi cowok itu hanya menutupi wajahnya di antara kedua lututnya.
"Oy oy oy Guild Master, aku menunggu reaksi yang bagus dari mu"
"Golem san ..." Lirih nya.
"Ya, Golem san disini"
Dengan masih dalam berpose terakhir, kedua bahuku di genggam kuat, wajahnya melotot menakutkan, tubuhku seakan menciut. Apa dia kesal?.
Detik kemudian tubuhku diseret keluar kelas menuju keluar gedung kelas dekat gedung olah raga berada.
"Jangan begitu lagi di sekolah" Ancam nya. Sesampainya di sana, matanya menjadi gelap seketika.
"Hee? Kenapa?"
"Pokoknya jangan, aku mohon.." Amarahnya meredam, begitupun genggamannya.
Seakan ia pernah mengalami hari yang suram.
Ia sampai segitunya menutupi identitasnya sebagai seorang otaku game.
"Jika yang kau takutkan kejadian saat SMP terulang kembali, lebih baik kau hentikan"
" ??! "
"Orang-orang jahat itu jangan pernah kau samakan dengan teman-teman di guild saat ini" Kecam ku Sembari menghampiri mesin minuman di sana.
"Apa maksudmu? "
" Panas atau dingin "
" Ah, dingin tolong, tidak.. Maksud ku, apa yang yang kau katakan tadi?"
"Yang mana?"
" Jangan membuatku mengulang "
" Master.. Apa kau tau kita ini satu sekolah saat SMP, meski tidak satu kelas"
" !!? "
" Hey, dari reaksi mu sepertinya... Hah... Kau ini. Meski aku ini laki-laki hati ku juga bisa sakit kau tau."
" Maaf aku tidak sadar.. Sungguh."
Wajar saja jika ia selalu menutup diri jika dirundung oleh hampir separuh kelas. Tidak banyak yang bisa ku lakukan saat itu.
"Ah, ngomong-ngomong yang tau kau Guild Master tidak cuma aku, asal kau tau"
" EEEEEE!!! "
"Hohohoho ini dia reaksi yang kuinginkan"
"Apa maksudmu, Kazuma san?, kau sedang mengerjai ku kan? Katakan kau mengerjai ku!! Aku mohon"
Tubuh ku di goncang dengan hebat, mirip ketika adik-adik ku yang merengek ketika meminta tambahan eskrim.
Mereka sama-sama lucu secara tidak sengaja.
"Berhenti tersenyum menjijikan seperti itu, kumohon..."
"Kasar sekali mengatakan senyum ku menjijikan"
"Lupakan itu.."
"Yah... Itu bukan salahku, itu salahmu"
"Bagaimana mungkin itu bisa menjadi salahku?!!" T
"Tentu saja itu salahmu, kau selalu bermain didalam kelas, mau tidak mau orang-orang pasti mengintip, kan?"
"Ughh..."
Sosoknya yang meringkuk dan meremas kepala itu tampak kecil.
" Sudahlah jangan dipikirkan, terima saja"
"Mudah bagimu mengatakannya, karena bukan Kazuma san yang menjalaninya"
"..."
"Kalau kau takut hal yang sama akan terjadi lagi, aku yang akan mengatasinya, untuk sekarang mari kembali ke kelas. Akan ku perlihatkan bahwa kau salah sudah merasa takut, Master."
*****
Dengan enggan Kazehaya mengikuti ku dari belakang, lebih tepatnya bersembunyi di belakang ku.
Sesampainya di depan kelas yang berisik, ku buka pintu dengan keras, memecah keheningan dengan seketika. Dan semua mata yang ada di dalam tertuju pada kami.
"Pertama-tama Giliranmu..." Paksa ku dengan menarik kerah bajunya kedepan.
Kazehaya kun hanya diam menunduk. Tidak berbicara, tertekan dan gemetar.
" Ada master? Apa kau sakit? " Saut salah satu anak paling berisik.
"Bodoh, jangan sebut master disini, itu tabu" Bisik anak lainnya sembari menyumpal mulut anak berisik itu.
"Master, jangan hiraukan orang bodoh ini, ups.." Sadar dirinya juga keceplosan ia langsung menutup mulutnya.
"Apa apa apa? Kalian bahas apa?" anak laki-laki menghampiri kami satu persatu setelah mendengar keributan.
Mau tidak mau aku angkat bicara. Menimbang Kazehaya sedang shock bahwa identitasnya sebagai Guild Master di ketahui oleh anggota Guild yang minoritas teman sekelas.
Tubuhnya membatu dan hendak melebur ke lantai.
Hingga Satu-persatu teman sekelas mengutarakan pendapatnya tentang Game yang sedang populer sekarang ini.
"Heee... ?!!, Kazehaya adalah Master Guild itu?"
"Kau tau Guild itu?, aku juga bermain game itu, sayangnya sangat sulit mengimbangi permainan mereka." Timpa anak lain.
" Asal kau tau, sepertiga dari anggota guild mereka berisi para monster tak masuk akal"
" Apa maksudmu"
" Itu adalah salah satu Guild papan atas yang ramai dibicarakan di chanel WeeTuber terkenal, kau tau"
" Benar, aku juga sempat melihat aksi mereka yang membantai Guild Merah hanya dengan Lima orang"
"Guild merah? Apa itu?"
" Itu adalah guild berisikan Player Player yang berisikan penjahat yang selalu berbuat onar, mulai dari membunuh Player lain yang sedang berburu ataupun menggiring monster kuat ke arah player lain"
" Apa itu,.. Menjijikan, hina sekali" Anak perempuan juga ikut menimpali obrolan.
" Benarkan?"
"Hee? Kalian punya mainan seru tapi tidak mengajak ku, malam ini, malam ini aku akan mendownload nya, Kazehaya masukan aku dalam Guild mu"
" Menyerahlah kawan, kau tidak akan bisa mengikuti gaya bermain mereka "
"Ya sebaiknya kau hentikan" Timpa pria lainnya.
" Apa kau juga bagian dari Guild kazehaya?"
" Hoho.. Berbanggalah kalian wahai kawan-kawan ku, aku juga termasuk member Guild terkenal itu, huahahahaha"
"Ya meski kau hanya menumpang nama kan" Balas ku.
"Sialan kalian, setidaknya aku pernah berjuang"
"""Hahhaha haha hahha"""
Sorak sorai dari mereka saling menyahut.
Kazehaya yang shock, tak kunjung kembali ke dunia nyata bahkan hampir terkikis sepenuhnya.
"Kau mengerti sekarang? Master... Semua mencintai Guild yang kita besarkan" Ku tepuk punggung yang rapuh itu dan menyadarkannya bahwa dunia yang ia takutkan itu tidak pernah ada.
Seakan melihat secercah harapan, semangat Kazehaya kembali timbul kepermukaan. Tidak akan ada lagi olok-olokan seperti sebelumnya.
Tawa dan senyum dari kawan-kawan nya sudah seperti nutrisi baginya sekarang hingga nanti.
"Sekarang waktunya berkenalan.. Mulai dari aku.. " Aku berjalan kedepan kelas. Mengulang kembali salam perkenalan 3 Emoticon yang mirip seperti dalam game.
" Tubuh keras seperti Baja" Kawan-kawan mulai bersiul. "Amror berkilau seperti permata" Tepuk tangan meriah berkumandang "wajah imut seperti Dwarf, Golem san, desu"
" Huuuu " ejek seisi kelas...
"Harusnya gagah bukan.. Apa kau lupa intro mu sendiri?"
" Lupakan itu, selanjutnya aku,... " Seorang gadis cantik dan seksi dengan kemeja ketat dan kancing terbuka yang memaparkan dua tonjolan berkilau, memperkenalkan diri.
"Penyihir cantik dari negri dongeng. Momo" Kedipan maut ia lontarkan ke seisi kelas ketika ia mengibas rambut panjangnya.
Seisi kelas heboh dengan siulan siulan nakal.
"Heeee!!!!" Dengan wajah bodohnya Kazehaya lebih heboh dari sorakan pertama.
"Ara.. Sayang, apa kau lupa dengan istrimu sendiri?"
Memang benar, didalam Game ini Player memang disuguhkan fitur Pernikahan sampai Rumah dan ladang sendiri. Semua tergantung dari player itu sendiri. Dan di dalam game, Momo adalah istri dari Kazehaya.
" Yah.. Aku sempat berfikir mau sampai kapan kau akan sadar. Padahal aku sudah mati-matian menyamakan penampilanku dengan karakter di dalam game, bahkan aku sudah menggunakan nama asliku demi dirimu, dan kau masih saja tidak sadar... " Momo san mendorong Kazehaya ke lantai dan mulai menggodanya dengan seksi.
"Selanjutnya, aku aku aku..."
Satu persatu mereka mulai memperkenalkan diri, mau itu kawan satu Guild maupun dari guild lain.
Perlahan rasa minder dan Introver Kazehaya luntur meninggalkan dirinya, bagaikan dirinya yang lama tengah berganti kulit menjadi dirinya yang baru.
Dan terlahirlah Izumi Kazehaya yang baru.
"Apa kalian tau bahwa kalian itu mengganggu kelas lain?, jika kalian senggang mengapa tidak belajar saja sebelum pelajaran berikutnya"
Seorang gadis dengan perawakan kecil dan jas labor putih, datang dengan membuka pintu kelas dengan keras.
" Siapa yang bertanggung jawab atas keributan ini?"
Semua diam tak menjawab, bukannya takut namun terpana dengan kelucuan gadis berjas labor yang kebesaran itu.
Tak ada yg menjawab akhirnya aku lah yang akan menjadi tumbal. Yah paling tidak hanya akan dimarahi nantinya. Lagipula ada hal ingin ku tanyakan.
Dengan begitu aku pun mengikuti Sora-nee dari belakang. Kepergian ku di antar dengan Penghormatan militer dari teman-teman sekelas, bagai pahlawan yang hendak pergi ke medan perang.
"Tunggu, s.s..sebenarnya keributan ini, adalah.. Salahku... Jadi Kazuma san tidaklah salah"
"Kazehaya kyuun~~" Aku sedikit terharu dengan kejantanan Kazehaya.
*****
Meski mengeluh Sora-nee pun menyeret kami ke ruang konseling. Kamipun memberitahu kronologi yang sebenarnya mulai dari awal hingga akhir.
Sora-nee hanya memijit kepalanya sendiri, dahinya tampak berkerut dan jemari di tangan lainnya ia ketuk dengan irama tak tentu.
"Aku mengerti, kembalilah ke kelas dan jangan membuat keributan lagi" Usir Sora-nee.
Cih, sial... padahal aku ingin menanyakan perihal insiden minggu lalu. Jika saja Kazehaya kun tidak ikut, sudah pasti akan ku bongkar semua informasi dari mulut sombong Sora-nee.
Bagai mana ini, jika aku meninggalkan ruangan ini, tidak ada kemungkinan kesempatan lainnya akan datang. Sora-Nee masih berhutang satu penjelasan padaku.
Sora-nee akan kembali menghindari ku, dan informasi tidak akan bisa kudapatkan lagi sampai kesempatan berikutnya datang.
"Ah, Kazuma san, tinggallah sebentar ada yang ingin aku sampaikan"
Sora-nee good job.
"Apa aku juga bisa tinggal?"
"Tidak apa-apa aku tidak menghukum Kazuma san secara rahasia, karena itu Kazehaya san kamu sudah bisa kembali kekelas"
"A.. A. Aku melihatnya"
" Melihat apa?" Sora-nee tak mampu lagi menahan senyuman palsunya.
" Semuanya. Minggu kemarin".
""EEEH!!""
*****
Kazehaya pun menceritakan semua apa yang ia lihat, sedikit banyak persis dengan seperti apa yang kualami.
Lebih tepatnya seperti mengintip apa yang terjadi dengan ku, dan saat itu ternyata Kazehaya kun tidak pingsan.
"Mustahil rasanya jika Kazehaya kun mengarang cerita yang sama, bahkan aku belum pernah cerita pada siapapun." Ujarku.
"Ughhh kepalaku.."
"Sora-nee menyerahlah, apa yang kalian sembunyikan dari kami ?, sebenarnya siapa mereka, dan apa yang mereka inginkan?, dan mengapa aku tidak diberi tau tentang semua ini?".
Gadis itu hanya diam membuang muka kearah lain.
"Aku tidak kesal kalian menyimpan rahasia sendiri, tetapi aku hanya kesal kalian tidak mengajak ku dalam rahasia-rahasiaan kalian"
Sora-nee tampaknya bingung mau bicara mulai dari mana, menimbang bertambahnya satu orang lagi saksi yang melihat kejadian tersebut.
Jika mau, mereka bisa saja menghapus ingatan kami saat ini juga, ataupun menculik dan membunuh kami agar kerahasian mereka tetap terjaga.
Namum mereka tidak melakukannya, hal inilah yang mendasari diriku menyimpulkan bahwa mereka bukan kelompok seperti itu.
Yosh.. Mari pancing sedikit lagi.
"Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan kami undur diri, akan kami cari sendiri apa yang kalian sembunyikan" Ancam ku sembari bangkit dari kursi ku hendak keluar. Namun...
"Tunggu sebentar!!"
Pintu ruangan terbuka dengan kasar dan hampir menyerempet hidung mancung ku. Tetapi Kazehaya tidak selamat.
"Oy Momo, kau ingin membunuhku?...?"
"Ara, Kazuma kun, aku tidak liat kau disana"
"Seharusnya kau tau aku disini karena aku yang dipanggil kesini, cewek Gyaru sialan"
"Gya.. Sayang apa yang terjadi dengan wajahmu, ah.. Wajah tampan mu semoga baik-baik saja."
Mengabaikan aku, Gadis Gyaru ini lebih mementingkan wajah Kazehaya yang terluka karna benturan dari pintu yang ia buka dengan kasar tadi.
"Huh, kalian kembalilah. Ini bukan tempat penitipan anak"
"Ku tolak" Momo sang Wizard Guild kami sedang dalam mode wizardnya. Mata dan ekspresi wajahnya sangat keren.
"Fire ball" Lanjutnya kemudian.
"Jika tidak salah, ini yang namanya sihir bukan?"
Dan seperti namanya, bentuknya dan ukurannya sama persis seperti yang ada di dalam game.
Sebuah bola api muncul di telapak tangan Momo sang Wizard.
Suasana mulai mencekam, Atmosfir mengancam mulai mengisi ruangan, tekanan ketika di hari itu mulai muncul kembali lebih kuat dari hari itu.
Pijakan ku terasa berat, tubuhku seperti tertarik ke tanah, namun aku mampu bertahan karena sudah terbiasa dari yang pertama kalinya.
"Aku juga bertahan dari tekanan hawa membunuh Mino, asal kalian tau" Wajahnya tampak sombong sembari masih merangkul Kazehaya di pelukannya.
Momo dan Kazehaya pun tampak baik-baik saja, tidak terpengaruh sedikitpun dengan tekanan ini. Mereka sangat luar biasa.
"Ugh... Kepalaku, perutku, pusing, mual, ingin muntah... Ueeek..."
Tekanan ini mulai hilang bersamaan dengan bertambahnya stres yang di alami Sora-nee.
Tekanan strees yang menumpuk tampaknya membebani tubuh kecil itu.
Aku merasa kasihan tetapi Sora-nee juga berhutang jawaban padaku, pada kami tepatnya. Agar kedepannya jika hal yang sama terjadi lagi, kami setidaknya mempunyai sedikit persiapan siapa yang musuh dan siapa yang kawan.
"Ughh.. Huh huh huh.. "
"Sora-nee kau baik-baik saja?"
"Jangan pikirkan aku. Berkumpulah di tengah"
Kamipun mengikuti permintaan itu.
Di detik kemudian sebuah lingkaran biru besar dan beberapa lingkaran kecil menyala muncul di lantai tempat kami menapak.
Lingkaran-lingkaran itu mulai melebar memperlihatkan beberapa bentuk ukiran yang rumit. Ukiran dan lingkaran itu berputar dengan berlawanan satu sama lain. Tampak keren dan terasa seperti didalam game.
Disaat aku tengah mengagumi keunikan sirkuit lingkaran sihir itu, secara tidak sadar kami sudah berada di sebuah ruangn berlantai kayu yang tampak familiar. Kejadian itu bahkan tidak sampai satu detik.
Dojo milik keluarga Kazuma.
Dojo besar dengan luas hampir 250 Meter persegi, setidaknya mampu menampung 300-600 Orang.
Yah.. Meski begitu tahun ini tidak banyak peserta didik baru yang mendaftar kemari.
"Kalian tunggu disini"
Mau tidak mau kami pun mengangguk, lagi pula aku merasa nostalgia hanya berada disini.
Decitan lantai kayu yang tampak selalu di pel secara rutin.
Dinding yang masih mempertahankan menggunakan dinding kertas.
Loteng setinggi 5 meter yang bebas dari sarang laba-laba.
Dan Shinai yang berjejer di rak. Tampak lusuh dan sering di gunakan. Di sampingnya lagi juga terdapat beberapa Shinai yang tampak lebih kecil dan itu juga tampak lusuh.
Shinai san, good job.
Aku juga melihat beberapa Kotachi dalam kondisi yang sangat bagus.
Mengingatkanku pertama kali tergila- gila dengan pedang, aku bahkan masih mengingat bagai mana perasaan ku saat itu.
"Maaf membuat kalian menunggu, ternyata membutuhkan banyak persiapan"
Seorang pria tua dan ratusan pria kekar dengan wajah seram mulai mengisi ruangan dan mengelilingi kami.
Dengan satu kata yang keluar dari mulut pria tua itu, membuat semua menjadi kacau.
" Lakukan !"
"Kakek sialan!!"