
Rion akhirnya tertangkap oleh kenalannya.
Dan tanpa ia sadari, gadis temannya itu adalah salah satu Pengejar yang mengincar dirinya.
Dengan di bantu oleh semua petualang di guild, akhirnya Rion dapat di lumpuhkan tanpa perlawanan.
Ya, bisa di sebut.
Semut lah yang datang kepada Gula.
Rion dilumpuhkan dengan mudah, dan harus rela di seret di depan orang banyak, menuju istana.
Dan sekarang di hadapan Yang mulia, di Aula pertemuan ini. Rion menghadap Yang Mulia yang tengah duduk di Singgasana nya, namun dalam keadaan terbalik.
Rion perlahan membuka matanya, badannya masih terasa lemas akibat Pukulan Nia sebelumnya.
" Ugh... " Rion merintih, kepalanya pusing dan matanya berputar-putar.
" Selamat pagi Rion.. " Gadis itu tersenyum tanpa merasa bersalah.
" Pagi... " Dan bodohnya Rion membalas sapaan gadis yang sudah membuatnya di permalukan.
" Eh tidak, bukan itu... Apa maksudmu memukul ku tadi, oy... Nia " Dan lagi lagi, Rion mengatakan hal bodoh lainnya yang seharusnya bukan yang seharusnya ia tanya pertama kali.
" Maaf maaf " Dengan senyum melet melet Nia menjulurkan lidahnya.
Meski terlihat lucu, namun Rion tetap terlihat marah dan akan menerkam gadis itu.
" Selamat pagi, Rion-Kun, ah lebih tepatnya Selamat siang "
Merasa mengenali suara itu, Rion perlahan menoleh ke sumber suara. Kepalanya bergerak seperti Robot yang rusak.
Bahkan semua orang di sana bisa mendengar dengan jelas suara decitan aneh dari gerakan leher Rion yang kaku.
" Lama tidak bertemu "
Suara yang ia kenal itu kembali bicara kepadanya.
Dan sekali lagi Rion menoleh kearah lain, dengan decitan di lehernya.
" La.. Lama tidak be.. Ber... Bertemu... "
" Heh ?, bukankah tidak sopan tidak melihat lawan bicara saat mereka bicara kepadamu ?" Meski wajahnya tersenyum namun tidak dengan matanya.
" Hahaha.. Yang mulia, apakah akhir-akhir ini sedang populer, duduk terbalik seperti itu ?"
" Terbalik ?!" Merasa dirinya yang di maksud, Yang mulia tertawa keras.
" Yah, bisa dibilang. Kamulah yang sedang terbalik Rion-Kun "
Rion dengan polosnya melihat sekeliling, kemudian dirinya. Bahkan wajah panik nya ketika mendapati dirinya di lilit tali tambang yang menutupi hampir keseluruhan tubuhnya itu terlihat bodoh.
Dirinya sudah seperti kepompong saat ini, dan terlihat bodoh ketika mencoba melepaskan diri dengan panik namun tidak bisa, dia benar-benar sudah terkunci dan tidak mungkin bisa lepas meski ia goncang sekuat apapun.
" Ini tidak bisa lepas " Wajahnya membiru
" Tentu saja itu tidak akan lepas dengan mudah, tali ini sudah ku beri mantra sehingga Naga Tanah jantan sekalipun tidak akan sanggup untuk melepasnya."
" Apa kau gila...!!"
" Betapa kejamnya " Goda Nia dengan wajah sedih.
" Menyamakan ku dengan monster, kau masih menyebut dirimu dengan gadis lugu ?!"
Rion masih mencoba menggeliat ketika dirinya marah kepada Nia, namun rasa untuk kabur saat ini lebih besar ketimbang rasa untuk memukul Nia yang tersenyum percaya diri seakan sedang mengejeknya.
" Yah, sebenarnya aku tidak bermaksud menyamai dirimu dengan Naga Tanah... "
" Aku tidak percaya... "
" Tapi Naga Tanah lah yang menyerupai dirimu !!"
" Sialan !!, kemari kau, ku beri pelajaran... Sialan... Ini tidak bisa lepas... Aagghh !!!"
Rion meronta, menggeliat, mencoba menerkam Nia yang Masih mengejek dirinya, namun karena tidak sampai dan tidak bisa menjangkaunya, Nia semakin mengejeknya dengan cara kekanak-kanakan dan Rion semakin kesal.
" Ehem... "
Yang mulia yang sedari tadi di abaikan merasa tersisihkan.
" Boleh aku bicara sekarang ?"
"" Ah, maaf. ""
Mereka berdua diam secara bersamaan. Dan mulai memperhatikan apa yang akan Yang Mulia sampaikan, dengan seksama.
" Rion-Kun, aku punya permintaan "
Suasana menjadi tegang, karena ekspresi dan nada Yang Mulia mulai serius. Baru pertama kali rasanya ia melihat wajah Yang mulia dalam Mode Petinggi seperti itu.
Sejenak Rion merasa kagum, melihat orang di hadapannya benar-benar adalah seorang Raja, mengingat selama ini wajah yang ia lihat adalah wajah orang biasa dengan ekspresi biasa juga.
" Sebelum itu, aku punya beberapa berita bagus dan berita buruk "
" Mari kita dengarkan berita buruknya terlebih dahulu. "
" Kalau begitu dengarkan baik-baik. Saat ini Ayah mu yang menjadi utusan ke negeri tetangga untuk Acara Resmi tengah terjebak di Negeri Tetangga, dan harus bertahan dengan persediaan yang sedikit, bahkan saat kita bicara sekarang inipun aku yakin persediaan mereka tidak cukup. Laporan ini datang tepat di hari ketika kami kehilangan dirimu."
" Apa yang Ayah lakukan di sana ?"
" Seperti yang aku bilang tadi, saat ini kami tengah memperkuat pertahanan dari masing-masing Negara, oleh karena itu Kami mengutus Ayah mu untuk menemui salah satu Bangsawan yang berpengaruh untuk membentuk aliansi sekaligus menjalankan kembali program Latihan Militer Gabungan, namun... "
" Ada bangsawan lain yang tidak setuju lalu mencoba merusak kesepakatan dengan membunuh utusan negara lain, sehingga akan memicu peperangan ?"
" .... "
" .... "
" Eh, apa ?, apa aku salah ?"
" Yah... Itu tidak sepenuhnya salah. Bukan, maksudnya tidak seperti yang kau pikirkan. "
Yang Mulia Raja kembali mengambil alih percakapan.
" Sebenarnya ini ada hubungannya dengan berita baik yang ku sebut di awal, tetapi saat ini keselamatan Ayah mu sedang terancam "
" Eh, benarkah ? Kurasa tidak seperti yang Anda cemaskan ?"
"" Eh ?""
Mau Nia maupun Duke, mereka berdua terkejut dengan tanggapan dari Anak dari orang yang mereka cemaskan.
" Rion-San, ini adalah Ayah mu loh. Bagaimana kau tidak cemas sedikitpun ?, Ayah mu bisa-bisa tewas jika kau menyepelekan orang-orang yang saat ini mengancam keselamatan Ayah mu, bisakah kau sedikit saja cemas dengan kasus ini ?"
" Seperti yang Nona Nia katakan, Ayah mu saat ini tengah dalam bahaya. Tidak sepantasnya sebagai Anaknya kamu bicara seperti itu kepada Ayah mu sendiri "
" Jangan remehkan Ayahku, meski dia begitu tetapi dia adalah Ayah terhebat loh "
Rion tersenyum lebar dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Melihat senyum itu, membuat mereka berdua kalah dalam mempercayai orang kepercayaan mereka.
Anaknya saja sudah mencap Ayahnya sebagai orang yang hebat, tentu saja itu karena ikatan mereka sebagai keluarga. Mereka bahkan sudah mempercayai kemampuan masing-masing.
" Lalu, bagaimana dengan tanggapan Ibu dengan hal ini, aku yakin Ibu juga sudah mendengar kabar ini kan ?"
" Ah, itu... "
Nia dan Yang Mulia membuat wajah yang terlihat keletihan secara bersamaan.
Meski mereka tidak memberitahu dirinya sekalipun, namun Rion bisa menebak kata-kata Ibunya dari raut wajah mereka.
Rion senang dengan keserasian mereka dalam keluarga, itu membuat mereka terlihat sebagai keluarga yang sebenarnya.
" Lalu berita baiknya ?"
" Tapi.. Ayah mu ?"
" Biarkan saja anggap saja sebagai latihan buat Ayahku, malahan aku lebih kasihan dengan musuh, kuharap mereka senang jadi samsak Tinju Ayah"
Nia dan Yang Mulia mulai bisa melihat gambaran dari pikiran Rion, dimana semua musuh menangis memohon ampunan sambil berlutut.
" Ka.. Kami mengerti, huh... Kalau begitu saya lanjutkan. Karena kamu sendiri tidak cemas dengan berita buruknya makan berita buruknya cukup sampai disini. Dan karena itu juga berita baiknya akan saya ubah menjadi cerita "
" Osh, silahkan "
" Seperti yang kamu dengar dari cerita saya sebelumnya, Ayah mu saat ini berada di Negeri Pasir kan ?, sebenarnya itu hanyalah sebuah Kota yang tidak bisa di sebut kecil, meski terletak di tengah lautan pasir, terdapat beberapa oasis di gurun tersebut sehingga menjadikan Kota itu sebagai tempat Singgah dan Wisata bagi wisatawan asing. Saking ramainya perlahan penguasa kota itu memperluas kotanya untuk membuat penginapan dan usaha kerajinan lain hingga pasar baru. Semua itu ia lakukan hanya dalam 5 tahun sehingga kota itu di beri julukan dengan Negeri Pasir sejuta oasis."
" Apa memang sebanyak itu ?"
" Itu hanya julukan, jangan di pikirkan "
" Aku mengerti... "
" Karena kesuksesan dari penguasa dalam mengembangkan kotanya, membuat kabar itu cepat sampai ke telinga Raja kerajaan mereka yaitu Sultan Ahmed III, oleh karena itu Raja Ahmed III merasa senang ada bangsawannya yang mampu memanfaatkan tanah tandus menjadi tepat tinggal yang nyaman dan menyenangkan untuk rakyatnya"
" Aku turut senang, selamat untuk penguasa kota itu, suatu hari aku ingin bertemu dengannya dan menjabat tangannya"
Tanpa sepengetahuan Rion, Nia tersenyum mendengar pernyataan Rion, namun Nia menunjukan wajah yang sedih.
" Masalahnya datang setelah ini. Sultan Ahmed III mengundang Penguasa kota Sejuta Oasis ini beserta keluarganya ke Istana. Tentu saja ini adalah suatu kebanggan baginya karena Raja masih Mengingat seseorang yang hanya seorang penguasa kota pinggiran."
Rion mengangguk mencoba meresapi perasaan penguasa kota pinggiran itu.
" Wooooh "
" Di saat itulah seorang Bangsawan tertarik dengan Putrinya yang ikut datang menghadiri Pesta "
" ?!! " Rion mencoba mencerna lagi, dan dahinya mengkerut, dia merasa ini akan menjadi sesuatu yang tidak bisa.
" Sebagai seorang Bangsawan yang statusnya lebih rendah dari Bangsawan itu, dirinya tidak bisa secara langsung mengutarakan ketidak senangan nya. Namun sebagai Ayah dirinya tidak mau Putri kesayangannya di lirik dengan tatapan tidak senonoh oleh Pria Buas yang reputasinya sudah di kenal Buruk di dalam Negeri "
" Ooh ?!"
Seperti yang ia duga, Rion merasa alur cerita ini akan berjalan ke arah yang tidak menyenangkan, emosinya sudah meluap-luap sampai-sampai Nia yang berada paling dekat bisa merasakan efeknya.
" Semenjak pesta itu, selama mereka menginap di Ibukota, Bangsawan Elite itu terus mengirimi hadiah untuk sang Putri Penguasa Pinggiran lewat utusannya. Hal itu berlanjut setiap hari, dan membuat risih Anak Perempuannya, sampai di hari terakhir.
Dengan Arogansi nya, Bangsawan Elite itu datang melamar Putri Penguasa Pinggiran itu. Tentu saja Penguasa itu menolak dengan halus, sebagai orang yang berstatus lebih rendah.
Tetapi Bangsawan itu melihat penolakan itu sebagai penghinaan dan karena tidak Terima di perlakukan seperti itu, bangsawan itu mulai menggunakan kekerasan, dan pertengkaran pun tidak terelakan. Bangsawan itu mencoba merebut Putri Penguasa Pinggiran itu secara paksa ketika Ayahnya tengah sibuk mengurus orang suruhan bangsawan itu.
Tetapi, Bangsawan itu tidak memperhitungkan bahwa orang suruhannya bisa dikalahkan dengan cepat sehingga Penguasa itu bisa dengan cepat menepis tangan menjijikan yang hendak menyentuh Putrinya."
" Ooh, Good Job"
" Sayangnya semenjak kejadian itu mereka terus mendapati gangguan dari Bangsawan itu, hampir setiap hari mereka mendapati penyusup masuk ke kediaman mereka, meski tidak satupun dari mereka yang berhasil, bahkan para pelancong sering ikut menjadi korban kelicikan Bangsawan itu"
" Tujuan mereka itu adalah Putri sang Penguasa?"
" Benar, kejadian itu masih berlaku hingga seminggu yang lalu "
" Jangan bilang... !!"
" Tenang saja, Putri itu saat ini selamat karena berhasil kabur "
" Kabur ? Bukankah itu jadi tambah berbahaya ? "
" Tidak, itu adalah keputusan yang tepat dan bijak di saat itu"
" Mengapa ?, apa terjadi sesuatu di sana ?"
" Ya, sesuatu yang berbahaya sedang terjadi di sana dan karena itu Saya mengirim Ayahmu kesana dengan dalih Rapat Tentang Latihan Militer Gabungan."
" Eh, tunggu sebentar aku butuh mencerna... "
" ... "
" Jadi dari maksud perkataan anda saat ini, di sana sedang terjadi keributan dalam tingkat tinggi sehingga memerlukan kekuatan Ayah sebagai pendukung agar tidak terjadi keributan besar, karena jika melukai tamu negara asing sama saja dengan pernyataan perang ?"
" Seperti yang kamu pikirkan, Rion-Kun" Yang Mulia memberikan Tepuk tangan ringan untuk penjelasan Rion.
" Meski buruk, tetapi sepertinya mahluk itu masih bisa berfikir "
" Tidak juga " bantah Yang Mulia.
" Eh, apa maksud anda, 'tidak juga' ?"
" Bangsawan itu sepertinya sama sekali tidak memikirkan sampai sejauh itu "
" Eh ?!"
" Rion-Kun, saat ini di sana sedang terjadi perang "
" WHAT THE Hack !! "
" Saya paham dengan keterkejutan mu, saya saja sampai tidak habis pikir, orang itu sampai tidak memikirkan konsekuensinya."
" Eh, sebentar. Aku masih belum mendengar berita baiknya. "
Benar, sampai sekarang Yang Mulia sama sekali belum mengatakan berita baiknya, dan Rion dengan setia masih mendengarkan cerita Yang Mulia.
" Hahaha, hampir saja aku melupakan hal yang paling penting, nah... Berita baiknya adalah, Putri yang kabur itu sudah sampai disini dengan selamat tanpa terluka sedikitpun. "
" .... "
" Rion-Kun ?"
" .... "
" Rion-Kun, aku butuh Reaksi yang meriah "
" Bukan, maksudku apa hubungannya dengan ku ?"
" Yah, aku pikir kau akan senang atau berteriak, 'uuooaah !' seperti itu "
" Tidak butuh, untuk apa?"
" Eh ?!" Yang Mulia kebingungan karena kejutan nya gagal.
" Bisa lepaskan aku sekarang ?"
Rion berayun ayun dengan posisi kepompong nya untuk menarik perhatian Yang Mulia yang tampak melamun.
Sedangkan Yang Mulia sendiri tengah memikirkan kembali kata-kata nya yang sebelumnya, kemungkinan ada beberapa hal yang luput atau salah ucap sehingga kejutan ini tidak sampai kepadanya.
Dan barulah saat dirinya melihat Nia Menusuk -nusuk Rion yang meronta minta di lepaskan, akhirnya dia menemukan jawabannya.
" Nia-chan, apa kamu sudah memberitahu Rion-Kun ?"
" Eh, apa apa ?, kalian merahasiakan sesuatu dari ku ?"
"...."
" Ah, aku baru ingat. Aku belum memberitahunya "
" Begitu kah ? pantas saja, ehem ... " Yang Mulia membenarkan posisinya lagi, dan dengan elegan dia kembali menatap Rion, meski posisi Rion tidak enak.
" Putri yang menjadi incaran bangsawan, sehingga kabur hingga kemari itu adalah...."
" Adalah ?"
" Itu aku "
" ..... "
" ..... "
Rion terkejut ketika kata itu keluar dari mulut Nia. Tidak ada kebohongan yang terpancar dari wajah sedih yang ia tunjukan. Meski ia menunduk dan mencoba menutupi wajahnya dengan tudung kepala di jubahnya, namun Rion tau betul jika gadis itu sedang berkata kebenaran.
Tidak ada waktu untuk terkejut secara konyol. Ini adalah masalah serius yang melanda temannya.
Rion merasa hari-hari yang gadis ini lewati sangatlah berat. Dia juga merasa bahwa gadis itu sangatlah hebat bisa bertahan hingga sampai hati ini.
Saat ini, tujuan nya bertambah satu. Yaitu mengusir orang yang sudah berani mengusik kedamaian teman baiknya.
Ya. Satu tujuan Mulia yang harus ia capai.
Karena tujuan yang pertama sempat tersendat karena beberapa kasus, dia tidak akan membiarkan yang satu ini ikut terkendala.
" Nia!! " Dengan sedikit berteriak Rion mengagetkan Nia dari lamunannya.
" Sebutkan aku satu nama, maka akan ku bawa kepala orang itu kehadapan mu !!"
" Tidak, tidak perlu sampai kepala.."
" Sudah katakan saja siapa orang itu ?"
" Tidak, tunggu... "
" Dengar, satu tetes saja air mata mu itu jatuh ke lantai. Aku bersumpah Akan ku pastikan kepala orang itu lepas dari tubuhnya "
Nia yang hampir menangis itu benar-benar terkejut dengan pernyataan berani dari Rion, karena itu dia dengan cepat menyapu matanya agar perkataan Rion tidak akan menjadi kenyataan. Karena Rion tidak pernah menarik kata-katanya meski itu adalah hal yang paling mustahil Manusia lakukan sekalipun.
Namun terlambat. Tenaganya yang biasa kini menghilang karena mengingat keluarganya masih berada di sana, di tempat berbahaya. Dan karena tidak bertenaga itulah ia luput menghapus air mata yang sudah lebih dahulu mengalir di pipi lembutnya, Hingga tetesan itu dengan semangat jatuh ke lantai tempat ia berdiri.
Nia menyesali perbuatannya itu yang setengah hati ingin itu terjadi dan setengahnya lagi ingin semua ini cepat berakhir.
Tetapi satu hal yang pasti, Setelah Rion mengatakan suatu sumpah makan dia tidak akan membiarkan itu tidak terjadi.
Bangsawan itu kini dalam masalah, dan jika ini di teruskan maka akan menjadi konflik yang panjang.
Dirinya tidak mau lagi orang lain dalam masalah karena dirinya. Terlebih kepada Rion yang selalu peduli kepadanya. Cukup baginya merepotkan Ayahnya saja, sehingga mengorbankan penduduknya yang tidak tau apa-apa itu sampai terlibat dengan konflik bangsawan.
Nia masih menatapi air mata nya yang menetes tadi, sehingga membuatnya jatuh terduduk lemas.
Dan di detik kemudian dia tidak segan-segan lagi untuk menangis, karena itu semua sudah terlambat.
Melihat hal itu, Rion ikut prihatin dengan gadis yang mencoba tegar ini. Dia mengeluarkan pedang yang ia simpan di penyimpanannya dan dengan mudah memotong tali yang sedari tadi melilit nya.
Rion mendarat dengan tegap, menghampiri Nia yang masih menangis keras.
" Sekarang katakan padaku, siapa orang itu " Tanya Rion lagi dengan wajah seram seperti ingin menerkam mangsa.
Nia tidak bisa meredam amarah Rion dan hanya mampu meremas ujung Hoodie yang di kenakan Rion, sambil terus menangis memandangi Wajah Rion.
" Nia ?!, siapa lelaki itu ?"
" Rion-Kun, seharusnya kamu menenangkannya dulu kan ?"
" Paman, diam saja. Aku yang akan mengurus ini !"
Meski tidak membentak, namun nada dasar yang di sampaikan Rion terdengar mengancam Jiwa dan raga setiap mata pengawal yang berbaris membelakangi setiap dinding Aula pertemuan. Dan niat baik Yang Mulia, sama sekali tidak tersampaikan.
Dan yang lebih penting, kejutan yang di rencanakan Yang Mulia, di nyatakan GAGAL !!!