
"Maaf menunggu lama, ternyata butuh banyak persiapan"
Seorang pria tua sekitaran 60 tahun masuk dengan pakaian kendo lengkap. Dibelakangnya beberapa orang dengan seragam Hakama yang sama ikut bermunculan hingga memenuhi ruangan.
Bahkan aku sampai harus terdorong ketengah ruangan, Kami terkepung.
"Sialan... " Kutuk ku.
Tidak masalah jika hanya aku, karna aku sudah terbiasa di kepung seperti ini ketika latihan. Tapi tidak dengan kedua temanku, mereka hanyalah orang biasa.
" Kakek sialan, apa maksud semua ini?"
" Seperti yang kau lihat, tidak ada yang perlu dijelaskan, bersiaplah"
" Apa kau iblis?, jika kau ingin bicara tidak perlu kekerasan seperti ini, jangan libatkan teman-temanku dalam hal ini"
"Apa maksudmu, yang kulihat di wajah mereka hanyalah kesiapan"
" Apa maksudmu?"
Tapi kecemasan ku sirna begitu saja ketika melihat senyum percaya diri dari keduanya. Aku kagum dari mana rasa percaya diri itu datang.
" Oy oy oy, kalian tidak perlu memaksakan diri, aku sudah terbiasa dengan semua ini, tapi kalian tidak. Sebaiknya menyerah saja, kita datang kesini karna mencari jawaban bukan mencari cedera". Aku panik dan mereka tidak, apa otak mereka konslet?.
"Kazuma san, selama satu minggu ini aku tidak menyia-nyiakan pemberian itu, kau tau" Kazehaya menyahut dengan mantap, dan dari udara di depannya ia menarik sebuah kapak besar yang tampak familiar.
Ketika ia menggenggam kapak itu, masa ototnya bertambah dengan gila bersamaman dengan ledakan kejutan yang keluar dari tubuhnya.
Itu sangat mencengangkan, dari mana semua itu datang. Latihan? Dalam kurun waktu seminggu? Tidak mungkin, ini bukan cerita fantasi.
" Jangan melupakan aku..." Kini giliran Momo sang Wizard. Gadis cantik dan seksi itu juga tampak tenang dan hanya berkacak pinggang dengan santainya, satu tangannya juga tampak menggenggam sebuah bola kristal yang didalamnya berisi sengatan petir yang mengamuk.
"Dari mana kalian mendapatkan benda-benda berbahaya itu?"
"" Item drop "" Jawab mereka mantap, bersamaan.
Sungguh, aku mempunyai teman-teman yang gila.
Tapi tetap saja, tekat saja tidak akan mampu meloloskan kami dari situasi ini.
"Momo Chan, bukan?, bagaimana kalau kita bermain sebentar di luar"
Sora-nee berniat memisahkan kami, apa ini juga bagian rencana mereka, menyiksa kami satu-persatu ?
"Momo, jangan sampai terpancing. Itu jebakan"
Belum sampai aku bicara, gadis percaya diri itu menyanggupi jebakan itu dan melesat dengan cepat keluar dari lingkaran pengepungan.
"Gyaru sialan!!"
Sial, bahkan jika kami bertiga masih belum cukup untuk bertahan dari kepungan dari kepungan ini.
"Kazuma san, jangan pikirkan Momo, gadis itu tangguh dengan cara nya sendiri, dia tidak akan kalah dari siapapun"
Kazehaya kun, kau terlalu percaya diri. Mereka bukan manusia loh. Orang biasa pun akan ketakutan jika melihat mereka, apa otakmu korslet?
"Sebenarnya darimana rasa percaya dirimu itu datang?"
" Meski tidak sehebat dirimu, aku juga penyandang sabuk hitam Taekwondo, kau tau"
"Tentu saja aku tau itu"
"Jika kau tau, lalu apa yang kau cemaskan?"
"Ini dan itu berbeda, lagi pula liat mereka, mereka bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan nyali asal kau tau" Aku mengingatkan.
"Begitupun dengan ku" Dengan energi yang meluap-luap Kazehaya tersenyum mengerikan.
"Setidaknya jangan menggunakan senjata asli"
"Ah, benar juga" Energi yang meluap-luap tadi lenyap tak bersisa.
Semua orang di ruangan pun sedikit melunakkan ketegangan. Beberapa orang melemparkan pedang bambu ke tengah, cukup digunakan untuk kami berdua.
Tapi kenyataan berkata lain. Kedua pedang bambu itu dirampas sebelum aku sempat mengambilnya.
Tanpa aba-aba Kazehaya langsung melesat seperti peluru dan memporak-porandakan kumpulan petarung handal di lintasannya, bagai ledakan granat yang tak terkendali.
Tersisa aku seorang, tanpa senjata dan bermodalkan wajah bingung yang menyimpan sejuta tanda tanya besar.
Satu persatu mereka menyerang dengan cepat ketika aku tengah meratapi pedang bambu yang baru saja di rebut Kazehaya, satu persatu juga ku patahkan serangan mereka sebisaku. Tidak biasanya aku panik menghadapi melawan kepungan, semua terjadi karena kespontanan ini, semua terjadi begitu tiba-tiba. Ini salah Kazehaya.
Aku menerjang satu persatu lawan yang menutupi Kakek tua itu, selagi menghindari serangan demi serangan yang tak kunjung habis.
Namun semakin aku mendekat, serangan mereka juga semakin menjadi-jadi. Aku bahkan kesulitan mencari celah, jika saja celah itu terlihat sedikit saja aku mungkin bisa membalikkan keadaan.
Sudah hampir setengah jam kami bertukar pukulan, jumlah mereka sudah berkurang hampir setengahnya.
Berbeda denganku, stamina mereka tampak masih banyak. Jelas saja karna mereka menyerang secara bergantian dan teratur.
" Hey, tidak adakah keringanan untukku?, lihat diri kalian yang begitu banyaknya ini mengeroyok seorang anak kecil sendirian, apa kalian tidak malu?"
"Hoo, pintar sekali mulut mu bicara. Lagi pula siapa yang bilang kau harus menyerang sendirian?".
Umpan ku ternyata tidak mempan, aku pikir mereka akan sedikit melonggarkan pertahanan.
" Dengar pak tua, aku datang kemari hanya untuk bicara. Namun apa yang kudapat?"
" Berhenti bicara, gerakan tubuhmu. Bukan mulutmu."
" Kau ingin membunuh ku, hah? Pak tua"
" Percuma mengeluh, ini tidak akan selesai sampai jam makan malam tiba"
Di detik kemudian dari arah luar beberapa ledakan terdengar, bahkan satu dua ledakan itu masuk kedalam gerombolan petarung yang mengitari kami, tubuh mereka terbang hampir menyentuh loteng.
" Lihat apa yang terjadi!! " Makiku.
" Percuma mengkhawatirkan orang lain, urus saja dirimu sendiri. Mereka orang-orang tangguh yang ku bina dengan baik, mereka tidak akan mati hanya dengan ledakan lemah begitu"
"Apa kau setan? Iblis!!! Tak berprikemanusiaan"
" Lanjutkan!!" Perintah pak tua itu, mengabaikan pendapat ku.
" Terserah lah, jangan salahkan aku jika salah satu dari kalian ada yang mati!!"
Muak dengan keegoisan ini, aku pun tak segan-segan lagi. Pukulan yang tadinya ku tahan kini ku lepaskan semuanya sekaligus, ku tangkap wajah seseorang entah siapa, ku banting ke lantai, ku terjang orang di samping dengan tendangan panjang dan ia meluncur kebelakang membawa orang-orang dibelakangnya, beruntung ia memakai helm pelindung, namun sayang pelindung dan wajahnya hancur.
Merasa tidak cukup, ku hindari serangan dari titik buta dibelakang, ku tangkap lengannya dengan cepat ketika melewati bahu kananku, dan ku hadiahi ia dengan siku di bagian punggungnya, ia meronta dilantai, ku injak lehernya sampai-sampai aku bisa mendengar suara tulang yang patah.
" Sudah ku bilang aku tak segan segan lagi, sekarang siapa selanjutnya".
Aku tak segan, merekapun tak segan. Satu jam kemudian aku pun mulai merasa mual, perutku serasa di sedot dari dalam. Pandanganku mulai bergoyang goyang, pusing yang awalnya bisa ku tekan kini sudah mencapai batasnya.
Meski banyak lawan yang ku tumbangkan dan meronta di lantai, namun itu belum separuhnya.
Waktu ku tidak banyak, bahkan aku tidak sempat lagi mengkhawatirkan Kazehaya kun lagi. Fokus ku tertuju pada orang-orang yang masih bernafsu mengalahkan ku.
Sebenarnya seberapa inginnya mereka mengalahkan ku.
Untuk ukuran sabuk hitam dari 6 aliran beladiri, ini terlalu berlebihan bagiku. Apalagi Kazehaya kun yang hanya menguasai Taekwondo saja, meski tidak bisa di bilang amatir, stamina nya sangat banyak. Apalagi mampu menerbangkan lawan ke udara seperti itu.
Tapi sebentar... Mengapa Kazehaya mampu mengatasi mereka dengan mudah? Apa rahasianya? Benar juga, semua itu pasti ada hubungannya dengan benda aneh yang membalut tubuhnya itu.
"Kazehaya kun... !!!" Teriakku, " Hah.. Hah.. Untuk berteriak saja aku sampai kesulitan begini"
"Apa?!! Aku sedang sibuk... "
Tanpa menghiraukan ku, Kazehaya kun terus mengalahkan lawan satu persatu.
Selagi aku begini pun aku masih di serang tanpa ampun oleh mereka. Lagi pula Berteriak sambil bertarung ternyata memakan banyak energi, mau tidak mau aku harus mendapatkan energi seperti milik kazekaya, setidaknya begitu pikirku. Tetapi kerumunan ini terus saja menghalangi kami.
Pria tua itu juga tampak dalam siaga penuh meski belum bergerak dari sana sedari awal. Bukankah ini gawat ?.
" Kazehaya kun, aku butuh bantuanmu bisa kau kemari?!"
Seorang pria berhasil ku kunci di lantai dan ku rampas pedang bambunya, namun pedang itu patah dan mustahil digunakan lagi.
" Aku sibuk, maaf.. mereka bahkan tidak mau menyerah"
Ledakan manusia kembali melesat ke udara.
" Jika kita tidak bekerja sama, semua ini tidak akan selesai. Bahkan kakek tua itu belum bergerak sama sekali " Pinta ku.
"Mau bagai mana lagi, aku datang. " Kazehaya melesat bagai peluru menerobos gerombolan lawan, dan berhenti tepat di depanku tanpa gagal.
Posturnya tampak gagah dengan dua pedang ditangannya. Tubuhnya masih saja terbalut cahaya berbentuk cairan Liquid aneh.
" Bagaimana kau melakukannya, benda aneh ditubuhmu, amukan itu dan semuanya."
Panik ku melontarkan semua pertanyaan yang entah dia mengerti atau tidak apa yang ku maksud.
" Kazuma san, sebagai Otaku yang bergelud di genre Fantasi pedang dan sihir, aku sudah memahami semua anugrah ini"
" Ya ya ya ya, lalu?"
" Semua rahasia dunia dan kekuatan yang tersembunyi."
" Ya ya ya, lalu apa rahasianya?"
Aku tidak punya banyak waktu untuk Chuuni mu saat ini, jadi katakan padaku rahasia mu.
" Semua ini karna imajinasi."
Waw... Sebuah terobosan baru dari seorang Otaku.
" Kau bercanda?"
" Apa kau menyebut semua ini bercanda?, apa kau kira ini waktunya bercanda?, lihat sekitarmu. Bahkan mereka tidak menganggap semua ini bercanda"
" Ya, tidak, maksudku ini dan itu berbeda "
" Kazuma san, percaya dengan imajinasi mu. Albert Einstein pernah berkata, manusia hanya mampu menggunakan 10 persen dari kemampuan otak mereka. Tetapi sekarang aku paham, kemampuan itu hanya berlaku ketika imajinasi manusia itu tidak mampu mengimbangi akal sehat, sedangkan sekarang kita mempunyai kekuatan yang mampu melampaui batas kemampuan otak manusia. Ini sebuah terobosan baru.. Ini mukzizat.. Ini anugrah.., huahahahaha"
Setelah mendengar penjelasan singkat dan padat, yang aku tidak begitu mengerti itu, kazehaya kembali melesat dan menumbangkan lawan dengan kasar.
"Imajinasi kah?" Aku mencoba dan mempertaruhkan semuanya pada kata-kata kazehaya kun. Jika masih belum berhasil, mari kita cari jalan keluar lain.
Aku pun mencoba membayangkan tubuhku diselimuti energi. Dimulai dari tubuhku dan akan ku buat menjalar sampai membungkus seluruh tubuhku.
Sedikit demi sedikit aku mulai merasakannya. Aku juga dapat mendengar detak jantungku sendiri, tapi bukan itu yang kuinginkan. Seketika aku dapat membayangkan sebuah api hijau sebesar api korek api di dalam tubuhku, api itu mulai membesar, disaat sudah sedikit membesar aku juga melihat api di tubuhku itu ternyata berada dalam sebuah kurungan bola kaca, dan tidak mampu lebih besar lagi meski sekeras apapun aku mencoba.
" Apa hanya segini batas ku, ini saja belum cukup"
Ku coba lagi lagi dan lagi sampai aku melihat bola kaca itu retak, di saat itu juga dengan semangat yang membara ku pompa api itu hingga melimpah dan memecahkan bola kaca itu, hingga akhirnya api itu mulai mendominasi dan kembali menjalar hingga membuat sebuah bola api besar yang berputar di tempat, semakin besar semakin besar dan semakin besar di dalam tubuhku, ku pompa lagi lagi lagi dan lagi hingga rasa letih ku hilang dan semangat ku menggelora.
" Yaaaah.. !!! " Dengan semangat baru, ku teriakan teriakan semangat. Ledakan kejutan pun keluar mendorong lawan yang tampak bergerak lambat di udara.
" Wowowowoow" Luar biasa, kekuatan imajinasi, terbaik.
Namun rasanya kurang jika aku tidak manfaatkan lebih lagi. Jadi apa yang ku butuhkan? Ah, bagaimana jika aku menjadi Golem san saja. Dengan tubuh keras dan perisai besar dan pedang besar sepertinya menarik.
Dengan otak super cepat ku, akan ku manfaatkan waktu yang tersisa, sembari terus menghindari serangan demi serangan, aku pasti bisa.
Yosha!! jadi apa yang harus ku buat pertama kali?, benar armor.
Membuat bentuk yang rumit dengan waktu yang terbatas rasanya mustahil.
Sisanya perisai,.. Yup. Perisailah yang termudah. Bentuk bentuk bentuk dan padat kan. Jangan terlalu tebal, akan sulit di gunakan jika bebannya bertambah, tapi sebentar ini tidak berat sama sekali. Untuk jaga jaga, mari kita buat beberapa lapis saja.
Dan berhasil..
Selanjutnya pedang besar. Seharusnya lebih gampang dari perisai. Namun aku juga harus mempertimbangkan ketajamannya, aku tidak mau tiba-tiba saja kekuatan ini menjadi alat pembunuhan. Mari buat sedikit tebal dan beberapa lapis, sedikit beri pemberat untuk daya tekan.
Dan berhasil kembali... Selanjutnya energi.. Ya jika armor tidak berhasil, buat saja lapisan energi seperti Kazehaya kun.
Dan gagal. Energi itu dengan seenaknya merubah bentuknya menjadi apa yang ku bayangkan sebelumnya. Atau apa mungkin sedari tadi energi itu sedang mencerna informasi dari sebelumnya dan akhirnya baru membentuk perintah yang sebelumnya ? Mari kita cari tau itu nanti.
Sekarang aku siap, dengan tampilan yang sedikit banyaknya mirip dengan karakter game ku, aku datang dengan semangat baru.
Ini lebih nyaman dan mudah, mengalahkan lawan seperti ini serasa mengibaskan kipas saja, aku bisa melakukan ini seharian, andai saja aku tau dari awal.
Hingga sedikit dari mereka yang mampu bertahan, kami terus menyerang tanpa ampun, dengan gaya tentunya. Kami ini atlet, bukan orang gila dengan mainan barunya.
Tersisa kurang dari hitungan jari, musuh yang masih berdiri. Termasuk Kakek tua itu, yang masih dalam mode siaga.
" Jadi, apa sudah selesai?. Kakek tua ?"
" Aku tidak setua itu sampai harus kau bilang kakek tua"
" Terserah apa katamu, sekarang apa yang akan kau lakukan, pasukan mu sudah tidak ada lagi."
" Hoho, apa kau meremehkan karna aku terlihat tua, anak muda?"
Kakek tua itu berdiri, auranya mulai berubah, bahkan mengisi hampir seluruh ruangan, dan tampak berbahaya. Insting ku mengatakan jika aku berkedip kami akan tamat.
Dan benar saja, tak sengaja berkedip pria tua itu menghilang dari tangkapan mataku. Sedetik kemudian angin besar melintas di sebelah kiri ku. Spontan aku menoleh ke kiri, di sana sudah berdiri kakek tua itu dengan Kazehaya terbaring dilantai. Tubuhnya tidak lagi dibaluti energi berlimpah seperti tadi, namun sebaliknya, energi itu mulai melebur ke udara.
"Sial... " Belum selesai aku mengutuk, kakek tua itu kembali menghilang dari pandanganku, beruntung insting ku bekerja lebih cepat.
Dengan secepat yang ku bisa aku berlindung di perisai ku, dan ku beri tebasan ke udara dimana insting ku memerintahkan ku.
Seperti logam berat yang saling berbenturan, begitulah bunyi yang ku dengar. Beruntung perisai ini mampu menahan tebasan gila kakek tua itu. Dan lagi, tebasan ku juga mengenainya, tepat di tulang rusuk.
Tapi tampaknya tidak memberikan kerusakan yang berarti.
" Giliran ku.." Dengan secepat yang aku bisa, aku meluncur kearah kakek tua yang terdiam menunggu aku masuk jebakannya.
Oh.. Sepertinya benar.
"Huh..."
Mau sampai kapan kau berlagak keren seperti itu, tidak sesuai dengan umurmu kakek tua.
" ..... "
Percuma memalingkan wajahmu, itu tidak akan merubah keadaan.
"Kakek.., encokmu kambuh kan? "
"Apa yang kau bicarakan, fokus pada pertarungan"
Sampai kapanpun kau tidak mau mengakuinya heh?
Yasudah tinggalkan saja. Meski begini aku bukanlah anak durhaka.
"Aku panggil nenek dulu, kakek tunggu disana saja"
Aku terus berjalan keluar ruangan mencari bantuan. Mengabaikan protes yang tak sepatutnya ia katakan.
Beberapa saat kemudian kamipun bertukar ruangan. Tepatnya ruangan makan yang luasnya hampir sama dengan ruangan tadi, banyak meja makan berbaris rapi di tatami. Dan ada beberapa orang dengan luka perban yang sudah hadir di depan meja mereka masing-masing.
" Lalu, apa maksud kakek mengerubungi kami seperti tadi?" Suara ku ku tekankan pada kata mengerubungi, pada kakek yang sedang di obati Nenek dan beberapa pelayan.
Kakek hanya diam berlagak keren, meski encok nya pasti nyeri.
Aku sama sekali tidak habis pikir, kakek mau melakukan itu semua, terlebih ketika teman ku berada didalamnya.
Ini tidak bisa di anggap sepele, nyawa temanku dipertaruhkan. Masih untung mereka mampu melewatinya, bagai mana jika tidak?, lecet sedikit saja sudah bisa di bawa ke pengadilan.
Apalagi mereka terluka di wilayah kekuasaan Keluarga Kazuma.
Yup, benar.
Maaf telat memberi tahu kalian.
Keluarga ku sedikit, ehem... Sedikit unik.
Keluarga Kazuma adalah sedikit dari sekian banyaknya keluarga berpengaruh pada jaman Shinsengumi masih ada.
Meski jarang berselisih namun, wilayah kami nyata adanya, tidak sedikit keluarga lain yang mencari gara-gara dengan kami, karena itulah aku hidup dan dibesarkan seperti tadi.
Meski aku tidak tinggal di rumah utama, orang-orang tempat tinggal ku bersikap normal padaku, dan aku bersyukur karenanya.
Mereka tetangga yang baik dan menyenangkan. Bahkan sekolah-sekolah ku selama ini, tidak mengucilkan kami sekeluarga.
Sekarang kita kesampingkan dulu masalah statusku. Kita kembali ke urusan pengeroyokan yang di Dalangi oleh kakek ku ini.
" Jadi apa maksudmu kakek?"
"..."
" Aku tidak akan mengulangi untuk ketiga kalinya " Ancam ku.
" Kakek... Jujur saja.. Fufufu " Disebelahnya, nenek tertawa dengan anggun.
Meski sudah berumur, nenek masih terlihat cantik seperti masa-masa mudanya.
"Huh..."
" Anooo.... "
" Yup, Kazehaya kun.. " Tunjuk ku.
" Itu, aku juga penasaran sampai sekarang, alasan kami di sambut dengan meriah, ah. Maafkan ketidak sopanan ku, namaku Kazehaya izumi"
Uwah, wajah Kazehaya tampak berseri, seperti melihat Idolanya secara Live.
" Kakek, menyerah saja, berhenti keras kepala pada cucu kesayanganmu "
Meski didesak oleh nenek sekalipun kakek tetap teguh dan membuang muka dalam diam.
" Izinkan Adikmu yang cantik jelita ini memberi tau kamu sebuah rahasia dan alasannya semua ini"
Dari pintu masuk ruang makan, seorang gadis berperawakan anggun masuk dengan berjalan pelan.
Ini dia, Adik perempuan ku yang cantik jelita seperti kata-kata nya barusan. Eh? Rahasia katamu?.
"" Onii-chan "" Dua mahluk lucu dan lagi menggemaskan lainnya yang muncul secara tiba-tiba itu melompat ke pelukanku.
" Kazehaya dono, Momo dono, izinkan saya memperkenalkan adik-adik saya. Mulai dari yang berdiri disana, Maki Kazuma de ansu" Kataku dengan logat Sengoku.
" Maki kazuma desu " Maki menunduk sopan dan anggun dengan balutan Kimono Indahnya.
" Selanjutnya, minion yang lucu dan menggemaskan.. Miku chan dearu... "
Miku yang kalem dan anggun seperti kakaknya Maki, juga menunduk dengan sopan.
"Dan Miki chan de aru" Miki pun mengikuti sapaan saudarinya.
" Bagaimana, mereka lucu bukan? Menggemaskan?" Dengan bangga akupun memamerkan kemesraan kami bertiga ketiga kami saling mengosokan pipi.
" Kalian tampak bersenang-senang." Momo yang sedari diam, mulai angkat bicara.
"Benar juga, sersan Miki, sersan Miku.. Izinkan aku memperkenalkan, teman temanku." Dengan lucunya Miki dan Miku berdiri tegak dan dalam posisi istirahat Pasukan Beladiri Jepang.
" Pria ini, adalah Guild Master... Kazehaya Izumi dearu"
" Mastaa... " Wajah mereka berseri-seri dengan mulut membentuk O besar.
"Guild masternya tidak usah" Ujar Kazehaya menutupi malunya.
" Selanjutnya.. " Belum sempat aku memperkenalkan dirinya, orang nya sendiri memperkenalkan dirinya sendiri.
" Momo Inuzaki, Wizard Cantik dari negeri dongeng, sekaligus Istri Sah Guild Master"
Dengan elegan ia mengibas rambut panjangnya yang masih belum kering setelah berendam tadi. Kimono yang ia kenakan tampak menggoda, ketika ia memaparkan aset berharganya itu.
" Selanjutnya, kepala keluarga Kazuma yang tak berdaya disana, Hatori Kazuma, dan wanita cantik di sebelahnya adalah Mio Kazuma." Ucap ku singkat. Nenek tampak senang di puji cantik. Tapi memang benar nenek itu cantik. Aku sampai heran kenapa nenek mau menikah dengan kakek yang seperti itu.
******
Kamipun makan malam tanpa hambatan, menimbang aku adalah cucu penguasa sekaligus juga mempunyai pangkat dan kuasa, aku menempati meja di samping Jendral dan Letnan lainnya. Berbeda dengan temanku yang berada sedikit jauh di meja tamu. Semua ini bertujuan untuk formalitas sekaligus menunjukan posisi paling masing orang di ruangan.
Tak ada percakapan berarti ketika makan malam.
Dan kini waktunya acara inti.
Berhubung selesai makan malam. Di ruangan yang sama ini dan Selagi semua petinggi hadir disini, kami pun duduk merapat. Tekanan dari masing-masing petinggi cukup untuk membuat orang awam menciut. Tapi tidak dengan kami bertiga terutama aku yang juga merupakan petinggi mereka.
Menjadi petinggi di usia muda tidaklah mudah, asal kalian tau.
" Menimbang, semua orang disini sudah hadir. Dan.."
" Bisa lewatkan formalitas nya " Potong ku tak sabaran.
Maki-chan menghentikan ku, kepalanya menggeleng pelan.
" Boo-chan tolong dengarkan Ketua kali ini saja."
" Maaf, Letnan. Untuk kesekian kalinya, aku sudah di ambang batas kesabaran "
" Tapi setidaknya, untuk kali ini saja, kami mohon" Lanjutnya lagi, mereka semua serempak bersujud.
Aku paling lemah dengan beginian.
" Hah... Untuk ki ini saja.."
Semua kembali duduk Seiza, mendengarkan apa yang akan kakek katakan.
" Sebenarnya, Keluarga Kazuma Menyimpan sebuah rahasia yang hanya boleh di ketahui oleh petinggi dan kluarga inti saja" Kakek menghentikan kalimatnya, dan melirik ke arah teman-teman ku.
Disaat mengetahui diri mereka yang dimaksud bukan orang dalam, dengan enggan mereka bangkit, namun aku dengan tegas menggelengkan kepala kearah mereka, dan dengan enggan bercampur ragu mereka kembali duduk.
" Semua berawal semenjak 20 tahun lalu.." Kakek mulai bernostalgia dalam ceritanya. Namun ku hentikan.
" Hentikan flashback mu Kakek, aku tidak punya waktu untuk kilas balik sejauh itu "
Semua orang tampak kecewa.
" Tolong persingkat " Aku pun menyerah, terserah kalian.
Agar menghemat waktu, biar ku jelaskan dengan ringkas, kilas balik dari 20 Tahun silam.
20 Tahun silam adalah waktu dimana Ayahku yang saat itu menjabat Sebagai Jendral klan, mendapat tugas membasmi sindikat penjualan manusia. Dan ketika itu pasukan Ayahku mulai terdesak dikarenakan pihak musuh menggunakan senjata api berat yang kala itu masih tergolong senjata baru.
Pasukan Ayah hampir kalah dan banyak yang terluka, bahkan mereka hampir terbunuh di tempat.
Di saat itu mereka merasa putus asa dan tanpa harapan, mereka hanya bisa pasrah dan mungkin bisa saja terbunuh hari itu juga.
Namun di saat itulah mereka bertemu dengan Ibu, ditengah baku tembak, belasan sampai puluhan peluru yang melayang, Ibuku turun dari udara tanpa terkena serangan peluru, setiap mata yang melihat Ibu saat itu merasa terhipnotis, bahkan tidak mau memalingkan pandangan mereka walaupun satu detik, apalagi berkedip. Mereka berfikir mereka baru saja menyaksikan seorang malaikat telah turun di hadapan mereka dan akan membimbing mereka ke jalan kebenaran.
Biar ku konfirmasi pada kalian. Meski Ibuku itu memang lucu, tapi dia bukan malaikat.
Di bagian ini hanya akan menceritakan bahwa ayah jatuh cinta dengan Ibu dan Ibu juga jatuh cinta dengan Ayah. Selesai.
Tapi masalahnya disini adalah, cara Ibu Muncul bukanlah hal normal di bumi yang penuh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Jika boleh disebut, proses datang hingga sihir penyembuh sampai sihir pengikat, itulah yang ingin di sampaikan kakek ku melewati kilas balik yang hampir setengah jam lamanya.
Kalian bayangkan setengah jam lamanya itu juga aku menahan emosi agar tidak marah.
" Jadi maksud kakek, Ibu berasal dari Dunia lain yang seperti di Novel, game dan anime fantasi di luar sana?"
" Senang kau mengerti maksudku "
Sombong sekali anda berkata seperti itu, pak tua.
" Lalu Kami berempat mewarisi darah manusia dari dunia lain, dan sekarang Ibu dan Ayah sedang berada di Dunia Lain itu, meninggalkan anak-anaknya yang masih remaja?"
" Yah itu tidak sepenuhnya salah " Kakek menimpali.
" Hah... Beri aku waktu untuk mencerna, ini semua terlalu tiba-tiba., lalu... Bagai mana dengan kejadian minggu lalu?"
" Itu sedikit..."
" Sudah, katakan saja.. "
" Ri-chan, bukankan kau sedikit kasar dengan kakek mu ini " Kakek memelas dengan manja sebenarnya aku sedikit bersalah bicara kasar dengan kakek yang sudah memanjakan ku sedari kecil.
" Yasudah, beri tau aku, kumohon.."
" Catrin Dono sendiri adalah anak dari Bos tempat Ibu Bekerja, alasan mengapa dia ikut ke dunia ini adalah, karena Catrin Dono sendiri yang menyusup kedalam barang bawaan Ibumu ketika kembali ke dunia ini untuk Pertama kalinya. "
" Apa-apaan itu, tampak seperti di buat buat "
"Memang seperti itu adanya, bahkan ibumu sampai kerepotan karenanya dan sampai di tuduh menculik putri keluarga Bos tempat Ibumu bekerja, beruntung semua itu dapat di selesaikan dengan alasan salah paham"
Uwaaah... Konyol sekali.
" Jadi secara tidak langsung, kejadian minggu kemarin adalah, Rin menjadi target penculikan yang sebenarnya dari orang-orang di dunia lain?, dan secara tidak sadar aksi penculikan itu gagal, dan secara tidak langsung juga kami membangkitkan kekuatan dari dalam diri kami karena distorsi antar dimensi ketika Penyusup itu memaksa berpindah dimensi ?"
" Begitulah kira-kira"
" Kakek, tolong serius lah., lalu apa alasan Rin di culik?, bagai mana mereka tau tempat ini?"
Tak ada jawaban. Semua orang yang terlibat memilih diam seribu bahasa.
Semua ini masih menjadi teka-teki yang tak terpecahkan. Padahal itu adalah inti pertanyaan ku sebenarnya, namun pertanyaan itu sendiri tidak terjawab, lalu untuk apa semua ini?
" Mentalku, ahhh.. Mentalku..." Kepalaku mulai pusing dengan semua ini.
Adik-adik ku sampai cemas, menyedihkan nya diriku ini sampai sampai anak 5 Tahun Sampai mengkhawatirkan aku ini.
" Lalu mengapa saat kami sampai disini kami di serang, kurasa itu tidak ada hubungannya dengan semua hal yang kau sebutkan tadi, pak tua"
Seperti di sambar petir, wajah kakek pucat pasi. Keringat dingin mengalir di wajahnya.
Aku menatap tajam ke arahnya, aku mencium ada sesuatu yang tidak beres di sana.
" Oy, jika kau tidak ingin rumah ini rata dengan tanah, sebaiknya kakek jujur sekarang."
Benar saja, alasannya sangat konyol dan sepele.
Kakek yang rindu dengan cucunya karena jarang berkunjung, mengambil kesempatan untuk mengerjai cucunya tersebut, akan tetapi dikarenakan ketidak sabaran dan kecerobohannya, kakek menyeret Teman-temanku secara tidak sengaja, yang ternyata Teman-temanku ini lebih sangar dari yang ia kira. Sampai akhir kejadian ia selalu mencari jalan untuk beralasan, dan berakhir dengan kambuhnya encok yang di deritanya karena tulang-tulang rapuh itu terkejut ketika tiba-tiba bergerak.
Aku hanya bisa menghela nafas lagi dan lagi.
Setidaknya jawaban Kazehaya terpenuhi. Sisanya..
" Jika kau masih bersikeras ingin tau, mengapa tidak cari sendiri jawabannya, di Dunia Sana"
Kata-kata dari Sora-Nee barusan memecah suasana yang mulai membaik. Wajah semua orang tak terkecuali aku menjadi tegang.
Aku tidak keberatan untuk pergi kesana, lagi pula aku juga penasaran dengan Dunia Sana, tempat Kampung Halamanku yang lainnya.
Namun rampaknya ada orang yang enggan aku untuk pergi.
Terutama adik-adik ku.
" Beri aku waktu..."