7 SLEEPER

7 SLEEPER
INVANSI



Oh, Hai...


Namaku Rion Kazuma, anak pertama dari 4 bersaudara, Musim Semi Tahun ini aku genap 16 Tahun.


Dan hari ini tebak ada apa ?, yup kalian benar. Ini adalah hari pertama masuk SMA. 


Hohoho, Tunggu jangan terlalu terburu-buru, tidak sampai disitu saja, masih banyak hal lainnya, kalian tau apa ?.


Yup Yup, wajah para gadis yang beranjak Dewasa. Menyegarkan bukan?Tapi kali ini aku berani bertaruh. Yang satu ini pasti tidak ada di Sekolah kalian.


Karena apa? 


Karena...


Aku hampir mati !!


Tidak, aku akan mati... !


Monster... itu Monster, aku serius, tidak bermimpi.


Aku tidak tau bagaimana bisa sampai seperti ini, awalnya ini adalah hari-hari damai seperti biasa yang pelajar normal biasa lakukan.


Namun kini rasa sakit di sekujur tubuhku tidak mengizinkanku untuk berpikir, dan kesadaranku perlahan mulai menjauh.


Aku tidak boleh mati disini, tidak hari ini, setidaknya aku ingin melihat wajah Gadis yang kusuka di saat terakhir ku.


Hal Terakhir yang aku ingat adalah suara teriakan ledakan di kelas sebelah.


Mari kita kembali ke beberapa saat yang lalu.


Ketika itu, aku tengah memandang keluar jendela sembari mendengarkan Nasehat dari Wali kelasku dengan bosan, terlebih sebelumnya kami sudah di sirami dengan pidato yang lebih membosankan lagi dari Kepala Sekolah yang hampir Satu jam lamanya.


Ketika itu aku merasakan sedikit getaran di lantai, bahkan siku yang menopang kepalaku dengan jelas merasakan getaran itu. Dipikiran ku mungkin cuman gempa kecil dan itu sudah biasa, bahkan semua orang di kelas hanya menanggapi dengan cuek.


Namun anehnya, getaran itu semakin besar dan besar, bahkan disertai dengan dengungan keras, anehnya lagi teman sekelas bahkan wali kelas masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak tampak terganggu sama sekali. 


Disini aku mulai heran, apakah kepalaku sudah mulai rusak karena sering terbentur? Pikirku.


Dengungan itu semakin jelas setiap detiknya dan semakin keras menyakitkan sampai membuatku meremas rambutku. Rasanya seperti ketika kepalaku di tekan dari kedua sisi secara bersamaan. 


Seiring waktu berlalu tekanan itu mulai menjalar ke dadaku, membuat ku sulit bernafas. Pandanganku juga mulai tidak stabil, semua yang kulihat semua berayun dengan membentuk dua sampai tiga bayangan yang sama. 


"haha apa aku demam?" pikir ku


Aku mengangkat tangan dengan lemas, berharap ada yang melihatku dan hendak meminta izin untuk pergi ke Ruang Kesehatan.


Satu detik, dua detik, tiga detik bahkan sepuluh detik, tidak ada tanggapan atau pun teman yang menghampiriku.


Aku ingin berteriak namun suaraku seperti tertahan karena gejala aneh di dadaku.


Aku sempat berpikir kalau ini adalah mimpi dan tekanan yang menyerang kepala dan dadaku dikarenakan di tindih adik-adik ku yang sedang usil.


Semakin lama dan semakin lama, banyak hal aneh yang kulihat.


Mulai dari bayangan kakekku yang melambai dari balik sungai.... Meski kakekku masih hidup.


Sampai mahluk fantasi berbetuk banteng, dengan wajah sangar sembari menyandang kapak besar di bahunya.


Juga...


Mahluk hijau, jelek, pendek dengan pakaian penyihir yang memegang tongkat sihir kayu, mirip karakter musuh di game yang kumainkan sebelum tidur tadi malam.


Ya ini pasti mimpi, pikirku lagi yakin.


Dan berjanji tidak akan main game lagi sebelum tidur sampai larut malam.


Tetapi insting ku berkata lain.


Ada yang aneh, ada yang janggal, tapi apa?


Mau mimpi atau bukan tekanan di tubuhku sudah mampu membuatku merasakan apa yang namanya setengah mati.


Apa ini benar-benar mimpi?


Otakku dengan cepat memproses ulang, mereka ulang kejadian mulai dari bangun tidur hingga detik ini.


Otakku yakin dengan apa yang direka ulang dan itu bukan mimpi, aku benar-benar berangkat pagi itu bahkan otakku ingat dengan jelas sarapan pagi ini.


Satu-satunya yang janggal hanyalah halusinasi tentang 2 mahluk fantasi di depanku yang tengah berdiskusi dengan bahasa Jepang. Hal inilah yang membuatku yakin bahkan aku tengah bermimpi.


Jikalau kalian penasaran mereka bicara apa, biar otakku yang mempunyai proses super cepat yang memberi tau.


"Hooo.. Inikah tempatnya, moo?" 


"Gukii !! Ya, tidak salah lagi!!"


"Hump.. Mereka tampak lemah. Bahkan hanya dengan segini sudah tumbang. Mo ahahhaha."


"Guuki guki guki guki.. Tidak seperti orang itu, semua manusia disini terlihat jelek dan lemah "


"Lihat siapa yang bicara"


"Guki!!! Apa maksudmu? Kau ingin kujadikan steak"


Mengabaikan mahluk hijau jelek, temannya sang banteng 3 meter itu menunjuk ku dengan kapak besarnya.


"Hohoo, sepertinya ada yang berhasil bertahan dari sihir konyol mu."


" Berhenti menyebut sihir ku konyol, kau sapi otak otot tidak akan mengerti apa itu seni"


"Terserah lah, sekarang bersihkan kekacauan yang sudah kau buat. Aku akan pergi duluan mencari target, ingat.. Jangan sampai meninggalkan saksi." Ujar banteng yang berjalan dengan dua kaki itu ketika sebelum keluar dari kelasku.


"Cih, berhenti memerintah ku. Kau pikir siapa aku? Aku adalah Im-Sama, Lord Goblin. Oi.. Dengarkan orang bicara sampai selesai..." Mahluk yang mengaku Goblin itu dengan kesal menginjak-injak lantai dengan kesal. 


Awalnya aku berpikir aku adalah anak yang hebat, yang mana mampu menghasilkan mimpi dengan grafis yang bagus. Bahkan otakku mampu mengisi suara sendiri dengan otomatis.


Sayangnya kesenangan itu tidak berlangsung lama. Di detik kemudian insting ku mengatakan akan bahaya.


Goblin hijau yang ku anggap hanyalah karakter mimpi berkualitas 4K itu tengah mengacungkan tongkat kayunya kearah ku, dan di detik berikutnya lingkaran sihir kecil muncul bersamaan dengan tembakan peluru batu yang melintas melewati pipiku.


Beruntung aku sempat menghindar berkat insting ku. Goblin itu tampak kesal, giginya berderit dan kembali menembakan rentetan peluru batu kearah ku. Beberapa hanya terbang melewati ku dan beberapa nya lagi mengenai dada dan pahaku.


Bukannya tidak sakit, hanya saja sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan ketika berlatih karate yang sudah seperti latihan Neraka itu. Dan beruntungnya rasa sesak dan suara itu berlangsung hilang seiring aku terkena serangannya.


Dan karena instingku kembali mengatakan aku harus mengalahkannya, aku pun mengikutinya.


Disaat kesadaran ku mulai pulih. Dengan langkah pendek aku meluncur kesamping mahluk yang mengaku Lord Goblin dengan memanfaatkan lantai yang licin. Tidak sulit merebut tongkatnya selagi ia terus menembakan batu-batu yang meresahkan itu. Tanpa memberikan waktu untuknya buat bereaksi, kuberikan hadiah lutut tepat di hidung peseknya. 


"G..g.. Guki" Dan ia terkapar


Dan tepat setelah mahluk itu tak sadarkan diri, tubuhku pulih total, namun... Pemandangan kelas tampak kacau, dinding berlubang, meja dan kursi berantakan dan teman sekelas ku terkapar di lantai.


Apakah ini benar-benar mimpi ku yang ekstrem lainnya?. Namun rasa sakit yang ku terima terasa nyata.


Aku mencoba memeriksa semua orang dikelas terutama wali kelas ku yang paling dekat dengan monster itu. Beruntung mereka tidak terluka.


BAAM!!! 


Baru saja merasa lega, diriku kembali merasakan akan adanya masalah baru. 


"Sial.. Aku lupa masih ada yang satu lagi" 


Entah darimana keberanian itu datang aku berlari menuju sumber suara. Dan alangkah terkejutnya aku ketika sesampainya di sana.


Mahluk jelek itu tengah mengacungkan War Axe nya di depan wajah Rin-Chan teman kecilku, aku yang terbakar emosi langsung melompat dan menghadiahi mahluk jelek itu sebuah serangan lutut tepat di hidung peseknya.


Aku tidak tau bagaimana mana aku bisa berhasil melakukannya, yang dipikiran ku hanyalah menjauhkan bajingan itu dari temanku bahkan aku tidak sempat melihat apakah semua orang yang terkapar baik-baik saja. Ah, benar saat ini aku masih mengira bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi.


Belum sempat aku mendaratkan kakiku, tubuhku di tangkap dan dilempar sangat jauh dari jendela ke hutan belakang sekolah. Aku masih ingat pemandangan jendela kelas yang semakin menjauh dengan cepat.


Dan disinilah aku sekarang.


"Sial... " Kutuk ku, tapi setidaknya mahluk itu mengejar ku. 


Seragam sekolah ku kotor karna noda darah ku sendiri. Aku hendak berteriak meminta pertolongan, namun itu akan sia-sia karena ini di tengah hutan.


Haha... Padahal ini musim Semi, bahkan Pohon Sakura di balik punggung ku menjatuhkan daun-daun indahnya yang berwarna merah muda. Seharusnya momen dihujani daun Sakura adalah momen romantis bersama gadis manis dengan wajah merona ketika ia mencoba menyatakan cinta.


Ok, cukup dengan melow melow nya.


Aku mencoba berdiri dan mengutuk mahluk jelek mengerikan itu di pikiranku, namun ia terkejut, apa aku berhasil mematahkan rasa sombongnya ?


Hah... Baguslah dengan ini aku merasa bisa mematahkan kesombongan itu lagi.


" Hoo.. kau masih bisa bergerak ?, kau orang yang menarik, tidak banyak manusia yang bisa melukaiku " monster jelek itu menggosok hidung peseknya yang bertambah pesek, ada sedikit noda darah di sana.


" Benarkah? Aku tersanjung" Balas ku


" HEh... Apa yang akan kau lakukan ?" Monster itu waspada, bersiap dengan posisi tempur dengan mengacungkan War Axe nya padaku di saat aku mencoba berdiri.


" seperti yang kau lihat.. ugh... Punggungku.. au... au.. " tidak ada luka di punggungku namun sakit ini dari sengatan lebah di punggungku, kupikir mungkin serangga ini tertindih disaat tubuhku terlempar. Betapa memalukan nya, padahal baru saja mau bersikap keren namun semua itu rusak hanya karena seekor lebah.


Setelah di lempar dan membuat lengan kananku patah hingga bengkok ke arah berlawanan, kini aku harus menerima sengatan lebah ? Jangan bercanda...


Betapa sialnya aku.


" Hahaha... Kau manusia yang menarik nak, aku menyukai mu" 


"Maaf aku sudah menyukai gadis lain"


"Mooahhaaha" 


Ah sial.. 


Tidak ada waktu untuk ini, aku harus fokus...


" Apa yang coba kau lakukan ?" Mahluk itu tersenyum percaya diri " Jadi begitu.. kau tidak tertarik mati dengan tenang ya.. " 


Hahaha bagaimana ? Apa kau kecewa ? Ia merasa terintimidasi hanya karena aku membalas tatapan membunuhnya tanpa rasa takut.


" Kalau begitu akan ku perlihatkan ketakutan yang sebenarnya, bersiaplah ". 


Tepat di akhir kalimatnya Minotaur itu melompat sambil mengayunkan kapaknya secara horizontal. Tapi serangan itu sangat lambat... Bahkan kau masih sempat berhitung 1 sampai 10 sebelum kapak itu sampai di tubuhmu. Setidaknya itulah yang kulihat dengan mata ini.


Kapak itu datang dari kiriku, betapa naifnya.


Aku sedikit menunduk, mengambil postur bersiap melompat ke belakangnya, sambil memungut sebuah ranting yang tadi patah karena ku jadikan pendaratan. 


Bertepatan dengan kapaknya yang menancap cukup dalam dan tersangkut, aku beralih kebelakang Minotaurus itu.


Tanpa menunda waktu, aku menancapkan ranting dari tangan kananku di saat Minotaurus ini hendak berbalik.


Walau tusukan itu tidak dalam, namun itu tepat di bawah ketiaknya dimana massa otot lebih sedikit, darah hijau keluar layaknya percikan dari pipa air yang bocor, aku tau itu pasti sakit sampai-sampai War Axe di tangannya jatuh ketanah. 


Khu..Khu..Khu..Khu... Bagaimana ? Apa tu sakit ? Aku bahkan tidak percaya tengah tertawa dengan aneh hanya karena berhasil memberikan sebuah serangan.


Tentu saja ia tidak akan mati hanya karna tusukan itu. Minotaurus itu menatap tajam ke arahku dan melayangkan kapak itu sekali lagi, namun ia hanya menebas udara dan ia berakhir jatuh tersungkur.


Belum.. ia masih hidup dan mencoba menjangkau ku dengan sisa tenaganya namun beruntung ia gagal, sampai-sampai kembali tersungkur.


10 menit kemudian.


Kami masih melakukan hal yang sama, kami mulai kelelahan, tapi ini pertarungan ketahanan stamina. 


Dengan sisa stamina yang ada, aku memungut War Axe miliknya. Kini posisi kami berubah, aku yang jadi penyerang.


" B..berat.. " tentu saja berat, kapak itu keseluruhannya adalah logam besi yang berkilau. Dan lagi tingginya hampir menyamai tinggi ku.


Namun...


Mahluk itu memekikkan teriakan kematiannya. 


"Sial.. jika saja tangan kananku tidak patah..." Bisa gawat jika dia tiba-tiba berbalik dan menamparku sekarang. 


Namun ketakutan ku tidak terjadi dan mengkhianati ekspektasi ku. Minotaur itu jatuh berlutut dengan masih membelakangi ku.


"Bagus, tetaplah seperti itu Sementara aku berusaha menarik ini, bersikap manis lah di sana dan jadilah anak baik, kau mengerti.. ?" Ejek Ku


Merasa di remehkan, Minotaur menoleh dengan nafas berat dan cepat dan entah kenapa aku bisa melihat uap panas yang keluar dari hidungnya. 


Aku bergidik ngeri, di tambah kapak ini tidak mau di angkat lagi. Tidak ada cara lain lagi.. aku harus melukainya lagi. 


Dengan begitu aku mengambil ranting yang agak besar di kakiku, dan sama seperti sebelumnya aku akan mengayunkan dengan memutar dan mendaratkan pukulan di lehernya, namun karna putaran ku salah, dimana harusnya dari kanan ke kiri dan aku melakukannya dari kiri ke kanan maka ranting besar mendarat di hidungnya. 


" Sorry "


" Ghuaaaa.... " 


Raungan itu menandakan kesakitan yang sangat dalam, dan tubuh besar tersentak kearah belakang, dan sayangnya aku tidak bisa mengangkat kapak itu lagi Karana Minotaur baru saja menindihnya. 


Ah sial.. tidak ada lagi senjata untuk melumpuhkannya, bukannya aku saat ini dalam bahaya ? 


Eh... tapi tunggu... 


" Guhhg.. akhh...giuuahh.." 


Entah apa yang di katakan Minotaur itu aku tidak mengerti, padahal dia berbicara sebelumnya. 


Ah... 


Hahhaa... 


Aku tidak bisa menahan tawa ini, terserah kalian mau mengatakan aku gila atau apapun yang jelas saat ini aku merasa senang. 


Hahahaa...


Leher nya.. hahhaa lehernya.. itu .. terpotong.. puffft.. hahhaa... Maaf... 


Huft... Ya sudahlah. 


Mahluk ini tidak akan bergerak lagi, karna lehernya menancap cukup dalam berkat senjatanya sendiri.


Salah siapa yang menaruh senjata itu disana. 


Ah.. itu aku.. 


Hahaha, jangan marah ok ?!


Aku berdoa untukmu, jangan menghantui aku, OK ?


Yup satu masalah selesai.


Hidupku terselamatkan karna sebuah kebetulan, dan lagi tangan ku sembuh, luka di kepalaku juga berhenti, apa ini ? Apa aku naik level dan semua status HP ku kembali penuh ? Tidak mungkin ini bukan game... 


Nging...


Telingaku kembali berdenging.


"Rin !! aku harus bergegas.., Oi... Menyingkirlah dari sana aku pinjam kapaknya"


"...."


Tentu saja dia tidak akan menjawab, dia kan sudah mati. Dengan kapak yang menancap cukup dalam ditambah beban tubuh yang menempel membuat kapak semakin sulit untuk di tarik. 


Namun aku menemukan sesuatu yang lebih menarik, itu adalah sepasang pedang kembar yang pernah ku lihat di lelang pasar gelap saat aku di ajak kakekku. 


Khukhu... Item drop. Mantap !!


Kakek pasti bangga denganku. 


" Oi bung... Aku pinjam.. " 


Tanpa mendengar jawabannya aku melesat cepat keluar hutan, aku bisa melihat atap bangunan dari celah dedaunan pohon yang rindang.


Tubuhku mulai terasa ringan, dan stamina ku juga kembali. Aku juga dapat merasakan momentum berlari ku.


Aku terus berlari tanpa memperlambat langkahku, berlari ketempat sebelum aku dilempar.


Namun sosok yang tertangkap di mataku bukanlah Rin melainkan Sahabat baikku yang menerima luka sayatan di perutnya, ah, ada satu lagi gadis manis dengan tubuh langsing dan buah semangka besar tercetak di seragamnya. Aku menghampiri mereka.


" Oi kazu kau tidak apa-apa ?" 


" Tenanglah, aku tidak apa-apa, Sora-nee sudah merawat ku ". 


" Dimana Rin ?" Aku melirik kesegala arah namun yang kutemukan hanya para murid yang pingsan di meja mereka.


Ini membuatku semakin cemas.


" Goblin itu membawa Nona Rin... " itu bukan Kazu, melainkan gadis manis disebelahnya yang bicara. 


" Siapa kau ?" Tanyaku, lalu bagai mana ia tidak berakhir pingsan seperti murid yang lain ? 


Disaat aku memikirkan itu Kazu menghentikan lamunanku. 


" Sudahlah cepat selamatkan Nona Muda, mereka membawa Nona Muda ke atap sekolah" 


Walau terkena luka besar, Kazu masih terlihat baik-baik saja, luka nya pun sembuh dengan ajaib dan meninggalkan sobekan besar bersimbah darah di seragamnya.


Apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini ? 


" Kazu.. pegang ini... Aku akan pergi menyelamatkan Rin " 


" Dan kau gadis manis, aku titip si bodoh ini padamu"


Setelah mengkonfirmasi jawabannya aku berlari keluar kelas, melewati lorong-lorong kelas yang sunyi karna semua penghuninya jatuh di meja mereka, aku melompat Kedinding disaat berbelok di tangga dan tanpa sengaja aku menginjak sesuatu yang kenyal, di saat aku menoleh aku melihat jejak kakiku di wajah seorang pria gemuk, dan sialnya itu adalah kepala sekolah disini. 


Aku akan urus itu nanti. 


Aku terus melangkah di anak tangga hingga anak tangga terakhir dan gagal berhenti hingga pintu menuju atap, aku buat ikut terbang bersamaku. 


Dalam kecepatan yang seperti diperlambat itu aku melihat sosok Sora-Nee sedang bertatapan dengan seekor mahluk hijau pendek dengan jubah cokelat gelap.


Disisi Goblin itu ada Rin yang di ikat diatas sebuah lingkaran sihir yang bersinar. Dan ternyata Goblin sebelumnya masih hidup.


" Maaf aku terlambat, apa yang onee-chan lakukan disini ?" 


" Urus mahluk ini dulu dan setelah itu aku akan menjawab semua yang kau tanya".


Suara imut dari tubuh kekanak-kanakannya, mempunyai wajah anak-anak dengan tingkah kekanak-kanakan.


Di tambah jubah Labor berwarna putih yang berkibar disaat angin datang. 


Tatapannya tajam menusuk wibawa mahluk hijau didepannya.


" Cih... Si Bodoh itu bahkan tidak bisa membunuh manusia lemah seperti mu"


Oy oy oy kau saja langsung tumbang hanya karna mencium lututku? Balas ku dalam hati.


" Kau beruntung selamat dari si bodoh itu tapi jangan harap kau bisa selamat dari sihir k......uuu.. ohhh.. " 


Tanpa membiarkan dia menyelesaikan kalimatnya aku menghadiahkan nya serangan lutut sama seperti sebelumnya dan tubuh hijau kecil itu terlempar cukup jauh dan menabrak pagar pembatas.


Tanpa menunda waktu, aku berlari kearah Rin yang di sekap, wajahnya berubah cerah ketika melihatku.


Namun lingkaran sihir menolak ku dan Melemparkan aku kembali, dan untungnya aku tidak harus membentur lantai yang keras karna sudah ada goblin yang menyambut ku dengan suka rela. 


Aku kembali mendobrak lingkaran menyala itu namun terus di tolak oleh dinding yang terus muncul setiap aku mendekat sekeras apapun aku mendorong tubuh ku. 


" Hentikan menyiksa tubuhmu"


Suara imut sora-nee menyadarkan ku bahwa aku tidak sendirian.


" Lagipula apa-apaan serangan membunuh itu ? " Lanjutnya kemudian. 


" Tolong urus ini dulu..." Keluhku..


" Iya iya... Aku paham" Dengan langkah malas sembari terus menggerutu tidak jelas, Sora-Nee meletakkan satu telapak tangannya di pilar tembus pandang yang mengurung Rin. 


Dan...


Lingkaran serta pilar itu hilang dan pecah menjadi partikel kecil.


Di saat itu juga ikatan dari akar-akar itu hilang, Rin melompat ke tubuhku, dan memelukku, tubuhnya bergetar hebat, aku tau dia sangat ketakutan. 


" Ss..sialan.. berani memukul wajahku yang tampan ini tidak hanya sekali, tapi tiga kali.


"..."


Aku sampai lupa dengan yang satu itu.


Dibelakang kami, Goblin itu terus berceloteh dengan sombong sembari berdiri dengan kaki yang gemetar dan mencoba mempertahankan posisinya.


Kau menyebut dirimu itu tampan ? Jika kau menyebut dirimu tampan, aku tidak bisa membayangkan bagai mana dari kalian yang punya wajah yang jelek.


" Rasakan sihirku ini.. fire ball" 


Aku sempat panik namun terpatahkan saat itu juga, karena apa yang ia sebut fire ball itu menghilang tak jauh dari tempat sihir itu di muntahkan. 


Tak mau menyerah, Goblin itu terus membacakan berbagai macam mantra sihir sampai akhirnya hanya mengeluarkan asap seperti kentut.


Pada akhirnya tongkat sihir itu sama sekali tidak mengeluarkan serangan satupun, mungkin aku merusaknya di saat aku menjadikannya sebagai matras.


Dan... saatnya diriku ini untuk marah. 


Guehehehe Guehehehe dengan tawa jahat yang baru saja ku buat secara mendadak, ku dekati Goblin yang tampak semakin menciut itu. Tak peduli seberapa takutnya wajah yang ia tunjukan dan kata maaf yang Goblin itu muntah kan, aku terus melancarkan beberapa pukulan ringan di wajahnya, ya... Hanya pukulan ringan.


Tenang saja, aku tidak akan merusak wajah tampannya.


Sampai akhirnya aku di hentikan Sora-Nee karena ia ingin mengintrogasi Goblin itu.


" Aku masih belum percaya jika ini bukan mimpi. Setidaknya aku masih ingin berfikir jika semua ini hanya mimpi" Sahutku.


" ..." Baik Sora-Nee maupun Rin-Chan hanya diam membisu. Bahkan Rin-chan masih gemetar di pelukanku.


" Maaf, aku tidak punya hak untuk memberi tau"


"Apa maksud mu Sora-nee?"


"Setidaknya kau harus menjaga Rin-chan, untuk saat ini pulanglah, biar aku yang mengurus yang disini"


" Baiklah, tapi Sora-nee.. Kau berhutang penjelasan padaku" 


" Ya, sampai nanti"


Dengan perasaan yang campur aduk aku meninggalkan Sora-nee yang melambaikan tangannya mengantarkan kepergian kami.


Kami menyempatkan diri kembali ke kelas dan ajaibnya semua kerusakan lenyap bagai mimpi, kelas kembali normal, bahkan semua orang di kelas bahkan sekolah tampak normal seperti tidak terjadi apa-apa. 


Apa yang sebenarnya terjadi.


Aku bertanya-tanya...