7 SLEEPER

7 SLEEPER
Sidang Khusus



Cerita sebelumnya.


Beberapa tentara putus asa mengejar Rion untuk dijadikan saksi.


Itu semua dikarenakan Rion yang tidak mau direpotkan malah menghindari mereka dengan berbagai cara.


Alasannya cuman satu.


Dia tidak mau kejadian yang lalu itu sampai terdengar ke pihak sekolah, karena pihak sekolah tidak mengizinkan siswa mereka terlibat langsung dengan kasus semacam kali ini.


Tapi apalah daya, Nasi sudah menjadi Tahi.


Sudah terlanjur basah, siram saja sekalian.


Rion tidak perlu sembunyi lagi, toh juga sudah ketahuan pihak sekolah.


*****


Rion membeberkan semua informasi yang diminta pihak tentara, dengan berbekal vidio yang ia rekam sembari menceritakan kronologi.


Mereka bertiga manggut-manggut seraya paham dengan apa yang di sampaikan Rion.


Setelah melihat berulang ulang akhirnya mereka puas, tampak dari raut wajah dari masing-masing mereka.


Mereka mengembalikan ponsel Rion dan mengutarakan kekaguman dengan ponsel Rion yang mampu merekam gambar bergerak dan suara yang jernih.


" Sebenarnya baru-baru ini peneliti sudah mengeluarkan alat yang mirip dengan yang Anda miliki "


" Benarkah ?"


" Tidak mirip secara fisik, namun fungsi"


" Wah, hebat "


" Hanya saja sangat sulit untuk dibawa kemana mana, jika saja kami punya yang seperti anda miliki mungkin kedepannya semua informasi dari pos yang jauh sekalipun akan sangat lancar sampai ke markas "


" Begitukah ? "


Rion sangat menyesal dari nada suaranya, karena memang tidak mungkin. Teknologi mereka bahkan jauh tertinggal ribuan tahun.


" Aku bisa saja membantu untuk produksinya, namun tidak dengan jaringannya"


" Sangat di sayang kan"


Benar, untuk jaringan dibutuhkan tower dan itu bukan hanya sekedar tower semata. Banyak komponen yang dibutuhkan dan itu rumit, belum lagi dengan server.


Bahkan jaringan yang muncul secara misterius di hari yang lampau pun masih menjadi misteri dan mengganjal di hati Rion sampai sekarang.


Sangat sulit di katakan jika itu hanya sebuah kebetulan. Karena ini adalah Dunia lain, bukan negara terbelakang seperti di bumi yang jauh dari teknologi peradaban dan tidak terekspos media.


" Aku bisa meminjamkan pada kalian jika masih butuh lagi sebagai barang bukti di pengadilan"


" Kami senang mendengarnya dari anda, sampai hari itu datang kami mohon kerja sama anda lagi "


Mereka berdiri dan hendak pamit, mereka menyalami Kepala sekolah lalu Rion secara bergantian, dan di detik kemudian mereka pergi keluar ruangan dengan lega.


Meninggalkan Kepala sekolah dengan senyum penuh banyak makna dan Rion yang tersenyum terpaksa.


" Ehem... Kepala sekolah, saya juga undur diri. Maaf sudah merepotkan" Dan rion langsung berbalik.


Tetapi tidak semudah itu. Pintu ruangan tertutup dengan sendirinya. Terdengar suara kunci juga dari sana.


Rion yang sejenak merasa lega kembali merasakan aura mengancam, meski tidak berbahaya namun cukup untuk membuat orang seperti dirinya berkeringat dingin.


*******


Pada akhirnya Rion tanpa menutup-nutupi, ia ceritakan mulai dari awal bagaimana ia menerima misi selama ini sampai ia menjadi pengawas ujian petualang.


Mulai dari A sampai Z ia sampaikan dan tanpa berdosa untuk kasus kali ini ia ceritakan seakan ia sedang melimpahkan semua kesalahan pada Guild Master.


" Benar, ini semua bukan salahku. "


Rion berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak bersalah. Meski Kepala sekolah terus menyelidiki kebohongan dari sorot mata Rion.


" Benarkah ?"


" Tentu saja benar, jika saja dia tidak mengajukan permintaan seperti itu, pasti saat ini aku tidak akan ketahuan..."


Rion yang tanpa sadar keceplosan itu menggantung kalimatnya, terlebih sedari tadi Kepala sekolah hanya menanggapi dengan nada dingin saja meski wajahnya tersenyum.


" Lalu, mengapa harus kamu ?"


" Jangan tanya aku "


" Apa tidak ada petualang lain di sana sampai sampai harus kau yang turun tangan ?"


" Jangan tanya aku "


" Kalau begitu aku ganti pertanyaan ku, apa kau merasa paling kuat sehingga kau yang mengambil permintaan berbahaya itu?"


" Ti.. Tidak "


" Lalu apa kau dipaksa oleh master Guild ?"


" Tidak "


Rion tertekan dan sama sekali tidak mampu melihat lawan bicaranya.


Dia tau dirinya bersalah, tetapi dia tidak siap dengan konsekuensinya.


Melanggar sama saja dengan hukuman, mau tidak mau dirinya harus siap dengan hukuman yang menantinya. Tetapi...


" Ya sudahlah, untuk sekarang kembalilah. Biar aku pikirkan hukuman yang pas untuk pelanggar sepertimu."


Tanpa pandang buluh, Kepala sekolah mengusir Rion dengan senyum penuh makna, Meninggalkan Rion yang termenung meratapi nasibnya di depan pintu Ruangan Kepala Sekolah.


" Seharusnya aku tidak menerima permintaan itu " Ratapnya seraya pergi menjauh.


Beberapa hari berselang, dan dalam beberapa hari itu juga Rion menunggu dengan cemas hari hukuman nya datang.


Dia masih tetap menjalani kehidupan pelajarnya seperti biasa, berinteraksi dengan teman-temannya, bahkan ketika berpapasan dengan kepala sekolah di lorong pun Rion masih tetap merinding.


Menimbang masalah yang ia buat tidak hanya satu atau dua saja.


Dia lebih baik di hukum berat sekalipun, ketimbang hukuman yang di tangguhkan seperti sekarang.


Rion membayangkan berbagai kemungkinan yang kedepannya pasti akan membuatnya repot.


Hingga pada waktunya giliran dia dipanggil ke pengadilan sebagai saksi pun tiba.


Tidak ada hal menarik selama persidangan, para pelaku bahkan sudah menyerah dan mengakui kejahatan mereka, mereka sama sekali tidak melawan ataupun membantah.


Beruntung mereka tidak di jatuhi hukuman mati, karena kejahatan mereka sudah pada kelas yang membahayakan Negara.


Keluarga terpidana meraung menangisi putra mereka didalam pengadilan. Tapi itu tidak ada gunanya, kejahatan yang putra mereka lakukan harus di bayar.


Setelah palu hakim itu di ketuk. Para pelaku mencoba tersenyum. Sikap arogan yang mereka punya ketika pertama kali bertemu tidak lagi Rion lihat.


Sebelum mereka di angkut untuk menjalani hukuman, mereka meminta izin untuk berbicara pada Rion.


Rion menyanggupi permintaan mereka melewati pendampingnya dan hakim Agung yang belum meninggalkan kursinya.


Semua orang menonton mereka saat ini.


Rion cemas namun ia harus mempertahankan ketenangannya, apapun yang terpidana ini katakan nantinya, dia tidak boleh kalut dan tiba-tiba menyerang mereka.


" Rion san, aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku di hari itu. Aku pikir hari itu aku sudah tidak ada harapan lagi. Mahluk itu menakutkan, jika saja mahluk itu keluar dan mengambil alih tubuhku, mungkin saja sekarang negara ini sudah rata dengan tanah. "


" Hey, kau mengatakan sesuatu yang berbahaya dengan santainya"


" B..bukan maksudku begitu... "


" Hahaha... Aku bercanda. "


Sembari tersenyum ramah, Rion menempelkan tinjunya di dada pemuda itu.


Pria itu tersentak dan tanpa ia sadari air matanya jatuh sehingga membentuk sungai kecil di pipinya.


Dia yang sudah berkata kasar bahkan sampai ingin membunuh itu masih di Terima sebagai teman oleh orang yang sudah ia celakai.


" Kalian juga, dengar. Jalani masa hukuman kalian dengan benar dan jangan buat masalah di sana. "


" Siap pak!" Pemuda-pemuda di belakang menangis bahagia seraya memberikan hormat padanya.


Serasa sudah tidak ada lagi yang mau mereka sampaikan, mereka pamit dan menyalami Rion satu persatu. Mereka sangat bersemangat meski mereka akan pergi menjalani hukuman penjara.


Baru pertama kali Rion melihat orang yang menangis bahagia karena di penjara.


Bukannya tertawa, Rion malah lebih bingung.


Rion pergi meninggalkan Ruangan setelah mengantarkan kepergian mereka yang di giring masuk ke pintu di sisi lainnya.


Menjelang di depan pintu keluar, Rion melihat beberapa orang yang masih belum beranjak dari kursi mereka, para pria tengah sibuk menenangkan wanita mereka yang meraung.


Rion merasa canggung ingin lewat di samping mereka. Rion percaya bahwa mereka adalah keluarga terpidana, baik itu ayah, ibu, ataupun saudara mereka.


Lama Rion hanya berdiri di samping pendamping hukumnya, sampai sampai pendamping itu merasa ada yang ganjil karena Rion hanya berdiri mematung.


" Rion san ?"


" Ah, tidak apa-apa. Ayo " Ajak Rion memimpin jalan.


Rion berjalan sedikit cepat takut menjadi bulan-bulanan karena sudah memenjarakan anak-anak mereka, meski bukan dia yang memenjarakan mereka.


" Tunggu sebentar... "


Seorang Pria mencoba menghentikan langkah Rion yang sedikit lagi sudah meraih ganggang pintu keluar.


Padahal dia sudah berhasil sampai ke depan pintu tanpa terlihat oleh mereka.


" Huh, yasudah lah. Palingan hanya protes dan kata-kata makian saja" Gumamnya kecil.


Rion berbalik dan memasang wajah tenangnya.


Dan beberapa orang datang menghampiri dirinya sambil merangkul wanita mereka.


Salah satu Pria maju lebih dekat bersama seorang wanita.


" Maaf sudah mencegat anda di saat yang tidak menyenangkan ini, saya paham anda pasti sedang merasa tidak enak pada kami. Tetapi saya sebagai orang tua cuma ingin meminta maaf atas apa yang sudah anak-anak kami lakukan kepada kalian. Dan juga kami sekeluarga juga ingin berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa putra Kami. "


Dua orang di paling depan menunduk rendah kepada Rion, menyusul pasangan di belakangnya.


Isak tangis masih bisa terdengar dari mereka, dan itu yang membuat situasi ini canggung.


Rion melirik kearah pendamping hukumnya, namun wanita itu hanya tersenyum seakan berkata, 'bukan urusanku'.


Dia bukannya mengabaikan Rion, hanya saja sedang bersenang-senang melihat Rion mendapatkan pengakuan.


Tanpa kehabisan akal, Rion mendekati pria itu.


Dengan tangan kanannya ia taruh di bahu pria itu, membuat pria didepan itu tersentak.


" Tuan, berdirilah. Tidak baik bagi seorang bangsawan menunduk seperti ini pada seorang pelajar biasa seperti saya"


" Tidak peduli siapapun orang itu, jika kami bersalah maka kami akan meminta maaf"


Rion tidak habis pikir, apa mereka berakting ? Jika mengingat kelakuan dan sikap anak-anak mereka sebelumnya.


Tetapi Rion di sadarkan oleh wanita pendamping hukumnya.


" Mereka semua adalah bangsawan terhormat karena kebijaksanaan mereka, untuk masalah anak-anak mereka itu lain lagi." Bisik wanita itu sangat pelan.


Sekarang Rion paham, alasan anak-anak mereka menjadi berandalan.


Tipikal.


" Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, dengan senang hati saya menerima perasaan anda semua. Sebelum itu saya juga meminta maaf yang sebesar besarnya apabila ada kata-kata yang salah ataupun sikap yang tidak sesuai selama persidangan tadi. Saya mohon maaf "


Rion juga menunduk lebih rendah dari mereka, mengalahkan rasa permintaan maaf mereka yang mereka anggap besar.


Mereka berdiri bangkit dan melirik ke arah pendamping hukum Rion.


Namun wanita itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.


Barulah akhirnya mereka tahu, sifat sebenarnya dari sosok yang bernama Rion itu.


Meski hanya satu sifat namun yang satu itu lah yang pada akhirnya membuka pintu hati mereka yang lain.


Ada orang yang mampu merendah ketika mereka sendirilah yang sepatutnya menerima.


" Rion san, kami menaruh hormat kepada Anda terlepas apa yang sudah anak-anak kami lakukan "


Rion yang bingung dan tidak mengerti arah pembicaraan itu bangkit dengan wajah yang membutuhkan penjelasan.


" Rion san, suatu hari nanti tolong bertemanlah dengan putra putra kami dan ajari mereka menjadi orang yang baik seperti anda"


" Tidak.. Tidak tidak, saya tidak masalah dengan berteman. Tetapi mengajari orang untuk seperti saya, saya sendiri bukanlah orang baik seperti yang anda pikirkan. Di luarnya saja seperti orang baik, tetapi didalamnya tidak "


" Anda terlalu merendah. Setidaknya saya lega anda mau berteman"


" Sama dengan disini, saya juga merasakan hal yang sama "


Mereka berbincang sebentar, bukan obrolan berat seperti tadi hanya basa basi kecil di kalangan bangsawan.


Mereka pamit duluan karena mereka tau, Rion tidak mungkin untuk memulai. Mereka senang karena mencegat Rion dan mengajaknya bicara, hanya dengan berbicara mereka tau sifat liar yang di sembunyikan Rion, di kala Rion beberapa kali tidak sengaja lepas kendali dan menggunakan kata non formalnya.


Tetapi mereka yakin, bahwa anak itu murni baik, terbukti di sela-sela canda Rion ketika berbincang.


Kini setelah kehilangan salah satu anggota keluarga mereka, berarti kekuatan pengaruh mereka pun kini berkurang.


Tetapi setelah mendengar penuturan dari Rion bahwa dirinya bersedia membantu sebisanya untuk mengisi kekosongan yang di tinggalkan putra-putra mereka.


Meskipun terdengar mustahil, namun basa basi Yang keluar dari mulut Rion itu sudah seperti cahaya harapan bagi mereka, dan mereka bertekad akan menjadikan cahaya itu sebagai kekuatan untuk bangkit dalam keterpurukan.


Pengaruh Keluarga mereka kemungkinan tidak akan sama seperti sebelumnya, dan kepercayaan dari orang sekitar mungkin akan sulit mereka hadapi. Namun dengan cahaya yang baru mereka dapatkan mereka merasa mampu menghadapi apapun sekarang.


Hingga beberapa minggu setelah hari itu, terdengar kabar baik dari keluarga keluarga itu.


Mereka sudah kembali mendapatkan kepercayaan orang sekitar, bisnis mereka bahkan kembali berjalan. Juga para putra mereka menjalani masa tahanan mereka dengan baik dan mereka juga berusaha menjadi pribadi yang baik.


Dengan sepucuk surat yang ia pegang, Rion tersenyum menatap langit.


Perasaan senang karena dirinya berhasil membuat orang berjalan di jalan kebaikan.


Dan juga secarik potongan kertas kecil yang ia Terima ketika di persidangan.


" 'Jangan percaya dengan Gereja Suci, terutama Frederik' ya?! "


Rion merasa kasus ini tidak berhenti disini, kedepannya akan ada lagi kasus yang serupa, apa dia akan terlihat atau tidak dia harus mempersiapkan semuanya.


Rion curiga kasus Rin juga ada hubungannya dengan si Frederik ini.


Entah kenapa tiba-tiba saja dia berfikir seperti itu.


Meski begitu Rion sama sekali tidak tau apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghadapi orang itu dan pengikutnya.


Satu yang ia tau adalah, orang itu mempunyai batu iblis yang mampu melahirkan iblis yang mampu merusak segalanya.


" Hah, Rudy... Mengapa kau tidak melaporkan hal ini ke pihak Ksatria saja, mengapa harus aku ?"


Rion mengeluh pada pemuda buntung bernama Rudy ini. Rion memijat dahinya yang mulai kesakitan.


" Pasti ada alasan mengapa dia tidak memberi tahu pihak Ksatria, kemungkinan besar pihak Ksatria sudah disusupi anggota si Frederik ini. Mari kita cari tau."


Rion berdiri dan sekali lagi menatap ke langit, satu tinjuan ia tujukan ke langit kala itu.


"Dan kau Frederik awas saja jika kau bermain-main dengan ku!!"


Dengan Deklarasi nya itu, maka bertambah lah agendanya, dan satu langkah menuju pelaku penyerangan Rin.