7 SLEEPER

7 SLEEPER
Kabur



Satu minggu sudah Di lewati, tersisa waktu Satu minggu lagi untuk Rion menebus hukuman dari akademi.


Namun satu minggu tersisa itu harus ia gunakan se efesien mungkin untuk membuat surat permintaan maaf sebanyak 1000 Halaman.


Dan hari ini adalah hari yang tepat untuk memulai.


Kendati waktu satu minggu sebelumnya terbuang, maka dari itu dalam minggu ini dia harus menyelesaikannya mau bagaimanapun juga.


Hari yang tenang tanpa adanya pengganggu.


Tidak ada permintaan konyol lainnya dari orang orang yang merepotkan.


Rion menyewa sebuah kamar di penginapan untuk satu minggu, setelah sebelumnya meninggalkan pesan dalam secarik kertas di kamarnya.


Sekarang Rion punya waktu untuk dirinya sendiri.


Meskipun sedikit ribut di lantai bawah, namun itu masih dalam batas wajar, karena itu adalah penginapan.


Selama 2 hari Rion hampir menyelesaikan sepenuhnya surat permintaan maafnya.


Untuk sarapan makan siang dan makan malam, Rion meminta pegawai penginapan untuk mengantarkan ke kamarnya.


Agar tidak ada yang mengetahui dirinya kini sedang melarikan diri.


Rion membayar mahal pada penginapan untuk merahasiakan keberadaannya dari publik.


Di hari ke Tiga Rion menyelesaikan surat yang ke 1000. Itu tepat pada pagi hari di mana pegawai penginapan mengantarkan sarapan pagi seperti biasanya.


" Onii-Chan sarapan sudah siap "


Sebuah suara kekanak-kanakan menyadarkannya dari lamunan, ketika dia sedang menikmati siraman mentari pagi yang sudah lama tidak ia rasakan.


" Aku datang "


Rion membalas dengan nada menyamai gadis ceria itu.


Rion membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang gadis cilik yang menggeliat malu sedang memainkan jemarinya.


" Hahaha aku mengerti, ini... Terima kasih sudah menemui ku setiap pagi " Sembari menyerahkan satu tas kertas kecil, Rion mengelus kepala gadis itu dan melepasnya beberapa menit kemudian.


Gadis itu berlari dengan langkah kaki kecilnya setelah berterima kasih dengan senyum menyegarkan miliknya.


" Ah !!"


Rion tersentak ketika mendengar suara terkejut dari kamar sebelah yang ia sewa.


" Eh... ?!" Dan Rion tidak kalah terkejutnya dengan pria itu.


Itu adalah salah petualang kota yang cukup sering ia temui di serikat Guild.


" Rion-San !!"


Reflek Rion melompat ke arahnya dan menindih pria itu ke dinding.


" Sssst.., jangan keras keras " Rion juga membungkam mulut pria itu dengan telapak tangannya.


Pria itu mengangguk pertanda paham.


" Baguslah, ingat... Jangan berteriak " Bisik Rion dengan wajah tegas. Dan mulai melepaskan sekapannya.


" Rion-San, Apa yang kau lakukan disini !!"


Ucapnya dengan nada tinggi namun tidak sampai ke taraf sedang berteriak.


" Kau ini... !!" Rion panik dan geram dan ingin menjitak kepala pria yang masih sanggup tersenyum polos.


Pintu kamar lain di lantai tempat mereka berada terbuka hampir bersamaan, beserta penghuninya keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Rion melirik kebelakang dengan perlahan, dan benar saja, Kekhawatirannya terbukti.


Mereka adalah saling menatap selama beberapa detik. Ada kekosongan dalam beberapa detik itu tanpa kata.


Rion mengenali wajah setiap dari masing masing mereka.


Setiap detik berlalu kecemasan semakin menggerogoti hatinya.


Di detik kemudian para penghuni kamar yang lain melompat ke segala arah, mereka berpencar untuk tidak tertangkap oleh Rion.


Rion menyadari ini adalah situasi yang gawat. Karena apa ?


Pertama, dirinya saat ini sedang kabur dari rumah. Kedua, dirinya mendapati kabar dari pegawai penginapan secara rahasia, bahwa keluarganya serta pihak istana  tengah melabeli dirinya seharga 200 keping emas bagi siapapun yang bisa menemukan dirinya.


Dan ke tiga, ini adalah minggu santai untuknya karena bisa lepas dari orang-orang yang merepotkan.


Dan yang terakhir. Persembunyiannya kini ketahuan secara tidak sengaja.


Tidak mau persembunyiannya terbongkar, Rion sebisa mungkin melumpuhkan beberapa orang yang mengobarkan diri mereka agar teman mereka yang lain bisa melaporkan keberadaan dirinya sekarang ini.


Butuh waktu lama dari biasanya bagi Rion untuk melumpuhkan mereka semua, itu di karenakan mereka adalah bukan petualang biasa, ditambah lagi lorong sempit yang membatasi pergerakannya dan juga ia juga tidak boleh sembarangan menyakiti petualang kota yang berkontribusi besar dalam mengurangi populasi monster yang sering merepotkan penduduk di luar dinding.


Dalam waktu 10 menit Rion mampu melumpuhkan hampir 20 petualang pria. Ia tampak kewalahan hanya menghadapi mereka tetapi meski begitu tidak ada cidera serius untuk para korban.


Rion merasa disini tidak aman lagi, dengan cepat ia kembali ke kamarnya dan membereskan barang barangnya termasuk tugas yang selama ini ia kerjakan.


Rion mulai mendengar banyak langkah kaki dari lantai bawah.


Rion sadar waktunya tidak banyak lagi, sedangkan masih ada beberapa barang yang belum tersusun rapi.


Rion bimbang antara tetap menyusun secara rapi dan tertangkap atau memasukannya secara paksa dan kabur tanpa tertangkap.


" Cih, tidak peduli lagi !"


Rion mengumpulkan semua barang bawaannya secara kasar ke dalam tas miliknya, tanpa menyadari bahwa dirinya punya sihir ruang yang orang lain ingin miliki.


Anak ini terlalu bodoh sampai sampai tidak menyadari betapa istimewanya dirinya dan kemampuannya.


Tetapi meski begitu, kebodohannya itulah yang membawanya ke situasi gawat seperti sekarang.


Langkah kaki semakin terdengar jelas dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar, namun sayangnya Rion sudah tidak berada di sana lagi. namun perhatian para petualang itu teralihkan dengan secarik kertas yang tertiup angin dari atas meja.


Di kertas itu sebuah gambar emot cibiran tertera, membuat mereka tersenyum semangat bahkan semakin semangat.


Di tempat lain, Rion berbaur di keramaian pasar.


Perutnya lapar karena tidak sempat sarapan, dan lagi tubuhnya lelah karena mengantuk sehabis begadang semalaman.


Rion menuju ke sebuah kios sate dan meminta 5 tusuk sate.


Rion tidak lupa membayar jajanannya namun ia lupa menutupi wajahnya, sehingga beberapa petualang yang mengejarnya menangkap kedua bahunya dari belakang.


Rion bahkan belum menggigit satu gigitan pun dari sarapannya itu, dan harus merelakan untuk menunda sarapannya.


Rion berbalik dan mendorong semua tusuk sate miliknya ke mulut kedua orang yang menahannya, dan karena kaget genggaman mereka terlepas sehingga Rion kembali kabur dari pengejaran.


Namun mereka tidak melepaskannya begitu saja, ada team lain disekitar yang melihat kejadian itu sehingga mereka bisa dengan sigap membagi peran mereka dalam penyergapan yang tidak biasa ini.


Meski mereka membuat keributan tetapi sebagian besar masyarakat sama sekali tidak terganggu, melainkan mereka merasa terhibur dengan pertunjukan kemampuan dari para petualang yang  jarang mereka lihat.


Terlebih lagi kabar tentang sayembara ini sampai tersebar ke berbagai distrik.


Kita kesampingkan pengejaran Rion sebentar...


Di tempat jajanan sate yang sebelumnya, tampak sosok gadis berbalut pakaian yang tidak biasa, ia menutupi kepalanya dengan jubah sehingga wajahnya tidak terlihat jelas, namun dari senyumannya penasaran siapapun bisa mengatakan bahwa gadis itu mempunyai wajah yang cantik seperti senyumannya, dan gadis itu tengah tersenyum lembut kearah kelompok pengejaran.


" Ah, tidak. Aku hanya penasaran "


" Sebaiknya kau hentikan saja Nona, bahkan petualang terkuat di sini saja sampai mengerahkan puluhan petualang."


Gadis misterius itu masih saja menatap keributan yang mengherankan di depannya.


Mereka lebih terlihat seperti bermain kejar kejaran ketimbang penangkapan.


Tidak ada kemarahan di wajah masing masing mereka, yang ada hanya senyum, tawa dan sesekali ejekan yang biasanya anak anak lakukan.


Terlebih sorakan dari penduduk yang memeriahkan suasana, menjadikan pemandangan itu sebagai festival.


Gadis itu tersenyum sebentar dan membuka penutup kepalanya, bertepatan dengan Rion yang berbalik arah dan menuju kearahnya.


Dari balik penutup kepala itu sosok menawan dengan mata biru yang cantik secantik wajahnya.


Jemarinya menyisir rambut peraknya yang berkilauan ketika terkena sinar matahari.


Dan hal itu tidak luput dari perhatian Rion, Rion yang mengenali sosok itu langsung memutar haluannya dan menghampiri gadis cantik itu dan berhenti tepat di depannya.


" Nia ~ lama tidak berjumpa"


Ucap Rion dengan nada manja, yang membuat para pengejar jatuh lemas sampai meluncur di jalanan.


Harga diri mereka tercoret karena usaha mereka kalah saing dengan wanita cantik yang bisa membuat Rion tidak bergerak.


Terlebih lagi para wanita petualang yang tidak kalah cantik yang ikut dalam sayembara. Harga diri mereka sebagai wanita lebih tercoreng ketimbang harga diri mereka sebagai petualang.


Bagaimana tidak, wanita di depan mereka benar-benar cantik secara alami dengan warna mata dan rambut yang indah.


Wajar saja Rion sampai terpesona dengan kecantikan gadis itu.


Mereka berpikir, bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk menangkap Rion, target mereka.


Tetapi entah mengapa didalam hati, mereka sepakat bahwa itu adalah tindakan tidak terpuji ketika mengganggu sepasang gadis cantik dan pemuda tampan sedang bermesraan.


Mereka tidak menyadari jika mereka sudah tertular virus yang di sebut kebodohan dari Rion.


Mereka menunggu dengan sabar sambil menikmati moment menggemaskan dari dua sejoli yang tampak serasi itu.


Tidak ada yang berani mengganggu pasangan itu sedang bertukar kata, bahkan anjing liar ganas pun segan dan menghindari mereka berdua.


Lama mereka menunggu tanpa bosan karena pemandangan itu layak untuk di nikmati.


Dan barulah sepuluh menit kemudian mereka tersadar dan terkejut ketika target mereka dapat di lumpuhkan di sela gelak canda tawa pasangan itu.


Bertambah tercoreng nya harga diri mereka kalau itu, terlebih itu hanya dengan satu pukulan dari sang gadis yang terlihat lemah gemulai itu.


Mereka melihat Rion di pukul di perut, bahkan itu hanyalah pukulan ringan, tetapi mampu membuat Rion terkapar sampai mengeluarkan bisa di mulutnya. Matanya terlihat mati dan badannya kejang kejang.


Selain itu, gadis yang menjadi lawan bicaranya tadi  tengah sibuk melilit tubuh Rion dengan tali yang ia dapat entah dari mana dengan santainya, seperti itu adalah hal yang wajar.


Tetapi semua orang yang melihat hal itu merasa yakin, bahwa kejadian ini seharusnya bukan seperti itu.


Seorang gadis yang tampak lemah dan terlihat seperti gadis yang tidak mampu mengangkat benda yang lebih berat dari sendok dan garpu, mampu melumpuhkan seseorang bernilai 200 keping Emas.


" Paman, Terima kasih jajanannya, kembaliannya ambil saja "


Dengan suara riang dan lucu, gadis itu berlalu pergi setelah sebelumnya menyerahkan satu keping emas kecil kepada penjaga kios.


" Eh ?  Ah! Terima kasih ?"


Penjaga kios itu gelagapan karena dialah yang paling dekat dengan mereka berdua, tetapi dirinya sama sekali tidak dapat mengikuti kejadian yang terjadi begitu cepat dan tiba-tiba itu.


Meninggalkan penjaga kios yang kebingungan, Gadis yang disapa Nia itu beralih ke salah satu petualang yang ia rasa adalah pemimpin mereka sembari menyeret tali yang mengikat Rion seperti kepompong itu.


" Terima Kasih atas kerja samanya, seperti yang di janjikan.. Terimalah "


Setelah menyerahkan sekantong uang kepada pemimpin mereka, Nia kembali menyeret Rion pergi keluar dari keramaian yang di antar oleh tatapan bingung dari setiap orang di sana.


""" APA-APAAN ITU !!! """


Setelah sekian jauhnya keluar dari area pasar, Nia dapat mendengar teriakan petualang dan warga yang berbelanja di pasar.


Bahkan ketika dalam perjalanan ke istana pun mereka masih saja menjadi tontonan menarik. Terlebih Nia yang perawakannya lebih kecil tengah menyeret pemuda 200 keping emas.


Hingga nantinya ke depan.


Berita ini tercatat dalam sejarah Negeri Rose Guard tercinta, sebagai hari libur Nasional dan akan di rombak menjadi festival Petak umpet berhadiah.


******


Mengesampingkan hal yang akan lama terjadi itu, kita kembali ke topik awal.


Nia akhirnya sampai di halaman depan istana dan tanpa terganggu dengan semua tatapan dari penjaga, ia langsung masuk tanpa segan. Sambil menarik Rion yang terikat seperti kepompong tentu saja.


Di halaman istana pun tidak sedikit mata yang juga memperhatikan mereka. Entah sejak kapan, mereka merasa jika ini bukan lagi istana yang dulu mereka kenal.


Istana yang dulunya disegani sekarang sudah menjadi panggung komedi. Tiada hari tanpa tawa di kediaman ini.


Bahkan sejarahwan akan menangis jika melihat kejadian yang selalu mengagung-agungkan kemartabatan keluarga kerajaan yang satu ini.


Bagaimana tidak, seperti yang semua orang tahu, bahwasanya Leluhur di Zaman dahulu sangat menjujung tinggi harkat martabat keluarga kerajaan.


Tidak di perbolehkan bagi keluarga kerajaan untuk bertindak tidak elegan, semua harus terlihat menawan. Baik cara bicara maupun cara berjalan.


Bertindak kasar sangat tidak diperkenalkan, jangankan berbuat untuk berpikir akan melakukan hal konyol saja sangat tidak di anjurkan, apalagi didepan Umum. Hal itu akan merusak martabat dan citra keluarga kerajaan di mata publik.


Namun hal itu tidak berlaku untuk generasi sebelumnya, hingga sekarang.


Baik Pelayan ataupun penjaga di istana sedikit menyesalkan kejadian ini, namun tidak sedikit juga dari mereka yang menyambut bahagia dengan suasana yang meriah ini.


Tamu kehormatan seperti Bangsawan kelas bawah yang menitipkan Putra Putri mereka di istana ini untuk belajar tatakrama kebangsawanan pun, sedikit meragukan Kredibilitas Kebangsawanan Kerajaan ini.


Namun satu hal yang pasti tempat inilah satu-satunya tempat yang tepat. Tempat inilah tempat yang aman untuk putra putri mereka, dimana putra-putri mereka akan mendapatkan pelajaran yang tepat, tanpa harus tertekan oleh bangsawan kelas atas yang bisa merusak mental putra-putri mereka.


Dan istana inilah tempat orang-orang hebat dilahirkan, hingga mampu mengangkat martabat keluarga mereka, hingga membantu perekonomian keluarga.


Tidak ada guru di sini, hanya ada orang-orang hebat yang selalu melakukan hal-hal hebat, putra-putri mereka seharusnya mampu menyerap semua ilmu yang di suguhkan kepada mereka tanpa segan.


Mau itu tentang logistik maupun militer, dan tak jarang pula mereka akan di seret secara tak sengaja ke kasus tak masuk akal sekalipun, dalam artian positif tentu saja.


Penjaga yang notabene nya pekerjaan yang membosankan akan menjadi sesuatu yang paling diminati dikalangan pemuda. Karena banyak ivent tak terduga yang kendalanya sering membuat mereka terus bergerak.


Sedangkan pelayan adalah pekerjaan yang di incar oleh para Pemudi, meski sering di remehkan oleh Bangsawan Kalangan Atas, namun satu hal yang Bangsawan Elite ketahui adalah, banyak ilmu di bidang kecantikan yang tidak segan-segan wanita kerajaan bongkar.


Bisa di ibaratkan, "Gundukan tanah akan menjadi Emas dan Besi akan menjadi Permata".


Itulah istilah yang terkenal di kalangan Pemuda yang bekerja di istana.


Selain itu, pembawaan Keluarga Kerajaan yang Sopan dan Riang, membuat siapa saja tidak akan Bosan berada di sekeliling mereka. Terlebih makanan lezat yang selalu menghiasi waktu makan mereka, meski mereka hanya seorang pekerja.


Sekarang...


Kita kembali ke tokoh utama kita yang tidak menawan ini.


Di Aula pertemuan Rion melihat Yang Mulia Raja duduk di Singgasana dengan posisi Terbalik.


" ..... "