7 SLEEPER

7 SLEEPER
Kekacauan dari Sang Buta Map



Setelah apa yang sudah terjadi di Guild kemarin, kami bertiga banyak di kejutkan dengan berbagai hal.


Mulai dari Albert-San yang ternyata adalah adik kandung dari Alfred-San, hingga keterlibatan langsung beberapa party petualangannya dalam insiden perdagangan Manusia. Gadis Bermata Lapiz contohnya.


Berdasarkan informasi dari petualang yang berspesialisasi di bidang pengintaian, sudah dipastikan party petualang yang terlibat memiliki ciri yang sama dengan party yang menjual para gadis tempo hari.


Ini menjadi pukulan keras bagi Serikat Guild, terutama Albert-San selaku Master Guild.


Tidak dipungkiri lagi, kelalaiannya sebagai Komando tertinggi menjadikan kasus kali ini sebagai daftar kelam Guild Petualang.


Dengan penuh tanggung jawab, mereka berusaha mengumpulkan Petualang petualang kuat untuk di rekrut.


Penyerbuan kali ini juga sudah sampai ke telinga masyarakat, meski dengan resiko informasi akan bocor ke pihak musuh.


Namun, seseorang berkata "biarkan mereka tau, mereka tidak akan Mau kabur dengan pasukan mereka yang besar."


Yah... Jika ini gagal, mari kita salahkan orang itu.


Sekarang waktunya rutinitas pagi ku.


Ehem... Bukan yang itu, Jangan salah paham....


Aku bangun sedikit cepat dari jadwal biasa aku bangun.


" Jadi Disini matahari terbit kurang lebih sekitar 07:30, dan sekarang masih 05:30. Hmm... Ada dua jam selisih. Apa yang harus kulakukan ?, terlalu dini untuk lari pagi."


Disaat merenung di kasur ku, dibalik pintu kamar tempatku menginap, terdengar beberapa keributan kecil. Saat ku intip, semua Pelayan dan Maid tampak sibuk mondar-mandir di lorong.


Mereka tengah sibuk mempersiapkan kebutuhan semua penghuni Mansion.


" Tuan Rion, selamat pagi. "


Disaat tengah asik memandangi wajah panik Maid yang terlihat menyegarkan, suara yang familiar mengejutkan ku dari balik pintu. Dan seorang wajah baru juga terlihat di samping Harry.


" Harry, pagi "


Itu adalah Penjaga Mansion ini yang beberapa hari ini selalu ku temui setiap bangun pagi.


" Tidak perlu sopan seperti itu tuan, Tuan Rion dan teman-temannya adalah Tamu Tuan Besar"


" Hahaha... Tidak masalah, aku lebih nyaman seperti itu "


Merasakan tidak bisa menolak dia mengangguk paham.


" Apa anda akan berlatih lagi hari ini ?" Tanya Harry antusias, terlihat jelas dari raut wajahnya.


" Osh, hanya saja aku tidak terbiasa dengan waktu disini, tapi tidak apa-apa, aku jadi bisa latihan lebih lama "


" Apa aku juga boleh ikut bergabung hari ini ?, setelah ini kami kosong. Ah, itu jika anda tidak keberatan."


" Oui " Angguk ku mantap.


" Ah, benar. Maaf telat memperkenalkan. Teman ku ini adalah Boris. Teman semenjak kecilku."


" S..saya Boris, s..salam kenal tuan "


Orang yang namanya tiba-tiba dipanggil itu, panik dengan cara yang lucu. Tidak sesuai dengan seragam yang dikenakannya, sedangkan Harry yang disebelahnya dengan wajah gembira menikmati wajah panik teman masa kecilnya.


" Hahaha santai saja jika dengan ku, kita tidak berbeda jauh, tidak perlu tegang seperti itu."


" Ah sebelum itu..." Lanjut ku, dengan senyum joker.


Menyadari arti senyum itu, Harry ikut tersenyum yang sama. Tinggal Boris dengan wajah 'ada apa' nya.


Setelah dikawal ke kamar mandi dan cuci muka, kami terus menuju dapur yang sudah mulai sibuk.


Aku meminjam satu kompor yang sedang menganggur.


Ku rebus air di panci, sembari menunggu mendidih ku seduh bubuk hitam yang sudah ku buat banyak dihari sebelumnya.


Beberapa orang di dapur juga menunggu dengan antusias, jadi kenapa tidak ku buat saja untuk semua.


Tak lama, air sudah mendidih. Ku seduh ke masing-masing gelas mereka. Aroma khas nya yang menggoda lidah mulai mengisi ruangan, mengalahkan aroma lezat makanan yang sedang koki buat.


Satu persatu gelas gelas itu menghilang dari meja. Ajaibnya secara serentak mereka menghirup dulu aroma minuman di gelas mereka sebelum menyeruput nya.


Terlihat wajah puas dan tenang dari mereka semua.


Dan tidak lupa, ku keluarkan cemilan yang menemani minuman mereka.


Baru saja keluar dari Oven.


" Hati-hati, masih panas. Frees from Oven" Ujarku.


Tak sampai sepuluh detik cemilan cemilan itu juga lenyap.


" Aku tau kalian senang, tapi jangan lupakan pekerjaan kalian."


"" Ya... ""


Usai menyuguhkan aku ikut bergabung di meja Harry. Tentu saja aku sudah menyisihkan untukku juga.


" Boris, apa ada yang tidak sesuai dengan lidah mu ?"


" Ah, maaf. Tidak tidak ada.. " Boris terus menyeruput dan mengunyah Cemilan di depannya.


" Begitu kah, baguslah jika kau suka"


" Tapi... Apa ini tidak termasuk pemborosan ?"


" Apanya pemborosan, ini hanya Kopi " Ujarku.


" Bagi rakyat jelata seperti kami, minuman seperti ini sudah seperti pemborosan. Minuman seperti Kopi hanya membuang-buang uang. Aku merasa seperti akan di pecat jika tau barang mewah seperti kopi ini di beri untuk orang kalangan bawah seperti kami "


" Tidak perlu khawatirkan hal yang tidak penting."


" Tapi tuan.."


" Sudah habiskan saja cemilannya, setelah ini kita latihan "


" Tapi.."


Boris tampak ragu-ragu pada awalnya, namun setelah semua orang dengan santai menyantapnya dia tidak segan-segan lagi, seakan-akan kejadian seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.


10 sampai 15 menit kemudian kami pindah ke lapangan latihan. Suhu masih dingin sampai-sampai menembus ke tulang-tulang ku, aku harus terbiasa dengan semua ini.


Di Lapangan beberapa prajurit sudah mulai mengisi tempat latihan. Meski terhuyung ketika berlari, mereka tetap mendengarkan kapten mereka. Mereka sangat rajin.


" Rion-Sama, kami undur diri dulu, kami harus melapor kepada kapten. Terimakasih atas sarapannya, permisi "


Harry dan Boris berlari dengan sigap setelah berterima kasih.


Aku tidak tau dengan jelas apa saja yang mereka bicarakan, tetapi dari jauh aku bisa menebak.


" Ah, sudah kuduga "


Dengan lesu, Harry dan Boris ikut masuk dalam barisan prajurit yang berlari. Tampak kawan-kawannya juga mengejeknya.


Mari abaikan, aku harusnya juga latihan. Sebelum itu, mari pemanasan dasar.


Terdengar langkah kaki mendekat disaat aku sedang pemanasan.


" Rion Sama, maaf mengganggu latihan anda, boleh bicara sebentar ?, tidak apa-apa sambil anda terus melanjutkan pemanasan nya."


" Tentu, tentang apa ?"


" Ini tentang anggota ku yang selalu merepotkan anda, meski anda adalah tamu tuan"


" Kapten, anda terlalu tegang. Sekali-sekali cobalah untuk melunak. Hal semacam ini sudah biasa bagiku "


" Tapi tetap saja, itu semua tidak.."


" Kapten, sudah kubilang. Anda perlu bersantai sejenak. Terlalu tegang akan membuat otot-otot mu kaku"


Kapten tampak tidak Terima dengan idealisme ku, sikap profesional nya mendorong nya menjadi kepribadian yang dingin.


" Kapten, menjadi tegas itu tidak buruk. Tapi kita juga harus melihat sekitar kita, apakah semua yang kita ingin kan bisa diterima orang lain atau tidak, terutama dengan prajurit mu. Meski mereka berlatih dengan keras dengan porsi dan menu latihan yang sama, namun tidak semua dari mereka akan memenuhi ekspetasi anda. Masing-masing individu mempunyai keahlian dan kekurangan mereka masing-masing. Kita tidak boleh menyamaratakan mereka semua, sedari awal mereka sudah berbeda dari anda dalam segala aspek."


Kapten hanya diam mendengar ceramah ku, meski tidak kulihat aku bisa merasakan tatapan tak terimanya tertuju padaku.


" Kapten, aku tidak akan mengambil prajurit mu, jadi tidak perlu cemas begitu " Sahut ku sembari terus melanjutkan pemanasan yang sebentar lagi selesai.


" Yosha.. Selesai.. " Ku tatap kapten, wajahnya heran dengan teriakan ku sebelumnya.


" Kapten, kalau boleh aku akan menunjukan langsung padamu, maksud perkataan ku tadi "


" Ya, tolong "


" Kalau begitu, aku pinjam prajurit mu sebentar " Tanpa menunggu persetujuan beliau, aku memanggil mereka untuk berkumpul di tengah lapangan latihan. Wajah mereka tampak tersiksa dengan nafas berat.


Aku membuat mereka berbaris dengan jarak bentangan lengan mereka.


Dengan patuh dan tanpa bertanya apa-apa mereka melakukannya.


" Waktunya pendinginan, ikuti gerakan ku " Ujarku sembari menghitung satu sampai delapan.


Pendinginan membantu melemaskan otot otot mereka yang kaku setelah berlari.


" Dengar, berlari dengan perut kosong sangat berbahaya bagi tubuh. Jika kalian merasa mual. Lakukan seperti ini, dengan kaki di posisi ketika kita berdiri seperti saat ini, bungkuk kan tubuh kalian dan jangkau ujung sepatu kalian dengan ujung jari kalian. Jangan terlalu dipaksakan, inti dari gerakan ini adalah membuat kepala kalian lebih rendah dari perut. Jadi akan membantu darah mengalir ke otak."


Beberapa prajurit ber 'O' ria didalam barisan.


Satu persatu ku tunjukan gerakan dan mengatasi gejala ketika latihan berat. Aku juga menyelipkan beberapa tips agar tidak membebani tubuh ketika latihan, Makanan untuk menambah massa otot dan tinggi badan.


Di penghujung acara. Aku meminta kapten yang sedari tadi diam untuk menunjuk salah seorang prajuritnya sebagai lawan latihan ku.


" Harry, karena kau sarapan lebih dlu dari yang lainnya, jadi kau yang akan maju " Ucapnya dengan wajah seramnya.


Harry dengan senang hati menerima tantangan ini, lagi pula ini sesuai dengan keinginannya.


Dengan pedang kayu pendek kami bertukar pukulan beberapa kali. Pukulannya tidak terlalu kuat, tebasan nya juga tidak ada yang sia-sia. Ini adalah bukti latihan yang diberikan kapten sudah bagus.


Setelah bertukar pukulan beberapa kali, aku memberi kode untuk ke tahap selanjutnya.


" Mulai dari sini aku akan menunjukan maksud dari perkataan ku yang sebelumnya " Ujarku pada kapten.


Harry membalas anggukan ku, ia dengan cepat berlari ke tepi lapangan dimana rak senjata latihan di susun rapi, dan kembali dengan wajah segar.


Ditangannya kini ia sudah menggenggam dua pedang kayu yang ukurannya sama. Seketika setelah menghirup nafas panjang, ekspresinya berubah, sorot matanya tajam menatapku, dan atmosfir di antara kami berubah mencekam seketika.


Semua penonton tampak menelan ludah, mereka seperti mengharapkan tontonan yang mengagumkan.


Dengan daun yang jatuh di depanku dan menutup sedikit penglihatan ku, menjadikannya sebuah aba-aba bahwa pertandingan kedua dimulai.


Disaat daun itu lewat, tubuh Harry sudah menerjang ke arahku dengan salah satu pedangnya akan menggapai ku.


Tentu saja aku sudah memprediksi akan hal itu, tanpa pikir panjang ku tarik satu kaki kebelakang sejauh mungkin, sehingga tubuhku turun rendah dan tebasan pertama lolos dan tidak mengenai ku.


Tak hanya sampai disitu, dengan masih tubuhnya di udara Harry berputar dengan momentumnya dan tebasan di tangan lainnya datang dengan lurus, aku menangkisnya dengan pedang kayu ku satu-satunya.


Melihat serangannya gagal, Harry melompat ke belakang beberapa langkah.


" Owh, hanya dalam beberapa hari, kau bisa menguasainya, aku menghargainya"


" Ini semua berkat arahan dari anda yang mudah di mengerti, aku berterima ka...sih"


Di ujung kata terakhir Harry lagi-lagi memberikan serangan kejutan lainnya, dengan sekejap ia sudah menebaskan serangan Vertikal. Ini belum seberapa dan aku hanya perlu menahannya horizontal.


Wajah percaya dirinya ku patahkan. Namun Harry tidak menyerah sampai disitu. Dengan inisiatifnya ia melonggarkan genggamannya sehingga pedangnya lepas, namun Harry dengan jemarinya yang terampil mampu memutar pedangnya dengan genggaman kebawah seperti Assassin dengan pisaunya, Harry kembali menebas dengan tebasan silang ke perutku.


Aku yang sedikit tidak menduga hal itu, beruntung karena langsung mencoba melompat ke depan dengan berpegangan ke kepala nya dan mendarat dibelakangnya.


Mengakibatkan tebasan silangnya hanya mengenai bayangan ku.


Tuuk !


Satu pukulan pelan ku hadiahkan ke kepalanya sebelum mendarat.


Harry bersujud sembari memegangi bekas pukulan ku, kedua kalinya meronta dan menendang nendang tanah.


" Hahaha maaf, apa sesakit itu " Canda ku.


" Sakit loh.. " Meski mengeluh ia kembali bangkit.


" Hahaha maaf, aku spontan "


Mengabaikan Harry aku kini menghadap ke arah kapten yang tertegun.


Eh, hanya segitu saja bisa tertegun ? Kami bahkan belum masuk acara utama padahal.


" Selanjutnya, tarian pedang " Sahut ku.


" Ini dia yang ku tunggu "


" Kau siap ?"


" Aku siap kapanpun "


" Majulah !"


Dengan aba-aba ku, Harry lagi-lagi meluncur dengan cepat, tebasan demi tebasan ia berikan tanpa henti, tak ada satupun serangan yang sia-sia dari setiap tebasan yang ia kirim.


Aku pun juga begitu, dengan teknik kendo yang sudah ku kuasai ku mulai serangan balasan. Sesekali Harry juga melancarkan serangannya sembari menahan tebasan ku.


Itu berlangsung sekitar 5 Menit, namun itu adalah 5 menit terlama bagi Harry yang mulai kehabisan stamina.


Hingga di akhir serangan vertikal ku, dengan sisa tenaga yang ia miliki Harry menahannya dengan menyilang kan bilah pedang dan membentuk sebuah gunting di atas kepalanya.


" Yup benar, sudah bagus "


Aku pun mulai melonggarkan tekanan dan menarik pedang ku kembali.


Harry jatuh terduduk karena kelelahan.


" Hahaha kau harus memperbaiki stamina mu lagi"


" Sepertinya begitu " Jawabnya setuju.


" Jadi begitulah apa yang ku... Apa-apaan wajah kalian itu " Ucapku mengganti kalimat di akhir.


Semua orang meski menatap dengan apresiasi, namun wajah mereka terlihat kosong.


" Ehem.. " Kapten lah orang pertama yang kembali ke kesadarannya. Dengan ehem nya yang khas.


" Intinya, masing-masing personil memiliki pesona dan keahlian mereka masing-masing. Jika kita memoles pesona mereka dapat dipastikan mereka tidak akan kalah dengan Ksatria di ibukota" jelas ku.


" Saya mengerti, pertandingan tadi sudah membuka mata saya. Kedepannya saya akan mempertimbangkan latihan personil secara khusus. Terima kasih dengan saran yang anda berikan. " Kapten memberikan hormat ala ksatria nya.


" Dan juga... "


Aku juga memberikan beberapa saran, seperti penggunaan perisai ketika menghadapi pengguna sihir yang umumnya berupa proyektil.


Aku juga menjelaskan, dengan Hanya sedikit mengubah sudut genggaman, sudah mampu membelokkan tembakan bahkan bisa memecahkan sihir tersebut tanpa membuat pengguna perisainya terlempar.


Hal itu juga di praktekkan langsung dan teruji ampuh.


Aku juga memberi tau mereka para pengguna sihir spesialis pertahanan, di bandingkan dengan membuat dinding tebal untuk bertahan, membuat dua dinding dengan sudut siku di tanah juga bisa memecahkan sihir tingkat menengah tanpa merusak sihir nya. Sama halnya seperti batu batu Karang pemecah ombak di tepi pantai.


Setelah bereksperimen ini itu dan mengalami trial dan eror, mereka perlahan mulai terbiasa meski terkadang canggung karena percobaan yang terlalu mendadak.


" Selanjutnya tinggal kalian kembangkan dengan gaya militer kalian. Tapi ingat seni militer juga ampuh, jika kalian mampu mengkolaborasikan kan, itu akan sangat bagus sekali, jadikan itu ciri khas dari kesatuan batalion kalian. "


"" Siap laksanakan !! "" Teriak mereka semangat.


" Kalau begitu kapten, aku izin undur diri dulu. Ada beberapa persiapan juga yang harus ku siapkan. "


" Maaf sudah menyita waktu anda. Terima kasih atas saran anda, kami mempelajari banyak hal, hari ini "


" Jangan terlalu dipikirkan, anggap saja sedang sharing "


" Sharing ?"


" Dan juga, jangan terlalu keras pada mereka. Meski begitu mereka ini adalah orang dewasa, sebagai kapten anda hanya harus meluruskan saja dan bimbing jika mereka salah, skill dasar sudah mereka miliki. Tinggal dipoles di sana sini saja. Ah, maaf jika aku banyak bicara, kalau begitu aku pamit dulu, sampai jumpa"


Secepat angin aku kembali masuk kedalam melewati jalur yang sebelumnya ku lewati.


Alhasil selama kurang lebih 15 menit aku hanya berputar putar di lorong yang sama. Hingga kemudian salah satu Maid menemukan ku secara tidak sengaja karena tidak menemukan ku di kamar.


Sarapan sudah siap sedangkan aku penuh keringat. Dengan menyembunyikan tawanya Maid itu mengantarkan ku bolak-balik hingga ke ruang makan.


Sedikit terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sarapan.