
Rion berjalan di lorong yang semestinya bukan tempat ia berada, semua siswa menatap remeh dirinya.
Lorong itu bukanlah lorong tempat kelasnya berada, dia juga bukan sedang tersesat seperti biasanya.
Lorong itu adalah lorong dimana Kelas Siswa yang mulai hari ini, adalah Peserta didiknya.
Entah angin topan apa yang membawa nya hingga kemari tanpa tersesat.
Meski tidak semua Siswa menatap sinis kearahnya, tetapi tidak sedikit juga Siswi yang menatapnya dengan lirikan yang Menggoda.
Rion itu masih muda, Kecil, punya senyuman manis dengan wajah Nakal dan lagi, dia adalah seorang Junior, dengan seragam yang sudah ia modifikasi sedemikian rupa hingga terlihat keren ketika dikenakannya.
Dia juga sesekali diseret oleh Senior aduhai ketika menanyakan arah, dimana saja kelas Senior yang ia cari.
" Permisi, apakah Senior Sharon ada disini ?"
Salah satu Siswa melihatnya tengah berdiri di depan pintu kelas, sembari memberikan tatapan tidak peduli.
Di sisi lain.
Mengabaikan kepentingan Rion, para siswi di sana malah mengerumuni Rion, seperti semut yang menemukan Gula.
Rion tidak bisa melawan wanita dan hanya bisa pasrah semoga seseorang akan membubarkan kerumunan ini.
" Hentikan keributan ini !!" Sharon yang tampaknya sangat disegani itu mampu membubarkan kerumunan hanya dengan kehadirannya.
" Oh, senpai aku tertolong "
" A..ada perlu apa dengan ku " Sharon masih sedikit takut dengan Rion. Gadis itu cemas jika saat ini Rion akan menantangnya Duel karena kemarin dia sudah berlaku tidak sopan.
Tetapi kekhawatirannya itu salah, Rion hanya menitipkan jadwal latihannya untuk 2 bulan kedepannya.
" Tolong bagikan juga untuk semuanya "
" Kenapa harus aku ?"
" Meski malu mengakuinya, aku ini gampang tersesat. Jadi aku serahkan semuanya padamu. Sudah ya, sampai ketemu nanti sepulang sekolah "
Tanpa menunggu persetujuan Gadis itu, Rion melesat pergi dari sana sebelum dia kembali di tangkap oleh para karnivora yang kelaparan.
Para gadis yang ia tinggalkan itu bersorak menggoda Sharon karena di datangi Laki-laki manis yang lebih muda darinya.
Para gadis berfikir, musim semi akhirnya datang kepada Sharon yang terkenal Anti anak laki-laki itu.
Para gadis bahkan ada yang memberikan selamat kepadanya secara langsung.
Sharon yang geram, hanya menahan rasa malu. Gadis itu terlihat seperti tidak menolak dengan sorakan dari teman-temannya dan tampak menikmati.
" Apa yang anak tadi berikan ?"
" Sudah pasti itu adalah Surat cinta, tidak salah lagi"
" Dia juga bilang sampai ketemu sepulang sekolah kan ?"
" Ah.. Aku sangat iri "
" Aku juga ingin punya pacar "
Satu persatu temannya mengutarakan isi hati mereka. Sharon yang tidak tahan dengan godaan itu, kabur keluar kelas meninggalkan teman-temannya yang berhalusinasi.
Di lorong sepi tanpa ada satupun orang di sana, Sharon membenamkan wajahnya di salah satu Tiang.
Gadis itu tampak tengah meremas seragamnya, wajahnya panas dengan warna merah padam.
Jantungnya berdebar sangat kencang, itu adalah pengalaman pertamanya di goda oleh teman sesama wanita.
Meskipun itu bukan seperti apa yang teman-temannya pikirkan, namun dia sangat amat senang dengan delusi Dari kawan-kawannya.
Dan lagi, ini kali pertamanya ada Laki-laki yang berani berbicara santai dengannya.
Lagipula dia mempunyai calon Pangeran pilihannya sendiri.
#krusuk krusuk krusuk
" !! "
Sharon teralihkan dari lamunannya ketika mendengar suara dari semak di tepi halaman.
" Bah !! "
Seseorang yang muncul secara tiba-tiba itu mengagetkan Sharon dengan cara yang ke kanak-kanak, sehingga secara otomatis membuat Sharon mundur menempeli dinding dengan langkah seribu.
" Riririririri Rion san ?"
" Hahaha, banyak sekali Ri nya " Rion keluar dari persembunyiannya dan segera membersihkan dedaunan yang menempel di seragamnya.
" Maaf senpai, apa aku mengagetkan mu ?"
" .... "
" Sudah ya, aku pergi dulu "
Meninggalkan Sharon yang kebingungan, Rion kembali melesat dengan cepat dan menjauh dari pandangannya.
Sharon semakin berdebar-debar, entah itu karena bertemu kembali dengan Rion atau karena efek terkejut, tetapi yang jelas wajah yang ia buat saat ini adalah wajah seorang gadis.
Sepertinya pangeran pilihannya punya saingan.
**********
Bell terakhir sudah Berbunyi dari tadi, dan itu tandanya kegiatan pelajaran dari Rion segera dimulai.
Rion di beri izin khusus untuk menggunakan Lapangan latihan di dalam Ruangan.
Ini sudah seperti arena saja jika di bandingkan lapangan untuk latihan.
Dengan bentuknya yang melingkar, membuat Rion dapat dengan mudah membagi area khusus untuk masing-masing muridnya.
" Yosha !!, Mulai hari ini kita di izinkan untuk menggunakan tempat ini sesuka kita. Oleh karena itu jangan segan-segan untuk mengeluarkan kemampuan kalian " Sorak Rion.
" Tolong jangan merusaknya terlalu banyak, ku mohon"
Dari arah belakangnya, kepala sekolah yang terikat tali tambang memohon ampunannya.
" Apa yang anda katakan, kami di izinkan untuk menggunakan tempat ini dengan bebas kan ?" Rion menempelkan dahinya ke dahi Sang Kepala Sekolah, seraya mengancam dengan wajah seramnya.
" Aku.. Aku... Aku menyerah "
" Seperti yang sudah kita dengar, jangan malu-malu untuk mengamuk "
Meskipun Rion sudah berkata begitu, tetapi melihat kondisi kepala sekolah saat ini memprihatinkan, menjadi tanda tanya besar di benak mereka.
Di dalam hati mereka, mereka memikirkan satu kemungkinan penyebab pemandangan konyol ini.
"" Pasti karena itu ""
Seperti yang kita tahu, Rion sudah di tipu oleh kepala Sekolah tentang Kartu Bebas Petualang kan ? dan ini adalah bentuk balasan dari Rion yang tidak bisa membatalkan Kontrak yang sudah ia buat seenaknya.
" Ano... "
" Ya, Lux Senpai "
" Apa yang harus kami lakukan ?"
" Pertanyaan bagus "
Rion menjentikkan jemarinya, di waktu yang bersamaan sebuah tas jinjing kertas Muncul di hadapan masing-masing Senpai nya.
" Ini... Sihir Ruang !?"
" Tidak mungkin, sihir ruang bukankah itu materi untuk kelas Dua ? Dan lagi itu adalah di kelas khusus kan ?!!"
" Rion san, siapa sebenarnya dirimu ?"
Rion tidak mendengar setiap pendapat dan pertanyaan dari setiap Senpai nya, dia terlalu sibuk mempererat ikatan kepala sekolah yang mencoba Kabur darinya.
Bahkan pemandangan kasar itu tidak pantas untuk di perlihatkan kepada Murid dimana Kepala sekolah di ikat sedemikian rupa hingga hampir menyamai Ulat yang meronta-ronta.
Mereka kasihan dengan Kepala sekolah, namun mereka tidak berani berkomentar. Mereka takut berada di posisi Kepala Sekolah hanya dengan melihatnya saja.
Senior yang penasaran isi dari tas tersebut, mengintip dan mengeluarkan isi dari tas tersebut.
" Apa ini ?"
" Satu set pakaian olahraga ?"
" Bukankah kita sudah punya pakaian olahraga raga sendiri ?" Tanya Sharon heran.
" Benar !!, Rion Kun apa yang sudah kau Lakukan !! Ini sama saja dengan mencoreng nama baik Desainer Pakaian Olahraga Raga !!"
" Diam kau Orang Tua Mesum !" Terdapat penekanan dari kata-katanya ketika kepala sekolah membenarkan kata-kata Sharon.
" Maafkan aku " Kepala sekolah menurut dan kembali kebelakang.
" Hah, aku tau sekolah punya pakaian Olah Raganya sendiri, tapi... Bagiku itu terlalu terbuka "
" Hump, bagiku itu bukan apa-apa " Tolak Sharon dengan Tsun khas nya.
" Bagi Senpai memang iya, tapi bagi ku itu adalah masalah "
" Aku tidak dapat menjaga pandanganku "
"" ..... ""
" Apa ?!"
" Rion san... Mesum " Sharon tersipu
" Agh... Hentikan... Aku tidak Mesum.. !!" Jiwa Rion berontak dan berteriak sambil meremas rambutnya.
" !! "
Hari itu mereka bertujuh menyadari, Bahwa Rion tidaklah menyeramkan seperti yang mereka takutkan.
Dan hari itu juga mereka sadar, bahwa selama ini mereka secara tidak sengaja sudah memuaskan Fetish dari Kepala Sekolah.
" Mari buat petisi untuk mengganti seragam Olah Raga nanti " Gumam para gadis sepakat.
7 kandidat kembali masuk kelapangan setelah mengganti seragam mereka dan melihat Rion masih saja menyiksa Kepala sekolah.
" Shiso... "
" Oh, Senpai. Selamat datang kembali " Sapa Rion sopan, meski tetap menginjak Kepala sekolah yang tidak melawan itu.
" Ini nyaman dan enak dipakai saat bergerak " Pria tinggi dengan tatapan tajam, Galc. Sangat senang dengan pakaian barunya yang membungkus tubuh dengan massa otot yang porposi.
" Lembut dan dingin " Dolce yang pendiam pun sampai dibuat angkat bicara. Lengan bajunya yang kebesaran membuatnya terlihat lucu seperti Anak Kecil, meski umurnya 2 tahun di atas Rion.
Lux yang tingginya hampir menyamai Dolce pun sampai di buat terkagum dengan kualitas pakaian yang ia kenakan. Dan lagi meski ia adalah laki-laki namun dengan pakaian Olahraga Raga Lengan panjang membuat Lux terlihat sangat Manis.
Untuk Aru si wanita kekar dan Aluc si pria Macho. Di buatkan pakaian khusus.
Wajah mereka terlihat muram karena dibedakan.
" Senpai sekalian, jangan muram begitu. Lihat ini.. "
Rion memperlihatkan kepada mereka berdua, seragam yang mereka berdua kenakan juga pernah Rion kenakan di dalam turnamen. Di dalam Foto itupun Rion tampak tersenyum bersama juara lain ketika berhasil naik ke atas podium.
"" Apa ini ? Mengapa ada lukisan sedetail ini di benda kecil ini ?"
" Eh, itu yang Senpai tanyakan ?"
Untuk Aluc Rion memberikan seragam Karate dengan sabuk Putih, sedangkan untuk Aru Rion memberikan Hakama yang biasa di gunakan untuk bermain Kendo.
Dengan dalih mengatakan bahwa seragam itu adalah seragam beladiri khusus, maka kedua pendekar pedang itu dapat menerimanya dengan bangga.
" Ray Senpai, bagai mana denganmu ? Apa ada bagian yang tidak nyaman atau terasa sempit ?"
" Eh ?, tidak tidak, bukan apa-apa ?"
" Begitukah ? Jangan segan untuk bilang padaku jika ada bagian yang tidak nyaman. Lagipula itu adalah kerjaan yang ku buat dalam satu malam, jadi pastikan... "
" Apa ?!!! Satu malam kau bilang ?!! " Ray yang mendengar Rion mampu membuat seragam itu dalam waktu satu malam, mulai mengoceh tidak jelas, dia juga mulai menulis sesuatu di tanah entah apa itu.
" Uah... Mulai lagi "
" Eh? Apa? Ada apa ?"
" Anak itu adalah Putra dari Pedagang yang Tahun Kemarin sukses besar, Baru-baru ini Perusahaan Mereka sampai membuat Cabang di beberapa Kota. Jika melihat tambang Emas seperti ini, Pedagang manapun pasti akan berebut mendapatkan nya, bukan ?" Ucap Sharon sambil menatap lembut Ray yang sibuk dengan dunianya.
" Itu cuman seragam biasa, bukan tambang emas "
" Meski begitu, dari bahan hingga kenyamanannya sudah cukup menjadikannya ladang uang "
" Sekarang ladang uang, ya "
Sharon yang baru sadar sedang berdiri berdampingan dengan Rion, lagi-lagi mundur dengan langkah seribu dengan "riririririri nya"
" Yosh, mulai hari ini, sebelum dan setelah pulang sekolah kita berkumpul disini, ada yang keberatan ?"
Semua orang tidak ada yang protes, mereka bahkan sudah tidak sabar dengan pelajaran yang akan Rion berikan.
" Kalau begitu, kita mulai pelajarannya "
Rion membagikan buku panduan kepada masing-masing Seniornya itu. Buku-buku itu muncul di hadapan mereka secara ajaib sekali lagi.
" Pertama, pada turnamen yang akan di adakan sebentar lagi. Akan di bagi menjadi 2 kelas. Pertama kelas Solo, peserta akan di pertemukan dengan lawan dalam pertempuran 1 lawan 1. Pada kelas ini aku sudah Membagi peserta nya."
Rion menatap masing-masing mata Seniornya.
" Aluc Senpai "
Orang yang namanya dipanggil itu hanya diam tegak dengan wajah tenangnya.
" Aru Senpai "
" Yoshaa!!" Aru menebas udara dengan pedang bambu nya yang satu set dengan seragamnya itu.
" Dan yang ketiga, Ray Senpai "
Ray yang Namanya terpilih menjadi kandidat terakhir dalam pertarungan One on One, sudah pasti terkejut. Pikirnya Sharon lah yang akan terpilih karena Sharon adalah Bangsawan.
Sharon pun merasa terpukul tidak main karena dirinya tidak terpilih.
Mengabaikan Sharon yang terpukul itu, Rion terus menyebutkan kandidat selanjutnya.
" Untuk Pertarungan berkelompok. Team pertama, Dolce Senpai dan Galc Senpai. "
" Osh "
" Mohon kerja samanya " Dolce bersemangat meski dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
" Team kedua, Lux Senpai dan Sharon Senpai "
" Ya " Lux menjawab ceria, sembari membuat lingkaran berulang dengan lengan bajunya yang kepanjangan.
" Tunggu sebentar !!!"
Rion sudah menduga jika Sharon akan Protes dengan keputusannya, namun dia sudah menyiapkan jawaban yang sekiranya masuk akal dan dapat di Terima oleh semua Orang.
" Apa maksudmu aku tidak di ikut sertakan dalam pertarungan satu lawan satu ? Tapi malah memilih Ray sebagai gantinya, bukankah itu terlalu jahat jika membuat Ray terlihat memalukan nantinya ?"
" Benar, aku merasa aku tidak pantas." Ray membenarkan perkataan Dari Sharon.
" Tidak pantas ?" Rion memandang Ray seakan mempertanyakan alasan keputusannya.
" A.. Aku sama sekali tidak sekuat Aluc san dan Aru san, aku juga merasa di pilih sebagai perwakilan saja sudah tidak percaya, pasti ada kesalahan"
" Tidak ada kesalahan dalam data ini. Semua ini diberikan kepadaku oleh orang-orang ahli, apa kau mempertanyakan kemampuan pengamatan dari orang-orang yang sudah mengumpulkan data seakurat seperti ini ?"
Rion tidak mengatakan semua itu dengan nada tidak suka dengan pendapat Ray dan sharon, namun tetap saja mereka tidak ada yang berani membantah pendapat Rion.
" Beri tahu aku alasan apa sampai aku tidak terpilih !!"
" Tentu, tetapi sebelum itu aku akan menjelaskan Alasan mengapa Ray Senpai yang aku pilih terlebih dahulu. Pertama Ray senpai mempunyai Atribut Tanah. Kedua, Ray Senpai mempunyai Nilai sempurna pada Sihir serangan jarak jauh. Ketiga, Ray senpai Mempunyai Sihir Pertahanan yang hampir menyaingi Penyihir Kerajaan. keempat Ray sampai adalah pemilik mana dengan kapasitas terbanyak di Akademi. Sampai disini apa kau puas Ray Senpai ?"
Mendengar penjelasan Rion yang terdengar seperti sedang membual itu, membuat Para Senpai nya membuka mulut mereka lebar sampai-sampai rahang mereka jatuh. Mereka tidak percaya bahwa Ray yang terlihat culun dan terlihat sebagai objek Bullyan adalah orang yang seluar biasa itu.
" Kedua.. "
"" Masih ada lagi ?""
" Ada orang yang sangat berbahaya yang ikut dalam turnamen kali ini "
" Orang yang berbahaya ?" Ray mulai melihat nyawanya yang akan melayang di udara.
" Ya, orang ini sangat berbahaya jika bertemu dengan Sharon Senpai di Arena. Aku yakin Sharon senpai akan di lempar di detik pertama "
" Ja.. Jangan bercanda !!" Teriak Sharon tidak Terima. Namun kata-kata Rion selanjutnya, akan dapat merubah pemikirannya.
" Fillet Prince, apa kau pernah mendengar Nama itu, Senpai ?" potong Rion.
Tidak hanya Sharon yang tertegun mendengar Nama itu. Bahkan Aluc dan Aru yang mungkin berkesempatan bertemu di arena nanti pun, membeku ketika Rion mendengar Nama itu.
" Senpai sekalian pasti hanya mendengar Rumor nya saja, tetapi aku sudah pernah bertarung bersamanya baru-baru ini "
"" .... ""
" Tidak hanya Namanya saja, permainan pedangnya sudah membuatku iri. Musuh yang ia lawan saja sampai tidak berani lagi melawannya meski hanya tertusuk di kaki mereka."
"" ... ""
" Bahkan sebelum perang di mulai waktu 'itu', dia sudah mencincang lebih 100 Tentara musuh sampai mayat mereka tidak bisa di kenali lagi "
" Mu.. Mustahil " Sharon kali ini yang hampir pingsan terjatuh duduk dengan posisi gadis yang manis(waiza).
" Karena itulah aku memperhitungkan Ray senpai sebagai kandidat terakhir "
" Apa aku akan mati ? apa kau mengirimkan ku untuk Mati ?" Ray yang menangisi Nasibnya, membeku ketika meringkuk seperti bola.
" Tenang saja, Kelemahan orang itu adalah Ray Senpai sendiri " Rion tersenyum percaya diri dengan kemampuan Ray kedepannya.
"" Jangan anggap sepele !! "" Teriak Ray dan Sharon kencang yang membuat Rion tertawa riang melihat mereka bersemangat.
Sementara itu, kepala sekolah melihat mereka dengan tatapan yang penuh arti, sambil berusaha kabur tentunya.