
Rion melanjutkan perjalannya meski sebelumnya harus berurusan dengan para penjaga yang menilang nya.
Dirinya tidak habis pikir jika dirinya akan dapat surat tilang secepat itu, meski baru saja mendapat Motor Pertamanya, terlebih di Dunia lain.
Rion memacu kendaraannya lebih cepat, karena banyak waktu terbuang karena hal yang tidak penting. Meski sebagian besar hal tidak penting itu karena ulahnya sendiri.
" !! "
Rion mendeteksi ada beberapa titik merah di peta yang tertera di layar monitor di dashboard.
Sedangkan kamera thermal sama sekali tidak mendeteksinya. Sudah di pastikan bahwa mereka masih belum dekat.
Untuk berjaga jaga jika saja nanti mereka menerjang, Rion menghentikan Motornya tepat di tengah dimana para titik merah mengelilinginya.
Dan benar, beberapa objek terdeteksi mempunyai suhu tubuh. Ada beberapa orang yang sedang bersembunyi di balik semak-semak, menunggu ia lengah dan baru menyergap nya secara bersamaan.
Rion menduga mereka adalah bandit yang tersesat hingga malam dan tidak tau jalan pulang. Tetapi kenyataan nya berkata lain.
Dari pakaian mereka yang seragam dan gagah sudah pasti bukan bandit.
" Huh, bukan bandit, mengecewakan "
Dan Rion kembali memacu motornya dan meninggalkan orang-orang berseragam itu.
Tidak mau kehilangan mangsa, para tentara berseragam itu menerjang Rion dari arah depan dan berhasil tertabrak hingga terpental ke dahan pohon tempat mereka tadi berasal.
" Oy, aku tidak akan memaafkan mu jika Motorku sampai lecet, sialan !!"
" Oya Oya Oya, lihat siapa yang kita temukan disini. Seseorang dengan kendaraan anehnya tengah menyerang tentara keluarga Goldbear... "
Rion bereaksi ketika mendengar Nama yang Familiar itu dan entah kenapa dirinya sangat marah.
Tetapi para tentara itu malah menafsirkan reaksi Rion sebagai ketakutan. Bagaimana tidak, keluarga Goldbear adalah keluarga terpandang jadi siapapun yang mendengar namanya saja pasti akan gemetaran. Terlebih Mereka saat ini merasa sangat beruntung mendapatkan Mangsa yang sendirian sedangkan mereka berjumlah sebelas.
Mereka berpikir ini akan sangat mudah, seperti menelan ludah saja.
Tetapi perkiraan mereka semua salah.
Orang yang mereka anggap lemah dan sendirian itu, ternyata lebih mendominasi aura membunuhnya.
Bahkan tentara yang paling dekat dari Rion dan yang paling sombong tadi sampai terperosok mundur ketika tiba-tiba ketakutan tanpa sebab, meski dirinya memaksa bertingkah tangguh padahal menarik pedang saja dia sudah tidak sanggup.
Dengan serangan terakhir Rion menatap tajam kearah lawan, lawan yang ketakutan melihat sosok Rion yang berada di bawah siraman sinar Rembulan itu dapat melihat dengan jelas sebuah tatapan ganas di balik Helm yang mampu menelan Jiwanya di.
Meski tubuhnya nya sudah tidak sanggup lagi bekerja dengan baik dan mentalnya yang terganggu, membuat jiwanya hampir meninggalkan raga miliknya dengan sendirinya.
Alhasil satu tentara musuh tumbang sembari mengeluarkan busa dari mulutnya, tubuhnya juga kejang-kejang.
Tersisa 8 lagi yang harus dilumpuhkan.
Melihat temannya tumbang tanpa tersentuh, menjadikan kawan-kawannya menjadi waspada dan panik, terlebih satu-persatu personil tentara itu tumbang ketika di tatapi oleh Rion dengan intens.
" Ma.. Matanya, ja... Jangan tatap matanya, Se.. Serang !! "
Meski gemetaran komandan yang tadinya membual itu masih mampu memberikan instruksi. Yah, meski tetap saja kabur dan meninggalkan anak buahnya bertarung dan menjadi tumbal.
Dan bodohnya, anak buahnya pun mau saja menuruti perintah dari komandan pengecut itu.
Bahkan Rion sampai bertanya-tanya bagai mana caranya orang pengecut itu bisa menjadi komandan.
Satu-satunya jawaban yang terlintas di benaknya adalah. Orang Dalam...
Rion berhasil menghindar dengan mudah ketika para prajurit menyerangnya dengan panik.
Mereka sudah menjadi mainan Rion untuk menghabiskan waktu.
Tentara tentara semakin kehabisan stamina setiap kali Rion Berputar, menghindar, berpose, selfie, ketika mereka menyerang.
Cek lik.. !! Cek lik !! Cek lik !!
" Wow,... Lihat wajah bodoh kalian... "
Rion menunjukan hasil jepretannya dari angel yang tidak biasa.
Mereka yang kehabisan stamina terduduk lemas dengan nafas tersengal-sengal.
Mereka bahkan tidak sanggup untuk marah ketika potret mereka di pertontonkan, wajah yang mereka buat benar-benar tidak pantas untuk berada dalam kesatuan.
Mereka hanya bisa menyerah pasrah menerima konsekuensi dari apa yang sudah mereka mulai.
Bertindak lebih jauh lagi hanya akan membuat nyawa mereka melayang, apalagi mereka masih belum melihat Rion menarik pedangnya sama sekali.
" Mau di jual, di jadikan budak atau di tebus sekalipun aku tidak peduli, yang penting jangan bunuh aku "
" Mama... Tolong aku... "
" Hah... " Rion kehilangan semangatnya untuk mengerjai mereka lebih jauh.
Melihat mereka yang menyerah terlalu cepat seperti itu membuatnya merasa yang menjadi orang jahatnya, terlebih mereka ini hanyalah Bocah manja yang bermimpi menjadi Tentara.
" Mengecewakan... "
Rion mulai membereskan mereka, mengumpulkan mereka dalam satu kelompok dan mengikat mereka ke pohon.
Namun Rion tidak bisa mengatasi tangisan yang mereka buat, dan itu membuat Rion kelelahan secara mental.
Selain itu, di tempat lain.
Komandan yang tadinya kabur tampak tengah berlari sempoyongan di dalam hutan.
Cara berlari nya bahkan lebih buruk dari Bencong yang tengah mengejar mangsanya yang kabur, wajah yang ia buat pun sangat tidak sedap untuk di pandang, karena itu Author menyarankan untuk di blur keseluruhan wajahnya.
Selama lima menit berlari seperti itu, dia akhirnya berhasil sampai di tempat orang terkuat dan kartu andalannya.
Itu adalah pria remaja yang terkenal dengan permainan pedangnya yang indah. Komandan yang wajahnya di blur beruntung orang itu masih berada di sana.
Sayangnya orang andalannya itu sama sekali tidak mendengar ia datang. Mungkin ?
Tetapi karena orang itu sempat melirik nya sebentar sebelum menyeruput sup untuk makan malamnya, kemungkinan besar pria itu hanya mengabaikan komandan yang wajahnya masih di sensor itu.
" Syukurlah, aku berhasil tepat waktu "
" ..... "
" Apa yang kau lakukan ?"
" Makan malam. "
" ..... "
" ..... "
Mendengar jawaban santai dari pria tadi membuat komandan sensor itu naik pitam. Dirinya merasa terhina ketika semua bawahannya dikalahkan dengan mudah sampai-sampai dirinya yang ia rasa Agung itu sampai dibuat kacau, namun orang yang sudah dipinjamkan kepadanya sama sekali tidak merespon ketika dirinya yang Agung sedang terhina.
Komandan sensor yang Agung itu jengkel dan dengan sombong menampar lengan pria yang sedang menyeruput sup itu, sehingga sup makan malamnya tumpah.
" Berani-beraninya dirimu yang hina itu mengabaikan diriku yang Agung ini "
Komandan sensor yang Agung memandang remeh ke arah pria yang menatap sedih makan malamnya yang terbuang.
" Oy... !!" Pria yang kehilangan makan malamnya itu, menoleh dengan emosi dan tatapan yang sama seperti Rion.
Hal ini menjadikan trauma nya yang belum sempat hilang kembali datang untuk mampir.
" Ah, sial... " Mengutuk dirinya sendiri karena sudah menginjak ekor Singa, Komandan sensor yang Agung menggali kuburannya sendiri.
********
Karena adegan ini mengandung kekerasan dan mendapat kritikan, maka Author terpaksa mengganti sebagian Narasinya dengan Sound Efek untuk mewakilkan kejadian.
Mohon untuk di maklumi dengan bijak
********
# bug dak dug tuk tak duk duh dug bag
********
Karena adegan kekerasan yang ia Terima, menyebabkan wajah komandan sensor yang Agung semakin tidak layak untuk di gambarkan, maka dengan berat hati akan Memberikan Mozaik pada wajahnya. Sehingga panggilan komandan sensor yang Agung akan berubah menjadi Komandan Mozaik yang Agung.
" Lalu dimana orang itu ?"
" Bhujhuii kuuu "
" Hah ?, bicara yang jelas.. !! "
" Hakuudh hajag jusa difadha "
" Hah... kau bicara apa ? Yang jelas !!"
" Hasjju ahhauuw hahshhu"
" Agh... Sudah, tunjukan jalannya " Dengan kasar Pria itu menyeret komandan mozaik yang Agung menuju tempat yang di tunjuk. Tidak sampai lima menit sudah tampak Rion yang menunggu bersandar di Motornya. Rion juga sesekali mengerjai para tentara dengan sesekali menatap mereka.
" Jadi kau yang bernama Rion ?"
Rion dan Pria tampan itu saling menatap dengan intens, seakan mereka akan siap untuk saling serang. Terlebih ketika Music epic ikut memeriahkan aksi dominasi di antara mereka berdua.
" Felix, matikan musiknya "
" Eh, kalian tidak akan bertarung ? "
" Mana mungkin, jangan bicara yang tidak tidak "
" Cih, membosankan "
Rion tertawa geli membayang kan Felix yang tengah berdecak lidah dalam bentuk Shota.
" Laki-laki, remaja, tinggi kurang dari 160, rambut hitam, wajah anak SMP "
Mendengar komentar akan karakteristik yang mendekati gambaran dirinya, membuatnya yakin bahwa pria berambut pink di hadapannya saat ini tengah mengolok-olok dirinya.
Tetapi dia tidak boleh melukai wajah pria tersebut. Begitulah permintaan dari Teman baiknya Nia.
Tetapi tetap saja itu membuat Rion kesal.
" Tinggi ku sudah lebih dari 160 dan tahun ini aku sudah 163, jadi catat di otak mu baik-baik "
" ..... "
Tidak ada respon dari Pria berambut pink tersebut. Yang ada hanyalah tatapan kasihan dari dirinya untuk Rion.
Bahkan Pria berambut Pink tersebut bersedia menangis haru untuknya.
" Jangan mengasihani ku "
Namun Pria berambut Pink tersebut semakin menggoda Rion, bahkan Rion juga ingin menangisi ukuran tubuhnya sendiri.
*******
" Wah, menyenangkan mengerjai orang "
Pria itu tampak puas, sedangkan Rion meringkuk di tanah sembari memeluk lututnya sendiri. Tampak Felix dalam wujud manusia nya tengah menghiburnya sembari mengusap kepalanya.
" bukgafu.. duhududu.. jfiffifu " Komandan Mozaik Yang Agung tampak ingin protes, namun karena suatu kondisi membuatnya tidak bisa bicara dengan jelas, sehingga bawahannya berinisiatif untuk menjadi penerjemah.
" Apa-apa an ini, ?!! "
Wakil Komandan yang di sekap mewakili Komandan Mozaik yang Agung untuk bertanya karena sedang dalam mode tidak bisa bicara dengan jelas.
" Seperti yang kalian lihat, aku sedang selebrasi atas kemenangan karena sudah berhasil mengerjai Rion sang Tinggi 160 cm " jawab Pria berambut Pink datar.
" 163.. 163.. Tinggi Ku 163... Tahun depan aku akan 165 lalu 170... Tinggi ku... "
Dari arah belakang, Rion yang sudah rusak terus menerus bergumam akan complex nya.
Pria berambut Pink yang masih belum diketahui namanya itu, serta para tahanan yang terikat di pohon, melirik sejenak kearah Rion yang rusak secara mental.
" B hujan ifu hang afu yanyanhjan, henfafa jau ahab dghanb hufuh "
" Bukan itu yang aku tanyakan, mengapa kau akrab dengan musuh ?, itu yang komandan katakan "
Bahkan komandan Mozaik yang Agung sampai mengangguk membenarkan terjemahan wakil komandannya.
" .... "
" .... "
Terjadi jeda kosong setelah wakil Komandan menerjemahkan kata-kata dari Komandan Mozaik yang Agung.
" Luar biasa " Pria berambut Pink benar-benar terkesan dengan wakil Komandan, dan bertepuk tangan akan kemampuannya.
Dan wakil Komandan yang di puji merasa tersipu.
" Tapi maaf, sedari awal aku sama sekali tidak berada di pihak kalian "
Terkejut dengan pernyataan dari satu-satunya harapan mereka, mereka menjadi geram.
" Ahfu hokfut Hu !!?"
" Apa maksudmu !!?, itu yang komandan katakan "
" Wuooo, kau benar benar bisa menerjemahkannya, luar biasa sekali " Untuk kedua kalinya Pria berambut pink memuji wakil Komandan dengan bertepuk tangan.
" Hehehe, itu bukan apa-apa "
" Lakukan lagi, lakukan lagi "
" Owh, baiklah kalau kau memaksa. komandan katakan sesuatu !"
Namun Sang komandan Mozaik yang Agung hanya menatap wakil komandannya datar.
" Apa yang ia katakan ? "
" Tidak, komandan tidak bilang apa-apa, hanya tatapan datar saja "
" He... Jadi itu tatapan datar saja "
" Jahsuan hrsrnah-srnah ?"
" Wooo.. Tunggu, biar aku yang mencoba " pinta Pria berambut Pink.
" Wooo... Silahkan silahkan " Wakil Komandan ikut bersemangat.
" Hem... Itu itu... Hem... Rion itu cebol ?"
Rion yang mendengar seseorang menyebutnya cebol kembali terpuruk, padahal dirinya baru mulai bangkit namun kembali jatuh dengan pelan kepangkuan Felix.
" Boo... Boo... Salah !"
" Sebentar, sebentar. Beri aku waktu "
" ..... "
" ..... "
" ..... "
" Kalian bersenang-senang ? " Felix kesal karena mereka sudah menghina dan mengucilkan Tuannya.
" Ping pong... Ping pong... Benar sekali.. "
Tapi sayang, protes nya bahkan dijadikan sebuah jawaban kuis yang mereka adakan.
" Ahhhh... Aku juga sempat berpikir begitu " Ujar pria berambut Pink tidak mau kalah.
" Hehehe, anda kurang cepat " Ejek wakil Komandan.
" ..... "
" Ah, yg ini aku tau.. 'Tatapan datar' !! "
" Ping pong... Ping pong... "
" Yes !! " Pria berambut Pink merasa puas dengan skor yang berhasil ia raih.
Dengan sombong ia menatap Felix sombong seraya berkata " Satu sama "
" Hunuh faha hafu "
" Bunuh saja aku " Guman Rion karena merasa tidak berguna sebab tinggi badannya hanya sampai 160 lebih.
" Ping pong... Ping pong... , benar !! "
" Cih, kau diam saja cebol " Ucap pria berambut Pink kesal karena Rion berhasil merebut point yang seharusnya menjadi miliknya.
Entah kenapa proses interograsi mereka berubah menjadi acara kuis tebak kata.
Alhasil mereka sama sekali tidak mendapatkan informasi apa-apa.
Namun pada pagi hari mereka berhasil sampai masuk ke dalam kota yang sudah terkepung dengan pasukan musuh.
Namun kondisi Rion sama sekali tidak baik-baik saja. Mentalnya masih belum sembuh bahkan mendekati pun tidak.
Sedangkan untuk proses interogasi mereka serahkan kepada tentara di dalam kota.
Keadaan kota menjadi suram, beberapa penduduk yang tidak sempat di ungsikan tampak ketakutan.
Wajah mereka tampak kurus karena beban mental yang mereka alami akibat perang yang mendadak ini.
Rion sadar akan situasi mereka saat ini, logistik yang tersendat, keluarga yang terpisah, terlebih tekanan dari pihak musuh yang tidak menimbang bahwa masih banyak warga sipil yang masih berada di dalam kota namun mereka masih saja sesekali menembakan batu besar ke dalam kota.
Bahkan masih ada banyak anak kecil disini.
******
Sebodoh apa sebenarnya orang yang mengejar-ngejar Nia ?
Siapa yang tau. Setidaknya dia bukanlah orang tampan yang akan mengejek-ejek tinggi badan seseorang.