7 SLEEPER

7 SLEEPER
Rank UP Bagian 2



Rion yang sudah sedikit tenang kembali untuk duduk di sofa.


Mimio yang tengah bermanja ria di pangkuan Rion, tanpa hati mengabaikan perasaan Rion yang masih terpukul mengetahui kenyataan bahwa tipis harapannya untuk dapat bertambah tinggi.


Rion yang masih setengah sadar juga tanpa sadar, mengelus Rambut.


" Oya oya, Nee chan, kau masih saja Manja "


" Genie juga mau ikutan ?"


" Tidak Terima kasih "


Mimio yang santai bahkan kelewat santai seperti kucing, masih belum sadar jika arwah Rion masih belum kembali sepenuhnya.


Karena itu untuk mengisi waktu sampai Rion pulih, mereka bertiga berbincang bertiga, entah itu bergosip ataupun membicarakan kue di cafe baru di Ibukota.


" Ngomong-ngomong, kapan Ibu sampai di Ibukota ?"


" Kemarin "


" Sebentar, mengapa Ibu bisa sampai lebih dahulu dari kami ? Kami yakin tidak berpapasan dengan satu kereta pun sampai tadi kami sampai "


" Ah, Ibu pakai Sihir teleportasi " Jawab Mimio santai.


" ..... "


" Huee... Kenapa Ricchan ? Wajahmu jadi aneh "


" Ibu menggunakan Sihir teleportasi ? "


" Kenapa kau terkejut ?, bukankah Ricchan ke Dunia ini juga Menggunakan Sihir yang Mirip ?"


" Aku juga sempat memikirkan Sihir teleportasi waktu itu, kenapa sampai bisa ada di Dunia. Selama ini aku hanya pernah melihatnya di dalam Game dan Anime saja. "


" Ricchan Penasaran ?"


" Tentu saja aku penasaran "


Mimio yang senang mendengar jawaban Rion bangkit dengan semangat, matanya berbinar seperti bintang di angkasa dan tangannya terkepal.


" Aku tau apa yang Ibu pikirkan, tapi tidak sekarang "


" Buu-Buuu, tidak Asik " Mimio mencibir dengan lidah pendeknya.


" Sebelum itu, aku ingin tau alasan aku di panggil apakah ada hubungannya dengan ujian Kenaikan Rank ku atau hanya ingin menikmati aku di kerjain seperti sekarang ?"


" Tidak, kau tidak salah. Alasan Aku memanggil mu kemari adalah tentang kenaikan Pangkat mu. Aku menyetujuinya. "


" Eh, hanya begitu saja ?"


" Tentu saja tidak, ada ujiannya juga "


" Syukurlah, aku tidak mau di bilang naik pangkat karena pengaruh orang dalam "


" Bagus, aku akui keputusanmu. Tetapi ingat, ujian kali ini sama sekali tidak mudah. Kau bisa saja kehilangan nyawa mu, jika kau ingin mengundurkan diri, sekaranglah waktu yang tepat "


Peringatan itu tidak main-main, ketiga wanita yang mendampinginya menatap kearahnya. Rion sama sekali tidak merasa tertekan dengan tatapan mereka, hati nya sudah sangat mantap semenjak memutuskan untuk Rank Up. Tidak ada kata mundur untuk masalah ini, pikirnya.


" Tidak, tetap ku lanjutkan. "


" Bagus, aku hargai keputusanmu itu. Namun kau harus ingat satu hal. Nyawa mu adalah tanggung jawabmu. Aku tidak mau kehilangan keponakanku secepat ini, kita baru saja bertemu dan lagi aku tidak mau Nee-chan membenciku karena kejadian ini, kau Mengerti ?"


" Dimengerti, Master "


" Masuklah "


Pintu ruangan terbuka, Staf Guild yang sebelumnya  membawa Rion ke sana masuk dengan membawa Nampan berisi Segelas Susu panas dan secangkir teh. Gadis itu juga membawa beberapa lembar kertas.


Genie menyerahkan kertas berkas itu ketika Minuman mereka di suguhkan.


" Ini  ?"


" Ya, untuk ujian Pertama kau harus memburu semua Monster di sana. Kau sanggup, atau kata-katamu tadi hanya bualan belaka ?"


" Tentu saja aku sanggup, hanya saja aku belum pernah bertemu dengan yang satu ini sebelumnya "


Rion menunjukan lembaran yang ia maksud.


" Oh, Monster ini bisa kau temukan di lereng gunung di belakang Hutan Angker. Semoga beruntung "


" Hah, Kau Mengatakan hal rumit sesantai itu "


Rion mengeluh tapi dia tidak bisa bilang lebih jauh lagi, karena ini adalah Ujiannya.


" Ah, aku tau Monster ini !"


Alto yang tiba-tiba memunculkan setengah badannya dari lingkaran Sihir di belakang Rion, menunjuk ke arah lembaran yang di pertanyakan oleh Rion.


" Kau tau Monster ini ?"


" Ya, tapi aku belum pernah bicara dengan mereka ?"


" Monster ini bisa bicara ?"


" Aku tidak tau, mereka selalu menghindari ku dan pergi setiap kali aku mendekat "


" Hm.. Tapi kau tau tempatnya ?"


" Tentu saja, serahkan kepadaku. Kali ini aku akan mencoba bicara pada mereka "


" Kita akan memburu mereka, bukan bicara "


" Begitukah ?  Sayang sekali " Alto tampak kecewa.


" Mari kita tangkap satu dan ajak bicara nanti "


" Benarkah ? Terima kasih Master, aku mencintai mu "


Alto merasa senang sekali dan memeluk leher Rion dan menggosokkan pipinya ke pipi Rion.


Rion yang juga senang di perlakukan begitu membalas pelukan Alto dan membelai rambutnya lembut.


" Apa kau yakin ? " Genie dengan senyum Remeh memandang Rion dan Alto, gadis itu mempertanyakan hal yang di lupakan oleh mereka berdua.


" Apanya ?"


" Aku tau kalau anak ini adalah seorang Naga dan lagi anak ini bukan Naga sembarangan. Selebihnya pikir sendiri "


" Ah, benar juga. Alto kemungkinan besar mereka tidak menghindari mu tetapi takut dengan mu karena itu mereka kabur dari mu "


" Benarkah ? Aku sampai tidak berfikir sampai kesana "


" Karena itu mungkin akan sulit untuk menemukan mereka nanti "


" Eh  !!? Berarti aku tidak bisa bicara dengan mereka ?" Alto kecewa dengan cara kekanakan.


" Jangan khawatir, karena aku juga penasaran. Karena itu mari kita berjuang, Alto Mohon kerja samanya "


" Uhn. Master, aku juga mohon kerja samanya "


" Mooh, aku juga ingin di peluk " Mimio yang cemburu masuk dalam pembicaraan dan memeluk Rion tidak mau kalah.


" Kalian terlalu menikmati dunia kalian sendiri "


Genie harus mulai terbiasa dengan sifat unik anggota keluarga yang baru saja bertemu ini.


Sedangkan Mulan, dia sudah tidak sanggup lagi. Perutnya sudah kembung dan lambungnya sudah mulai Mual karena selalu minum Teh untuk menutupi kegugupannya.


Pada akhirnya Rion mendapat izin dari Ibunya untuk berangkat. Tetapi sebelum itu, dia pertama kali harus Meregistrasikan Kartu Miliknya untuk mendaftar ujian, dengan di bantu Staf.


Rion turun ke lantai 2 bersama Gadis Staf, dimana konter untuk Misi khusus di proses berada.


Ada lebih banyak antrian kali ini daripada ketika dia lewat.


" Silahkan lewat sini tuan " Pinta Gadis Staf tadi memotong antrian


" Tidak, aku akan mengantri saja "


" Akan lebih cepat, jika lewat sini Tuan "


" Tidak, budayakan budaya antri " Tolak Rion dengan lembut.


Rion mengambil barisan belakang dimana di hadapannya ada pria besar dua kali lebih besar dari ukuran badannya tengah tersenyum berterima kasih karena tidak menyerobot antriannya.


Namun pria besar itu sama sekali tidak menyadari bahwa Hati Rion tersakiti ketika melihat perbandingan tinggi badan mereka.


Selama mengantri Rion merasakan tatapan tidak enak dari Petualang lain yang juga ikut Mengantri.


Meskipun mereka semua terlihat kuat dengan ukuran badan yang tidak jauh berbeda dengannya, namun mereka masih saja tidak habis pikir Rion berani mengantri di barisan Orang orang hebat, terutama Rion adalah wajah baru di lantai tempat biasa mereka bertransaksi.


Rion mencoba tetap tenang dan mengabaikan tatapan tidak suka dari mereka. Hingga...


" Chibi, Ketemu "


" Hah.... " Rion menghela nafas berat ketika Orang yang Menyebalkan datang menyapanya dengan santai. Orang Menyebalkan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Sang Pangeran berwajah datar.


" Ada apa mencari ku ?" Rion harus sabar.


" Apa yang kau lakukan disini ?"


" Tersesat "


" Orang Gila mana yang bisa tersesat sampai kesini, Bodoh !!"


Rion menghadiahkan Bogem Mentah di ubun-ubun Sang pangeran, dengan sedikit lompatan tentunya.


" Aduh " Pangeran mengaduh dengan nada datarnya.


" Lalu, apa yang membuatmu sampai keluar dari Hotel, bukankah Peserta dilarang berkeliaran hingga Acara di mulai ?"


" Lalu Chibi ?"


" Aku bukan peserta, jadi tidak masuk hitungan "


Mendengar jawaban Rion yang mengejutkan itu, Sang Pangeran dengan wajah datarnya membuka matanya sedikit lebih besar, hanya sedikit.


" Sayang sekali "


" Tidak ada yang harus kau sesali "


" ..... " Pangeran tampak murung dengan sikap tegapnya ketika ikut berbaris di samping Rion.


" Apa yang kau lakukan ?"


" Berbaris "


" Ikut, dengan mu " Ucap Pangeran dengan mata semangat.


" Tidak boleh "


" Ikut... " Pinta Pangeran dengan Mata kucing yang memelas.


" Tidak "


" Ikut... " Pinta Pangeran lagi kini dengan memelas dengan tangan mendekap.


" Dengar, ini adalah misi yang di berikan khusus sebagai ujian untuk ku, jadi aku tidak boleh membawa orang lain. Paham ?"


" Pelit "


" Terserah "


Rion cukup lelah hanya dengan berurusan dengan Mahluk di sebelahnya.


Bersikap dingin pun akan sia-sia, menanggapi semua tingkah lakunya pun jauh lebih sia-sia lagi dan hanya membuang-energi.


Hanya tinggal beberapa orang lagi sampai giliran Rion. Selama menunggu namanya di panggil, tidak ada percakapan di antara dua orang itu.


Rion juga tidak merasakan lagi hawa tidak enak dari tatapan Petualang di sekitarnya.


Melainkan wajah yang Petualang buat terlihat sangat ketakutan dan tersiksa.


Rion sadar, orang yang di sebelahnya lah yang membuat kondisi ini.


Mengetahui kondisi ini Rion tidak melewatkan kesempatan itu dan selagi perhatian mereka teralihkan dan tidak lagi menatap dirinya, dia bisa mendaftar dengan tenang.


" Selanjutnya "


Itu adalah giliran Rion. Dia maju dan disambut dengan senyum manis oleh Gadis Staf.


Rion menyerahkan lembaran lembaran yang tadi di serahkan Guild Master kepada Gadis Staff.


Gadis Staf memeriksa Lembaran demi Lembaran.


" Hm... Mantis Gore, Black Venom, GarGore, Dragon Earth, apakah anda punya surat rekomendasi nya?"


" Ya, ada disini, ini " Tunjuk Rion pada lembaran yang terselip di lembaran yang di pegang Oleh Gadis Staff tadi.


" Ah, benar. Maafkan kecerobohan saya "


" Tidak masalah, sudah biasa jika hanya terselip "


" Terima kasih kemurahan hati anda. Karena akan membutuhkan sedikit waktu, bisakah anda menunggu sebentar ?"


" Nikmati waktu mu "


" Terima kasih, Bisa pinjamkan Kartu Petualang Anda kepada saya Tuan ?"


" Ah, ini. Silahkan "


Rion menyerahkan kartu Petualang miliknya, setelah Gadis Staf tadi menerimanya, dia langsung bekerja sangat cepat, mencatat di sana sini, bahkan Rion dapat mendengar goresan pena Staf itu dengan sangat jelas.


Lima menit kemudian.


" Terima kasih sudah menunggu. Saya akan menjelaskan secara ringkas, jadi jika ada yang dirasa tidak jelas silahkan tanyakan lagi kepada saya. Dengan senang hati saya akan menjelaskan lagi nanti. Kalau begitu saya akan mulai menjelaskan mulai dari... "


" Ah, sebelum itu "


" Ya ?"


" Selain Gar Gore ini, aku sudah menyelesaikannya"


" Ya ?!" Gadis Staf yang tidak mempercayai apa yang sudah ia dengar, memiringkan kepalanya.


" Ya, aku sama sekali belum pernah bertemu dengan Monster bernama Gar Gore ini. Bisa di jelaskan ?"


" Tentu saja, karena itu adalah Tugas seorang Guild Staf " Jawabnya bangga sembari memukul dadanya yang bergoyang.


" Sebelum itu, anda menyebutkan sudah menyelesaikannya, apakah anda punya Bukti penaklukannya ?"


" Tentu, apa aku harus menaruhnya disini ?"


" Ya, tolong "


" Tidak masalah " Rion dengan senang hati mengeluarkan Monster yang diminta.


Namun...


Sebelum Monster itu benar-benar di keluarkan dari  celah Udara. Semua orang termasuk Gadis Staf tadi menghentikannya.


"" Jangan disini !!"" Teriak semua orang Panik.


" Eh, tapi tadi... " Keluh Rion


"" Kau hanya cukup dengan menunjukan Batu sihir saja, bukan dengan tubuhnya juga "" Bentak para petualang.


" Ah, aku mengerti " Rion mengembalikan Tubuh Monster tadi ke tempatnya.


" Hahaha, untuk sekarang saya mengerti, Kita bisa memeriksa nya nanti. Untuk sekarang saya akan menjelaskan Tentang Gar Gore yang tadi anda tanyakan. " Meskipun tadi dia sempat panik, tapi karena dia adalah seorang Pro dia mampu kembali dalam mode kerja.


Gadis Staf menjelaskan dengan cukup jelas seperti apa Monster Gar Gore ini, pada umumnya itu sama dengan Monster yang ada di brangkas Data Base di otaknya.


Tidak berbeda dengan Gargoyle di dalam game. Monster Patung Kelelawar dengan tubuh seperti Manusia, menyerang dengan kutukan yang bisa membuat musuh menjadi batu.


Monster ini kerap di temukan di Hutan Angker. Sampai saat ini tidak banyak yang bisa di infokan, karena tidak banyak yang bisa kembali hidup-hidup untuk menceritakan informasi tentang Monster satu ini.


" Begitulah, apakah anda ada pertanyaan lain atau masih ada yang belum di mengerti, tuan ?"


" Hm... Pada dasarnya tidak jauh Berbeda Dengan Gargoyle, lalu apa yang membedakan nya dengan Gar Gore ? Apa yang satu ini akan mencincang musuh mereka ? Jika memang benar, aku kenal dengan orang yang seperti itu ?"


Dengan usil Rion melirik ke arah Pangeran di sampingnya. Pangeran yang paham jika dirinya di samakan dengan Gar Gore, menggembungkan pipinya.


" Maaf, bercanda "


"" ..... "" Semua orang tidak percaya, Pangeran Dingin mampu membuat wajah lucu itu hanya dengan lelucon sederhana dari Rion.


" Lalu, apakah kedua monster ini berbeda ?"


" Sejauh yang kami ketahui saat ini, Gar Gore adalah Bentuk Evolusi dari Gargoyle. Mereka selalu berkeliaran dalam bentuk Monster mereka meski tidak ada musuh yang menyerang duluan "


" Eh, ada yang seperti juga ternyata "


" Apakah ada lagi yang bisa saya bantu tuan ?"


" Tidak, ku pikir itu sudah lebih dari cukup "


" Terima kasih, lalu selanjutnya. Apakah tidak keberatan jika kami melihat Monster yang tadi anda maksud sudah anda kalahkan, tuan ?"


" Tentu " Rion mengeluarkan Monster tadi yang tidak sempat keluar, dari celah udara.


Namun lagi-lagi aksinya itu di hentikan oleh semua orang.


" Ah, maaf " Pinta Rion tulus karena sama sekali tidak berfikir situasi dan kondisi.


" Biar saya antar " Dengan membereskan semua berkas dan membawanya, Gadis Staf tadi mengantarkan Rion menuju Lantai pertama.


Rion di minta untuk menunggu lagi, Rion melihat gadis tadi sedang berbincang dengan Staf resepsionis di lantai satu. Mereka tampak tergesa-gesa dan panik, bahkan resepsionis yang lain juga ikut tergesa-gesa.


" Maaf sudah membuat anda menunggu tuan "


" Tidak masalah, jangan dipikirkan. Aku juga sedang tidak terburu-buru "


" Silahkan lewat sini "


Sekali lagi, Rion di giring menuju Gudang Guild. Ada lebih banyak meja potong di sana, melebihi meja potong di Guild kota RoseGuard.


Rion pikir, 'tentu saja ini kan ibu kota, jadi wajar saja'. Rion dengan di temani seorang pegawai dengan Apron bersimbah darah, diminta untuk memakai satu meja agar bisa menumpuk Monster itu di sana.


Satu persatu, seekor demi seekor Monster keluar dari celah udara, hingga tumpukan demi tumpukan itu mampu membuat mereka yang melihatnya terpukau.


Bangkai bangkai itu masih dalam keadaan segar dan hangat, dan lagi kondisi kulit beberapa Monster masih dalam keadaan baik.


Petugas yang akan membedah Monster merasa senang karena diberi kesempatan menyentuh barang langka.


Rion tidak mempermasalahkan, selama Misi nya di anggap selesai.


" Saya sudah mengkonfirmasikan mereka semua dan seperti yang anda sebut semua, Selain Gar Gore semuanya ada disini "


" Terima kasih "


" Kamilah yang seharusnya berterima kasih "


Gadis Staf tadi memberikan stempel di lembaran misi buruan, di papan kerjanya.


" Untuk hadiahnya, kami perlu waktu untuk menghitung ini semua. "


" Ya, aku mengerti "


" Selanjutnya, kami juga menantikan keberhasilan anda dengan Gare Gore, tuan " Ujar Gadis Staf sembari memberikan lembaran misi berisi permintaan penaklukan Gare Gore.


" Owh, serahkan padaku. Di beri senyuman oleh Gadis Manis membuatku lebih bersemangat "


Rion yang tidak sadar sudah mengeluarkan kata-kata gombalan, membuat Gadis Staf jadi tersipu sembari menggeliat dan memegangi pipinya.


Rion pamit undur diri setelah menerima selembar kertas kecil seperti Kwitansi. Bersama pangeran yang lelah dan bosan menunggu, mereka keluar dari Guild Petualang.


" Ughhh, akhirnya selesai juga " Ujar Rion sembari meregangkan tubuhnya.


" Aku lapar "


" Mau kembali ke hotel sekarang ?"


" Ayo !!" Jawab pangeran mantap.


" ..... "


" ..... "


" Ngomong ngomong, apa nama Hotel tempat kita Menginap ?"


" ..... " Pangeran mengalihkan pandangannya untuk menghindari pertanyaan Rion.


Mereka hanya bisa menyesali diri mereka sendiri.


Menghela nafas panjang, dan berharap seseorang menemukan mereka nanti.


Terkadang mereka selalu berfikir, apa jadinya jika kejadian ini selalu melekat di diri mereka hingga hari tua mereka nanti.