
POV Penulis
Rion terbaring lemas di atas rumput halaman depan rumah tuan tanah.
Meski matanya terbuka lebar ketika menghadang terik matahari langsung, ia tetap tidak mengedipkan matanya.
Tatapannya kosong seperti tanpa jiwa, bahkan ketika sedang tidak berjemur layaknya ikan kering seperti itu pun, Remaja ini selalu mondar-mandir tak jelas di lorong rumah dengan lesu, hampir mirip seperti Zombie.
Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan dari kalangan pembantu dan prajurit di kediaman.
Bagai mana tidak, orang yang biasanya paling semangat dari semuanya sekarang menjadi yang paling diam dan paling lesu seperti tanpa motivasi.
Kejadian ini sudah berlangsung selama 3 hari paska penyergapan besar, namun mereka semua baru menyadari pagi ini ketika seorang pelayan yang sedang menyuguhkan teh untuk tuannya dan tamu penting lainnya, mereka berbicara santai tentang insiden suksesnya penyergapan beberapa hari yang lalu.
Mereka terlalu terlena dengan kemenangan mereka, sampai-sampai mereka melupakan kondisi orang yang menjadi kunci dari kesuksesan Operasi kali ini.
Bagaimana tidak terlena, Operasi kali ini bisa di bilang cukup besar untuk di tangani oleh Tuan Tanah dengan sedikit tentara aktif dan beberapa petualang yang berbakat. Lagi pula target mereka kali ini juga bukan target yang abal-abal. Penjahat ini cukup disegani dikalangan orang-orang seprofesinya.
Hal itu di buktikan langsung dari penjahat penjahat lainnya yang sudah tertangkap dan menyerah.
Mereka ketakutan setiap kali mendengar Nama Alfonzo sang pemimpin besar Organisasi penjahat.
Tuan tanah cukup kerepotan selama ini, sebab sedikit saksi mata yang dibiarkan hidup agar cerita mereka dapat tersebar ke seluruh penjuru Negeri.
Dan benar saja cerita dari satu orang ke orang lain mulai menyebar ke Negeri tetangga.
Tak sedikit dari penjahat penjahat kecil mulai bergabung dengan mereka, satu persatu mereka mulai besar hingga menjadi organisasi gelap yang sulit di tangani tanpa bantuan tentara dari Ibukota.
Namun mengapa selama ini Ibukota tidak menurunkan bantuan meski sudah sering mengirimkan Proposal ?
Itu dikarenakan organisasi mereka begitu terstruktur sehingga informasi tentang formasi pasukan begitu sedikit yang masuk.
Sehingga untuk informasi dengan level tinggi, tentara butuh petinggi dari musuh untuk buka mulut. sedangkan untuk menangkap Musuh satu tingkat lebih rendah saja sampai memakan korban yang tidak sedikit. Dan lagi mereka juga tidak tau betul dengan atasan mereka, yang mereka inginkan hanyalah Backing yang kuat untuk terus berbuat onar.
Bahkan untuk petinggi sekelas Bear yang di tangkap Izumi, informasi masih terdengar samar.
Sekarang kita kembali ke masalah Rion.
Mereka yang hadir di ruangan ini tampak mengerutkan kening mereka, mereka berencana meminta maaf dan sekaligus Terima kasih namun gagasan itu di tolak mentah-mentah oleh Izumi.
" Hentikan, itu akan menambah masalah saja, terlebih lagi bagai mana dengan para korban yang selamat ?" Izumi menyela para petinggi disana.
" Yah... Itu memang penting, tetapi bagai mana dengan Rion-Dono, dia adalah orang yang paling berjasa di operasi kali ini."
" Tuan Alfred, anda tidak perlu mencemaskan hal lain. Warga mu yang utama. Serahkan urusan anak itu pada kami, kami yang lebih tau"
Tuan tanah tidak dapat berargumen lebih jauh lagi setelah mendengar deklarasi dari tamu terhormat nya.
Dirinya juga sadar bahwa jika ia turun tangan pun ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Mari serahkan pada ahlinya. Pikirnya dalam hati.
Dan tak lama, terdengar suara ketukan dari balik pintu. Pintu itu terbuka setelah konfirmasi dari tuan rumah.
Seorang prajurit dengan jas militer masuk bersama 3 orang ajudannya.
Izumi yang merasa segan mohon undur diri, tidak mau mengganggu urusan orang lain, ia berjalan meninggalkan ruangan dan pergi menghampiri Rion yang menjadi tontonan prajurit dan korban selamat.
Terbesit sebuah ide di kepala Izumi ketika melihat pemandangan Rion yang tak kunjung membaik itu.
" Ah.. !! Ninja!!" Teriaknya sembari menunjuk ke sebuah pohon random di halaman.
Rion yang tadinya diam seperti mayat dengan gesit melompat pergi kearah yang di tunjuk.
" Murahan sekali " sela Izumi.
Tak lama, sebuah teriakan wanita terdengar dari dalam dedaunan pohon yang lebat yang di tunjuk Izumi secara acak. Rion melompat turun dan langsung berlari kearah Izumi yang membatu sembari menggendong Ninja wanita di tangannya.
" Izumi Izumi, Ninja loh, ini Ninja, Ninja asli. Wuohoho. Hebat sekali kau bisa menemukan Ninja yang bersembunyi di balik dedaunan sekalipun. Tidak salah kau menjadi guild master kami."
Rion mendudukkan Ninja wanita itu didepan Izumi yang masih membatu. Ia melirik ke segala sudut tubuh Ninja wanita itu dengan tatapan berbinar seperti bocah yang baru mendapatkan mainan barunya.
" Lepaskan aku... Aku bukan orang aneh " Bela wanita itu.
Namun Rion tidak mengindahkan permintaan itu, ia masih sibuk memeriksa semua perlengkapan di tubuh Ninja wanita, hingga tanpa sadar tangannya secara tidak sengaja meraba sesuatu yang lembut.
Ninja itu tersentak dan berteriak manis.
Rion melepaskan genggamannya dan secara cepat mundur jatuh ke tanah.
" Kaa... Kau... Kau wanita ?" Mukanya merah padam mulutnya bergetar. Dan kemudian bersujud dan menempelkan dahinya dengan keras.
Izumi menepuk dahinya atas perlakuan temannya yang satu itu.
" Sekali lihat saja dari jauh aku bisa tau kalau dia adalah wanita, bagaimana mungkin kau yang dekat dengannya itu tidak sadar. Hah !!?" Izumi marah besar.
" Aku minta maaf, aku tidak bermaksud. Aku hanya memeriksa siapa tau kau menyembunyikan senjata berbahaya di tubuhmu. Aku juga minta maaf karna menyentuh tubuhmu, aku tidak berfikir jika kau adalah Ninja wanita, jadi.."
Belum sempat Rion menyelesaikan permintaan maafnya, sebuah pukulan kuat mendarat di belakang kepalanya ketika ia masih tengah bersujud. Alhasil setengah badannya tertanam ke tanah, meninggalkan tubuh bagian bawah yang menungging ke langit.
Itu adalah Momo yang baru saja datang bersama rombongan anak-anak kecil di belakangnya. Ia datang karena mendengar keributan.
" Sungguh tidak sopan, menampilkan pemandangan kotor itu di depanku. " Momo menarik kaki Rion dan mencabutnya dari dalam tanah.
Dan jengkelnya, wajah Rion ketika keluar dari dalam tanah itu tampak baik-baik saja. Raut wajahnya tertawa lepas seperti tanpa bersalah.
Oleh karena itu Momo menanamnya kembali ke dalam tanah.
Setelah proses ini terjadi berulang kali. Akhirnya Rion di maafkan meski harus tetap di kubur setengah badannya. Kini bagian bawah tubuhnya lah yang di kubur dan di jemur di tengah jalan masuk.
Setengah wajahnya juga babak belur, meski tidak parah. Dia juga dikalungin sebuah papan bertuliskan 'jangan di beri makan'.
" Lalu siapa Nona Ninja ini ?" Momo menaruh curiga pada Izumi, melihat Ninja wanita itu yang menutupi tubuhnya sendiri dengan tangganya.
" Aku juga tidak tau, bahkan aku baru saja ingin menanyakan pertanyaan yang sama"
" Hey hey hey, sekali lihat saja sudah pasti itu Kunoichi kan, hal sesimpel itu saja kalian tidak tau.. Dasar ama...tir."
Setelah Rion berbicara begitu, Momo menginjak injak kepala Rion dengan brutal.
" Agh.. Pink.. Agh.. Berenda... Ugh.. Putih.. Ugh.."
Momo berhenti setelah Rion hanya tersisa kepala saja, dan kembali ke Izumi tercintanya.
" Aku tidak percaya kau memakai sesuatu yang berani seperti itu dengan rok pendek"
" Semua ini kulakukan hanya untuk mu, darling"
Momo memeluk mesra dan jauh lebih intim di depan publik.
Tanpa terganggu, Izumi menanyai Kunoichi di depannya meski kepalanya kini berada di antara belahan dada Momo.
" Ti.. Tidak bermoral.. !!" Kunoichi itu menunjuk nunjuk dengan wajah merah padam.
Momo yang kesal menangkap jari telunjuknya dan memelintirnya. Ninja itu merintih kesakitan, beruntung Izumi menghentikannya sebelum terjadi kecelakaan yang lebih parah.
" Jadi, siapa kau, Kunoichi San?"
" Huh. Beruntung kalian bertanya." Dengan sombong, Kunoichi itu berdiri dengan membusungkan dadanya yang tidak besar itu.
Momo yang merasa terintimidasi mengeluarkan aura membunuhnya. Beruntung Izumi dapat meredakannya.
Kunoichi yang berhasil selamat dari terkaman Momo, memperbaiki sifatnya.
*****
" Ehem... Namaku Kohona, petualang " Jawabnya singkat.
"".....""
"....."
"".....""
" Apa ?"
" Hanya itu ?" Tanya Izumi
" Apa ?, aku bicara jujur.. Kalau tidak percaya kalian bisa memeriksa kartu petualang ku"
Momo merebut kartu itu dengan cepat sebelum Izumi menyentuh tangan wanita lain.
Momo meliriknya beberapa detik dan menghela nafas lalu membuang kartu tersebut. Beruntung Izumi menangkapnya.
" Apa yang kau lakukan dengan kartu petualang orang lain, wanita Gorila " Konoha memaki karena tidak Terima jika kartunya diperlakukan dengan tidak hormat.
Momo memberikan senyuman intimidasi tanpa memukul, karena tengah sibuk memeluk Izumi.
Izumi dan Rion yang tiba-tiba sudah di sana mengangguk angguk kecil kecil ketika melihat data yang tertera di kartu di sana.
Izumi mengembalikan kartu petualang tersebut dengan sopan dan penuh senyum. Begitu juga dengan Rion yang wajahnya sudah pulih.
" Kalian percaya padaku ?" Konoha san, merasa lega dan menyimpan kembali kartu petualang miliknya.
" Aku tidak bisa membacanya.. " Rion yang menjawab pertama kali, disusul Izumi dan terakhir Momo.
Kini giliran Konoha yang yang diam membatu, dirinya merasa konyol bercampur cemas.
Di Satu sisi dirinya merasa dibodohi dan disisi lain dirinya merasa cemas, apabila ia tidak berhasil membuktikan bahwa dirinya bukan musuh, maka nyawanya bisa terancam bahkan mati di tangan mereka, apalagi setelah melihat kemampuan mereka meski ini pertama kali mereka bertemu.
" Ada ribut ribut apa ini ?"
Guild master Alberd datang di antar oleh beberapa Maid.
Melihat penolongnya datang ia menangis dalam diam, matanya berkaca-kaca. Akhirnya muncul seseorang yang dapat membuktikan dirinya bukanlah orang aneh yang mencoba menyusup ke kediaman ini.
" Ow, Konoha chan.. Putriku... !! Apa kau datang menjemput ku?"
Namun Konoha tidak menjawab, matanya semakin berair..
" Kau bahkan menangis dengan pertemuan kita setelah berpisah lama ?, betapa manjanya putriku yang satu ini"
Guild master yang ternyata adalah Ayah dari Konoha itu berlari kecil menghampiri putrinya.
Konoha menangis sejadi-jadinya di pelukan ayah tercinta.
Lalu bagai mana dengan 3 orang remaja lainnya di sana ?.
Tentu saja mereka membeku, bisa dilihat semua warna di tubuh mereka pergi meninggalkan tuan mereka.
Ketiga orang itu membeku dengan senyum.
*****
Setelah mendengar cerita dari Konoha dan kesaksian dari orang sekitar.
Akhirnya kasus itu di tutup dengan damai sebagai kasus salah paham.
Tidak ada pihak yang terluka dari insiden ini. Untuk luka yang di Terima Rion, itu beda lagi.
" Papa.. "
" Hm.. ?"
" Jangan peluk peluk aku terus, aku sudah bukan anak kecil lagi.."
" Eh, tapi aku masih kekurangan energi putri kecil"
" Sudah kubilang lepaskan.. Kumis tebal mu terasa geli"
" Sebentar lagi saja. Sebentar saja.. "
Konoha terdengar seperti menolak namun sikapnya sama sekali bertentangan, dirinya terlihat sangat menikmati pelukan manja dari Papanya.
Sampai akhirnya...
" !!! "
Konoha sadar, 3 pasang mata tengah melirik nya dengan pandangan cemooh dan senyum miring.
Gadis itu terpaksa mendorong wajah Papanya menjauh, sekelebat wajah Papanya menjadi sedih. Konoha tidak tega dan kembali melunak.
"" Papa~~ "" Goda Rion dan kedua temannya.
Konoha yang tidak dapat menutupi rasa malunya, sampai mendorong kembali wajah Papanya menjauh.
Butuh usaha keras untuk ukuran tubuhnya agar bisa lepas dari genggaman pria mirip beruang seperti papanya.
*****
Konoha duduk sedikit jauh dari Papanya.
Untuk membersihkan harga dirinya, gadis itu mengambil sikap diam dan cuek dari setiap lirikan dari papanya.
"" Tsundere~~ ""
" Aku tidak tau apa yang kalian bilang, tapi entah kenapa aku merasa jengkel " Ucap Konoha masih dengan pose menyilang kan tangan di dada mencoba menutupi tubuhnya.
" Jangan dipikirkan... Di tempat asal kami itu adalah pujian. " Rion membela diri.
" Benar sekali. Ucapan itu di ucapkan ketika seseorang terlihat manis ketika tersipu malu " Izumi mengikuti.
" Benarkah ?" Konoha menatap mereka dengan curiga.
Orang yang ditatap mengangguk dengan pasti, sekali. Sebuah jempol juga mereka berdua berikan sebagai bukti bahwa itu terjamin.
" Ya sudahlah. "
Sebenarnya ketiga remaja itu, Rion, Izumi dan Momo, sedang berusaha setengah mati menahan tawa mereka.
Dan itu berhasil... Alasannya sangat simpel.
Mereka hanya tidak percaya, seorang pria otak otot seperti Guild Master bisa mempunyai seorang putri manja seperti Konoha yang masih suka manja dengan Papanya meski sudah besar.
" Benar juga, Papa.. !"
"" Pufft..""
Konoha melirik kearah sumber suara dan mendapati ketiga orang yang tadi membuatnya merasa bodoh, kini sedang membuang muka menyembunyikan tawa mereka.
Barulah di detik kemudian dirinya sadar. Mukanya merah padam dan kembali berbalik menghadap Papanya yang wajah heran dan tanda tanya besar.
Dari balik pakaiannya sebuah kotak kayu dengan ukuran mewah ia taruh di atas meja.
" Pa.. Oo Otou Sama "
" Otou Sama ?" Merasa dirinya di panggil dengan panggilan lain, sebuah tanda tanya kembali muncul di wajah Guild Master.
Rion dan kawan-kawan kembali ter kikik melihat perubahan panggilan yang secara mendadak itu.
" Rion dono, Izumi dono, Momo dono. Ini milik kalian "
Guild Master menghadapkan kotak kecil yang terbuka itu ke mereka.
Kotak itu memang cantik.. Namun perhatian masing-masing dari mereka lebih condong dengan isi kotaknya.
3 lembar kartu berwarna perak dengan wajah mereka di sebuah kolomnya. Lengkap dengan informasi data mereka yang tertera, di belakang Kartu mereka juga terdapat sebuah Logo besar yang menandakan mereka adalah seorang Anggota Guild.
Mata mereka bertiga berbinar bahagia, dengan selembar kartu di tangan mereka. Dengan serentak mereka membelai, menggosokkan ke pipi hingga menciumi kartu mereka dan di akhir mereka bertiga melalukan High V.
" Meski terlihat lebih dewasa dariku ternyata kalian lebih kekanak-kanakan dari ku."
Mereka bertiga tidak merasa tersinggung, karena semua koreografi itu sudah di tentukan jauh-jauh hari. Malahan saat ini mereka mendengar sesuatu yang menarik.
" Kekanak-kanakan katanya "
" Yah, sepertinya bukan untuk kita "
" Papa~~ "
Tawa mereka meledak ketika Momo mengatakan kata-kata terlarang itu.
Konoha yang sadar bahwa dirinya sedang di bully hanya diam di kursinya sembari mempertahankan pose sombong sebelumnya.
Sedangkan Guild master sendiri tengah menikmati wajah lucu putri manjanya yang tidak dapat melakukan hal itu.
" Dengar. Aku ini adalah Senior kalian. Dan sebagai Junior sudah menjadi kewajiban bagi kalian mendengarkan perintah dari Senior. "
Blablabla
Konoha yang merasa ter-bully mengoceh panjang lebar ketika terbesit di kepalanya akan statusnya.
Tetapi dia salah.
Meski tidak sah dan dipalsukan. Mereka bertiga sudah pasti lolos karena ujian mereka minggu lalu.
Didepan puluhan penonton yang menjadi saksi, juri dan petualang rank tinggi sebagai penguji, mereka mampu dan layak mendapatkan peringkat yg tinggi.
Dan Konoha kembali terpuruk. Setelah mereka bertiga memamerkan kartu milik mereka.
" Lagipula meski kalian Rank A sekalipun, sebagai Junior kalian tetap harus mendengarkan perintah Senior. Titik aku tidak mau tau"
Suara Konoha bergetar. Matanya mulai berlinang. Rion dan yang lainnya sebenarnya tidak tega, tetapi mereka tergoda untuk terus mengerjai Ninja yang satu ini. Terlebih, Papanya sendiri kegirangan melihat tingkah lucu putrinya yang beranjak dewasa.
" Ehem... " Rion hendak mengakhiri candaannya, tetapi.
" Ah, aku lupa bilang. Pada awalnya mereka bertiga memang berada di Rank A. Dikarenakan kartu milik mereka hilang ketika menyelamatkan warga dari Bandit. Guild kita bersedia mengganti kartu mereka dengan yang baru." Guild master mengompori.
Seperti di sambar petir di siang hari. Konoha kehilangan motivasinya untuk melawan mereka. Rohnya serasa pergi dari tubuhnya dan Tubuhnya hanya terbaring bersandar di sofa.
" Ah, benar Bandit. Pap.. Guild Master... Aku datang untuk mendaftar sebagai pasukan pembasmi. "
Konoha dengan ide gilanya mencoba mengambil muka, meski papanya sendiri nanti tidak mengizinkan dia hanya perlu menunjukan wajah memelas nya dan semua pasti akan berjalan sesuai rencananya kali ini.
Mengambil hati atasan, dan tunjukan aksi heroik. Maka Junior akan merasa segan pada ku. Begitu yang saat ini dipikirkan Konoha sang Ninja Wanita, atau yang sering dipanggil kunoichi.
Terlebih ketika ia mengintip Rion yang lemas ketika mendengar kata bandit.
Ia berfikir bahwa Rion sedang ketakutan dan cemas ketika mendengar kata bandit. Tetapi kenyataannya lain.
Konoha yang merasakan kemenangannya kali ini akan segera datang, kembali bersikap angkuh di depan juniornya. Jika operasi kali ini berhasil dan namanya berada dalam daftar partisipan, maka derajatnya akan naik sebagai senior dan dirinya tidak akan lagi di remehkan.
Tetapi...
" Ah, sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah selesai. "
" Eh!?"
" Benar juga, papa tidak memberitahu dirimu, karena papa tau kamu tidak akan di ijinkan oleh Mama "
" Eh !!?"
" Yah, lagi pula rencana awal memang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan"
" Eh!!!? "
" Tetapi karena takut informasi sudah bocor, kami sepakat memajukan nya, dan tepat tiga hari yang lalu kami berhasil tanpa kendala. Kami berhasil meringkus semua Bandit dari berbagai markas mereka. Kami juga berhasil mengamankan korban penculikan dan harta hasil rampokan "
" Master.. " Izumi menghentikan ocehan demi ocehan yang di pamerkan Guild master, tanpa tau dua orang tengah kehilangan roh di tempat duduk mereka.
" Hohoho.. Kalian sudah lelah?. Baru segitu saja, dasar anak muda jaman sekarang. Huahahaha. Ya sudah aku tinggal dulu, aku harus kembali ke Guild. Banyak berkas yang harus diselesaikan paska penyergapan yang lalu. Aku titipkan putriku pada kalian karena sepertinya kalian sudah mulai akrab, dia memang sedikit manja tetapi sebenarnya dia anak yang mandiri. Ya sudah aku pamit."
Setelah kembali berceloteh ini itu, Pria otak otot itu pergi meninggalkan ruangan. Bahkan setelah sampai di luar pun suara kerasnya masih terdengar sampai ke ruangan mereka.
Terdengar suara teriakan prajurit yang mencegah otak otot yang sengaja mencoba menginjak kain penutup lubang bekas mengubur Rion tadi.
Benar-benar pria yang merepotkan dari berbagai macam sudut.
*****
Setengah jam kemudian...
Dua orang yang tadinya koma, sadar kembali dengan waktu yang bersamaan.
Orang pertama yang mereka lihat adalah orang di samping mereka.
Ternyata kedua orang lainnya, yaitu Izumi dan momo, sudah mengerjai mereka dan menyenderkan mereka satu sama lain.
Alhasil mereka berdua bangun dengan canggung. Rion canggung karena seorang gadis seumuran Maki adik perempuannya berada di bahunya ketika bangun. Begitu juga dengan Konoha, seorang pria tampan berwajah nakal muncul ketika ia bangun di bahunya.
Pikirannya kacau harus berekspresi seperti apa, apa dia melihat wajahnya ketika tidur? Apa dia mengeluarkan liur? Apa dia tadi mengigau ? Apa tadi wajahnya berkerut?. Pikiran feminim seperti itu terlintas di kepalanya.
Mereka bangkit dari duduk dengan canggung satu sama lain.
Rion sadar, Konoha pasti memikirkan berbagai hal seperti tadi. Tetapi dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Selama ini semua gadis yang ada disekitarnya tidak ada yang normal.
Rion merasa bersalah, sedikit. Sehingga untuk memperbaiki hubungan baik dengan relasi di masa depan dia mendapatkan sebuah ide.
" Konoha Chan "
" Chan ?"
" Tidak boleh ?"
" Huh. Aku sudah dewasa, tidak mempermasalahkan kan nya. Huh.. " Ucap Ninja belia Labil itu.
" Mau Cemilan manis sebelum makan siang ?"
" Ce.. Cemilan manis ?"
" Yup, ada Roll Cake, Pancake dengan Sirup, Cup Cake Pisang, Ice Cream rasa Buah masih banyak lagi, kau mau ?"
" Huh, jangan kira aku akan terbujuk dengan makanan manis. "
Meski ucapan dan sikap malu-malu kucing bertentangan dengan harga dirinya, namun jelas terlihat dia sudah tidak sabar untuk menyantap semuanya. Bahkan di pancaran matanya seakan terlihat semua cemilan manis itu menari-nari untuk di santap.
" Baguslah kalau begitu, ikuti aku "
Rion berjalan keluar ruangan dan menelusuri lorong-lorong panjang mirip labirin. Cukup lama mereka berjalan namun tidak menemukan satu orang pun.
Bahkan dia merasakan Dejavu setiap kali melewati Vas bunga di samping Jam dinding Antik yang saat ini ada di depannya.
Konoha bahkan tidak sadar bahwa dia sudah diajak melewati tempat yang sama beberapa kali. Dia masih saja sibuk dengan Ilusi tentang cemilan manis yang akan di berikan untuknya.
Rion sendiri segan meminta tolong pada Konoha untuk menunjukan letak Dapur, karena orangnya sendiri sedang sibuk berimajinasi tentang Cemilan manisnya. Terlebih lagi Rion juga tidak mau ada orang lain lagi yang tau kalau dia Suka tersesat.
Rion terus menapaki lorong-lorong itu lagi dengan semua ingatan di kepalanya, bersama Konoha yang terus mengekor.
Hingga mereka lagi dan lagi melewati Vas bunga dan Jam Dinding yang sama lagi.
Jam dinding itu berdentang sebanyak 3 kali ketika mereka datang berkunjung untuk kesekian kalinya.
Suara keras itu menyadarkan Konoha dari dunia ilusi nya.
Pikirnya ia beruntung tidak ada orang yang melihatnya dengan ekspresi tidak sopan, sebagai putri dari bangsawan sikapnya barusan sama sekali tidak sedap dipandang.
Di detik kemudian, Konoha baru sadar jika mereka sedang berada di jalur yang salah, tanpa sadar mereka sudah melewati jalur yang sama untuk yang kesekian kalinya.
" Rion-San. Sebenarnya kita akan kemana ?"
" Dapur " Ucap Rion santai sambil terus melangkahkan kaki-kakinya.
Saat ini otak nya sedang mengunggah denah rumah ini dengan kecepatan komputer. Namun semua hasil unggahan itu tetap menampilkan denah yang sama, namun dimana letak kesalahannya ?
" Dapur ?, ugh... "
Konoha mengerang ketika mendengar kata Dapur. Rion yang sadar Menghentikan langkahnya.
"Benar juga, tidak sopan rasanya seorang putri bangsawan untuk makan di dapur. Tetapi untuk membawa Konoha ke ruang makan juga butuh denah lokasi yang baru." Pikirnya dalam hati.
Tidak kehabisan akal, Rion mendapatkan sebuah ide.
" Ah, maafkan aku. Aku benar-benar lupa aku sedang mengajak seorang bangsawan. Hahaha kebiasaan di rumah, maafkan aku maafkan aku." Ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Fiuh~~
Rion lega martabatnya tidak rusak.
Tapi Konoha bukanya merasa tidak enak melainkan merasa cemas ketika mendengar kata dapur. Badannya gemetar dan matanya bergerak kesana kemari.
" Konoha-Chan... Jangan-jangan... Kucing Pencuri yang dibicarakan Orang-orang di dapur itu... "
Konoha semakin panik dan semakin bergetar hebat, mengalahkan keringat dingin yang bercucuran.
" Hooo~~ begitu begitu "
" A.. Aku akan menunggu di kamar saja, pastikan jangan berbohong dengan kata-kata mu tadi "
Rion sengaja memasang tampang bodoh dan memiringkan kepalanya.
" Ce..ce.."
" Ce.. ?"
" Ce.. Cemilan. Pastikan kau membawanya !!"
Setelah berkata seperti itu, Konoha pergi dengan wajah merah padam.
Pfft...
Didalam hati Rion bersyukur martabat nya terselamatkan, dilain sisi dia juga bersyukur kalau Kucing Pencuri yang Meresahkan Orang-orang di dapur adalah Kucing yang mengemaskan.
" Anoo~~ "
Rion bergidik setelah mendengar suara seseorang di belakangnya, dia sama sekali tidak merasakan hawa keberadaan orang itu.
Saat berbalik, dari pintu di sebelah jam dinding itu muncul sepasang mata yang indah.
" Marry, jika dari tadi di sana harusnya kau muncul lebih awal, apa kau tau betapa repot nya aku harus melewati tempat yang sama sampai 10 kali ?"
" Fufufu~~ " Maid yang sering disapa Marry ini membuka pintu dan keluar dari ruangan itu sambil tertawa dengan elegan.
" Jangan Fufufu padaku " Rion kesal sambil menutupi wajahnya.
" Maafkan ketidak sopan'an saya, hanya saja saya tidak tahan melihat wajah bahagia Nona setelah sekian lama."
" Yasudah Lah, lalu apa yang kau lakukan "
" Saya baru saja selesai shif pagi dan sedang beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk makan siang, lalu saya mendengar langkah kaki yang familiar karena itu saya memberanikan diri untuk mengintip."
" Marry San, mengintip adalah perilaku yang tidak sopan."
" He... Tetapi saya menikmatinya"
" Jangan dinikmati " Bantah Rion dengan tsukomi nya. Sebuah chop pelan mendarat di kepala Marry sang Maid.
Marry yang tidak jera semakin merasa senang.
*****
Sebagai permintaan maaf, Marry mengakhiri waktu istirahatnya dan pergi mengantarkan Rion ke kantornya.
Dapur
Sesampainya di dapur semua personil merasa lega ketika melihat wajah penyelamat nya muncul.
Wajah mereka kembali ceria seakan-akan beban mereka melebur pergi dari bahu mereka.
Meski sekilas mereka terlihat kelelahan namun semangat mereka mampu menutupi itu semua.
Rion yang tidak kalah semangat juga mulai melakukan tugasnya setelah memberikan sedikit sapaan.
Tidak butuh waktu lama bagi Rion berkeliling untuk membantu mereka sambil tetap melakukan bagiannya.
Karena dapur kini sudah di perluas, dan beralih fungsi menjadi kantin yang moderen. Beberapa wajah baru juga tampak di sana, sehingga meski porsi pangan yang harus di buat bertambah, namun semuanya dapat di atasi dengan personil tambahan yang baru saja di bentuk.
Beberapa prajurit dan korban beberapa hari yang lalu mulai berdatangan.
Kantin. Seperti namanya, menggunakan sistem jemput Bola. Pelanggan akan datang memesan dan dilayani langsung, untuk minumannya mereka harus mengambil sendiri di tempat yang sudah disediakan dan tersendiri.
Ada 6 meja panjang tambahan dari 12 keseluruhan. Tempat ini benar-benar menjadi luas.
Tuan rumah tempat ini bahkan tidak berpikir dua kali untuk merombak tempat ini. Meski hanya menjebol kan dua dinding pembatas yang sebelumnya ruangan makan untuk prajurit.
"Hasil tidak mengkhianati usaha"
Itulah kata bujukan yang di sampaikan Rion. Dan benar saja, tempat ini tidak kalah luas dari restoran yang berada di ibukota.
Dan lagi Tuan rumah merasa rumah mereka semakin hidup dan ceria. Prajurit dan Pelayanan serta Maid mereka terlihat lebih hidup.
Sudah pasti alasannya karena menu makanan mereka semakin bervariasi serta rasa lezat yang bahkan mungkin tidak akan mereka dapatkan di restoran mewah sekalipun dan atmosfir baru di ruang makan.
Hal ini juga yang mendasari operasi sebelumnya menjadi sukses tanpa korban tewas dari pihak mereka.
"Kekuatan makanan"
Pikir semua orang.
"Yah, mereka tidak salah. Kekuatan untuk terus bisa menyantap makanan lezat setelah perang, membuat mereka enggan untuk mati."
Tuan Rumah tertawa keras ketika menyadari hal sepele tersebut.
Mari kita kesampingkan hal tersebut. Lebih baik kita lihat perkembangan Rion di meja kerjanya.
Rion sudah menyelesaikan hiasan di kue dua tingkat miliknya.
Terlihat lucu dengan coklat bentukan beberapa kucing kecil lengkap dengan kucing dan istana kucingnya yang sedang bermain bersama kawanannya.
Untuk minumannya, minuman soda racikan sendiri. Dengan hiasan buah lemon di bibir gelas kaca, sendok dan payung kecil sebagai penghabisan. Rion menyiapkan 6 gelas untuk jaga-jaga.
Setelah dirasa cukup, Rion mulai berkemas sambil memberikan masukan pada koki pendatang baru.
" Tenang saja, Lama-lama kalian juga akan terbiasa"
Dengan senyum besar menampakan deretan gigi putih berkilau nya, Rion undur diri dan pergi keluar dapur menuju medan pertempuran baru.
Di dampingi beberapa Maid tentunya. Masing-masing mereka dengan senang hati mendorong kereta makanan itu pada Tuan mereka.
Sesampainya di lokasi perang yang baru, Rion melihat wajah tambahan. Beruntung dirinya membuat lebih.
Konoha dan dua sepupu kecilnya, Roy dan Alice, juga ibu mereka Nyonya Patricia.
Juga Momo.
Kamar Konoha tidak seperti kamar gadis pada umumnya, bahkan Rion bisa sadar meski di dunia lainpun seorang gadis tidak akan mungkin mempunyai kamar sempit seperti itu, terlebih Konoha adalah seorang Gadis yang beranjak dewasa.
Pada umumnya kamar seorang gadis akan berisi hiasan dan pajangan yang terlihat manis dan lucu. Namun itu berbeda untuk kasus Konoha.
Meski mansion ini adalah mansion termewah di kota ini, namun salah satu ruangan nya terlihat beda sendiri.
Tidak hanya bagian dalamnya saja, bagian luar bangunan dan bahkan beranda di ubah secara total. mau itu dinding, lantai, loteng hingga ornamen di dalam kamar, semuanya berbau Jepang dan Ninja.
Sehingga merusak bentuk Estetik dari bangunan bergaya Eropa itu.
Ajaibnya, tidak ada yang mempermasalahkan.
Atau jangan jangan mereka sudah lelah dan memilih untuk mengabaikan?
Begitulah pikir Rion dan Momo yang hanya diam semenjak memasuki ruangan tersebut.
Raut wajah mereka seakan ingin mengutarakan pendapat, namun mereka sadar diri dan lebih memilih untuk memendam didalam hati.
Jika ingin berkomentar, lebih baik menunggu pihak lawan sendiri yang memulai.
Lalu, acara pencicipan makanan ringan berubah menjadi pesta teh kecil.
Dan sampai akhir acara, tidak ada yang menyinggung tentang kamar gadis bernama Konoha ini.
" Ninja ya.. "
Rion bergumam sembari menatap langit-langit kayu, pikirannya seakan pergi jauh meninggalkan semua orang yang asik mengobrol.
Entah apa yang ada di pikirannya, namun senyuman mencurigakan yang ia lukis di wajahnya saat ini, menandakan ia sedang merencanakan sesuatu yang gila.