7 SLEEPER

7 SLEEPER
Pengawas Ujian Tidak Harus Menakutkan



Siang itu juga, Rion beserta party Rokan pergi bersama menuju tempat ujian sesungguhnya.


Tempatnya tidak jauh dari kota, namun mereka tetap diharuskan mengendarai kereta barang untuk mengangkut bukti dari misi mereka.


Rion diberi tau agar tidak ikut campur dalam misi ini oleh Guild, dan Rion paham akan hal itu.


Tugasnya hanyalah mengawasi dan hanya boleh bertindak jika ada hal tak terduga terjadi saja.


Terlebih Rion juga harus merahasiakan sihir penyimpanannya pada orang lain. Untuk kasus beberapa hari yang lalu, mereka adalah profesional jadi rahasia nya aman terjaga.


Oleh karena itu, Rion mulai belajar membawa tas dimulai dari sekarang jika hendak bepergian dalam misi penaklukan.


Semua peralatan masak hingga tenda sudah di kemas di dalam ransel gunungnya.


Dan dua pedang di pinggulnya.


Perjalanan membutuhkan waktu 4 jam untuk sampai di tujuan, dan waktu 4 jam itu diisi dengan keheningan.


Mereka sampai di pos petama, Rion memberikan berkas dan surat izin dari Guild pada petugas. Ketika berkas itu sudah di beri cap, barulah mereka meneruskan perjalanan memasuki hutan.


Rion tetap tidak menurunkan kewaspadaan nya meski peserta ujiannya sudah dalam mode tempur, pemanah di kelompoknya di perintahkan di depan dilanjutkan dengan Rokan sendiri dibelakangnya.


Untuk 2 penyihir dan Lois mengambil posisi di belakang sebagai pendukung.


Party mereka sangat tidak biasa karena kekurangan penyerang garis depan, namun dengan 2 penyihir mereka yang cakap, kekurangan itu dapat menutupi itu semua, terlebih dengan Lois yang melindungi mereka dengan kemampuan bertahannya.


Satu persatu monster yang ceroboh dan tidak beruntung, mati di tangan mereka.


Goblin, wolf dan terkadang monster jinak seperti slime ikut menjadi korban.


Mereka tidak mengambil semua bahan material dari tubuh monster dengan alasan beban. Mereka juga tidak mengubur tubuh monster tergeletak begitu saja. Mereka membuangnya jauh dari jalan dengan alasan keamanan rute pelarian agar terhindar dari predator lain.


Beberapa jam kemudian kami sampai di lahan yang lebih luas, tempat itu sudah seperti camp perkemahan.


Ada banyak lagi tenda dan petualang lain di sana.


" Kalian tunggu disini, aku perlu menyerahkan beberapa berkas dulu. Dan jangan sampai menarik perhatian " Rion memberikan peringatan sembari melihat ke sekeliling mereka ketika semua orang menatap mereka dengan tatapan buas.


Rokan yang paham hal itu, sedikit cemas sebab ada satu party yang kemungkinan besar akan mencari gara-gara dengan mereka.


Rion sadar akan hal itu, karena itulah dia memperingatkan mereka.


" Yang penting, jangan menyerang duluan, itu saja"


Setelah mengatakan itu Rion pergi ke sebuah kabin kecil di sana untuk menyerahkan berkas seperti yang ia katakan di awal.


Party Rokan berusaha menghindari kontak mata dengan party lain dan mengambil lahan sedikit jauh dari keramaian.


Mereka mulai membongkar peralatan dari dalam tas mereka tanpa membuang waktu. Rokan dan si pemanah mendirikan Tenda, sedangkan para gadis yang mengurusi api unggun dan memasak menggunakan daging hasil buruan mereka ketika di jalan menuju kemari.


" Oya Oya, lihat siapa yang kita lihat disini ?"


Segerombolan Pria dengan tampang anak orang kaya yang menyebalkan datang dengan niat merusak suasana.


Dia dan kawanannya masuk ke lingkaran party Rokan yang tengah sibuk menyiapkan tenda.


Party Rokan mengabaikannya seperti yang di perintahkan Rion dan tetap terus bekerja.


Rion sudah selesai dengan urusannya, tetapi tidak menolong mereka, hanya mengawasi dari ke jauhan.


" Kau tidak akan menolong peserta yang kau awasi ?"


" Aku di minta untuk tidak terlibat meski ada kejadian seperti ini, lagi pula jika aku ikut campur dalam urusan mereka, mental mereka tidak akan terasah "


" Kata-kata mu terlalu kejam untuk mereka, tapi yah itu tidak salah. Kehidupan petualang sangat keras, satu dua hal seperti ini tidak jarang terjadi " Lanjut pengawas itu dan berlalu pergi kembali masuk ke dalam ruangan.


Party Rokan hampir selesai dengan persiapannya dikala para orang sombong itu telah kehabisan kata-kata mutiara nya.


" Semuanya sudah selesai ?"


Rion datang dengan wajah ramahnya menyapa party Rokan dari tengah kerumunan.


Segerombolan pengacau terkejut dengan kemunculan Rion yang tiba-tiba itu, lain halnya dengan party Rokan yang sudah menantikan kedatangan Rion sedari tadi.


" Siapa kau ?" Tanya pria yang seperti pemimpin gerombolan itu.


" Aku ?"


" Siapa lagi jika bukan kau brengsek !!"


Wajah kesalnya membuat Rion tertawa, sehingga membuat gerombolan itu naik pitam dan menarik pedang mereka.


" Hentikan usaha sia-sia mu jika kau masih ingin melihat matahari esok "


Rion berbisik di telinga pria pemimpin itu di detik mereka menarik pedang mereka.


Sang pemimpin itu jatuh kebelakang karena terkejut melihat kecepatan Rion yang melebihi kedipan matanya.


Rion mendekatkan wajahnya lagi dan mengancam dengan senjata mereka sendiri.


Dan mereka lagi-lagi terkejut dengan kecepatan Rion karena baru sadar bahwa senjata mereka sudah dilucuti.


Di depan mereka Rion memperlihatkan sebuah sulap yang melenyapkan pedang-pedang mereka satu persatu ketika Rion menelan pedang-pedang mereka di telan kedalam bulat-bulat.


Mereka hanya melotot seperti orang bodoh. Sedangkan semua orang yang sedari tadi menonton malah terkesima dan memberikan tepuk tangan meriah atas tontonan yang bagus.


Para pengawas lain yang melihat hal itu, jadi orang yang paling merasa lega karena pertumpahan darah yang tidak perlu, sudah gagal terjadi.


Rion sadar hal itu karena dia tidak bodoh, gerombolan itu pastinya adalah biang masalah dari golongan bangsawan, dari reaksi awal semua orang saja Rion langsung paham.


" Ke.. Kembalikan!!"


Pria itu dengan putus asa menunjuk nunjuk Rion meski tubuhnya ketakutan.


" Maaf, saat ini masih sedang dalam pencernaan, tapi jika kau mau menunggu, besok pagi juga sudah bisa keluar kok. Atau saat ini juga kau mau bersama pedang mu ?" Tanya Rion menggoda, ia menjilati bibirnya ketika menatap tajam kearah gerombolan berandalan didepannya.


" A.. Awas saja kau... !!!"


Mereka kabur dengan cepat tanpa melihat kebelakang lagi.


Dan Rion sangat puas sudah mengerjai mereka, Rion tidak mau menyerahkan jarahan nya tadi. Dan akan menjualnya nanti jika sampai di kota.


" Apakah kau baik-baik saja ?" Tanya Rokan.


" Seharusnya itu pertanyaan ku ?" Balas Rion


" Tidak, jangan hiraukan kami. Yang lebih penting apa perut anda baik-baik saja ?, aku baru tau perut seseorang mampu mencerna sebuah pedang "


Wajah polos mereka ketika berbicara seperti itu membuat Rion sedikit merasa bersalah.


Seharusnya itu hanya sekedar mengerjai lawan, tapi tidak di sangka Rokan dan party nya juga akan percaya dengan lelucon yang ia buat.


Tapi karena itu menyenangkan, Rion meneruskan aktingnya sampai akhir.


" Sudahlah jangan dipikirkan, waktunya mempersiapkan makan malam, ijinkan aku membantu membuat makan malam sebagai hadiah karena kalian berhasil menghindari masalah"


Rion membantu menyiapkan makan malam lezat, sampai-sampai semua orang tergoda karena aroma masakannya. Rion hanya membagikan sebagian untuk beberapa orang, karena persediaan yang terbatas.


Dan untuk sarapannya, beberapa orang dengan sukarela memberikan sebagian bahan makanan mereka dengan imbalan sarapan enak.


Rion tidak menolak karena berbagi adalah hal paling ia sukai.


Setelah sarapan, Rion mengumpulkan parti Rokan dan memberikan Brief tentang detail Misi.


Kali ini mereka di mintai untuk mengumpulkan 10 Kg tanaman herbal dan memburu 6 ekor Orc atau 10 ekor Dire Wolf.


Hanya dengan informasi terbatas, Rokan mulai membagi peran pada semua anggota party nya. Dia juga yang merancang semua strategi cadangan dikala mereka gagal atau ada hal tak terduga yang menimpa mereka nantinya.


Rion kagum dengan jiwa kepemimpinan Rokan, dan semua anggota pastinya juga percaya di bawah kepemimpinannya


Rion menyadari selama ini mereka terus berjuang dengan mempertahankan kepercayaan masing-masing dari mereka.


Dan kedepannya Rion juga mempercayai bahwa mereka nantinya akan menjadi sosok yang paling di hormati.


Saat ini satu-satunya hal yang perlu ia lakukan adalah melatih mental mereka agar tangguh lalu sisanya tinggal mengamati mereka dari kejauhan.


" Periksa kembali semua perlengkapan dalam waktu 5 menit !"


" Waktu 5 menit itu seberapa lama ?"


Meski mereka mengeluh namun mereka masih tetap melakukan perintah Rion.


" Waktunya berangkat "


Rokan memimpin perjalanan di garis depan, pemanah mereka akan menjadi mata dan telinga mereka selagi ia melompat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya.


Penyihir mereka siap kapanpun melepaskan sihir rapalan singkat sambil terus mengikuti Ritme langkah Rokan.


Lois dengan reaksi dan kekuatan fisiknya yang menyerupai tanker terus menjaga posisi mereka dan musuh yang kapan saja bisa menerkam mereka dari arah belakang.


Rion tidak ikut dalam rombongan mereka, karena sebagai pengawas itu di larang ikut campur dalam ujian, sehingga Rion beserta pengawas lain hanya boleh memperhatikan mereka dari pos pengawasan di tebing.


Karena dari sana mereka mampu mengawasi hampir seluruh wilayah hutan, sehingga mereka bisa menolong jika ada sesuatu yang berbahaya menimpa para peserta.


Sampai sore hari, pengawas sama sekali tidak menemukan kejanggalan sama sekali, entah itu karena liput dari pengawasan mereka atau karena memang tidak ada sama sekali.


Sampai matahari terbenam mereka masih terus mengawasi, banyak cahaya api unggun yang terlihat di dalam hutan ada 8 titik secara total.


Cocok dengan jumlah party yang mengikuti ujian kali ini.


" Akan sulit mengawasi mereka di kegelapan dari jarak jauh, sebaiknya kita lihat dari dekat. Tapi ingat jangan sampai terlalu dekat. "


Salah satu panitia mulai memerintahkan para pengawas untuk bertindak di mode Malam.


Rion juga sudah di beritahu sebelumnya akan ada acara seperti ini.


Monster yang lebih sering aktif di saat malam akan mulai mencari makanan mereka. Dan disinilah ujian mereka yang sesungguhnya.


Bertahan hidup.


Pengawas diperbolehkan menarik peserta jika di rasa Parti yang mereka awasi serasa tidak sanggup. Atau membiarkan parti yang mereka awasi bertarung sampai titik darah penghabisan walau hanya menyisakan satu orang saja.


Begitu juga dengan para peserta, mereka juga di beri dua pilihan, bertarung sampai mati atau lari.


Sebelumnya masing-masing parti sudah di beri tau akan hal ini. Mereka sudah di beri satu alat yang bisa digunakan di saat darurat, sehingga mereka boleh menggunakan nya jika dirasa mereka tidak sanggup.


Contohnya seperti kepungan dari gerombolan monster yang tidak terduga, atau bandit dengan jumlah yang tidak sanggup mereka hadapi.


Melihat Party Rokan. Rion sampai disaat mereka tengah makan malam.


2 tenda sudah terpasang di sekitar api unggun, mereka makan malam tanpa memasak. Mereka hanya makan makanan kering untuk menghindari bau sedap yang bisa memancing predator saat malam.


Bergerak di saat jarak pandang terbatas seperti di malam hari akan sangat beresiko untuk keselamatan mereka.


Dan mereka paham akan hal itu.


Rion memberikan Aplus pada nilai mereka.


Tapi, halangan mereka tidak hanya monster dan bandit saja. Tidak jarang juga dalam ujian seperti ini halangan datang dari dalam.


Seperti kali ini.


Dari kejauhan Rion merasakan kehadiran beberapa orang datang mendekatinya.


Ralat, mendekati party Rokan.


Untuk sementara Rion mengawasi pergerakan mereka.


" Coba kita lihat, apa yang akan kalian lakukan kali ini" Rion tersenyum miring di balik salah satu dahan pohon ketika melihat mereka semakin dekat dengan party Rokan.


" Eh ?"


Rion terkejut, dirinya tidak habis pikir. Berandalan yang tadinya ia pikir akan menyerang party Rokan secara diam-diam, sekarang malah memperkenalkan sosok mereka secara terang-terangan.


Di dalam hati Rion tertawa puas, kecemasannya jadi sia-sia. Orang-orang yang ia khawatirkan akan menyerang dan mengganggu ujian Rokan dan kawan kawannya ternyata hanyalah sekumpulan berandalan biasa saja.


Padahal Rion berharap mereka akan memberikan sebuah tontonan yang menarik.


Seperti baku hantam atau drama dan sebagainya.


Rion merekam kejadian mereka sebagai bukti laporan menggunakan smartphone nya.


Meski tidak ada internet, jika hanya vidio itu masih bisa di akses.


Karena audionya tidak bisa di jangkau dari tempatnya sekarang, Rion mencoba mendekat sedikit dimana rasanya jangkauan audio didapatkan. Rion bersembunyi di belakang tenda mereka, Berhati-hati agar tidak ketahuan.


Dengan jarak yang kurang dari 5 Meter itu, Rion mendapatkan gambar dan audio yang bagus.


Rion terus memperhatikan sampai sekarang, sejauh ini mereka hanya terus bersilat mulut.


Mereka selalu mencoba memprovokasi Rokan supaya menyerang mereka, jadi mereka nantinya mempunyai alasan dan dalih untuk berbuat kekerasan.


" Hey, Jelata. Mengapa kau tidak serahkan saja para wanita mu kepada kami. Kami kedinginan kau tau ?"


" Ada api unggun disini, mengapa kalian tidak duduk bergabung bersama kami ?"


Rokan dengan tenang menanggapi kalimat tidak sopan para berandalan yang memasang wajah tidak sopan.


Para wanita yang merasa jijik berlindung di balik tubuh Rokan yang besar.


" Lucunya, dengan tubuh menggigil seperti itu memeluk satu orang pria pastinya tidak akan cukup, kan ? bagaimana jika ikut bersama kami saja, kami janji kami pasti akan memanjakan dan memberikan kehangatan untuk kalian, Bukankah begitu kawan-kawan ?"


Mereka tertawa mengolok olok. Rokan yang sepertinya sudah tidak sabar karena kawan kawannya di lecehkan secara verbal mulai kalut.


Genggamannya sudah sangat ingin dia luncurkan.


Namun kedua gadis yang terus memeluk dirinya saat ini menghentikannya dari amukan.


Dua gadis penyihir itu terus menerus gemetar, wajah mereka mereka benamkan di punggung besar Rokan.


Pemanah dan Lois sudah kehabisan kesabaran namun mereka masih bisa menahan diri.


" Hahaha kenapa? Kalian tidak akan memukul ku ?benar juga, kalian tidak bisa menyentuh ku, hahaha "


" Sudah serahkan saja para gadis pada kami, kami akan melayani mereka dengan baik di tenda kami "


" Benar, tidak usah malu malu, kalian juga bisa bergabung jika kalian mau !!"


Satu persatu para berandalan terus memprovokasi Rokan.


Tidak hanya dalam bentuk verbal, seiring waktu serangan mereka meningkat menjadi fisik. Mereka menendang peralatan makan, melempar tumpukan cadangan kayu bakar, merubuhkan tenda mereka, bahkan mencoba merebut lengan para gadis dengan paksa.


Tentu saja Rokan tidak membiarkan hal itu terjadi. Rokan menepis tangan berandalan itu dan memberikan tatapan tajamnya.


Berandalan itu jatuh karena ketakutan dan dengan cepat mundur kembali ke kelompoknya.


" Kalian datang menghinaku aku bisa sabar, kalian merusak makan malamku, aku masih sabar, kalian merusak tenda kami aku masih bisa sabar."


Para berandalan merasa terintimidasi dan mulai mengeluarkan senjata mereka.


" Tapi, kali ini aku sama sekali tidak bisa sabar. Apa kau sadar siapa yang sudah kau lecehkan ?"


" Apa ?, bukankah itu adalah wanita penghibur mu ?"


Para berandalan kembali tertawa, mereka mulai memasang wajah mesum mereka lagi dan menikmati kemolekan tubuh para gadis di Party Rokan.


Tak terhindarkan juga, para berandalan ******* ***** kelamin mereka sendiri karena terlalu bernafsu.


Party Rokan sudah kehilangan kesabaran namun masih belum terprovokasi, mereka masih belum menarik senjata mereka.


" Aku akan memaafkan mu untuk saat ini karena sudah tidak sopan menyebut adik ku seorang wanita penghibur "


" Onii, sudah lah. Jangan dihiraukan "


Gadis yang ternyata adalah adik perempuan Rokan itu semakin menarik tubuh kakaknya agar tidak mendekati para berandalan.


" Semuanya, lihat. Wajah memelas seorang lacur yang memohon untuk di beri kasih sayang. Bukankah kalian suka dengan yang seperti ini?"


" Yah, suka sekali "


Para berandalan semakin bernafsu, mereka bahkan menjilati bibir mereka setiap kali melihat tubuh para gadis.


Rion merasa kasihan dan sangat ingin membantu. Namun Rion juga memikirkan mental mereka yang harus di latih.


Selama berandalan itu tidak menyentuh peserta ujiannya dia, Rion mencoba untuk tidak turun tangan lagi.


Cukup dengan vidio pelecehan mereka saja sebagai bukti yang akan memberatkan mereka.


" Kau pikir kami akan percaya dengan kata kata kalian ?"


" Lois... Lois... Lois..., jangan menilai orang dari wajahnya " Berandalan yang sepertinya adalah pemimpin itu mulai bermain sebagai korban.


" Aku tidak sudi melihat wajah menjijikan kalian, tapi dari sikap kalian yang kurang ajar. "


" Apa kalian sadar kalian sudah melecehkan kami "


Para berandalan itu mencoba memutar balikan fakta.


" Benar, kalian bisa saja di beri hukuman karena sudah melecehkan kami " Tambah berandalan lain.


Dan mereka tertawa karena merasa superior.


" Sebaiknya kalian kembali ke camp kalian "


Ujar Rokan, dirinya tidak mau terlibat dengan mereka lebih jauh lagi, wajahnya menunjukan bahwa dia merasa jijik hanya dengan bernafas dengan udara disekitar mereka.


" Hey, kau tidak berhak memerintah ku, sadar diri dengan siapa kau bicara " Berandalan yang seperti pemimpin itu mengancam Rokan dengan wajah tidak senang.


Rokan sama sekali tidak membalas kata kata berandalan tersebut. Dia hanya dapat menelan kemarahannya.


Karena itu para berandalan mulai menjadi liar, mereka mulai menarik Lois yang paling dekat dari mereka.


Namun usaha mereka sia-sia. Lois terlalu kuat bagi mereka, bahkan Lois sama sekali tidak bergeming ketika tangannya di tarik.


Hal lucu itu juga yang membuat semua ketegangan itu lenyap dan dengan sekejap situasi menjadi sebuah komedi.


" Apa yang kalian lakukan ?"


" Tidak, aku sama sekali tidak bisa menarik gadis ini "


Dua berandalan kembali mencoba menarik lengan Lois dan berusaha menculiknya, namun masih saja gagal.


Tiga orang mencoba, dan masih gagal.


Rokan yang kehilangan nafsu untuk membunuh mereka hanya mampu menghela nafas panjang. Meski pada akhirnya Rokan tetap menolong Lois yang masih membatu melihat kenyataan.


Dengan satu kibasan, para berandalan terbang hingga punggung mereka menabrak pohon hingga mereka pingsan di tempat.


Anggota Party Rokan merasa ada yang aneh juga keheranan. Orang yang mereka takuti selama ini ternyata jauh lebih lemah dari mereka.


Didalam hati, mereka berfikir mengapa mereka bisa sampai setakut ini selama ini.


Tidak terkecuali Rion yang sedari tadi merekam mereka. Dia sampai tidak sengaja tertawa keras dan mengekspos dirinya pada mereka.


Dan semua orang di sana sadar bahwa ada satu orang lagi selain mereka yang sedang duduk santai mengawasi mereka.


"" Rion san ""


" Kau!!"


Parti Rokan terkejut bukan main sedangkan para berandalan yang masih sadar menjadi ketakutan.


" Ups, maaf. Jangan hiraukan aku, lanjutkan saja " Jawabnya santai sambil terus merekam.


" Awas kau, kami akan membalas mu nanti !!" Para berandalan kabur masuk kedalam hutan ketempat teman mereka di kirim terbang sebelumnya.


Rion mengantar kepergian para berandalan dengan lambaian tangan.


Party Rokan menjadi canggung dan tidak enak.


" Maaf sudah membuat Anda melihat hal yang tidak sedap barusan " Sebagai orang yang merasa bertanggung jawab atas kejadian kali ini, Rokan meminta maaf mewakili party nya.


" Jangan terlalu dipikirkan "


" Lalu apa yang sedang anda lakukan disini ?"


" Aku ?, aku mengawasi sekitar "


"" .... ""


" Kalian pikir aku berbohong ?"


" Tidak, kami hanya tidak percaya kami di tolong lagi oleh anda, kami sudah banyak merepotkan anda "


Rokan lagi lagi menunduk mengimami teman-temannya.


" Sudah jangan dipikirkan, kalian lanjutkan lagi. Aku akan terus mengawasi kalian dari tempat lain saja."


Lagi pula Rion merasa kalau kejadian ini tidak akan berakhir begitu saja. Pasti ada satu atau dua hal yang membuat para berandalan terus mengganggu peserta ujiannya.


Rion pamit dan melesat tanpa menghiraukan Rokan dan kawan kawannya yang masih shock dengan kejadian barusan.


Rion pergi menemui pengawas yang bertugas menilai para berandalan. Pengawas mereka pun juga sepemikiran dengannya.


Mereka sama-sama melihat kejadian memalukan tersebut. Pengawas tersebut menyebutkan bahwa kejadian ini adalah aib bagi Guild petualang. Meski kejadian ini tidak jarang terjadi, namun dalam kasus ini sedikit spesial.


" Para berandalan itu datang dari kalangan para bangsawan. Meski keluarga mereka tidak terlalu kaya dan berpengaruh, namun tidak sedikit uang yang selalu orang tua mereka sumbangkan untuk guild. "


" Jadi karena itu guild masih belum mengangkat kasus ini ?"


" Benar, tidak sedikit masalah yang timbul dari apa yang sudah mereka lakukan di masa lalu "


" Tapi jika ini terus berlanjut, guild perlahan akan kehilangan kepercayaannya di mata masyarakat. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi "


" Sebaiknya kau hentikan, Rion san. Usaha mu yang sia-sia itu tidak di perlukan "


" Dari wajah mu aku bisa menyimpulkan, bahwa kau punya rencana sendiri " Tanya Rion menyakinkan.


" Ya, kami sudah merencanakan hal ini dari awal "


" Apa hanya aku yang tidak di beri tau ?"


" Bukan berarti kami tidak mengajakmu, hanya saja rencana kami datang dengan sendirinya "


" Apa Guild yang merencanakan hal ini ?"


" Mana mungkin Guild merencanakan pembunuhan pada anggota nya kan ?"


" Jika bukan dari Guild, berarti rencana ini datang dari para pengawas ?"


" Tidak salah sepenuhnya dan tidak benar sepenuhnya"


Rion masih belum benar-benar memahami apa maksud dari perkataan partner nya sesama pengawas itu.


Namun kali ini mereka berdua terus mengawasi parti berandalan secara bersama. Mereka mendekat kearah para berandalan yang kesal dan mulai merencanakan hal gila lainnya.


Dari dalam tas miliknya, pemimpin berandalan itu mengeluarkan sesuatu benda yang di bungkus kain berwarna gelap.


Dari benda itu Rion dapat melihat dan merasakan aura negatif yang membuat perasaan tidak enak.


" Batu itu sangat berbahaya, aku bisa melihat aura gelap keluar dari sana " Bisik Rion pada partner nya.


" Benarkah ? Maaf aku sama sekali tidak bisa melihat aura gelap seperti yang kau bilang, tetapi aku dapat merasakan perasaan tidak nyaman dari benda hitam itu."


" Tidak masalah, itu saja sudah cukup "


Rion mengeluarkan ponselnya dan kembali merekam aktifitas mereka dalam file baru di ponselnya.


Partner nya yang sama sekali tidak paham apa yang dilakukan Rion hanya membiarkan nya begitu saja.


Mereka berdua juga dapat mendengar jelas pembicaraan berbahaya dari para berandalan.


" Kau yakin akan menggunakan benda itu ?"


" Hey, kau yakin dengan benda itu akan membantu kita menjadi lebih kuat dari sekarang ?"


Dua di antara berandal merasa tidak yakin, mereka bahkan ketakutan dengan benda di tangan pemimpin mereka.


" Sudah kalian diam saja, serahkan semua nya padaku "


Setelah mengatakan hal itu, para berandalan mulai gila dengan wajah mereka yang siap melancarkan aksi.


Rion dan partnernya mengawasi mereka hingga pagi.


" Selamat pagi, apa ada perubahan ?"


Partner yang baru bangun itu menguap ketika mendapati para berandalan keluar satu persatu dari masing-masing tenda mewah mereka.


" Mereka terlalu banyak membuang buang uang untuk hal yang tidak perlu. "


Rion hanya tertawa kecil menanggapi kritikan partnernya.


" Bagaimana, apa sudah ada kabar dari regu pengintai ?"


Regu pengintai adalah kelompok yang mengawasi area hutan, tugas mereka adalah mengawasi pergerakan para monster dan mengirim sinyal bahaya bahkan tidak jarang mereka menggiring para monster ke arah para peserta ujian.


Namun kali ini mereka punya satu tugas khusus, dengan kemampuan cepat mereka dalam mengirim informasi jarak jauh, mereka melaporkan perihal batu mencurigakan yang di miliki oleh salah satu Peserta ujian.


Butuh waktu bagi regu penyelamat di Kota dan pos sekitar bisa datang.


Beruntung saat semua regu sampai, para berandalan itu masih belum menampakkan gelagat mencurigakan.


Dan kali ini ujian kenaikan pangkat di awasi oleh lebih banyak pengawas yang berpengalaman dan bukan petualang sembarangan.


Ada 54 total tenaga tambahan yang di kerahkan.


Rion merasa ini benar-benar bukan kasus yang sembarangan, bahkan hanya dengan satu gambar saja mereka mampu mengerahkan orang sebanyak ini.


Sebelum ujian di mulai kami mengadakan briefing sebentar. Sebagai saksi mata dan pelapor kami di mintai keterangan lebih lanjut.


Tapi karena Rion sama sekali tidak tahu menahu tentang kasus kali ini dan benda mencurigakan itu, Rion menyerahkan vidio yang ia rekam dan untuk laporan lengkapnya ia serahkan pada partner nya.


" Tidak apa-apa, itu sudah cukup. Selanjutnya serahkan pada kami jika ada hal berbahaya datang, dan tugas kalian saat itu adalah membawa semua peserta ujian keluar dari hutan ini. Kita tidak boleh membiarkan generasi muda kita gugur di medan pertempuran yang bukan milik mereka."


" Itu... Apa aku ikut dalam kelompok generasi muda itu ?"


Meski sungkan, Rion tetap mengutarakan pendapatnya itu.


" Hahaha, lelucon yang bagus. Tidak masalah kau boleh pergi bersama peserta ujian yang lain, serahkan saja bagian sulitnya pada orang dewasa."


Para orang dewasa yang baru datang pagi ini itu memasang wajah segar dan percaya diri mereka.


Namun Rion merusak kebanggaan mereka saat itu juga.


" Tidak, sebenarnya aku ingin sekali ikut, tenang saja aku jamin tidak akan merepotkan kalian. Meski kecil begini aku percaya diri dengan kemampuan bertahan ku."


" Oy, jangan bercanda!!."  Partnernya sebagai pengawas ujian menarik kerah bajunya menjauh dari ruang rapat.


" Padahal aku serius " Tambah Rion ketika dirinya ditarik.


" Tidak masalah !!" Pemimpin Regu mendekati Rion dan mencoba menyalaminya.


Rion pun dengan senang hati menjabat tangan pemimpin regu itu.


Sekarang perannya bertambah satu lagi.


Untuk sekarang, Rion di bantu partnernya mengawasi party Rokan. Untuk para berandalan pihak pelaksana mengutus beberapa petualang yang lebih tinggi sebagai pengawas mereka.


Pihak Rokan berhasil mencukupi kuota yang diminta untuk penyelesaian ujian. Segerombolan Orc bahkan tidak bisa membuat mereka gentar dan takut.


Bahkan mereka mendapatkan beberapa jarahan bagus dari para Orc yang mereka habisi.


" Mereka terlihat lebih menjanjikan "


" Hump, tentu saja "


" Mengapa kau yang bangga?"


" Hahaha, aku hanya ingin mengatakan itu saja"


Rion senang dengan Tsukomi yang dia inginkan.


" Tapi aku tidak habis pikir kau akan mengambil misi berbahaya itu, kau bahkan berbicara dengan santai seperti tadi pagi pada kapten Goro dengan santai "


Partnernya merasakan lemas dan merinding di saat yang bersamaan.


Bagaimana tidak, sosok yang di segani dan di takuti bisa di ajak Bicara oleh Rion dengan santainya.


Bahkan Rion sama sekali tidak terganggu dengan aura mencekam di sekitar Regu Mereka.


" Hahaha lama-lama kau juga akan terbiasa dengan ku "


" Kau mengatakan nya dengan santai seperti ini semua akan berjalan mudah saja."


" Kau terlalu memikirkannya "


Rion memeluk pelan pundak partner nya yang kelelahan itu.


Mereka berdua menghampiri Party Rokan yang bersiap berangkat pulang dengan santai.


" Onii " Lois orang pertama yang menyadari mereka datang.


" Bagaimana ? Apa ada yang terluka ?"


" Tenang saja Mary sudah menyembuhkan luka kami seperti sedia kala "


Rion mengelus Lois yang tersenyum membanggakan teman satu Party nya.


"" Selamat siang ""


Sapa Rokan dan teman-temannya.


" Kalian sudah selesai ?"


" Ya, ini yang terakhir " Rokan memasukan bungkusan berisi bukti penaklukan ke dalam tas miliknya.


" Bagus, lebih cepat dari yang diperkirakan "


Rokan dan teman-temannya merasa bangga karena sudah membuat pengawas mereka terkagum. Dengan begitu mereka tidak perlu cemas dengan hasil ujian kali ini.


" Selanjutnya kalian hanya perlu kembali ke pos awal dan tunggu Instruksi selanjutnya. "


" Siap pak !!" Lois yang paling bersemangat dengan Hormat Militernya.


" Kami mengerti, kalau begitu kami pamit undur diri dulu "


Rokan dan kawan kawannya pamit dan segera pergi memasuki hutan tempat mereka datang sebelumnya.


" Tunggu sebentar !!"


Dari tengah padang rumput, sekelompok berandalan yang bermasalah itu datang menghadang mereka.


" Hah, seperti nya mereka sangat putus asa, sampai sampai menghampiri kita lebih cepat"


" Memangnya ada apa ?" Tanya Rokan menanggapi kata-kata Rion sebelumnya. Karena instingnya mengatakan bahwa kali ini adalah sesuatu kasus yang gawat.


" Berhenti mengabaikan ku, brengsek !!"


Cecar berandalan itu dengan tampang percaya dirinya.


" Kalian pergilah dari sini secepatnya" Perintah Rion, namun Rokan masih bersikukuh meminta penjelasan dengan apa yang terjadi.


" Ku serahkan padamu " Pinta Rion pada partner nya.


" Kau yakin akan melakukannya?"


" Tentu saja " Jawab Rion tidak mau kalah seperti para berandalan di sana.


Awalnya partnernya itu bimbang antara membantu Rion, atau pergi bersama para peserta ujian ketempat aman. Namun karena ini adalah rencana yang sudah di buat matang, maka dia dengan enggan akan menjalankan itu semua.


" Baiklah, aku percayakan yang disini padamu "


Pria itu memulai mengambil langkah mundur seraya berkata.


" Semuanya, ikuti aku !!"


Rokan dan teman-temannya yang tidak tau apa-apa hanya mengikuti pria tadi. Dipikirannya ini kemungkinan bukan kasus perundungan seperti sebelumnya.


Kini Rion tinggal sendirian, namun itu yang dia inginkan. Sekarang tidak ada satupun orang yang akan menghalanginya untuk mengamuk.


" Persiapkan diri kalian baik-baik "


Rion mulai mengancam para berandalan dengan kuda kuda karatenya.