
Aku sedang bermalas-malasan sambil membaca buku di perpustakaan Istana.
Banyak buku yang menarik disini, bahkan juga ada Novel Romansa. Semua lengkap, yah.. Meski tidak ada Majalah dan Manga.
Kalian bertanya mengapa aku disini sendirian seperti orang pengangguran di jam yang sibuk ini?
Baiklah aku akan menjawabnya.
Semua berasal ketika aku selesai mandi, dan bersiap ke ruang makan. Ketika itu aku melihat seekor Kucing dengan bulu lebat dan pipi chuby sedang melintas. Aku yang sangat suka dengan hewan berbulu lebat seperti kucing itu secara naluri mengikutinya, kemana gerangan ia saat ini akan berpetualang.
Namun sayang kucing itu sangat gesit meski tubuhnya sangat besar.
Kucing itu memanjat jendela, melewati dapur dimana semua orang tengah sibuk. Ajaibnya tidak ada satupun yang terganggu dengan kehadirannya, bahkan mereka juga saling bertukar sapa, seakan akan sudah terbiasa.
Aku terus mengikutinya setelah dia dapat sosis dengan potongan besar.
Kucing penjelajah ini masuk ke rumah kaca di taman. Lagi-lagi dia menyapa pekerja di sana.
Tidak hanya sampai di sana, petualangan nya semakin menarik disini.
Ruangan Laundry, toilet wanita, kamar para Maid.
Tentu saja aku ingin mengikutinya, tetapi aku sadar diri.
Entah ini petualangan yang menakjubkan atau petualangan mendebarkan, aku pun bingung.
Setelah dia keluar dari masing-masing tempat dewasa itu. Dia terus melanjutkan ke tempat-tempat menakjubkan yang sesungguhnya.
Menara yang sangat tinggi dengan ratusan anak tangga.
Para penjaga sebelumnya memperingatkan kami untuk hati-hati.
Didalam hati aku sempat berpikir. Apakah kucing ini mempunyai pangkat yang lebih tinggi dari mereka, sampai sampai mereka memberi izin memasuki tempat berbahaya.
Tetapi semua pikiran yang merepotkan itu lenyap ketika mataku disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Aku bisa melihat hampir keseluruhan wilayah di kota ini, aku bahkan bisa melihat dinding pembatas dan juga jalanan yang kemarin kami lalui.
Aku mengelus bulu lembutnya dan memberikan sepiring daging bakar sisa perjalanan kemari sebagai pengganti ucapan Terima kasih atas pemandangan indah ini.
Setelahnya kami terus melanjutkan ketempat yang lain.
Kami juga berterima kasih pada penjaga atas dan bawah menara sudah mengizinkan kami menaiki menaranya.
Taman buah, sayur, ternak lebah, sampai pada akhirnya disini. Di perpustakaan yang di penuhi jutaan buku.
Kucing gemoy yang satu ini, sedang dalam mode sleep di pangkuanku.
Dengkuran nya sangat lucu, bulunya lembut dan membuat ketagihan.
Itulah penjelasan singkat alasan kenapa aku bisa sampai disini dan terjebak bersama mahluk menggemaskan di pangkuanku. Sampai Sampai aku melewatkan makan siang.
" Buku ini juga menarik, tidak berat dan mudah dibaca. Kualitas mereka memang bukan isapan jempol belaka"
Aku terus membaca serial yang lainnya yang sebelumnya sudah ku tumpuk di mejaku.
Karena terlalu terlena dengan semua buku buku ini, aku tidak sadar, jika matahari sudah muncul di jendela di sampingku, warna orange yang indah masuk melewati celah jendela.
Terasa perasaan sepi setiap kali aku melihat cahaya itu. Jika itu dulu, aku sudah bersama dengan adik-adik ku di ruang tengah sembari menunggu makan malam di buat.
" Hah... Mereka sedang apa sekarang ya "
Aku tidak percaya aku benar benar di dunia lain sekarang dan jauh dari rumah. Rumah tempat adik-adik ku berada. Tempat canda tawa mereka menghiasi rumah dikala aku lelah setelah pulang sekolah.
Tining!!
"Pesan ?"
Ku rogoh kantung hoodie ku, ku ambil benda pipih kepunyaan ku. Kulihat layar nya, satu Notifikasi baru saja masuk.
Ketika aku menekannya. Satu gambar di Grup aplikasi sosial media yang berisikan kami kami muncul di sana.
Potret tertawa mereka sedang memamerkan selembar gambar pemandangan yang kekanak-kanakan.
17:12
Jamnya kira kira sama dengan jam ketika aku baru sampai di rumah.
" Hahaha mereka masih saja melakukan nya "
Tapi tunggu sebentar.
Jam nya sama dengan jam yang tertera di layar ponselku ?
Tidak tidak, tidak mungkin. Ini di dunia lain, tidak mungkin.
Disini Mana mungkin ada jaringan internet.
Mungkin saja ini bug dan baru masuk padaku saat ini.
Ya benar, mana mungkin.
Sebenarnya aku berharap ini benar terjadi.
Seakan doa ku terkabul, rentetan pesan dari semua anggota didalam grup mulai bermunculan, ponselku tidak henti-hentinya berdenting.
Oy oy oy oy oy oy....
Ini bercanda ?
Bahkan orang yang seharusnya disini ikut menimpali potret gambar Miki dan Miku.
" Yang benar saja, tidak mungkin kebetulan seperti ini terjadi kan?"
Dengan penuh harap ku coba menekan nama yang tertera di layar.
Sebuah nomor dengan nama Miku-Chan. Dengan perasaan campur aduk, jari ku dengan lancang menekan sebuah Icon dengan gambar kamera vidio.
Tuuuut Tuuuut Tuuuut
Panggilan ku masuk.
Tak lama, sebuah wajah yang kukenal muncul di layar, tepat persis dengan wajah mengantuknya yang cantik.
" Onii-chan, apa kau melihat mahakarya kami?"
Itu Miku...
Suaranya pun persis sama, apa mungkin benar ini kenyataan?, semua ini terlalu nyata untuk di sebut bukan ilusi.
" Umm.. Aku melihatnya " Air Mata kerinduan jatuh ketika mengalir di pipiku.
" Siapa yang menelpon?" Dari seberang aku juga mendengar suara riang Miki.
" Nii-Nii !! Apa kau melihat maha karya kami ?, kami membuatnya khusus untuk Nii-Nii. Apa kau suka ?"
Miki, wajahnya masih saja terlihat lucu.
" Nii-Nii dengar, aku sudah bertambah tinggi 5 centi semenjak Itu, lihatlah "
Pemandangan layar ku juga ikut bergerak memperlihatkan sosok Miki yang berdiri di tiang dengan tempelan meteran. Tak lama kemudian Miku juga ikut berbaris di samping Miki dan memamerkan tubuhnya yang juga ikut bertambah tinggi.
" Ooh benar, kalian sangat cepat tumbuh ketika aku tidak di sana yah?, apa kalian makan dengan benar?"
" Tentu saja, aku sudah besar. Aku sudah tidak pilih pilih makanan lagi"
" Aku, aku juga tidak menyisakan wortel lagi " Miku tidak mau kalah dari saudarinya.
" Bagus bagus.. "
" Nii-Nii kau baik-baik saja ?"
" Onii-chan apa kau sakit "
" Tidak, aku baik-baik saja "
" Tapi aku merasa Nii-Nii sedang kesakitan "
Wajar saja jika mereka kebingungan seperti itu ketika melihat wajah rindu ku saat ini. Jujur saja aku merasa ingin memeluk mereka saat ini, namun apa daya aku sangat jauh dari rumah.
" Tidak, bukan apa-apa, aku hanya senang melihat kalian baik-baik saja" Jawabku mengelak.
" Tapi aku melihat Nii-Nii menangis, aku juga merasa ingin menangis"
" Aku tidak menangis, aku hanya menguap "
" Benarkah?"
" Benar, aku tidak bohong "
" Syukurlah, lalu apa yang sedang kau lakukan "
Syukur juga bagiku mereka tidak jadi bersedih.
" Aku ? Aku sedang membaca buku di perpustakaan, bersama kucing lucu ini "
Ku tukar kamera belakang dan ku sorot kucing gemoy yang masih tertidur pulas di pangkuanku.
" Lucunya.. Lebih dekat lagi, lebih dekat lagi "
" Sssst.. Nanti dia bangun "
" Maaf" Miki berbisik.
Miki menutup rapat mulutnya dengan spontan.
Aku juga mengirim beberapa potret kucing ini dan tingkah lucunya dan pemandangan kota yang ku ambil tadi siang.
Hampir satu jam lamanya waktu yang tertera di lama panggilan kali ini. Banyak cerita yang kami saling tukarkan, bagaimana mereka mendapatkan siswa pindahan baru di kelas dan bagai mana cerita tentang mereka bisa sampai menjadi teman akrab, sampai sampai sudah menginap di rumah kami.
Adik Adik ku memang yang terbaik.
" Benar juga, aku hampir saja lupa. Dimana Maki-chan ?"
" Nee-chan bilang akan pulang terlambat, ada sedikit masalah di klub panahan nya"
" Lalu bagaimana dengan makan malam kalian ?"
" Tenang saja, Onee-chan sebentar lagi pulang."
" Aku pulang... Maaf onee-chan pulang terlambat lagi hari ini, apa kalian sudah makan malam. "
" Belum !!, nee-nee apa makan malam hari ini"
" Hmm... Kare kemarin masih ada banyak, apa kita habiskan dulu saja ?"
" Karee !!" Miki dan Miku bersorak ketika mendengar makan malam mereka adalah makanan kesukaan mereka.
" Hey, ayo cepat cuci tangan bantu aku mempersiapkan meja"
" Ya!, kalau begitu Nii-Nii aku tutup dulu, sampai jum.. Wuaaa!!"
" Onii-chan ?, maaf aku tidak sadar ada Onii-chan, bagai mana kabarmu ?" Maki yang merebut ponsel Miku sedang merapikan rambutnya yang tidak rusak.
" Aku baik-baik saja, sehat sentosa, bagaimana dengan sekolahmu?"
" Dibandingkan dengan kabar adik mu yang cantik ini, kau lebih mementingkan sekolahku ?"
Wajahnya memang cantik, dan pipinya yang menggembung juga gemoy, tetapi dia sudah melupakan tugas awalnya. Menyiapkan makan malam.
" Hahaha, jika kau bisa bereaksi seperti itu aku bisa tau dan yakin kabarmu sehat sehat saja."
" Moh, setidaknya khawatir lah sedikit dengan adikmu yang sedang masa pubertas ini"
" Cup cup cup adik ku yang manis, bagaimana kabarmu ?, apa kau sehat ?, bagaimana dengan makan mu ?, kau tidak menyisakan sayuran mu kan ?" Goda ku. Aku lega mereka masih sama, masih sama-sama manja.
" Moh, terasa tidak tulus"
Aku hanya bisa merespon dengan tawa saja saat ini. Jika saja aku di sana sudah pasti aku akan mengusap dan mengacak acak rambutnya.
Hampir 20 menit lamanya Maki bercerita tentang sekolah dan clubnya. Dirinya sudah kelas 3 SMP sekarang, dan berbagai ujian akan ia hadapi sedangkan Club Panahan nya sekarang sedang dalam krisis karena tidak ada yang mau menggantikan Posisinya sebagai Ketua.
Sebagai kakak yang baik, aku memberikan beberapa saran yang mungkin bisa membuat semangat dan jiwa atlet mereka bangun.
Miki juga sempat memikirkan ide yang sama, masalahnya dia belum punya waktu saja untuk merealisasikan itu semua karena semua ujian dan jadwal belajar yang padat.
Maki mengakhiri panggilan Vidio dan pamit untuk menyiapkan makan malam, dua adik kembar ku juga sudah selesai dengan bantuan mereka, mereka juga sempat menunjukan beberapa gambar yang baru mereka buat selama kami berbincang.
" Onii-chan, jaga kesehatanmu. Sampaikan juga salamku untuk semua. Terutama untuk Ayah dan Ibu "
" Serahkan padaku, kalian juga di sana, jaga kesehatan kalian. Jangan mudah ikut dengan orang yang tidak di kenal, aku tidak mau jika nanti kalian sampai kenapa kenapa"
" Nii-Nii juga, jangan sampai berbuat nekat. Pastikan tidak berkeliaran sendirian. Aku tidak mau kau tersesat dan tidak tau jalan pulang. "
" Aku tidak mau mendengar itu dari mu!!" Jawabku kesal, adikku sampai cemas dengan diriku yang gampang tersesat ini.
" Ya sudah, aku tutup dulu, sampai jumpa Onii-chan, Nii-Nii sampai jumpa, onii-chan jaga kesehatanmu " Ucap mereka satu persatu.
" Ya, kalian juga. Jaga kesehatan. Aku tutup "
Aku mengakhiri panggilan tersebut, dengan begitu perasaan rinduku sedikit terbayarkan.
Tetapi yang menjadi tanda tanya besar adalah. Bagaimana teorinya sebuah sinyal internet bisa sampai melintasi dua alam yang berbeda, terlebih lagi aku yakin di dunia ini tidak ada internet.
Listrik saja Tidak ada. Buktinya saja, lampu di sini saja menggunakan kristal yang mereka sebut kristal cahaya dan di ubah sedikit dengan sirkuit sihir menggunakan sihir alchemy, agar bisa di atur bisa di hidupkan atau dimatikan kapan diperlukan.
Mataku terpaku pada layar ponselku dimana tertera nomor kontak Miku yang baru saja aku panggil.
" Aku benar-benar tidak sedang bermimpi kan " Ku cubit pipiku sendiri. Tidak terasa, ku coba cubit pahaku, kulitku terlalu tebal untuk merasakannya.
Ini bukan mimpi.
Aku masih merasa ragu ini kenyataan, dan masih bertanya tanya apa yang sedang terjadi.
" Meoong "
Kucing gemoy, bangkit dari tidurnya dan merenggangkan tubuhnya, dan melompat keatas meja. Dengan ekspresi tenang dia duduk dan melihat ke arahku, tidak ke arah bahuku.
Di sana satu benda mirip robot kecil, bertengger dengan santai. Matanya yang berupa layar itu terlihat tersenyum dan kemudian melompat ke sebuah lingkaran sihir kecil di hadapannya dan menghilang ketika menembus itu.
" Apa Apaan itu tadi. Aku sama sekali tidak menyadari ada dia di sana. Dan lagi sejak kapan dia keluar ?" Tanya ku sendiri.
Tuan kucing gemoy membimbing ku ke ruangan makan ketika aku masih kepikiran tentang kejadian barusan ketika kami kembali ke istana.
Semua orang tampak sudah siap di kursinya masing-masing.
Aku juga duduk di kursi ku ketika pelayan mempersiapkan peralatan makan untuk ku.
Izumi dan Momo terlihat tenang menunggu makanan datang.
Semua orang juga begitu. Hanya Rin yang sibuk dengan ponselnya.
Benar, gadis ini tadi juga ikut bergabung dalam grub chat. Bahkan dia yang paling antusias ketika mengirimkan chat beruntun.
Wajahnya tampak tidak senang dan kesal setiap kali menggulir layar ponselnya.
Biar ku tanyakan itu nanti.
Aku tidak bisa makan dengan benar tadi siang jadi biarkan aku makan dengan benar kali ini.
*****
Aku memanggil Rin ketika selesai Makan Malam.
Sebagai orang yang paling banyak mengirim pesan, aku menanyakan, apakah benar dia tadi mengirimkan pesan.
" Tentu saja, lihat sendiri, ini buktinya "
" Benar, itu sama dengan yang di ponselku. "
" Tetapi entah kenapa, aku sama sekali tidak bisa lagi mengirimnya entah berapa kali ku coba. Jaringan di sini sangat payah "
" Rin, seharusnya disini sama sekali tidak ada jaringan. Apa kau sadar?"
" Eh ?"
Yang benar saja, kau baru sadar?
*****
Sudah seminggu semenjak aku mendapatkan sinyal, dan semenjak itu aku sama sekali tidak lagi mendapatkan sinyal.
Apakah hari itu cuma kebetulan ?, tidak, tidak ada kebetulan yang seperti itu.
Kejadian misterius itu masih membekas di benakku sampai hari ini sampai-sampai mengganggu waktu tidurku.
Tetapi mari kesampingkan hal yang belum bisa terjawab itu.
Ada hal yang lebih penting.
Dalam beberapa hari ke depan salah satu akademi di Negeri ini akan memulai tahun ajaran baru. Semua surat-surat dan perlengkapan sudah di sediakan oleh Ibu, lewat Kiriman khusus Sora-Nee.
Sebenarnya aku tertarik dengan kelas Alchemy nya, namun jika aku mengambil itu aku tidak bisa menjaga Rin setiap waktu.
Tetapi setelah mempertimbangkan ini itu, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk membiarkan aku mengambil satu kelas khusus yang aku minati.
Lagipula kelas yang nantinya diambil itu berhubungan dengan Bangsawan Wanita saja.
Untuk Kazu dan Izumi, mereka mengambil kelas Ksatria.
Izumi beruntung bisa masuk kelas itu melewati koneksi Yang Mulia, secara khusus karena dia memiliki kualitas sebagai Ksatria.
Hanya aku yang sendiri. Tetapi aku tidak sesedih itu. Ada banyak hal menarik didepan menanti ku.
*****
Hari yang dinanti tiba tanpa terasa.
Pagi hari lebih sibuk dari biasanya. Semua Maid dan pelayan dengan panik mempersiapkan keperluan Putri Tidur yang selalu bangun kesiangan.
" Tidak di rumah tidak disini, masih saja heboh setiap berangkat sekolah"
Padahal semua orang sudah siap setengah jam lebih awal namun dia baru saja bangun.
" Itu salah mu sendiri, sudah tau hari ini hari pertama sekolah tapi kau masih saja begadang semalaman"
" Aku tidak mau mendengar itu darimu !!"
Rin dengan tergesa-gesa memasukan potongan roti besar itu ke mulutnya.
" Tidak elegan sama sekali"
"Berisik!!"
Para pelayan yang gelagapan karena mengurusnya sedikit merasa terhibur ketika melihat kelucuan Tuan nya yang satu ini ketika panik.
*****
15 menit setelahnya kami berangkat menggunakan kereta.
Dua kereta untuk kami dan rombongan Izumi.
Sepuluh menit perjalanan kami sampai di depan gerbang.
Kata pertama yang keluar dari mulutku adalah.
" Waw "
Seperti berada di dunia lain saja.
Benar juga ini memang dunia lain.
Tetapi aku berpikir akademi sihir itu akan sama dengan yang ada di film Harry tetapi ini lebih elegan dan cantik.
Mulai dari jalan nya, taman, bangunan hingga seragam yang yang sangat keren. Perpaduan antara seragam militer dan Cyber Fantasi.
Rin turun dari kereta dengan bantuan Kazu. Karena itu adalah tugasnya.
Aku tidak punya hak untuk mengambil posisinya.
Aku juga tidak ingin.
Rin langsung mengubah sikapnya menjadi Tuan putri yang anggun.
Semua mata langsung tertuju padanya tidak peduli ia lelaki ataupun perempuan.
Ya, memang ku akui, wajahnya sangat menawan. Tetapi jika orang-orang yang mengaguminya ini tau seperti apa dia di rumah, pasti mereka akan berpikir dua kali untuk tetap menyebutnya anggun.
Aku dan kazu berjalan di samping Rin, sungguh berjalan di sampingnya saja sudah membuatku merasa seperti artis.
Bukan bermaksud sombong. Hanya saja itulah yang sebenarnya terjadi.
Rin adalah Tuan Putri kerajaan ini. Anak perempuan dari Raja Negeri ini.
Siapa yang tidak merasa cemburu?. Untuk berbicara dengannya saja tidak bisa sembarangan orang dan tidak sembarangan waktu. Meski orangnya sendiri tidak peduli dengan strata itu, tetapi tidak dengan orang lain yang pasti mengira strata adalah segalanya.
Ketika kami berjalan di sepanjang barisan penonton yang terkesima, sekelompok orang yang di ketuai Loli datang menghadang.
" Rin !!"
" Mars !!"
" Eh, planet ?"
Ah, bukan ternyata nama Loli itu, tubuhnya jauh lebih kecil dari Rin dan sepertinya mereka teman akrab.
" Ri-kun, biar ku perkenalkan. Yang ada disini adalah Putri Marshel dari negeri tetangga. Beliau adalah temanku sedari kecil sekaligus tunangan Onii-chan "
" Eh, tunangan Alan ?, maksudku salam kenal Tuan putri "
" Dan Mars, perkenalkan ini adalah temanku Ri-kun.. Aduh"
Aku menjitak kepala nya ketika memperkenalkan ku dengan cara yang tidak benar. Sontak semua orang terkejut, seorang pendamping dengan gaya berandalan memukul seorang putri.
" Perkenalkan aku dengan benar, apa otakmu itu masih tidur ?"
" Tidak perlu sampai memukul segala, bagaimana jika nanti aku jadi bodoh seperti mu?"
" Sudah perkenalkan dengan cepat, atau kita akan ketinggalan upacara penerimaan"
Dengan enggan dan masih sambil mengusap kepalanya yang sepertinya benjol itu, Rin memperkenalkan kami bertiga, sang wajah baru.
" Berandalan yang satu ini adalah Rion kun, teman masa kecil ku, kelebihannya adalah sering tersesat" Ejek Rin mencari kesempatan.
Aku ingin menghadiahkannya satu pukulan lagi, tetapi gadis itu sudah lebih dulu melindungi kepalanya dengan tas sekolah.
" Nama Saya Rion, senang berkenalan dengan Tuan putri seindah anda. " Aku memberikan salam yang sudah di ajarkan kepadaku sebelumnya.
" Selanjutnya pria di belakangnya, adalah Izumi. Orang penting di Guild. "
" Woy !! Hentikan lelucon itu " Izumi sedikit kesal
" Dan selanjutnya. Gadis cantik di sebelahnya adalah Momo, istri masa depan Izumi "
Momo memberi salam dengan menarik ujung roknya yang di potong pendek itu. Memperlihatkan dengan jelas kulit putih di paha mulus nya.
Sontak itu membuat semua pria merasa malu sendiri.
"Hey, bagai mana caranya agar aku bisa mempunyai tubuh indah seperti mu ?"
Sepertinya Momo sudah mengambil hati Tuan Putri Marshel.
Gadis ini kedepannya yang akan mendapat pelajaran menjadi Gyaru dari Momo. Tetapi itu untuk di masa yang akan datang jauh di depan.
Kami melanjutkan masuk kedalam sekolah menuju papan pengumuman sebelum menuju aura upacara diadakan. Masih banyak waktu, dan itu di pergunakan oleh para gadis dengan saling mengakrabkan diri di depan pintu.
Sedangkan bagi kami para lelaki hanya duduk diam sembari mengawasi mereka dengan damai.
Berbeda dengan rombongan para gadis, rombongan kami hanya banyak diam.
Sesekali para gadis melirik kearah kami. Kazu juga memberikan balasan walau sekedar senyum.
" Cih, Riaju "
" Cemburu ?"
" Bukannya cemburu, tapi aku juga ingin seperti mu disapa orang setiap kali bertemu "
" Itu namanya cemburu, kawan "
" Terserah lah "
Bersandar di dinding sambil menunggu lama seperti ini membuatku mengantuk.
"" Bosan ""
Di sebelahku sedikit jauh ada seorang gadis sendirian yang sama bosannya dengan ku.
" Selamat pagi " Sapa ku ketika mata kami bertemu secara tidak sengaja.
" Sel.. Selamat p.. Pagi " Jawabnya gugup menutupi wajahnya dengan tas sekolah.
" Bersandar sambil menunggu seperti ini membuat kita mengantuk bukan ?"
" Be.. Benar. Aku juga merasa begitu. "
" Benarkan?, aku sampai tidak habis pikir sekolah selalu melakukan hal ini setiap tahun. Ingin rasanya bolos dan tidur di suatu tempat sampai upacara selesai"
" A..aku juga sama "
" Kalau begitu kita bolos saja " Ajak ku, sepertinya aku bisa akrab dengan gadis ini. Pikiran kami sama dan se frekuensi.
" Aku tidak akan membiarkan siapapun bolos di hari pertama "
Dari belakang, Kazu menarik kerah bajuku ketika aku hendak membawa gadis itu pergi untuk bolos.
" Hehehe... kazu, kali ini saja aku ingin bolos, lain kali tidak, bolehkan ?"
Kazu tersenyum penuh makna, genggamannya semakin kuat dan menarik ku ke sampingnya.
" Nona Airi, aku mewakili temanku yang bodoh ini meminta maaf karena sudah mengatakan hal bodoh Kepada Anda."
" T.. Tidak.. Bukan apa-apa. Aku juga.. "
" Nona Airi, sebaiknya anda jangan terlalu akrab dengan Orang ini. Orang ini sangat berbahaya sampai ke tingkat bisa memukul gadis tanpa ada yang berani melerai nya"
" Woy, jangan mengarang yang tidak tidak.l"
Benar saja, Gadis yang disapa Nona Airi itu percaya dengan bualan yang di lontarkan Kazu dan langsung mengambil jarak aman.
Kazu tertawa puas karenanya.
Pintu Aula tempat upacara di adakan terbuka, dan para guru membimbing kami menurut kelas kami. Ada sedikit murid yang ada di luar.
Kami di bimbing menuju ke kursi kursi yang sudah di persiapkan di tengah ruangan.
Di lantai 2 ruangan, murid lain dengan seragam yang sama sudah menunggu kami, mereka tampak seperti menilai kami para junior mereka.
Diantara mereka aku bisa merasakan tekanan batin yang kuat. Terlebih banyak di antara mereka yang mempunyai hawa keberadaan yang mengintimidasi.
Di panggung di depan juga ada para guru yang kemungkinan nantinya akan mengajar kami. Wajah mereka tidak ramah dan lebih mengintimidasi.
Karena upacara penyambutan selalu membosankan, aku akan melewatkan ceritanya, lagi pula aku sepertinya ketiduran.
Maaf.
Dan selama satu jam kira kira, setelahnya kami di giring menuju kelas kami. Kelasnya jauh berbeda dengan SMA dan hampir mirip dengan Kampus, dimana bangku siswa di buat susun bertingkat.
Dan ritual seperti biasa di mulai. Salah satu dari sekian ritual yang membuat ku malas setengah mati.
Sebentar. Aku tidak menemukan wajah wajah yang ku kenal di kelas ini.
Dan yang lebih aneh lagi, aku tidak mendengar Namaku di sebut meski murid terakhir sudah di panggil.
Sebentar sebentar, apakah terjadi lagi ?
Hahaha sepertinya iya.
" Permisi Sensei "
Di saat itu juga, seseorang dari pintu masuk datang menginterupsi.
" Oh, Isac Sensei, ada yang bisa saya bantu ?"
" Sebelum nya saya mohon maaf, sudah mengganggu kelas anda. "
" Tidak masalah Sensei, jadi apa ada perlu dengan saya?"
" Tidak, bukan. Sebenarnya saya sedang mencari murid saya yang kemungkinan berada disini "
" Murid anda ?"
Sensei melirik kearah kami. Dan memeriksa ulang daftar semua muridnya. Dan mulai menunjuk kami satu persatu seraya menghitung kami.
" Sepertinya murid anda memang berada disini, Sensei "
" Benarkah begitu ? Syukurlah. Saya sudah tidak tau lagi harus mencari dimana lagi jika masih tidak menemukannya juga disini"
" Anda bersemangat seperti biasanya Sensei "
" Tidak tidak, bersemangat sangat berbeda dengan panik Sensei "
Hahaha... murid itu sepertinya sudah membuat kekacauan di hari pertama.
Benar-benar anak yang bermasalah. Pikirku waktu itu.
Sensei berjalan menaiki podium dan melirik menerawang ke isi kelas, dan matanya tertuju ke orang di belakang ku.
Aku penasaran, seperti apa orang yang membuat lelucon itu.
Ah !!
Aku sadar, tidak ada lagi orang di belakangku.
" Maksudnya aku ?" Gumamku, Ku tunjuk diriku sendiri.
Sensei tersenyum lembut kearah ku, terdapat sisa ketampanan di masa jaya nya dulu ketika senyum itu terarsir di wajahnya.
" Boleh aku nama anda tuan ?"
" Tuan ? Maksudnya saya ?"
" Benar, saya sedang berbicara dengan mu tuan"
" Maafkan saya, Nama saya Rion "
"....."
"....."
Apa ada yang salah ?
" Sensei ?" Sahut ku memecah keheningan.
" Sensei, apa benar siswa yang anda cari itu siswa ini ?"
" Benar sekali Sensei, Murid ini adalah Siswa saya. Jika berkenan Saya ingin segera membawanya ke kelas sebelum membuang waktu anda dan siswa anda yang berharga. "
" Hahaha tidak perlu secepat itu, Sensei. Benar bagai mana jika kita dengarkan dulu perkenalan dari teman kita ini. Siswa di sana, bisakah anda maju ke podium dan memberikan sedikit kata-kata kepada kami ?"
Apa aku sedang di kerjai ?
Ya sudah, sudah terlanjur juga.
Aku pun memenuhi permintaan Sensei.
" Saya mohon maaf atas kehebohan yang sudah saya buat saat ini, semua ini akibat kecerobohan saya sendiri. Saya terlalu mengantuk setelah mendengar upacara pembukaan yang membosankan pagi ini, sehingga saya tidak memperhatikan jalan dan salah memasuki barisan."
Kelas menjadi sedikit ribut ketika aku mengatakan tidur saat upacara. Hal itu saja sudah menjadikan mu label nakal mau dirimu sekolah di manapun.
"Jika di perkenankan, izinkan saya memperkenalkan diri." Lanjut ku.
" Nama saya, Rion.. Teman-teman semua bisa memanggil saya Rion tanpa Homofon apapun. Semua teman dekat saya selalu memanggil saya dengan Nama saya. Meskipun saya tidak menjadi bagian dari kelas ini, saya sangat berharap jika kita bisa akrab kedepannya. Sekian dari saya dan Terima kasih atas waktu yang sangat singkat ini, saya sangat bersenang senang"
Sensei yang merupakan wali kelas nini memberikan tepuk tangan sebagai apresiasi kepadaku, di iringi tepukan dari semua orang setelahnya.
" Sungguh pengakuan yang luar biasa, mampu mengakui kesalahan secara terang terangan"
" Yah,.. Saya selalu di didik untuk jujur ketika saya salah, hanya saja saya tidak bisa menghilangkan sifat mudah tertidur ketika setiap upacara sekolah"
" Tidak tidak, jujur di depan umum tidak mudah dilakukan, apa yang sudah Siswa lakukan saat ini merupakan sifat bijaksana yang sulit untuk dimiliki anak muda masa sekarang"
" Izinkan saya mengganggap kata-kata anda sebagai pujian, Sensei "
" Pertahankan hingga sampai ke masa mendatang, nah murid murid ku sekalian, sangat disayangkan bukan ? kita kehilangan teman sekelas yang sangat jujur disini. Sensei harap kalian bisa berteman meski bukan dari kelas yang sama dengan Rion San"
" Sensei, seharusnya kata-kata itu keluar dari mulut saya sendiri karena sayalah yang salah disini"
Aku meminta maaf sekali lagi menggunakan kata-kata Sensei yang di curi dariku.
Setelah itu aku kembali ke kelas yang seharusnya aku berada. Di kelas baru aku lagi lagi meminta maaf atas masalah yang ku perbuat.
Dan di hari pertama itu beredar sebuah berita.
'Telah datang Seorang murid dengan kebijaksanaan yang tinggi, mengaku bahwa ia sempat tertidur ketika kepala sekolah sedang berpidato penerimaan Murid Baru. Dan lagi ia mengatakan lah itu dengan lantang, di depan orangnya langsung'.
Tentu saja aku tidak tau dalam waktu dekat, sampai beberapa hari kemudian.
Dan itulah cerita hari pertama ku di sekolah Baru. Pengalaman baru dan teman baru.
Bagaimana, apakah menarik?
Jika tidak aku akan berikan cerita lainnya nanti.
Untuk sekarang aku harus melapor dulu ke Guild, karena absen lebih 2 minggu. Aku tidak mau kartu petualang ku di cabut karena bolos.
Sampai jumpa.