
Keesokan paginya, kami sarapan dengan roti yang sudah ku persiapkan malam sebelumnya, dan secangkir kopi.
Pagi ini setelah sarapan rencananya kami akan langsung menuju ke Guild Petualang untuk mendaftarkan diri.
Tetapi rencana sedikit tersendat, ada beberapa skenario yang nantinya harus kami lakukan selama kami berkeliaran didalam kota dan skenario ini berlaku sampai kontrak sementara dengan tuan Alberd selesai.
Skenarionya begini.
3 orang petualang kehilangan kartu petualang.
Namun ketika ingin kembali ke kota hendak melaporkan kehilangan, mereka bertemu dengan para bandit. Tidak perlu waktu lama, para bandit berhasil di ringkus dan tahanan berhasil di bebaskan.
Lalu sebagai rasa Terima kasih dari Penguasa Kota, para petualang pemberani tersebut di hadiahkan setumpuk koin emas.
Para petualang dengan rendah hati menolak atas dasar rasa kemanusiaan. Lagipula para petualang ini juga sudah di izinkan untuk menginap dikamar mewah dan hidangan yang lezat, Sebagai Tambahan, Tuan Penguasa dengan senang hati akan membayarkan biaya Pembuatan Kartu Petualang yang Hilang.
Dan semua hidup bahagia selamanya.
" Aku tidak masalah "
" Aku juga "
" Aku tidak peduli, selama aku bisa disisi Darling ku. "
Tuan Alberd dan putranya sudah repot-repot membuat naskah yang disusun rapi. Tidak sopan jika kita menolak.
Setelah Sepakat kamipun mengikuti sandiwara ini.
" Satu hal lagi, tolong rahasiakan juga sihir ruang Anda sekalian dari publik "
" Yah, waktu itu tidak sengaja. Lain kali aku akan hati-hati."
" Terima kasih atas pengertiannya "
Setelah di brifing, pelayan tuan Alberd mengantar kami menuju guild.
Mereka sudah mempersiapkan kereta untuk berangkat, tetapi aku menolak.
Berjalan kaki sambil melihat pemandangan kota jauh lebih menyenangkan.
Warganya hidup dengan damai dan tampak bahagia, Tuan Alberd tampaknya mengerjakan tugasnya dengan benar.
Tetapi di perjalanan, kami menjadi sorotan karena pakaian kami yang jauh berbeda dengan pakaian yang mereka kenakan.
Tak terhindarkan juga pemilik toko pakaian mewah yang menghentikan kami ketika kami lewat di depan toko miliknya.
Wajar saja, Hoodi dan celana Lepis yang ku kenakan terlihat santai dan nyaman, dari jauh pun pakaian ini terlihat keren ketimbang mewah.
Pemilik toko berfikir jika dirinya bisa menjual pakaian sepertiku, tokonya pasti akan kebanjiran pesanan, karena pasti akan populer dikalangan pemuda.
Sampai-sampai aku kesulitan untuk lepas dari cengkraman nya.
" Jika anda bersikeras lebih jauh dari ini aku akan melaporkan toko kalian dengan tuduhan perampokan. " Ancam ku.
" Aku tidak akan menyerah.. "
" Silahkan saja, jika sampai ada kabar bahwa toko ini menjual barang yang mirip. Anda akan dikenai pasal pen jiplakan hal cipta. "
" Ughh... "
Rasakan... Enak saja. Mengambil untung sendirian, aku saja tidak berani.
Dengan cepat kami keluar dari toko tersebut. Melanjutkan perjalanan berkeliling kota, Ehem... Maksud ku ke guild petualang.
Dipertigaan jalan terdapat sebuah taman dengan air mancur besar, Itu bukan taman air ataupun taman bunga. Itu hanyalah sebuah lahan besar yang dikelilingi pagar besi. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk masuk, semua golongan bebas untuk masuk.
Kotak pasir, ayunan bahkan perosotan untuk bermain anak-anak, bangku taman di tepi jalur pejalan kaki, pohon rindang dengan rumput hijau di salah satu sudut taman.
Aku tidak tau apakah hiburan seperti ini juga sudah ada pada jaman dahulu jika di Bumi.
Tetapi saat ku tanyai pada pelayan
" Taman ini dibangun semenjak 4 tahun yang lalu, di saat Teman dekat Tuan Alberd datang berkunjung bersama istri beliau dan melihat kurangnya permainan untuk anak-anak sehingga suara tawa anak-anak sampai sampai tidak bisa beliau dengar. Karena itu tuan Alberd membangun taman ini berdasarkan desain dari teman beliau itu "
" Jadi begitu "
Kami tidak singgah ke taman namun bangunan di seberangnya.
Bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton dicat putih. Desain luarnya mirip kantor polisi, namun tidak menghilang kan kesan fantasi. Seperti papan nama yang menggantung di atas pintu masuk, jendelanya saja masih menggunakan papan kayu yang terawat.
Kami mengikuti pelayan yang berjalan masuk terlebih dahulu. Kesan pertama ku ketika melihat seisi di dalam Guild adalah, sangat mewah. Interior yang cantik, perabotan berkilau yang terawat, beberapa loket di tengah ruangan dengan sistem antri. Beberapa Sofa dan meja untuk tamu di sudut sebelah kanan pintu masuk. Kantin atau Bar serta meja panjang tempat makan bersama di bagian kiri pintu masuk.
Aku mulai tidak sabar. Aku juga tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirku.
Untuk Izumi dan Momo aku tidak akan berkomentar, aku ini orang yang bisa menjaga perasaan orang jomblo seperti kalian. Ku sarankan kalian tidak usah melihatnya.
" Kalau begitu tuan-tuan sekalian, jika berkenan izinkan saya untuk undur diri terlebih dulu. Saya masih ada pesan yang harus saya sampaikan segera untuk Guild Master. "
" Osh. Sampai nanti.. "
" Kalau begitu saya undur diri "
Kami berpisah, pelayan tadi pergi menuju tangga ke lantai atas, sedangkan kami masuk ke dalam barisan antrian.
Tidak sampai 10 menit akhirnya giliran kami.
" Silahkan selanjutnya. " Gadis ceria yang jauh lebih muda menyambut ku dengan senyum.
" Sepertinya aku melihat wajah baru disini " Ujar gadis itu menginvestigasi. Wajahnya sangat dekat, dan juga aset miliknya itu terlihat berbahaya.
" Ya, kami baru saja sampai di kota ini kemarin sore "
" Benarkah, kalau begitu secara pribadi aku ucapkan selamat datang di Guild Kami, apa ada yang bisa saya bantu ? "
" Itu, sebenarnya.. Sebenarnya saat dalam perjalanan ke Ibukota kami bertemu dengan para bandit dan kehilangan kartu keanggotaan kami."
" Yah, beruntung kalian bisa selamat, tapi tetap saja kehilangan kartu keanggotaan adalah aib bagi seorang petualang karena tidak bisa menjaganya dengan baik."
" Maafkan kami " Padahal ini hanya skenario, tetapi tidak ada yang bilang padaku kalau aku akan dimarahi oleh Loli berdada besar. Batin ku sampai menangis.
" Untuk berjaga-jaga kami akan memeriksa kalian " Gadis Loli itu mengeluarkan sebuah bola kristal besar yang mirip seperti yang digunakan penjaga gerbang, namun yang ini terlihat transparan. Aku bahkan bisa melihat kumpulan awan putih yang mengepul didalamnya.
" Ini tidak akan menyengat kan ? "
" Tenang saja, ini adalah kristal pendeteksi, apakah orang tersebut buronan atau bukan "
" Tidak akan tiba-tiba meledak ?"
" Tidak akan.. "
Dengan was-was ku sentuh dengan ujung jari sebagai percobaan.
Kristal menyala biru tenang.
" Yup, sepertinya Anda aman. Selanjutnya wanita cantik disana "
Tanpa mengganggu aktifitas pribadinya Momo menyentuh kristal itu, dan kristal juga menyala biru lembut. Momo juga menggerakkan tangan Izumi ke bola kristal dan itupun juga menyala biru dengan lembut.
Tapi aku lebih khawatir dengan Izumi apakah dia masih hidup atau sedang mabuk di dunianya sendiri.
" Maafkan atas kelancangan kami karena mencurigai Anda "
" Tidak apa-apa, jangan di pikirkan, santai saja "
" Anda bilang, kalian kehilangan kartu keanggotaan ketika lari dari bandit saat menuju Ibu kota "
" Kami tidak lari "
" Eh, lalu ?"
" Kami menangkap mereka "
" Eh ?, menangkap.. Mereka ? Menangkap apa ?"
" Bandit. "
" Bandit ?, menangkap ? Kalian ?"
" Benar sekali ?"
" Kapan ?"
" Kemaren "
Resepsionis Loli di depan memberikan senyum miring, matanya melotot tajam.
" Apa aku salah bicara ?"
" Tuan, dengarkan aku disini. Dalam bulan ini saja kami baru mendapatkan satu laporan saja, mengenai bandit yang di tangkap."
" Terus.. "
" Dari laporan yang kami Terima, Bandit itu adalah Bear si penjagal. Bandit yang terkenal keji dan tak segan membunuh korbannya hanya untuk bersenang-senang. Dan lagi kemarin mereka diserahkan dalam keadaan terluka parah, menangis, dan ada juga dengan mental yang rusak."
" Untuk bagian mereka menangis aku tidak tau, tapi lain dari itu sepertinya cocok."
" Tuan, sekali lagi aku tekankan, berhenti membuat kebohongan !!"
Suara Resepsionis itu lantang meski dengan tubuh kecil.
Semua orang mulai memperhatikan kami. Mereka mempertanyakan apa yang sedang terjadi.
Apa aku membuat kekacauan lagi ?, sepertinya aku tidak. Tapi apa iya ?.
" Anda pikir aku akan percaya ?"
" Tidak percaya tidak apa-apa, tidak perlu berteriak keras-keras. Kau membuat semua orang disini tidak nyaman." Aku mengingatkan.
" Ya sudah.. Isi formulir ini. Kedepannya aku tidak mau mendengar kalian membual lagi, kesaksian palsu bagi petualang adalah aib bagi Guild."
" Kami mengerti kami mengerti "
Kami bergantian mengisi formulir dan menyerahkan ke resepsionis Loli di depan.
Ah, alisnya berkedut lagi. Sekarang apa lagi ?.
Benar saja, resepsionis membanting kertas-kertas formulir yang baru saja kami isi.
Semua orang terkejut dan lagi-lagi kami menjadi sorotan. Bahkan resepsionis lain sampai menahan tubuh kecil teman seprofesi mereka yang terus berusaha menyerang ku. Kata-kata makian terus ia lontarkan tanpa segan.
" Aku ingin menangis, Izumi Momo bantu aku.. "
Tapi mereka tidak bisa diharapkan. Mereka masih saja bermesraan tanpa terganggu sedikitpun.
" Ada apa dengan keributan ini. "
Seorang pria baya berwajah wibawa lainnya datang tiba-tiba dengan armor Merah megahnya.
Kami saling bertatapan sebentar kemudian ia melirik ke arah resepsionis yang masih saja ingin menerkam ku. Pria itu memungut formulir kami yang berserakan dilantai. Sesaat ia tampak terkejut di detik kemudian kembali tenang.
" Tolong segera di proses " Perintahnya sembari menyerahkan formulir milik kami ke resepsionis yang tidak sibuk.
Dengan hati-hati gadis lainnya membaca nya lagi sebelum di proses. Tubuh gadis itu bergetar dan menggigil setiap kali lembaran-lembaran formulir itu ia balik.
" Siapa ya ?" Kemiringan kepalaku heran.
" Maaf terlambat memperkenalkan diri, nama ku Alfred, panggil saja Al. Aku Guild Master " Tanganku ia guncang guncang dengan semangat.
" Eeee !! " Aku berteriak lebih keras.
" Tidak meyakinkan ya ?" Sahutnya lemas.
" Tidak tidak, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya tidak percaya Guild Master sendiri yang datang menghampiri petualang biasa seperti kami."
" Hahaha.. Anda terlalu merendah... Hahahaha, nah mau latih tanding denganku ?, 3 lawan 3 ! Bagaimana ?"
" Ku tolak.. "
" Ayo lakukan !!" Momo menyetujui tawaran itu.
Sial, jika tau akan seperti ini aku akan menjauh dari masalah.
" Yosha !! Semuanya.. Kelapangan latihan sekarang!!!"
Tubuhku diseret dengan paksa tanpa mendengar pendapatku.
*****
Kami di bawa keruangan bawah tanah, ini masih satu bangunan dengan bangunan Guild, tetapi auranya sangat berbeda. Seingat ku, Guild tidak seluas ini. Itu hampir 3 kali lapangan sepak bola.
Ada 6 arena yang terpisah. Dan semua arena sudah penuh, dengan petualang yang berlatih. Aku beruntung, tidak perlu adanya pertandingan.
" Kosongkan semua arena segera... !!"
" Ah benar juga, orang ini yang berkuasa disini." Aaah, aku ingin pulang.
Tidak ada jalan lain. Bahkan pendapatku tidak di gubris.
Meski sebelumnya Aldolf san bilang 3 on 3, tetapi sebenarnya 1 on 1 di tiap Arena. Banyak yang datang menonton, mungkin karena takut dengan Guild Master atau karena penasaran dengan lawan tanding Guild Master.
" Maaf mendadak menantang kalian, jangan salah paham, aku hanya tidak tahan untuk tidak mencicipi kekuatan orang-orang hebat."
" Yeeei... Waaii... " Sorak ku terpaksa
" Bersemangat Lah Rion-dono " Ia tertawa terlalu banyak.
Wasit pertarungan memberikan aba-aba tanda pertarungan dimulai.
Di sisi seberang, Tuan Al dengan membawa Perisai besar dan pedang besar, dalam hitungan detik muncul di depanku.
Ia hendak menyerang ku dengan serangan kejutan.
Tapi aku tidak akan mengijinkan hal itu terjadi. Ku hindari serangan pertama dengan melompat ke sisi kiri perisainya, sehingga tebasan itu menghantam tanah selagi aku bersembunyi di balik bayang perisai besar miliknya.
Sesaat setelah itu, ku hantam ketiak bagian bawah miliknya dengan keras.
" Apa-apaan yang barusan "
" Eh " apa ada yang salah ? eh ??
" Apa yang baru saja akan Anda lakukan ?"
" Hummm... Aku hanya berpikir untuk melempar Anda keluar Ring. Apa itu melanggar peraturan ?"
Semua orang yang menonton, serentak menggeleng dengan cepat. Lalu kenapa dia marah ?
" Tidak, tidak sama sekali, aku hanya terkejut ketika Anda yang sebelumnya bersembunyi di balik titik buta ku, tiba-tiba bisa berada di depanku, itu yang ku tanyakan." Wajahnya benar-benar kebingungan bercampur panik.
" Aku hanya melangkah biasa saja, tidak lebih "
" Benarkah ?, tidak ada trik ?"
" Tidak ada trik "
" Baiklah aku percaya, mari kita lanjutkan. Sekarang serang lah aku. "
Tuan Al memaku perisai besarnya ke tanah dan bersembunyi dibalik perisainya hingga aku tidak bisa melihat wujud besarnya sama sekali.
Tetapi, meski tidak melihat sekalipun aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hey, jangan pernah mencoba menipu Player Tanker seperti ku.
Aku tau dibalik perisai itu kau sudah bersiap menusuk dengan pedang besar itu kan ?, aku tau itu, aku juga sering melakukannya saat PvP.
Musuh yang ceroboh akan ditebas ataupun di tusuk, meski mereka menyerang dari sisi mana saja, mau itu di kiri, di kanan atau pun dari atas sekalipun.
Tapi satu yang perlu kau tau tuan Al.
Perisai menjadi tidak berguna jika pemiliknya tidak menggenggamnya. Tinggal ku dorong saja perisai itu hingga jatuh menindih tubuhmu lalu aku akan menginjaknya. Huahahaha
Ku tendang tanah pijakan ku dan melesat ke depan perisai dengan kencang, ku pertaruhkan semuanya pada serangan yang satu ini. Sesaat sebelum aku sampai, ku putar tubuhku di udara dengan cepat dan dengan momentum itu, dengan telapak sepatuku ku tendang perisai miliknya.
Tetapi di pertengahan jalan aku sadar. Ini dunia nyata bukan game, tidak semua rencana didalam game juga bisa di terapkan di Dunia nyata.
Aku mengutuk kebodohan ku sendiri karena mempertaruhkan semuanya hanya pada satu serangan terakhir.
Rencanaku yang seharusnya perisai itu jatuh menimpa lawan, kini menjadi perisai yang tertancap kaki ku sendiri.
Didalam hati aku hanya bisa menelan teriakan.
Tak habis pikir, aku melompat kebelakang dengan membawa perisai itu bersamaku.
Beruntung bisa dilepas, namun aku harus bersiap dengan serangan berikutnya yang akan datang... Sebentar lagi... Tidak lama lagi...
"...."
Lama aku menunggu namun serangan balasan tidak datang. Apa aku salah lagi memprediksi ?.
Dibalik kepulan kabut tebal yang mulai memudar itu akhirnya aku menyadari ada yang salah.
Ternyata, dengan masih di posisi akan menusuk lawan, tuan Al diam mematung.
Wajahnya kaku dan rahangnya terbuka lebar.
Apa yang salah ? Tuan Al tidak bergerak dari tempatnya. Apa ini kesempatanku untuk membalas ? Wasit juga tidak menghentikan pertarungan, kalo begitu. selamat menikmati...
Tapi tunggu sebentar, wasit juga membuat wajah yang sama, kulihat sekitar.. penonton pun juga membuat wajah yang sama.
Yah, secara tidak terduga bisa ku bilang, ini kemenangan ku.
Syukurlah tidak ada yang terluka.
Ketika aku mencoba memeriksa kondisi Izumi dan Momo...
Di atas Ring yang tadinya dipakai Izumi, seorang pria terkapar dengan tubuh yang kejang-kejang, sengatan listrik kecil juga keluar dari seluruh tubuhnya.
Izumi sendiri saat ini terjebak di pelukan Momo, wajahnya lagi-lagi menyelam di lembah kenikmatan.
Sedangkan wanita yang menjadi lawan tanding Momo terkapar tak berdaya, air mancur kecil tercipta dari mulutnya.
Bahkan aku bisa lihat dengan jelas sebagian besar arena nya tergenang oleh air.
Semoga ini tidak menjadi masalah besar kedepannya.
*****
Kami di bawa keruangan kerja milik Guild Master.
Di sebelah kiriku ada pasangan bodoh dengan aura pink dan bunga musim semi. Di depanku ada dua pasangan lain dengan aura muram. Dan dimeja seberang ada pria besar dengan senyum lebar dan sepucuk surat berisikan Surat rekomendasi dari Penguasa Tanah.
Dan hanya aku yang mengeluarkan aura lelah.
" Aku mau pulang saja... "
" Jangan terburu-buru begitu Rion-Dono bersantai dulu saja " Guild Master itu Masih Sibuk membaca Surat yang baru saja Kuserahkan.
" Ah, tidak.. Aku harus pulang "
" Benarkah, dimana Anda tinggal ?"
" Aku juga harus berbelanja untuk makan malam"
" Biar kukenal kan dengan toko langganan ku."
" Aku harus mengangkat jemuran "
" Benarkah, di cuaca yang cerah ini ?"
" Aku juga harus memberi makan kucing ku "
" Ooh.. Berapa ekor yang kau pelihara, apa mereka lucu ?"
" Aku juga harus.. "
" Rion Dono, mengapa tidak bersantai dulu saja disini "
" Tidak.. Itu.. "
" Jangan sungkan... "
" Tapi... "
" Banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu Rion Dono."
" Boleh ku tolak ?"
" Tidak "
" ... "
" ... "
" Boleh aku pulang... "
" Tidak boleh "
Ugh... Gigih sekali.
" Kau tau Rion-Dono ? perisai kesayanganku ini dibuat khusus menggunakan tabunganku selama satu tahun. Tetapi sekarang sudah menjadi seperti ini "
Ugh... Itukan tidak disengaja.
" Itu bukan salah ku, perisai nya saja yang rapuh "
" Owh, benarkah begitu ?, padahal kudengar perisai ini dibuat menggunakan adamantium loh "
" Bisa saja kau di tipu oleh orang itu "
" Iya kah ? Padahal Dwarf adalah ras paling jujur dan mempunyai kebanggan besar ke setiap barang ciptaannya "
" Eh.. Itu.. "
" Apa aku sedang dibohongi ? aku akan mencari tau nanti " keluh Guild master dengan nada mengejek.
Gawat gawat gawat.
" Aku akan menggantinya, jadi tolong jangan tuntut aku, aku akan mencicilnya "
" Eh... Sekarang kau mengakuinya, Dwarf san pasti akan sedih, melihat ciptaannya rusak dengan mudah " Guild master bermanja ria dengan perisainya yang berlubang.
Ayolah..
" Jadi kau ingin aku bagaimana ? ini salah, itu salah"
Aku tidak tau lagi harus apa, bunuh saja aku.
Tok tok tok
" Masuklah "
" Pe.. Per..rmisi "
Dengan suara bergetar, gadis resepsionis yang sebelumnya mengamuk masuk dengan wajah ketakutan. Ia membawa nampan berisi minuman dan menyuguhkan minuman dan kue kering di meja depan kami.
Ia juga menyerahkan tumpukan kartu anggota yang sudah di cetak ulang berwarna biru laut. Setelah selesai gadis itu pamit dan pergi begitu saja.
" Sari.. Apa ada yang harus kau sampaikan ?"
Ow, gadis itu ternyata bernama Sari. Tubuhnya menyentak ketika dipanggil, dengan menggigil ia berbalik dan dengan wajah lucu hampir menangis.
" Tuan Al.. Jangan menggertak anak kecil.. " Bantah ku.
" Maafkan ketidak sopan'an saya sebelumnya, saya sudah berkata kasar pada anda tanpa tau kebenarannya, saya juga minta maaf karena sudah membentak anda di depan petualang lain dan meremehkan anda dan mencoreng nama baik anda. Karena itu saya dengan penuh tanggung jawab bersedia menerima apapun hukuman yang akan anda berikan, tetapi setidaknya saya mohon jangan penggal kepala ku, saya mohon "
Berkali-kali Sari meminta maaf atas kejadian sebelumnya. Padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, tidak sedikitpun, mereka saja yang berlebihan.
" Tak perlu sampai segitunya, aku sama sekali tidak melihat hal yang patut dimintai maaf, pria besar itu saja yang melebih-lebihkan" Tunjuk ku dengan ibu jari.
" Maksudmu aku ?"
Aku mengabaikan omongan Tuan Al, sebelum semuanya semakin runyam. Senyumannya kali ini memiliki banyak arti yang ambigu.
" Tidak perlu sampai meminta maaf, santai saja. Aku tidak mempermasalahkannya "
" Tapi saya sudah menghina anda.. "
" Sudah kubilang, bawa santai saja. Sudah sewajarnya karyawan terbawa emosi jika pelanggan terlihat sedang main-main."
" Tapi tetap saja, saya... "
" STOP, Hentikan!! Disini aku yang salah, seharusnya aku lebih berhati-hati "
" Tidak mungkin, sayalah yang.. "
Sari menghentikan bacotan nya ketika melihat tanda stop dari tanganku.
" Sekarang begini saja, karena aku juga bersalah disini jadi aku minta maaf, sebelum itu kejadian sebelumnya sudah aku maafkan. Apakah Clear ?"
Ku acungkan jabat telapak tangan dan iapun menjabat nya.
" Clear " Ucapnya menangis bahagia.
Yosh yosh yosh... Ku usap kepalanya karena sudah tidak tahan.
" Hey, nona resepsionis di sana !! " Momo membentak, reflek aku memelototinya, kami sudah berdamai.
" Jangan menggali kuburan mu sendiri !!" Momo kembali menakut-nakuti. Gadis itu kembali gemetar.
" Oy, Momo. Hentikan, kami sudah berdamai. " Bentak ku.
" Pria di sana itu, pecinta karakter adik perempuan akut. Jika kau membiarkan dirimu dimanja seperti sekarang, dia tidak akan melepaskan mu untuk waktu yang lama."
" Eh ? " Aku pikir apa.. Tangan ku memang tidak bisa berhenti mengelus kepalanya. Tidak peduli ia merasa malu aku tetap mengelus. Aku ketagihan, karena ini bukan pelecehan jadi aman, Save !!
Tapi Sari sang resepsionis sadar tak lama kemudian, ia dengan menyembunyikan rasa malunya langsung mundur menempel ke dinding dengan cepat.
" Heee... " Dengan rasa kecewa ku relakan benda lembut itu pergi.
Tapi bohong !!!
" Sari chan, Sari chan.. Apa kau mau Eskrim ? " Tidak ada perempuan yang mampu menolak pesona Makanan manis.
Ku suguhkan segelas penuh eskrim dengan toping buah melon dan pisang dan juga dua batang Pocky.
Tampak menggugah selera bukan ?
" Mengapa kau tidak duduk dan mencicipi nya, sebagai tanda perdamaian ?" Bujuk ku.
Lama batinnya nya berdebat, namun liurnya tidak dapat membohongi minatnya pada makanan di hadapannya, hingga akhirnya ia menyerah dan duduk menikmati dengan bahagia.
Aku pun bahagia melihat senyuman manis adik perempuan ku yang satu ini. Ups.. Dia bukan adikku, hampir saja aku kelepasan.
" Rion aku juga mau, yang rasa Vanilla dan Coklat untuk Darling ku "
" Segera datang !!"
Ah, aku melupakan mereka.
" Kalian masih disini ?" Sahut ku ketika menghidangkan pesanan untuk Momo dan untuk ku sendiri.
" Ini kan ruangan ku " Tuan Alfred membalas, matanya menatap tajam pada gelas di tanganku.
" Aku mengerti... "
Mau tidak mau ku suguhkan untuk setiap orang, tapi... Tidak tau dirinya itu adalah ketika ia memanggil semua karyawannya untuk ikut mencicipi eskrim.
Yah setidaknya semua orang bahagia. Sari juga menyukainya.
Akhirnya kami di lepaskan setelah mereka hampir menghabiskan persedian ku untuk seminggu. Aku akan menarik Bon nya nanti. Jika aku ingat.