7 SLEEPER

7 SLEEPER
Wellcom



Esok hari menjelang siang, kami berhasil sampai di kota dengan selamat.


Dari kejauhan kami bisa melihat barisan antrian panjang orang-orang yang hendak masuk kedalam kota.


Sesampainya di sana kami tidak ikut antri, malahan kami melewati barisan orang-orang yang kepanasan.


" Kereta yang sana, berhenti."


Gadis kusir mematuhi perintah itu.


Tiga orang dengan tombak datang menghampiri kami.


" Siapa yang bertanggung jawab di rombongan kalian ?" Selidik Pria dengan wajah berwibawa di antara mereka.


Benar juga, pikirku. Siapa?.


Aku melirik sekeliling, namun mereka semua sudah lebih dulu melirik kesatu titik. Senyum mereka seakan mengatakan "silahkan"


Aku hanya bisa menghela nafas lemas. Ku angkat tangan keatas.


" Ikut dengan ku, kami butuh keterangan. "


Mau tidak mau aku mengikutinya dari belakang. Sedangkan dua penjaga lainnya menggiring kereta dan tawanan ke dekat pos pemeriksaan. Karena kereta kami menghalangi jalan.


Aku dibawa ke sebuah ruangan pos pemeriksaan. Tidak ada orang di sana selain kami berdua.


" Maaf membuat Anda merasa tidak nyaman tuan. Tapi ini prosedur "


" Aku mengerti santai saja.. "


" Terima kasih atas pengertiannya, nah sekarang bisa anda ceritakan apa yang terjadi secara rinci ?"


Untuk menghemat waktu aku hanya menceritakan awal pertemuan dengan bandit saja. Sampai cerita bagaimana kami melihat kereta berisi para gadis tak berdaya yang dijadikan budak.


" Kapten.. !!" Seorang penjaga datang dengan panik.


" Ada apa.. ?, apa kau tidak lihat kami sedang sibuk, jika itu pengunjung yang menyerobot antrian tendang saja keluar" Wajahnya tampak seram dan suaranya lantang, aku hampir jatuh dari tempat duduk ku saking terkejutnya..


"Bukan itu. "


" Lalu apa ? "


" Itu, bandit yang mereka bawa adalah, Bear si penjagal"


" Apa ???, kalian sudah konfirmasi ulang ?" Kapten panik dengan wajah membiru.


" Ya, sudah di konfirmasi "


" Eh, jadi itu namanya ? nama yang konyol sekali"


Keringat sebesar biji jagung keluar dari kepala Kapten.


" Apa sudah selesai ?"


" To.. Tolong tunggu sebentar. Kami harus melaporkan hal ini pada Penguasa Kota, tolong bersabar sebentar lagi "


" Ya sudah. Tidak apa-apa kan jika aku menunggu bersama teman temanku ?, takutnya mereka menunggu lama"


Dengan sigap permintaan itu dikabulkan. Kami menunggu bersama didalam ruangan tunggu di Barrack mereka, bersama para penjaga yang berbaris dibelakang kami bertiga.


Dengan jarak yang terpisah oleh Meja di hadapan kami, kapten penjaga tersenyum lebar pada kami dengan mendekap tangannya di dagu.


" Ada apa ?"


" Bukan apa-apa hehe " Raut wajahnya kembali ramah.


Kami menunggu sangat lama, sampai-sampai jam makan siang sudah lewat. Kami lapar, kami haus, tidak ada makanan ataupun minuman yang disuguhkan, bahkan segelas air putih pun tidak.


krrrrt


Geraman lucu terdengar dari arah para gadis. Satu gadis menunduk malu sambil memegang perutnya.


" Maafkan ketidak kesopanan kami, bawakan mereka sesuatu " Perintah Kapten prajurit. Dengan panik para bawahannya berlarian ke sana ke mari membuka laci dan lemari, mencari makanan.


Tanpa pikir panjang ku keluarkan panci berisi sup dan nasi panas sisa sarapan tadi pagi, ku taruh di atas meja di depan ku.


Sisa roti semalam semuanya ku keluarkan, minuman nya juga, buah kering kalengan dan 2 botol Cola isi 5 liter.


Para gadis tersenyum dan mendekat. Mereka mengambil piring tanpa sungkan.


Para prajurit tampak keheranan, tapi untuk saat ini ku abaikan saja. Kamipun menyantap tanpa menunda lagi.


Wajah prajurit seperti ingin mencicipi, aroma sedap yang mulai meluap hingga keluar ruangan.


Mau tidak mau aku pun mempersilahkan mereka untuk mencicipi.


Wajah mereka berubah bahagia seketika.


Setelah makan siang, dua kereta kuda yang berkilau dengan ukuran yang tampak mewah datang.


Dari dalam kereta tersebut beberapa orang dengan armor yang tidak kalah berkilau nya turun dan masuk keruangan tempat kami berada.


Salah Seorang dari mereka masuk terlebih dahulu dengan tatapan sombong.


Semua prajurit termasuk Sang Kapten penjaga langsung bersujud dihadapannya.


Disusul seseorang lagi di belakangnya, seorang pria paruh umur dengan wajah yang berwibawa.


Langkahnya terdengar seperti dentuman gendang di tengah perang, entah kenapa aku merasa terancam hanya dengan suara langkahnya.


" Tidak perlu terlalu formal, berdirilah. Kalian membuat penolong warga kita ketakutan " Suaranya ramah.


Kapten dan prajurit nya menurut.


Di depan meja lagi-lagi aku di tanya-tanya dengan pertanyaan yang sama, aku sampai bosan.


Izumi dan Momo memilih bergabung di bangku para gadis di sudut ruangan dan melimpahkan semua interogasi kepadaku dengan alasan tidak tau etiket kebangsawanan.


Memangnya mereka pikir aku tau ?


" Maaf keterlambatan saya memperkenalkan diri, saya adalah orang yang bertanggung jawab atas kota ini, Earl Alberd Tandean ke 2, di sebelahku adalah Putraku Roy Tandean, meski wajahnya terlihat sombong tapi sebenarnya itu sudah bawaan lahir, jadi mohon di maklumi "


" Ayah, tidak perlu sampai membahas itu juga "


Meski wajahnya tampak dingin namun kata katanya tampak ramah, kurasa kata-kata Ayahnya ada benarnya.


Sekarang giliran ku. Eh, bagai mana etiket bicara dengan para bangsawan di dunia ini ?


" Ehem.. Tidak perlu memikirkan etiket, disini bukan Istana " Ujar Roy sang berwajah sombong.


" Dengan senang hati aku Terima tawarannya, jujur saja aku tidak tau etiket pada bangsawan."


" Jangan dipikirkan. "


" Namaku Rion, Gadis cantik yang selalu mengumbar dadanya.. Goh.. " Belum sempat aku memperkenalkan dirinya aku lempar dengan tongkat sihirnya.


" Aku bercanda... " Tawaku " Gadis di sana adalah Momo dan lelaki di sana adalah Izumi"


Semua orang terdiam mendengar perkenalan terbodoh sepanjang hidup mereka.


Tuan Alberd membersihkan tenggorokannya.


" Kalian akrab sekali ya, aku sampai cemburu bisa bercanda dengan teman-teman seperti itu "


" Hehehe maafkan aku, aku tidak tahan " Ku garuk kepalaku yang tidak gatal atas pernyataan basa basi dari Earl.


" Sebenarnya alasan kami datang kemari adalah ingin meminjam kekuatan petualang hebat seperti kalian "


Terdengar seperti masalah. Lagipula tujuan kami kemari kan cuma untuk menjaga Rin dan membasmi akar dari kasus penculikan.


" Maafkan aku menyela pembicaraan " Dari belakang Izumi menyerobot dalam percakapan.


" Apa ada masalah Izumi dono ?" Kata tuan Alberd.


" Sebenarnya, kami bukan Petualang dari Negara ini" Jawab Izumi malu malu.


" Seperti yang Izumi katakan, kami membutuhkan petualang hebat.. Eh ?"


Rombongan tuan Albert yang merasa salah dengar menghentikan kalimatnya.


" Izumi dono, berhenti bercanda ini tidak lucu !! " Roy membentak, ia sampai berdiri dan memukul meja.


" Oy, aku tidak peduli siapa kau. Mau kau anak penguasa kota sekalipun aku tidak bisa mengabaikan jika kau membuat para gadis ketakutan " Ancam ku.


" Rion-san kau diam saja" Momo mengikat ku dan melempar ku kebelakang.


" Seperti yang dikatakan Darling ku, kami bukan petualang dari Negara ini, kami hanyalah pelajar yang secara kebetulan bertemu penjahat saat mengejar kertas yang tertiup angin !" jawab Momo tidak kalah angkuh.


" Pelajar ? tidak mungkin " Roy terjatuh lemas di tempat duduknya.


Tuan Alberd menatap Kapten penjaga mencoba mencari konfirmasi. Dan Kapten penjaga mengangguk pelan mengkonfirmasi.


" Ini buruk... " Lanjutnya kemudian.


" Sebenarnya apa masalah kalian sampai-sampai menahan kami ditempat sempit seperti ini, dan juga seharusnya urusan seperti ini bisa diselesaikan dengan para penjaga saja, lalu mengapa sampai penguasa yang turun tangan, bukankah ini aneh ?" Celoteh Momo panjang lebar, mengutarakan kekesalannya.


" Sekarang aku paham.. " Itu Izumi yang bicara.


" Darling kau mengerti apa yang sedang terjadi ? Darling ku yang terhebat " Momo melompat dan memeluk Izumi dengan nada manja.


" Lebih kurang seperti ini. Kota ini sedang dalam krisis, yaitu sekelompok bandit keji yang selalu menyebar teror dan membuat kerusuhan. Apa aku benar ?"


Prajurit dan Roy-san mengangguk sekali.


" Bandit bandit tidak sedikit menyerang pedagang yang lewat dan tak segan-segan menghabisi nyawa sang korban "


Mereka kembali mengangguk.


" Bandit bandit ini selalu lolos dari pengejaran penjaga... "


" Maaf, mereka selalu lolos dari pengejaran Ksatria. Beberapa operasi pengepungan juga pernah dilakukan namun aksi itu gagal dan berakhir terbalik."


" Ya kau benar, beberapa Ksatria yang berhasil selamat mengatakan bahwa itu jebakan" Roy menambahkan.


" Lalu secara tidak sengaja, kami bertiga bertemu dengan sebagian kelompok mereka, melepaskan para gadis yang dijadikan budak, lalu mengantar mereka kemari tanpa terluka."


" Seperti yang Anda katakan "


" Lalu, setelah mendapatkan laporan dari penjaga bahwa kelompok bandit yang selalu menebar teror, sudah tertangkap dengan kondisi memprihatinkan. Kalian seperti melihat harapan, terlebih para pahlawan itu terdiri dari petualang kuat. Kalian berfikir jika bisa memanfaatkan kekuatan petualang itu untuk membereskan komplotan yang selama ini meresahkan?"


" Izinkan aku mengoreksi, meminta bantuan, bukan memanfaatkan " Pinta Tuan Alberd


" Ah, benar juga. Maafkan kata-kata saya. Saya ulangi lagi. Pihak Ksatria kota merasa jika bisa meminta bantuan petualang kuat seperti mereka, maka menangkap penjahat keji yang selama ini meneror kota bukanlah hal yang mustahil lagi? "


" Seperti yang Izumi dono jelaskan, tidak ada keraguan di sana. Namun.."


" Namun, 3 Orang tersebut bukanlah petualang yang berafiliasi dengan Guild Negara ini, melainkan sekelompok Pelajar." Potong Izumi lagi.


" Benar... "


Semua orang diam, tak ada yang bicara.


Tuan Albert menunduk lemas, harapan satu-satunya hilang dan kandas.


Mau di dunia manapun, pelajar adalah warga sipil yang harus dilindungi.


Pelajar dari negeri asing sekalipun, tidak punya kewajiban untuk terlibat dalam masalah yang terjadi di tempat mereka menuntut ilmu.


Sebagai Penguasa kota yang baik Tuan Albert paham akan hal itu. Karena itu dia kecewa ketika mengetahui bahwa kami hanyalah seorang Pelajar dan tidak bisa meminta bantuan kami lagi kedepannya.


Sebenarnya aku tidak bisa menolak, karena ini sudah melewati batas campur tangan kami. Tujuan kami adalah melindungi Rin, tapi... Hatiku tidak tenang mengabaikan orang yang kesulitan.


Tetapi mereka tidak salah tebak, Kami memang anggota Guild, kami juga petualang, meski dalam beberapa konteks. yah, apa boleh buat sekalian saja kita bantu orang-orang ini, bisa jadi mereka di masa depan bisa membantu kami juga. yup, Terima saja.


Oy. Momo.. Oy... Momo.... Lepaskan aku.. Teriak ku. Tapi dikarenakan mulutku disumpal suaraku hanya akan teredam.


Aku menggeliat seperti ulat bulu dan menghampiri Pasangan bodoh itu.


Tapi... Momo kembali menghajar ku dengan telak, alhasil lantai di sana retak dan kepalaku tertanam. Sepertinya dia mengira aku berniat mengintip roknya dari bawah, wajar saja.


Izumi membantu ku berdiri, bahkan dia meyakinkan Momo bahwa aku tidak berniat seperti itu. Izumi juga membujuk Momo agar lilitan ku dilepaskan. Tidak hanya Izumi aku juga memohon agar ikatan ku dilepaskan.


" Akhirnya !! " Tak sengaja aku berteriak. Udara segar.. Huuu haa huuu haaa.


" Lalu apa yang ingin kau katakan ?" Momo menarik Izumi menjauh dariku.


" Kita Terima saja !!"


" Jangan bercanda, aku tidak tertarik dengan pria lain selain darling ku " Momo mulai bermanja tanpa malu di depan orang banyak.


Membuat semua orang yang menonton merasa malu.


" bukan itu maksudku, Gyaru Sialan !!"


" Aku juga tidak mau membawa darling ku ketempat yang berbahaya" Ujarnya lagi. Wajah Izumi ia tekan ketengah belahan dadanya.


" Tapi kita punya orang yang lebih berbahaya di pihak kita " Sahut Izumi ketika berhasil keluar dari lembah kenikmatan itu, terlihat dari wajah puasnya.


" Ah, benar juga.. Tuan Alberd, kami Terima tawaran mu " Momo menunjuk tuan Alberd tanpa sadar sikapnya tidak sopan.


Semua orang tampak bahagia dengan pernyataan Momo, namun seketika itu juga Tuan Alberd kembali murung.


" Tidak, tidak apa apa. Aku tidak masalah jika kalian adalah Petualang, namun beda ceritanya jika kalian adalah Pelajar. Itu bertentangan dengan hukum kerajaan"


" Hoo benarkah ?, bagaimana dengan ini.. ?" Ku perlihatkan layar smartpone ku, sebuah lambang Yang ku desain sendiri sebagai lambang Guild di game online yang kami mainkan.


Sebuah koin medal berwarna emas besar yang ditengahnya terdapat gambar pisau militer dan senjata api Tipe AK yang saling menyilang.


Izumi dengan sombongnya juga memperlihatkan layar ponselnya, gambar yang sama juga terdapat di sana.


Sisanya tinggal Momo. Meski ia juga memperlihatkan lambang itu namun ia tampak tidak suka, dahinya berkedut dan menatapku dengan tajam.


Aku merasa aku akan di pukul lagi.


Dan benar saja. Wajahku di banting kemeja hingga meja itu terbelah.


Di dalam hati aku berfikir, kenapa selalu aku ?


" Seseorang bisa tolong jelaskan. " Pinta tuan Alberd.


" Jangan dipikirkan. " Ucap Momo panik.


" Ah, benar juga. " Ujar Ku bangkit


" Ini kan dunia lain, jadi wajar kalau... " Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Lagi-lagi Momo memukul kepalaku, sekarang untuk kedua kalinya sebuah lubang besar tercipta di ruang ini.


" Aku seperti mendengar sesuatu yang tidak boleh aku tau disini, sebenarnya siapa kalian ini ?" Tuan Albert kebingungan.


" Ahahaha ahahaha, jangan dipikirkan, orang ini memang selalu bicara hal bodoh. " Momo mencoba menutupi kebohongan sambil menanamkan wajah Izumi di lembah kenikmatan miliknya.


" Haha maaf.. Aku kelewatan." momo menarik ku dengan tatapan marah.


" Berpikirlah sebelum bicara bodoh" Bisik Momo sembari tetap menghadiahi ku sebuah Pukulan ringan di kepalaku, menghasilkan bunyi lucu.


" Ayo kita melapor dulu ke guild petualang. Aku sudah tidak sabar melihat Guild dunia ini" Ajak ku


Pukulan lebih keras kembali mendarat ke kepalaku dan menghasilkan lubang lainnya di lantai.


Momo kembali memasang senyum yang terpaksa.


" Kau harus belajar lagi cara berakting " Begitulah yang di katakan sorot mata Momo.


Semua orang terutama tuan Alberd hanya melongo dengan wajah bodoh mereka, karena tidak percaya dengan apa yang sudah mereka dengar secara tak terduga.


" Sekarang aku mengerti, alasan dan sebab semua keajaiban ini bisa terjadi. Jadi itu alasannya. Tapi tetap saja semua ini terlalu tiba-tiba, otakku seakan tidak bisa bekerja dengan benar. Sekarang saja rasanya mau pecah. " Keluh tuan Alberd selalu tuan tanah.


" Maafkan aku.. " Pinta ku sungguh.


" Semua ini karena kau yang selalu bicara tanpa berfikir terlebih dulu" Momo marah besar sembari masih membenamkan wajah Izumi di belahan dadanya. Aku heran mengapa tidak ada yang protes padanya.


Aku hanya bisa meminta maaf, aku tidak sadar jika kata-kataku berakibat fatal. Sekarang rahasia kami terbongkar.


Bahkan tuan Alberd tampak kesakitan.


" Maafkan kebodohan ku ini"


" Jangan dipikirkan. Dan juga.. Semua ini.. " kapten melirik dengan prihatin ke lantai basecamp tercinta miliknya.


Benar, sebagai ganti rugi atas meja yang rusak, aku memberikan tikar tatami, meja kecil serta enam bantal duduk kecil.


Obrolan santai seperti ini dengan menyeruput teh panas di sore hari terasa menenangkan.


" Yah, seperti yang Anda dengar tadi. Kami bukan berasal dari dunia ini, kami baru saja sampai siang kemarin." Jelas Ku


" Itu tepat dihari kalian menangkap Bandit bandit itu ?" tanya Kapten memastikan lagi.


" Benar "


" Semua kebetulan ini pasti anugrah dari dewa, aku berterima kasih "


" Jangan terlalu dibesar-besarkan, lagi pula itu hanya kebetulan ketika kami mengejar kertas yang terbang"


" Hanya karena sebuah kertas ?"


" Ya.. Hanya itu ?"


" Kalau boleh tau, apa isi kertas itu ?"


Agh.. Aku tidak mau mengingatnya.. Aku tidak liat.. Aku tidak mau liat... aku tidak dengar apa apa!!!


Kami bertiga kehilangan semangat, hanya dengan mengingat isinya saja membuatku ingin mengubur diri didalam lubang.


" Eh, mengapa kalian tiba-tiba menjadi murung ?"


" Tuan Alberd. Seorang pelajar juga mempunyai masalahnya sendiri. Jadi, jangan khawatirkan kami" Suaraku lemas.


Dari belakang, gadis bermata Lapiz yang indah datang mendekat. Wajahnya yang manis tersenyum padaku sembari menyerahkan secarik kertas.


" Terima ka... "


Sialnya aku sudah melihat hal yang seharusnya tidak aku lihat.


Trauma ku kembali kambuh ketika aku mendapati kertas itu kembali dengan santainya.


Saking tidak mau mengakui kenyataan, Kertas itu jatuh  di paha Momo, seketika itu juga Momo ikut lemas.


Izumi yang berhasil lolos karena dekapan Momo sudah mengendor, kembali masuk dengan suka rela ke belahan dada Momo ketika ia juga melihat secarik kertas mimpi buruk itu.


Tuan Alberd penasaran dengan isi kertas tersebut.


" Nona sebenarnya apa isi kertas tersebut ?"


Gadis itu sebenarnya sudah tau isi kertas itu dari awal, meskipun di tulis dengan huruf yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Gadis bermata Lapis dengan patuh menyerahkan lembaran yang jatuh itu dengan sopan.


Tuan Alberd yang melihat sekilas membuat ekspresi iba. Di ikuti Putranya yang membuat ekspresi yang sama.


Satu-persatu secara bergantian kertas itu berpindah tangan, disaat itu juga mereka membuat ekspresi yang sama.


Hanya satu orang yang membuat senyum besar, karena gadis itu tau bahwa kertas itulah yang sudah menyelamatkannya dari mimpi buruk.


"" selamat datang di Kota Perbatasan Serres ""


Sambut semua orang serentak, meski orang yang mereka sambut Sama sekali tidak sadarkan diri.