
Rion masuk ke Gerbang besar setinggi sepuluh meter lewat jalur darat, sebagai sopan santun kepada Orang yang sudah berbaik hati mengundangnya.
Raju dan Gare Gore membimbing mereka masuk, Meskipun dari kejauhan terlihat menyeramkan namun ketika mereka masuk itu sama sekali tidak terlihat seram.
Mulai dari halaman, Eksterior hinga interior bangunan terlihat seperti kediaman bangsawan kebanyakan, mewah, bersih dan berkilau lagi elegan.
Ternyata istana ini terlihat seram adalah efek kamuflase dari sihir pelindung yang Tuan rumah ini ciptakan.
Rion sangat tertarik dengan sihir ini, dia juga berfikir, apakah Tuan rumah ini nanti mau mengajarinya.
Mereka sampai di depan pintu besar mewah dengan ukiran mantra dan rune sihir.
Pintu besar itu terbuka dengan terbelah dua, ke kiri dan ke kanan menambahkan kesan elegan.
" Selamat datang wahai pemuda pemberani dari dunia lain "
" Wooo hebat, aku bahkan belum memperkenalkan diri "
Rion bersorak dan bertepuk tangan pada seorang anak laki-laki sekitaran anak kelas satu SMP, yang duduk dengan memikul satu pipinya dengan tangan kanannya.
" Aku sudah mendengar 'SEMUA' pembicaraan kalian di Hutan Angker " Anak itu menatap tajam kearah Raju yang berdiri di kirinya. " Tapi aku maaf kan, karena kau bilang sangat menghormati ku "
" Terima kasih atas kemurahan hati dari anda, Jendral "
" Hump, bagus jangan di ulangi lagi "
" Saya mengerti, saya akan mengukir nya di dalam hati saya"
" Selain itu, apa yang membawa anda ke mari. Wahai Penjelajah dari Dunia Lain ?"
" Eh ?, Bukankah anda yang mengundang ku ?" Ucap Rion sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Guh " Anak itu tersentak dan pipi yang tadi ia topang, terjatuh dari pondasinya.
" Maafkan aku, ini kesalahan ku. Izinkan aku meralat pertanyaan ku kembali "
" Silahkan "
" Apa yang membawa anda ke hutan angker yang di takuti ini, wahai Penjelajah dari Dunia lain " Ucapnya lagi dengan berusaha untuk tidak terlihat sedang menahan malu.
" Ah, sebenarnya aku diminta untuk berburu Gare Gore "
Gare Gore yang sebelumnya sempat menjadi Pasien Rion, menjadi gemetar dan menjauh sejauh mungkin dari Rion.
Anak laki-laki yang bersikap seperti Bos tadi menatap kecewa pada Gare Gore yang terkenal mampu membuat takut Petualang dan bahkan ******* seratus Ksatria Party Pahlawan.
" Jika boleh tau, alasan apa yang membuat anda sampai memburu Gare Gore ?, lihat lah mahluk ini sampai ketakutan " Tanyanya sambil menunjuk Gargore yang gemetar ketakutan dengan matanya.
" Sebenarnya aku membutuhkan nya sebagai bukti untuk kenaikan pangkat "
" Hoo begitu, bagai mana jika aku bilang aku tidak akan menyerahkannya ?" Dengan aura tidak menyenangkan, Anak yang berlagak seperti Bos organisasi jahat itu mengirimkan tekanan besar yang ia kirimkan langsung ke arah Rion.
" Yah, dia marah " Jawab Rion santai tanpa terganggu ataupun takut sedikitpun.
Ingat, Tekanan intimidasi hanya akan berpengaruh jika lawan benar-benar takut kepada Caster. Sedangkan Rion sama sekali tidak takut kepada karakter Adik Laki-laki, dan Rion adalah pecinta Adik Laki-laki.
" Hoo, besar juga nyali mu. Sama sekali tidak terpengaruh dengan intimidasi dariku."
" Yah, banyak yang bilang aku ini sedikit di luar nalar "
" Ya, aku tidak akan menolak pendapat orang-orang itu "
" Lalu, alasan apa yang membuat mu membawa ku kemari ?, kau tidak akan bilang bahwa kau juga ingin es krim bukan ?, hahaha jelas bukan... Hahaha maafkan aku, Eh ?!!"
Melihat reaksi Anak itu dan para bawahannya, sepertinya apa yang Rion bual kan adalah kenyataan pahit dari keegoisan tuan rumah yang kekanak-kanakan.
Rion segera menyiapkan meja dan beberapa kursi di hadapannya. Rion menyuguhkan satu gelas Jumbo Parfait dengan ekstra buah segar, beberapa makanan manis lainnya seperti Biskuit dan Mount Blanc dengan extra coklat.
Dan tidak lupa, Sofa empuk dan lembut untuk dirinya dan Alto.
" Ah, benar. Naga Hitam, ku minta jangan merusak apapun yang ada di Istana ini lagi, anggaran kami 3 tahun belakangan ini sudah habis hanya untuk memperbaiki Istana ini "
Dengan mulut yang belepotan dan penuh dengan makanan, Anak itu mengutarakan protesnya kepada Alto atas apa yang sudah ia lakukan dimasa lalu.
" Alto, apa benar kau mengacau ?"
Alto yang panik menghentikan suapan nya, dia juga makan dengan belepotan.
Tapi yang lebih penting lagi Rion sangat marah padanya dan menginginkan jawaban yang memuaskan.
" Itu.. Itu... Tidak di sengaja, sungguh "
" Ketidak sengajaan mu itu sudah menghabiskan dana anggaran ku selama 3 tahun. Kau pikir aku bisa hidup tenang tanpa manisan selama 3 tahun belakangan ini ?"
" Maafkan aku " Tangisnya, Alto menunduk menyesal.
" Bisa ku dengar kronologis nya ?"
" Tanyakan sendiri pada Naga Hitam di sana, ngomong ngomong, bisa minta lagi. Yang dingin dan manis ini dan buah segar merah ini ?"
" Tentu, nikmati selagi masih hangat "
" Eh tapi ini dingin "
" Aku hanya bercanda. "
Meninggalkan Anak itu dengan Parfait tambahannya, Rion beralih kembali ke Alto yang masih murung. Eskrim yang tak lagi tersentuh itu mulai mencair dan buah-buahan sebagai topingnya mulai tenggelam.
" Aku tidak marah, hanya terkejut "
" Benarkah ?" Alto mulai semangat dan menatap hari Rion dengan mata besar nya.
" Mana mungkin aku marah pada mu kan ?" Rion tertawa dan tersenyum sambil mengacak ngacak rambut Alto.
" Terima kasih, Master "
" Lalu bisa kau ceritakan kronologisnya ?"
" Aku pernah Bilang kalau aku ingin Bicara dengan Gare Gore kan ?"
" Ya, lalu "
" Saat itu aku kesepian dan ingin teman bicara, lalu secara tidak sengaja aku bertemu satu Gare Gore yang sedang terbang rendah. Aku menyapanya namun dia pergi menjauh dari ku, spontan aku yang terlanjur ingin bicara dengannya mengejarnya. Tanpa sadar aku menabrak penghalang Istana ini. Aku sungguh tidak tau ada penghalang waktu itu karena energinya sangat kecil "
" Kau menyakiti Hatiku " Jerit Anak yang sedang santai menikmati Parfait nya.
Setelah tertawa kecil Alto melanjutkan ceritanya.
" Penghalang itu tidak mengijinkan ku untuk masuk, padahal sedikit lagi Gare Gore itu bisa menjadi teman bicara ku. Aku memukul penghalang itu karena sudah terlanjur retak, tetapi retakan itu malah meledak dan menghancurkan Gare Gore itu "
" Tidak hanya 1 Gare Gore kan ?"
" I... I... Itu.. Li.. Lima "
" Enam belas, kau juga merusak hampir keseluruhan Bangunan. Sekarang bagai mana kau akan bertanggung jawab ?"
" Bu.. Bukannya aku sudah minta maaf dan kau juga bilang sudah memaafkan ku !" Ujar Alto
" Benar, saat itu aku terlalu takut dengan mu. Makanya aku melepas mu, agar tidak membuat kerusakan yang jauh lebih parah "
" Berarti itu bukan salah ku, donk ! "
" Itu salah mu karena membuat ku takut "
" Tapi aku tidak tau jika kau takut !!"
" Itu salah mu karena tidak peka "
" Mengapa jadi kesana !?"
" Cukup, sepertinya aku mengerti garis besarnya " Lerai Rion yang sudah berfikir keras masalah dan solusinya.
" Benarkah begitu, kalau begitu menurutmu siapa yang salah ?"
Rion menghela nafas panjang. Dengan menyilangkan kedua tangannya di dada Rion mengutarakan Analisisnya.
" Disini Alto, sudah salah karena tidak berhati-hati "
Alto menunduk sedih. Dia merasa Masternya tidak akan sayang lagi kepadanya. Air mata kesedihan tidak dapat lagi terbendung.
" Tetapi... Kau juga salah "
" Alasannya mudah, gampang dan sederhana. Dan kalian juga sudah mengatakan nya sendiri alasannya "
" Jadi disini kalian sama-sama salah, meski Alto yang memulai. Karena itu sebagai Wali, aku akan menawari kesepakatan "
" Hoho. Sepertinya menarik, aku ingin mendengarnya ?"
" Kau tadi sempat bilang jika anggaran kalian selama tiga tahun habis hanya untuk memperbaiki Bangunan, bukan ?"
" Ya, aku yakin tadi aku bilang begitu "
" Kalau begitu aku akan memberikan resep Parfait itu khusus untuk mu. Dan aku akan menjamin Raja Iblis sekalipun tidak akan berani mengambilnya dari mu "
Anak laki-laki yang Aslinya adalah Salah satu Jendral besar dari Tentara Raja Iblis itu, tersenyum seram setelah mendengar saran yang Rion ucapkan dengan nada sepele.
" Hee, bicara enteng seperti itu dihadapan Jendral nya langsung. Apa kau tidak takut mati ?"
" Alto, ratakan bangunan ini !" Tidak mau kalah karena di anggap remeh, Rion menggunakan trauma anak itu dengan membawa Alto sebagai Bekingan.
"" ?!! ""
Alto dan Anak itu sama-sama terkejut dengan keputusan Rion yang sama sekali tidak dewasa dan tanpa ampun itu.
" Tu.. Tunggu sebentar... Seharusnya tidak seperti itu !"
" Di mengerti " Jawab Alto yang hendak berubah ke mode Naga nya.
" HENTIKAN !! HENTIKAN !! " Anak itu terlihat panik, wajahnya membiru. Rion sudah berhasil membangkitkan trauma masa lalu seorang Jenderal Raja Iblis.
" Aku mengerti, masalahnya bagai mana caranya aku nanti meyakinkan Mao Sama untuk tidak memaksaku membocorkan resep makanan ini ?"
Meskipun Anak itu sangat tertarik, tetapi dia tidak bisa menolak Atasannya. Apalagi Atasannya itu adalah sosok yang mampu membuat Dewa sekalipun jadi berhati-hati.
" Sebut Namaku, dan katakan 'Langkahi dulu mayat Ku ' " Ucap Rion santai sembari menunjuk dirinya sendiri dengan Ibu Jarinya.
" Bukankah kau sudah kelewat batas ? Tidak kah kau terlalu angkuh dengan kepercayaan diri yang tidak terbendung itu ?, Aku pernah kenal dengan orang yang mengatakan hal yang sama, namun tewas hanya dengan satu tiupan "
Rion meng kipas-kipas kan selembar kertas ke wajahnya.
" Deal " Jawab Anak itu sembari merebut Resep yang di jadikan kipas. Rasa lelahnya saat ini sudah melebihi rasa lelah ketika ia mengusir Parti pahlawan dari tanah kekuasaannya.
" Itu baru anak baik "
" Terserah lah " Anak itu menyerahkan Lembaran Resep kepada salah satu ajudannya.
" Ah, apa aku boleh memburu Gare Goreng untuk ku bawa Pulang ?"
" Ugh... Kau meminta hal yang mustahil "
" Hee.. Tapi aku butuh untuk laporan "
" Aku mengerti, tapi aku tidak mengijinkan kau untuk memburu mereka. Sebagai gantinya aku akan memberimu sesuatu yang setara. "
Dengan gerakan kecil dari jemarinya, pelayan dari Anak yang berlagak Seperti Bos itu pergi masuk kedalam pintu di sudut Ruangan. Sembari pelayan itu kembali, Rion menanyakan beberapa pertanyaan konyol pada Anak itu.
" Eh ?! "
" Bagaimana ? "
" Maaf, tolong tanya dengan pertanyaan yang berbobot "
" Cih, tidak asik " Cibir Rion.
Sang pelayan datang membawa Peti harta yang cukup besar dan menyerahkannya kepada Tuannya.
Anak itu membuka peti itu dan menyodorkan nya kehadapan Rion.
" Ambillah berapapun kau mau "
" Apa ini ?"
" Itu semua adalah kristal sihir yang ku jadikan sebagai katalis dari Gare Gore"
Batu merah delima yang cantik yang sudah di poles dengan berbagai ukuran dan bentuk.
Rion menggoda Anak yang angkuh itu dengan menarik peti berisi batu-batu merah itu perlahan ke arahnya.
Rion langsung mencibir ketika Anak itu ketahuan sedang panik ketika peti di tangan Rion semakin mendekat.
" Jangan Menggodaku !!"
" Hahaha, maaf. Habisnya kau bilang aku boleh ambil berapapun aku suka "
" Setidaknya, tahu diri sedikit "
" Hahaha, wajah panik mu tadi sangat menggemaskan "
" Sudah kubilang jangan menggoda ku "
" Aku ambil 3 "
" Eh, ya silahkan. Asalkan jangan memburu penjaga ku saja."
" Aku tidak bisa janji. Jika nanti para pengawalmu melewati batas dan Guild mematok harga, aku tidak berani jamin. "
" Tenang saja, Mereka hanya akan berkeliaran di dalam hutan ini saja. Dan juga jika ada orang bodoh yang mati ketika menyerang mereka, aku harap kau tidak akan menaruh dendam "
" Seperti yang kau bilang, Nyawa orang bodoh itu adalah tanggung jawabnya sendiri "
" Terima kasih atas pengertiannya "
" Aku juga sama, Terima kasih atas hadiahnya " Sahut Rion
" A.. Aku juga minta maaf karena sudah membuat keributan, dan juga aku berterima kasih karena sudah bersikap lembut "
Rion memeluk lembut tubuh Alto dan membenamkan wajahnya ke perut Alto. Alto yang merasa geli tertawa meminta ampunan.
Setelah puas, Rion mengakhiri hukuman Alto dan pamit untuk pulang.
Berhubung sudah sore dan Tuan rumah sudah lelah, mereka di antar keluar oleh Pelayan dan Bukan Raju.
Diluar langit sudah berubah kemerahan, itu berarti mereka juga harus bergegas atau mereka akan melewatkan Makan Malam mereka.
Mereka segera berangkat keluar dari hutan dan dengan cepat menuju ibukota.
Di samping itu Jendral Iblis yang sedang berbaring di kasurnya, merenungkan kembali pertanyaan Sepele dari Rion.
" Apa sebaiknya Ku tanamkan saja pengetahuan bahasa pada mereka ?"
Di depannya ada 2 Gare Gore tengah berbicara berdua sembari membersihkan dan merapikan Buku yang berserakan.
" Aku sama sekali tidak paham mereka bicara apa " Ujar nya lagi dengan perasaan canggung.
Kembali ke Rion dan Alto yang hampir sampai di ibukota.
Dari kejauhan mereka melihat prajurit sedang membentuk formasi pertahanan di depan Gerbang.
Rion yang tadinya hendak turun sedikit jauh dari gerbang, merasa cemas sesuatu yang besar sedang terjadi di sana. Karena merasa khawatir, Rion meminta Alto untuk mendekati para Prajurit itu.
" Kapten, ada apa ? Apa ada Monster yang akan menyerang ?!" Rion melompat dari punggung Alto dan segera bergabung dengan Kapten yang tadi pagi memarahinya.
" Kalian lah Monsternya !!" Dengan Emosi yang besar, Kapten menghadiahi Rion sebuah bogem mentah tepat di ubun-ubun nya. Meski pukulan itu sama sekali tidak membuat kepala Rion bergeming.
Kapten yang marah dengan wajah merah itu mencoba menahan sakit dari tangannya yang ia gunakan untuk memukul kepala Rion tadi.
" Lain kali, berhentilah lebih jauh lagi "
" Hahaha maafkan kami, aku tadinya hendak berhenti di jalan besar, namun karena melihat kalian sedang kesulitan makanya kami menghampiri "
" Kalau begitu berhentilah lebih jauh lagi dan lagi, sampai pengawas menara tidak melihat kalian !!"
" Heee... Merepotkan sekali " Keluh Rion, itu sama saja dengan mereka melarang Rion untuk Naik Naga.
" Jangan Mengeluh !!" Bentak Sang kapten
" Iya iya maaf !!" Teriak Rion menyesal.
" Hah... kemarin Motor, Hari ini Naga, besok apalagi ?" Gumam Kapten lemas.
" Sudahlah, sudahlah Kapten, ini adalah pekerjaan " Ucap Wakil Kapten, Henry. Yang tengah mengusap punggung Kaptennya.