
Mengulik sedikit cerita sebelumnya.
Meskipun bantuanku yang melatih para peserta uji coba alat-alat sihir adalah project rahasia militer dan orang-orang dari Laboratorium.
Berita tentang aku itu ternyata sudah sampai ke telinga para pengajar di Akademi, Meski belum sampai bocor ke telinga orang awam.
Mereka menuntut pihak labor dan militer karena sudah memanfaatkan siswa mereka dalam project yang berbahaya.
Aku setuju dengan pihak akademi. Tetapi aku juga menikmati uang dari hasil melatih mereka.
Aku jadi merasa tidak enak untuk kedua belah pihak.
Oleh karena itu mereka membentuk suatu rapat rahasia tanpa diriku, dan mereka mengambil suatu keputusan tanpa meminta pendapatku.
Betapa egoisnya mereka-mereka ini.
Padahal akar masalahnya adalah aku.
Karena itulah aku dilarang ikut percobaan mereka sampai aku benar-benar dinyatakan Lulus dari akademi.
Akademi ini ternyata sangat memperhatikan siswanya dengan baik. Meski aku harus rela kehilangan pendapatan tambahan yang menggiurkan.
Ya sudahlah, mari lupakan itu semua. Peran ku sebagai siswa seharusnya belajar saja. Lagipula tujuan awalku hanyalah mencari biang kerok dari kelompok yang mencoba melukai Rin.
Tapi ada juga hal yang tidak kalah pentingnya.
Ujian tengah semester.
Sebagai pelajar, ujian tentunya adalah satu hal yang paling di benci kebanyakan pelajar.
Tetapi, mau tidak mau, Terima tidak Terima, ujian itu pasti akan datang, cepat atau lambat.
Dan itu yang membuat galau teman sekelas ku.
Aku memang belum terlalu kenal dengan mereka semua dan teman sekelas ku juga tampaknya selalu menjaga jarak dari ku.
Itu disebabkan karena hubungan ku dengan Rin yang merupakan Tuan Putri Negeri ini.
Padahal kelas ku dan Rin berbeda, tetapi mereka masih saja sungkan berinteraksi denganku.
Mereka beranggapan jika Rin saja susah untuk di dekati, apalagi aku yang terlihat akrab dengan Rin sampai-sampai mereka mengira aku dan Rin adalah Tunangan.
Hahaha aku sampai sakit perut karena tertawa ketika mereka menanyakan itu.
" Hahaha, kalian serius selama ini mengira aku dan Rin adalah tunangan ?"
" Maafkan kami karena lancang!"
Beberapa anak mencoba memberanikan diri menyinggung hubungan ku dengan Rin di tengah diskusi kelompok di asrama mereka.
" Mana mungkin, hahaha. Dia bukan tipe ku. "
" Eh, padahal Tuan putri Catherine sangat Menawan?" Ujar pria 1
" He... ?!"
" Ti... tidak, aku tidak bermaksud lancang, sumpah "
" Yang begitu kalian bilang Menawan ?"
" Memang begitu kenyataannya, apakah ada yang salah?"
" Tidak, tidak ada yang salah dengan pernyataan kalian. Hanya saja aku tidak menyangka kalian tidak mengatakan nya langsung di depan orangnya langsung."
" Tidak, kami tidak berani. " Pria 2
" Kenapa ?" Tanyaku
" Status kami saja sudah jauh berbeda " Ujar Pria 2 lanjut.
" Lalu apa bedanya dengan aku ?"
" Eh Rion San, jangan bercanda. Itu tidak lucu "
" Malahan aku serius, dua rius malahan "
" ... "
" Jangan bilang, kalian selama ini mengira aku dan Rin setara ?"
Mereka berdua mengangguk mantap.
" Hahaha... Dengar, aku dan Rin adalah teman dari kecil. Susah senang, kami lewati bersama. Kami juga sering membuat masalah dan di marahi bersama. Mulai selera makanan sampai permainan kami sama semua. Rin itu lebih dari sekedar teman dan tidak lebih dari sekedar saudara. "
" Aku tidak paham. "
" Rin sudah ku anggap sebagai adik perempuan ku sendiri. Jadi mustahil aku menjalani hubungan romantis dengannya."
" Tetapi kami yang melihatnya pasti tidak akan sampai pada kesimpulan seperti itu " Pria 1 beropini.
" Benar, kami yang melihatnya, kalian selalu mesra dimanapun kalian berada "
" Itu bukan mesra, itu namanya akrab. Kalian saja yang sembarangan menyimpulkan. Yosha... Bagian ku sudah selesai..."
" Tu... Tunggu sebentar.. !!" Kedua orang teman sekelas ku ini dengan panik mengerjakan tugas kelompok bagian mereka masing-masing.
" Aku dan Rin pacaran ya ?" Gumamku pelan ketika mencoba berbaring.
Aku penasaran apa dia juga pernah di tanyakan dengan pertanyaan yang sama.
Hahaha...
******
Keesokan harinya, ketika hari kedua kami menyelesaikan tugas kelompok yang kemarin sempat tertunda.
Karena bagian ku sudah selesai, aku membantu pekerjaan mereka agar cepat selesai.
Kali ini kami tidak mengerjakan di asrama mereka, melainkan kami mengerjakan di kantin sekolah.
Jam makan siang sudah selesai, murid murid juga tidak banyak yang datang. Sebenarnya kami ingin membuatnya di perpustakaan, tetapi menimbang di sana tidak boleh ribut makanya kami memilih disini karena mejanya luas dan bebas untuk berdiskusi.
" Ri-kun... Masih belum ?" Rin datang sendirian dengan tas sekolahnya.
Dia tidak ada kelas lagi hari ini karena persiapan ujian tulis, jadi guru guru sedang sibuk mempersiapkan soal-soal.
" Belum, sedikit lagi. Tunggu saja disini "
" Rojar " Rin memberikan hormat tanpa malu dengan statusnya.
" Oy, kemana kalian melihat !!" Ku pukul kepala mereka satu persatu dengan pensil, ketika konsentrasi mereka tertuju pada Rin yang tiba-tiba datang.
Rin yang tidak sadar dirinya menjadi sorotan malah menambah konsentrasi mereka semakin buyar, ketika mencoba mengintip kerja kelompok kami dari dekat, sangat dekat sampai pipi mereka hampir bersentuhan.
Di tambah Rin secara tidak sadar membenarkan rambutnya ke belakang telinganya.
Orang awam pasti juga tidak akan kuat dengan godaan dari gadis ketika mereka memperlihatkan tengkuk leher mereka.
Apalagi ini datang dari Gadis paling fenomenal dan terkenal.
" Oy, Rin jangan ganggu mereka, duduk disini "
" Aku tidak mengganggu, aku hanya mengintip sedikit "
" Sudah.duduk disini, makan ini, ini, juga ini, ini juga " Aku menyogok Rin dengan berbagai makanan manis.
"Dan untuk kalian berdua, cepat lanjutkan!!" Kuberi satu pukulan lagi di kepala mereka dengan pensil.
" Jika kalian bisa menyelesaikannya sebelum semua cemilan Rin habis, aku akan memberikan kalian juga dengan porsi yang sama, gratis"
Bujuk ku, karena kami sudah kehabisan waktu. Tugas ini harus di kumpulkan dan di presentasikan besok.
Karena itu ini adalah hari terakhir.
Melihat Rin makan dengan lahap, mereka semakin semangat dan mengerjakan dengan cepat.
Aku tidak tau lagi apa mereka semangat karena makanan atau karena senyum Rin.
Tetapi itu tidak penting lagi.
Yang penting tugas kami selesai, dan presentasi besok hanya tinggal mempersiapkan diri saja dengan materi yang akan kami bawakan.
" Seperti janjiku, silahkan di nikmati jangan sungkan"
Seperti janjiku, aku memberikan mereka cemilan yang sama dengan porsi sama masing-masing dari mereka.
Rin tampak cemburu ketika cemilan terakhirnya hampir habis.
Para pria perjaka itu malah luluh dan merelakan cemilan itu, ketika Rin dengan tidak sengaja memperlihatkan wajah menginginkan cemilan mereka.
Rin yang tersenyum sambil berterima kasih pada mereka itu tampak sangat menawan.
" Heee... "
" Apa? " Rin dengan wajah Polosnya menatapku dengan tidak suka ketika cemilan para perjaka itu ia bawa ke mulutnya.
" Aku saja yang selama ini selalu memberi mu cemilan tidak pernah mendapatkan Terima kasih dan senyuman itu "
" Benarkah ?"
" Benar sekali "
Rin menelan makannya dengan cepat, dan kemudian tersenyum seperti tadi dan mengucapkan Terima kasih.
" ... "
" Apa lagi ?" Tanya Rin ketika aku bergumam tidak jelas.
" Tidak, hanya saja aku sama sekali tidak merasa terpana setiap kali melihat mu tersenyum."
" Memangnya apa manfaatnya?" Tanya nya polos.
" Itu dia, aku juga heran. Baru-baru ini bahkan aku sempat mendengar desas-desus bahwa kita berdua itu bertunangan "
" Siapa?"
" Aku "
" Dengan siapa ?"
" Dengan dirimu "
" Aku ?"
" Umm... "
" Ah, para gadis juga sering menggosip kan hal yang serupa "
" Apa yang mereka bilang "
" Kalau tidak salah, mereka sempat bilang, aku dan Ri-kun cocok jadi pasangan "
" Heee aku tidak habis pikir para gadis sangat suka dengan gosip seperti itu "
" Aku juga berfikir seperti itu "
" .... "
""....""
" Oy, kau kan juga perempuan "
" Benar juga, tehe~~ "
" Jangan tehe~~ padaku, kau ini. Makan saja masih belepotan, padahal sudah besar "
" Ri-kun bersihkan untukku "
" Kau ini... "
"" Sebenarnya kalian itu kekasih atau bukan ?""
Kedua pria di sebelahku bereaksi dengan pertanyaan yang sama ketika melihat kemesraan ku dan Rin.
" Dengarkan aku disini, aku dan Rin sudah seperti saudara karena hidup selalu bersama"
" Benar, aku dan Ri-kun adalah saudara "
" Rin sudah ku anggap sebagai Adik perempuan ku"
" Ri-kun sudak ku anggap sebagai adik laki-laki ku"
"" Aku yang kakaknya ""
"" Kau yang jadi adiknya""
"" Tidak, kau!!""
"" Grrrr""
" Jadi yang mana ?" Tanya pria 1
"" Aku yang jadi kakak!!""
"" Tidak, aku !!""
" Kalian bahkan semakin terlihat serasi " Sahut pira 1 lagi.
" Kalian Berdua yakin tidak sedang pacaran ?" Tanya pria 2.
"" Tidak !""
"" Jangan meniru ku !""
"" Kau yang meniru ku "" Jawab kami bersamaan untuk kesekian kalinya.
" Ok, cukup. Kita hentikan sampai disini saja. Jika di teruskan tidak akan ada habisnya" Pinta ku.
" Ya, aku tidak masalah. Ri-kun, aku mau eskrim !"
" Kau ini, semakin tidak tau diri saja "
Rin hanya mencibir dengan celotehan ku.
Tetapi tanpa kami sadari. Pembicaraan kami hari ini akan menjadi buah bibir dari orang-orang yang secara acak ada di kantin keesokan harinya.
Dan gosip tentang kami berpacaran semakin kuat dengan tambahan bumbu cerita ini dan itu dalam Gosip mereka.
Sampai-sampai gosip ini masuk kedalam istana dan jadi pembicaraan di kalangan orang-orang di istana.
"" Kau menggali kuburan mu sendiri ""
Pria 1 dan 2 menghabisi ku dengan kata mutiara nya.
Aku bahkan bisa mendengar Yang mulia sedang tertawa saat ini.
******
Minggu-minggu ujian sudah selesai.
Semua mata pelajaran akan di liburkan sampai 3 hari kedepannya.
Aku punya waktu luang selama 3 hari itu. Tetapi aku tidak punya rencana. Aku tidak masuk dalam klub sekolah. Aku juga di PHK dari kerja paruh waktuku.
Di istana tidak ada hal yang menarik.
Mengambil misi sendirian aku masih belum berani, karena alasan takut tersesat.
Pria satu dan dua, juga ada kegiatan klub.
Izumi dan momo juga sibuk dengan Klub mereka.
Rin malahan menggunakan waktu itu untuk acara sosialita nya bersama Kazu dan Yuki.
Ayah masih dalam perjalanan kerjanya, Ibu... Tidak, sebaiknya aku tidak mengganggunya.
Lalu apa yang harus kulakukan selama 3 hari ke depan ?
Pilihan satu-satunya adalah Mengambil Misi saja.
Aku hanya perlu mengambil misi coyote lagi dan berkeliaran di kota saja sampai sore dan baru melaporkannya.
Benar, itu saja.
*******
Tetapi, ekspetasi tidak selamanya menjadi kenyataan.
" Permisi... " Aku mencoba memanggil resepsionis di counter yang tidak di jaga.
" Ya, tolong tunggu sebentar " Ujar seorang wanita muda di meja yang tidak jauh di belakang konter.
" Apa ada yang bisa saya bantu ?" Tanya nya ramah penuh senyum.
" Aku hanya ingin bertanya "
" Ya, apa yang ingin anda tanyakan ?"
" Beberapa minggu yang lalu, aku mengambil sebuah misi, namun sekarang aku sama sekali tidak menemukannya lagi. Apa sudah di tarik?"
" Jika boleh tau, misi seperti apa yang anda ambil waktu itu ?"
" Pembasmian Coyote ?"
" Tolong tunggu sebentar "
" Tidak masalah, aku tidak sedang terburu-buru "
Wanita itu kembali kemejanya yang sebelumnya, dan mengambil setumpuk berkas dan membolak balikan nya satu persatu.
Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa satu lembar kertas.
" Boleh aku memeriksa kartu petualang anda, tuan ?"
" Ah, ya ini. Silahkan "
" Saya pinjam sebentar "
Wanita itu menempelkan kartu petualang ku dan kertas misi bersamaan dan men stempel nya.
Dan kemudian menyerahkan keduanya kepadaku.
Aku berterima kasih dan pergi keluar secepatnya.
Dan mulai berkeliaran di dalam kota.
Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 6 sore ketika lonceng menara jam berdentang.
Lucunya aku sampai di antar oleh para anak anak untuk sampai ke guild. Sebagai rasa terimakasih sudah mengantarku, aku memberikan mereka satu koin perak kecil peranak.
Bermain bersama mereka seharian sangat menyenangkan, mereka bahkan tau tempat rahasia dan tersembunyi toko yang menjual makanan enak.
Aku membuka pintu Guild dan menuju langsung ke konter untuk melapor.
Bodohnya aku adalah, aku tidak mengeluarkannya terlebih dahulu. Tidak seperti sebelumnya, ketika kami membopongnya bersama ketika melapor.
Wanita itu terlihat heran pada awalnya karena aku sama sekali tidak membawa bukti penaklukan.
" Ah saya mengerti. Rion san, tolong ikut saya ke gudang "
Benar, begitu saja. Jika dia bertanya, bilang saja ada di kantong dimensi. Karena banyak yang menggunakannya, aku pakai saja alasan seperti itu.
Aku pun mengikuti nya ke dalam gudang.
Sesampainya di sana, aku di minta untuk meletakkan nya di atas meja pembongkaran yang masih kosong.
Aku mengeluarkan 10 ekor sesuai kuota permintaan. Wanita itu senang dengan hasil buruan ku dan mulai menilai mereka. Aku dengan tenang menunggu di bangku yang ada di sana.
Setelah hampir 15 menit lamanya, wanita itu datang menghampiriku.
" Rion san, barang ini sangat bagus dan terlihat segar "
" Ya, aku beruntung ada kantong ajaib ini, sehingga kesegaran nya terjamin"
" Benar kah?" Senyumnya ramah
" Ya, entah sudah berapa kali aku di selamatkan oleh benda ini, jika tidak ada benda ini mungkin aku akan kesulitan mengangkut semua mayat mereka"
" Jadi begitu... Hey!!"
Aku di tatap dengan tatapan dingin, senyumannya yang tadi menawan kini tak terlihat sedikitpun.
Posturnya yang lugu dan lemah lembut kini berubah 180°.
Auranya yang menenangkan kini berubah mengancam.
Gadis wanita yang tadinya cantik sekarang berubah menjadi setan. Tidak dalam artian sebenarnya, hanya kiasan.
Aku sempat ketakutan tetapi aku masih bisa bereaksi menghindar ketika dia hendak menerkam ku.
" Ano, Nona. Apa ada yang salah ?"
" Eh, tidak ada" jawabnya kembali jadi wanita lemah lembut.
Eh, aku bingung. Apa yang sebenarnya terjadi.
Sesaat aku melihatnya sebagai wanita baik, kemudian dia berubah menjadi sosok yang menakutkan dan mengintimidasi. Dan sesaat kemudian, lagi-lagi dia menjadi sosok yang baik lagi.
Apa otakku rusak, karena kelelahan?
" Apa ada yang salah Rion san?"
" Ah hahaha tidak, bukan apa-apa "
" Apa yang anda takutkan?"
Ucapnya dengan suara mengancam namun mimik wajahnya sama sekali tidak menunjukan dia memberikan penyerangan.
Tidak mungkin, aku selalu waspada agar tidak dekat-dekat dengan sembarangan orang.
" Jadi, Rion san. Bagai mana jika kau menceritakan yang sejujurnya padaku sekarang "
Lagi-lagi wanita itu bicara dengan suara mengancam meski mimik wajahnya terlihat sangat ramah.
" Nona, sepertinya aku sangat kelelahan. Bisa segera proses misi penaklukan ku ini?"
" Maaf, ku tolak "
Wanita itu membuka matanya yang menyala dengan warna violet yang cantik.
Wajah lembutnya kembali hilang dan hanya menyisakan wajah gila petarung yang ingin segera menerkam ku.
Aku masih bingung dengan semua ini. Semua pekerja di gudang ini bahkan tidak terganggu dengan perubahan total wanita ini dan masih dengan santai lalu lalang di dekat kami.
Apa hanya aku yang melihatnya dengan sosok yang menakutkan?
Insting ku berteriak dan memintaku untuk pergi dari sana. Tetapi tubuhku menolak untuk beranjak dari sini karena tidak merasakan bahaya sama sekali.
Aku jadi semakin sangat bingung sekali. Sebenarnya apa yang salah dengan ku?
Wanita itu berjalan perlahan dan semakin mendekat. Dan ketika wanita itu hendak menerkam ku, disaat itu lah aku baru merasakan bahaya.
Aku menendang lantai dan menjauh darinya, dengan cepat juga ku tangkis dua tebasan dari kedua sisiku dengan pedang yang ku keluarkan tepat waktu.
Sekarang aku mengerti, mereka selama ini hanya berakting tidak melihat kami, dan menunggu ku ketika lengah lalu baru menyerang ku.
" Apa maksud dari semua ini ?" Aku berusaha mencari jawaban disini. Mereka memang menyerang ku dengan serius, namun tidak ada hawa membunuh yang kurasakan dari mereka.
" Hey, aku akan memaafkan kalian jika ini memang bercanda. Meski sedikit berlebihan."
Seperti tidak mengindahkan kata-kataku mereka terus mencoba mencabik cabik ku dengan senjata mereka. Meski aku mundur hingga terdesak mereka terus menyerang membabi buta.
Aku tidak bisa menebas mereka karena tidak merasakan hawa membunuh. Aku masih percaya jika itu adalah sebuah test dan salam perkenalan saja. Entah kenapa aku ingin mempercayai itu.
Dan benar saja.
Tepukan tangan mulai bergema di gudang yang besar itu.
Dua orang yang sebelumnya menyerang ku pun menyarungkan kembali pedang mereka dan ikut bertepuk tangan.
" Seperti yang sudah aku perkirakan"
Wanita resepsionis yang sering bergonta-ganti kepribadian tadi keluar dari kerumunan.
Apa ini prank ala dunia lain ?
Kamera ? Mana kamera ?
" Hahaha aku kena prank, kalian mengerjai ku "
" Tidak, ini bukan prank atau apalah, ini semacam test "
" Test ?"
" Benar, test ?"
" Hahaha kalau boleh tau, test apa ya?"
" Tidak perlu berkilah, Rion san"
" Aku sama sekali tidak mengerti "
" Mau sampai kapan kau akan menyembunyikannya wahai sang penjagal ?"
" Penjagal ?"
" Benar, itu adalah dirimu. "
" Eee aku tidak ingat pernah dijuluki penjagal sebelumnya "
" Kau memang belum tau, tetapi kali ini aku pastikan kau akan mendapatkannya "
Sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini berlanjut.
" Maaf, sepertinya anda salah orang, aku bukan penjagal seperti yang kalian pikirkan. Aku hanyalah petualang biasa "
" Meski kau membawa Monster-monster itu?"
" Ya, memangnya ada yang salah "
" Hey, apa kau tidak tau bahwa monster monster ini sudah punah di ibukota ini semenjak bulan lalu?"
Ugh... Aku benar-benar lupa soal itu.
" Hee kau bahkan tidak bisa membantahnya. "
" I.. Itu.. Aku tidak sengaja menemukannya di tempat lain?"
" Benarkah, dimana tempat itu ?"
" Hu... Hutan "
" Hee hutan ya.. "
" Benar sekali hutan "
Syukurlah dia percaya.
" Rion san. Coyote itu bukan koloni yang bisa hidup di hutan asal kau tau.. "
Sialan aku juga lupa soal itu...
" A.. Aku tidak sengaja menemukan mereka ketika mengejar buruan yang lari ke hutan. Benar, seperti itu, benar. "
" Meski jumlah mereka sangat pas dengan permintaan guild "
Eh, sebentar, Jumlah? Apa sebelumnya mereka mematok jumlah yang di minta ? mari kita ingat ingat dulu.
Tidak!! Mereka tidak meminta nya.
Bagai mana ini, bagai mana ini.
Apa aku kabur saja ? jika ku lakukan takutnya aku akan di jadikan buronan. Tapi jika aku menyerah takutnya aku akan di penjara karena menghancurkan mata pencaharian mereka.
Eh bukannya monster itu merepotkan manusia, dan melenyapkan mereka adalah tindakan bagus bagi seorang petualang. Kenapa aku takut.
" Hah... Aku menyerah. " Aku mengangkat kedua tanganku pertanda menyerah.
" Sekarang kau mengakuinya "
" Aku kehabisan alasan, lagi pula aku merasa bersalah karena sudah mengambil mata pencaharian petualang lain. "
" Baguslah jika kau mengerti "
Aku akan hati-hati di lain hari. Jika masih bisa kuar hidup-hidup dari tempat ini.
" Sejak kapan ?" Tanyaku.
" Apa nya ?"
Wanita ini... Astaga. Boleh ku pukul sekali saja?
" Bahwa aku pelaku yang bertanggung jawab atas hilangnya populasi Coyote di sekitar sini "
" Ah, itu. Baru saja "
Apa ?!!! Hah ?!!
" Ma.. Maksudnya ?"
" Seperti yang kau dengar, kami baru saja mengetahuinya ketika kau membawakan 10 mayat yang terlihat segar ini "
" Sebentar, aku perlu mencerna kata-kata mu dulu, beri aku waktu sejenak"
" Nikmati waktumu "
Wanita ini mengatakan bahwa dia tau bahwa aku adalah dalang dari hilangnya Populasi Coyote baru hari ini. Sedangkan aku menyerahkan mayat mayat itu hari ini. Mayat segar nya masih segar, ada 10.
Ah...
" Sepertinya kau sudah mendapatkan kesimpulan mu sendiri ?"
" Sepertinya begitu, hehehe "
" Jangan hehehe padaku" Ucapnya jutek
" Aku masih tidak percaya kau bisa menjebak ku sampai sejauh ini, yah aku sendiri juga salah karena tidak hati-hati "
" Ya, kamipun juga sangat berhati-hati semenjak laporan yang masuk, sebuah party secara kebetulan melihat aksi kalian ketika membasmi mereka, dan juga... "
" Dan juga... ?"
" Sihir inventori mu !!"
Ugh... !!
Bagaimana cara ku untuk menghindari yang satu ini ?
" A... Aku tidak mengerti a apa yang kau bicarakan"
" Berhenti berkilah, semua mayat-mayat ini sudah menjelaskan semuanya."
" Aku tidak mengerti a apa yang kau bicarakan "
" Manusia cendrung melihat kearah lain ketika berbohong, dan tidak mau melihat lawan bicaranya "
" Itu hanya mitos.. "
" Percuma berkilah, mayat-mayat ini, kesegaran nya hanya dapat di buktikan ketika di simpan dalam sihir ruang saja "
" Eh ?"
" Hahaha kau baru tau ?"
" Tidak... Ten tentu saja aku tau... "
" Benarkah ?"
".... "
" Dengar, semua orang tau kotak item tidak dapat menjaga kesegaran, benda itu hanya berfungsi sebagai penyimpanan saja, terlebih lagi kotak item mempunyai kapasitas yang terbatas. Jika kau masih ingin berkilah, perlihatkan padaku kotak item mu dan akan ku bongkar kebohonganmu"
Wanita ini sangat berbahaya. Entah sudah berapa kali dia membongkar kebohongan ku.
Aku hanya bisa pasrah.
Percuma berkilah.
Tidak akan ada habisnya. Makin lama aku disini makin lama juga aku akan pulang.
Aku mengangkat kedua tanganku keatas untuk kedua kalinya.
" Jika kau menurut seperti ini dari tadi, hal ini tidak akan selama ini "
" Jika kau tidak menekan ku, hal ini tidak akan selama ini " Balasku.
" Kau mengatakan sesuatu ?"
" Tidak, bukan apa-apa "
Wanita itu menatapku dan meng inspeksi ku untuk kesekian kalinya.
Apa dia mendengar yang barusan?
Lupakan.
" Sekarang serahkan semua nya "
Eh, tadi kau mengintrogasi ku sekarang kau merampok ku ?
" Tenang saja, aku tidak merampok mu, aku akan membeli semuanya "
Aku sedikit takut dengan kemampuan wanita ini yang seakan bisa membaca pikiranku.
Tapi karena dia bilang akan membeli semuanya, apa boleh buat. Daripada disimpan terus dan hanya jadi beban.
" Ya sudah, dimana aku harus menaruhnya?"
" taruh saja di atas meja "
" Sepertinya tidak muat "
" Sebenarnya, seberapa banyak yang kau miliki ?"
" Sekitar 102 ekor yang ku punya "
" Apa ?!"
" 102 ekor ku bilang "
" Aku tidak sedang bertanya lagi ! tapi aku sedang terkejut "
" Ah, maaf aku kira kau bertanya, Lalu dimana aku harus menaruhnya?"
" Terserah, dimana saja yang kau rasa cukup "
" Yasudah"
Aku memilih sembarangan tempat, yang penting luas dan memuntahkan semua mayat-mayat itu hingga menumpuk.
" Ada apa dengan ekspresi kalian itu. "
" Jangan di pikirkan "
Semua orang mulai mengambil satu persatu mayat dan menyusun mereka berjejer.
Aku sekali lagi menunggu mereka menghitung dan menilai. Ini tidak akan memakan waktu yang sebentar, pasti akan lama.
Apa aku pulang saja ya?, tapi apa aku boleh pulang ?
Disaat aku dilema ingin bertanya apa boleh pulang atau tidak, seseorang datang dengan membawa Izumi dan Momo.
Apa yang mereka lakukan disini ?
Tapi itu bagus, aku merasa aman jika tidak sendirian.
Setidaknya aku punya kawan jika dimarahi.
" Maaf dimana toiletnya ?"
" Tidak ada toilet di gudang, Duduk !!" Perintah wanita resepsionis ketika Izumi hendak kabur sendirian.
Momo juga beralasan namun mendapatkan tatapan seram yang sama.
" Sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Izumi ketika di suruh duduk seiza sama seperti ku.
" Maaf, aku sepertinya masuk perangkap guild. "
" Perangkap apa yang kau maksud ?"
" Apa kau ingat dengan misi sebelumnya, saat kita memusnahkan segerombolan monster?"
" Ya, aku ingat. Ada apa dengan itu ?"
" Guild merencanakan menangkap pelaku itu, dan aku secara tidak sengaja masuk dalam perangkap mereka "
" Hah... Lalu?"
" Guild berencana membeli semua nya, karena itu aku mengeluarkan mereka semua" Ku tunjuk kearah sekumpulan petualang yang sedang bergerombol.
Izumi dan Momo secara spontan mengangkat tangan mereka kompak.
Apa mereka akan kabur sendirian?
Sialan dasar tidak setia kawan.
" Apa !!? " Resepsionis itu menatap kami dengan tidak enak.
"" Kami masih punya lebih banyak lagi""
Jawab mereka kompak. Aku pikir mereka akan kabur dan meninggalkan ku sendirian. Sepertinya aku sudah salah menilai mereka. Mereka benar benar teman sejati.
" Ku beli semuanya !!"
"" Di Terima ""
Ku tarik kata-kata ku tadi !
Aku benar-benar lupa kalau mereka ini mata duitan.
Dengan begitu, waktu kami menunggu semakin lama.
Dan hanya aku yang merasa kelelahan karena semua kejadian ini.
Semua petualang yang mampu menilai barang bekerja lembur dengan senang hati.
Wanita resepsionis itu juga ikut menilai 356 ekor Coyote yang sempat hilang.
Keesokan paginya, kami di jemput oleh utusan Istana karena tidak pulang semalaman.
Aku ingin berterima kasih kepada utusan itu, tetapi dia langsung pergi tanpa membawa kami bersamanya.
Aku kecewa dan benar-benar ingin pulang.
Rin... Jemput aku...
******
" Maaf sudah menahan kalian semalaman, banyak hal yang harus kami pertimbangkan terkait semua bahan berkualitas yang kalian serahkan"
Aku tidak perlu basa-basi nya, pulangkan saja aku.
Berbeda dengan ku Izumi dan Momo malahan semakin bersemangat.
Apalagi dengan hadiah koin emas yang di suguhkan di depan mereka.
Saat ini kami di bawa ke sebuah ruangan yang besar dengan sofa dan jamuan teh dan biskuit.
Semalam kami jadi tahanan, paginya kami di perlakukan seperti tamu.
Makan malam aku lewatkan, sarapan pun aku belum, tidur pun aku tidak. Mentalku pun hancur karena ulah temanku sendiri.
" Bukannya ini terlalu berlebihan bagi seorang resepsionis memperlakukan petualang seperti ini?"
Tanyaku pada wanita misterius yang satu ini.
" Resepsionis ? siapa ? aku ?"
Ah, aku ingin sekali memukul wajahnya yang sombong itu. Tapi itu akan merusak harga diriku yang tidak akan memukul wajah wanita.
Lagi pula jika aku memukulnya di tempat lain, aku akan dibunuh oleh ibu karena kasar pada wanita.
" Aku adalah Guild Master dan ini adalah Guild ku. Semua otoritas tertinggi aku yang pegang !!"
" Woy, Izumi... Momo, boleh ku bunuh ?" Tunjuk ku, aku sudah tidak segan lagi, habisi saja semuanya.
" Tidak, sebelum kami mendapatkan semua uangnya, setelah itu terserah. Aku tidak peduli "
" Kalian secara terang-terangan bicara ingin membunuh di depan orangnya langsung ?" Orang yang mengaku Guild Master itu malontarkan protesnya.
" Aku tidak peduli kau itu Guild Master atau bukan, mau kau Pria ataupun Wanita, aku tidak peduli. Dengar.. "
" Rion san... mengapa kau tidak menunggu saja di lantai bawah ?"
Izumi benar, jika berlama-lama disini dan mendengarkan semua ocehannya aku merasa Vertigo ku akan kambuh.
Dengan begitu aku pun menerima tawaran Izumi.
Mataku mulai lelah, mentalku drop sampai menguras banyak sekali stamina.
Kupikir aku butuh udara segar. Lobi ini terlalu sesak meski di pagi hari.
Aku lebih baik keluar mencari udara segar.
Di luar aku merasa bersyukur bisa menghirup udara segar. Aku merasa sudah lama tidak menghirup udara segar seperti ini.
Di luar juga ada anak anak yang membantu mengantar ku ke Guild.
" Hey apa kalian senggang? mau main bersamaku ?"
Aku merasa bermain dengan mereka akan sangat menyenangkan, karena itu secara tidak sadar aku menciptakan hoverboard dari sihir perisai yang ku gabungkan dengan sihir angin.
Mereka tampak tidak mengerti, tetapi karena mendengar kata bermain mereka menerimanya saja.
Karena itu aku menciptakan satu hoverboard lain untuk mereka kendarai. Sedikit me modifikasinya aku menambahkan beberapa kursi seperti rollercoaster dan meminta mereka duduk dimana saja.
Karena dengan begitu aku hanya perlu menggerakkan satu papan saja, yang ku naiki sekarang ini.
Tidak perlu mirip seperti yang asli, bisa bergerak saja sudah membuat mereka senang.
Aku tidak peduli lagi jadi bahan tontonan ketika berkeliling di halaman guild sembari menaiki papan yang bisa terbang.
Akan ku tunjukan pada semua orang. Aku bukan orang sembarangan, dan tidak akan menahan diri lagi dalam menunjukan kekuatanku.
Sekaligus aku akan mendeklarasikan pada semua penjahat untuk berpikir dua kali ketika berhadapan dengan ku.
Ini seperti pedang bermata dua, penuh resiko. Namun aku sudah memikirkannya dari semalam.
Menyembunyikan itu lebih sulit daripada mencari.
Dan permainan anak anak ini akan ku jadikan sebagai batu loncatan ku mulai dari sekarang.
Semangat !! Untuk ku yang sekarang dan di masa depan !!