
" Jadi begitu ya, ada kejadian seperti itu ternyata "
" Hump... Hari Itu adalah keributan besar "
Rion saat ini sedang menceritakan bukti kepopuleran Nia sewaktu pertama kali masuk taman kanak-kanak di kelas Matahari. Dimana semua anak dan orang tua terpesona padanya, bahkan karena saking malunya Nia bahkan membenamkan wajahnya di perut Ibu Rion yang kala itu berperan sebagai Wali dari Nia dan Rion.
Tingkahnya yang lucu membuat imajinasi orang-orang mampu membayangkan wajah Nia di balik tempat sembunyi nya.
Saking tidak tahannya dengan pandangan orang-orang kala itu, Nia malah beralih bersembunyi di dalam seragam TK Rion, yang kala itu cukup di segani di dalam kelompok.
" Nia, tidak perlu takut. Mereka hanya terpesona betapa Imutnya dirimu "
Mendengar kata-kata bijak dari Rion itulah yang membawa Nia menjadi Pribadi yang dewasa, sampai di detik ini.
Bahkan senyuman dan hangatnya belaian dari orang yang ia anggap saudara itu masih terpatri dengan jelas di ingatannya.
Begitulah akhir dari cerita masa lalu yang Rion bagikan kepada Pangeran. Pangeran tampak puas dan memimpin Rion untuk bersiap.
" Apa tidak apa-apa jika kau menyerahkan Nia kepada ku ?"
" Hem... Itu tergantung apa kau bisa mengalahkan musuh lebih banyak dariku. "
" Itu cukup jadi alasan, untuk merebut Nia dari mu"
" Baguslah, kalau begitu. Tapi jangan bunuh semua nya, sisakan untuk ku jadikan pekerja untuk memulihkan Kota "
" Betapa bijaknya, ku Terima tantangan mu "
Dengan kepalan mereka yang saling bersalaman itu, tantangan mereka sudah di sepakati.
Dan hitungan Mundur semakin mendekati akhir.
3...
2...
1...
" SPARTA !!!"
Wus... Rion meluncur ke barisan depan musuh, meninggalkan Pangeran yang bukan tipe petarung agresif, mempercayakan punggungnya pada Sang pangeran.
Dalam hitungan detik Rion sudah sampai di tengah barisan Musuh dan berhasil mengobrak-abrik mereka. Tidak lupa dengan Felix dalam Mode Beast Mecha nya yang ia perlihatkan untuk kali pertamanya.
Membuat Rion kehilangan fokusnya.
" Fufu " Felix dengan sombongnya ikut mengobrak -abrik mereka. Tidak lupa dengan Music Epic nya.
Sementara mereka bertiga bersenang-senang. Pihak musuh barisan belakang tampak mati kutu dengan rahang mereka yang jatuh.
Tidak butuh waktu lama lagi bagi musuh mereka yang hanya bertiga itu sampai di barisan mereka.
Tetapi mereka tetap dengan pendirian mereka dan tidak mau kalah, mereka terus mendesak pasukan mereka untuk menyudutkan Kelompok Rion dan menguras stamina mereka.
Kelompok Rion cukup kewalahan dan strategi musuh terlihat cukup ampuh.
Rion cukup kesulitan untuk tidak membunuh para tentara itu. Sampai saat ini Rion sama sekali belum menarik Pedangnya dan hanya mengandalkan Tinjuan Karate nya dan Bantingan Judo nya.
Sedangkan Pangeran yang tampak sudah terbiasa dengan mudah menangkis serangan yang bertubi-tubi di lancarkan kepadanya.
Permainan Rapier yang ia pertunjukan terasa sangat indah namun mencekam.
Pangeran itu meski sendirian namun terasa seperti mendominasi medan, Tampak dari betapa kesakitan nya jeritan dari rekan mereka yang paha ataupun bahunya ditusuk cukup dalam.
Rion yang melihat pemandangan itu juga tidak mau kalah, namun dia masih belum mau menarik pedangnya, dirinya ingin menguji batas kemampuan Tinjuan nya, mumpung ada Ribuan samsak tinju hidup di depannya.
Bantuan pun datang, mereka adalah tentara yang berada di bawah perintah langsung Sang Pangeran. Namun mereka sama sekali tidak masuk ke medan, dengan menaikan Bendera dengan Lambang yang sama dengan yang ada di Robe di bahu Sang pangeran. Pasukan itu berbaris merentang di sepanjang dinding kota yang sudah rusak.
Mereka membuat perisai dengan bentuk sarang lebah di udara setinggi puluhan meter.
Dan benar saja, itu adalah keputusan yang tepat. Beberapa sihir serangan jauh menabrak perisai itu, meski sempat hancur namun bisa di buat kembali karena hanya berupa perisai yang di susun dalam formasi perorangan.
" Serahkan pertahan kepada kami !! " Sorak komandan yang mereka temui tadi.
Komandan dengan Full Plate Armor yang menakjubkan itu, meneriaki kata-kata penyemangat dari atas kudanya.
Para bawahannya pun ikut tertular semangat dari komandan itu.
" Agh... Kalian terlalu keren !! "
Rion yang tidak mau kalah keren akhirnya menyerah atas egonya, pada akhirnya ia terpaksa menarik pedangnya dan menghunus kan nya kearah musuh.
Potong pedang musuh, Berikan Tinjuan di wajah nya, tarik kepala musuh dan hadiahkan lutut yang cantik, terakhir pukul tengkuk musuh untuk membuat musuh diam.
Pola seperti itulah yang Rion gunakan karena sangat berpotensi membuat musuh lumpuh tanpa harus membunuhnya.
Tetapi selebihnya Rion terpaksa harus membelah mereka menjadi beberapa bagian, terutama beberapa orang yang sangat merepotkan seperti perwira yang berada sedikit dibawah Komandan.
Di sisi lain, Felix yang terhambat karena beban dari tubuhnya dan juga belum terbiasa dalam mode Mecha, harus rela tubuhnya menerima serangan yang tidak sedikit, terdapat beberapa goresan kecil di sekujur Body Mecha nya.
Felix mengabaikan kondisi itu untuk sekarang, dirinya terlalu terlena dengan sensasi yang di bagikan oleh Masternya lewat semangat tempur dan ikut menggila di medan Perang.
Jumlah Musuh yang pada awalnya adalah 3000 personil dan setelah di kurangi pasukan Pangeran hingga hanya tersisa 2500 personil itu, kini hanya tersisa kurang dari separuh nya.
Meski terdengar mustahil, namun kenyataannya memang begitu. Kelompok Rion jika di kalkulasi kan dengan perhitungan kasar, masing-masing mereka sudah mengalahkan lebih dari Lima ratus personil perorang.
Sedangkan personil yang di perkirakan ± 1000 yang tersisa itu kini ketakutan.
Meski jumlah mereka masih sangat banyak, terlebih 2 dari tiga musuh mereka sudah mulai kelelahan dan kehilangan momentum. Tetapi sosok mereka bertiga masih belum bisa tersingkirkan dari daftar dominasi.
Nafas Rion mulai cepat, lengannya sudah lemas, tubuhnya bahkan sudah berasap akibat uap dari keringatnya sendiri.
Sang pangeran pun tidak jauh berbeda. Bahkan pakaiannya sudah mulai rusak di sana sini, berbeda dengan Rion yang masih belum tersentuh sekalipun.
Pangeran melihat sosok punggung Rion, begitu mempesona meskipun orang yang ia kagumi itu lebih kelelahan.
Berbeda dengan dirinya yang membereskan keroco saja sudah membuat nya kewalahan.
Mengingat bualan nya saat sebelum terjun kemari, membuatnya terlihat sombong.
Tapi satu hal yang ia lupa adalah, kemungkinan lainnya. Sebab semalam dia sudah bertarung dengan 100 tentara, mungkin saja dia hanya kelelahan karena belum sempat beristirahat sebelumnya.
Meski begitu, Pangeran sama sekali tidak menyadari kemungkinan itu.
Rion menarik diri untuk mundur dan melesat mendekati Pangeran yang sempoyongan.
" Hop... Kau baik-baik saja Pangeran ?"
" ..... "
" Jangan dipaksakan, kau sudah berjuang, lihat hasil kerja keras mu "
Tanpa menunjuk kemana harus menoleh, Pangeran tau apa maksud Rion.
Pemandangan dimana Ratusan tentara yang meringkuk kesakitan, sedang memegangi kaki mereka yang di buat berlubang. Dia senang tidak ada yang tewas dan memenuhi Permintaan Rion, di saat akhir ia tersenyum lebar kearah Rion sampai pada akhirnya Pingsan karena kelelahan.
Komandan pengawal Pangeran, datang dengan cepat menghampiri mereka.
Serah Terima terjadi di tengah erangan tentara musuh.
Pengawal itu menarik diri dan membawa Pangeran masuk kedalam dinding kota.
" Kau sudah berjuang " Ucap Rion "Sisanya serahkan padaku " Tetapi Rion juga sudah sampai pada batasnya. Pandangannya mulai buram, sengatan panas membuat staminanya cepat terkuras.
" Sial... " Gerutu Rion yang tumbang karena tidak kuat lagi. Alhasil ia mendarat di pelukan Felix, namun karena itu adalah logam makanya kepala Rion yang membentur cukup keras itu kembali terpental.
" Wuaahh.. Maafkan aku Master "
" Hahahaha, keras sekali !!" Rion berhasil mendarat di tubuh Tentara musuh yang pingsan.
Ia sekali lagi mencoba berdiri di bantu oleh Felix. Rion senang Felix tidak menghentikannya.
Rion mengambil beberapa nafas panjang dan menghembuskan ya, itu ia lakukan beberapa kali. Mencoba membuat tubuhnya sedikit dingin untuk mengembalikan momentum detakan jantungnya.
" Fiuh... Sudah lumayan " Ujarnya.
" Serang !!! Selagi dia tidak bergerak, serang !!"
Pria Orc yang melihat itu sebagai kesempatan memerintahkan Komandannya untuk menyerang Rion.
Namun, Prajurit yang tersisa hanya diam, mereka ragu dan terkesima dengan perjuangan Rion dan 2lainnya yang begitu gagah dan bijak tanpa mengambil nyawa kawan mereka yang sudah tidak berdaya.
Sehingga mereka yang pada dasarnya adalah kesatria yang sesungguhnya, tidak lagi melihat Orc itu sebagai atasan mereka.
Mereka jauh lebih Menghormati Rion yang sama sekali tidak membunuh semua Prajurit mereka.
Mereka sadar jika selama ini apa yang sudah mereka lakukan adalah salah.
Bahkan tubuh mereka mengakui itu, getaran kecil kemanusiaan menggerogoti jiwa mereka, bahkan mengalir di nadi mereka hingga membawa perasaan hangat itu sampai di hati mereka.
Dengan waktu yang hampir bersamaan, Delapan Komandan besar dan 20 Perwira melepaskan helem mereka dan membuang senjata mereka.
Tentu saja Orc itu tidak Terima dan mempertanyakan pelecehan itu.
" Maaf, kau bukan lagi atasan kami dan kami tidak lagi berhak mengenakan atribut kesatria ini. Melihat sosok pemuda itu saat ini membuat kami merasa betapa hina nya apa yang sudah kami lakukan untuk mu selama ini. Selain itu selama melayani dirimu tidak ada kebahagian yang tercipta, hanya ketakutan dan ancaman yang kau berikan kepada kami dan penduduk mu. Kami mengundurkan diri danenyerahkan diri, sebaiknya kau pun begitu "
Mendengar pengunduran diri itu membuat Orc bertambah geram dari sebelumnya, wajahnya mulai mirip seperti Kepiting Rebus. Terlebih para prajurit juga ikut berlutut di tanah dengan mengangkat tangan mereka ke atas.
Kini hanya menyisakan Orc itu sendirian.
Menggerutu tidak jelas dan tidak mampu bergerak karena ukuran badannya yang melebihi beban yang bisa ia tanggung sendiri.
Rion senang dengan akhir kemenangan mereka dan mulai lega. Jujur saja saat ini dia hanya mempunyai semangat juang saja, untuk mengangkat pedang saja dia sudah tidak sanggup lagi.
" Rozak... Razak... Keluarlah... !!! "
Orc yang putus asa itu meneriaki sebuah nama, Rion yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi mendatangkan tanda tanya besar di benaknya.
Para prajurit yang sudah menyerah tadi, sampai melupakan sosok lainnya yang masih menjadi kaki tangan dari Mantan Tuannya.
Dengan panik para komandan yang sudah menyerah tadi mencoba menghunus kan pedang nya lagi untuk menghentikan Penyihir yang di kenal keji itu.
" Fire Pilar "
Dengan satu mantra tanpa rapalan panjang itu, tubuh para komandan itu langsung di lahap Api besar yang muncul dari tanah, hingga memanggang para komandan sebelum sempat mendekat.
" Cih, masih hidup saja "
Penyihir itu menyesalkan sihirnya yang tidak mampu membunuh korbannya.
" Rozak, di situ kau Rupanya "
" Tuan Maafkan keterlambatan hamba, hal apa yang membuat anda memanggil hamba ?"
" Naga, Naga mu... Keluarkan Naga mu sekarang juga, bu.. Bunuh orang menjijikan itu " Ujar Orc sambil menunjuk Rion yang kelelahan.
Rion yang setengah mati mempertahan kan kesadarannya itu, semakin tidak mengerti dengan keadaannya sekarang, namun masih dalam siaga tempur. kedepannya tidak akan mudah, pikirnya.
" Tenang saja Master, Naga itu adalah temanku. Kau pasti suka dengannya. "
" Benarkah begitu, aku mempercayai kata-kata mu"
"Hump " Felix mengangguk bangga
Di pihak musuh, penyihir tua itu dengan angkuh mengeluarkan batu kristal hitam dari balik Jubah penyihir nya.
Kristal hitam legam yang mengandung energi Negatif besar, sampai sampai orang yang tidak dapat melihat sihir pun dapat dengan jelas energi hitam itu sampai melimpah keluar.
" Felix, kau yakin itu teman mu ?" Rion sedikit mempertanyakan hubungan yang Felix dan teman nya itu miliki, setelah melihat betapa tidak menyenangkannya aura yang lahir dari Batu itu.
" Tenang saja, dia memang begitu "
" Aku sedikit ragu "
" Hahaha, aku tau kau akan berpendapat begitu Master. Tapi jangan lihat luarnya saja, jadi tunggu saja "
" Ugh " Rion sekarang sadar dengan pandangan orang lain tentang dirinya. Situasi ini sama persis dengan yang selalu orang lain lihat tentang dirinya yang sering di luar nalar dan liar.
Jadi bukan berarti Rion sama sekali tidak sadar betapa Gilanya dirinya.
" Ya sudah, aku akan mempertaruhkan semuanya "
Rion menunggu Penyihir itu untuk beraksi dan memanggil Naga andalannya itu.
Di kursi komandonya, Orc itu menatap tajam kearah Rion. Betapa bahagianya senyumnya ketika membayangkan Naga itu akan mencabik cabik tubuh Rion.
" Naga hitam penguasa kegelapan, dengarkan perintahku... Bangkitlah dan mengamuk lah, balaskan dendamku, amarahku... amarah mu !!! "
Dengan tawa jahatnya dan pose konyolnya, batu itu merespon dan dengan cepat angin kencang muncul dari bawah kaki Penyihir itu. Bertepatan dengan itu kabut hitam mulai mengitari batu itu hingga mulai membentuk satu wujud di udara di hadapan Sang penyihir.
Angin itu saja mampu membuat semua yang ada di sekitar nya terhempas, bahkan Orc yang berbadan besar itu saja sampai terhempas dan jatuh ke pasir.
Rion yang berada sedikit jauh dari Penyihir itu, juga hampir terlempar namun beruntung ia sanggup bertahan setelah berpegangan pada tubuh logam Felix.
Auman besar dan mengintimidasi mulai mempengaruhi dan menguras kesadaran semua orang, Rion yang kelewat lelah juga terkena imbasnya namun tidak sampai pada tahap ia kehilangan kesadaran.
Seiring bentuk tubuhnya mulai mencapai bentuk aslinya, auman dan energi yang ia keluarkan semakin kuat.
Dan ketika ukuran nya yang raksasa itu mencapai batas, Naga itu mulai tenang. Bersamaan dengan kabut hitam yang mulai hilang tersapu angin, hingga memperhatikan sosok aslinya yang gagah dan perkasa, dengan sisik berkilau seperti Logam.
Membuat Rion yang kelelahan tiba-tiba mendapatkan semangat nya kembali.
" Naga !! Itu Naga... !! Naga Asli !! "
" Iya, aku juga melihatnya " Felix mengiyakan.
" Itu bukan Naga Ular, tapi Dragon seperti di dalam game!!"
" Keren bukan ?"
" Sa.... Sangat Keren!!!" Sorak Rion kegirangan.
Sampai-sampai Penyihir yang memanggil Naga itu terlihat kehilangan harga dirinya karena Musuhnya sama sekali tidak ketakutan.
" Hehehe, Terima kasih " Balas Naga itu tersipu Malu, ia juga tampak menggosok kepalanya yang tidak gatal.
" Naga hitam !! Apa yang kau lakukan !! Cepat bunuh orang itu, jangan sok akrab dengan nya !"
Perintah Penyihir itu kesal sambil menginjak-injak pasir di kakinya.
" ..... "
" Apa yang kau lihat ?"
" Berisik, botak !!"
" Beraninya kau memanggil ku botak, dasar Naga Bodoh !"
Tidak mau mendengar suara berisik sang Penyihir, Naga itu membakar Penyihir itu dengan Jurus yang sama dengan jurus yang Penyihir itu tembakan untuk para Komandan yang sebelumnya.
Alhasil, Penyihir itu jatuh pingsan berdiri dengan pose yang sama seperti ketika ia marah tadi.
Naga itu menghampiri mengambil Batu Kristal hitam tempat ia tadi bersemayam dan kemudian kembali menghampiri Rion yang masih terpesona dengan kecantikan bentuk Naga nya.
" Selamat datang Kembali, Naga Hitam " Sapa Felix akrab, ketika Naga Hitam itu mendarat di hadapan nya.
" Yah, itu menyenangkan sekali. Tidak sia-sia aku menunggu sampai hari ini. Bagaimana dengan kemunculan epic ku ?"
" Keren sekali " Jawab Felix tenang
" Benar, itu sangat epic sekali !! Apa lagi saat kabut hitam mulai hilang dan sosok gagah itu perlahan mulai terlihat, aku sampai sampai lupa bernafas karena saking kerennya. " Ujar Rion panjang lebar.
" Hehehe, Terima kasih. "
" Felix apa Naga ini yang kau bilang teman mu itu "
" Yup "
" Uooo... Eh, tapi mengapa dia bisa berada di pihak Musuh ?, apa dia musuh ?"
" Mana aku tau, coba tanyakan sendiri " Felix mencoba menghindari pertanyaan itu.
" Apa kau musuh ?" Rion dengan mata masih berbinar binar itu memandangi Sang Naga dan mengharapkan jawaban yang menyenangkan.
" Tentu saja tidak " Dengan pose tangan di pinggang Naga itu memberikan jawaban yang membuat Rion semakin senang.
Rion bahkan tidak takut dan tidak segan memeluk dan memanjat ke atas tubuh Naga Hitam tersebut.
" Felix, selama ini kau kemana saja ? Saat aku bangun aku tidak menemukanmu dimana pun "
" Selama ini aku selalu bersama Mimio Sama "
" Enaknya... "
" Salahmu sendiri tidur sangat lama "
" Mau bagai mana lagi, aku sedang dalam masa pertumbuhan dan tidur adalah bagian dari proses itu "
" Hei... Hei... Naga Hitam, apa kau bisa terbang ?" Rion yang sama sekali tidak menyimak pembicaraan mereka itu malah ingin lihat lebih lagi kemampuan dari teman Felix itu.
" Umn.. Tentu saja bisa " Angguk naga itu mantap.
" Uoooo benarkah ? "
" Akan aku perlihatkan "
Naga hitam itu mulai mengepakkan kedua sayapnya, Rion yang bersemangat dan bertengger di atas kepala Naga itu ikut menulari semangatnya.
" Tunggu sebentar "
Felix menghentikan aksi nekat mereka. Sedangkan pasangan Bodoh yang akan siap terbang itu menatap Felix polos.
" Bukankah ada hal penting yang harus kau sampaikan terlebih dahulu ?"
" Oh, benar juga. Sampai lupa " Naga hitam itu memukul telapak tangannya sendiri dengan cara komedi klasik.
" Master... Perbarui Kontrak dengan ku "
" Kontrak ? Dengan ku ?" Rion memandangi Mata penuh harap dari Sang Naga dari kepalanya. Kemudian beralih ke arah Felix yang tenang.
Rion sampai lupa dengan situasi yang seperti mimpi itu. Seharusnya tidak ada manusia yang mampu akrab dengan Mahluk yang paling di takuti seperti yang ia alami sekarang ini.
Rion merasa bahwa dirinya masih belum dewasa karena terlambat menyadari situasi yang sekarang. Emosinya yang belum tumbuh dewasa sudah menguasai akal sehatnya.
Menyadari hal itu Rion turun dari kepala Sang Naga, dan itu menjadikan tanda tanya besar di benak kedua Monster Legenda dihadapannya.
" Maaf, aku tidak bisa "
" Eh ?!!" Sang Naga panik karena proposalnya di tolak setelah sebelumnya mereka sudah membuat chemistry yang bagus.
" Boleh aku alasannya ?" Tanya Felix yang juga sedikit terkejut karena tidak sesuai dengan bayangannya.
" Aku sama sekali tidak melihat keuntungan untuk Teman mu jika bersama ku "
"".....""
" Seperti yang kau tahu, aku ini hanyalah anak-anak yang belum dewasa, jika bersamaku hanya aku hanya akan menjadi beban dan menghambat pertumbuhan Teman mu saja "
""..... ""
" Bukankah akan lebih bermanfaat jika temanmu memilih orang lain yang lebih kuat dan lebih cocok untuknya ?"
""..... ""
Naga Hitam dan Felix saling bertatapan. Mereka tau dan paham apa yang Rion maksud. Mereka tersenyum puas dengan pemikiran Polos Rion yang sama sekali tidak terdengar sombong dan merendahkan diri. Itu adalah hati yang murni putih bersih.
" Jadi jika Naga hitam menemukan orang yang cocok untuk menjadi tuannya, Master akan senang ?"
"..." Rion hanya mengangguk sambil terus menunduk menatap kakinya.
" Kalau itu yang master pikirkan aku tidak akan memaksa "
" ! " Sedikit kekecewaan di hati Rion karena Felix tidak mencoba untuk memaksanya lagi. Padahal Felix bilang mereka adalah teman, karena itu sebagai teman Rion yakin Felix akan meyakinkan dirinya sedikit lebih keras.
" Naga Hitam, apa ini tidak masalah ?"
" Uhn... Aku puas. Terima kasih sudah memikirkan ku lebih "
" !! " Mendengar tanggapan seperti itu membuat Rion menyesali perkataannya, air matanya mulai berkumpul di sudut matanya. Disaat semua air itu akan tumpah, Rion menyapu mereka dengan lengan bajunya dengan kasar.
" Sebelum itu... Bolehkah aku melihat wajah mu lagi ?"
Rion terkejut dengan permintaan dari Sang Naga itu dan tidak bisa menolak.
" Apa ini adalah wajah dari orang yang berkata seperti tadi ?"
Naga hitam itu mencoba menghapus air mata yang masih tersisa dan luput Rion hapus.
Rion yang sudah berusaha menahan egonya, dikalahkan dengan perlakuan lembut Naga hitam itu.
Tubuhnya lemas hingga jatuh tersungkur, hingga pada akhirnya mengalah dan menangis kencang seperti anak kecil.
Felix kembali ke mode Human nya dan membenam kan wajah Rion di dadanya.
Setelah lebih tenang, Rion mulai menghadapi Naga hitam tersebut dengan perasaan yang lebih segar.
" Aku tidak tau apa yang sudah terjadi padaku, tetapi satu hal yang aku ingin tarik kembali adalah, aku tidak bisa melepaskan mu kepada orang lain "
Mendengar kata-kata indah dari Rion, membuat Sang Naga hitam terharu.
Dan Rion dengan senang hati membuat Kontrak yang sama dengan Felix.