
Rion di panggil kesebuah ruangan, itu tidak besar namun cukup untuk beberapa orang.
Ruangan ini adalah rumah penduduk yang di pinjamkan kepada Patriot patriot yang terluka karena berjuang mempertahankan Kota mereka, mereka terdiri dari beberapa Prajurit dalam kota, Pria dewasa yang memilih tinggal, pemuda kota yang juga ikut tinggal, juga para petualang yang Murka karena ladang mata pencaharian mereka yang di rusak.
Banyak kerusakan yang terjadi pada bangunan perumahan dan penginapan, oleh karena itu beberapa perumahan yang masih layak sengaja di pinjamkan.
Bahkan rumah kecil yang mereka pinjamkan saat ini sudah bisa di bilang tidak lagi layak huni, karena hanya menyisakan sebagian kecil dinding saja.
Lalu bagai mana dengan penduduk yang tidak berhasil mengungsi ? Tentu saja mereka di amankan di mansion Tuan Tanah. Meski mereka harus berdesak-desakan di sana, namun mereka amat sangat aman jika di bandingkan tetap berlindung di Rumah mereka.
Meski serangan juga sempat beberapa kali mengenai dinding Mansion, namun beruntung itu tidak sampai membuat lubang dan hanya berupa kikisan kecil.
Tapi tetap saja, Meneror satu daerah sampai menindas warga yang tidak bersalah seperti ini adalah sikap yang kekanak-kanakan dan merusak Nilai Perang.
" Oy... Pinky Boy ! "
" Ada apa, Chiby Boy ?"
" Beri tahu aku, siapa orang Bodoh yang sedang bermain Perang-perangan seperti ini ?"
" ..... "
" Oy !!! "
" Hm... " Pria Berambut Pink yang masih belum di ketahui namanya ini, tampak sedang berpikir keras tampak dari kerutan di alisnya.
" Aku Lupa namanya "
" Cih, tidak berguna "
" Tapi aku tau wajahnya "
" Wow, benarkah ?, beri tahu aku "
" Lebih kurang, mirip dengan Komandan Mozaik yang Agung "
" Woo, aku mengerti " Meski Rion sendiri yang bilang bahwa dia Mengerti tetapi sebenarnya dia saat ini sedang amat sangat marah sekali.
Informasi dari Pria berambut Pink yang namanya saja masih belum ia ketahui itu terlalu kabur dan tidak jelas.
Sebenarnya jika dia mengetahui wajah ataupun nama pelaku utama tragedi ini, dia berniat terjun langsung ke daerah Musuh secara diam-diam.
Rencananya sepertinya tidak akan berjalan lancar.
" Yah, anggap saja dia mirip dengan Orc berpakaian manusia " Lanjut Pria berambut Pink.
" Orc ?, berpakaian ?"
Imajinasi Rion yang mencoba membayangkan Orc dari game yang biasa ia mainkan dan ia sedang mengenakan pakaian Manusia, dan berpose dengan tanda Peace. ' Yey... '
" Jangan 'yey' padaku " Rion bahkan menanggapi dengan kesal imajinasi yang ia buat sendiri.
" Wooo tidak ku sangka kau bisa berimajinasi seperti itu "
" Jangan bicara seakan kau bisa membaca pikiranku, sialan "
Kruuuuk...
Auman cantik bergema dari dalam Perut Rion. Mahluk-mahkuk penghuni perutnya mulai memberontak.
" Berurusan dengan mu sepanjang hari membuat ku semakin lapar "
" Mau makan sekarang ?"
Rion dan Felix mengangguk setuju.
Dan dengan begitu mereka bertiga berjalan menuju kantin, lebih tepatnya tenda darurat dimana beberapa penduduk membuatkan sup sederhana untuk para pejuang.
" Ahh!!! Aku lupa, aku di titipin barang. Tunggu sebentar. ..." Pintanya entah pada siapa, dan terus saja berlari menuju penduduk yang sedang memasak lewat jalur samping.
" Permisi... "
" Hey, jangan menerobos antrian !!" Seorang Wanita paruh baya berbadan subur memukul Kepala Rion dari arah belakang menggunakan sendok sup.
" Hahaha, maaf aku kemari mengantarkan paket ?" Tawa Rion yang sadar jika dia salah tahap.
" Oh, benarkah ? Maafkan aku "
" Aku membawa bahan makanan untuk satu minggu, mau taruh dimana ?"
" Terima kasih ya, pasti berat memikul tanggung jawab untuk membawakan Makanan untuk Kota lain "
" Apa yang anda bicarakan, ini sama sekali bukan apa-apa, jangan dipikirkan, jadi mau di taruh dimana?"
" Sebentar, aku panggilkan tenaga tambahan "
" Tidak perlu, aku bisa sendiri " Tolak Rion halus
" Itu pasti berat jika dilakukan sendiri, kami tidak bisa merepotkan penolong kami lebih dari ini, jadi tolong tunggu sebentar ini tidak akan lama"
Mengabaikan kata-kata Rion yang dia anggap basa-basi, wanita itu memanggil 5 orang Pria Dewasa bersamanya.
" Maaf membuat Anda menunggu, paman paman ini akan membantu membawakan barangnya, jadi serahkan saja pada mereka "
Di belakang wanita tadi sudah siap Pria pria berotot yang terluka dan kepalanya di perban.
" Serahkan pekerjaan berat pada orang dewasa, jika hanya mengangkat beban kami masih sanggup" Ucap salah seorang dari mereka, wajah mereka tersenyum meski mereka sendirilah yang lebih lama menderita.
" Terima kasih banyak nak, kami terbantu " Pria yang lain ikut menimpali, mereka satu persatu saling menyemangati, bahkan semangat mereka ikut tertular kepada Prajurit lain yang masih mengantri, bahkan antrian yang paling belakang lah yang paling bersemangat.
" Kalian sangat luar biasa sekali, meski dalam keadaan genting sekalipun masih selalu saling menyemangati. Normalnya situasi sekarang biasanya penduduk akan menyalahkan Tuan mereka dan mulai membelot "
" Apa yang kau bicarakan ?" Wajah mereka yang tadinya tersenyum kini lenyap hilang tak berbekas.
Tatapan tajam marah mereka tunjukan kepada Rion karena mereka merasa tersinggung atas ucapan Rion.
" Jangan menghina Tuan kami, kau tau apa tentang kami ?, asal kau tau saja kami orang yang tadinya bernafas saja sudah bersyukur bisa hidup dengan layak, kami di beri lahan untuk bekerja, makanan untuk bertahan hidup dan tempat tinggal untuk berlindung dari dingin dan panas. Kau pikir apa kami bisa mengkhianati orang seperti itu ?" Mereka menitikkan air mata menandakan bahwa mereka bersungguh sungguh mencintai Tuan Tanah mereka.
" Sepertinya aku salah mengambil kata-kata, maksud ku adalah aku memuji kalian, kalian... Sangat mencintai Kota ini kan ?"
Melihat senyuman hangat yang Rion berikan, membuat hati mereka juga ikut menjadi hangat, seolah terkandung energi positif yang meningkatkan semangat dan rasa rindu kehangatan suasana kota yang sebelumnya damai.
Amarah yang tadi mereka keluarkan bahkan sudah seperti mimpi saja yang hilang dan terlupakan ketika bangun.
" Jadi di mana aku harus menaruh bahan makanannya ?"
" Disini saja kurasa, jadi dimana kereta barangnya ?"
" Kereta barang ?"
" Hump hump..., kereta barang "
" Aku kemari tidak membawa kereta barang " Ucap Rion datar
" Eh ?"
" Aku membawanya dengan Sihir Ruang ku, membawa sebanyak ini sangat merepotkan dan sangat lama "
""......""
" Kubis Segar~~ "
"" ! ""
" Bawang Bombai ~~ "
"" !! ""
" Daging ~~ "
" Tepung Terigu ~~ "
"" !!!! ""
" Telur Ayam ~~ ""
"" !!!!! ""
Di saat Rion satu persatu mengeluarkan tumpukan demi tumpukan, sembari meneriakkan Nama Barang-barang itu dengan aksen Robot kucing biru dari masa depan, semua orang yang melihatnya semakin terkejut berapa tingginya tumpukan tumpukan itu.
Mereka terlalu sibuk terkejut sampai lupa untuk senang.
" Dan yang terakhir, selimut hangat~~~ ah, yang ini tidak untuk dimakan. " Candanya
" K.. Kami tau, tapi ini... Bukankah terlalu banyak ?" Salah seorang Pria tadi berkomentar dengan wajah pucat karena saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya.
" Jangan tanyakan padaku, aku hanya di minta untuk membawanya saja. Sudah dulu ya, aku juga harus mengirimkan ke tenda lain juga "
" Ya, Terima kasih banyak.. " Jawab mereka kaku.
"" Tu.. Tunggu dulu, maksudnya... tempat lain, juga akan menerima sebanyak ini ? ""
Rion yang tidak sempat mendengar ungkapan keterkejutan dari para penduduk dan prajurit di tenda itu, sudah menghilang di persimpangan.
Selama 5 menit, 10 menit, 15 menit, Rion berjalan menelusuri Blok perumahan penduduk namun masih belum menemukan Tenda daruratnya.
Didalam hatinya ia mengagumi betapa besarnya Kota ini. Namun pada kenyataannya, Dirinya hanya berputar putar di area yang sama dalam garis loop.
Padahal tenda kedua hanya berjarak 200 meter saja dari tenda pertama dan itupun hanya perlu menggunakan jalan utama yang lurus memajang saja. Sedangkan dirinya terus mengambil jalur berputar putar berkali kali.
Tetapi meski begitu usahanya selama 30 menit dengan loop panjang akhirnya membuahkan hasil, dirinya yang hina itu berhasil sampai di tenda yang ia tuju.
Tenda pertama...
" ..... "
Rion kembali ke titik awal tanpa membuat kemajuan sedikitpun.
Semua orang yang melihatnya kembali langsung bersorak dan memeluk dan menyalaminya.
Dirinya dimata penduduk sudah di klaim sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkan mereka, bahkan para lansia dan anak-anak merekapun sudah tidak akan kedinginan lagi ketika malam tiba.
" Oow, nak.. Terima kasih untuk bantuan mu tadi, suatu saat kami pasti akan membalas jasa mu "
" Hahaha, tidak apa-apa jangan dipikirkan, aku... "
" Apa kau sudah selesai dengan tugas mengantarmu ?, apa kau sudah sarapan ? Bagaimana jika sarapan dulu, koki kami baru saja membuat sup khas kota ini... Jadi jangan kaget jika kau tidak akan bisa lupa rasa sup kami "
Baru saja Rion ingin meminta bantuan untuk menunjukan jalan ke tenda berikutnya, omongannya sudah di potong oleh paman paman ceria yang banyak bicara, bahkan paman itu tidak segan-segan menepuk punggung Rion dengan keras karena saking semangatnya. Jika itu bukan Rion sudah dapat di pastikan orang itu akan terpental di tepukan pertama.
" Kau sudah selesai dengan tugas mu bukan, mari duduk disini. Beristirahat juga merupakan bagian dari pekerjaan "
Rion di seret dan di paksa untuk duduk di kursi yang baru saja di sediakan untuknya.
Rion merasa malu karena merusak harapan mereka karena tidak mampu mengantarkan paket dengan benar, namun dia lebih malu lagi saat mereka memandangi dirinya ketika di manjakan.
Tetapi dia tetap harus menjalankan Amanah yang di serahkan kepadanya. Mau itu malu atau apapun dia tetap harus menjalankan Amanah. Rion bangkit tiba-tiba, membuat semua orang kaget. Rion menunduk seraya berkata.
" Maafkan aku aku akan mampir lagi nanti, dan sebenarnya aku tersesat... Bisa tunjukan aku dimana Tenda yang lainnya? " Ucap nya lantang
"".....""
" ..... "
"" Tinggal lurus mengikuti jalan ini "" Ucap mereka tanpa banyak kata.
Rion bangkit dengan wajah merah padam dan langsung melesat dengan cepat tanpa menoleh kebelakang lagi.
" Mari kita lupakan apa yang baru saja kita lihat dan dengar, demi harga dirinya " Ucap pria yang bersemangat tadi, menyarankan.
Semua orang sepakat.
Lima menit kemudian...
Pria berambut Pink yang belum di ketahui namanya datang dengan wajah datarnya menuju tenda pertama yang di datangi Rion.
" Permisi... " Ujarnya
" Owh, Pangeran... Ada perlu apa hari ini ?" Tanya satu penduduk dengan akrab.
" Apa kalian melihat, orang Pendek dengan rambut hitam dan berwajah bocah kemari ? "
" Ah, ya... Tetapi dia baru saja menuju Tenda yang satunya. "
" Begitukah ?, Terima kasih " Pria berambut Pink yang di panggil Pangeran itu pamit dan beranjak pergi.
" Pangeran !!"
Merasa dipanggil, pria itu menoleh.
Dia melihat para penduduk menunjuk kearah yang sama dengan arah yang sama dengan arah yang di tuju Rion, dengan wajah prihatin karena Pria beramput Pink itu menuju ke arah yang sebaliknya di mana tenda berikutnya berada.
Tanpa menunggu perintah ia beralih menuju arah yang penduduk tunjuk, dengan wajah merah padam juga.
Di detik itu juga, satu pria raksasa berbadan kekar dan wajah seram Sedang menghela nafas berat. Ia meletakkan gelas nya dan bangkit, mengikuti Pangeran Berambut Pink, dengan gayanya yang tegap. Namun setelah beberapa langkah ia merubah postur tubuhnya dan berlari secepat kilat meninggalkan wilayah itu.
Melihat kejadian barusan, mereka sadar. Pria yang baru saja pergi menyusul itu juga mengalami krisis yang sama.
Semua orang yang sedari tadi tetap berada di tenda dan melihat kejadian langka itu, tidak dapat berkomentar lagi dan menyimpan rahasia itu hingga ke liang lahatnya nanti.
"" Mengapa orang hebat selalu terlihat bodoh ?! ""
Gumam mereka di dalam hati. Hanya hembusan nafas lelah mereka yang mengisi keheningan itu.
Baik itu Rion, Pangeran dan juga Jendral dari negeri tetangga yaitu Ayah Rion, berhasil sampai di tujuan meski di waktu yang berbeda.
Mereka memilih membenamkan wajah merah mereka di meja yang digunakan sebagai kantin darurat, uniknya mereka berada dalam satu meja. Pemandangan langka itu tentu saja mengundang perhatian, dikarenakan orang berpengaruh seperti mereka terlihat seperti depresi.
Tidak ada yang berani bertanya maupun menyapa, bagi mereka itu adalah tentang harga diri. Dan mereka juga tau alasannya, maka dari itu mereka memilih diam, demi harga diri mereka.
Mereka bangkit ketika makan siang akan datang, banyak orang datang untuk makan siang lebih awal. Dan mereka bertiga bangkit dengan gaya cool mereka, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, sedangkan di dalam hati mereka masih merasa Malu.
**********
Beberapa jam setelah kejadian memalukan itu, di suatu ruangan di kediaman Tuan Tanah.
Di dalam ruang pertemuan, semua petinggi militer dan beberapa Bangsawan tengah duduk di satu meja besar, termasuk Orang yang Rion baru ketahui adalah seorang Pangeran juga ikut dalam rapat yang tengah berlangsung.
Rion juga dipersilahkan untuk hadir dalam rapat para petinggi itu.
Di dalam isi rapat, ternyata Sang pangeran mengutarakan sebuah fakta mengejutkan dan sengaja melibatkan diri dalam kasus ini, dirinya sengaja menyelinap dan menyamar sebagai tentara bayaran musuh, sedangkan tentara bayaran yang sesungguhnya sudah ia kubur di dalam hutan sebelum mereka memasuki wilayah ini, namun menurut pengakuannya ia sendiri lupa dimana hutan tempat ia melaksanakan aksinya.
Juga tentang seribu pasukan tambahan dari keluarga Gold Bear yang sudah ia habisi malam tadi, tepat sebelum Komandan Mozaik yang Agung menumpahkan Makan Malamnya.
Rion terkagum bahkan sedikit gemetar ketika mendengar ia sudah menghabisi mereka seorang diri. Apalagi Rion juga sempat mengetahui sebelum ke kota ini, bahwa ia dilarang bermusuhan dengan pria berambut Pink, karena itu adalah orang yang di sayang oleh Nia.
Rion tidak menyangka Nia akan jatuh cinta dengan Pria dengan banyak talenta seperti Pangeran yang satu ini.
Rion akhirnya bisa melihat sifat kedewasaan dari Nia yang kekanak-kanakan. Dan ia menangis haru melihat temannya sudah dewasa.
" Pangeran Fillet, ya ?"
Padahal Rion hanya bergumam pelan, namun orang yang ia sebut seakan bisa mendengarnya bahkan melirik ke arahnya meski sebentar.
" Meski Nia bilang jangan di musuhi, tapi aku tidak di larang untuk latih tanding kan ?"
Di dalam hati, Rion sudah berpikir untuk membuat keributan lainnya. Dia selalu seperti ini, selalu penasaran dan haus akan hal baru, terutama gaya bertarung dari orang yang di panggil 'Pangeran Fillet ' ini.