
Seperti kata pepatah, Patah Tumbuh Hilang Berganti. Yang datang akan pergi, yang lewat akan berlalu, bertemu akan berpisah, awal kan berakhir, terbit akan tenggelam dan pasang akan surut, seperti kata syair lagu.
Tidak ada yang perlu di khawatirkan, jika berjodoh pasti akan dipertemukan.
Sekarang aku bisa bicara begitu, tetapi mengingat aku yang sebelumnya, membuatku merasa bodoh.
Hari ini pesta perpisahan untuk Rin dan yang lainnya. Menimbang peserta yang ikut meramaikan pesta melebihi ekspetasi, akhirnya dengan sungguh panitia memohon untuk dipinjamkan ruangan besar milik keluarga Kazuma. Orang awam tidak akan berani memikirkan hal Extreme ini, hanya mereka yang sudah akrab dan sering ku ajak kemari saja yang berani mengusulkan ide ini.
Yah sudahlah, lagipula Kakek dan yang lainnya juga mengadakan pesta yang sama.
Dan sekarang jadilah pesta perpisahan yang meriah.
Semua orang tampak bahagia, dengan suguhan dan pakaian mereka.
" Aku tidak menyangka, kau mau membuat pesta untuk kami. Kupikir kau sedang marah "
" Aku tidak mungkin marah pada saudaraku, kau tau sendiri "
" Kau ini, segitu cintanya kah kau dengan kami... Yosh yosh yosh.. "
" Berhenti mengacak acak rambutku.. "
" Marahnya pun menggemaskan.. Uah.. "
" Kazu.. "
" Apa saudaraku?"
" Seperti apa tempat kelahiran mu itu?"
" Hmm... Tempat kelahiran ya. Itu adalah sebuah desa kecil dengan ratusan petani yang hidup berdampingan dengan damai"
" Terlalu abstrak.. Terus terus.. "
" Kau tau.. Meski keluarga ku secara generasi ke generasi sudah melayani Keluarga Rin, namun kami banyak tidak disukai oleh bangsawan lain."
"Diskriminasi"
"100 untuk mu.. "
"Kau tidak perlu memaksa untuk tersenyum saat bersamamu"
" Kerennya.. Hihihi, ya meski begitu tidak semua bangsawan begitu, bangsawan lain yang lebih besar masih ada yang berhubungan baik dengan kami, mereka seperti semua orang disini. Selalu memancarkan aura hangat yang membuat ku lupa bahwa rasa sakit di tindas itu tidak pernah ada."
" Begitukah ?"
" Yup Yup "
" Apa kau merindukan mereka?"
" Rion San.... Apa kau cemburu?"
" Berhenti menggodaku"
" Hahahah... Kau masihlah kau hahaha "
" Cih,.. "
" Jadi kapan kau akan menyusul ?"
" Satu bulan kedepan paling lama, Sora-Nee sedang mengurus semua surat-suratnya."
" Aku tidak akan mengatakannya pada mereka bahwa kau akan menyusul"
" Terima kasih.."
" Ah hampir saja lupa. Ras Elf dan Kemonomimi sangat nyata, dan mereka jauh lebih cantik dari yang bisa kau bayangkan."
" ... "
" Kau tersipu?"
" Bagiku Risu-Chan adalah yang terlucu di alam semesta.. " Jawabku bangga.
" Uah... Lihat seekor Buaya yang Bicara"
" Ehem.. Membicarakan aku ?"
Dibelakang kami, seorang gadis lucu dengan yukata berdiri dengan membawa dua piring makan berisi tumpukan daging yang tinggi.
" Kalian membicarakan apa tentangku ?"
" Seperti biasa, Buaya yang satu ini membicarakan betapa cantik dan lucunya dirimu ketimbang Tuan Putri kami." Jawab Kazu mengompori..
" Apa kalian tidak malu mengatakan nya langsung di depan orangnya ?" Tisu tersipu
" Lihat sendiri pelakunya "
Dengan sombong aku menyilang kan kedua tangan di dadaku.
Tisu hanya menghela nafas pelan, meski tersipu. Sedangkan Kazu terlihat menyembunyikan tawanya.
" Kalian sudah makan?, aku membawakan makanan untuk kalian "
Ternyata makanan yang menumpuk itu sengaja dibawa untuk kami. Tanpa segan aku pun mengambil satu piring dari tangannya. Itu berat, sungguh.
" Suapi aku donk" Goda ku..
" Mau bagai mana lagi, yasudah.., aaak "
Alangkah ajaibnya, hari ini aku bahagia sekali.
" Ups.. Ibak nyamuk undur diri dlu " Kazu yang pengertian memilih menjauh meninggalkan kami berdua. Kau memang saudaraku.. Aku terharu.
Secara ajaib piring ku kosong tanpa aku sadari.. Dan momen indah ketika Risu-Chan menyuapi ku berakhir saat itu juga.
" Lain Kali kita lakukan lagi.. " Sembari memberikan kedipan manja, gadis itu berlalu pergi kembali ke kerumunan.
Aku benar-benar mencintainya.
Acara berlangsung sampai tengah malam, berhubung menginap juga merupakan bagian dari acara, jadi pesta masih akan terus berlanjut.
Saat ini Semua anak lelaki aku kumpulkan di Dojo, berhubung para gadis sedang menggunakan pemandian terbuka. Jadi lebih aman jika para lelaki yang masih subur ini dikumpulkan dalam satu ruangan.
" Hee... Bukankah ini kesempatan?"
"Benar.. Tidak akan ada lagi kesempatan kedua, Kazuma san.. "
Satu persatu mereka mengutarakan pikiran kotor mereka dengan lantang.
" Begini saja, bagi siapapun dari kalian yang bisa mengalahkan kami, aku akan menutup mata dengan rencana orang itu"
" Oy Kazu.. Jangan seenaknya."
" Ayolah, apa salahnya, anggap saja olah raga sehabis makan malam."
Melihat semua orang sudah memiliki pedang bambu di tangan mereka aku pun tidak mungkin menolak.
" Dengar peraturannya sederhana, kalahkan lawan sampai terjatuh ke lantai, serangan menusuk dilarang, menyerang wajah dilarang, menyerang uku hati dilarang, sekian " Kazu menjelaskan.
Mereka jauh lebih bersemangat ketimbang ketika festival olahraga, mata mereka seakan-akan mengobarkan bara semangat yang menggebu.
Namun semangat saja tidak cukup. Butuh lebih dari semangat untuk mengalahkan kami yang sedang dalam mode tempur ini.
" Akan ku lindungi kesucian tubuh Risu" Gumam ku
" Milik kami, milik kami, milik kami,"
" Akan ku rekam lekuk tubuh Momo Chwan.. Dengan kamera yang baru ku beli tadi. Dengan kamera ini semua gambar yang jauh sekalipun akan menjadi resolusi tinggi di tanganku" Ikemen kelas sebelah yang tergila gila dengan momo mengutarakan niat busuknya secara terang terangan, di apresiasi oleh kawannya di belakang.
" Momo itu Milikku, jangan berharap kalian akan mendapatkannya, langkahi dlu mayat ku "
Izumi dono, ini hanya olahraga, tidak ada yang perlu mati... Semoga dia tidak membunuh pria itu.
Selanjutnya pertarungan antara 32 anak laki-laki melawan 3 petarung sabuk hitam.
" Semua siap?" Pegawai Kakek berperan sebagai wasit. "MULAI!!"
Bagaikan auman di medan perang, langkah dan teriakan mereka menggelegar memenuhi ruangan. Semangat mereka ketika berlari mampu membuat lantai yang kami injak bergetar.
Namun seperti yang kubilang sebelumnya, semangat saja tidak cukup.
Butuh kerja sama untuk sekedar memojokkan kami seperti ini. Mereka cerdas, mereka mampu memisahkan kami.
" Huahaha... Beginilah sang Jendral Bertarung. "
Ah, ternyata otak dari semua ini adalah Pria Ikemen mesum tadi. Seberapa gigihnya mereka ingin mengintip para gadis mandi. Aku sadar gadis gadis itu, sangat menarik, mereka sudah seperti gadis kelas atas, dengan lekuk tubuh yang mempesona.
Tapi tetap saja jalan pintas jangan di anggap pantas.
Tiga orang datang kepadaku, di ikuti dengan tiga orang lainnya dibelakang.
Mereka menyerang bertubi-tubi tak memberikan waktu bagiku untuk istirahat, mencoba menguras stamina ku lebih awal.
Pintar juga, tapi mereka tidak memprediksikan. Bahwa mesti tanpa kekuatan 'itu' stamina ku jauh lebih besar, cukup untuk mengalahkan 100 Orang dewasa yang ahli beladiri.
Satu persatu barisan depan mereka kukuberi pukulan keras di lengan dan paha bagian luar. Itu cukup untuk menumbangkan mereka. Untuk sementara mereka akan kesemutan dan tidak bisa berdiri.
Di sudut lain Izumi dengan tenang maju mendekati Komandan Musuh. Serangannya tidak lagi asal-asalan, seperti dulu. Wajahnya pun sudah seperti pendekar pedang sungguhan, tenang dan tidak melepaskan pandangan dari musuh.
Sudut lainnya pun tak kalah heboh.
Dengan campuran Judo dan Kendo, Kazu menepis serangan, menangkap kerah lawan dan membanting nya.
Tak butuh waktu lama, semua musuh terkapar merintih kesemutan di lantai, sekarang tersisa sangat Jendral Musuh, sang Komando Pasukan Mesum.
" Lalu ? Bagai mana sekarang ?"
" Tangkapan besar. "
" Aku akan menghajarnya dan menguburnya setengah badan"
Isi otak kami keluar, hanya kami berempat yang masih berdiri. Kesalnya tanpa menyesal Jendral musuh masih mampu berakting dengan tenang.
" Uah... Segarnya... "
Para gadis yang sudah selesai berendam, tidak sengaja lewat di depan dojo, dan melihat kondisi ini.
" Ah, aku mengerti... " Kata salah satu gadis sambil menepuk telapak tangan dengan genggamannya.
" Kalian berempat, berusaha melindungi kami dari mereka yang berusaha mengintip kan, baiknya. Terimakasih banyak "
Eh ? Berempat ? Ah, wajar saja jika mereka melihat kami yang hanya berdiri di antara tumpukan mayat, maksudku tubuh anak lelaki lain yang terkapar dilantai.
Jadi Ikemen itu juga masuk dalam kandidat penolong. Yah tidak apa-apa, selama smuanya senang. Ikemen itupun juga tampak angkuh dengan berlagak keren, penghianat.
" Yosh... Anak-anak, sekarang giliran kita, ayo semuanya bangun, cepat. "
Semuanya menuruti kata-kata ku, dan mulai bangkit, mencoba berlagak keren dan tangguh seperti Jendral mereka. Melewati para gadis dan terus pergi ke pemandian.
Begitupun kami bertiga.
" Serahkan pada kami, urusan beres beberes serahkan pada ahlinya " Gadis tadinya menawarkan bantuan.
" Kalau begitu, tolong ya.. " Ku titipkan pedang bambu padanya. Namun ia menjatuhkannya.
" Hei.. Ini pedang bambu kan?" Wajahnya shock.
" Yup, pedang bambu "
" Lalu mengapa bisa seberat ini " Gumamnya masih shock.
Anak perempuan lain juga mencoba mengangkat bergantian, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, mereka berkerumun dan lupa tujuan awal mereka. Lucunya.
Tidak ada hal bagus dari melihat tubuh telanjang lelaki. Mari kita lewatkan bagian tersebut.
Saat ini aku duduk di Pelantar, menatap bintang.
Pikiran kosong, aku hanya menatap.
" Tidak bisa tidur?" Izumi mengintip dari balik Futon nya.
" Maaf, apa aku membangunkan mu?"
" Tidak, jangan di pikirkan. Aku hanya terlalu bersemangat, boleh aku bergabung?"
" Silahkan silahkan "
" Sudah lama aku ingin berterima kasih padamu, namun waktunya selalu saja tidak tepat. "
" Jangan dipikirkan, santai saja"
" Tidak mungkin aku bisa bersantai, setelah semua yang sudah kau berikan padaku ini"
" He.. Aku tidak ingat pernah memberimu hadiah, Izumi dono."
" Bagimu memang semua itu hal yang biasa, namun bagiku semua ini adalah hadiah terbaikku dari semua. Kau seperti sedang menarik ku dari jurang yang dalam, membawaku ke kerumunan orang-orang yang sudah menganggap ku bagian dari mereka. Kau juga sudah mengenalkan apa itu ikatan persahabatan. Kau juga sudah memperlihatkan padaku, bahwa di Dunia ini aku tidak sendirian."
Aku tidak tau jika Izumi menganggap ku sehebat itu.
" Kau juga memperkenalkan padaku apa itu cinta, karena itu aku bisa bertemu dengan Momo-Chan.."
" Kau sangat mencintai gadis itu kan "
" Ya... "
" Bagus, pertahankan. Tapi kau harus ingat, nanti di sana, jangan berbuat Mesum saat aku tidak ada, ok ?"
" A.. A.. A.ku tidak seperti itu.. " Wajahnya panik.
" Kau memang tidak, tapi gadis itu bahkan tampak tidak menolak jika kau undang".
" B.. Bodoh.. Jangan keras keras... "
" Maaf.. Haha... "
" Karena itu, aku ucapkan. Terima kasih sudah menjadi temanku, terimakasih atas semua yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu, Terima kasih".
" Terima kasih kembali... "
Wajah Izumi terlihat puas, Seperti beban di hatinya lepas.
Kalian sudah berjuang sampai sejauh ini. Terima kasih.
" Ngomong-ngomong Izumi-Dono, Bulannya indah ya "
" Bodoh!!!" Balas Izumi dengan menahan teriakannya. Aku hanya senang menikmati ekspresi orang-orang, itu menyenangkan.
Kami tidur sedikit lebih larut dan bangun lebih awal. Jika itu aku, tidak masalah. Masalahnya apakah Izumi sanggup, itu dia pertanyaannya.
Sedari kecil aku sudah terbiasa, meski buruk untuk pertumbuhan tubuh namun jika di lakukan selang-seling maka lambat laun tubuh tetap bisa beradaptasi, tanpa takut merusak pertumbuhan.
Tapi sepertinya sedikit sulit untuk Izumi yang tidak terbiasa.
Tubuhnya sempoyongan karena memaksa mengikuti jadwal latihan ku.
"Izumi dono, jika kau masih mengantuk kau seharusnya kembalikan tidur saja."
" Hee... Aku baik-baik saja, tidak perlu mencemaskan ku. "
Bagaimana mungkin aku tidak cemas, untuk berjalan saja sampai sempoyongan begitu.
" Istirahat juga latihan untuk membentuk tubuh kau tau "
" Tidak apa-apa, tidak apa-apa " Jawabnya bersikeras.
" Hah, kau ini. Aku tidak ingat sudah membesarkan mu jadi anak nakal seperti ini " Candaku
" Memangnya kau Ibuku "
" Ara... Izumi kun, Nakal "
" Kumohon hentikan, itu menggelikan "
" Cih, tidak asyik samasekali "
" Lalu apa latihan yang biasa kau lakukan ?"
Sembari menjelaskan, kami pun langsung mempraktekkan.
"Pertama-tama, senam pemanasan. Agar otot-otot ditubuh tidak terkejut "
" Selanjutnya mengayunkan pedang sebanyak 200Kali, ini juga bermanfaat untuk membentuk otot perut, jangan ditekan tapi rasakan"
Normal.
" Lalu, lompat tali sebanyak 1000 kali, tapi jika kau sanggup saja. Selain membentuk otot Betis, juga melatih daya motorik otak. Juga bisa membuatmu berfikir lebih cepat agar hitungan mu tidak kacau "
" Kau serius melakukannya setiap hari ?"
Tidak setiap hari, aku melakukanya 3 Kali sampai 4 Kali seminggu. Melakukannya setiap hari hanya akan membebani tubuh, lama-kelamaan tubuh akan mencapai batasnya tanpa bisa berkembang dan perlahan hanya akan hancur "
" Maksudmu hanya akan menyiksa diri ?"
" Tepat sekali "
Setelah beristirahat sebentar melepas penat, kami melanjutkan menu selanjutnya.
" Selanjutnya, lari maraton selama 20 menit. Ini berguna untuk.. "
" Melatih pernafasan dan stamina ?" Potong Izumi
" Kuberi nilai seratus... "
" Tapi Rion San... "
" Ada apa dengan kecepatan 90 Km/H itu !!! "
Seperti katanya, saat ini aku sedang berlari di atas Treadmill dengan kecepatan 90 Km/H.
" Izumi Dono, pilih satu satu kau itu mau marah atau bertanya "
" Jangan mengalihkan pertanyaan ku !!"
" Izumi dono "
" Apalagi ?"
" Kau akan menggigit lidahmu jika berbicara ketika berlari "
Izumi tampak kesal dan akan berteriak.
" Aaaa Aaaa Aaaa ~~ aku tidak dengar apa-apa, aku tidak dengar apa-apa "
Izumi tampak jauh lebih kesal, berhubung sudah terlanjur kesal, apa salahnya jika dibuat lebih kesal sedikit lagi.
Ku pencet tombol up beberapa kali dan Wush... Mesin yang dipakai Izumi bekerja lebih cepat hampir 2 kali dari sebelumnya.
Wajahnya kesal, ia terlihat kesulitan menjangkau tombol tombol-tombol di mesin.
Ia tidak marah, apa mungkin karena terlalu sibuk untuk fokus berlari agar tidak terlempar.
Wajahnya menjadi lucu karena panik. Hohoho... Menyenangkan. Seperti nya aku punya mainan baru, Begitu pikirku.
Kurang dari 10 menit, aku yang tidak tega menghentikan mesin yang dipakai Izumi. Wajahnya marah, nafasnya ngos-ngosan, matanya berkaca-kaca. Kakinya tampak aktif menendang pahaku dengan gerakan Taekwondo keahliannya.
" Kupikir aku akan mati tadi " Katanya hampir menangis.
" Maaf sudah kelewatan, aku tidak tahan mengerjai orang "
Izumi kembali menendang ku sampai ia kembali tenang. Dia seperti anak-anak saja.
" Aku tidak percaya aku bisa melaluinya "
" Ya, meski aku yang menghentikan di tengah jalan kan ?"
" Berisik!"
" Tapi aku kagum, kau bisa berlari segitu cepatnya tanpa sesak napas "
" Hehehe... "
" Aku yakin sekali, Atlet Nasional sekalipun akan menangis melihat mu berlari seperti tadi "
" Kau terlalu memuji. Yah, jika kau melakukannya dengan rutin semenjak umur balita, hal seperti tadi bukan apa-apa bagimu."
" Serius ?, Kazuma Dono, berhenti bercanda "
" Aku serius... "
" Aku bahkan masih ingat hari pertama aku berlari sambil tidur "
" Sekarang aku tau, Kazuma Dono sudah gila dari awal.. , huh... Aku tidak bisa terkejut lagi. "
" Hoho... Kau pasti akan lebih terkejut jika mendengar ini "
" Tenang saja, aku sepertinya sudah mulai terbiasa"
" Kau menantang ku ?, baiklah. Dengarkan baik-baik "
" Katakan saja, apa ?"
" Kemampuan Navigasi ku Nol Besar !!"
" Bagaimana ?" Tanda tanya besar muncul ketika Izumi memiringkan kepalanya lucu.
" Kemampuan Navigasi ku Nol Besar "
" Aku tidak memintamu untuk mengulang "
" Singkatnya, aku buta Map "
" Sekarang aku paham"
" Bagaimana ? kau terkejut ? Aku bahkan tidak bisa pergi ke pintu gerbang depan sendirian, pujilah kehebatanku"
" Kau serius ?"
" Serius !! "
" ... "
" ... "
" Kazuma Dono.."
" Ada apa Izumi Dono ?"
" Apa kau idiot ??" Tanya nya datar...
" Ahk~~ jantungku " Lagak Ku kesakitan.
" Kau serius ?"
" Sudah kubilang aku serius. Apa perlu aku buktikan ?"
" Tidak perlu, tidak ada gunanya " Izumi memijit keningnya.
" Bahkan berangkat dan pulang sekolah saja aku harus ditemani "
"..." Izumi masih sibuk memijit keningnya.
" Kau baik-baik saja ?"
" Apa kau anak umur 5 Tahun ?" Tanyanya lemas.
" Yah.., memang banyak yang bilang kalau aku ini mempunyai Wajah seperti Bayi"
" Kau sudah coba ke dokter ?"
" Tentu saja sudah, Dokternya pun juga bilang wajahku seperti bayi"
Kerutan di dahi Izumi semakin menumpuk, pijatan yang ia lakukan sedari tadi menjadi tidak berguna.
Amarahnya yang tak terbendung lagi itu akhirnya meledak lewat satu Jitakan tepat di ubun-ubun.
Aww, tak sengaja aku mengaduh. Pukulan itu menggunakan mana sehingga jelas terasa.
Aku tidak marah karena pukulan itu, karena aku tau pasti akan di pukul. Lagi pula sepertinya Izumi mengira aku sedang bercanda.
Di dunia ini, tidak ada orang dewasa yang masih tersesat di rumah sendiri yang sudah bertahun-tahun ia tempati.
Tapi tetap saja...
" Aku serius, karena itu memberitahu mu sekarang. Karena kedepannya aku mungkin akan merepotkan kalian Di Sana."
Pletak !!!
" Boleh ku pukul lagi kan ?, boleh kan ? Boleh dong ? Boleh lah ? Boleh kan ya ?, ya kan ya kan ?"
" Ah hahaha cukup cukup cukup "
Kami bercanda, Boke dan Tsukomi. Sampai-sampai kami tidak sadar bahwa mentari sudah mengintip kami sedari tadi.
" Selamat pagi... " Anak laki-laki datang bergabung kedalam obrolan kami, juga ada sebagian anak yang langsung berolahraga.
Tidak terasa waktu Sarapan tiba, kami pun beralih ruangan. Di sana sudah ada para gadis dengan pakaian yukata tidur mereka, wajah para gadis terlihat segar meski tanpa riasan.
Para lelaki jelas sedang menahan rasa terpesona mereka. Tetapi mari abaikan itu, dan menikmati sarapan untuk hari ini. Semuanya pun makan dengan lahap.
Tidak ada pembicaraan berarti, hanya percakapan biasa seperti disekolah.
Dan setelah sedikit siang mereka pamit sembari memberikan kado perpisahan dan salam perpisahan terakhir. Dengan memakai alasan keberangkatan Rin dan yang lainnya adalah malam ini, maka teman-teman semua akan merasa segan jika menginap dua hari berturut-turut.
Dan pada malam harinya. Semua orang orang yang mempunyai peran penting datang mengantar kepergian Rin dan yang lainnya. Gadis itu tampak hanya membawa sebagian barang-barangnya.
" Hanya ini ?" Tanyaku menaruh koper mereka di lantai yang terukir Lingkaran-lingkaran berisikan tulisan dengan bahasa yang tidak ku mengerti.
" Kian yakin hanya ini ?" Tanyaku lagi mengingatkan.
" Barang-barang lain sudah lebih dulu dikirim sebelumnya" Jawab Kazu.
Rin masih tidak mau bicara denganku. Bukan berarti kami bertengkar, kami hanya tidak tau harus berkata apa. Karena ini bukan perpisahan, jadi tidak perlu kata-kata seperti 'selamat tinggal' segala.
" Kalian siap ?" Sora-Nee memberi isyarat.
Semua mengangguk sebagai jawaban.
Dan sebagai penghormatan aku diizinkan membantu proses Teleportasi, meski hanya sebagai Tanki bahan bakar Sihir.
Aku berdiri di sebuah lingkaran kecil terpisah. Tugasku hanya menyuplai, yang bertugas dengan aktifasi sihir adalah Sora-Nee dan tiga Pelayan Rin lainnya. Sedangkan pelayan pribadinya pasti akan selalu berada di sisinya yaitu Yuki, pelayan, teman, dan sahabat.
Lingkaran sihir mulai menyala, cahaya kehijauan itu mulai menjalar mengikuti ukiran. Ketika ukiran itu sepenuhnya penuh, sebuah dinding kaca tipis muncul dari garis lingkaran luar. Tubuh mereka pun dibaluti energi tipis dengan warna yang sama.
Sora-Nee menatap kami bergantian, menandakan persiapan sepenuhnya selesai dan mereka siap di Teleport kapan saja.
" Kazu !!"
" Ada apa ?"
" Jangan lupakan paket ku " Sorakku.
" Serahkan padaku " Kazu menjawab.
Di samping nya Rin sedikit gelisah, seperti ia ingin mengatakan sesuatu, namun sulit.
" Rin!! "
Gadis itu tersentak, paniknya mulai mereda.
" Jaga dirimu baik-baik!! " Teriakku.
" Ya !"
" Jaga kesehatanmu !"
" Ya !"
" Jangan tidur terlalu malam, atau kau tidak akan bisa tinggi !!" Candaku
" Ya !! "
Air matanya berkumpul di sudut matanya, suaranya pun mulai gemetar.
" Jangan sisakan sayuran mu !!"
" Ya !!"
" Jangan bangun kesiangan "
" Ya "
" Juga Jangan sampai buat PR di sekolah juga di sana "
" Pufft.. Ya!!"
Eh apa dia tersedak ?
" Ri-Kun!! "
" Ya ?"
" Meski kami tidak ada, Jangan sampai tersesat lagi!!"
Hee.. Sekejap aku merasa tulang ku serasa lemas.
" Haha, dari sekian banyaknya hal yang bisa kau katakan, tapi itu yang kau sampaikan?"
" Ya !"
" Kau ini, benar-benar."
Ya, berpisah seperti ini setidaknya tidak menyakitkan.
" Ya !!, tenang saja aku punya GPS baru " Ku tunjuk jempol ku kebelakang.
" Maksudmu aku ?" Izumi menunjuk dirinya sendiri, ketika tiba-tiba namanya disebut.
Wajah Rin kesepian, namun sedetik kemudian kembali cerah.
" Kazehaya-San, Momo-Chan. Aku titip Ri-Kun pada kalian " Pinta Rin.
" Oy, memangnya kau Ibuku ?"
" Karena aku adalah Kakak mu "
" Aku tidak mau punya kakak lebih pendek dariku" Ejek ku bercanda.
Rin tidak membalas, sepertinya ia sudah membaik.
" Sora-Nee, terimakasih sudah menjaga kami selama ini"
" Jangan dipikirkan, kalian semua adalah adik-adik ku yang manis. Jangan dipikirkan, kalian juga jaga diri kalian baik-baik di sana, jangan lupa mengulang kembali pelajaran, terutama Rin, kerjakan PR mu di rumah." Sora-Nee mode Guru.
Diawali dari Rin, gadis itu melambai isyarat dirinya sudah siap berangkat.
" Sampai jumpa "
" Selamat tinggal "
" Bey-bey "
" Sampai bertemu lagi "
Seiring salam perpisahan itu saling terucap, Cahaya hijau di lingkaran sihir mulai semakin terang, wajah dan tubuh mereka tampak mulai seperti ditelan olehnya. Dan dengan diakhiri kedipan cahaya menyilaukan mirip Flash di kamera Smartphone, mereka menghilang tanpa jejak.
Di saat-saat terakhir aku meneriakkan kata-kata salam, yang entah sampai atau tidak.
" Apa kau kesepian ?" Goda Sora-Nee
" Bohong rasanya jika aku bilang tidak, padahal mereka baru saja di sana sedetik yang lalu"
" Yah, bersabar saja. Tidak lama lagi giliran kalian bertiga "
" Aku sudah tidak sabar "
Kami bertiga mengutarakan ketidak sabaran kami dengan cara masing-masing.
Tunggu saja. Akan ku Pecahkan semua misteri yang kalian sembunyikan dengan gaya. Lihat saja.