
Meskipun makanan dan obat-obatan yang dibawa Rion cukup untuk bertahan hingga bantuan dari Sekutu sampai, Namun mereka masih belum bisa memulihkan stamina dari prajurit yang mulai kelelahan karena kekurangan istirahat.
Kelelahan seperti ini mungkin memang bisa di pulihkan dalam semalam, namun itu masih akan jauh dari kata Fit atau bugar.
Terlebih saat ini lebih banyak prajurit yang terluka ketimbang prajurit yang syukur masih bisa berdiri.
Mereka kekurangan tenaga, meski sang Pangeran sudah membereskan sekitar Seribu Pasukan sebelumnya, namun jumlah musuh masih jauh lebih banyak, perbandingan pasukan mereka saat ini adalah, 1 banding 10.
Di pihak Bertahan hanya tersisa 300 prajurit yang benar-benar bisa bertempur. Sedangkan di pihak penyerang sekarang Masih tersisa 3000 Prajurit.
Dari Perbandingan yang besar ini saja sudah bisa kita lihat, betapa konyolnya kasus ini.
Pihak musuh yang mementingkan Nafsunya sampai tega merundung kota yang prajurit nya sepersepuluh dari yang mereka miliki.
Pangeran pun sampai tidak habis pikir Bangsawan miliknya ada yang sebodoh ini, Pangeran juga menyesalkan hasil dari Perbuatan Ayahnya yang tidak selektif dalam mendidik para Bangsawan mereka.
Tetapi, sebagai bukti penyesalan dari Sang Raja, beliau mengirim pangeran dan pasukannya untuk membereskan kekacauan yang terjadi akibat kelalaian beliau.
Yang Mulia juga Memberikan mereka mandat dan izin untuk membunuh para pengacau tersebut bila dirasa perlu. Terlebih kepada Sang Pangeran yang memegang peran Peran sebagai komando.
Kira-kira itulah isi dari Berita yang di sampaikan Pangeran sebagai Mandat dari Sang Ayah.
Karena perselisihan antar Bangsawan kali ini, sudah melebihi batas wajar sehingga menimbulkan korban dan kerugian finansial yang tidak perlu.
Untuk permintaan maaf lebih jelasnya atas kelalaian dari pihak mereka, Pangeran juga dititipkan sebuah Surat Bersegel lambang Keluarganya.
Sebenarnya tidak ada yang mengeluh kepada Keluarga kerajaan karena kasus ini.
Di pihak mereka, beruntungnya sama sekali tidak ada yang kehilangan nyawa, namun tetap saja ada yang bahkan hampir saja merenggut nyawa.
" Pangeran, tolong angkat kepala anda. Tidak baik jika ada yang melihat Anggota keluarga Kerajaan Menundukkan kepalanya kepada Bangsawan yang lebih rendah darinya."
" Tidak, sebelum Aku benar-benar mendapat kan Restu dari Anda Aku tidak akan berdiri "
" A.. Aku mengerti, aku mengerti... Aku menerima permintaan maaf dari Yang Mulia, jadi tolong angkat kepala anda."
" Terima kasih, kami akan memastikan kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi kedepannya"
Kejadian yang sangat amat langka ini selamanya akan menjadi rahasia dari setiap orang yang hadir dalam rapat kali ini dan mereka harus membawa rahasia ini hingga ke kuburan mereka sendiri.
Selanjutnya Rapat terus berjalan, kali ini mereka tengah memikirkan jalan terbaik dalam menghadapi situasi yang saat ini sudah terkendali, dan langkah kedepannya untuk keluar dari krisis kali ini.
Beragam Opini mereka lempar di atas Meja rapat, mulai dari Opini yang masuk akal sampai Opini yang di nilai Ekstrim sekalipun mereka catat sebagai bahan pertimbangan.
Mereka terlihat sangat putus asa, tidak hanya fisik, namun mental mereka juga sampai terkena imbasnya.
Meski mereka ber kediaman di wilayah seorang Baron terendah sekalipun, namun karena mereka adalah sesama orang yang memikul nasib yang sama, mereka juga mempunyai tanggung jawab yang sama juga. Terlebih mereka sudah saling mengenal jauh lebih lama dari yang orang pikir, jadi Chemistry yang sudah mereka bangun sudah melekat di hubungan mereka, tidak hanya sebagai solidaritas sesama bangsawan berstatua rendah semata.
" Aku punya ide " Pangeran Berambut Pink berwajah datar itu mengangkat tangannya dalam hiruk pikuk diskusi.
" Mari kita dengarkan dulu pendapat dari Pangeran. Silahkan Pangeran "
" Kirim aku ke medan perang !"
""....."" Semua orang langsung pucat membiru mendengar pernyataan dari Pangeran. Bagi mereka itu adalah berita yang paling mengerikan dari serangan Seekor Naga.
"....." Sedangkan Rion yang bersandar di dinding hanya diam dengan mimik wajah Gelap. Karena itu dia menghampiri Sang Pangeran.
" Apa ?"
" Ajak aku " Ucap Rion dengan wajah penuh harap. Bahkan dia sama sekali tidak menyembunyikannya dalam senyumannya yang kelewat semangat.
" Yosh, sudah di putuskan !!" Putus Pangeran semena-mena dan mulai bangkit dari kursinya.
" Ayah jangan ikut-ikutan, ini masalah anak muda " Cegat Rion ketika Ayahnya akan ikut dalam kompetisi anak muda yang baru saja secara pribadi mereka buat.
Dan sayangnya, Ayahnya kembali duduk dengan depresi yang dalam. Pria kekar itu sama sekali tidak akan mendapat sorotan kali ini.
" Shouta san, kau serius ingin ikutan " Gumam peserta yang lain.
" Tung.. Tunggu... Jangan gegabah.. " Baron sekalipun bahkan tidak mampu menghentikan mereka yang sudah lebih dahulu keluar ruangan.
Bahkan semua Baron yang ada di sana membeku ketakutan, hanya karena mendengar Pangeran sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan masalah kota mereka, terlebih mereka tidak hanya akan mengalahkan 2 atau 3 orang, melainkan 3000 pasukan tentara.
Mereka ingin menghentikan, namun kaki-kaki mereka masih sangat lemas mengetahui kenyataan dan nasib mereka ke depan.
" Menyerah saja... "
" So.. Souta san, he.. Hentikan mereka be..berdua "
" Maaf, aku tidak punya kuasa "
" Souta san !!!"
Mendengar peryataan dari Ayah Rion yang penurut itu, membuat nyawa para Baron semakin terancam. Dan tangisan mereka hanya mampu mencapai langit-langit ruangan tempat rapat di adakan.
**********
Dalam perjalanan menuju gerbang depan, Pangeran dan Rion singgah sebentar ke Pos Penjaga dan Pusat Medis.
Mereka meminta beberapa botol Potion penyembuh dan pemulihan Mana.
Dan petugas pun dengan senang hati memberikan tanpa tau mereka secara tidak langsung sudah berkontribusi dalam mendukung kedua pemuda gila itu terjun ke medan perang.
Mereka berdua pun dengan santai menyapa penduduk yang tidak tau apa-apa itu. Hingga pada akhirnya salah satu komandan tertinggi pasukan Baron itu berlari dari arah belakang mereka dengan kecepatan bak sedang di kejar hantu. Ketika sudah dekat komandan itu langsung melompat dan bertengger di tubuh Pangeran, wajahnya pucat membiru dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya terus menggeleng-geleng.
" Pangeran, mengapa tidak turuti saja dan serahkan semuanya padaku " Cela Rion
Tetapi dari arah yang sama seorang lagi juga datang dan melompat hingga ikut bertengger di tubuh Rion.
" Haha... " Tawa Pangeran datar.
" Cih " Rion termakan karma nya sendiri.
Tidak habis pikir, Rion mengeluarkan dua peti berisi permen yang di bungkus dalam kertas.
Mengerti dengan maksud Rion, pangeran ikut mendorong para komandan yang menahan mereka menjauh dan melemparkan peti peti itu ke tangan mereka, alhasil para anak-anak langsung mengerumini makanan yang baru saja di lempar itu
" Felix !!"
Entah datang dari mana, Felix dengan wujud Beast menarik Rion naik ke tubuh Felix disusul Sang pangeran.
" Hentikan mereka !!" Perintah komandan yang tidak bisa bergerak karena di serang anak-anak yang berebut permen.
Tapi tidak semudah itu untuk menangkap mereka bertiga, Felix dengan gesit menghindari prajurit yang menghadang mereka dengan mudah.
Pintu gerbang memeng tertutup rapat, namun Felix memanjat dinding pembatas kota dengan melompati atap-atap bangunan dengan mudah.
Dan wush...
Mereka berhasil keluar dari dalam dinding. Felix terus memacu larinya menuju ke tengah medan perang dimana pasukan penyerang sudah siap dengan Barrier mereka.
Felix berhenti tepat di depan barrier itu dan menurunkan penumpangnya.
" Siapa kalian !!"
Prajurit barisan depan terkejut karena tiba-tiba saja mereka bertiga sudah berada di depan barisan depan mereka tanpa mereka sadari.
" Aku ingin bicara dengan pemimpin kalian " Pangeran memimpin pembicaraan.
" Aku tidak bisa sembarangan memberi orang mencurigakan seperti kalian izin untuk menemui Pemimpin kami "
" Sudah panggilkan saja " Tegas pangeran
" Jangan sombong bocah !!" Prajurit itu malah dengan angkuhnya menghina Pangeran dengan tatapannya.
" Turunkan senjata kalian " Dari belakang barisan pertahanan, seorang pria sekitaran dua puluhan datang menghampiri.
Armor berlebihan yang terlihat mencolok di tubuhnya membuatnya terlihat beda sendiri.
" Oya oya oya, lihat siapa yang kita dapat disini ?"
"" ..... ""
" He... ? Sang Pangeran ternyata... " Ejek Pria armor mencolok itu.
" Apa yang membuat anda sampai datang kemari ?" Lanjut nya kemudian.
" Aku ingin mendeklarasikan perang "
Mendengar ejekan itu terdengar menggelikan, para prajurit di sana tertawa puas. Mereka seperti mendengar bocah yang sedang membual.
Itu tidak dapat di hindari. Bagaimana tidak, lihat mereka berdua... Lalu lihat para tentara itu.
Bisa di katakan, apa yang komandan katakan tadi itu tidak salah. Dua orang akan melawan Ribuan tentara terlatih, itu sama saja cari mati. Tapi... Itu jika dilihat dari kacamata orang awam.
Mereka hanya tidak tau saja siapa dua orang yang berani menghadang garis terdepan barisan mereka, sampai-sampai dengan lantang mendeklarasikan perang.
" Oy... " Sapa Rion sambil melambaikan tangannya
" Ah, ada orang rupanya, maaf karena terlalu kecil aku sampai tidak melihat mu..."
Belum sempat komandan itu menyelesaikan cacian nya, Rion sudah lebih dahulu menggores pipi komandan itu cukup dalam.
" Ah, maaf tanganku tergelincir " Balas Rion sambil memandang remeh komandan yang jatuh ketakutan.
" Se.. Serang.. !!"
Prajurit yang kalut itu, dengan tergesa-gesa mengangkat Tombak mereka. Namun Rion menunjukan permainan pedangnya dan memotong semua tombak itu dengan mudah seakan sedang memotong Pisang untuk hiasan Eskrim.
" Ada keributan apa disini "
Komandan lainnya dengan Armor gagah yang menutupi keseluruhan tubuhnya yang besar, dia datang dengan menengahi pertengkaran kecil.
" Komandan, panggil semua pasukan mu dan menjauh dari medan perang dalam kurang dari satu jam !! " Perintah Pangeran.
" Siap laksanakan !" Jawab pria kekar itu sigap dan kembali ke barisan belakang, di saat kemudian dia tampak menaiki kuda bersama beberapa pengikutnya di belakang, menjauhi barisan tentara musuh.
" Apa itu pasukan mu ?" Tanya Rion mengira-ngira.
" Hump... "
" Mengapa ada di barisan pasukan musuh ?"
" Karena kami hanya menumpang "
" Begitukah ?"
" Hump... "
" Ya sudah "
Sekarang Rion sadar, jika musuhnya sudah berkurang sedikit.
" Nah, sekarang mari kita lanjutkan " Ujar Rion yang beralih ke arah Komandan musuh tadi, yang hendak menyelinap kabur.
" Sampaikan pada bos mu, kami akan membantai siapa saja yang masih berada di sini dalam waktu kurang dari satu jam lagi. "
" Hiiiiy "
" Wooh, larinya sangat cepat " Puji Rion pada komandan yang baru saja ia titipin pesan.
Rion melempar senyum kearah Prajurit lain yang ketakutan sampai sampai mereka menjaga jarak dengan Rion.
********
" Hey chibi... "
" Jangan panggil aku chibi " Pinta Rion tenang sambil meringkuk di dalam pelukan Felix yang sedang dalam Mode Beast nya.
Mereka berdua, yaitu Rion dan Felix terlihat sangat santai dan tampak sangat menikmati semua ini.
" Bukankah perang ini tidak ada hubungannya dengan mu ?, tetapi mengapa kau masih saja terlibat hingga sejauh ini ?"
" Jangan bilang aku tidak ada hubungannya. Nia adalah sahabatku kami sudah berteman sedari kecil. Bahkan Ibuku sudah menganggap Nia sebagai Putrinya sendiri, jadi lebih tepatnya kami ini adalah saudara kandung"
" Tidak, konsepnya tidak seperti itu " Sela Pangeran terkejut.
" Benarkah ? intinya aku dan Nia sudah seperti saudara. Dan aku tidak akan memaafkan siapa saja yang menyakiti saudaraku "
Meski omongan Rion itu keren, namun karena dia saat ini bertingkah seperti Anak kecil yang berada di pangkuan orang dewasa, membuatnya terlihat menggemaskan.
" Lalu bagai mana dengan mu, seorang pangeran datang ke pelosok negeri dan turun ke medan perang dengan sedikit pengawal "
" .... "
" Oy, tdak adil jika kau saja yang boleh menyembunyikan maksud tujuan mu"
" ..... "
" Katakan sesuatu, jangan diam saja !" Rion jengkel karena di abaikan.
" ..... .... Ku "
" Hah, apa itu ? Aku tidak mendengarnya "
" Aku bilang, Nia adalah Cinta Pertama ku !!, kau puas ?!! "
Mendengar hal menakjubkan dari Pangeran Dingin yang malu itu membuat Rion penasaran dengan cerita cinta Sang Pangeran.
" Heee... ??"
" Apa ?!!"
" Tidak kusangka, Sang pangeran sampai terjerat dengan keimutan Adikku itu "
" Berisik !!"
" Ya, aku tidak akan heran jika kau bilang begitu. Gadis itu sedari itu memang selalu menarik perhatian "
" Benarkah begitu ?"
" Asal kau tau saja, sudah tidak terhitung lagi lelaki yang sudah ia buat Patah hati. " Rion sampai tertawa Geli mengingat debut pertama Nia ketika di Taman Kanak-kanak.
" Aku ingin mendengar lebih jauh "
Dengan begitu Pangeran yang penasaran ikut duduk berbaur dengan Rion dan mendengarkan sedikit cerita tentang Reputasi Nia semasa di Bumi dan sebelum kembali ke ke Dunia asalnya ini.
Sementara itu, pasukan Musuh terlihat sangat heboh bersiap siap, bahkan mereka semakin panik ketika mengetahui sebagian besar dari pasukan mereka memisahkan diri dan menghilang dari pos.
Padahal pasukan itu adalah pasukan terkuat dan salah satu andalan mereka.
Kini pasukan mereka hanya tersisa setengah dari awal.
Kecemasan mereka semakin menjadi besar ketika mereka mendapatkan laporan, bahwa Seribu pasukan mereka yang Dikirim ke Hutan sebagai bala bantuan untuk Putra pemimpin mereka, di temukan sudah tidak berbentuk lagi.
Para komandan seakan mendapatkan serangan kritikal dan kehilangan kepercayaan diri mereka.
Sedangkan rapat petinggi mereka sebentar lagi akan di adakan.
Para komandan tidak punya jalan lain lagi selain menyarankan untuk mundur di rapat nanti.
Dan waktu yang di tentukan pun datang.
Mereka melaporkan semua kondisi tanpa satupun yang mereka tutup tutupi.
Bukannya malah menyerah, malahan Bangsawan yang memang terlihat seperti Orc dengan pakaian manusia itu semakin geram, terlebih ketika mendengar salah satu putra nya tertangkap.
Usulan menyerah dari para petinggi di tolak dan penyerangan tetap di jalankan. Bahkan Bangsawan Orc itu sudah memanggil Penyihir Kegelapan yang di gadang-gadang kan sudah berhasil menjinakkan satu ekor Naga.
Pikirnya hanya dengan Naga disisi mereka dapat membuat pihak musuh ketakutan.
Pasukan mereka sudah siap di tempat, satu jam sudah hampir mendekat.
Naga di batu yang di genggam oleh sang Penyihir Tua itu pun sudah bangun, sudah tampak sepasang mata yang menyala merah dari dalam kegelapan kristal itu.
Rion dan Pangeran Pun, juga selesai dengan Nostalgia mereka, dan bersiap dengan pose tempur mereka.
Hitungan mundur di iringi dentuman jarum jam dari Jam saku komandan musuh pun, terdengar sangat keras di telinga mereka, keringat sebesar biji jagung di pipi mereka jatuh semakin deras, entah itu karena takut atau memang karena terik Matahari yang sudah tepat di atas kepala mereka, dan lagi mereka tengah berada di padang pasir.
3...
2...
Rion tersenyum percaya diri dan dalam posisi siap meluncur.
1...