
" Ku harap kalian tau dengan apa yang sedang kalian lakukan "
Rion dengan santainya berdiri dengan satu tangan di saku. Wajahnya ketika pekerjaan paruh waktu ketika menasehati kelompok perusahaan gelap, ia tampilkan di hadapan para berandalan ini.
Matanya menatap tajam ke mata mereka, seakan matanya mampu menjelajahi alam sadar mereka hingga mereka sekali lagi tersungkur kebelakang karena ketakutan.
Semua pengawas sudah bersiap dan mengepung area ini.
" Kau !!"
" Aku ?"
" Jangan belaga bodoh, jika saja kau tidak ada aku pasti sudah membuat mereka semua berlutut padaku!!"
Pemimpin berandalan menunjuk nunjuk Rion dengan tidak sopan, meski dia murka dan marah padanya namun tubuh nya sangat ketakutan. Bahkan untuk berdiri saja mereka harus saling membantu.
Tidak salah juga, karena ini kali pertamanya mereka bertemu dengan orang yang sama sekali tidak takut dengan mereka, padahal selama ini mereka mampu membuat orang takut hanya dengan mendengar nama Ayah mereka saja.
Meski terus menggunakan nama orang tua mereka untuk berbuat onar di sana sini, mereka tidak pernah puas bahkan mereka seperti candu untuk berbuat onar yang lainnya.
Karena itu ketika Rion sama sekali tidak peduli dengan pengaruh reputasi dan nama orang tua mereka, menjadikan mereka kehilangan salah satu senjata andalan.
" Oy !!"
Di teriaki dengan nada suara yang lebih tinggi dan terselip sebuah intimidasi seperti itu, membuat kelima berandalan kembali ketakutan, tubuh mereka kaku sekaku kakunya.
Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuh mereka. Bahkan untuk menelan ludah sendiri saja mereka kesusahan.
" Dengar kan aku "
Rion mendekat langkah demi langkah sembari terus mempertahankan tatapan dinginnya kearah mereka.
Para berandalan yang ketakutan itu mencoba terus mundur meski harus merangkak, mereka tidak mau dekat dengan Rion lebih dari jarak aman yang sudah mereka buat sebelumnya.
Namun langkah Rion jauh lebih cepat dari kecepatan gerak mereka, meski tidak menggunakan kecepatan supernya, Rion sampai di dekat mereka dalam hitungan detik.
" Uaagh !! Jangan mendekat !! Jangan mendekat !!"
Rion mengabaikan tangisan ketakutan mereka dan terus mengejar mereka ketika mereka terus berusaha lari menjauh ke tengah lapangan rumput.
Berkali-kali mereka jatuh bangun menyelamatkan diri, sampai kaki kaki mereka benar-benar tidak mampu lagi di gerakan, kaki kaki mereka lemas seperti baru di kejar hantu dan layu seperti tidak bertulang hingga jatuh tersungkur di padang rumput.
Ketika mereka jatuh, pemimpin mereka menjatuhkan benda berbungkus kain hitam yang semalam Rion lihat.
Meski berada didalam bungkus kain hitam, Rion masih dapat melihat aura hitam yang tidak menyenangkan keluar dari benda tersebut.
Di detik kemudian pemimpin itu meraih benda itu, lalu tertawa seperti orang gila. Tidak sampai di sana saja, pemuda itu membuka kain pembungkus nya dan menggenggam nya dengan tangan lalu mengacungkan benda itu ke wajah Rion.
Rion yang sama sekali tidak terpengaruh malah semakin mendekati benda tersebut, bahkan dari dekat dia memeriksa di segala sisi saat masih di genggaman pemuda tersebut.
Semua orang panik termasuk para petualang yang mengawasi dari kejauhan, mereka tidak percaya Rion tanpa cemas sedikitpun mendekati benda berbahaya itu.
Tidak ada yang memberitahunya sebelumnya bahwa benda tersebut tidak boleh di dekati apalagi di sentuh oleh tangan langsung.
Karena itu Rion sama sekali tidak tau bahwa benda hitam di tangan si berandalan bisa mengancam nyawanya.
Di detik kemudian, benda tersebut mengeluarkan cahaya dan suara detak jantung dari benda tersebut.
Rion sadar dan tanpa panik perlahan mengambil langkah mundur.
Berandalan itu puas dan rasa cemas nya sedikit menghilang, kini dia dapat bernafas dengan lega untuk sementara waktu.
Namun seiring waktu berjalan, suara detakan jantung semakin terdengar oleh orang lain. Benda tersebut juga berkedip dengan warna pucat ketika berdetak.
Pemuda yang memegang benda tersebut jadi cemas lagi karena hal lain.
" Buang benda itu cepat !!"
" Lari ayo lari "
" Aku tidak ingin mati "
" Sudah ku bilang, benda itu berbahaya "
Satu persatu teman temanya lari dan memperingatkannya, namun dirinya sama sekali tidak bergerak.
" Ya ampun.. "
Rion hanya menggeleng lemas dan menghela nafas panjang.
Dirinya merasa, orang bodoh di dunia ini semakin banyak saja.
" Oy, benda itu hidup, jika kau tidak segera membuangnya, aku yakin benda itu akan memakan tubuhmu."
Rion mencoba menakut nakuti pemuda tersebut, meski pada akhirnya dia mengerti seberapa bahayanya benda tersebut.
" Tidak.. Aku.. Aku sudah mencoba, tapi.. Tubuhku.. Tidak mau bergerak.. "
Suaranya lemas dan kecil, tapi Rion masih bisa mendengarnya.
" Oh, itu tandanya kau sedang di makan "
Ujar Rion lagi menakut nakuti, tapi memang benar itu kenyataannya. Perlahan urat urat hitam mulai muncul di tangan pemuda itu dan mulai menjalar hingga lengannya.
Para petugas pengawas mulai keluar dari persembunyian mereka.
Kapten Goro beserta asistennya datang menghampiri Rion yang masih bersantai di tengah sekumpulan petualangan yang sedang panik.
" Sebenarnya dari mana ketenangan itu datang ?"
Pertanyaan yang mewakili isi hati semua orang itu ter wakilkan oleh Kapten Goro ketika secara tidak sengaja bocor dari mulutnya.
" Apa harus aku jawab sekarang ?"
" Tidak, tidak. Lupakan saja. Lalu bagai mana cara kita mengatasi ini "
Pemuda itu semakin terlihat kesakitan di setiap urat urat itu semakin menguasai lengan kanannya.
Benda misterius itu perlahan juga mulai berubah bentuk seiring cairan menjijikan mulai muncul dari dalamnya, dan cairan itu tampak sangat panas bahkan kulit dan rumput di bawahnya ikut meleleh.
Benda itu mirip dengan cairan aspal panas namun bau menyengat seperti bangkai dari sana mampu membuat orang muntah meski berdiri dari kejauhan sekalipun.
Pemuda tersebut semakin lemas dan hampir kehilangan kesadaran. Rion sebenarnya bisa saja menolongnya dengan memutuskan lengannya, namun Rion hanya mengulur waktu untuk memberikan efek jera saja.
" Jika lebih lama dari ini dia tidak akan selamat, kasus terburuknya mahluk jahat itu akan bangkit dan akan terjadi pertempuran habis habisan hari ini, aku tidak bisa membayangkan apakah kita akan hidup setelah ini atau tidak"
Kapten Goro yang tampak mencemaskan hal terburuk mulai memanggil bawahannya dan memerintahkan untuk bersiap bertarung.
Di saat semua orang bertambah panik Rion malahan tetap tenang dan sekali lagi mendekati Pemuda tersebut.
Tidak ada satupun yang menyadari kejadian yang nekat itu, bahkan jika mereka menyadari pun mereka tidak akan sempat menghentikan Rion saat ini.
" Sebentar lagi kau akan menyatu dengan monster ini, dan kami akan membunuh mu. " Ucap Rion kembali menakuti.
Pemuda itu tidak mampu merespon, matanya yang sayu dan bibirnya yang pucat pertanda bahwa mananya sedang di hisap habis.
Hanya tinggal menghitung detik saja sampai mananya benar-benar habis dan mati lemas.
Hingga pada akhirnya mahluk misterius ini akan mengambil alih tubuhnya ataupun menjadikan nya tumbal untuk kebangkitannya.
Tapi, Rion tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
" Ku beri kau dua pilihan. pertama, mati sekarang sebagai manusia. Kedua, mati nanti saat menjadi monster ? Cepat tentukan jawaban mu !!"
Pemuda itu tidak menjawab. Dirinya sadar dirinya tidak lagi bisa di selamatkan, namun keinginannya untuk hidup begitu besar.
Memohon untuk hidup tidak ada dalam opsi yang diberikannya padanya.
Air matanya menetes sebagai permohonan ampunan atas kesalahannya selama ini, dan dia juga memohon belas kasih agar nyawanya di selamatkan.
Namun permintaan egois darinya, tidak mungkin akan ada orang yang mendengarnya. Terlebih dari orang di hadapannya saat ini.
Kesadarannya semakin menghilang seiring mananya semakin terkuras, untuk mengerakkan bibir saja rasanya berat, apalagi harus menjawab pertanyaan yang keduanya sama sama tidak menguntungkannya.
Dirinya akan mati hari ini. Semua penyesalan nya selama ini terlintas semua, seperti vidio yang di percepat.
Namun satu hal yang paling ingin dia lakukan ada satu. Dan itu yang paling ia sesalkan.
Namun sudah terlambat. Kesadarannya semakin menghilang dan pandangannya gelap seutuhnya, dia bahkan nyaris tidak bisa mendengar detak jantungnya sendiri lagi.
Rion tidak tau apa yang pemuda itu pikirkan, tetapi satu hal yang ia tahu adalah keinginan untuk hidup dari dirinya yang sangat besar.
" Hah.. Kalau begitu yang ketiga. Kau ingin hidup ?"
Seperti melihat secercah cahaya kesempatan. Meski itu mustahil namun dia masih tetap ingin hidup.
Dengan tenaga terakhir yang ia punya, dia akan mempertaruhkan pada pilihan ketiga.
Dengan suara yang sulit di ucapkan dia mencoba terus mengulang ulang kata Hidup itu.
Semoga perasaanya saat ini tersampaikan, betapa dirinya sangat ingin untuk terus hidup. Dirinya tidak peduli harus di penjara nanti atau apapun, setidaknya dirinya hanya ingin hidup dulu.
" ... dup.. Hi.. P"
Dengan suara lirih yang tak terdengar dia mencurah semua tenaga yang ia miliki pada secercah harapan itu.
" Ku Terima permintaan mu. "
Rion mengeluarkan pedang nya dari celah udara.
Semua orang berpikir bahwa Rion akan mengakhiri hidup pemuda itu, dan mereka sangat menyayangkan satu petualang mereka akan mati karena hal konyol.
" Dengar, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, karena itu aku minta semuanya untuk segera meninggalkan tempat ini segera. "
" Lalu bagai mana dengan mu ?!!"
" Kapten, urusan berlari aku paling cepat dari kalian."
Mendengar ucapan percaya diri seperti itu, kapten Goro tidak bisa menolak nya. Dengan satu gerakan tangan semua anggotanya menghilang dari tempat itu, disusul dia sendiri setelahnya.
Rion melihat kembali sekilas benda misterius itu sebelum eksekusinya di mulai.
Benda itu tetap saja menjijikan meski berapa kali pun di lihat, apalagi dengan baunya yang tidak sedap itu paling pekat di titik ia berdiri.
" Aku akan memotongnya, jangan mengeluh padaku nanti jika kau tidak punya legan yang lengkap lagi ok ?!"
Pemuda itu tersentak dengan lelucon spontan yang tiba-tiba ia dengar di saat saat kritis ini.
Tanpa ragu lagi Rion memotong lengan pemuda itu tepat di pergelangan nya.
Sepersekian detik selanjutnya dia melompat ke depan dan terus melakukannya hingga beberapa kali sembari merangkul Tersangka sekaligus Korban menjauh dari titik benda menjijikan itu menggeliat.
Setelah dirasa mereka cukup jauh dari lokasi, Rion berbalik dan melihat ke arah benda mengerikan itu ia tinggal.
Benda menjijikan itu tetap melayang di udara dengan posisi yang sama ketika pemuda ini tadi masih memegangnya.
Kedutan dari benda menjijikan itu semakin cepat seiring cairan dari benda menjijikan itu keluar semakin deras, hingga melelehkan lengan dan tulang yang tersisa.
Benda itu jatuh dengan bentuk semula dan berhenti berevolusi karena kekurangan bahan bakar sebagai tumbal.
Sebelum benda itu menyentuh tanah, dari kejauhan Rion menangkapnya dan mengurungnya menggunakan sihir perisainya dan barulah dia merasa lega karena tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Terdengar suara sorakan dari pohon di sekelilingnya dan mereka berlari kearah Rion dengan wajah gembira.
Rion tau mereka sedang bersuka cita, namun Rion lebih mengkhawatirkan masa depan pemuda yang baru saja ia selamatkan.
Untuk lengannya dia sudah memberikan pertolongan pertama. Dengan menyumbat pendarahan menggunakan sihir perisai yang ia bentuk menjadi 3 Pics cincin.
Syukur pemuda itu masih hidup.
Petualang saling mengutarakan keberanian Rion yang tanpa takut mendekati benda berbahaya yang berpotensi tinggi melahirkan seekor iblis.
Dan Rion baru tau jika itu adalah iblis, dirinya pikir itu adalah semacam monster panggilan yang hilang kendali.
Ketika mereka tau alasan keberanian Rion, kecemasan mereka merasa dikhianati, sekaligus Mereka serentak berdoa untuk keselamatan Rion di kemudian hari. Rion kesal di doakan seperti itu.
Dan lagi lagi, keceriaan sekali lagi lahir di sekitar mereka. Rion, pemuda pendatang baru yang mempunyai pribadi menyenangkan telah berhasil menyelamatkan satu nyawa, ketika mereka yang berpengalaman sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa saat di suguhkan kejadian mengerikan yang persentase untuk hidupnya kurang dari 10%.
Mereka kembali ke pos tanpa kehilangan satu anggota pun.
Namun untuk berjaga jaga, mereka harus tetap waspada. Mereka tidak mau lengah karena baru saja mengalami kemenangan mutlak.
Pemuda yang tadi mengamuk masih belum sadar, namun pertolongan lanjutan sudah ia dapatkan.
Untuk kawannya mereka saat ini sedang di interogasi di ruangan khusus secara terpisah.
Sedangkan Rion sedang mempersiapkan makan siang untuk semua. Karena mereka bilang hari ini akan mengadakan pesta untuk merayakan selesainya ujian mereka.
Butuh banyak bahan dan tenaga kerja untuk pesta kali ini, karena mereka semua adalah orang orang rakus yang tidak mempedulikan rasa malu lagi. Berbeda ketika di mansion dan istana.
Namun Rion semakin bersemangat ketika makanannya nanti akan di makan dengan rakus.
Ratusan kilo daging mentah di gunakan, sayuran hutan hingga minuman keras yang sengaja mereka timbun sedari dulu.
Semua ia sulap menjadi hidangan mewah.
Aroma lezat menyebar di lapangan malam itu. Suara riuh pesta dan lantunan gendang menyiratkan sebuah festival sedang berlangsung.
Semua orang tersenyum, tertawa, bahkan mabuk hingga pingsan.
" Aku tidak percaya kami bisa mengadakan Pesta semeriah ini tahun ini " Kapten Goro datang menghampiri Rion ketika ia sedang bersantai sambil melihat wajah bahagia semua orang.
" Ini semua juga berkat semua orang "
" Kau terlalu murah hati, tidak perlu merendah seperti itu "
" Itu tidak benar, semua ini memang karena usaha semua orang, jika saja tidak ada yang membantu memasak. Mungkin saat ini aku masih terjebak dalam membuat sup saja "
" Tidak.. Maksudku bukan soal makanan ?"
" Kalau begitu, minuman ?"
" Bisakah kau berhenti menimbang hal penting itu hanya sebatas makanan dan minuman saja ?"
Kapten Goro sedikit kehilangan minat lagi untuk berbicara serius dengan Rion yang terlalu santai.
" Rasanya aku ingin menukar peran dengan mu meski satu hari saja "
" Apa menariknya menjadi diriku ?"
" Sifat santai mu itu, aku bahkan tidak habis pikir kau akan mendekati target sedekat itu dengan santai "
" Ah... Maaf untuk hal satu itu aku hanya penasaran saja, tidak lebih "
Melihat kejujuran di wajah Rion ketika dia mengutarakan isi hatinya seperti itu, Kapten Goro menyadari satu hal tentang Rion. Rion bukan lah anak muda yang Polos, Melainkan Anak Muda yang bodoh.
Dirinya menyesal sudah berfikir terlalu jauh.
*******
Ujian kenaikan pangkat sudah selesai.
Semua peserta sudah di pulangkan ke kota, sisanya akan di bereskan oleh para pengawas ujian dan panitia.
Termasuk Rion yang terjebak di Ruang rapat bersama pengawas lain.
Sudah 6 jam semenjak rapat dimulai dan semua masukan sudah di kumpulkan notaris kedalam buku notulen.
Ada banyak petualang yang layak untuk naik peringkat dan ada sebagian yang kurang meski mereka berada dalam satu party yang sama sekali pun.
Mereka yang hadir di rapat benar-benar memikirkan itu semua secara matang, karena ini menyangkut harga diri mereka sebagai petugas.
Sembarangan menaikan pangkat petualang sedangkan kemampuan mereka tidak memadai, akan berdampak pada kesuksesan mereka kedepannya dan itu akan membuat nama baik Guild tercemar.
Beberapa party juga ada yang gagal untuk naik, bukan karena mereka gagal dalam misi, melainkan mereka gagal dalam kelompok. Mereka sering terpecah dan selalu bertindak sembrono, tidak mengindahkan instruksi, dan bahkan ada yang sengaja kabur meninggalkan temannya.
Masalah internal terkadang lebih mengerikan dari pada masalah yang data dari luar.
Tak jarang juga mereka akan saling membunuh karena berbeda ideologi, beruntung mereka dapat di bubarkan meski pengawas mereka kerepotan.
Party seperti itu kedepannya tidak akan mudah untuk mendaftar lagi.
Rion sudah mengutarakan pendapat nya tentang peserta ujian yang ia awasi.
" Mereka tidak terlalu buruk, kemampuan masing-masing dari mereka cukup untuk diberi acungan jempol. Mereka juga mampu bekerja sama dalam kelompok. Pengaruh Rokan sebagai kapten sangat besar, perannya sebagai otak mampu menggerakkan semua anggotanya bergerak tanpa sembarangan. Sayangnya komposisi party mereka ku rasa sangat tidak biasa. Kedepannya aku pribadi merasa ragu jika mereka mampu menyelesaikan misi yang lebih komplit dari ini. "
" Menurut ku ini saja sudah cukup bagus, apa kau tidak menilai mereka terlalu rendah, Rion San ?"
" Aku tidak menilai mereka serendah itu. Point yang ku maksudkan itu adalah, mereka kekurangan anggota untuk bergerak di posisi depan "
" Bukankah kau terlalu memikirkan ?"
" Tentu saja aku memikirkannya, karena aku yang melihat mereka beberapa hari ini. Memang kemampuan masing-masing dari mereka memadai, namun itu hanya untuk setingkat mereka yang sekarang. "
" Aku mengerti, aku mengerti. Jadi apa penilaian yang akan kau berikan ?"
" Aku berikan mereka penangguhan "
"" !!! ""
Semua orang terdiam dan mengasihani party petualang yang ia awasi.
" Apa itu tidak terlalu kejam untuk mereka ?"
" Aku tau ! karena itu aku mengajukan penangguhan, aghh... Aku benci diriku sendiri "
Rion mengacak-acak rambutnya sendiri, dirinya bingung apakah harus menaikan pangkat mereka atau mempertahankan Rank mereka saat ini.
Mereka sebenarnya mampu, meski dengan nilai rata-rata. Namun Rion menjadi galau ketika tau bahwa mereka sebenarnya bisa lebih hebat lagi dari sekarang asalkan mereka mau menambah satu anggota lagi di garis depan, atau merubah sedikit peran mereka.
Namun di detik kemudian dia kembali bangkit.
" Ya sudahlah !!, aku akan memberikan mereka penilaian 'Bagus' "
" Hanya itu ?"
" Hanya itu !"
" Jadi untuk peserta terakhir, sudah di putuskan mereka di nyatakan 'Lulus' "
Dengan di tutup dengan 2 ketukan palu dari sang moderator Rapat mereka akhirnya sudah selesai.
Semua penilai di perbolehkan bubar dan mereka dengan cepat keluar dari ruangan yang membosankan itu.
Wajah mereka tampak jauh lebih segar ketika mereka keluar dari sana ketimbang ketika masih sedang rapat.
Tidak terkecuali Rion. Dia melesat dan kabur lebih cepat dari orang yang paling dekat dari pintu. Tidak ada yang mampu mendahuluinya.
*******
Di Loby Guild beberapa tentara sudah menunggunya, dan mencegatnya saat ia diam diam hendak meninggalkan Guild.
" Tuan, bisa kita bicara sebentar ?"
Rion tersenyum terpaksa ketika berbalik badan ke arah sumber suara.
" Mustahil " Dan melesat kabur tanpa siapapun memprediksi ia akan kabur dengan cepat.
Para tentara tentara yang merasa tertipu sejenak itu hanya mampu tertawa kecut ketika dirinya belum berbuat apa-apa.
Semua petualang yang melihat kejadian itu memalingkan wajah mereka dan menutupi senyum mereka dari tentara tadi untuk menyelamatkan harga diri mereka.
Para tentara itu pulang dengan tangan kosong dan menyerah untuk hari ini.
Hingga keesokan harinya mereka mencoba menemui Rion di sekolah, karena jika di sekolah mereka pikir Rion tidak akan mencoba kabur lagi.
Dan benar saja, esok siang saat makan siang para tentara itu kembali mengganggunya.
Seorang Guru di utus datang ke kelasnya dan menjemputnya tepat saat kelas akan berakhir.
Rion dengan santai mengikuti guru tersebut. Guru itu membawanya ke sebuah Pintu besar dengan Plank Nama 'Kepala Sekolah' diatasnya.
Pintu itu ia buka ketika telah mendapat persetujuan dari pihak yang berada di dalam.
Guru itu tidak masuk terlebih dahulu namun dia mempersilahkan Rion masuk duluan, mau tidak mau dia menurutinya.
Rion melangkah masuk kedalam, dia mendapati sosok yang familiar tengah duduk di kursi besar yang membelakangi jendela di ujung ruangan.
Ketika ia menuju ke depan meja kepala sekolah itu, di tengah ruangan Rion menatapi 3 orang yang sudah dia duga sedang mencarinya menggunakan cara licik, ia menatap mereka dengan wajah datarnya dan mengabaikan kapten mereka yang berusaha menyalaminya dan terus berjalan kemeja kepala sekolah.
" Sensei, aku minta maaf atas perkataan ku dihari pertama sekolah." Rion menunduk hormat pada Kepala Sekolah sekaligus Guru yang ia repot kan di hari pertama sekolah.
" Jadi kau benar-benar tertidur hari itu, sampai sampai kau tidak mendengarkan pidato ku dan tidak mengenali wajah ku ?" Kepala Sekolah berakting menangis padanya.
" Aku benar-benar minta maaf " Rion merasa malu sekali.
" Hahaha " Kepala sekolah tertawa puas seketika, mendengar Rion sama sekali tidak membantah peryataannya.
" Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya. Duduklah, ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan mu. " Kepala sekolah mempersilahkan Rion untuk duduk ketika menunjukan sebuah kursi dimana ia bisa duduk, tanpa beranjak dari Kursi Besarnya.
" Bertemu dengan ku ?"
Rion menunjuk dirinya sendiri dan memasang wajah bodohnya berpura-pura tidak tau apa-apa.
" Mereka adalah Tentara kerajaan yang sedang mengusut sebuah kasus, mereka bilang ada beberapa pertanyaan yang luput mereka tanyakan padamu kemarin. Tapi karena kamu selalu menghindari mereka, terpaksa mereka mendatangi mu seperti ini."
Meski kepala sekolah mengatakannya nada yang ramah namun Rion menyadari, Kepala sekolah pasti sudah tau dan mendengarnya langsung dari para tentara ini.
" Wah wah, Tuan Tuan, ada perlu apalagi dengan ku hari ini ?"
Rion tersenyum dengan senyum palsunya yang punya banyak arti, sambil duduk karena sudah di persilahkan ia duduk dengan menopang dagunya di kedua punggung tangannya.
Para tentara yang merasa lawan bicaranya sedang tidak dalam mood yang baik, menjadi gelagapan bagaimana menghadapi pemuda di hadapan mereka.
Dengan penuh hati-hati agar tidak melukai perasaan Rion, pembicara tentara tersebut mencoba merangkai kata-kata yang sekiranya tidak akan menyinggung nya.
Rion adalah saksi penting dalam kasus yang saat ini mereka usut dan terlebih lagi saat ini saksi itu sudah mengantongi Bukti penting.
Benar, itu adalah kasus tentang pemanggilan iblis yang beruntung digagalkan oleh Rion di saat sebelum batu menjijikan itu mengambil alih tubuh dan Jiwa pemuda berandalan itu.
" Maaf menyita waktu anda yang berharga, jika diperkenankan izinkan kami menanyakan beberapa pertanyaan "
Juru bicara mereka percaya diri dengan kalimat lembutnya yang sekiranya mampu membuat Rion mendengarkan mereka kali ini.
" Ku tolak !!"
"" Eh ?!! ""
Semua orang terkejut dengan cara konyol terlebih juru bicara mereka yang sudah percaya diri.
" Kalau begitu permisi !"
Rion bangkit dari tempat duduknya dan pamit pada semua orang.
" Tung.. Tunggu sebentar!!"
Para tentara tertawa panik dan berusaha menahan Rion pergi lebih jauh, mereka menarik tangan Rion dan memintanya duduk kembali.
Rion tidak bisa menyembunyikan senyum nakalnya dan berkali kali menggertak mereka berpura-pura kabur.
" Maaf, aku keterusan. " Pintanya benar-benar menyesal.
Para tentara hanya bisa pasrah karena tidak boleh menggunakan emosi mereka pada saksi penting.
Terlebih ketika laporan masuk mengatakan bahwa saksi itu mempunyai kemampuan untuk menghentikan amukan batu iblis yang gagal ber transplantasi, sehingga pelaku tidak jadi bermutasi.
" Sebelumnya kami ingin berterima kasih kepada Anda untuk tidak mengakhiri nyawa pelaku. "
" Tidak tidak, tidak ada yang perlu berterima kasih."
" Meski begitu tetap saja, anda sudah menyelamatkan satu nyawa warga kami. Tidak ada kata lain yang pantas kami lantur kan kepada Anda."
" Aih, ya sudahlah. Aku Terima kata-kata pujian anda sebagai rasa syukur. Terima kasih kembali karena dari ku disini"
" Terimakasih kembali "
Juru bicara itu ber deham sekali sebelum memulai pertanyaan pentingnya.
" Rion san, bisakah anda menceritakan kembali kejadian di saat itu dari awal ? Ada beberapa point penting yang sepertinya membuat team penyelidik kami kesulitan. "
" Aku yakin pihak anda pasti sudah mendengar keterangan langsung dari para pelaku, tetapi hal apa yang membuat anda masih ragu ?"
" Mengenai hal itu, saat ini kami masih menyelidiki asal muasal benda berbahaya itu, dari mana mereka mendapatkannya, dan apa motif mereka menggunakannya. "
" Lalu apa anda mendapatkannya ?"
Juru bicara itu menggeleng pelan.
" Kami sudah mengintrogasi mereka di ruangan terpisah sampai hari ini, namun semua keterangan mereka sama sekali tidak selaras satu sama lain. Karena itu, Rion san maukah anda membantu kami dalam menuntaskan kasus ini ?"
" Aku paham kemana arah pembicaraan ini "
Rion menatap lekat ke mata Juru bicara yang tampak tersenyum itu.
" Baiklah, aku akan mengatakan apa yang aku tahu saja, selain dari itu aku sama sekali tidak akan mengatakan apa yang aku tidak tahu. "
" Terima kasih atas kerja samanya"
Ketegangan pudar seketika.