7 SLEEPER

7 SLEEPER
Serangan Mental



Setelah persidangan beberapa hari yang lalu, Rion semakin mempunyai jadwal yang padat.


Dirinya harus merelakan waktu berharga yang ia gunakan mencari tau sendiri tentang hubungan keterlibatan Frederik dengan pelaku penculikan Rin.


Meski tidak sepenuhnya sepenuhnya yakin, tapi dapat disimpulkan bahwa orang itu sangat berbahaya.


Setidaknya jika orang itu tidak ada hubungannya dengan kasus penculikan Rin, dirinya setidaknya dapat merencanakan antisipasi jika kedepannya berhadapan dengan kasus yang sama. Terlebih jika harus berhadapan dengan orang itu langsung, bukan bermaksud Paranoid atau sebagainya, hanya saja sebagai Antisipasi.


Semua itu sudah tertera di benaknya, semua rencana menghindari Flag Kematian.


Meski dirinya belum sepenuhnya yakin. Untuk sekarang hingga kedepannya dirinya bermaksud mengumpulkan data dan melatih tubuhnya disela-sela waktu luangnya.


Tapi tidak sekarang.


Saat ini dirinya tengah diseret kesana sini melakukan pekerjaan fisik, hukuman lebih tepatnya.


Hukuman karena melanggar peraturan Akademi, dimana para murid yang dilarang melakukan segala macam aktifitas yang berhubungan dengan Guild Petualang tanpa Izin.


Benar, selain hukuman Skorsing dirinya juga mendapat hukuman pekerjaan fisik seperti mengangkut barang di gudang persediaan Militer, perbaikan dinding yang mulai keropos, hingga pekerjaan kecil seperti membersihkan Panti asuhan.


Berita baiknya, Rion melakukan semua hal itu dengan terbuka. Terlebih dengan pekerjaan terakhir.


Membersihkan Pekarangan Panti asuhan.


Pekerjaan di Panti asuhan membutuhkan waktu hingga 5 sampai satu minggu.


Mengingat kondisi Panti yang cukup memprihatinkan. Lantai yang mencuat, atap yang bocor, Dinding berlumut hingga kondisi sumur dan kamar mandi yang tidak nyaman dan berbahaya untuk anak-anak, apalagi mereka semua selalu berlari dengan semangat. Ditakutkan itu akan mengancam anak-anak yang tidak bisa tenang.


Dengan senang hati dan sedikit memaksa, Rion meminta izin pada Bos yang bertanggung jawab merenovasi Panti asuhan tersebut.


Awalnya Rion di marahi hingga sampai di beri sebuah pukulan keras di kepalanya, yang mengakibatkan tangan Bos itu cidera ke tingkat dirinya tidak mampu bekerja dengan maksimal, padahal untuk bagian kamar mandi adalah bagian yang akan Bos itu sendiri yang akan turun tangan.


Namun karena tidak ada jalan lain, pekerjaan itu harus di tunda.


Tetapi...


Tetapi tetapi....


Rion dengan wajah tidak bersalahnya, dengan mantap akan mengambil posisi pekerjaan itu sendiri dengan tangannya.


Dan lagi lagi terjadi perdebatan hebat hingga memakan waktu hampir satu jam.


Kejadian itu sempat membuat takut semua penghuni Panti, terutama anak-anak.


Namun, lambat laun pertunjukan itu semakin berubah menjadi komedi, dimana Bos konstruksi berkali-kali memukul kepala Rion dengan palu kerjanya, bunyi pantulan kepala dengan bongkahan Besi Logam itulah yang membuat anak-anak berfikir itu lucu.


Sedangkan para pekerja lain tidak tau harus bereaksi bagaimana. Mereka takut jika saat ini mereka ikut melerai mereka berdua, mereka bisa saja menjadi daging remuk karena terkena serangan brutal dari Palu Bos Mereka.


Di dalam hati semua orang Dewasa di sana juga sempat berfikir.


Bagaimana bisa kepala Rion tidak remuk setelah terkena serangan brutal itu.


Tepat setelah satu jam pertunjukan itu di mulai, mereka berdua terhenti. Tidak ada lagi pukulan dan makian, hanya terdengar suara nafas berat dari mereka berdua yang saling menatap seakan akan menerkam satu sama lain.


" Setidaknya beri aku kesempatan "


Untuk kesekian kalinya Rion mengutarakan kata-kata itu. Kata-kata yang menjadi akar pertengkaran mereka.


Bos yang masih berusaha mengatur nafas nya itu semakin geram dan hendak memukul Rion untuk terakhir kalinya, dengan mencurahkan sisa staminanya, palu itu siap meluncur.


Namun, sebelum semua itu terjadi dan menjadi konflik berkepanjangan. Rion tanpa segan-segan memperlihatkan kemampuannya. Dari celah udara tanpa sirkuit sihir di depan wajah Bos itu, sebuah Gulungan kertas muncul dan mendarat di atas meja dengan apik.


Semua orang termasuk penghuni Panti terpana dengan wajah lucu. Mereka tidak menyangka sebelumnya bahwa orang menarik dengan perilaku langka di depannya adalah orang hebat yang mampu menggunakan sihir Ruang dan tidak segan mempertontonkan nya di hadapan mereka yang Notabene nya adalah Rakyat jelata.


Namun yang lebih terkejut adalah Bos yang sempat berseteru dengan Rion. Terlebih ketika Rion memperlihatkan isi dari Gulungan tersebut.


Melihat senyum percaya diri di wajah Rion, membuat Bos itu mengurungkan niatnya yang akan memukul Rion dengan sisa tenaganya.


Bos itu berbalik. Berjalan menjauh dan sebelum benar benar jauh. Rion mendengar jawaban dari Pria yang berseteru dengannya.


Semua pekerja yang mendengar jawaban dari Bos mereka, sontak ikut merasakan perasaan Luar Biasa dan menggantikan Rion untuk bersorak.


Perasaan itu pun sampai juga kepada para penghuni Panti asuhan, terutama kepala Panti yang juga Biarawati.


Di umurnya yang sudah tidak bisa di sebut Muda lagi itu, masih di beri kesempatan untuk melihat pemandangan hangat itu.


Melihat sosok Rion yang di kerumuni pemuda lain dan tersenyum bangga karena mencapai suatu hasil, mengingatkannya pada sosok pemuda yang pernah ia kagumi di masa mudanya.


Sosok yang perlahan semakin kabur di ingatannya karena faktor umurnya.


Bayangan siluet pemuda itu saling timpa tindih dengan sosok Rion saat ini, banyak kesamaan dari kedua pemuda itu. Melihat itu semua mengingatkannya akan kenangan manis yang dulu pernah singgah di kehidupannya, yang menjadikannya mampu bertahan hingga sampai hari ini.


" Nyonya, akan kami buat Rumah yang nyaman sehingga anda betah dan enggan untuk keluar rumah "


Dengan memperlihatkan senyum lebah khasnya dan deretan gigi putih nya yang rapi. Rion mengacungkan jempol nya kearah penghuni Panti dengan penuh percaya diri.


"" Kami mengharapkannya ""


Anak-anak yang merasakan senang karena rumah mereka akan menjadi cantik, menjawab dengan penuh semangat.


" Osh, nantikan saja "


Rion kemudian meminjam beberapa rekan untuk membantunya, karena tidak semua bisa dia lakukan sendiri, tentu saja itu setelah mendapatkan izin dari Bos.


Rion dan beserta 3 pekerja yang membantunya mulai menerangkan rancangan yang sudah dia siapkan. Di tambah dengan Gulungan cetak biru yang sebelumnya.


Ajaibnya, itu persis sama dengan yang ia miliki.


Mulai dari dekorasi hingga ukuran.


Memang mencengangkan, namun ia merasa tidak menjiplak rancangan lama tersebut, semua itu murni hasil pemikirannya sendiri.


" Aku tau itu, jangan kecewakan kepercayaan ku"


Setelah memberikan rancangan yang sebelumnya, Pria berbadan kelas itu berlalu pergi meninggalkan Rion dan rekan kerjanya, pria itu mulai memaki pekerja lain di sisi seberang yang tampak sedang bersantai.


" Lupakan itu, mari kita mulai."


" Aku sudah tidak sabar "


" Meluncur!"


Dengan begitu mereka mulai membongkar kamar mandi yang lama, ketika Matahari sudah tepat di atas kepala.


Tapi karena sudah waktunya makan siang, mereka berhenti ketika setengah jalan.


Rion menawarkan diri untuk menyiapkan makan siang untuk semua orang.


Siang itu mereka merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk mencicipi masakan mewah dan lezat.


Semua orang bersorak untuk Rion dan masakan lezatnya. Terutama anak-anak Panti yang juga di suguhi cemilan dingin dan manis.


Yup, itu Ice Cream.


Cocok untuk lidah anak-anak, terlebih lagi dengan cuaca yang terik.


Para pria dewasa menatap iri ke arah anak-anak.


Dan memperlihatkan wajah memelas mereka ke arah Rion.


" Hahahaha, aku mengerti. Karena itu berhentilah menatap gelas Anak-anak seakan kalian akan mencurinya."


Anak-anak yang sama sekali tidak memahami maksud perkataan Rion, terus saja menyuap Kudapan di tangan mereka.


" Rasa Dewasa "


Bibir Rion yang tersenyum berbahaya, membuat masing-masing pria itu menelan ludah mereka sendiri.


Meski begitu mereka tidak dapat melawan ketika orang paling tinggi menerobos antrian yang sudah mereka perjuangkan.


Pria itu datang langsung ke meja tempat Rion menaruh kotak eskrim yang ia banggakan.


Pria kekar itu mulai menggaruk Ice Cream itu menggunakan sendok khusus dan menirukan cara Rion sebelumnya dan menaruhnya di gelasnya.


Setelah dirasa cukup, pria itu pergi dari sana dan duduk jauh dari meja makan pekerja. Semua pria menaruh harap dengan komentar Bos mereka.


Dengan memperhatikan ekspresi Bos mereka ketika ia menyuap benda kental itu ke mulutnya.


Suapan pertama itu membuat sang Bos membelalak kan matanya, dan mempercepat suapan kedua ketiga keempatnya hingga habis, dan dengan cepat kembali menerobos antrian pembagian sembako gratis itu.


Tentu saja mereka tidak Terima. Mereka melawan sampai-sampai berani mendorong Bos mereka sendiri ke bagian belakang. Dan kembali ribut dengan urutan antrian mereka. Karena Bos mereka sendiri yang sangat kritis jika menyangkut soal makanan sudah memberikan Penilaian tinggi pada makanan sederhana itu, tentu saja mereka tidak mau kehabisan makanan bernilai tinggi itu.


" Tenang saja, aku masih punya banyak "


Dengan tawa bahagia, Rion mengeluarkan satu lagi kotak berisi Ice Cream.


" Untuk kalian juga ada, tapi jangan makan terlalu banyak, ok ?! Kalau tidak nanti perut kalian akan sakit "


"" Ya ""


Anak-anak semangat mendengar kalau mereka mendapat jatah tambahan.


Satu jam setelah itu, para pekerja kembali ke tugas mereka masing masing.


Pekerjaan mereka membutuhkan waktu yang cukup lama, karena berbagai hal. Hingga di hari terakhir...


Ada beberapa orang tambahan yang membuat semua orang tidak bisa menjadi liar seperti hari sebelumnya.


Suasana makan siang yang semeriah pesta, kini berubah menjadi tegang seperti sidang Kabinet.


Dan lagi, orang yang membuat semua ini terjadi hanya tersenyum melihat makanan di hadapannya tanpa merasa bersalah sedikitpun, dan tanpa memikirkan perasaan Anak-anak Panti asuhan yang tegang dan tidak ceria lagi.


" Lalu, apa yang paman lakukan disini ?"


Dengan wajah tidak senang Rion melontarkan kata-kata tidak sopan kepada Pria yang paling di segani di negeri itu.


Benar, itu adalah orang nomor satu dan paling di hormati di negeri ini, siapa lagi kalau bukan Yang Mulia Raja, Bathlof Rose Guard.


Tidak hanya itu, pengawalnya yang kelelahan karena sifat orang yang mereka junjung tinggi juga datang bersamanya. Tampak raut wajah lelah dari masing masing mereka.


Tidak sampai di sana, bahkan orang yang tidak ada hubungannya dengan pesta ini juga datang dan seenaknya berbaur di tengah pesta.


" Dan lagi, apa yang ibu lakukan disini. Aku yakin tumpukan berkas di kantor ibu pasti lebih penting dari pesta kami "


" Ri-Chan, kau dingin sekali, guehehe "


" Jangan mulai mabuk seenaknya di pesta orang lain "


Rion yang jengkel dengan semua itu merebut gelas dari tangan Ibunya, yang bertengger di tubuh Rion dengan memanfaatkan tubuhnya yang kecil.


" Kembalikan, kembalikan.. Itu punyaku "


" Ini pesta kami, Ibu tidak di undang !!"


"....."


Rion sadar beberapa detik kemudian, dirinya terlalu kasar pada Ibunya. Tapi terlambat, Mata ibunya sudah mulai berkaca-kaca, sebuah sungai kecil mulai terbentuk di masing-masing pipinya.


Rion paling lemah jika Ibunya sudah mengeluarkan jurus yang satu itu, dan tidak dapat untuk menolak. Tetapi demi Kesehatan dan Pekerjaan Ibunya dia harus tegas.


Alhasil...


" Huaaaa~~~ Ri-Chan jahat !!"


Merasa jurus andalannya kali ini tidak berhasil, wanita be perawakan anak SMP itu beralih ke gadis di sebelahnya, dan mulai mengadu.


" Cup cup cup, anak baik... Anak baik..."


Gadis itu merasa senang, wanita berperawakan kecil itu bermanja-manja kepadanya, dan mulai membujuk wanita kekanak-kanakan itu dengan hidangan lain.


" Eh ?, Rin jangan memanja ibuku!!"


" Tidak masalah kan, jarang sekali melihat Mimio-San menggemaskan seperti ini " Senyum puas terpantul di wajahnya.


Di dalam hati Rion berkata. " Gadis ini tidak tertolong lagi"


" Seberapa Cintanya kau pada Ibuku... " Rion mulai lelah, bahkan suaranya sampai tidak terdengar oleh Rin.


Dengan mata tajam, dan kecepatan yang di luar nalar, Mimio mencuri gelas itu dari Rion tanpa sepengetahuan nya. Tanpa menunda wanita itu langsung menghabiskan dengan cepat.


" Unya~~ Tambah!! " Teriaknya dengan suara lucu. Wanita itu benar-benar sudah mabuk meski hanya segelas, dan mulai bertingkah menggemaskan, membuat ketegangan sedikit memudar.


" Eh ?, sejak kapan ?!!" Rion tidak dapat menutup keterkejutannya, dan hanya mampu mengusap wajahnya kasar.


" Lalu... " Rion beralih menatap Yang Mulia dengan tatapan tajam. Kali ini dia menuntut kejelasan dan tidak menerima kata tidak.


Sadar dirinya sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan, Pria itu memalingkan wajahnya kearah lain, mencoba berpura-pura bodoh pria itu mencoba bersiul tanpa suara.


Kesal karena di pecundangi, Rion mencoba melempar pria itu dengan garpu di mangkok salad di dekatnya. Beruntung dia dapat di cegat oleh kawan-kawan sesama pekerja, dan pembunuhan dapat terelakan.


Rion berontak seperti orang kesurupan karena saking kesalnya.


Di saat sudah mulai tenang, di kembali memberanikan diri menanyai pertanyaan yang sama. Berharap kali ini dia mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Tampak dirinya mengambil beberapa nafas panjang sebelum memulai.


" Lalu, apa yang Yang mulia lakukan disini ?, aku yakin tidak ada agenda anda untuk datang secara pribadi di pesta kecil kami. Intinya... "


" Rion-kun... " Potong Yang Mulia


" Apa ?"


Yang Mulia menunjuk nunjuk kearah kepalanya.


" Ada apa dengan kepala paman ?"


" Rion-Kun, hari ini aku datang bukan sebagai Raja, aku datang sebagai warga biasa, jadi tidak masalah"


Mendengar pernyataan bodoh dan tidak bisa di jadikan jawaban itu, membuat Rion langsung naik darah sampai ke titik didih tertinggi.


Dengan sigap dirinya menoleh ke kiri dan ke kanan dimana teman sepertukangan nya berada.


Aku ingin mengamuk, tahan aku. Seakan mengutarakan itu, teman-temannya yang mengerti hal itu langsung menahan dirinya tanpa tanggung-tanggung. Dan setelah di rasa cukup Rion memulai amukannya, sekali lagi dia mengamuk seperti orang kesurupan.


Terlihat lucu di mata sebagian orang, dan menjadikan ketegangan yang sebelumnya luntur, dan tawa tak terelakan meledak di pekarangan tempat pesta di adakan.


Anak-anak yang tadinya ketakutan kini gembira, mereka pikir itu adalah drama komedi yang di siapkan sebagai sebuah pertunjukan kejutan.


Tapi tidak bagi Rion. Kemarahannya itu nyata.


Dirinya pantas marah pada orang dewasa yang lari dari tugasnya.


Di samping itu, kemarahannya adalah hiburan.


Dan tampa di sadari, pesta syukuran tetap berlanjut dengan kekalahan Rion yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Tidak, tidak sampai menjadi gila. Hanya saja lelah secara mental.


Di tengah pesta, para asisten hingga pengawal dari orang-orang tak di undang itu datang menjemput mereka. Tetapi mereka terjebak untuk ikut dalam pesta, mau tidak mau Rion harus menyiapkan porsi tambahan untuk semua orang yang hadir.


Meski kesal namun Rion tetap menuruti permintaan mereka yang mulai meminta macam-macam.


Itulah bentuk kebaikan Rion yang di sukai semua orang. Terlalu baik dengan sifatnya yang tidak bisa menolak.