7 SLEEPER

7 SLEEPER
Petualang atau Koki



Ini adalah akhir pekan, sekolah libur dan kegiatan Klub tidak ada, karena aku belum masuk satupun dari mereka.


Tidak ada yang menarik untuk saat ini.


Hari ini secara khusus kami berencana akan mengambil sebuah misi wajib di Guild Petualanh untuk memenuhi kuota saja, tidak perlu misi yang ribet sampai membutuhkan waktu berhari hari.


Aku memeriksa papan Misi. Tidak ada yang simpel, semua hanya tersisa misi sulit seperti penaklukan monster di desa tetangga.


Membiarkan misi yang tidak di ambil petualang lain pastinya akan memberikan kerugian dari kedua belah pihak.


Tetapi aku tidak bisa menerimanya juga, disebabkan waktu dan jarak yang terbatas.


Kami juga tidak tau seberapa kuat dan seberapa banyak monster-monster yang kerap merepotkan warga di sana.


" Apa kita Terima saja ?" Tanya ku.


" Aku dengar perjalanan ke sana saja bisa memakan waktu sampai setengah hari. Belum lagi waktu untuk membereskan monster-monster nya, kurasa kita kekurangan waktu"


" Tetapi hadiahnya menggiurkan "


" Tetapi waktunya tidak cukup "


" Kau benar juga "


Izumi kembali memeriksa ke papan lain. Sangat di sayangkan, semoga saja ada petualang baik yang akan menolong mereka. Ku kembalikan kertas itu ke tempat asalnya.


Aku bergabung dengan Izumi dan ikut memeriksa dengan teliti.


Momo datang menghampiri ketika kami tengah sibuk, beruntungnya dia membawa berita bagus.


" Ini, tidak perlu waktu yang banyak dan tidak terlalu jauh dari sini " Ucapnya kemudian.


" Membasmi Coyote, total hadiah 2 koin perak kecil per Eskornya" Izumi membaca deskripsi misi yang tertera.


" Murah sekali, di Game saja bisa sampai 500 keping per Ekor" Ujarku.


" Jangan samakan dengan Game, game memang di setting begitu karena menggunakan mata uang yang berbeda " Bantah Izumi.


Benar juga, aku tidak memperhatikan. Meski mata uang mereka itu Gold, tetapi bukan berarti koin emas murni.


Dan disini mereka menawarkan koin Silver dengan kemurnian yang sudah di takar.


" Berapa lama waktu yang di butuhkan ?"


" Kurang dari satu hari, setidaknya jika kita berangkat sekarang kita bisa pulang sebelum makan malam " Momo menjelaskan.


Kami sepakat, dan berangkatlah kami menuju Lokasi.


Dengan berlari hanya butuh setengah jam.


Di sepanjang jalan mereka sedang berkeliaran tanpa terganggu dengan kereta yang lewat, tetapi tetap saja itu sangat meresahkan pengguna jalan yang hendak lewat, apalagi kereta petani tanpa pengawalan.


Tanpa membuang waktu kami mulai pembersihan.


Aku dengan karate ku, Izumi dengan pedang kesayangannya dan Momo dengan Sihir Elektro yang baru saja ia pelajari dikelas.


Kami berburu sampai masuk ke dalam hutan dan secara tidak sengaja menemukan sarang mereka di bawah tebing, ketika mengejar salah satu dari mereka yang berhasil kabur.


" Selamat menikmati !!"


Satu dari pemandangan brutal yang tidak ingin kami bagikan pada kalian. Karena saking brutalnya, aku hanya akan memberikan Efek suara saja.


Kiii...


Hiat..


Kuuuh...


Cya....


Hhhooop...


Kaing...


Kaing...


Horyah...


" Fiuh... Akhirnya selesai " Aku menghela nafas lega.


" Ini yang terakhir "


Izumi Melemparnya ke tumpukan mayat monster yang masih satu Family dengan serigala itu.


Lumayan banyak.


Aku terlambat menyadari. Ketika mereka semua sudah habis.


" Gawat !!"


" Apanya ?"


" Aku tidak tau apa yang harus di ambil dari mereka sebagai bukti penaklukan !!" Teriakku.


" Benar juga, jika di dalam game, kalau tidak salah, itu..."


"" Hmm... "" Aku dan Izumi saling bertukar gumaman.


" Apa ya ?"


" Entahlah, aku juga lupa, aku jarang memburu mereka di game, karena serangan mereka tidak bisa membuatku puas" Saut Izumi sombong.


" Aku juga jarang memburu mereka karena alasan yang sama "


Aku dan Izumi mengerutkan dahi seraya berfikir.


" Apa kita bawa saja utuh utuh dan menyerahkan sewajarnya saja." Saran Momo.


" Tidak semuanya?"


" Coba pikir apa yang terjadi jika kita memberikan tumpukan mayat ini "


" Benar juga, akan jadi kehebohan besar jika kita secara terang terangan mengeluarkan mayat mayat ini di guild. Momo kau jenius" Ucapku menyanjung nya namun di sebelahku malah Izumi yang terlihat sombong. Padahal yang ku puji itu istrinya.


*****


Masih 4 jam semenjak kami menerima misi ini, jika pulang sekarang sebenarnya aman aman saja dan tidak akan menimbulkan kecurigaan, masalahnya adalah kami sudah membuat populasi mereka habis.


Semoga tidak ada yang sadar dengan sarang mereka.


Aku meminta momo untuk menutupi jejak, tetapi dia menolak, karena untuk menutupi pintu goa dan jalur masuknya yang rumit, masih belum dia pelajari.


Ya sudah, mari berdoa semoga saja tidak ada yang sadar kami pelakunya.


*****


Kami pulang beberapa jam sebelum makan malam, tiga karung besar kami panggul di punggung untuk mengurangi kecurigaan.


Ketika melewati gerbang depan, para penjaga mencegat kami. Mereka mencurigai kami membawa benda aneh dan mencurigakan.


Apalagi ketika melihat karung yang kami bawa mengeluarkan bau amis darah yang menyengat.


Namun, kecurigaan mereka terbantahkan ketika kami menunjukkan kartu keanggotan kami.


Dan untuk kedepannya, kami di sarankan agar menyewa kereta kuda untuk membawa hasil penaklukan.


Terlebih, mereka menyarankan untuk menguras darah mangsa terlebih dahulu.


Kami sampai lupa, hal dasar itu.


Setelah di perbolehkan pergi, kami terus melanjutkan melapor ke guild dan mengambil hadiah.


Gadis resepsionis menerima bukti dan menetapkan misi berhasil.


Tetapi kami tidak langsung mendapatkan hadiah. Untuk kasus kami di nilai sedikit berbeda.


Bahan yang kami bawa ternyata bisa di manfaatkan semuanya tidak terkecuali, karena dalam keadaan bagus dan tidak banyak cacatnya.


Kami menunggu di gudang ketika mereka berdiskusi tentang harga.


Setelah di rasa mendapatkan keputusan, gadis resepsionis kembali menghampiri kami dan mengajak kami ke depan kembali.


Guild membayar kami lebih, dan kami juga mendapatkan Point yang Banyak.


Kami menerimanya dan langsung pergi, tanpa penundaan.


Takutnya mereka akan curiga dan mulai bertanya tanya tentang ini itu.


Untuk satu minggu ke depan, mari tidak pergi ke Guild dulu.


*****


Untuk menyibukkan diri karena terlalu senggang, aku mencoba mengikuti semua kelas khusus yang di ambil Rin.


Membosankan.


Semua nya identik dengan Bagaimana menjadi Wanita bangsawan yang baik.


Kelas kali ini mempelajari acara pesta minum teh,


Dan aku secara khusus di tunjuk sebagai peserta dalam kelas tersebut.


Meski tidak berada di kelompok yang sama dengan Rin, tetapi setidaknya aku masih bisa melihat perkembangan Rin.


Sikapnya yang elegan saat ini berbanding terbalik dengan sikapnya di rumah.


Tuan putri ini sangat ahli berakting.


Yang lebih penting saat ini, aku sama sekali tidak tau etika seorang bangsawan.


Lagipula kue dan tehnya sama sekali bukan selera ku. Bukannya tidak enak, hanya saja rasanya tidak cocok di lidahku.


Kuenya pun terlalu manis dan tidak lembut sama sekali.


Wajah Rin masih aman saat ini karena semua makanan di kelompoknya di siapkan oleh Yuki.


Sedangkan makanan di kelompokku di sediakan oleh Pelayan lain dari kalangan Murid.


Jadi rasa dan teksturnya tidak jauh berbeda dengan rasa yang beredar di ibukota.


Enak, tapi tidak seenak buatanku, karena hal itu juga aku sedikit tidak terbiasa.


Tapi tidak masalah, di masa depan nanti mari kita ubah sedikit resep mereka.


Dan selama 2 jam lamanya aku harus bertahan dengan hidangan mereka.


*****


2 Jam yang terasa sangat lama akhirnya berakhir, perutku sudah tidak tahan dengan semua makanan manis.


Aku tidak habis pikir mereka mampu memakan ini semua selama ini.


Ueeek


Di toilet, ku memuntahkan semua yang ku makan tadi. Mual karena manis sangat mengerikan.


Lain kali jika masih begini, aku akan memastikan untuk menolak dengan lembut.


Ketika aku keluar toilet aku di cegat boleh beberapa gadis bangsawan dan gadis yang berperan sebagai Pelayan yang satu kelompok dengan ku.


Siapa namanya ya ? Aku lupa.


" Nona Nona, Selamat siang "


" Selamat Siang, Rion Sama "


" Apa ada perlu dengan ku ?"


" Maaf karena sudah tidak sopan, Rion sama bagai mana dengan kelas hari ini "


Salah seorang yang sepertinya ketua rombongan mengangkat bicara.


" Aku Menikmatinya, bagai mana dengan anda sekalian, Nona nona ?"


" Kami juga menikmatinya, Mount blank hari ini enak sekali "


" Hahaha, para gadis memang suka yang seperti itu ya" Aku salut dia masih bisa ceria setelah menyantap makanan manis itu tanpa mual.


" Benar sekali, rasa manis yang pas dan cocok dengan teh di siang hari "


Nona Nona... itu sangat jauh dari kata pas, itu sangat manis, bahkan ampai ke taraf aku akan mual hanya dengan satu suapan saja. Keluh ku di dalam hati.


" Rion sama, apakah besok kita bisa satu kelompok lagi ?"


Lagi ? Kalian bercanda?


Jika bisa memilih aku lebih memilih satu kelompok dengan Rin, karena semua nya di sajikan oleh Yuki.


Tapi jika ku katakan itu mereka pasti akan marah, kan?


" Tentu saja, aku menantikan nya "


Nona nona ini terlihat senang dan melompat kecil dan saling bermanja-manja satu sama lain.


Pemandangannya sangat indah, tapi tidak tau dengan besok.


" Kami sangat menantikan hari esok, kami juga ingin mendengar kelanjutan cerita tentang negara anda "


Eh, apakah semenarik itu ?


" Tentu, aku punya segudang cerita untuk Nona Nona sekalian, nantikan saja "


" Kami juga menantikan nya "


Kami bercerita sebentar sebelum membubarkan diri.


Sungguh melelahkan berhadapan dengan mereka ketimbang berburu Coyote kemaren.


Aku tidak tau besok akan bagai mana. Semoga besok aku bisa menjaga sikapku seperti ini.


Lalu besoknya, besoknya lagi dan besok-besok nya lagi, aku terus-terusan mengkonsumsi makanan kelewat manis itu.


Sampai minggu terakhir, aku kehabisan kesabaran.


Paginya sebelum kelas dimulai aku mendatangi dapur mereka.


Awalnya mereka cemas dan ketakutan ketika ada pria masuk ke dapur mereka secara mendadak.


Namun ketika aku beralasan aku ingin melihat langsung kue kue itu di buat, mereka mengizinkannya.


Aku melihat semua proses mulai dari awal.


Mereka menangani semua bahan dan proses dengan kasar, sampai ke tahap aku tidak bisa diam menonton.


" Sekarang aku tau dimana letak kesalahannya "


"" Kesalahan ? ""


Aku mengabaikan wajah bingung mereka.


Aku mengambil alih satu meja beserta semua bahan di sana.


Mari kita mulai dari awal, karena adonan mereka, sudah terlambat untuk di selamatkan.


Pertama, tepung ku timbang dengan takaran pas. Aku menyaring nya terlebih dahulu.


Telur, aku menambahkan dua telur.


Aku mengocoknya dalam panci beserta gula dengan takaran setengah kilogram, sampai halus merata.


Selanjutnya, baru aku menuangkan tepung sedikit demi sedikit sembari tetap mengaduk nya sampai merata.


Sebelum ku lakukan kedalam loyang, aku melumuri loyangnya dulu dengan mentega dan tepung agar tidak lengket ke loyang nanti.


Dan baru ku masukan ke dalam oven, aku kesulitan menjaga apinya karena mereka masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar api.


Sementara menunggu kuenya matang, aku mempersiapkan bagian hiasan dan krim pelapisnya.


Untuk krim lapisan dan hiasan Aku menggunakan sisa putih telur dengan campuran gula halus yang ku bawa sendiri.


Ku kocok sampai halus dan menjadi banyak.


Saat ku cicipi, hm... Lezat.


Untuk toping dan hiasan, aku menggunakan coklat.


Beruntung aku masih punya stock, meski hanya bentuk bubuk.


Aku menggunakan takaran 2:1, 2 gelas coklat bubuk dan satu gelas susu putih.


Aku merebusnya bersama, sampai mengental.


Sedikit berimprovisasi aku menggunakan sihir es untuk membuat es batu berbentuk bulat.


Es itu nantinya akan ku gunakan sebagai mencetak coklatnya.


Awalnya aku ragu apakah akan berhasil.


Aku meletakan banyak es batu di air bersih yang ku tuang dalam sebuah wadah.


Ku tuliskan berbagai nama di air dingin penuh es itu. Dan itu berhasil, saat ku angkat tulisan itu tidak patah ataupun rusak.


" Bagus, sepertinya ini akan berhasil "


Aku menyerahkan selanjutnya kepada gadis lain dan membuat menu lain.


Masih berhubungan dengan telur, dan di gemari oleh setiap kalangan.


Es krim.


Karena akan membosankan untuk diceritakan, aku akan melewatkan semua prosesnya.


Eskrim sudah selesai ku buat. Puding juga. Roll cake sudah.


Apa lagi, semua yg kurasa perlu di benahi sudah ku perbaiki.


Sisanya hanya hiasan untuk cake yang masih menunggu matang.


Sembari Menunggu aku berkeliling untuk memastikan mereka melakukannya sesuai dengan arahan ku.


Mereka cepat belajar.


Kueku matang dan mengembang dengan sempurna, tidak kempes ketika ku coba tusuk.


Aku membagi nya menjadi beberapa Pics, dengan teliti aku juga mulai melapisinya dengan krim manis.


Aku mendesain nya seperti lahan bersalju lengkap dengan Manusia Saljunya.


Lebih mirip kue Natal ketimbang snack.


Aku membuatnya seragam untuk semua potongan. Untuk sentuhan terakhir aku mengizinkan para gadis untuk meletakan tulisan coklat yang sudah mereka buat sebelumnya.


Sederhana namun cantik.


Untuk kelompok yang mengurus eskrim mereka juga bisa menghiasi gelas gelas itu tidak kalah cantik.


Aku juga membuat makaroni berbagai warna di waktu senggang tadi. Dan biskuit dengan karakter hewan lucu.


Dan semua pekerjaannya sudah selesai semua.


Masih ada waktu sebelum kelas di mulai. Kami beristirahat sejenak sampai waktu tiba.


Aku di suguhkan secangkir teh.


" Sepertinya teh yang ini jauh lebih baik dari sebelumnya "


" Saya sedikit mencampurkan madu dengan herbal yang sudah di keringkan "


" Herbal ?" Aku tidak kepikiran bahwa herbal bisa di gunakan kedalam teh.


" Keluargaku mengelola sebuah toko herbal dan aku juga belajar sedikit dari orang tuaku"


" Mantap, ini yang terbaik sejauh ini. Lanjutkan dengan teh seperti ini kedepannya, aku yakin mereka akan suka "


Setelah Menghabiskan 2 gelas teh, aku pamit undur diri karena jadwal masuk ku sedikit lebih awal dari para pelayan.


*****


" Rion sama, anda terlihat sedikit kelelahan. Apakah anda sedang tidak enak badan ?"


" Tidak ada alasan khusus, hanya saja aku baru saja membantu beberapa gadis sebelum kesini "


" Anda sangat baik, tidak hanya ramah, anda juga sering membantu orang kan, aku juga sudah mendengarnya dari petualang di guild, baru baru ini. "


" Benarkah begitu ?, aku tidak ingat pernah berbuat sesuatu untuk mereka, daripada itu apa anda punya kenalan di sana?"


" Ya, benar. Beberapa pengawal kami sebenarnya adalah mantan petualang, Kadang-kadang mereka juga mengambil misi di Guild, sepertinya hasrat mereka sebagai petualang tidak bisa di hilangkan, mereka terlihat lucu setiap kali bercerita tentang anda."


" Mereka hanya membesar besarkan saja, jangan terlalu di percaya"


" Benarkah begitu ?"


" Tentu saja, mereka hanya melebih-lebihkan karena anda tuan mereka."


" Tetapi aku tidak merasakan begitu, mereka adalah petualang Rank A yang jarang sekali menyanjung petualang lain, loh. Rion sama "


Tangan ku bergetar ketika gadis ini bilang petualang Rank A.


Itu akan sangat berbahaya jika kami melakukan misi dengan berlebihan lagi.


" Tidak... Hehehe aku baik-baik saja."


" Aku ingin mendengar cerita itu "


" Aku juga, tolong ceritakan juga kepada kami kehebatan Rion sama"


" Aku juga penasaran "


Satu persatu mereka mendesak untuk mendengar cerita kehebatanku dari pengawalnya.


Aku juga sedikit penasaran, tetapi disisi lain aku sedikit cemas.


Sebenarnya aku tau apa yang akan gadis ini ceritakan. Karena hanya ada satu kisah saja yang sudah kami ukir di guild semenjak datang ke Ibu Kota.


Namun ekspektasi ku salah. Gadis ini bahkan tau cerita tentang kami ketika menyerbu markas bandit, bahkan sampai ke detail terkecil.


" Luar Biasa sekali. "


" Anda benar benar orang yang hebat"


" Menakjubkan, menangkap bandit yang meresahkan tanpa terluka"


" T... Tolong hentikan. Itu membuatku kembali merasa tidak enak "


Aku setiap kali mengingat moment itu selalu merasa terpuruk. Mereka sama sekali tidak hebat seperti yang kalian dengar, mereka hanya sekumpulan preman yang kebetulan sangat banyak saja.


Skill bertarung mereka bahkan bukan tandingan prajurit.


Kalian yang tidak melihatnya langsung tidak akan merasakan betapa kecewanya kami ketika berhadapan dengan para bandit bandit sialan itu.


Aku saja sampai kecewa karena mereka tidak kuat seperti rumor.


Bahkan, tentara yang sampai percaya dengan semua rumor tersebut hingga akhir pertempuran membuat wajah kecewa. Rencana yang mereka rancang sedemikian rupa jadi mubazir.


Hah... Wanita memang sangat suka dengan gosip, tapi aku tidak percaya mereka akan mengghibahkan aku di depan orangnya sendiri.


" Seperti yang sudah aku bilang tadi, mereka hanya melebih-lebihkan saja "


" Benarkah begitu ?"


Gadis ini sepertinya tau sesuatu. Sedari tadi dia seperti mencoba mengulik informasi dariku dan mendesak ku untuk mengaku.


" Jujur saja Nona Nona, aku tidak sehebat itu. Jangan terlalu percaya dengan gosip gosip yang beredar, kita juga harus lebih pintar dalam mengelola informasi yang beredar dengan mudah"


Ujarku, agar mereka berhenti menekan ku.


" Benar juga, minggu kemarin, beredar kabar bahwa Sarang monster di desa tetangga sudah di lenyapkan beserta monster-monster nya. "


" Heee~~ siapa yang melakukannya?"


" Apa terjadi perebutan kekuasaan ?"


" Itu tidak dilakukan oleh monster lain "


Puff...


Aku meletakkan kembali cangkir teh yang akan ku minum. Aku tau kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut.


" Aku dengar, itu dilakukan hanya dengan satu party berisikan 3 orang "


" Heee... Benarkah? "


" Benar sekali, ada saksi yang tidak sengaja melihat mereka ketika mereka pulang dari misi"


" Wah... Apa mereka Party Pahlawan ?"


Eh, party pahlawan. Benar juga, mari kita limpahkan semua pujian kepada mereka.


" Bukan, mereka hanya party biasa, party pahlawan mana mungkin mau membereskan hal merepotkan seperti membasmi monster yang hanya punya hadiah kecil"


" Fufufu~~ itu kata-kata yang sangat berbahaya "


" Aku juga tidak suka dengan mereka, mereka sombong dan angkuh "


" Mereka juga sering melirik ke arah kami dengan tatapan mesum "


Hee... Aku tidak tau jika reputasi pahlawan ini sangat buruk. Semoga saja aku tidak pernah berurusan dengan mereka.


Takutnya aku akan membunuh mereka di tempat jika melihat mereka melakukan hal buruk di depan mataku. Terlebih jika mereka bermacam-macam pada Rin. Ku bunuh mereka berkali-kali.


" Lalu siapa mereka, party hebat yang sudah menaklukkan monster sampai ke sarang sarang nya itu?"


Eh, kalian masih mau lanjut ?


Gadis ini, yang aku lupa siapa namanya memandangku tajam dengan ekor matanya.


Senyumannya menyiratkan banyak arti, sampai membuatku merasakan tekanan dari dirinya.


" Untuk yang satu itu, aku akan menyimpannya sendiri, demi party tersebut. "


Suara Suara kekecewaan keluar dari mulut gadis yang lain.


" Saya mohon maaf Nona Nona, ini demi kelangsungan hidup mereka, mereka tidak suka kehebatan mereka di publikasikan, jadi dengan berat hati aku tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka " Ucap Wanita muda yang sepertinya pusat dari kelompok ini, lalu siapa namanya gerangan.


" Sangat di sayangkan "


Mereka akhirnya di buat diam hanya dengan elakkan ringan dari Wanita muda ini.


Sepertinya kedepannya aku akan direpotkan oleh gadis ini mau tidak mau.


" Anda berhutang satu permohonan padaku, Rion sama " Bisiknya ketika menyembunyikan mulutnya di balik kipas tangan.


" Terima kasih " Seharusnya aku mengelak, bukannya malah berterima kasih. Tetapi aku merasa, menyembunyikan semuanya darinya akan sangat percuma. Aku sudah tertangkap basah di awal.


Jangan-jangan alasannya mengajak ku satu kelompok karena hal ini. Memangnya apa yang dia inginkan dari ku.


Percakapan membosankan terus mereka lanjutkan sampai pada acara puncak. Santapan Rohani... maksudku cemilan.


Meja Meja dihiasi dengan piring piring berisi kue lucu.


Guru yang mengajar juga sudah mengijinkan, dia juga sudah mencicipi beberapa dari mereka.


Semua gadis terlihat bahagia, dan penilai pun mulai dilakukan ketika praktek pesta teh di mulai.


Tapi, semua menjadi kacau. Mereka menjadi liar karena sebuah kue dan lupa jika saat ini mereka tengah belajar tata krama.


*****


Aku tidak mengingat apa saja yang sudah kami bicarakan. Tetapi aku beruntung semuanya sudah berakhir.


Selama satu minggu itu juga banyak hal yang membuat ku berdebar dengan cara lain.


Mulai dari para gadis entah siapa yang menggoda ku dengan wajah manja, sampai gadis berbahaya yang mempunyai semua rahasia semua orang.


Dia sudah seperti intel saja.


Hari ini aku tidak harus lagi ikut kelas itu. Jadi aku punya waktu luang untuk berkeliling mencari klub yang cocok untuk menyalurkan bakat dan minat ku.


Mumpung ada di dunia lain, aku ingin melihat apa saja yang ada di sekolah ini.


"....."


Sepertinya aku membuat satu kesalahan.


Aku lupa jika aku sendirian aku akan tersesat.


Ini dimana saja aku tidak tau. Hanya lorong yang tadi sudah ku lewati.


Tidak ada orang yang bisa ku tanyai, apa aku akan tersesat selamanya disini ?


" Rion ?!"


" Alan !! Penyelamat ku !!" Aku melompat dan memeluknya.


" Sudah kuduga, apa yang kau lakukan disini?"


" Hehehe seperti biasa..." Jawab ku cengengesan.


" Jika kau senggang bagaimana ikut kami saja "


" Kami ?"


Bodohnya aku sampai tidak menyadari ada orang lain di belakangnya.


Ada beberapa siswa dan siswi dengan wajah tegas sedang menginspeksi seluruh tubuhku.


" Maaf, aku tidak sadar ada orang di belakangmu "


" Tidak masalah, lalu apa yang kau lakukan disini sendirian "


" Hm... Sebenarnya aku sedang berkeliling dan melihat langsung klub yang ada di sekolah ini, sampai sampai aku tidak sadar sudah tersesat disini."


" Kebetulan sekali, kami juga "


" Eh ?, kau juga tersesat ?"


" Hahaha bukan itu. Kami sedang memeriksa setiap Klub di sekolah, apakah mereka tidak melanggar norma susila ataupun membawa benda berbahaya"


" Boleh aku bergabung sampai di tengah jalan ?"


" Tentu, bahkan aku sedang mengajakmu."


" Terima kasih, Alan!! Kau pahlawan ku"


" Jangan terlalu di besar besarkan "


Alan mengantarkan ku melihat-lihat aktivitas di klub mereka sembari menunggu ketua mereka datang.


Sudah hampir semua nya sudah kami kunjungi, namun sejauh ini belum ada yang menarik minat ku.


" Bagai mana, ada yang membuatmu tertarik?"


" Sejauh ini tidak ada "


" Di sekolah lama mu, klub apa yang kau masuki ?"


" Hmm... Kendo, Karate, Judo "


" Semuanya adalah tentang bela diri, ya. Jika begitu, kemungkinan yang selanjutnya akan menarik minatmu"


Alan kembali membimbing ku menuju ke tempat selanjutnya.


Klub kesatria.


Seperti mamanya, sebuah klub yang mengedepankan kemampuan siswa dalam bermain pedang. Tidak jauh berbeda dari Klub Kendo.


" Oy... Apa kau datang untuk bergabung ?"


Izumi ternyata bergabung di Klub ini. Dia berlari ke arahku ketika Pembimbing mereka tengah memberikan arahan.


" Pelatih, Aku bawa satu anggota baru " Dengan seenaknya Izumi menyeret ku ketengah lapangan.


" Siapa bilang aku ingin bergabung, aku hanya mampir untuk melihat "


" Cih, aku pikir kau akan bergabung juga di klub ini" Izumi melepaskan genggamannya.


" Aku cuman ingin melakukan sesuatu yang berbeda saja dari yang sebelumnya" Aku buruburu merapikan kembali kerah bajuku yang di remuk secara kasar tadi.


Wajah Izumi menjadi aneh seakan mengatakan, 'bohong, kau bercanda'.


" Siapa anak ini ?" Pelatih tadi datang menghampiri kami.


" Pelatih, dia adalah Rion. Temanku, kemampuan berpedang nya sangat hebat dariku"


" Jangan percaya, aku tidak sehebat itu. Sungguh"


" Seseorang, bawakan perlengkapan untuk nya."


Pelatih itu dengan suara lantang memerintahkan anak didiknya semena-mena, di detik kemudian sebuah perlengkapan datang kepadanya.


" Pakai ini !!" Dengan tidak sopan, perlengkapan bau itu di lempar ke arahku.


Sialan kau Izumi, aku mengutuk Izumi dan memberikan tatapan kesal.


Izumi terlihat senang sudah mengerjai ku.


Mau tidak mau, Terima tidak Terima, aku harus mengikuti permainan mereka agar mereka puas.


Aku akan sengaja kalah dan pergi dari sini.


" Dengar, jika kau kalah kau akan bergabung dengan kami dan membersihkan lapangan setiap setelah selesai dipakai"


Mendengar kata-kata sombong nya itu dan semena-mena nya, membuatku langsung naik pitam.


Aku yang awalnya akan sengaja kalah setelah mendengar itu tentu saja tidak Terima.


Itu sama saja dengan penyalah gunaan kekuasaan.


Baiklah jika itu cara main mu. Aku akan ikut.


Pelatih itu dengan sombongnya, mengirim seseorang masuk kedalam lapangan.


Aku turut prihatin dengan orang pertama. Wajahnya sama sombongnya dengan pelatihnya.


Akan ku buat ini menjadi cepat dan langsung pergi.


Wasit di ambil alih oleh pelatih itu sendiri.


" Dengar, siapapun yang mampu melempar lawan keluar dari garis, dia yang jadi pemenangnya, dilarang menyerang wajah, dan bagian vital lainnya. Kalian paham ?"


" Sangat paham "


" ... " Aku hanya menjawab dengan anggukan.


" Kalau begitu, Mulai !!"


Begitu tanda mulai di serukan, aku bergegas mendekati lawan tanding ku. Ku berikan salam perkenalan di dadanya menggunakan telapak kakiku, dan ku berikan dia tiket gratis keluar dari ring.


Pertandingan selesai satu detik setelah di mulai.


Semua orang bahkan pelatih itu tercengang dengan ekspresi konyol.


Izumi bahkan tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Sepertinya anak itu menikmati ini semua.


Ya sudah, aku hanya tinggal pergi saja. Lagi pula aku juga menang. Tak ada untungnya berlama lama disini, yang ada aku akan tambah kesal dan bisa bisa akan menghajar mereka semua.


" T.. tuh.. Tunggu sebentar!!!"


Aku mengabaikannya dan berlalu melewatinya, aku melepaskan semua perlengkapan dan menyerahkannya ke Izumi yang menyambut ku dengan senyum.


" Selamat datang ? Bagaimana, sudah merasa segar ?"


" Tidak segar sama sekali, dan kau sialan. Mengadu ku seenaknya"


Ku tarik kerah bajunya dan ku guncang guncang tubuhnya dengan kasar.


" Sialan kau Izumi... Tidak ada makan malam untukmu!!"


" Hahaha" Izumi hanya tertawa tidak merasa bersalah sekalipun.


Aku tidak habis pikir Izumi yang sebelumnya pendiam dan anti sosial, sekarang sudah berubah.


Dirinya sekarang sudah terbiasa berbaur dengan orang lain, bahkan sudah berani masuk ke sebuah klub dengan kemauannya sendiri.


Pelatihan kami selama ini sepertinya membuahkan hasil.


" Ya sudahlah, menyenangkan hati orang dapat pahala" Ucapku menghibur diri


" Ah, aku mau makan ramen untuk makan malamku " Ucapnya spontan tanpa beban.


Sialan anak nakal ini.


" Tidak ada makan malam untuk mu !!" Candaku.


Aku pergi berlalu sebelum di cegat lagi oleh mereka, karena tidak memberikan mereka tontonan yang menarik.


" Pakai ebi dan telur separuh matang!!" Teriak Izumi lagi ketika aku keluar dari lapangan.


*****


Aku pergi menemui Alan yang masih berdiskusi dengan Ketua Klub Ksatria, di ruangan Mereka.


Alan memperkenalkan kami berdua. Aku jauh merasa nyaman dengan Ketua mereka ketimbang pelatih dan anggotanya.


Ketua ini bernama Vincent, wajah tampan sekelas Alan. Mereka adalah teman masa kecil dan sangat akrab.


Sang Ketua jauh berbanding terbalik dengan semua anggotanya tadi. Pria ini terlampau baik sampai ke taraf emosi ku yang sebelumnya akibat arogansi anggotanya, sampai hilang terlupakan hanya dengan mendengar suara lembutnya.


Agar tidak mengganggu, aku duduk sedikit lebih jauh dari mereka. Aku memilih bangku panjang dan membaringkan tubuhku, mencoba mengistirahatkan tubuhku.


Sampai beberapa menit kemudian aku di bangunkan oleh Alan, diskusi mereka sepertinya berlangsung sukses dan tampak mencapai kata kesepakatan.


Aku tidak akan mencari tau apa yang sudah mereka diskusikan, aku tidak mau terlibat dalam hal apapun tentang mereka, meski Ketua mereka sangat ramah sekalipun.


Kami pamit sebelum pergi keluar ruangan dan saling menjabat tangan. Aku tidak percaya dengan tangan yang lembut itu, dia mampu mendapatkan jabatan sebagai ketua Klub, aku juga tidak akan memikirkan kemungkinan cara curang sampai ia mendapatkan posisinya sekarang.


Kami pergi dari lokasi ini dengan di antar olehnya sendiri dan 2 bawahannya.


Dan ketika kami melewati lapangan, langkahnya langsung berbalik. Merasakan ada masalah, rombongan ini langsung menuju kelapangan.


Mau tidak mau aku pun mengikuti mereka.


" Ada apa dengan keramaian ini, pelatih? Aku kira anda sedang melatih para anggota baru sekarang. Lalu kenapa anak didik anda sampai tidak sadarkan diri seperti ini ?"


" Itu... Eh... Itu... "


Pelatih tidak dapat berkata apa-apa, sepertinya dia merasakan penyesalan karena perbuatannya sendiri.


" Ada apa ?" Vincent mulai mencurigai sesuatu ketika semua orang tidak mampu menatap matanya, terlebih pelatih mereka yang berbadan besar itu sampai di buat diam dan mati kutu.


" Hey, aku bertanya. Tidak kah kalian akan menjawabnya?"


Aura disekitar Vincent langsung berubah 180°. Sisi lembutnya lenyap begitu saja.


Tetapi aku tidak peduli, lagipula bukan aku yang menjadi sasarannya. Jika mereka menunjuk ku, akan ku tunjuk balik mereka.


" Aa... Boleh aku bicara ?"


Aku sampai lupa!!, ada dia juga disini. Sialan, awas saja jika kau bicara yang bukan-bukan Sialan !!


" Teruskan !!"


" Terimakasih, kapten. Sebenarnya temanku datang berkunjung untuk melihat lihat bagai mana kita berlatih. Tetapi secara tidak sengaja, dia terlibat dalam satu pertandingan singkat dengan orang ini"


Izumi menunjuk wajah orang yang pingsan dengan pedang kayunya.


" Sekarang aku mengerti, lalu dimana teman mu itu. "


" Oh, Rion. Kau kembali ?, kau berubah pikiran ?"


Aku menggelengkan kepalaku yang mulai pusing, sepertinya Migrain ku kambuh. Aduh duh...


" Ah~~ "


" Izumi, semua ini terjadi juga karena kau juga "


Aku melompat kearah Izumi dan kembali mengguncang tubuhnya lebih kuat.


" Aku jadi lapar. Aku mau ramen sekarang juga!!"


Sorak nya girang. Sepertinya anak ini tidak mengerti situasi sekarang. Bagaimana caranya aku akan menyadarkannya.


" Ramen ?"


Vincent yang kembali ke mode damainya merasa lebih tertarik dengan Ramen ketimbang anggotanya yang terkapar.


" Oi, Izumi. Lihat apa yang kau lakukan. Semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak menyeret ku." Bisik ku.


" Eh, tapi wajahmu terlihat seperti kau ingin bergabung, apa aku salah ?"


" Tentu saja salah, bodoh. Sebelumnya kan aku sudah bilang, aku tidak akan bergabung di klub bela diri manapun lagi kan ?"


" Maaf aku lupa!"


Aku menyerah, aku pasrah. Temanku yang satu ini sudah rusak. Tidak ada bengkel yang mampu memperbaikinya.


Ada yang mau tukar tambah teman disini ?!!


Aku ingin berteriak begitu sekarang, tetapi jika kulakukan aku akan di anggap sinting oleh semua orang.


" Rion-San, tentang Ramen tadi..."


" Itu adalah makanan khas dari tempat kami berasal, terdiri dari tepung yang diolah menjadi mie, di siram dengan kuah kaldu dengan rempah. Dihiasi dengan rumput laut, udang, tepung bahkan apapun yang kau suka" Izumi menjelaskan.


" Aku ingin mencobanya, bagai mana? Apa bisa sekarang?"


" Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin bagi kawanku ini"


Oy!!!


Aku bisa saja berbohong dengan berkata, tidak bisa!! Tetapi wajah polos yang terlihat sangat menantikan nya itu, meluluhkan hatiku yang rapuh ini.


Dengan menyesal aku mengiyakannya.


Hari itu kami makan siang dengan Ramen.


Dan semenjak hari itu juga semua orang ketagihan dengan Ramen.