7 SLEEPER

7 SLEEPER
Berangkat !!



Sudah lama kami menginap di mansion megah milik Tuan Alberd, kami sampai sudah menghapal seluruh wajah dan nama semua karyawan di mansion.


Kami juga sudah terbiasa dengan aktifitas di sini, dan mereka juga sudah terbiasa dengan keberadaan kami. Seakan akan kami sudah menjadi bagian dari Mansion ini.


Sebenarnya masih banyak yang ingin kulakukan di kota ini, namun sekarang bukan waktunya.


Menurut surat yang datang hari kemarin, sebuah rombongan dari ibu kota akan datang dalam beberapa hari dari tanggal yang tertera di dalam surat.


Rombongan ini yang nantinya akan membawa semua tahanan berbahaya untuk di adili di Ibu Kota. Sebab hanya pengadilan di ibukota saja yang sanggup untuk mengadili penjahat sekelas buronan dengan harga tinggi.


Dalam beberapa hari itu juga kami bersiap untuk membeli stock lagi.


Dengan uang hadiah dari operasi yang lalu, sedikitnya mampu memenuhi kuota untuk stock makanan.


Ada beberapa orang tambahan yang nantinya akan ikut ke ibu kota, karena itu kami harus belanja banyak.


Semua pemilik toko yang baik hati juga memberi kami diskon untuk keseluruhan barang.


Meski sudah belanja banyak tetapi itu hanya cukup untuk perjalan ke ibukota saja, bahkan tidak mendekati kuota awal.


Di saat itu juga kami sadar. Bahwa total awal yang kami bawa membutuhkan uang yang sangat banyak.


Tapi tenang saja, kami dengar di ibukota nanti kami akan mendapatkan lebih.


Tapi tetap saja kami butuhnya sekarang, bukan nanti.


Sebenarnya kami bisa saja mengambil misi dan mendapat bayaran. Namun penguasa kota ini yaitu Tuan Alfred melarang kami keluar gerbang tanpa tau alasannya.


Sebagai gantinya, Tuan Alfred bersedia menanggung semua belanja kami. Tentu saja kami menolak, aku terutama. Karena aku tau, uang itu adalah uang rakyat yang pastinya lebih cocok digunakan untuk kepentingan rakyatnya.


" Tenang saja, ini adalah uang ku sendiri yang ku tabung karena aku tidak tau harus beli apa. Setidaknya anggap saja rasa terimakasih ku yang paling dalam."


" Tuan Alfred, anda sangat pemaksa, meski jumlahnya menggiurkan tetap saja aku tidak bisa menerimanya, demi perasaanku"


" Perasaanku juga di pertaruhkan disini. Dilain sisi aku tidak bisa tidak menghargai penolong kami, jadi terimalah. Jika jumlahnya masih kurang, kami akan mengirimnya lagi nanti "


" Aku mau pulang saja "


" Tu.. Tunggu sebentar... " Tuan Alfred menahan tanganku ketika aku hendak pergi.


" Tuan, anda sangat pemaksa sekali. Sudah kubilang aku tidak butuh"


" Setidaknya katakan apa yang harus ku lakukan untuk berterima kasih atas semua jasa-jasa yang sudah anda berikan. ?!"


Pak tua ini, aku paling malas dengan beginian.


" Yah sudah... Aku menyerah. Tapi tetap saja aku tidak akan menerima satu keping pun dari tumpukan itu"


" Ah, kalau itu aku tidak bisa mengabulkannya "


Tanpa berkata-kata lagi Aku pergi dari sana meski harus menyeret Tuan Alfred ikut.


*****


Beberapa penjaga mencegat ku di depan gerbang mansion ketika Tuan Alfred bergelantung di kakiku.


Pemandangan tidak sedap itu di tonton orang banyak. Sebenarnya seberapa keras kepalanya orang Tua ini.


******


Aku kembali di bawa ke dalam ruangan sebelumnya. Semua orang tampak gelagapan dengan kejadian ini.


" Dengar, aku benar-benar tidak bisa menerima koin-koin ini. Banyak alasan yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu"


" Setidaknya anggap saja sebagai rasa Terima kasihku "


" Ah, mulai ke awal lagi.. " Aku kembali bangkit dan langsung di hentikan oleh lebih banyak orang.


" Dengar, sebelumnya aku sudah di beri hadiah, dari guild aku juga mendapat uang atas misi kemarin. Sekarang datang lagi ini yang aku sama sekali tidak tau atas apa tiba-tiba di beri hadiah yang menggiurkan."


" Ah itu.. " Tuan Alfred ingin mengatakan lagi kalimat yang tadi namun ia dengan sigap menahan sikapnya.


" Dengarkan aku disini, aku ini meski sedang membutuhkan uang uang, aku tidak akan menerima uang dari orang yang lebih membutuhkan. Anda bilang Anda sedang membutuhkan uang untuk membangun sekolah dan pertanian kan ?"


" Untuk hal itu aku tentu saja sudah memisahkannya. Semua pekerja dan bahan material sudah semua."


" Hah... Dengar... Anda baru saja merintis bidang yang sebelumnya belum Anda sentuh, nantinya akan ada beberapa keperluan tak terduga dan membutuhkan banyak uang, dan uang ini pasti akan mampu menutupi itu semua"


" Tenang saja, seperti yang sudah saya katakan, semua itu sudah diperhitungkan dengan matang, bahkan sampai data kerugian yang jika nanti gagal panen, semua itu sudah diperhitungkan dengan matang."


Ahg... Kepalaku


" Kenapa tidak di Terima saja. ?!!, jika di teruskan ini tidak akan selesai sampai rombongan dari ibukota datang"


" Aku menyerah... "


" Terima kasih atas pertimbangannya "


" Seharusnya itu kalimatku " Ucapku lemas, sungguh untuk membahas hal ini saja sudah membuatku lelah.


*****


Beberapa hari kemudian rombongan yang di nanti datang membawa ratusan prajurit berkuda, di antaranya membawa kereta yang menarik jeruji besi.


Banyak warga yang datang memenuhi jalanan untuk melihat rombongan dengan pakaian mewah dan armor mengagumkan dari tentara berkuda.


Semua orang bersorak suka cita terlebih ketika para rombongan ikut membalas sorakan mereka dengan lambaian.


Sampai akhirnya aku menyadari dari rombongan itu terdapat satu wajah yang familiar.


Seketika ku pacu kaki-kaki ini mendekat. Dengan kecepatan yang tidak biasa ku pacu ku dekati pria itu dengan cepat.


Dari kejauhan aku bisa melihat pria itu sadar akan diriku dan diapun turun dari kudanya. Dengan sikap yang sama di melesat dengan kecepatan yang sama.


Semua orang dan rombongan tidak mampu bereaksi dengan cepat dengan apa yang sedang mereka lihat.


Di pertengahan jalur  kami bertukar pukulan dan tendangan lebih cepat dari reaksi semua orang.


Aku tau hal ini akan menimbulkan kepanikan dan kehebohan.


Namun yang satu ini sudah menjadi tradisi kami.


Pukulan demi pukulan dari jurus yang sama saling membentur menghasilkan suara keras dari tulang bertemu tulang.


Jalanan kini menjadi hening dan mereka hanya dapat mendengar suara pukulan dan tendangan kami. Setelah dirasa puas kami berhenti dan saling berpelukan seperti tidak terjadi apa-apa.


Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar dari semua orang.


Bagaimana tidak, seorang pemuda dengan berani menghentikan rombongan tentara seorang diri dan sempat bertukar pukulan dengan orang paling besar di antara mereka.


Namun kekhawatiran mereka terpatahkan ketika Tuan penguasa kota ini datang dari belakang mereka dengan beberapa pengawalnya.


" Selamat datang Kazuma San dan rombongan, kami sudah menunggu kedatangan anda"


Tuan Alfred turun dari kudanya dan menyalami Ayah yang masih ku peluk erat. Aku tidak mau moment mengharukan ini terlewatkan, sudah hampir lima tahun kami tidak berjumpa.


Aku tidak percaya orang yang pertama yang kutemui di kalangan orang yang kukenal adalah Ayahku sendiri.


Tawanya masih sama dengan tawa di ingatanku, pelukan lembutnya juga masih sama, yang berbeda hanyalah tinggi badan dan masa ototnya yang semakin menakjubkan.


" Keras.. "


" Hahahaha aku tidak malas malasan selama di sisi. Aku masih melatih mereka lihat ini... "


Dengan masih di pelukanku Ayah memamerkan massa otot yang seakan berteriak itu.


Tentu saja itu membuatku panas.


" Jika kau punya banyak waktu luang untuk ototmu, setidaknya pulanglah untuk melihat perkembangan anak anak mu yang tengah beranjak dewasa, sialan"


" Hehe maaf "


Tertawa polos itu masih saja membuat ku kesal meski sebelumnya sering kulihat.


Ku turunkan lingkaran pelukanku ke pinggang nya, lalu dengan segenap tenaga ku tendang tanah di pijakan ku dan ku tarik tubuhku kebelakang, alhasil tubuh raksasa itu terangkat. Tak cukup sampai di sana, ku tambahkan lebih banyak tekanan  pada tubuh bagian bawahku dan ku banting kebelakang.


Tanpa sempat dia sadari tubuhnya sudah di ambang terhempas. Di detik kemudian sebuah tubuh tertanam di jalanan.


"" Heeee!!! ""


Tentu saja reaksi itu yang kudapatkan jika melakukan hal berbahaya seperti membanting seorang petinggi bahkan menanamnya ke lantai, terlebih dalam acara kunjungan resmi.


Aku sedikit merasa tidak enak dengan Tuan Alfred selaku penguasa kota ini yang harus turun tangan menenangkan warganya.


Setidak nya diriku ini sudah merasa sedikit puas.


*****


Kami kembali melanjutkan perjalanan ke kediaman Tuan Alfred.


Dan sebagai permintaan maaf dari ku, aku menyuguhkan minuman khas dari Negeri ku tercinta.


Bersama Tuan Alfred dan masing-masing pengawal setianya, kutinggalkan beberapa botol sake dan Brandy untuk mereka, serta beberapa cemilan yang pas untuk di nikmati dengan alkohol.


Dan kutinggalkan mereka yang tengah menikmati acara reuni mereka.


Lalu bagai mana dengan ku?


" Kau tidak ikut berkumpul?, kupikir kau akan terus menempel pada ayahmu yang sudah lama tidak bertemu" Tanya Izumi heran melihatku yang bergabung dengannya ketika sedang latih tanding dengan 2 kubu prajurit.


" Itu tidak perlu, mulai dari sekarang aku bisa kapan saja bereuni. Yang lebih penting lagi bagai mana dengan kalian, kalian bahkan sampai ikut terlibat dengan keegoisan pribadiku"


" Aku sama sekali tidak rindu rumah, tenang saja sedari awal diriku sudah bertekad untuk mengikuti mu sampai semua ini berakhir"


" Wuah, kau bahkan sampai merubah gaya bicara mu. Padahal sebelumnya kau bahkan sama sekali tidak bicara "


" Semua orang pasti akan berubah, hanya saja mereka butuh waktu " Izumi membela diri.


" Aku yakin, Momo lah yang merubah mu bukan ?"


" Aku tidak akan menyangkal "


" Hahaha kau ini gampang di tebak "


" Apa yang sedang kalian bicarakan "


Entah dari mana Momo datang dengan rombongannya. Beberapa gadis seumuran yang selalu mengikutinya belakangan ini.


" Dan yang ketiga... Karena aku mencintai Momo lebih dari apapun " Mata indah Izumi di balik kacamatanya itu, menatap lembut kearah Momo yang tersipu.


Momo yang mendapat serangan kejutan tak mampu menyembunyikan rasa malunya. Secara sepihak biasanya dirinya lah yang menyerang, dia bahkan tidak mengira akan mendapatkan serangan balasan dengan kritikal melebihi serangan Combo.


Tanpa berkata sepatah katapun Momo terus melanjutkan perjalanannya di ikuti rombongan gadis yang berteriak menggoda.


" Waw, sepertinya itu kritikal " Godaku dengan menyelipkan istilah dalam game.


" Sepertinya begitu " Jawab izumi puas.


Aku tidak akan mengomentari tangannya yang gemetar, mari kita simpan untuk rahasia kita saja.


*****


Tiga hari kemudian kami berpamitan dengan semua orang. Meski Sebelumnya kami sudah berpamitan keberbagai tempat yang sudah kami kunjungi sebelumnya, namun wajah-wajah mereka kembali terlihat di kediaman ini.


" Jaga kesehatanmu, jangan sungkan untuk kembali walau hanya sekedar menyapa " Ujar Tuan Alfred


" Tidak mungkin aku jauh jauh datang kemari hanya untuk menyapa " Balas ku


" Hahaha kalau begitu, datanglah lagi untuk bermain" Ujarnya lagi memperbaiki kalimatnya sebelumnya.


" Akan ku usahakan. "


" Kawan, jaga kesehatanmu, dan jangan berkeliaran sendirian, pastikan kau bersama dengan orang lain ketika bepergian "


Kali ini giliran Ayah yang di salami.


" Hahaha kau pikir aku ini bocah lima tahun sampai harus selalu di kawal ?"


" Tidak, aku khawatir kau akan tersesat lagi seperti kunjungan sebelumnya"


" ...... "


" ...... "


" a.. Aku tidak ingat kejadian itu pernah terjadi"


Ayah membuang muka dan pergi menaiki kudanya.


" Huh, sudah tua masih saja suka tersesat, memangnya Ayah itu anak umur Lima tahun ?" Ejek ku melempar lelucon.


Tetapi semua orang memasang wajah khawatir kearah ku seakan berkata, 'ayah dan anak sama saja'.


" Oy, tidak sopan !! " Bentak ku


Ya sudahlah, mari kita kembali ke acara utama.


Kami di antar dengan iring-iringan pawai menuju pengawalan barisan depan.


Di dekat gerbang aku dapat melihat wajah-wajah segar anggota guild berkumpul memenuhi sisi jalan.


Mereka bersorak keras secara bersamaan. Meski tidak jelas namun mereka mengatakan akan menunggu kedatangan kami lagi di masa depan.


Aku pun membalas kebaikan mereka dengan lambaian tangan. Mereka sudah banyak berjasa dalam mengajari kami kode etik dan cara berburu mereka. Meski setelah itu kami menjadi tahanan rumah dan tidak bisa berburu lagi.


Mereka adalah senior yang baik, jika meng kesamping kan wajah mereka yang terlihat sangar.


Sejauh ini sudah semua orang yang aku sapa. Hanya sisa satu orang yang sedari kemarin belum aku lihat batang hidungnya.


Yup, benar. Sang Ninja kesayangan kita. Konoha chan.


Padahal aku sudah bilang untuk datang di acara perpisahan ku.


Apa dia tertidur di suatu tempat ?, entahlah.


Namun sampai acara puncak bahkan sampai kami rombongan kami mulai berjalan, aku sama sekali tidak melihat gadis itu.


Sedikit sedih, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Selepas keluar dari gerbang, sepasang kakak beradik di hari aku di hukum menunggu dengan wajah cemas di belakang tentara yang mengawasi jalanan.


" Sebentar, kalian duluan saja "


Melihat diriku yang keluar dari barisan dan menghampiri mereka, raut wajah mereka menjadi gembira. Tentu saja aku juga, mereka datang untukku.


Aku turun dari atap gerbong dan datang menyapa kakak beradik itu.


" Kalian datang untuk mengantarku  ?"


Sang kakak tidak menjawab dan hanya tersenyum bangga sembari memberikan dorongan pada adik kecilnya.


Dengan gugup dan ragu-ragu Sang adik memberikan sebuah kotak kemasan padaku.


" Ucapan Terima kasih atas ice krim waktu itu. Meski bentuknya tidak menarik, tapi soal rasa aku berani menjamin nya " Sang Kakak menjelaskan.


Ah... Begitu...


" Terima kasih banyak, aku akan menikmatinya nanti, sebagai gantinya Terima ini sebagai tanda bahwa aku pernah kemari "


Sebuah boneka beruang lucu yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya ku berikan untuk sang adik.


" Beruang  !!" Sang adik sangat menyukainya. Sedangkan Sang kakak sedang memijat dahinya.


Apa aku berbuat salah.


" Benar juga aku sama sekali belum tau nama kalian. "


" Ah, namaku Jhon, dan adik ku Mimi "


" Baiklah Jhon, jaga selalu Mimi untukku. Lain kali aku datang kemari aku akan memeriksanya apakah kau melakukan tugasmu dengan benar"


" Serahkan padaku " Jawab Jhon mantap.


" Kalau begitu aku pamit, jaga kesehatan kalian "


" Kebelet eek ?"


" Mana mungkin, Ayah bodoh!!"


" Lalu apa?"


" Hanya menemui teman kecil yang bertemu beberapa waktu yang lalu "


" Kau sudah pamit dengan benar?"


" Jangan remehkan aku"


" Lalu apa yang ada di tanganmu  ?"


Benar juga, saking senangnya aku sampai lupa jika kado ini terus aku genggam.


Ketika di buka.


" Apa ini.. ?" Wajah Ayah terlihat kebingungan setelah ikut mengintip isi bingkisan.


Aku sebenarnya juga menanyakan hal yang sama, namun dari aromanya tercium aroma karamel yang sedikit hangus.


Ku beranikan diri untuk mendorong makanan itu ke mulutku, karena Jhon bilang rasanya sangat terjamin.


Hup. Dan benar, dari gigitan pertama saja sudah dapat dirasakan betapa nikmatnya kue-kue itu.


" Jadi ini cupcake. "


Ayah yang mendengar ucapanku mencoba mencuri kue-kue ku ketika aku sedang menikmati nya.


" Enak, padahal bentuknya seperti ini "


" Ya kan, padahal ini di buat oleh gadis Lima tahun loh "


" Kau meminta anak umur lima tahun membuat makanan untuk mu ?"


" Tentu saja tidak, aku saja baru tau tadi ketika aku tidak sengaja melihat mereka."


" Benarkah  ?"


" Tentu saja, untuk apa aku berbohong"


" Cih, padahal aku ingin membalas yang waktu itu jika kau berbohong "


" Ayah pikir aku akan membiarkannya ?"


" Kita lihat saja nanti "


Aku nyaris menghabiskan hingga kue terakhir jika saja Ayah tidak mencurinya dari tanganku, dan langsung memakannya sampai habis.


Wajah intimidasi nya ketika menjilati tangannya sangat menggangguku.


Setelah setengah jam melakukan perjalanan dengan rombongan seperti ini. Kami merasakan beberapa orang sedang memperhatikan kami. Aku tau sebenarnya posisi mereka. Namun ayah menghentikan ku, pandangannya menjelajah ke sekitar.


" Hentikan keretanya. "


Ayah turun dari kudanya dan membawa beberapa prajurit bersamanya masuk ke dalam semak yang mencurigakan. Setelah beberapa saat suara teriakan mereka terdengar bersamaan dengan suara jatuh yang besar.


" Huh... " Aku menghela nafas panjang.


Beberapa prajurit lainnya ikut turun dan bergegas menuju ke sumber suara, namun aku dengan cepat menghentikan mereka.


" Konoha chan itu kau kan ?"


Aku menatap tajam pada sebuah pohon yang kurasa ganjil dari pohon yang di sebelahnya.


Lama ku nanti setelah panggilan pertama. Namun tidak ada respon, tetapi aku yakin jika sensasi auranya sangat mirip persis.


Ku raih pisau lempar dari inventori ku dan ku lemparkan ke dahan lebat pohon yang mencurigakan itu.


Tak lama pisau yang ku lempar itu membentur benda logam dari suaranya. Dan pisau lempar lainnya datang tepat kearah ku.


Tanpa perlu panik ku raih katana dari inventori ku dan ku tepis rentetan serangan yang di arahkan hanya padaku.


Melihat hal ini pasukan yang terlambat menyadari adanya penyerangan turun dari kereta mereka dan membentuk formasi dengan cepat.


" Tidak perlu khawatir, itu adalah teman."


" Tapi, Tuan muda, teman tidak mungkin menyerang teman "


" Ya, ada benarnya. Tetapi yang satu ini adalah cara mereka memberi salam, benar begitu kan Konoha chan "


Dengan raut wajah cemberut gadis bernama Konoha itu keluar dari persembunyiannya dan melompat keluar dari dedaunan yang lebat.


Gadis itu mendecakkan lidahnya.


" Wooaa... !! "


Seorang prajurit yang paling dekat darinya terkejut dan jatuh dengan bokongnya.


" Seperti yang sudah di duga dari orang yang mampu menemukanku meski sudah menghapus kehadiran sekalipun "


" Kau terlalu memuji, lalu ada apa ? Kau tidak datang hanya untuk mengagetkan kami bukan ?"


" Aku tidak Se senggang itu sampai harus repot-repot seperti  ini hanya untuk menemui mu"


" Benarkah ? Padahal aku sangat kesepian karena tidak menemukanmu ketika aku berpamitan. Kupikir kita sudah sangat akrab sampai-sampai aku sudah mempersiapkan kado perpisahan untuk mu "


" Huh, aku tidak butuh... Lagi pula kita sama sekali tidak akrab untuk memberi salam perpisahan bahkan kado sekalipun" Ujar Konoha dengan mempertahankan sikap Malu-malu nya.


" Ha~~ah. Sayang sekali, padahal aku sudah mempersiapkan Tuan beruang ini khusus untukmu"


Di detik kemudian boneka beruang lenyap dari tangan ku dan sebuah bayangan melesat menyambar boneka itu dari tanganku.


Konoha tampak terpesona dengan kado perpisahannya ketika bersembunyi di belakang pohon tempat ia turun tadi.


Ia sesekali membuat suara lucu ketika berbicara sendiri dengan Tuan Beruang.


" Kau suka ?" Godaku


Konoha mengintip dari balik batang Pohon tempat ia bersembunyi.


" Terima kasih " Jawabnya malu-malu sambil memalingkan wajah kearah lain.


" Sama-sama "


Syukurlah dia suka dengan hadiahnya, kupikir dia akan marah karena memperlakukannya seperti anak-anak.


Sekarang kembali ke topik awal.


" Bukankah sudah waktunya untuk memperkenalkan kami dengan teman-teman mu?, Konoha chan?"


" Ah, aku sampai lupa." Konoha keluar dari persembunyiannya sembari menggendong boneka beruang itu di punggungnya.


Desain boneka itu sengaja aku buat lebih besar dari ukuran tubuhnya, karena aku berfikir mungkin saja akan di gunakan sebagai pengganti Guling.


" Ehem... Maaf karena telat memperkenalkan diri. Izinkan aku memperkenalkan teman-temanku "


" Anzu " Seorang berperawakan kecil langsing dengan kostum serba Hitam turun dari dahan pohon.


" Liu-Liu " Sebuah gumpalan pekat perlahan muncul dari bayangan Anzu dan semakin lama mulai membentuk sosok manusia.


" Koji " Dari Tanah di samping kedua orang sebelumnya terlihat mulai retak, dan dari retakan yang mulai membesar itu keluar sosok pria berotot dengan cadar.


Konoha memperkenalkan teman-temannya yang nyentrik satu persatu.


" Dan Master dari Clan kami. Hanzo Sama "


Semua orang menunggu kemunculan epic dari orang terakhir yang di sebut Master.


Namun setelah beberapa detik menunggu, tidak ada apapun yang terjadi. Semua orang merasa tertipu dan kecewa, namun tidak dengan ku.


Aku bisa merasakan kehadiran orang itu dengan jelas, meski wujudnya terasa samar karena orang itu berkamuflase dengan udara.


" Salam kenal, senang bertemu dengan anda Tuan Hanzo "


Ketika aku berkata seperti itu dengan masih dari posisi ku di awal, ku angkat tangan kananku keatas setinggi yang aku bisa, lalu dengan cepat ku tarik kaki kiriku kebelakang. Tangan kiriku seakan merasakan sensasi tubuh ketika ku turunkan, tanpa membuang waktu ku tangkap dengan tangan kiriku.


Sedangkan tangan kananku ku tarik dengan cepat. Dan ku hentikan di tengah jalan.


" Kau bisa melihatku ?" Suara serak dari pria di ujung 20an mengomentari diriku yang mampu menahan serangan kejutannya.


Semua prajurit tersentak ketika dari sumber suara itu muncul seorang berperawakan besar yang sedang di kunci oleh ku.


Tangan kanan orang itu ku peluk di ketiak kiriku, sedang kan tangan kanan orang itu sedang menahan lutut ku yang nyaris mendarat di dagu nya. Dan yang terakhir siku tangan kananku berhenti beberapa senti sebelum mendarat di ubun-ubun orang yang di panggil Hanzo ini.


" Sekarang aku mengerti alasan sebenarnya Konoha sampai heboh seperti itu "


" Oo~ gadis itu cerita apa saja ?"


Aku melepaskan kuncian ku, karena dirasa semuanya sudah berakhir.


Salam yang cukup meriah.


Setelah itu, sekali lagi mereka semua memperkenalkan diri dengan benar. Tanpa trik lagi tentunya.


" Saya mewakili semua yang ada disini meminta maaf atas kegaduhan yang kami buat dan juga permintaan maaf karena menyita waktu anda sekalian yang berharga. "


Ucap Tuan Hanzo  ketika mereka berlutut dengan satu kaki disana.


" Jangan dipikirkan, malahan sebaliknya. Aku secara pribadi merasa beruntung seorang pemimpin clan besar secara pribadi menghampiri kami secara khusus."


" Terimakasih dari lubuk jati yang terdalam atas kemurahan hati anda atas ketidak sopanan kami "


" Lalu, ada perlu apa dengan kami sehingga Tuan Hanzo sendiri sampai turun tangan untuk menemui kami secara khusus ?"


" Untuk hal itu, secara khusus saya mengakui kehebatan dan ketajaman indra dari anda, Tuan "


" Tuan ? Maksudnya aku ?"


" Seperti yang sudah anda perkirakan, kali ini kami semua sebagai pengawas ujian sudah memberikan penilaian khusus semenjak anda dan rombongan keluar dari gerbang kota. "


" Ujian ?, tunggu sebentar, jangan bilang... "


" Dengan kata lain, kau lulus dengan nilai sempurna !"


Di belakang Tuan Hanzo, Konoha ikut menyahut. Tuan Hanzo tampak mengirimkan tatapan tajam padanya, sedangkan Konoha yang merasa dipelototi membuang muka kearah lain.


Yoshaaa!!!


Aku ingin sekali meneriakkan itu, tetapi tidak akan sesuai dengan kode etik Shinobi yang selalu sunyi senyap.


Disisi lain, aku masih punya tujuan awal. Memang ajakan mereka sangat menggiurkan, tetapi nyawa sahabatku saat ini sedang dalam bahaya.


Bagai mana ini, batinku sekarang sedang berontak. Aku sangat ingin masuk kedalam organisasi mereka.


Apa ku Terima saja ? Tidak. Ku tolak saja, tapi sayang sekali.


Agh...


Huuuu... Haaaa...


Huuuu... Haaaa...


Aku berlutut dihadapan mereka mengikuti sikap yang sama.


" Hanzo dono, suatu kehormatan besar untuk dapat diakui langsung oleh Orang hebat seperti anda. Namun dengan sungguh, di suatu tempat di hatiku ada hal lain yang tidak kalah penting dengan bergabung di dalam kelompok yang anda dirikan. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat izinkan saya untuk menolak, setidaknya untuk sekarang ini, jika anda tidak keberatan"


Ya, benar. Tidak ada waktu untuk kesenangan ku saat ini. Belajar dari Ninja yang Asli memang menggiurkan, tapi... Keselamatan Rin saat ini di pertaruhkan.


Aku tidak bisa ber leha-leha sementara Rin masih dalam bahaya. Di suatu tempat di dunia ini orang orang yang mengincar Rin masih berkeliaran dengan bebas.


" Jika itu yang anda katakan, aku selaku pemimpin sekalipun tidak dapat memaksa seseorang "


" Mohon maaf yang sebesar besarnya."


" Tidak perlu sungkan seperti itu, meski sangat disayangkan. Namun untuk yang satu ini saya harap anda tidak akan menolaknya " Dari balik seragam hitamnya Tuan Hanzo mengeluarkan sesuatu seperti gulungan kertas Ninja.


" Anggap saja sebagai salam perkenalan dari saya pribadi "


" Kalau begitu aku tidak akan sungkan menerimanya, akan ku jaga dengan baik "


" Terima kasih atas perhatiannya. Kami mohon undur diri, sampai jumpa di lain waktu "


Setelah berkata seperti itu. Tubuh mereka perlahan seperti melebur bersama udara dan di detik kemudian bayangan mereka berubah menjadi dedaunan yang ringan, saking ringannya dedaunan itu terbang terbawa angin bagaikan sedang pawai dan bermanuver.


" Sepertinya putraku mendapatkan kenalan orang yang tidak biasa "


Ayah keluar dari semak-semak sambil menyeret kerah dua prajuritnya.


Ayah melepaskan kedua orang itu sedangkan prajurit yang lain memeriksa kondisi teman mereka yang tak sadarkan diri.


" Ayah kenal orang orang tadi ?"


" Ayah hanya tau namanya saja, itu adalah organisasi yang sudah ada sejak lama. Meskipun mereka tidak mempunyai wilayah nya sendiri namun yang ku dengar dari beberapa informan bahwa saat ini mereka sedang membuat sebuah desa di kedalam hutan. Mereka juga menampung orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena kekejaman perang "


" Benarkah ?"


" Itu yang ku dengar "


" Wah.. "


" Kau tertarik ?" Tanya ayah ketika aku membuka isi dari gulungan yang baru saja ku Terima.


" Sangat tertarik "


" Aku tidak akan menghentikan mu jika itu memang kemauan mu, tetapi apa kau yakin ?"


" Aku memang bilang aku tertarik, tetapi aku tidak bilang jika aku akan menerimanya sekarang "


" Aku mengerti "


Ayah menepuk bahuku dengan lembut dan juga mengusap kepalaku. Kemudian berbalik kearah rombongan seraya menginstruksikan bahwa perjalanan segera di lanjutkan lagi.


Tidak sampai Lima menit kemudian, rombongan kembali melanjutkan perjalanan, masih akan lama untuk sampai ke ibukota.


*****


Dari kejauhan, Hanzo dan bawahannya datang untuk melihat kepergian Rombongan Rion dari atas pucuk pohon di kedalaman Hutan.


Dan terdapat percakapan pendek mereka yang tidak bisa di dengar oleh Rion.


" Tuan, apa yang sedang anda pikirkan ?" Tanya Anak buahnya penasaran, karena tuannya sama sekali tidak berkedip ketika melihat rombongan Rion semakin menjauh.


" Hmm...  ?!"


" Tuan ada apa ?" Koji merasa aneh dengan perubahan mimik tuannya.


" Tidak, mungkin hanya perasaan ku. "


" Ada apa ?, jika Hanzo sama merasa orang itu sedang membalas tatapan anda, anda sama sekali tidak salah. Bahkan aku yang lebih lama bersamanya sudah memastikan, kemampuan orang itu bukan sekedar isapan jempol belaka"


Anggota yang lain mengutarakan ketidak percayaan nya ketika Konoha memuji Rion dengan kata-kata seperti bualan.


" Sepertinya lagi-lagi kau menemukan orang yang menarik, Konoha San"


" Anda terlalu memuji Tuan " Jawab Konoha rendah hati.


" Dan juga sepertinya, kau sangat menyukainya... "


Konoha langsung gelagapan ketika mendengar kata suka, mulutnya terbuka lebar dan bergetar lucu.


" Beruang lucu ini maksudku "


Goda Hanzo sembari menyalami boneka beruang yang di sandang Konoha. Wajah Konoha merah padam sampai sampai mengeluarkan asap putih tipis.


Mereka semua ikut tertawa ketika momen langka itu di suguhkan kepada mereka.


Tak lama, mereka lenyap dan hanya menyisakan dedaunan yang beterbangan di tempat mereka tadi berada.