7 SLEEPER

7 SLEEPER
Felix



" Nama apa yang ingin anda berikan untuk Motor Pertama anda ?"


Rion di berikan hadiah berupa Motor pertama dan satu-satunya Di Dunia lain ini.


Belum pernah ada sebelumnya baik itu di Bumi maupun di Dunia lain. Motor pesanan khusus yang di siapkan dalam kurun waktu 1 minggu, di kerjakan oleh para ahlinya di bidang mereka masing-masing.


Motor dengan tema masa depan dengan segala macam kecanggihannya yang akan membuat siapapun juga ingin memilikinya.


Ini adalah bukti nyata betapa sayangnya seorang ibu kepada anaknya.


PS :


Bukan bermaksud, hanya saja Ibu yang satu ini sudah di luar nalar akal sehat manusia. Jadi jangan berkecil hati jika Ibu kita tidak melakukan hal yang sama, karena kita juga tidak melakukan hal yang sama dengan Tokoh Utama.


*****


Rion memikirkan dan menimbang berbagai macam Nama di kepalanya. Otak super komputernya bekerja menyamai pengolahan data pada engine pencarian.


Ratusan hingga hampir mencapai seribu Nama muncul di benaknya. Mulai dari Nama yang terdengar bagus, unik dan keren sampai Nama yang terdengar nyeleneh ikut masuk dalam data basenya.


Hingga ia tertegun ketika satu nama muncul.


" Sepertinya anda sudah menemukan Nama yang cocok "


" Yeah, aku suka yang satu ini. Terdengar mirip dengan yang ada di dunia ku sebelumnya"


Hanya butuh kurang dari satu menit semenjak otaknya mulai memproses nama-nama itu.


Dan bukan rahasia lagi jika Rion adalah mahluk dari dunia lain. Karena bukan rahasia lagi jika Ibunya Rion pernah mengunjungi Dunia Lain yaitu Bumi, dan sempat menikah dan mempunyai anak di sana.


" Lalu Nama apa yang ingin anda berikan ?"


" Itu adalah... "


"" Adalah ?? ""


" .... "


"" .... ""


" Kalian penasaran ? "


Wajah Rion yang tadinya selalu tampak menahan senyum kini berubah menjadi jahil dan menyebalkan.


Membuat orang-orang yang ada di sana sedikit jengkel seperti yang ia harapkan, hingga ia tertawa puas.


" Hahaha, maafkan aku maafkan aku, aku hanya bercanda, jangan marah begitu"


Meski terdengar tulus tetapi orang lain tidak bisa mengetahui kebenarannya, karena semua orang tau bahwa keluarga Kazuma di dunia ini semuanya sulit ditebak.


" Nama untuk si cantik Ini adalah... "


""....""


" FELIX "


"" FELIX "" Semua orang mengulang kembali Nama itu, di telinga mereka terdengar bagus dan mudah di ucapkan.


Mengingatkan mereka akan satu mitos di jaman dahulu. Tetapi mereka lebih memilih diam.


" Nama yang bagus "


" Benar terdengar sangar dan kuat "


" Ya, aku yakin itu akan mengamuk seperti asl(aslinya)" Beruntung temannya nya sesama peneliti membungkam mulutnya sebelum berceloteh dan membongkar lebih jauh lagi.


Beruntung juga untuk Rion tidak mendengar komentar dari masing-masing mereka, karena tengah sibuk mengagumi dan memeluk Motor masa depan itu.


" Huahahaha hahahahaha "


Terdengar suara sangar dari mesin masa depan itu yang berbicara melalui perangkat speaker.


" Sudah lama aku menunggumu, Master... "


" Wuooo, ini bisa bicara, tidak kusangka di instal perangkat AI juga. Kalian yang terbaik " Ucap Rion dengan takjub dan menghadiahi Dua jempol atas kinerja para peneliti.


Tanpa di sadari, semua orang selain Rion terlihat Pucat pasi, apalagi sebuah tekanan besar muncul bersamaan dengan datangnya suara dari dalam Motor ciptaan mereka.


Mereka sangat yakin itu adalah aura menyeramkan yang berasal dari monster yang bukan sembarangan, meski mereka tidak tau monster apa yang berani merasuki Maha Karya yang mereka ciptakan.


Tetapi mereka sama sekali tidak punya tenaga untuk berkomentar, ataupun mengentikan Rion yang kelewat senang.


" Nah master, selamat datang kembali. Senang bertemu dengan mu. "


" Oh, aku juga senang. Mulai hari ini tolong jaga aku. "


" Sama dengan aku disini, mohon kerja samanya "


" yup, kita akan berpetualang bersama, aku sudah tidak sabar "


" Tetapi sebelum itu... "


" Ada apa ? Suaramu terdengar sedih "


" Huaaaa... Aku merindukanmu, Master!!"


Suara yang Rion kira Adalah AI itu menangis sejadi-jadinya sampai bergerak-gerak seperti meronta ketika Rion masih menunggangi nya.


Yang lebih bodohnya, Rion masih berfikir itu adalah program yang di tanam ke dalam AI untuk dirinya agar serasa mereka adalah partner yang sudah lama tidak bertemu, seperti di dalam Film fiksi masa depan di layar lebar.


Rion kegirangan, mahluk yang mendiami Motornya juga kegirangan.


" Aih, cup cup cup , sudah sudah.... Jangan menangis, jangan buat pertemuan kita ini di awali dengan tangisan. "


" Tapi.. "


" Cup cup cup, " Rion kembali mengelus tangki bahan bakar yang di duga adalah tengkuk AI tersebut.


Dan benar saja, mahluk itu menjadi tenang, ia terlihat kesenangan bahkan mengerang dan ketagihan.


"" Dia menjinakkannya "" Pikir semua orang.


" Ah, benar juga, Master... Perbaiki Kontrak dengan ku lagi ku mohon "


" Hm.. Ada apa dengan kontrak sebelumnya ?"


" Tidak ada yang salah, hanya saja yang sebelumnya adalah kontrak sementara sebelum aku benar benar mempercayaimu."


" He... ??" Rion menggoda AI tersebut dan berpura pura turun dari Motor dan menjauh.


" Tu.. Tut.. Tunggu , aku tidak bermaksud... "


" Hahaha, kau ini sangat mudah di kerjai "


" Tolong jangan begitu, itu menyakiti hatiku "


" Meskipun kau adalah AI ?"


" Aku bukan AI " Jawab mahluk itu datar, dia juga terdengar menghembuskan nafas panjang.


" Ooow, pendalaman karakter ya, heee.. " Goda Rion yang sama sekali tidak mengerti bahwa semua ini adalah nyata dan bukan skenario yang disiapkan untuk dirinya.


" Yoshaa, mari kita perbaiki kontraknya. "


" Ya, ku mohon.. "


Butuh persiapan mental dari Mahluk itu, terdengar dirinya sedang mengambil beberapa nafas terlebih dahulu sebelum beraksi, butuh ketenangan batin baginya untuk memulai kembali hubungan Master dan Pengikutnya.


" Hah... Aku siap... "


" Hahahaha, kau terdengar lucu saat gugup " goda Rion.


" Ugh, tolong jangan menggoda ku "


Di detik kemudian setelah sedikit tenang, Felix memulai ritual nya. Dari atas tubuh motornya muncul lingkaran besar dengan pola rumit dan unik, terdapat beberapa kalimat yang melingkari diagram dan di percayai itu adalah isi kontrak mereka.


" Nah, Master... Mohon bantuannya "


Rion mengerti apa yang harus ia lakukan.


Maka dari itu tanpa arahan sekalipun dia menempelkan telapak tangan kanan nya di atas pola sihir berwarna biru itu.


Cahaya biru terang sewarna dengan pola sihir yang di buatnya menyilaukan pandangan Rion, dan ketika cahaya itu mulai redup, Rion dapat melihat ruangan isolasi berwarna yang sama, tampak transparan namun tidak dapat melihat ujung dari ruang yang ada di luar.


Dirinya tampak sedang di dalam akuarium besar dan mengambang di atas awan. Tampak menakutkan namun sangat mengagumkan.


Yang lebih mengesankan lagi, ruangan itu tampak seperti kamar seorang remaja laki-laki. Ada beberapa konsol game yang berserakan dan beberapa komik yang tersusun rapi di rak yang berjejer.


Juga ada futon di sebelah Televisi, sepertinya sedang berada di tengah permainan sebelumnya, karena game itu saat ini sedang dalam keadaan di Pause.


Dan... Yang lebih mengesankan lagi adalah....


Seorang anak laki-laki berumur 10 Tahun berperawakan lucu dengan Piyama hewan mirip kucing, tengah berdiri malu-malu seraya menunggu nya.


Anak itu tampak malu-malu dan terus menunduk.


" Hoh, Felix... Tidak kusangka kau punya wajah yang menggemaskan "


Rion menggoda monster kontrakannya tanpa terganggu kalau dirinya sudah di bawa secara paksa ke dunianya.


Rion bahkan tanpa segan duduk di futon Felix tanpa permisi, mengambil konsol nya tanpa permisi dan melanjutkan permainan Felix tanpa permisi.


Seperti kebanyakan orang yang urat malunya sudah putus, Rion bahkan tidak segan segan berteriak dan bersorak di kamar milik orang lain.


" Oy Felix, ke marilah... Di level ini ada tempat tersembunyi."


Bahkan saat dia didudukan di pangkuan Rion, rasa canggung nya semakin besar.


Bagaimana tidak, Felix sebenarnya adalah perwujudan Roh yang memang sedikit unik, meski mempunyai kekuatan besar namun sebenarnya adalah mahluk yang Introvert, layaknya Manusia yang menutup diri dari dunia luar dan selalu mengurung diri di kamar.


Otak super komputer Rion yang menyadari hal itu lah yang mendasari Rion saat ini berlaku sedikit agresif, karena sebelumnya dia pernah bertemu dengan orang yang serupa.


Aktif di Sosial Media namun Introvert di kehidupan nyata.


Dirinya seperti merasakan sendiri sakitnya sendirian dan tidak ada yang mau mengerti, di buli oleh orang yang sudah di anggap teman, sampai bahkan keluarga sekalipun sedikit kesulitan untuk menolongnya.


Karena itu, dia dengan sigap akan kembali menyelamatkan anak yang tidak bersalah seperti Felix dan Izumi.


Sebenarnya, alangkah baiknya jika kejadian itu tidak akan pernah terjadi kepada siapapun. Namun dunia yang indah seperti itu tidak akan pernah di temui dimanapun.


" Dengar Felix, aku tidak tau apa yang membuatmu menutup diri. Jika kau mau aku bisa menjadi teman bicaramu, jika ada solusi aku bisa membantumu. "


" ..... " Felix hanya diam seribu Bahasa


" Dengar, kau tidak perlu segan-segan, aku ini bukan orang lain. Kita sudah menjalin kontrak, jadi tidak perlu segan lagi. Atau...."


" !!?? "


Felix terkejut, ketika dirinya di apit dengan paha Masternya. Dan di detik kemudian jemari jemari Rion dengan lancang mulai menggeliat di pinggang dan ketiak Felix, sehingga memberikan kejutan pada saraf stimulus dan memberikan rangsangan kejut di sekujur tubuhnya.


Felix yang menerjemahkan sensasi itu adalah rasa geli, secara spontan tertawa dan mencoba melepaskan diri. Namun kuncian dari Masternya sama sekali tidak ada celah.


" Jangan remehkan juara Judo ini, rasakan ini, ini juga, dan di tambah ini... !"


Felix tampak lemas setelah menerima serangan tanpa ampun dari Rion yang ketagihan karena saking senang nya.


Dirinya sudah lama mengidamkan adik laki-laki, dan baru sekarang mimpi itu dapat di realisasikan. Meski tidak benar-benar adik yang sesungguhnya.


" Menyenangkan bermain dengan mu "


Rion tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih bersihnya.


Tidak puas hanya menggelitik, dia kemudian mengacak-acak rambut Felix, sayangnya Felix lebih suka dengan sensasi itu.


Lama rasanya mereka bercanda ria dan bertanding game di dunia sana, namun kejadian itu hanya sekejap di dunia nyata, bahkan hanya beberapa detik saja.


Rion bahkan tidak ambil pusing mengapa perbedaan waktu itu bisa terjadi.


Kini Rion sudah kembali ke dunia nyata, dan Felix jauh lebih ceria. Ternyata alasannya murung adalah, canggung jika Rion mengetahui bahwa dirinya hanyalah seorang bocah yang belum dewasa.


Tetapi ekspektasi nya mengkhianatinya. Rion ternyata lebih senang karena dirinya adalah anak-anak ketimbang Om-om berotot dengan bulu lebat di dadanya.


Naluri Rion yang mempunyai atribut Kakak Laki-laki inilah alasan yang membuat Felix sengaja memilih Rion sebagai Masternya.


Tetapi, itu akan menjadi kisah tersendiri dimasa depan.


*******


Rion segera berangkat, Felix sudah di giring ke pintu keluar. Lebih tepatnya Rion sendiri yang mengendarainya.


Jangan salah, Rion meski belum cukup umur namun sudah memiliki SIM. Meski melewati berbagai kondisi khusus dan lulus dengan nilai mendekati sempurna, tanpa campur tangan.


" Rion-san, Rion-san, ada satu hadiah lagi untuk mu"


" Eh masih ada lagi ? "


Tanpa bertanya lagi Rion menghampiri peneliti itu dan mengikutinya hingga memasuki satu kamar.


Ternyata itu adalah loker dan di tengah ruangan di dalam kotak kaca, ada satu pakaian yang sangat keren.


Satu set Pakaian Riding, lengkap dengan Helm, Sarung Tangan dan Jaket Kulit yang senada dengan Warna Felix.


" Ini boleh untuk ku ?"


" Semua ini memang untuk anda, di siapkan langsung oleh Nyony... (Nyonya). "


Belum sempat peneliti itu menyelesaikan kalimatnya, mulutnya lagi-lagi di sumpal oleh temannya.


Namun meski begitu sebagai anak, Rion tau siapa yang sudah membuatkan Jaket itu. Ada beberapa bagian yang sudah menjadi ciri khas dari orang yang ia pikirkan.


" Hahaha, ibu... Kau sudah berjuang keras demi membuat ini, meski tetap tidak bisa menjahit dengan benar di bagian ini "


Gumam Rion sambil membenamkan wajahnya di bagian yang ia maksud.


Di detik kemudian dirinya sudah siap dengan semangat baru yang lebih berkobar di banding ketika tadi ia marah.


Rion melangkah keluar dari Ruang ganti dengan setelan jaket kulit buatan Ibunya.


Dirinya yang melangkah sambil menenteng Helm saja terlihat sangat keren, terlebih jika diiringi music Epic yang muncul entah dari mana.


" Oh, Felix... Nice Assist "


Di dalam ruang Dimensinya, Felix sedikit tersenyum meski fokusnya masih tertuju pada game yang ia mainkan.


Rion menaiki Motornya dan menyalakan mesin motornya lagi. Meski di dengar untuk kesekian kalinya suara mesin yang ringan  dan nyaris hening itu sangat menyenangkan hatinya, itu belum seberapa, Rion hanya belum mendengar saja suara mesin itu ketika sudah memacu kecepatannya.


Rion memandangi bengkel di belakangnya dan membalas lambaian dari para peneliti yang menangis haru.


Rion sadar bukan dirinya lah yang mereka tangisi, melainkan mahakarya mereka yang berhasil mereka ciptakanlah yang mereka tangisi.


" Tenang saja, aku akan merawat Felix dan Motor ini seperti aku merawat diriku sendiri "


Ucapnya menghargai perasaan mereka.


" Terima kasih, kami sangat menghargainya "


Dan tanpa tau malu, mereka malah berterimakasih dan tidak menutupi isi hati mereka yang sebenarnya.


" Dasar, ilmuan sejati " Gumamnya gemas


" Aku berangkat... !!"


Rion segera mengenakan Helm dan ingin segera meluncur, dirinya sudah tidak sabar.


Tetapi lagi-lagi terhalang.


Rion lagi-lagi terkesima dengan fitur yang tersedia pada helmnya yang kelewat canggih itu.


Sepengetahuannya saat ini di Bumi, Helm seperti ini hanya di pakai oleh Para Pilot pesawat tempur saja.


Dimana semua informasi mulai dari kondisi kesehatannya, kondisi Motor sampai kapasitas Amunisi nya juga tercantum di layar Helmnya.


" Eh ?, Motor ini ada amunisi nya ?"


" Tentu saja, bisa gawat jika nanti di perjalanan ada monster yang menghadang, dari pada berhenti lalu bertempur. Lebih cepat mencincang mereka selagi melaju"


Jawab Felix dengan menggunakan speaker di Motor.


" Bukankah ini cheat ?"


" Tenang saja, tidak ada GM disini jadi aman"


" Tidak kusangka kau bahkan tau istilah itu "


" Hump... " Terdengar suara Felix yanga sedang menyombongkan pengetahuan nya di bidang Game.


" Kalau begitu, kami berangkat. Felix Meluncur!!"


Dengan di iringi lambaian orang-orang dari Institut Penelitian, Rion memacu Motornya menjauh dari Pekarangan Institut. Di perjalanan Rion terus memandangi jendela tempat ruangan Ibunya.


Dengan bantuan kamera di Helm yang ia kenakan ia bisa melihat Ibunya yang melambai padanya, Rion juga membalas melambai pada Ibunya, ia juga senang ketika Ibunya tau jika mereka saling bertatapan.


" Ingin berubah pikiran ?"


" Jangan bercanda "


Felix senang dengan ucapan Rion, dirinya sebenarnya juga tidak sabar untuk berpetualang Bersama Rion.


" Akan aku hancurkan siapa saja yang mencoba menyakiti orang-orang yang ku sayang "


Rion tanpa ia sadari tersenyum menyeramkan di balik Helem yang ia kenakan. Bahkan matanya yang selalu tersenyum sekarang terlihat penuh dengan kegelapan dan amarah, bukan dalam artian yang sebenarnya. Bisa di bilang saat ini Rion sangat amat marah sekali.


" Cinta di tolak, tentara bertindak ??, huh... Akulah yang akan mengamuk "


Gumamnya dengan penuh kutukan.


" Berhenti di sana !!! "


" Ugh !! "


Rion lupa, jika mereka masih belum keluar dari kota.


Dan lagi-lagi aksi dan kata-kata epic nya sekali lagi harus rusak dengan kekonyolan yang ia buat sendiri.


Rion harus membayar Tilang di dunia lain, dengan pasal kecepatan yang melewati batas di dalam wilayah perbelanjaan.


Dan begitulah, aksi keren MC kita masih belum bisa kita saksikan karena kebodohan dari MC kita yang kelewat Bodoh.


Kita nantikan saja di bab berikutnya.


" Huh... "


" Oi Felix, bantu aku... "


" Aku lelah... "


" FELIIIII......IIIX !! "