7 SLEEPER

7 SLEEPER
Segel ke Tiga



Hampir satu bulan semenjak insiden penculikan itu, kehidupan kami tidak mungkin lagi akan sama seperti sebelumnya.


Terutama untuk Kazehaya dan Momo. Mereka lebih bersemangat dengan latihan-latihan tak masuk akal dari Sora-Nee.


Berbeda denganku yang masih memikirkan ini itu, mengingat nya saja sudah membuat kepala ku berkedut.


Untuk sementara aku ingin kehidupan normal dlu saja. Berhubung saat ini tugasku sebagai Pelajar sekaligus pengganti orang tua, dari adik-adik ku yang masih kecil.


Apalagi masalah hubungan ku dengan sahabat-sahabat ku, Rin, Kazu dan Yuki yang mulai renggang.


Tidak ada yang perlu diperbaiki dalam pertemanan kami, mereka tetaplah sahabat tak tergantikan. Kami hanya sedang dalam masa Cool Off saja saat ini. Mungkin butuh sedikit waktu lagi bagi ku untuk bisa memahami kejadian tak mengenakan itu.


Kami tidak bertengkar, tidak. Kami masih bermain bersama, Berangkat sekolah bersama, makan siang bersama, pulang sekolah bersama, bahkan aku ataupun mereka juga sering saling berkunjung.


Seperti kataku, "Time To Cool Off", kami hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Terutama aku yang tidak tau apa-apa ini, secara tidak langsung terlibat dalam masalah mereka.


Mari berharap semoga datangnya hari itu tidak akan lama lagi.


Anak paling heboh dan intel kelas masuk jauh lebih heboh dari biasanya. Asal kalian tau, tidak ada berita menarik yang luput dari pantauan nya, bahkan hampir suruh rahasia dan aib orang-orang di kota masuk dalam jangkauan informasinya.


Namun berita kali ini jauh lebih menghebohkan lagi, terutama bagiku.


" Hey, apa kalian sudah mendapat kabar?"


" Berita heboh apalagi yang kau bawa kali ini, intel number one Japan?"


" Semoga kali ini informasi mu bermanfaat"


" Lalu apa informasi mu itu, wahai Tuan Intel ?"


Timpa teman-teman satu persatu.


" Kau tau, idola sekolah kita akan pindah ke negeri tempat kelahirannya?"


" Hee.. ? Benarkah?.. "


" Uaah... Benar, baru saja teman ku di kelas sebelah upload status di SNS tentang kepindahannya"


" Kau benar.. "


Anak-anak Perempuan dikelas mulai ikut heboh ketika mereka memeriksa ponsel mereka masing masing, dan mulai membentuk kelompok kecil untuk bergosip.


Sedangkan para Lelaki tampak menangisi kepergian salah satu target incaran mereka. Mereka juga membentuk beberapa kelompok kecil paduan suara dengan tangisan mereka.


Kelompok lainnya mulai merancang acara perpisahan, yang entah apa mungkin bisa terlaksana.


" Yah... Tapi sepertinya Sang Pangeran kita yang paling tenang disini" Intel kelas melirik kearah ku.


Merasa sedang dilirik, aku pun membalas tatapan mereka.


" Apa?"


" Kupikir pangeran yang paling terpukul disini "


" Pangeran? Maksudmu aku?"


" Padahal kami ini sudah siap menampung tangisan mu loh, pangeran " Candanya lagi.


" Berhenti bercanda "


" Kazuma san, apa jangan-jangan kau tidak tau? "


" Apanya? Oy.. Berhenti menatapku dengan pandangan itu. Itu sedikit menyeramkan "


Seisi kelas menatapku dengan pandangan sedih, apa aku sedang dikasihani ?


Aku benar-benar tidak tau maksud dari perkataan mereka, bahkan siapa orang yang akan pindah sekolah itu. Sampai akhirnya salah seorang teman angkat bicara.


" Orang yang kami bicarakan itu adalah.. "


Seperti di sampar petir di siang bolong, bahkan aku tidak tau rasanya disambar petir, aku hanya mengarang.


Seperti disambar petir di siang bolong, semua indra ku mulai mati. Otakku berhenti berfikir, mataku tak bisa fokus melihat satu objek dengan jelas, telingaku berhenti berfungsi, bahkan aku tidak bisa dengan jelas mereka sedang teriak apa.


Mereka menatapku dengan pandangan kasihan.


Eh? Aku dikasihani? Ah jadi begitu. Jadi karena itu mereka melihat ku seperti itu.


Bibirku kaku, aku bahkan tidak bisa menelan liur ku sendiri. Aku tidak bisa merasakan kaki ku, Eh? Aku berdiri kan? Tapi aku tidak bisa merasakan kakiku sendiri. Tangan? Bagai mana dengan tanganku? Ah.. Syukurlah Tangan dan kaki ku masih disana.


Tentu saja Kaki ku masih ada di sana, jika tidak tidak mungkin aku bisa berdiri. Rasanya, rasanya semua tulangku lenyap dari tubuhku. Roh ku? Bagai mana dengan Roh ku ?. Ah... Benar juga aku masih hidup. Heh? Apa aku hidup?. Apa itu hidup?


Aku tidak tau lagi. Bahkan berfikir lurus saja aku tidak sanggup. Batin ku saling berontak satu sama lain. Lagi pula apa batin bisa saling berontak?. Entahlah.


" San... ma-San... uma-San... Kazuma-San!!!"


Sebuah wajah yang kukenal menyadarkan ku dari lamunan ku yang abstrak.


Aku hanya merespon dengan tampang bodoh.


Ada Kazehaya kun di sana, mengguncang tubuhku dengan kasar.


" Ah, Kazehaya Dono. Selamat pagi " Otakku rusak sepenuhnya.


" Kau baik-baik saja Kazuma-san? "


" Baik-baik saja, baik-baik saja" Jawabku masih dengan wajah bodoh.


" Ada apa? Mengapa kalian semua menatapku dengan tatapan itu?" Mendadak lupa ingatan. Apa aku sudah Serusak ini?


" Sepertinya kau sakit, aku akan mengantarmu ke UKS " Dengan rendah hati Kazehaya kun mencoba memapah ku meninggalkan kelas.


Aku tidak perlu dikasihani, kan?. Ayolah jangan perburuk keadaan, tinggalkan saja aku. Lagi pula mengapa kau yang gemetar, Kazehaya kun.


" Maaf, biarkan aku sendiri dulu" Ku tepis pelan tangan yang gemetar itu. Ku ikuti kemana kaki-kaki ini melangkah, pergi sejauh yang aku bisa, inginnya begitu. Meski aku tidak melihatnya tapi aku sadar bahwa teman-teman dikelas tengah mengantar kepergian ku dengan tatapan iba, bahkan aku bisa mendengar dengan jelas mereka membicarakan keadaan ku saat ini.


Biarlah.


Aku berhenti di sebuah ruangan, yang mana aku tidak tau itu dimana. Aku tidak tau lagi, aku hanya mengikuti kemana kaki-kaki ini membawaku.


Tok tok tok...


Tanganku dengan lancang nya membuka pintu ruangan meski tanpa menunggu jawaban.


" Kazuma san?, ada perlu apa ke kelas kami?"


Yang ku ingat itu adalah suara wali kelas Rin dan yang lainnya.


Dipikiran ku, mengapa aku sampai kemari?, bukankah aku ingin ke UKS dan Membolos?, atau kemanapun. Tapi mengapa kemari?.


Kaki sialan.


" Aku tidak enak badan, Kazu antar aku.. " Dengan lancang dan tanpa permisi, mulut ini berbuat seenaknya. Bahkan setelah mengatakan itu, kaki ini kembali melangkah tanpa sempat sang mulut berterima kasih.


Lama rasanya kaki ini melangkah, rasanya sudah seperti bermil-mil aku berjalan dan tak terasa kaki ini berhenti ketika menabrak pagar pembatas.


Aku bisa melihat pemandangan kota di kejauhan. Ah, ini atap sekolah.. Mengapa aku ada di sini ?


Indra ku perlahan kembali dapat ku rasakan. Angin yang lumayan kencang ini, membelai lembut pipi ku yang tiba-tiba basah.


" Kami minta maaf, merahasiakan semuanya dari mu. "


" Hanya itu ?"


"... "


" Aku tanya, hanya itu ?, dari sekian banyaknya kosa kata di Bumi,  kalian hanya bilang 'maaf' "


" Rion.. "


" Banyak yang tidak ku mengerti, dan kalian bilang maaf ?, apa kau sadar yang ada di depanmu saat ini adalah orang "


" ..."


" Padahal Aku hanya meminta sebuah jawaban, dan kalian lebih memilih pergi ?"


"..."


"Pertanyaan ku simpel bukan?, siapa dalang dari penculikan Rin, itu saja!"


Aku berusaha menahan nada suaraku, meski amarah dan rasa kecewa ku tengah berkecamuk.


" Jika kalian berfikir ini bukan urusanku, kalian salah besar. Karena aku sudah menganggap kalian lebih dari sekedar sahabat. Aku bahkan sampai hari ini menganggap kalian adalah saudaraku."


" Aku senang kau berfikir sama seperti ku, sungguh"


" Karena itu, selama ini apa yang membuat kalian sakit, itu juga menyakiti ku, dan apa yang membuat kalian bahagia itu juga kebahagian bagiku. Masalah kalian adalah masalahku juga."


" Terima kasih, sekali lagi. Tetapi aku tidak punya kuasa untuk mengatakannya, meskipun aku sangat ingin mengatakan semuanya padamu saat ini"


Kazu masih bersikukuh dengan pendirian nya. Sebenarnya siapa yang memerintahkan mu untuk diam ?


Pikiran ku bocor keluar tanpa ku sengaja.


" Yang Mulia Alberton Alexanders Rugard Ke Lima, Ayah Kandung dari Putri Catherin Alexander Rugard."


Sebuah Nama yang terdengar luar biasa akhirnya keluar.


" Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan, lebih jauh lagi sudah berada diluar kuasa ku"


" Aku mengerti, Terima kasih sudah berusaha mengatakannya, aku tau itu sulit. Terima kasih, itu cukup"


Sebenarnya itu tidak cukup, bahkan sama sekali tidak mendekati. Tapi aku tidak bisa memaksa, hanya dengan melihat saja aku tau itu sudah melewati batas yang harus ia sembunyikan. Aku merasa bersalah membuatnya mengatakan itu. Terimakasih ku yang terdalam.


" Jadi kapan kalian berangkat " Mungkin kesannya aku seperti mengusir tapi tidak.


" Satu minggu dari sekarang "


" Ck.. Cepat sekali. " Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


" Ya, kami kesulitan karenanya, mempersiapkan semuanya, karena seseorang yang ahli beres-beres tidak hadir"


Maksudmu aku?


" Sesampainya di sana tolong jaga Rin untuk ku " Aku menepuk bahu Kazu pelan dengan punggung kepalan tanganku, dan berlalu meninggalkannya sendirian.


" Rion.. Aku senang kau yang menjadi Saudara ku "


Teriaknya


" Aku yang paling bahagia kau yang jadi saudaraku" Balas ku semangat tak mau kalah, sembari membelakangi Kazu yang terus menatap punggung ku.


Sepeninggalan ku, tanpa aku sadari Kazu bergumam pada orang yang diam-diam menguping pembicaraan kami.


" Apa kau yakin, semuanya hanya akan berakhir seperti ini ?"


" Memangnya aku bisa apa ?, aku hanyalah keluarga pelayan yang berperan mengasuh tuanku"


" Tetapi dia tidak melihatmu seperti itu "


" Hahaha.. Ya, aku bersyukur bertemu dengannya, Hari-hari jauh lebih berwarna, bukan hanya aku. Mau itu Tuan Putri ataupun Yuki, kami bersyukur tahun-tahun yang sebentar ini jadi menyenangkan"


" Apa kau menyesal?"


" Menyesal? Tidak mungkin... "


" Hahaha... Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari mu ya?"


" Jangan meremehkan ku, kau pikir siapa yang membesarkan kalian?"


" Hormat saya"


" Yah, setidaknya tidak lama lagi mungkin kalian akan bertemu lagi"


" Apa maksud mu, Sora-Nee ?"


" Kau tau sendiri jawabannya "


" Ah, hahahaa.. "


" Ya.. Keponakan ku itu... "


"" Adalah orang yang nekat ""


Sementara itu di dalam kelas.


" Izumi, Momo... Ikut aku sebentar.. "


Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku kembali keluar kelas dan berjalan kebelakang gedung olah raga. Dengan satu isyarat tangan aku mengumpulkan mereka berdua mendekat, dan berbisik.


" Aku ingin bantuan kalian berdua. "


" Katakan.. "


" Aku ingin pergi ke dunia lain, aku ingin kalian ikut bersamaku "


" Hoho... Akhirnya, kata-kata yang ku tunggu tunggu.. " Izumi berlagak keren ketika membenarkan posisi kacamatanya.


" Terimakasih Izumi dono, lalu Momo bagaimana dengan mu ?"


" Aku akan pergi kemanapun Sayang ku pergi "


" Terima kasih, kalian berdua. Sekarang masalahnya adalah bagaimana caranya meyakinkan orang tua kalian. Itu yang harus kita pikirkan selanjutnya"


" Rion-Dono..." Tanpa ia lanjutkan aku tau bahwa semua sudah ia persiapkan.


" Bagaimana caramu meyakinkan mereka?"


" Sebagai otaku yang sudah membaca Manga dan menonton Anime, aku sudah memprediksikan semuanya. Aku juga sudah membuat kesepakatan dengan Sora Sensei dan Orang Tua kami, dan alhasil Sora Sensei berhasil Meyakinkan Mereka. Tersisa Keputusan darimu"


" Aku kagum dengan gerak cepat mu "


" Karna aku adalah Guild Master.. " Ucapnya sombong.


" Ya karna kau Guild Master Kami "


" Sora Sensei memberikan beberapa kondisi saat kesepakatan ini dibuat"


" Katakan padaku "


" Pertama, Jika kau menyerah mengejar Rin makan kesepakatan batal."


" Aku tidak menyerah "


"Kedua, jika sampai akhir semester ini Aku dan Momo tidak mampu mengendalikan kekuatan kekuatan kami. Kesepakatan batal. "


" Lalu bagaimana hasilnya ?"


Mereka berpose dengan sombongnya.


"Dan yang ketiga. Yang paling penting.


Kau harus mampu menghapus segel ketiga yang ada di tubuhmu dan mengendalikannya "


" Serahkan pada k..., eh?"


" Karna itu berjuanglah... Demi kami juga "


" Eh sebentar, apa? Segel? Ketiga? Apa? Ini terlalu mendadak.. Jelaskan padaku dengan singkat dan akurat, apa aku salah dengar ?"


" Seperti yang kau dengar, tidak ada kesalahan dengan pendengaran mu"


" Tu.. Tunggu, aku masih belum paham.. "


" Maksud Sayangku itu adalah.. Didalam dirimu saat ini tersegel sebuah kekuatan besar yang bisa mengamuk dan menghancurkan satu kota dengan sekejap."


Momo memang mengatakannya dengan singkat dan padat. Namun sepertinya ada beberapa bagian yang terlewat.


" Dari apa yang aku tangkap dari penjelasan Sora Sensei adalah, saat ini didalam tubuhmu tertanam suatu mahluk yang pernah mengamuk dimasa lalu di Dunia Lain sana."


" Hah ?"


" Dengan kekuatan beberapa orang kuat seperti Party Pahlawan, mahluk itu mampu di sudut kan dan dikalahkan. "


" Sebentar aku masih mencerna "


Mengabaikan aku yang masih mencerna kata-katanya, izumi terus melanjutkan.


"Namun ketika mahluk itu hendak di segel kedalam kristal Khusus yang Party Pahlawan sediakan sebelumnya, mahluk berbahaya tersebut malah mencoba merasuki tubuh Ibu mu yang kala itu adalah salah satu dari anggota Party Pahlawan."


" Ibuku ?"


" Beruntungnya, mahluk itu menyukai Ibumu dan tidak mengambil alih tubuh Ibumu dan tidak mau berpisah, Mahluk itu jauh lebih tenang dan jinak di dalam tubuh Ibumu. Alih-alih mencoba mengambil alih tubuh Ibumu, mahluk itu tampak sedang bermanja-manja dan bermain dengan Ibumu. Hingga sampai mereka kembali ke Kerajaan untuk melapor, mahluk itu kerap terus menempel dan tak mau Berpisah. Bahkan Grup penyihir sekelas Ibumu gagal menyegel mahluk itu, sihir mereka dengan santai bisa di tepis oleh mahluk itu."


" Agh... Kepalaku, terlalu banyak informasi yang masih membingungkan "


" Sampai akhirnya semua petinggi menyimpulkan, mahluk itu dengan resmi di nobatkan sebagai familiar Ibumu. "


Dinobatkan kau bilang ?


" Adu du duh.. Kepalaku "


" Mahluk itu sedari awal sudah tampak aneh, tidak melawan dan tampak sengaja untuk di tangkap. Begitulah cerita yang kudengar."


Izumi mengakhiri ceritanya.


" Dan sedikit tambahan informasi "


" Masih ada lagi ?" Ah... Memangnya keajaiban seperti itu benar ada?. Ah otakku seseorang panggilkan Psikiater.


" Dan, sebagai Keturunannya didalam tubuhmu saat ini juga tertanam sebagian dari kekuatan yang Ibumu miliki."


" Yang tadi saja masih belum bisa aku cerna, sekarang datang lagi "


" Karena itu rencana ini bergantung padamu, kau harus bisa membuka segel ketiga yang tertanam di dalam dirimu dan mengendalikan nya agar tidak mengamuk "


" Kau bilang kan dia bersahabat "


" Itu dalam kasus Ibumu, tidak ada kemungkinan dalam kasus mu berbeda, kita hanya harus waspada dalam setiap kemungkinan."


" Kata-katamu terdengar berbahaya, tetapi mengapa wajah kalian terlihat bersemangat ?"


" Itu dikarenakan kekuatan kami saat ini berkat radiasi dari kekuatanmu yang bocor pada insiden pertama "


" Hah ?"


" Ya, seperti yang kau pikirkan."


" Aku tidak memikirkan apa-apa oy," Bentak ku. Ini terlalu luarbiasa untuk bisa jadi kenyataan. Apa kalian pikir ini cerita fiksi dimana narator gila mencurahkan semua keberuntungan awal pada karakter utamanya?, hah?!!


" Ini gila... " Gumam Ku, banyak kebetulan yang terlihat seperti dipaksakan.


" Kya, lucunya.. "


" Keren sekali.. Woohh.. "


" Berhenti membuat keributan." Kataku mengingatkan.. Kepalaku masih sakit untuk mencerna.


Tetapi apa yang kulihat di depanku, jauh lebih membuat kepalaku sakit, lebih tepatnya mentalku.


Seekor mahluk 30 Cm berwajah lucu, dengan armor keren tengah di peluk oleh Momo, wajah mahluk itu tampak tersipu. Di sebelahnya Izumi juga tampak terpesona.


" Aku mau pingsan dulu, ku serahkan sisanya pada kalian." Aku ingin pingsan saja.. Aku tidak kuat.


******


Sepulang sekolah, kami berangkat kembali ke rumah utama. Sebenarnya aku dipaksa untuk menunjukan bukti pada orang-orang yang membuat perjanjian konyol itu.


Sedikit kecewa dan sedikit campuran merasa gila. Hatiku campur aduk saat ini.


Kami berkumpul menghadap Kakek di ruang tengah. Namun orang ini bahkan tidak mengatakan sepatah katapun. Ia malah memalingkan wajahnya cemberut, meski ada Mahluk Lucu didepannya.


" Kakek, katakan sesuatu." Nenek berusaha meluluhkan hati kakek yang sedang tidak stabil.


" Huh.. "


Kakek sialan, memangnya kau anak kecil, sadar dengan umurmu, batinku berteriak.


" Kakek, semua ini kan rencana mu.. " Nenek kembali menimpa.


"....."


" Kakek !"  Nenek meninggikan nadanya.


Mau tidak mau dengan enggan Kakek ini akhirnya menatap kami. Menghela nafas panjang dengan kekecewaan dan memproklamirkan kekalahannya.


" Aku, aku menyerah.. "


Mendengar hal itu, semua syarat sudah terpenuhi...   Perjalanan ke dunia lain hanya tersisa hitungan hari semenjak detik itu.


Izumi dan Momo tampak lebih bersemangat, yah setidaknya mereka tau konsekuensinya, karena jalan yang mereka ambil saat ini penuh resiko, hidup mereka tidak akan aman lagi, ancaman kedepannya bisa saja mengancam nyawa mereka.


Hah... Aku bahkan tidak bisa menolak  lagi jika wajah mereka seperti itu.


" Setidaknya Kakek tidak akan menolaknya kan ?"


" Ya, untuk sekarang.. "


" Apa lagi ??"


" Semua butuh proses dan persetujuan dari pihak sana, aku tidak bisa berbuat apa-apa " Senyumnya bangga.


" Benar juga, bagaimana caranya menghubungi pihak sana yang dunianya saja berbeda?"


Aku pikir kami sudah selangkah ke depan, namun muncul masalah baru. Ini sama saja tidak ada kemajuan, maju selangkah mundur tiga langkah namanya.


" Tenang saja, Onee Sama baru saja mengirim surat balasan. Aku tidak menyangka Onee sama lebih bersemangat darimu, anak dan ibu sama saja."


Sora-Nee datang dengan wajah kecut, di tangannya tampak selembar kertas yang ia kipas-kipas kan.


Sang penyelamat memang datang terakhir. Terima kasih sora-Nee kau pahlawanku.


Dengan begitu perjalanan kami terus berlanjut.


Ah, ngomong-ngomong kakek meronta-ronta sembari memelukku, seperti anak kecil ia bahkan tidak malu melakukannya di depan orang awam.


Kepala Klan Yakuza yang kekanak-kanakan.