7 SLEEPER

7 SLEEPER
Isekai



Tersisa 3 Hari lagi sebelum kami berangkat menyusul ke dunia sana.


Semua persiapan serta latihan berat seperti Neraka sudah berhasil kami lewati.


Etiket bangsawan, gaya hidup sosial dunia sana, bahkan bahasa dan huruf di sana, tidak luput dari pelajaran Sora-Nee.


Menghapal huruf baru dalam waktu satu Bulan tidak gampang loh. Tapi yah, kami berhasil melaluinya dengan kekuatan semangat.


Karena itu di sisa waktu 3 Hari ini, kami manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga.


Aku tidak tau bagai mana Izumi dan Momo menghabiskan waktu mereka dengan keluarga, disisa waktu yang singkat ini.


Tapi aku, aku akan habiskan bersama adik-adik ku tercinta. Seperti sekarang, hampir setiap hari kami menghabiskan waktu seharian bermain di kolam renang umum, taman bermain, teater anak, bioskop, bahkan terkadang berbelanja pakaian di Departemen store. Meski tidak tau kapan akan menggunakannya saking banyaknya belanjaan kami.


Aku juga membeli banyak kain bahan dan alat menjahit untuk jaga-jaga.  2 tenda portabel besar dan satu tenda kecil untuk bepergian. Untuk jaga-jaga aku juga membeli 3 tas Hiking untuk kami bertiga, senter penjelajah, lampu emergensi dan charger solar.


Berhubung semua perlengkapan itu terlalu berat, maka ku kirim ke alamat mereka masing-masing.


Kalian pasti berfikir, mengapa harus repot-repot membeli langsung ke toko dan bukan lewat online ? Dengar, dengan membeli langsung ke tokonya, kita bisa dengan jelas tau kualitas barang yang kita beli tanpa harus takut di tipu pedagang curang. Bukannya bermaksud menuduh, kita harus selalu berjaga-jaga saja supaya barang yang kita beli kualitasnya sudah terbaik dan tahan lama.


Dan karena keperluan ku sudah selesai, sisanya tinggal bermain bersama adik-adik ku yang sedari tadi menarik dan menyeret ku Kesana-kemari.


Miki adalah gadis yang bersemangat dan over aktif, berlawanan dengan saudarinya Miku gadis kalem dengan rambut hitam panjang mirip Kakak perempuan tertuanya.


Maki, gadis belia yang mulai beranjak dewasa. Jika ku gambarkan, wajahnya adalah kecantikan Alami Jepang.


Rambut hitam lembut dengan bola matanya yang besar, bibir merah muda buah persik menggoda setiap mata untuk menyentuhnya.


Bisa dibilang, gadis ini selalu terlihat seperti menyebarkan Pheromones nya kemana-mana.


Aku sedikit khawatir dengan mahluk yang satu ini. Gadis ini selalu berlagak tanpa pertahanan. Aku sedikit cemas apabila ku tinggalkan nanti, meski dia juga mendapat pelajaran beladiri.


Tapi bagai mana jika dia terdesak atau berhadapan dengan laki-laki bejat dan mengeroyoknya ?. Aku pernah menanyakan hal itu pada Sora-Nee, namun jawaban Sora-Nee tidak bisa sepenuhnya ku percaya.


Bukannya terlalu Paranoid, tapi siapa saja pasti akan sepertiku jika mempunyai adik perempuan yang selalu mengeluarkan aura menggoda !


"Nii-nii lihat topi kelinci ini.. Apa cocok ?" Miki yang bersemangat langsung berpose lucu menggoda ku.


" Ow, siapa gadis imut ini ?" Godaku mencubit pipinya lembut.


" Kalau piyama ini ?" Giliran Maki yang membantu Miku dalam memilih piyama hewan kelinci atau serigala. Wajah anak itu sangat serius entah apa yang ia pertimbangkan, seperti mengerti saja.


" Kelinci kurasa lebih cocok untuk mu "


" Umu, kalau begitu aku pilih yang kelinci " Kepalanya mengangguk paham.


Aku dan Maki hanya tertawa kecil.


Mereka terus mencari kesana-kemari menyusuri sampai sudut toko dan mencoba hampir semua pakaian bertema kelinci, sampai akhirnya aku menghentikan mereka.


Terlalu boros.


" Nii-nii tidak suka kelinci ?" Gadis kembar itu memandangku dengan tatapan hampir menangis.


Aku tidak kuasa melihat yang beginian. Jika ku biarkan bisa-bisa mereka akan mengosongkan isi toko dengan sekejab.


" Tentu saja aku suka, mereka lucu, bulu lembut dan kelihatan enak kalau di peluk "


Dan namanya juga anak kecil, mereka bahkan tidak segan segan merubah mimik wajah mereka dalam waktu singkat.


" Sudah waktunya, mau makan siang sekarang ?"


"" Berangkat.. "" Jawab mereka semangat.


Seperti biasa aku membiarkan diriku di tarik oleh 2 gadis kecil, bertenaga orang dewasa. Diseret berkeliling dan di tonton orang banyak.


Malam harinya.


Pintu kamar dibanting dengan kasar.


" Nii-nii waktunya tidur "


" Mau tidur sekarang ?"


Miki yang bersemangat langsung melompat ke tempat tidurku. Piyama kelinci yang kami beli tadi siang sangat cocok ketika dipakainya. Ia menggeliat didalam selimut ku.


" Bisa tunggu sebentar lagi ?"


" Nii-nii " Dari arah belakang Miku dengan tenang mendekatiku dan menyerahkan buku bergambar favoritnya.


" Mau ku bacakan sekarang ?"


Sebenarnya masih banyak yang harus ku Packing, tapi membaca dongeng untuk adik-adik ku jauh lebih penting.


Tetapi kenyataannya berkata lain. Miku dengan senyum menggeleng pelan.


" Untuk ku ?"


Tanpa bicara Miku hanya mengangguk pelan.


Mungkin maksudnya, sebagai pengobat rindu disaat aku jauh darinya. Juga sebagai pengingat bahwa dirinya selalu bersamaku.


Meski jarang berbicara tetapi Miku adalah anak yang paling mengerti perasaan orang dewasa.


Ku usap lembut rambut lembutnya.


" Nii-nii, bagaimana denganku " Miki yang melihat aku hanya memanjakan saudarinya menjadi cemburu. Ku usap juga rambut nya dengan lembut.


" Mau ku bacakan, untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ?"


Mereka berdua mengangguk dengan semangat.


" Kemarilah " Ku pangku kelinci kelinci menggemaskan itu.


" Kalian siap ?"


Mereka antusias menunggu dibacakan dongeng, tapi karena aku tidak kunjung mulai mereka menatapku heran.


" Kalian lucu sekali, menggemaskan " Ku gosok gosok pipiku ke pipi mereka bergantian setelah merasa puas baru ku mulai dongeng untuk mereka.


" Di suatu hari di musim panas... "


Ini adalah kisah Belalang pemalas dan koloni Semut yang rajin.


Kala itu di hari yang panas, sang belalang sedang berjemur di tepi danau sambil menikmati air danau dan buah segar di sana.


Ketika sedang berjemur itulah sang Belalang melihat tetangganya sang semut, tetangganya itu berbaris rapi satu-persatu dengan membawa banyak makanan masuk ke sarang mereka.


Sang Belalang yang melihat tetangganya itu berkeringat, menawarkan minumannya pada semut semut.


" Hey tetanggaku semut, beristirahatlah sejenak cuaca sangat panas hari ini"


Namun, para semut menolak dengan lembut.


" Tetanggaku belalang, mengapa kau tidak bekerja ? Musim dingin sebentar lagi datang."


Sang Belalang hanya menertawakan tetangganya semut.


" Apa yang kau katakan tetanggaku semut, musim panas baru saja datang. Tentu musim dingin masih lama datangnya "


" Sebaiknya kau mengumpulkan nya dari sekarang wahai tetanggaku, atau kau tidak akan sempat "


" Tenang saja, di hutan masih banyak makanan untuk ku, ku kerjakan nanti saja" Ujar sang Belalang sombong.


Setiap hari setelah itu. Sang Belalang terus menggoda tetangganya semut.


Hari berganti Minggu, minggu berganti bulan. Sampai akhirnya musim dingin datang lebih awal.


Sang Belalang kesulitan mencari makanan, karena sudah dihabiskan oleh hewan lain di hutan.


Sang Belalang kelaparan, tubuhnya kedinginan. Sang Belalang juga kehausan, tetapi air danau yang biasa ia minum sudah membeku.


Tetangganya Sang semut juga tidak pernah bertemu lagi. Sang Belalang malu untuk meminta makanan pada Sang semut yang pernah dia tertawakan.


Pada akhirnya Sang Belalang sadar bahwa dirinya terlalu malas sebelumnya. Dan sebagai hukuman karena bermalas-malasan, Sang Belalang harus kelaparan sampai musim semi datang.


" Semenjak saat itu Sang Belalang berjanji pada dirinya sendiri bahwa dirinya tidak akan malas-malasan lagi. "


Adik-adik ku sudah tertidur bahkan sebelum bagian menariknya muncul. Aku bisa saja menghentikan ceritanya saat itu juga, tetapi entah mengapa tiba-tiba saja aku ingin membaca ceritanya sampai akhir mau bagaimanapun juga.


Mungkin karena aku merasa tidak akan bisa lagi memeluk mereka seperti sekarang ini, dalam waktu dekat.


Anggap saja keegoisan seorang kakak.


Ku baringkan mereka di Futon ku.


Wajah malaikat mereka ketika tidur begitu menyejukkan hati seketika. Tidak terasa mereka sudah sebesar ini.


" Ternyata benar disini. "


Di depan pintu Maki dengan Piyama yang sama dengan adik-adiknya, masuk tanpa permisi.


" Kau belum tidur ?"


" Mau tidur bersama ?"


" Selamat malam " Ku acuhkan yang barusan. Ku masuk kedalam selimut ku di antara malaikat kecil.


Aku mengabaikan Maki yang menggembungkan pipinya dan berangkat ke dunia mimpi.


Namun, dengan beraninya ia menyusup ke dalam selimut ku dan mulai menjelajahi tubuh ku dengan nakal. Di mulai dari kaki sensasi geli dan kesenangan sesaat mulai menjalar ke seluruh tubuh.


" Ara ~ Onii-Chan bagian ini tampaknya sudah bersemangat. " Suaranya yang mendesah tak kuasa ku tahan meski dia adalah adikku sendiri.


" Aku lelah, jadi bisakah kau minggir dari sana."


" Eh.. Aku juga ingin tidur denganmu "


" Maki-chan, tolong jangan bicara dengan nada itu. Aku tidak tau harus berkata apa jika ada yang salah paham."


" Apanya ?"


" Sudahlah terserah mu, aku mau tidur "


" Hehehe yang disini semakin bersemangat " Godanya manja.


" Lakukan sesukamu " Aku menyerah aku menyerah, aku bahkan tidak bisa melawan pesona adikku sendiri.


Dengan begitu aku harus tidur dengan waspada penuh. Aku tidak bisa biarkan kesucian adikku ternodai oleh kakaknya sendiri. Terlebih ketika buah terlarang miliknya menekan Altileri ku yang dalam siaga tembak.


Apa semua gadis tidak memakai bra ketika tidur ?


Ohn~~ aku tidak bisa tidur. Apalagi Hal ini berlangsung setiap malam sampai hari keberangkatan.


******


Tidak terasa waktu keberangkatan pun tiba.


Maki sibuk membantu membawa bawaan ku.


Karena tanganku penuh dengan dua Loli menggemaskan yang selalu menempel semenjak dari rumah.


Padahal seharusnya kami bisa selesai satu jam lebih awal.


Yah, mau bagaimana lagi. Ini pertama kalinya mereka akan berpisah untuk waktu yang lama denganku.


Bisa gawat jika tiba-tiba aku terbawa suasana dan membatalkan keberangkatan.


" Miki Miku ayo turun"


Meski kakaknya sendiri yang membujuk, mereka tidak juga mau turun.


Aku juga tidak mau, ah benar juga kubawa saja sekalian. Seperti bisa membaca pikiranku Sora-Nee menggeleng pelan ketika aku baru melirik nya.


Tentu saja di tolak.


Cuma satu jalan keluar.


" Miki Miku, dengarkan Onii-Chan "


" Tidak.. Onii-Chan pembohong "


Padahal malam sebelumnya mereka biasa-biasa saja, kupikir mereka sudah merelakan aku berangkat.


" Miki, Miku. Onii-Chan bukannya pergi meninggalkan kalian, tidak mungkin onii-Chan meninggalkan adik-adik yang lucu dan menggemaskan ini "


" Uaagh. Siscon "


Aku bisa mendengar suara Momo di belakang sedang menghinaku.


" Maukah kalian mendengarkan permintaan pertama seumur hidup dari onii-Chan ?"


Pelukan mereka merenggang, aku menurunkan mereka. Aku berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan mereka.


" Yosh yosh anak hebat. " Ku usap lembut kepala mereka.


" Dengar, kalian sayang Rin Nee-chan? "


Mereka mengangguk, namun pipi mereka masih menggembung.


" Saat ini, ada orang jahat yang ingin menculik Rin Nee-chan, jika Onii-Chan tidak menangkap orang jahat ini, Rin Nee-chan akan di culik lagi oleh penjahat ini. Kalian tidak mau hal itu terjadi kan ?"


" Onii-Chan selamatkan Rin Nee-chan, kami mau bermain bersama lagi "


" Osh... Serahkan penangkapan orang jahat ini pada onii-Chan dan teman-teman Onii-Chan."


Miki dan Miku juga mendapat konfirmasi dari Izumi dan MoMo.


" Karna itu bisa ku titip Onee-Chan pada kalian ?"


" Serahkan pada kami !" Mereka mulai bersemangat.  " Onii-Chan Onii-Chan lakukan itu, lakukan itu" Pinta mereka kemudian.


" Itu ?, ah.. Boleh.. "


Dengan sihir Iventori yang kupelajari selama sebulan terakhir, ku ambil mainan dan atribut militer yang kami beli. Sebuah topeng kacamata dengan kumis runcing, sebuah topi inspektur lengkap dengan batonnya.


Ku pasang dengan otomatis sembari berdiri.


" Perhatian !!"


Semua orang yang berada di ruangan bawah tanah ini mampu mengikuti permainan ku dengan spontan. Terdengar dengan megah derap sepatu mereka ketika berdiri berbaris. Aku berjalan bolak-balik terlebih dulu di depan mereka sebelum melanjutkan kata-kataku.


" Pagi ini, markas besar baru saja mendapat informasi dari intel  di lapangan "


Aku menjeda kalimatku dan menepuk telapak tangan dengan baton mainan.


" Target sudah mulai bergerak, di perkirakan dalam waktu dekat target akan melancarkan aksinya. Karena itu, markas besar memberikan kita Misi Besar."


Ku tatap Miki dan Miku yang menahan tawa dengan menggembungkan pipinya.


" Ingat ini adalah misi rahasia. Jika sampai hal ini sampai bocor keluar apalagi pihak musuh, korban akan dalam bahaya. Dikarenakan sebab itu, kita akan bergerak dengan sedikit prajurit. Prajurit Prajurit ini adalah Prajurit terbaik bangsa. Terlatih, tahan tertawa, tahan lapar, bisa bangun pagi sendiri dan tidak menyisakan wortel di makanannya "


Pufft... Miki tidak tahan dan melepaskan tawanya.


" Sersan Miki, apa menurut mu ini lucu, saat ini dunia dalam bahaya, kau tau." Tawa Miki makin meledak apalagi ketika aku memijit kumis palsu ku.


Miku dengan cerdas membuang dan mengambil nafas dalam, pelan-pelan mempertahankan ekspresi elegannya.


" Kembali ke topik. Oleh karena itu, Letnan Kedua Kazehaya Izumi !!"


Tunjuk ku menggunakan Baton.


" Siap pak !!" Balas Izumi.


" Mayor MoMo... "


" Aye, Kapten " Canda Momo..


Tawa Miki pecah, ia sampai terkapar dilantai sambil memegang perutnya. Diikuti Miku yang menyembunyikan wajahnya ketika jongkok.


" Aye aye.. P hahaha padahal ini bukan bajak laut tapi ada, hahaha " Miki tertawa semakin gila.


" Dan terakhir Letnan Pertama. Rion Kazuma. Aku sendiri !!"


" Hahahha, onii-Chan serius bilang aku sendiri. Hahaha " Miki tertawa semakin parah sampai-sampai ia menggeliat menendang nendang lantai.


" Sersan Miki... !! Apa yang kau lakukan ?! Berdiri yang tegak  !!" Bentak ku bercanda...


" Tidak mungkin, hahaha... Aku.. Aku... Tidak bisa berdiri... Hahahaha "


" Sersan Miku !!"


Miku masih bertahan dengan wajah Poker Face nya yang hampir meledak.


Ku pancing lagi, agar egonya itu hilang.


Ku tatap lekat wajahnya dari dekat, dia menggeleng minta ampun sembari masih menahan tawanya, meski airmata nya sudah menggenang.


Tidak puas sampai di situ ku pijit kumis di topeng ku.


Masih belum tertawa, ku mainkan alis mataku didekat wajahnya, sampai akhirnya dia menyerah dan tertawa sama seperti Miki saudarinya.


Game Over


Mereka tertawa meminta ampun.


Ku lepas semua atribut tadi, ku bawa mereka satu persatu ke pelukan ku.


" Miki Miku,  Onii-Chan pamit dulu, tolong jangan nakal, jangan menyisakan makanan, rapikan mainan kalian sendiri kalian kan sudah besar."


""Umm ""


" Kalau begitu beri onii-Chan tanda setuju dlu "


Tanpa menunda waktu, sensasi dingin dan lucu dari bibir kecil mereka mulai terasa di kedua sisi pipi ku.


" Terima kasih.. " Ucapku


Tapi tidak sampai disitu. Sensasi yang sama seperti di pipiku sebelumnya kini juga terasa di bibirku.


Tentu saja aku shock, otakku berhenti berfungsi beberapa detik.


Aku tidak tau apa yang sedang terjadi, aku tiba-tiba mendadak merasa bodoh. Yang kudengar hanya suara Maki yang Protes, tapi mari kita abaikan Maki untuk sekarang.


Semua orang di ruangan hanya membuang muka.


Apa itu?


Ciuman pertamaku ! Dicuri oleh kedua adikku sendiri ?!! Eh ? Seriusan ??


Sepertinya mereka berdua sudah tertular perilaku buruk Maki. Sekarang aku jadi ragu untuk meninggalkan mereka berdua pada Maki.


" Dasar, kalian ini. Terkadang aku sempat berfikir bahwa kalian seperti Kage Bunshin saja ketimbang kembar identik. Tindakan kalian terlihat serasi satu sama lain. "


" Itu ciuman pertama ku asal kalian tau "


"" saja kami tau, karena itu kami mencurimya terlebih dahulu "" Jawab mereka selaras.


" Onii-Chan. Pertahanan mu kurang !!" Teriak Maki tidak Terima.


Aku hanya bisa terus meminta maaf atas kekuranganku.


Setelah semua reda. Kami kembali ke rencana awal.  Semua barang bawaan sudah tersimpan semua di sihir Iventory kami.


Sebelum kami benar-benar berangkat Sora-Nee menitipkan selembar kertas padaku.


" Jangan di buka sebelum sampai di seberang " Bisik Sora-Nee.


" Aku siap jika kalian siap " Sora-Nee memberi aba aba.


Lingkaran sihir mulai di aliri cahaya hijau dan dengan cepat terisi sepenuhnya. Dinding tipis transparan juga muncul dengan cepat, berbeda ketika giliran Rin.


" Oy, Nee-Chan jangan bercanda. Aku masih belum berpamitan "


" Aku sudah muak dengan drama melankolis kalian, sekarang pergilah "


" Kau mengusir ku !!" Bentak ku


Aku ingin protes Namun cahaya putih mulai memenuhi lingkaran dibawah kaki kami.


" Prajurit  !! Beri Hormat, grak  !!" Teriak ku sekencang kencangnya


Kulihat wajah adik-adik ku untuk terakhir kalinya, di wajah mereka hanya terlihat senyuman. Tanpa air mata. Jaga diri kalian baik-baik.


Di saat terakhir aku melihat mereka semua membalas hormat ku.


" Semuanya, aku berangkat "


Cahaya menyilaukan yang membutakan mata mulai menutup pandangan kami, dan sepersekian detik kemudian pemandangan mulai berubah.


Pemandangan pegunungan dan pepohonan yang belum pernah terlihat terbentang luas sejauh mata memandang. Aroma angin yang menyegarkan masuk ke rongga hidungku dan terus menuju ke paru-paru ku. Nikmat.


Dari kejauhan aku juga melihat beberapa mahluk besar seperti yang pernah kulihat di vidio game dan anime.


Begitu menakjubkan!! Inikah dunia lain itu ? Dunia fantasi sihir dan pedang !


Aku bahagia tak terkira. Senyumku tak bisa ku lepaskan dari wajahku. Lihat ! Bahkan burung-burung cantik yang belum pernah kulihat di ensiklopedia manapun terbang rendah dan menyapaku.


" Mau sampai kapan kau terjun seperti itu ?"


" Oh Momo ? Kita di dunia lain, lihat ini dunia lain !!" Sorakku.


" Ya ya terserah lah, lalu mau sampai kapan kau akan terjun bebas seperti itu ?"


" Apa yang terjadi pada Izumi ?"


" Daripada kau mengkhawatirkan orang lain, khawatirkan dulu dirimu. " Jawab Momo dengan wajah datar


" Eh  ?" Aku merasa ada yang aneh.


Masih dengan wajah datar Momo menunjuk kebawah dengan jarinya.


" Kau bercanda kan ?" Karena terlalu senang aku sampai tidak sadar bahwa sekarang aku terjun bebas.


Hanya tinggal hitungan puluhan meter aku akan jatuh ke bumi. Tidak lucu kan jika mati di hari pertama berkunjung, ya kan ?


Hah... Hidup memang singkat. Semoga di kehidupan ku selanjutnya bisa menjadi kakak mereka lagi.


Adik-adik ku, selamat tinggal.


Tapi bohong...


Ku buat medan persegi seperti papan seluncur setebal 2 Cm di bawahku, ku beri mantra sihir peredam getaran. Lalu ku tambahkan dengan sihir lainnya sihir manipulasi gravitasi. Lalu dengan sedikit manuver dan memanfaatkan tekanan angin pendaratan mulus untuk pertama kalinya berhasil dilakukan.


Momo, serta Izumi yang pingsan datang setelah ku dengan mengendarai Sapu Terbang kuno.


" Sebenarnya apa yang terjadi ?, seharusnya kita berada di transmisi seberang, kan ?"


" Sepertinya ada kesalahan pada kordinat pendaratan "


" Yah, anggap saja salam selamat datang " Hibur ku.


" Sebelum berangkat, Sensei memberikan sesuatu yang harus di buka segera setelah sampai kan, apa itu ?" Momo mengingatkan.


Hampir saja aku lupa karena terlalu senang datang kemari.


" Mana dia, mana dia... Ah ini dia " Sorak ku ketika berhasil menemukan sepucuk surat setelah merogoh semua kantung di pakaian ku.


" Apa isinya ?"


Ku baca isi surat itu. Dan isinya...


Aku tidak mau tau, aku tidak liat, aku tidak mau tau.. Dasar nenek sihir, perusak kesenangan.


Momo merebut kertas yang ku remas. Dan ia pingsan di tempat. Kertas itu terbang terbawa angin dan hinggap di wajah Izumi dan membangunkannya, Izumi meraih kertas itu dan membacanya.


Setelah Izumi membacanya, ia kembali pingsan.


Kertas itu lepas kembali ke udara, terbang bebas sesukanya masuk jauh ke kedalaman hutan dimana tidak ada kehidupan di sana.


"" JANGAN BERCANDA... !!""