7 SLEEPER

7 SLEEPER
Kelinci Percobaan



Akhir pekan ini kami berencana akan mengambil misi lagi di guild petualang, untuk sekedar memenuhi kuota saja.


Tapi itu hanya rencana, dan rencana tidak selalu bisa di serialisasi kan.


Izumi yang bertahan di klub Kesatria, terjebak dengan kegiatan Klubnya.


Sedangkan Momo menghabiskan waktunya bersama Rin dan wanita bangsawan lainnya di taman Istana.


Kazu juga tidak bisa ikut karena bukan seorang petualang.


Tinggal aku sendiri merenung di bawah siraman cahaya mentari pagi.


" Apa yang harus kulakukan untuk menghabiskan waktu."


Aku seperti ikan kering yang di jemur.


Aku sangat luang sampai dua hari ke depan.


Aku juga belum masuk ke klub manapun.


" Apa aku pergi sendirian saja ?"


Sendirian pergi berburu aku bisa saja. Masalahnya nanti jika aku tersesat itu yang aku pikirkan sekarang.


" Rikun, apa yang kau lakukan ?!" Teriak Rin dari tengah taman tak jauh dari tempatku berjemur.


Aku tidak punya tenaga untuk menoleh. Rasanya semua energi yang tadi pagi melimpah luas sekarang menjadi kering.


" Hey, aku memanggilmu dari tadi loh "


Rin menghampiriku dengan pakaian tuan putrinya.


" Kau menghalangi matahari Rin, awas."


" Kau ingin mengering ?"


" Aku ingin kering " Jawabku lemas.


" Daripada disini ayo gabung dengan kami"


" Aku tidak tahan dengan sesuatu menyangkut ramah tamah kaum bangsawan, sudahlah kau kembali saja, biarkan aku mengering disini"


" Dasar... tidak asik, Rikun kau tidak asik!!" Rin dengan kesal kembali ke mejanya dan bergabung lagi dengan teman-temannya kaum bangsawan.


2 jam kemudian, wajahku menjadi sakit. Mataku ber kunang-kunang. Aku ingin bangkit tapi tidak bisa. Matahari semakin menyakitkan dan kulitku serasa terbakar.


" Hey Rikun, melihatmu rusak seperti ini membuatku sedih, kau tau. Kenapa tidak bergabung saja"


" Rin, tolong aku. Aku tidak bisa bergerak "


Beruntung Rin datang dengan cepat dan membantuku berpindah.


*****


Aku meminta segelas teh es dan berteduh di kanopi mereka.


" Ah.... Aku hidup kembali " Rasanya menyegarkan, senang rasanya hidup kembali.


" Hey, sebenarnya kau itu kenapa ?"


Dengan santainya Rin menggunakan bahasa santainya tanpa ia sadari meski kini sedang di depan Putri yang lain.


" Aku hanya merasa bosan " Jawabku singkat. Karena aku memang merasa bosan.


" Jika kau dari tadi bergabung dengan kami, kau tidak akan terbakar seperti tadi"


Ugh.. Kata-katanya tepat sasaran.


" Aku tidak bisa menyangkalnya untuk yang satu itu "


" Benar juga, aku belum memperkenalkan kalian dengan benar bukan. Biar ku perkenalkan, mulai dari kananmu. Levi-Chan, Silvy-Chan, dan Moli-Chan "


Nona nona yang terlihat tidak kalah berkilau itu satu persatu memberikan salam kecil ketika nama mereka di sebut.


Sebagai respon dari keramahan mereka, sebagai pendatang aku juga memberikan salam perkenalan.


Seperti acara ramah-tamah kebanyakan, aku menghabiskan waktu bersama mereka dan bertahan dengan semua obrolan mereka yang membosankan.


Hingga waktu makan siang datang. Pelayan membawa para Nona ke ruang makan, dan para Nona-Nona juga tidak menolak ajakan tersebut.


Aku juga tentu saja.


Di meja makan, para Nona-Nona terlihat lebih kaku  dari sebelumnya. Terlebih ketika tau Orang penting Nomer 1 di negeri ini, bergabung dengan mereka.


Yang Mulia juga sempat berdialog singkat dengan Nona nona itu walau hanya sekedar basa-basi, ketika mengetahui mereka satu meja.


Aku mencoba menghapus kehadiranku dan mencoba tidak terlihat.


Bukan dalam artian yang sebenarnya, hanya kiasan. Maksudnya, aku tetap makan siang namun aku tidak akan mempedulikan apapun yang sedang terjadi. Aku terlalu lelah hari ini.


Aku tidak menemukan Ayah ataupun Ibu beberapa hari ini.


Aku tau mereka sibuk, tetapi aku masih penasaran dengan Posisi dan pekerjaan mereka di Istana ini.


Yosha. Mari kita kunjungi mereka setelah makan siang.


******


Setelah makan siang, aku meminta pelayan membuatkan aku peta ketempat kerja orang tua ku.


Mereka awalnya akan mengantarku dengan kereta, namun karena aku bilang tidak perlu, sebagai gantinya mereka mengirim ku 2 prajurit sebagai pengawal.


Bukan sebagai pengawal tepatnya, tetapi sebagai pengasuh, agar aku tetap di jalur yang tepat dan tidak tersesat.


" Sebenarnya seberapa tinggi ketidak percayaan kalian padaku ?"


Ketika aku mengeluh itu kepada mereka, mereka hanya menunjukan tatapan prihatin.


Yah, aku juga tidak akan marah. Sudah sewajarnya mereka begitu.


Dua prajurit membimbing ku menuju sebuah bangunan mirip Tempat Riset, tidak... itu benar-benar tempat Riset dan tempat para Ilmuan ilmuan berkumpul.


Laboratorium mereka juga sangat banyak.


Terdapat beberapa Komplek bangunan disini dan itu terbagi dalam beberapa divisi. Terstruktur dan rapi.


Beberapa ilmuan yang melihat kami masuk kedalam pekarangan, datang dengan tergesa-gesa menghampiri kami.


Salah seorang prajurit sedikit berbincang-bincang dengan Ilmuan tersebut. Dan setelah itu, entah kenapa posisi Pengawal ku di ambil alih oleh Ilmuan yang ku lihat tadi.


Pria berkaca mata yang terlihat ramah dan santun.


Suaranya menenangkan hati setiap kali menjelaskan dan membimbing ku ke berbagai tempat di fasilitas ini.


Dia juga menjelaskan sejarah berdirinya Organisasi besar ini. Sampai alasan mereka bekerja di tempat ini, juga tentang Potion yang sedang mereka kembangkan dengan teknologi canggih masa ini.


Aku masih heran dengan pekerjaan orang tuaku ini, terutama ibuku. Aku pikir Ibu itu adalah Penasehat Raja dengan kantor seperti kantor Notaris.


Tetapi aku malah di giring ke Tempat Laboratorium.


Sebenarnya aku masih berfikir jika aku masih tersesat saat ini, namun ketika kami melewati lorong-lorong dengan dinding kaca itu. Aku melihat para ilmuan dengan pakaian Hazmat tengah sibuk dengan Mikroorganisme mereka.


Ilmuan yang menggiring ku kesana kemari itu menjelaskan apa yang sedang para ilmuan itu lakukan, meski aku tau hanya dengan melihatnya langsung.


Disinilah mereka bermula. Mereka mengembangkan jamur dan bakteri baik yang berguna untuk pembuatan obat.


Mereka terkadang juga di mintai untuk memeriksa seberapa higienis makanan baru sebelum beredar di kota.


Dan tak jarang pula mereka menemukan beberapa di antaranya tidak layak untuk di konsumsi.


Begitu yang kudengar.


Lalu, pada bangunan terakhir adalah, divisi sihir dan perakitan alat sihir.


Wow, aku pernah menemukan fasilitas yang seperti ini di Akademi, ketika berkeliling bersama Alan, Meski tidak sebesar dan selengkap seperti yang ada disini.


Bau ramuan yang kuat bahkan sampai tercium meski ruangan itu tertutup rapat.


Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam. Karena faktor keamanan dan kenyamanan pekerja.


Aku mengerti.


Di seberang gedung yang masih satu divisi dengan ini, ada bangunan lain yang mirip dengan Bengkel Senjata.


Meski di sebut Bengkel, disini terlihat lebih bersih.


Ada berbagai senjata dan peralatan lain yang dibuat dan di cetak dengan mesin-mesin berteknologi canggih.


Aku pikir disini tidak ada listrik, tetapi mengapa semua mesin itu dapat bergerak. Apa bahan bakar yang mereka gunakan.


Apakah bahan bakar Fosil ?


Tidak mungkin, tidak ada yang seperti itu disini.


Dan itu sudah di konfirmasi oleh penguasa Penguasa Negeri ini.


Lalu, apakah batu bara? Uap?


Tidak ada asap pabrik disini, lagi pula jika ada itu akan mempengaruhi kesehatan semua penduduk di kota.


Saat aku memberanikan diri untuk bertanya.


" Sihir ?!"


" Benar, semua ini menggunakan sirkuit sihir. Dengan menggunakan sebuah sirkuit sihir khusus, mesin-mesin ini mampu bergerak tanpa kehilangan kontrol ataupun meledak karena kelebihan beban, tentu saja bahan bakarnya adalah Kristal sihir. Meski mahal namun ramah lingkungan dan bisa di isi ulang oleh kami."


Aku hanya mampu mengangguk dan membulatkan mulutku.


Aku juga di antar ke tempat para pekerja beristirahat yang mereka sebut.


" Kantin "


" Benar, disinilah para pekerja menghabiskan waktu selama beristirahat dan sarapan, makan siang bahkan makan malam"


Meski waktu makan siang sudah lewat, tetapi masih ada beberapa orang disini, ada yang terkapar di bangku, ada yang tertidur sambil terus menyuap makanan ke mulutnya, ada yang membenamkan wajahnya ke makanannya.


Tunggu sebentar, yang terakhir itu butuh pertolongan.


Teman temannya seprofesi menolongnya dan memapahnya menuju ruang perawatan.


" ...... " Ini adalah perusahan gelap lainnya.


Terakhir, aku di antar ke sebuah ruangan yang terpisah, itu adalah bangunan 3 lantai dengan pekerja yang paling sibuk.


Semua karyawan tanpa henti lalu lalang kesana kemari. Itu adalah pemandangan yang menyedihkan. Karyawan perusahaan gelap yang menekan pekerja untuk bekerja melebihi batas kemampuan mereka.


Kami berjalan melewati lautan kekacauan tersebut menuju pintu ke lantai selanjutnya, meski harus bertabrakan dengan mereka beberapa kali.


Lantai 2, meski tidak sebanyak yang ada di bawah, yang disini juga sama sibuknya. Meja mereka hanya di batasi dengan sekat sekat kayu dan sangat dempet.


Sudah seperti team industri hiburan yang sibuk karena di kejar deadline. Mata mereka jauh lebih mati dari pada yang ada di lantai bawah.


Di lantai terakhir. Yaitu lantai 3, ruangannya sempit. Karena semua lantai itu di bagi menjadi beberapa ruangan para petinggi dan direktur.


Aku terus berjalan melewati lorong sempit di antara ruangan-ruangan orang penting. Kami juga menemukan beberapa orang panik lainnya sedang berdiskusi di lorong.


Berkas-berkas yang tergeletak di tepi lorong juga salah satu yang membuat lorong ini sempit.


Lorong itu ternyata tidak hanya satu jalur saja. Ada perempatan ketika di tengah. Aku di bawa ke lorong kanan. Di ujung jalan yang berjarak 2 kamar, ada pintu besar.


Ilmuan itu mengetok pintu.


" Nyonya, aku sudah membawanya."


Nyonya ? ah, Benar juga, mengapa aku sampai di bawa kemari ? aku sampai lupa tujuan awalku.


Apakah ibu ada di ruangan ini ?


Mendengar tidak ada jawaban, ilmuan tadi kembali mengetuk pintu itu sekali lagi.


" Nyonya, aku sudah membawanya "


Di panggilan kedua. Terdengar langkah kecil dan cepat mendekati pintu dan ketika pintu itu terbuka dengan kasar seorang gadis dengan perawakan kecil melompat kearah kami.


Ilmuan itu sempat menghindar tetapi terlambat untukku. Aku bisa saja menghindar, tetapi itu akan menyakiti hatinya.


Dan akhirnya wajahku berakhir terbenam di pelukannya.


Aku membiarkan tubuhku di peluk ketika dia bergelantung di tubuhku seperti Koala.


Lima menit kemudian aku menurunkannya, karena terlalu memalukan.


" Aku tidak percaya kau akan datang kemari Ri-chan"


" Apa aku mengganggu ?"


" Tidak, sama sekali tidak, tenang saja. Aku punya banyak waktu luang kalau itu untuk putra ku tercinta"


Yup, itu adalah Ibuku dengan Tubuh Loli nya. Meski ibu bilang punya waktu luang, tetapi jika melihat tumpukan berkas yang menumpuk hampir memenuhi ruangan ini, aku jadi merasa bersalah datang di waktu sibuknya. Terlebih lagi dengan keributan yang terjadi di lantai bawah dan di bawahnya lagi.


Ibu kembali bekerja setelah aku memaksanya, meski sesekali dia selalu mengintip di sela-sela tumpukan berkas dan memastikan aku masih disini.


" Mengapa berkas-berkas ini sampai bertumpuk menggunung seperti ini?"


Tanyaku ketika duduk di meja tamu yang satu-satunya tampak bersih dan tidak ada tumpukan nya.


Aku mengambil salah satu berkas di map di dekatku dan mengintip isinya sedikit.


Ugh...


Dan ku kembalikan ketempat asalnya.


" Silahkan "


Ilmuan yang tadi selalu bersamaku menyuguhkan ku secangkir teh panas.


" Terima kasih "


" Jangan sungkan, kami mohon maaf karena semua kekacauan ini "


Aku menyeruput teh yang sudah susah payah di siapkan untuk ku.


Tehnya enak, nikmat dan membuat hati tenang.


Aku mencoba mengambil lagi satu berkas di tumpukan lain.


Semuanya berisi tentang permintaan bantuan obat dan finansial dari berbagai tempat.


Ada juga permintaan alat untuk pengairan di desa yang sedang di landa kekeringan.


Mulai dari hal sepele sampai yang memprihatinkan  semuanya di kumpulkan jadi berkas, karena itu sampai menumpuk seperti ini.


Aku bisa saja membantu untuk menyortir mereka semua, tetapi sangat tidak sopan jika aku lakukan, dan lagi semua tumpukan ini pasti sudah di tandai sehingga mereka tidak akan lupa dimana mereka taruh sebelumnya.


Ibu bergabung dengan ku setengah jam kemudian dan menyeruput teh panasnya.


" Hey, Ri-chan, mau magang disini?"


" Eh !! apa yang Ibu katakan ? Jangan bercanda"


" Aku serius "


" Memangnya apa yang bisa di lakukan siswa sekolahan di ranah kerja orang dewasa ?"


" Hee~~ jangan remehkan kami, asal kamu tau saja, Ri-chan. Kami tidak jarang menerima mereka karena pada dasarnya kami memang kekurangan orang dan tidak jarang juga mereka kembali ke sini dan bekerja disini sebagai pegawai ketika mereka lulus."


" Benarkah ??"


" Unn~~ "


" Tetap ku tolak "


" Cih... "


Terlihat jelas di wajahnya meski ia pandai menyembunyikannya.


Tujuan nya sudah pasti hanya ingin main-main saja.


" Benar juga!!, bagai mana jika membantu kami di divisi pengembangan alat ?!"


Serunya kemudian.


Ia melirik ke arah Ilmuan tadi yang masih berada disini.


Ilmuan tadi sempat berfikir keras sebelum menjawabnya.


Hey, tidak perlu di anggap serius. Tolak saja dengan keras. Aku tidak bisa menolaknya, jika ku lakukan Ibu akan terus berceloteh dengan semua ide ide gilanya.


" Boleh di coba "


Woy !!!


******


Pada akhirnya aku tetap di seret ke tempat yang mereka suka.


Aku di bawa ke sebuah Lapangan Tembak Indor. Dengan kamar-kamar sekat logam sebagai pembatas nya.


" Ini adalah tempat penelitian sihir baru dan lanjutan " Ilmuan itu menjelaskan.


Tidak perlu di jelaskan, aku bisa melihatnya langsung. Kecam ku dalam hati.


Mereka dengan seenaknya memakaikan ku sebuah alat perlengkapan perlindungan.


Biar ku beritahu.


Lapangan Tembak ini berada di dalam ruangan dan terlihat identik dengan lapangan Tembak yang seperti di bumi.


Sebuah kamar dan sasaran tembak di ujung lapangan.


" Sarung tangan apa ini ?"


" Itu adalah produk baru kami, sudah di uji coba sebelumnya jadi keamanannya terjamin"


" Bukan itu yang ku tanyakan, mengapa aku di pakaikan benda aneh ini ? itu yang ku tanyakan !!"


Aku mulai lelah ketika ibu terlena dengan ide-ide gilanya. Saking gilanya ide-ide itu aku sampai merasa dia sudah kelewat kreatif.


" Bagai mana ? keren bukan? seperti di Movie "


Ya, memang keren. Aku tidak akan menyangkalnya.


Sarung tangan besi, atau Gauntlet ini cukup mirip dengan pahlawan di Movie terkenal, yang mampu menembakan laser bertekanan tinggi, dengan bahan bakar nuklir.


Kalian pasti taulah siapa yang ku maksud.


Ehem..


Meski terlihat sama dalam segi desain, tetapi fungsinya jelas sekali berbeda.


" Dengar, ini adalah project rahasia Negara, jadi jangan sampai kamu menceritakan semua ini ke orang lain, hanya Raja dan orang penting lainnya saja yang tau benda ini pernah ada."


Aku merinding ke level semua bulu ku berdiri.


" Jangan bercanda !! apa ini jebakan ? "


" Ini serius  "


Suara lucunya ketika mengatakan itu membuatku tidak percaya.


" Kalian pasti sengaja kan, mengerjai ku. Mana mungkin project rahasia seperti ini kalian bongkar pada orang awam, apalagi pada siswa yang baru saja masuk sekolah "


Aku tertawa cukup keras menyanggah kata-kata mereka. Tapi...


Eh ?! Ini...


EEEEE !!!!


" Coba saja dulu !!" Ucap Ibu. Di belakangnya ada beberapa ilmuan yang siap mencatat perkembangan alat mereka.


" Hah..., kalian menipuku... " Gumamku lemas.


" Lalu apa yang harus kulakukan ?"


" Yey !!" Ibu melompat girang dan menyerahkan sebuah berkas.


" Apa ini ?"


" Buku manual, pelajari dalam 5 menit?"


Ujarnya ketika menyerahkan tumpukan kertas setebal buku telefon lama.


" Ibu pasti bercanda, kan ?" Tanyaku berusaha senyum.


" Tentu saja Ibu serius, ini demi kelangsungan hidup ilmuan disini !"


Wajahnya yang serius terlihat tidak meyakinkan.


Tetapi jika ku tolak kelangsungan hidupku juga dipertaruhkan.


" Ya sudah, tapi 5 menit tidak cukup "


" Ya sudah, pelajari saja dulu, panggil kami jika kau siap."


Aku meninggalkan mereka yang tengah mengutak-atik Gauntlet tadi. Ku buka buku manual lembar demi lembaran, itu cukup mudah di pahami karena di sertai dengan gambar yang detail.


Dan benar, lima menit tidak akan cukup. Butuh waktu setengah jam untuk mengingat semuanya.


Ketika mentalku siap, aku mendatangi mereka.


Mereka juga hampir siap dengan persiapan mereka.


Dikamar sebelah juga ada beberapa pria yang senasib dengan ku, menjadi bahan percobaan dari ilmuan ilmuan ini.


" Apa semua persiapan sudah selesai?"


" Sudah nyonya. Semua persiapan darurat juga sudah siap"


" Bagus, lanjutkan dengan tahap selanjutnya "


Apa aku tadi mendengar ada yang bilang darurat?


Benda ini tidak akan meledak kan?


"Ri-chan apa kau siap ?" Tanya ibu dari belakang. Bawahannya yang sangat banyak itu juga menilai setiap gerak-gerik ku. Tidak sebanyak ilmuan di kamar sebelah.


" Mulai saja!" Aku hanya ingin pergi secepatnya dari sini.


Alaram tanda dimulainya experiment berbunyi. Di lapangan muncul satu target dengan jarak 10 meter.


Dan sesuai dengan dibuku manual nya. Aku mengalirkan mana pada benda di tanganku, benda itu mulai bersinar mengikuti jalur sirkuit yang berkumpul pada pola sihir di punggung Gauntlet.


Aku mengarahkan telapak tangan ke arah target, mempelajari jarak dan tenaga untuk meluncurkan sihir dasar.


Sebuah bola api terbang melesat dan menghancurkan target kurang dari sedetik setelah muncul.


Satu persatu, target mulai muncul dan semakin jauh.


Aku masih bisa mengatasinya, masalahnya adalah setelah ini.


Target yang muncul  kini bergerak ke kiri dan ke kanan. Pada manual nya ada cara untuk mengendalikan sihir agar bisa dibelokkan di udara, seperti peluru kendali.


Tidak, cara kerja peluru kendali bukan seperti itu.


Tetapi mari percayakan pada manual nya saja.


Tash tash tash...


Satu persatu target itu mengenai sasaran, tetapi ada yang salah. Sistem mereka sama sekali tidak mengendalikan sihir yang ku tembakan dengan sempurna.


Jangankan berbelok, bergerak beberapa derajat saja tidak. Target yang terkena sihir hanyalah murni karena cepat saja.


Lebih cepat ketimbang ketika latihan bersama Sora-Nee.


Aku melirik ke arah ilmuan, mereka juga tengah berdiskusi karena menemukan kecacatan.


" Tidak apa-apa, lanjutkan, berikutnya "


Berbagai macam percobaan kami lakukan, aku lebih tepatnya. Lambat laun permintaan mereka semakin tidak tau diri. Mereka bahkan memintaku melakukan hal yang sama sekali tidak ada di Manual nya.


Sampai di sini aku masih bisa tahan. Tetapi ketika mereka mulai minta yang tidak tidak, aku mulai jengkel dan membentak mereka.


Sampai mereka kembali ke rencana awal.


" Sudah semua kan ?"


" Hm... Ya sudah semua, bagai mana perasaan mu ?"


" Aku merasa semakin konyol setelah semua ini "


" Bukan itu yang ini tanyakan, bagaimana tubuhmu? Apa kau merasa mual ?" Selidik Ibu cemas.


" Aku baik-baik saja, ada apa?"


" Hm... Kemari sebentar "


Ibu berjalan ke kamar pemeriksaan kesehatan di sana dan memintaku berdiri di timbangan berat badan.


Ketika benda itu di nyalakan, angka-angka di sana mulai berputar seperti mesin pachinko. 3 logo yang aku tidak tau apa artinya muncul.


Setelah itu dengan semena-mena ibu kembali menyuruhku melakukan semua tadi mulai dari awal.


Namun bedanya, kali ini tanpa Sarung tangan Gauntlet itu.


Tidak mau di bilang durhaka, aku melakukan semua perintah ibu.


Hasilnya tidak jauh berbeda.


Namun para ilmuan, tampak kebingungan. Mereka kembali berdiskusi bersama, sambil sesekali melirik ke arahku.


Lima menit, enam menit, tujuh menit sampai sepuluh menit kira kira, mereka kembali kepadaku.


Dan lagi aku di seret ke dalam ruangan kesehatan.


Benda itu lagi lagi di nyalakan dan logonya kembali bermunculan.


Dan aku di seret lagi kembali ke lapangan Tembak. Dan mereka kembali berdiskusi.


Hal itu membuatku jengkel, di seret kesana sini dan melakukan ini itu. Sekarang aku paham perasaan orang yang menjadi Bahan percobaan.


" Ahhhh!!!! "


" Ada apa ?!!"


Semua orang panik ketika salah satu ilmuan  yang memeriksa Gauntlet tadi berteriak.


" Apa yang salah ?"


" Sekarang aku paham !!"


" Apanya ?"


" Ini!!" Kata orang itu menunjukan Gauntlet itu ke depan wajah ilmuan lainnya.


Dan di detik kemudian, semua ilmuan itu ikut berteriak, sampai menarik perhatian team di kamar sebelah.


Mereka tampak lega dan mengelus dada mereka sendiri, sampai di detik berikutnya mereka melirik ku dengan penuh harap.


" Apa ?!!" Jawabku mulai kelelahan dengan semua keegoisan mereka.


" Maaf, ternyata kami belum menyalakan tombol mekanismenya, kami mohon maaf " Ibu meminta maaf mewakili teamnya.


Aku tidak bisa menolaknya jika dia menunjukan wajah lucu seperti itu. Ibu benar-benar memegang kelemahanku.


Ya sudahlah.


Dengan begitu eksperimen kami, terus berjalan.


Kali ini mereka sudah memastikan  semua tombol sudah menyala dan kami mulai lagi dari awal.


" Fire ball"


Kurang dari sedetik, target meledak dengan kekuatan dahsyat. Jauh lebih besar dari yang sebelumnya.


Bahkan hembusan angin karena gelombang kejut dari ledakan mampu menerbangkan semua orang hingga terhempas ke dinding kaca pembatas.


Aku beruntung bisa bertahan, padahal aku yang paling dekat dari ledakan.


Tubuhku bergetar, aku pikir aku hampir mati tadi.


" Benda ini, menakutkan. Tidak salah benda ini di rahasiakan, sialan sepertinya aku sudah membantu mereka menciptakan senjata pemusnah massal"


Tidak sengaja gumaman ku bocor sampai keluar.


Dan satu orang lagi yang duluan bangkit mendengarnya.


" Yatta!!!"


Itu adalah ibu. Dia bersorak seperti anak kecil berlari kesana sini dan terakhir memelukku sambil tertawa lepas.


Dari wajahnya aku bisa melihat sosok Miki dan Miku, mereka bertiga sangat mirip sampai kepribadian mereka pun sama.


" Ri-chan, berhasil loh, itu berhasil"


" Iya iya aku melihatnya"


Setidaknya Ibu senang, itu saja cukup. Aku tidak butuh yang lain.


Setelah semua orang sadar, penelitian kembali di lanjutkan dengan semua orang kini berdiri di belakang kaca pengawas. Menyisakan aku sendirian di lokasi.


Aku terus dimintai menembakan fire ball yang ledakannya semakin mirip dengan rentetan Rudal Balistik.


Aku bahkan tidak tau apa sihir ku mengenai target atau tidak, aku hanya melakukan seperti apa yang mereka suruh, kepulan asap ini terlalu tebal, bahkan jarak pandang ku hanya dua atau tiga meter saja.


Aku bahkan sampai sulit bernafas. Tetapi sebelum semua percobaan selesai, aku diminta agar tidak berhenti.


Di dalam hati aku berfikir, ya sudah habisi saja semua targetnya. Sekaligus aku juga bisa membuang stres ku yang bertumpuk sedari tadi.


Kulepaskan semuanya sihir fire ball itu sampai penerangan kamar itu redup dan lampu merah di sana menyala kedap kedip diiringi alarm peringatan kebakaran menyala, api berkobar di sana sini, mengakibatkan hawa panas mulai membuatku sesak. Tak lama sistem keamanan kebakaran menyala dan memadamkan api api itu, dan menghasilkan uap yang memenuhi ruangan. sebelum aku mati lemas karena kehabisan oksigen, ku pakai masker oksigen yang tadi juga mereka siapkan.


" Okey, Cukup !!" Ibu bicara dari balik ruangan kaca, menggunakan pengeras suara.


Mendengar itu aku pun berhenti.


perlahan asap asap yang tadinya memenuhi ruangan perlahan juga menghilang terhisap melewati ventilasi yang terpasang di sepanjang lapangan Tembak.


Para ilmuan datang menghampiri ku dengan wajah segar dan tepuk tangan meriah mereka hadiahkan untukku.


Aku yang sudah merasa segar karena habis mengamuk menerima sambutan mereka dengan senang hati.


Di dalam hatiku saat itu cuman satu.


Aku ingin pulang !


Itu saja. Aku ingin ini cepat berakhir.


" Bagai mana perasaan mu "


" Aku merasa segar sekali "


" Buka itu yang ku tanyakan ? apa kau mual ? atau tubuhmu ada yang sakit ?"


Eh, dejavu  ?


" Aku baik-baik saja, aku bahkan merasa lebih semangat dari sebelumnya "


" Kau yakin ?"


" 100% yakin, boleh aku pulang ?"


" Belum "


Ugh...


" Ibu keterlaluan " Keluh ku.


Sebenarnya percuma saja aku mengeluh, aku padahal sudah menghindari agar ibu tidak terlalu terbawa suasana. Karena jika tidak, ibu akan keterusan dan tidak bisa berhenti.


Itu alasan kenapa aku dari awal sudah wanti-wanti supaya ibu tidak terlalu bersemangat. Karena jika sudah begini aku sendiri yang kerepotan karena tidak bisa menolak.


Lalu, sebuah masalah datang ketika semua orang sedang bergembira.


" Apa-apaan ini semua  !!"


Seorang pria dari kamar di sebelah masuk dan mengamuk dengan wajah marah.


Tatapannya tajam dan kasar ketika ditujukan pada para ilmuan. Aku jengkel dan ikut marah karena Ibuku juga ada di sana ketika ia mengarahkan kemarahannya.


Dengan nafas berat dan kasar dia beralih menatap ke sarung tangan yang masih ku kenakan.


Wajahnya semakin garang. Ia dengan kasar mendekati ku dan mencoba merebutnya dari ku.


Tentu saja aku menolak dia merebutnya dengan paksa.


Aku bahkan tidak tau apa yang sedang ia pikirkan.


Aku menepis tangannya.


Sontak dia semakin marah dan mencoba menerkam wajahku.


Aku tentu tidak membiarkan itu terjadi, ku tangkap tangannya sebelum menyentuh wajahku, ku pelintir sampai membuat dia berlutut.


Namun wajahnya sama sekali tidak berubah dan malah semakin marah. Ia mencoba lagi menerkam ku dengan tangan lainnya.


Kesal karena tidak mengerti apa-apa tetapi di serang seperti ini, ku serang lagi tangannya yang tadi ku pelintir dengan lutut ku. Alhasil tangan pria itu patah kearah berlawanan dari semestinya.


Pria itu memekikkan teriakan kesakitan dan meronta-ronta di lantai.


" Ri-chan apa yang kau lakukan ?"


" Maaf, itu reflek "


" Yah, tidak apa-apa kalau begitu "


" Siapa orang ini ?"


" Sepertinya prajurit yang dipilih untuk percobaan"


" Eh, orang ini prajurit ?, tentara ?"


" Benar, tentara "


" Eh, apa aku akan baik-baik saja ?, aku baru saja mematahkan tangannya!!"


" Jangan khawatir, jika kau di bawa ke pengadilan. Kami siap menjadi saksi. Orang ini mengamuk dan menyerang peserta lain dan petugas. Kondisi terburuknya dia akan menerima hukuman atau di pecat dari militer" Ibu menjelaskan.


" Lalu bagai mana dengan dia, bukankah dia butuh pertolongan ?"


" Benar juga " Jawab ibu dengan polosnya.


Tanpa menunggu lagi ibu mengulurkan satu tangannya kearah pria yang mulai lemas itu.


Lingkaran sihir dengan pola cantik muncul di lantai tempat Prajurit itu meringkuk.


Angin lembut dan cahaya menenangkan mengisi sekitar kami.


Itu adalah Heal, sihir pemulihan yang pernah Sora-Nee perlihatkan sebelumnya.


Luka memar biru akibat tulang patah itu mulai menghilang dan tulang itu sendiri bergerak kembali ke posisi semula.


Perlahan wajah nya yang tadi pucat membiru kini mulai terlihat cerah.


Meski tenaganya sudah kembali, aku harus bersiap apa bila dia kembali berulah.


Di tanganku sudah ku siapkan sebuah pedang. Jika dia kembali berulah lagi, dan menyerang ibu yang sudah berbaik hati memulihkan lukanya, aku siap menerima segala resiko dan memenggal kepalanya.


Jangan remehkan seorang Yakuza meski masih remaja.


Setelah sadar, pria itu masih tidak tenang dan tetap memberikan tatapan permusuhan.


Aku siap menebasnya kapanpun, tetapi ibu ku yang dasarnya orang baik terus memperlakukan dan merawatnya dengan baik juga.


Namun entah harga dirinya yang kuat atau dendam pribadinya padaku, aku masih belum tau alasannya mencari gara-gara dengan ku.


Hingga sampai pada saat seseorang masuk ke dalam ruangan, tepatnya kamar lapangan Tembak team kami.


Pria itu sangat besar bahkan mungkin hampir mencapai 3 meter, dengan tubuh kekar. Seragam militernya yang sudah muat itu seakan menjerit setiap kali ia bergerak.


Wajahnya gagah dengan kumis tipisnya.


Dan terlihat sangat berwibawa.


Entah sudah berapa banyak aku melihat pria yang terlihat baik seperti orang itu semenjak menginjakkan kaki di dunia ini.


Semoga wataknya tidak mengkhianati wajah rupawan nya.


Pria raksasa itu datang mendekat dengan langkah lembut nyaris tanpa suara.


Dia melirik kearah ku, lalu pedang di tanganku yang sudah keluar dari sarangnya.


Lalu dia melirik ke arah ibu yang membelakangi ku, dia melihat ibu yang tengah menyembuhkan pria mengamuk yang kemungkinan bawahannya.


Lalu dia melihat bawahannya yang memberikan tatapan tajam ke arahku.


Lalu terakhir, dia melihat ke arah para ilmuan yang ketakutan dan saling berpelukan.


Pria besar itu menghela nafas panjang seketika memahami kemungkinan apa yang telah terjadi.


Pria besar itu menarik kerah pria yang mengamuk. Tenaganya sangat besar, pria itu bahkan terlihat seperti kertas saja ketika dirinya di angkat.


" Ken-chan tunggu dulu, aku belum selesai " Ibu jengkel dengan gaya khas nya yang kekanak-kanakannya.


" Maafkan saya nyonya. Bawahan saya sepertinya sudah merepotkan kalian, aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Kami akan bertanggung jawab dan menanggung semua konsekuensi atas kejadian ini. Aku juga akan menasehati anak ini nanti."


Pria besar yang di panggil ken-chan oleh ibu, terlihat ramah, suaranya yang dalam bahkan menggetarkan hatiku yang juga pria.


Tidak hanya aku, ilmuan pria lainnya pun juga terlihat terkena pesonanya.


Kecuali pria yang tadi mengamuk, wajahnya pucat, badannya terkulai lemas.


Satu hal yang ku bisa simpulkan, pria itu dalam masalah.


Tuan Ken hendak Pamit setelah menjelaskan pangkal masalahnya.


Sebenarnya, test yang dilakukan padanya dan kawan-kawannya tidak ada masalah. Semua berjalan baik bahkan mendapat nilai sempurna dan memenuhi ekspetasi para ilmuan yang menilai.


Tetapi, masalahnya adalah ketika dia secara tidak sengaja melihat test yang kami lakukan terakhir tadi.


Dia merasa bahwa perangkat yang di uji cobakan kepada mereka adalah barang murahan dan tidak sebanding dengan yang di dicobakan kepadaku.


Harga dirinya sebagai prajurit tentu saja tercoreng, merasa terhina karena ada orang lain yang di favoritkan.


Aku paham perasaan itu.


Tetapi seharusnya dia bisa mengabaikannya saja, karena aku bukan dari militer.


Lain ceritanya jika kami sama-sama dari militer dan hanya aku yang di istimewakan.


Aku paham, aku mengerti. Semua ini hanya salah paham biasa, dan mudah di maafkan dan dilupakan.


Tetapi masih ada saja hal yang mengganjal di hati pria yang mengamuk itu. Sebagai simpati akan masalahnya aku mengijinkan nya menggunakan perangkat yang ku pakai, berharap dirinya puas dan diriku tenang.


Aku ingin semua ini berakhir disini hari ini. Aku tidak mau suatu hari nanti dia kembali mengungkit-ungkit kejadian hari ini.


Pria itu mencoba kembali test seperti yang ia lakukan.


Dengan di tonton oleh lebih banyak orang, dia memperlihatkan tontonan yang tidak mengecewakan, meski tidak seheboh yang aku lakukan.


Seperti yang Tuan Ken bilang, tidak ada yang salah. Yang bermasalah itu aku. Aku baru tau. Apa aku seluar biasa itu.


Aku mulai bangga dengan diriku setelah tau aku sedikit unik.


" Kau puas ?"


Tuan Ken menghampiri pria itu dan mengulurkan tangannya, meminta menyerahkan alat ditangannya.


Pria itu jatuh lemas ketika mengetahui kenyataan. Kepalanya hanya mampu tertunduk.


Hah... Jika lebih jauh dari ini dia akan rusak sepenuhnya. Itu akan mempengaruhi mentalnya kedepannya.


" Tunggu sebentar  !"


Aku harus membuatnya kembali ceria, demi masa depannya dan hatiku yang sudah membuat orang hebat sepertinya hancur.


Aku mengeluarkan bola tenis dari tas kecil di pinggang ku. Sebenarnya itu dari inventori ku, aku hanya berimprovisasi.


Pria itu menangkapnya, reflek nya sangat bagus. Ini akan sangat mudah dalam mengajarinya.


" Apa ini ?" Tanyanya.


" Itu adalah bola, aku akan mengajarimu cara efektif dalam melempar sihir dengan singkat"


Semua orang tentu terkejut. Seorang pelajar mengajari prajurit terlatih dalam hal sihir ?!


Tenang tenang, cara ku ini terbukti efektif dan sudah di Klarifikasi ampuh.


" Coba kau remas bola itu " Pintaku.


Pria itu tanpa bertanya melakukannya. Dia mencoba meremasnya hingga sedikit penyet dan kembali utuh karena sifat elastis nya.


Dia mencoba nya hingga beberapa kali, tubuhnya sedikit tersentak ketika mengetahui maksud ku.


" Kau merasakannya ?"


Pria itu tidak Menjawab dan hanya mengangguk. Bagus tidak apa-apa, sekarang tahap selanjutnya.


" Apa kau tau rahasianya ?"


" Tidak tau pasti, tetapi aku sepertinya sedikit paham "


" Bagus, selanjutnya..."


Aku mengambil satu bola lagi dari inventori ku dengan tetap menyamarkan nya dari tas pinggang ku.


Semua orang memperhatikan bola lainnya di tangan ku.


Saat itu juga aku melemparnya sekuat tenaga ke arah target yang tersisa. Bola itu melesat sangat cepat seperti peluru, meninggalkan gelombang kejut dan angin yang terlambat beraksi.


" Itu adalah tahap ke dua, rahasia kenapa aku bisa menembakkan sihir dengan kuat. Jika kau bisa melakukan nya, aku percaya kau bisa menyamai tingkat ku bahkan melampaui ku"


Pria yang merasa percaya dan tidak percaya itu mencoba melemparkan bola di tangannya.


Bola itu terbang melesat meski tidak secepat yang kulakukan, namun masih sangat cepat dari kecepatan reaksi orang normal.


" Mantap, ingat sensasi saat kau melemparnya?"


" Ya... " Pria itu mengangguk kagum dengan  lemparan nya.


" Sekarang lakukan lagi dengan sihir fire ball, bayangkan kedua sensasi tadi bersamaan. Tidak perlu terburu-buru, lakukan perlahan. Yang perlu kau lakukan hanyalah.... berlatih dan terbiasa !!"


Teriakku menyemangati di akhir kalimat ku.


" Umm!"


Dia mempertaruhkan semua ilmu yang baru saja di dapatnya dengan tembakan berikutnya.


Dia berkonsentrasi penuh pada sihirnya. Dengan perlahan dia mulai membentuk garis api yang mulai berputar dan saling mengisi, dia terus mengisi dan mengisi hingga membentuk bola bulat sempurna.


Butuh 10 detik baginya untuk membuat sebuah Bola api sempurna.


Tidak buruk untuk di percobaan pertama.


" Yup, seperti itu. Sekarang ingat sensasi ketika kau melemparnya tadi. "


Pria ini cepat belajar.


Bola itu terbang dan melesat dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari saat dia melemparkan bola.


Hentakan dan kejutan dari sihirnya itu membuat tubuhnya terlempar kebelakang sehingga membentur dinding kaca.


Berita bagusnya, fire ball yang ia tembakan terus melaju hingga mengenai target terjauh dan meledak, ledakan itu menghasilkan kepulan asap sama seperti ledakan yang aku buat.


" Mantap!!" Sorak ku.


Ku hampiri dia yang masih terkejut dengan kekuatannya sendiri.


Ku rentangkan tanganku kearahnya, dan ku bantu ia berdiri.


" Lihat !, kau bahkan bisa melakukannya. Kau Hanya perlu terbiasa saja."


Dia seperti orang bodoh yang linglung dengan apa yang sudah ia lakukan. Menunjuk target yang hancur dan dirinya berkali-kali.


Semua orang bertepuk tangan dengan keberhasilan prajurit itu di percobaan pertamanya.


Semua masalah terselesaikan hanya dengan satu tembakan. Dan pertumpahan darah dapat terelakan.


******


Setelah kejadian hari itu aku selalu di mintai bantuan oleh Pegawai di laboratorium untuk melatih peserta lainnya.


Yah, tidak masalah. Lagipula aku juga luang setelah jam sekolah usai. Aku juga mendapatkan bayaran dari melatih para peserta.


Tetapi Ibuku tampak kesal karena aku lebih memilih menjadi instruktur ketimbang menjadi asisten barunya, supaya aku bisa membersihkan Berkas yang menumpuk di ruangannya.