
Hari terakhir liburan paska ujian.
Rion masih galau karena kejadian kemarin.
Izumi menceritakan semuanya, semua yang Rion dengar, semua yang Rion lihat. Semuanya dikarenakan sifat alami Mulan ketika melindungi diri.
Sihir pertahanan Mulan secara otomatis aktif secara tidak sengaja hanya dengan berada di dekat Rion yang dia anggap berbahaya.
Sebagai mantan petualang yang berpengalaman, insting nya kembali aktif dengan melihat aura kental dari Rion.
Dilain pihak, Rion juga terlalu tidak peka ketika berhadapan dengan orang-orang di dunia ini.
Ketika masih di Bumi dia selalu berbuat onar bahkan melakukan sesuatu hal yang gila, seperti melakukan pekerjaan yang biasanya harus dilakukan sekelompok orang, namun dia bisa lakukan hanya dengan sendirian.
Namun karena semua orang sudah terbiasa melihat itu, jadi mereka hanya bisa melihat semua pekerjaan Rion sebagai sesuatu hal yang Normal.
Oleh karena itulah dia sama sekali tidak berpikir, bahwa apa yang di lakukannya di Bumi dan dia terapkan di Dunia Lain ini adalah hal yang wajar.
Dia sama sekali tidak sadar, bahwa akal sehat di Bumi dan di Dunia Lain ini sangat berbeda jauh.
Teman-temannya sudah sering menasehati nya tentang akal sehat di dunia ini, namun karena dirinya yang terlalu bersemangat karena tau kalau di dunia lain ini punya banyak hal menarik yang tidak bisa ia dapatkan ketika di Bumi, dia cendrung melupakan semua nasehat dari teman-temannya.
Tidak hanya Rion, bahkan Ayah nya juga punya kebiasaan yang sama persis ketika terlalu bersemangat, sampai-sampai lupa untuk menahan diri.
Namun meski begitu, mereka masih tetap baik dan berhati hangat menanggapi semua orang. Tak jarang juga mereka berbuat konyol hanya untuk memecah ketegangan, meski lawan bicara ketika itu adalah orang penting.
Lalu apa yang menyebabkan mereka sampai seperti itu ?
Jawabannya hanya satu.
Semua itu berkat asuhan dari Kepala Keluarga Kazuma yang saat ini.
Kakek dari Rion dan Ayah dari Ayah Rion.
Meski didikan dari kakeknya keras, namun mereka masih mendapatkan pelajaran bagaimana cara berinteraksi dengan semua orang tanpa mengenal status.
Karena itulah, sifat liar nya yang saat ini adalah hasil tempaan dari kakeknya. Semua keluarga Kazuma juga begitu tidak terkecuali, meski mereka adalah keluarga yang cukup di segani, namun mereka masih tetap berinteraksi dengan kalangan bawah bahkan tak jarang ikut turun tangan dalam kegiatan bakti sosial.
Rendah hati dan tidak sombong.
Semua orang adalah keluarga.
Mudah senyum.
3 Motto utama keluarga mereka yang masih ia pegang sampai sekarang.
Karena itu, Rion datang kembali Ke guild untuk bertemu dengan Guild Master.
" Sungguh aku memohon minta maaf yang sebesar besarnya dari lubuk hati ku yang paling dalam."
Rion melakukan Dogeza di lantai, suara keras karena benturan kepalanya yang bertemu lantai kayu itu mengejutkan Guild master, dalam artian lain.
Didalam ruangan kerja Master Guild. Rion mengutarakan penyesalan atas perbuatannya kemarin. Dirinya sudah lancang dan tidak sopan pada Guild master, terlebih dengan kata-kata 'ingin membunuh'.
Mulan menjadi bingung karena semua kejadian itu, masalah kemarin saja masih meninggalkan Shock mendalam dihatinya dan sekarang dia di suguhkan dengan pemandangan pelaku yang membuat ia galau semalaman itu, kini tengah bersujud meminta maaf di hadapannya.
Mulan tidak tau harus merespon seperti apa setelah semua kejadian yang terjadi terlalu tiba-tiba itu.
Dia juga merasa tidak sopan jika membiarkan seseorang terus bersujud untuknya.
Masalahnya adalah dia sama sekali tidak tau apa yang harus dikatakan, kepalanya tiba-tiba saja kosong.
Terlebih lagi ketika dia baru menyadari bahwa Rion adalah anak teman dekatnya sendiri.
Teman satu party di masa-masa jaya mereka.
Mulan juga baru sadar jika Rion mempunyai sebuah nama belakang yang sama dengan temannya.
Lagipula sedari awal Rion sama sekali tidak memperkenalkan dirinya sebagai seorang Kazuma, melainkan sebagai seorang petualang bernama Rion saja.
Mulan tidak bisa berhenti terkesima dengan kelucuan temannya yang satu ini, wajah awet muda yang terawat dengan baik, tidak seperti dirinya yang terus menua seiring bertambahnya umur.
Meskipun Mulan sendiri tidak pernah menyadari bahwa wajahnya sendiri sangat populer dikalangan para petualang.
Bukan rahasia lagi bagi kalangan petualang di ibukota ini, bahwa party yang di ketuai Mulan sangat terkenal karena kecantikan para anggotanya. Bahkan sampai hari ini, cerita keemasan parti mereka masih bisa terdengar sampai keluar kota.
Hanya saja mereka belum mendengarnya saja, betapa mereka sangat di idolakan
******
Kembali ke cerita awal.
Mulan masih terkejut dengan kenyataan bahwa Petualang bernama Rion ini adalah Putra dari sahabatnya.
Semenjak party mereka dibubarkan, mereka memang sangat jarang sekali bertemu. Bukan berarti hubungan mereka renggang atau yang lainnya, hanya saja mereka sangat disibukan dengan pekerjaan mereka yang menumpuk.
Oleh karena itu Mulan sama sekali tidak mendengar kabar lagi tentang putra sahabatnya yang terpisah jauh itu.
" Tidak ku sangka, kita bisa berkumpul seperti dulu lagi, Mulan!!"
Mimio, Ibu dari Rion Memeluk Mulan yang masih memproses semua informasi baru yang ia Terima.
Mulan mulai merasa tenang setelah di beri sebuah pelukan dari Mimio.
" Minion, kau masih saja manja seperti dulu, tidak ada rencana mau berubah kah " Mulan membalas pelukan sembari mengelus kepala sahabatnya yang tersenyum dengan wajah kekanak-kanakan.
" Aku ya aku, dan satu lagi. Jangan panggil aku Minion, aku tidak sekecil itu."
" Hahaha sampai kapanpun kaun pantas mendapatkan gelar itu."
" Gara-gara kau selalu memanggil ku Minion, semua orang masih saja memanggil ku Minion sampai sekarang, hum."
" Lihat pipi yang menggembung ini, rasakan ini "
Mulan mengerjai Mimio dengan menusuk pipi nya yang memang menggembung.
" Ya, aku juga masih tidak percaya, kau bisa bertemu lagi dengan putra mu setelah sekian lama"
" Hehehe "
Rion sedikit canggung dengan pembicaraan antara ibu nya dan sahabatnya, ketika dirinya masih berada pada posisi Dogeza.
Dia bisa saja menyela namun itu akan sangat tidak sopan, karena tujuan dia Dogeza adalah agar dirinya yang sudah lancang membentak dan mengancam Guild master, dapat di maafkan.
Dia sudah menyerahkan bingkisan sebagai tanda ramah tamah. Namun permintaan maaf nya masih belum ia Terima. Karena itu dia masih terus melakukan Dogeza sampai sekarang.
" Minion, bisa kau lakukan tentang yang satu ini ?" Pinta Mulan yang merasa canggung dan melihat putra sahabatnya tengah bersujud kepadanya.
" Tidak, jangan dulu, dia pantas mendapatkannya !"
" Aku minta maaf " Rion merintih.
Ia tau saat ini ibu nya sedang marah besar, karena ia sudah berbuat lancang pada sahabat ibunya.
" Minion, sudahlah. Aku sudah memaafkannya. "
" Sungguh ?!" Rion senang dan mulai bangkit.
" Siapa yang menyuruh mu berdiri ?!!, kembali bersujud !!!" Bentak Mimio.
Rion pun mengikuti kata-kata ibunya meski harus merintih.
" Minion, sudahlah " Mulan mencoba melerai dan menenangkan Sahabatnya itu.
" Tidak bisa, aku tidak Terima !"
" Tapi Minion "
" Mulan duduk saja "
" Tapi ini.. "
Mulan terus menenangkan Mimio, namun orang itu sama sekali tidak mengiyakan nya.
" Tangan di belakang !!"
" Siap bu "
Rion bersujud dengan kedua tangannya di belakang.
" Angkat bokong mu !!"
Rion kembali mengikuti perintah ibunya. Dia mengangkat pinggulnya ketika masih dalam keadaan bersujud.
Kini semua berat badannya berkumpul di kening nya. Rasa pegal dan nyeri di kepalanya masih bisa dia tahan sampai perintah selanjut nya.
" Sekarang, katakan 'Nona Mulan aku minta maaf karena membentak mu', cepat !"
"Master, aku minta maaf karena sudah membentak mu !!"
" Sekarang katakan, 'Aku sangat sayang Ibuku !!' "
" Aku sangat sayang ibu... !!, sebentar ??"
Merasa ada yang aneh, Rion mencoba menggerakkan kepalanya dengan hati hati agar tulang lehernya tidak terkilir, dia melihat ibunya sedang memasang wajah nakalnya.
" Ibu, kau mengerjai ku ?"
" Cih.. Ketahuan "
Rion sampai tidak habis pikir, bisa-bisanya ibunya sampai tega mengambil kesempatan ini untuk mengerjai nya.
Tapi Rion sama sekali tidak marah ataupun jengkel, dia hanya tidak percaya saja. Rion hanya mampu tersenyum tanpa ekspresi.
" Minion, kau pasti sengaja kan ?"
Merasa dirinya sedang di manfaatkan untuk mengerjai putranya, Mulan hanya mampu memijat kepalanya yang tidak pusing.
*******
Setelah urusannya selesai dengan Guild Master. Rion mengundurkan diri dan membiarkan para wanita untuk bereuni.
Sekarang Rion kembali senggang sampai sore.
Dirinya ingin mengambil misi mudah yang tidak membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, sebagai ganti rugi karena sudah membohongi guild.
Untuk menebus itu semua dia akan mengerjakannya dengan benar sekarang.
Rion memandangi semua misi dipapan sangat lama, dia tampak menimbang segala aspek di setiap misi yang tertera.
Satu jam lamanya dia di sana namun semua itu sia-sia. Dia sama sekali tidak menemukan satupun misi yang cocok untuk di ambil dengan kurun waktu kurang dari satu hari.
Ekspetasinya ketika bermain game masih kental ia pakai hingga sekarang. Karena di dalam game, semua misi dan Field nya bisa di jangkau dengan menggunakan sistem auto dan teleportasi.
Dengan kata lain, akal sehat dunia ini masih belum dia pahami sepenuhnya dan dipikirannya saat ini adalah dunia lain ini adalah sebuah game dan semua item drop dari monster itu adalah koin emas dan batu sihir.
Rion masih butuh waktu untuk sadar bahwa kenyataan itu tidak seindah dan senyaman di dalam game.
Tapi itu tidak penting. Di masa depan yang tidak lama lagi, Rion akan sadar bahwa ini adalah dunia nyata.
Oleh karena itu seseorang yang tengah mengawasinya dari jauh dan tidak terjangkau oleh kemampuan manusia sedang mempersiapkan sesuatu untuknya.
Persiapan yang disusun hingga matang sebagai latihan menghadapi situasi yang nantinya akan merubah kehidupannya.
Semua pemeran sudah berasa di tangannya dan skenario sudah ia bagikan. Selanjutnya hanya tinggal waktu ketika pemeran saling berjumpa dan memainkan peran mereka masing-masing.
Dan ketika masa depan itu datang, tidak satu pun mahluk di dunia itu akan mampu untuk merubahnya.
********
Rion datang ke counter, dimana barisan pengaduan tengah kosong. Di sana ia bisa melihat satu resepsionis yang sedang senggang dan hanya duduk di kursinya sembari bersandar.
" Permisi "
Resepsionis itu memperbaiki sikapnya dan segera berubah ke sikap profesional ketika menyadari ada client di depan counter nya.
" Selamat siang, apa ada yang bisa saya bantu untuk anda tuan ?"
Gadis resepsionis itu sangat lucu ketika tersenyum, tidak seperti ketika dia santai beberapa saat yang lalu.
" Maaf, apa kalian punya misi yang bisa di lakukan hanya kurang dari satu hari ?"
" Kalau boleh tau, apa aku boleh melihat kartu petualang anda tuan ?"
" Silahkan "
Gadis itu mengambil kartu petualang milik Rion, melihatnya sekilas kemudian mulai mencari di berbagai berkas di lemari di belakang konter.
10 menit kemudian, gadis itu datang dengan membawa 3 lembar kertas misi.
" Maaf menunggu lama "
" Tidak masalah, apa ini semua nya?"
" Benar tuan, setelah mempertimbangkan kriteria dan kemampuan petualang. Hanya ini yang mampu saya temukan. Apa ada hal yang ingin anda tanyakan tentang ketiga permintaan ini tuan ?"
" Hm... Sebenarnya aku sama sekali tidak tau apa-apa tentang ketiga misi ini, boleh di jelaskan satu persatu ?"
Sang gadis resepsionis terlihat enggan pada awalnya, namun karena ini adalah pekerjaan, maka dia mulai menjelaskan satu persatu.
" Pertama, ini adalah misi pencarian Tumbuhan herbal. Tidak ada hal berbahaya dari tumbuhannya, namun masalahnya adalah lokasi tempat tumbuhan ini tumbuh. Baru-baru ini kami mendapatkan kabar bahwa ada beberapa desa Goblin di dekat area mereka tumbuh."
" Goblin ya, hm... "
" Benar sekali, karena itu kami menaikan kesulitannya menjadi Tingkat B"
" Begitukah ?"
" Untuk yang satu ini adalah, membasmi Boar Punk yang kerap meresahkan warga desa. Sepanjang tahun mereka selalu di ganggu ketika musim panen akan tiba, kami sudah pernah mengirimkan beberapa petualang kami kesana beberapa kali, namun monster monster itu sama sekali tidak pernah muncul. Petualang yang merasa di tipu bahkan tidak mau lagi mengambil misi ini sampai sekarang."
" Jadi karena itu, misi ini tidak di tempel di papan ya ?"
" Anda tidak salah. Di sisi lain hubungan kami dengan warga desa di sana saat ini sedang buruk, jika ini terus berlanjut kami takut kepercayaan mereka pada petualang akan rusak."
" Apa itu benar-benar karena ulah monster ?"
" Kami sudah memeriksanya sendiri, pagar mereka memang rusak dan ada beberapa jejak monster di sana "
" Apa kalian sudah pernah mencoba menginap di sana dan melihat wujudnya langsung ?"
" Menurut penduduk di sana dan pegawai yang dikirim untuk penyelidikan, monster ini berjumlah lebih dari 20 ekor dan tinggi mereka tidak jauh berbeda dari Babi hutan pada umumnya. Yang membuat mereka berbeda adalah mereka selalu muncul ketika kabut datang dan menghilang ketika kabut juga ikut menghilang ?"
"Eh ?, ah... Itu membuat ku penasaran saja, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang " Rion bergumam sedikit keras ketika waktu tidak mengijinkannya untuk mengambil misi itu.
" Tidak, tidak apa apa "
" Baiklah kalau begitu, apa boleh aku teruskan ?"
" Ya, tolong "
" Selanjutnya, Misi yang tidak membutuhkan tingkat seorang petualang. "
" Eh, tingkat tidak di perlukan ?"
" Benar sekali tuan, untuk yang satu ini hanya perlu menjaga toko yang ada di distrik timur "
" Ow, jadi ini bacanya 'penjaga toko' ya, eh !"
Rion jelas jelas akan menolak misi yang terakhir.
Duduk dan menunggu sama sekali bukan gayanya.
Rion kembali mempertimbangkan 2 misi sebelumnya.
Masalahnya adalah waktu nya hanya setengah hari dan lagi dia tidak bisa pergi jauh tanpa didampingi orang lain karena gampang tersesat.
Apa ia harus mengambil misi yang ketiga saja ?
" Jika kau bingung bagaimana jika mengawasi peserta ujian saja ?!"
Rion tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara yang familiar dari arah barisan dibelakang.
Selain sudah ada orang lain yang berbaris di belakangnya ia juga dapat melihat 2 sosok wanita yang tadi ia tinggalkan.
Wanita itu adalah Mulan dan Ibunya.
" Biarkan aku saja yang mengurus yang satu ini "
" T.. Tapi Master "
" Tidak apa-apa, aku punya satu misi yang cocok untuknya "
Tanpa menunggu jawaban dari orangnya langsung, Guild Master Mulan mengambil Kartu petualang Milik Rion dari atas meja Konter, dan menarik tangan Rion dari barisan menuju meja tamu di lobi.
Mulan tanpa basa-basi menyerahkan sebuah berkas berisi informasi beberapa petualang.
Dari penuturan Guild master saat ini mereka sedang kekurangan tenaga untuk tenaga pengawas ujian kenaikan pangkat.
Hal ini di sebabkan karena Guild saat ini sudah mengirim petualang berpengalaman yang biasa mengawas untuk menyelidiki keanehan di hutan akhir-akhir ini.
" Aku tidak masalah, tapi apa anda yakin jika aku yang mengawas ?"
" Tentu aku sangat yakin. Minion sudah menceritakan tentang mu tadi "
" Kalian menghabiskan waktu reunian kalian hanya untuk mendengar cerita tentang aku ?"
Rion sampai tidak habis pikir dengan isi kepala dari kedua wanita ini, ia berulang melihat kearah Ibu nya dan Master Guild yang tengah menikmati bingkisan yang tadi ia serahkan.
" Kalian ini terlalu santai, huh "
" Tenang saja, tugasnya sangat mudah. Kau hanya perlu mengawasi mereka dan menilai mereka dari kejauhan "
Rion kembali memeriksa berkas-berkas di tangannya, memang benar di sana semua kriteria penilaian sudah tersedia dan dia hanya perlu mengisi nya nanti sesuai kemampuan dari petualang.
" Kebetulan, itu mereka datang "
Rion berbalik dan melirik ke arah yang di tunjuk.
Guild Master datang menghampiri mereka dan membawa mereka ke meja tempat ia berada.
4 orang yang lebih tua dari dirinya menghampirinya. Umur mereka tidak jauh berbeda dan hanya terpaut 5 tahun sampai 6 tahun menurut data di tangannya.
" Aku kira party kalian ada 5 orang ?"
Tanya Rion ketika tidak melihat satu orang lainnya di antara mereka.
" Master, siapa orang ini ?" Tanya pria dengan full armor yang menyandang pedang besar di punggungnya.
" Dia adalah, Rion. Pengawas ujian kali ini. Jadi jangan sampai kalian merepotkannya seperti pengawas sebelumnya, kalian mengerti ?"
Mulan mulai memperkenalkan ku pada mereka dan menjelaskan ujian mereka kali ini.
Party itu dengan wajah kurang enak saling menatap teman mereka, mereka meragukan kredibilitas dari Rion hanya dari penampilannya yang tidak menjanjikan.
Begitupun Rion juga menilai mereka dari sikap dan reaksi mereka hingga tingkat kewaspadaan mereka, dan mulai menulis di berkas mereka tanpa mereka sadari.
" Kalian belum menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya, kemana teman satu party kalian yang satu lagi ?"
Belum sempat Rion mendapatkan jawabannya dari mulut mereka, jawaban itu sendiri datang dengan sendirinya.
Dari arah belakang nya, seorang gadis dengan perawakan kecil muncul dengan tas besar yang jauh lebih besar dari tubuh nya.
" Maaf aku telat !"
Rion mengalihkan pandangannya dan menatap tajam kearah mereka berempat saat itu juga.
Dengan nada tidak senang Rion mulai mengorek informasi tentang apa yang baru saja ia lihat saat ini.
Mulan dan Ibunya sama sekali tidak peduli, dan membiarkan semua itu di selesaikan oleh Rion.
Sedangkan keempat kandidat tadi hanya mampu menunduk kaku karena satu tatapan dari Rion.
Senyum sombong mereka hilang seketika, tubuh mereka gemetar karena 2 hal, satu karena ujian mereka akan di gagalkan dan 2 karena tatapan Rion yang seakan mereka akan di telan hidup-hidup.
Rion sadar dirinya terlalu berlebihan dan berusaha kembali tenang.
" Jadi kau adalah anggota yang kelima ?"
" Siapa ?" Tanya nya heran pada teman-temannya.
" Namaku Rion, pengawas kalian dalam ujian kali ini, jadi kembali ke pertanyaan ku sebelumnya, apa kau adalah anggota ke lima?"
" Ya, pak !!" Gadis itu merubah sikapnya dikala tau orang yang dihadapannya adalah faktor penting dari kelangsungan suksesnya ujian mereka kali ini.
" Lalu apa yang menyebabkan kau bisa terlambat ?"
Rion mencoba menilainya dengan memberikan tekanan yang sama pada nya.
Gadis itu gemetar sama dengan teman-temannya, namun pada kasusnya dia masih bisa bergerak, bereaksi bahkan membalas pertanyaan dari Rion.
" Maafkan saya, ternyata butuh banyak persiapan untuk ujian kali ini !! karena itu aku bertanya pada senior yang lain. Butuh waktu untuk menyusun ulang "
" Hee? Lalu apa saja yang di butuhkan untuk ujian kali ini ?"
" Siap pak ! ada tenda, selimut, Potion, saleb anti serangga, peralatan makan dan... ?"
" Dan ?"
" Pakaian dalam "
Gadis itu menunduk malu ketika mengatakan yang terakhir, tapi Rion tertawa kecil.
Tidak habis pikir gadis itu adalah kandidat yang terbaik sejauh ini.
Di saat semua orang cemas, Rion mencairkan itu semua dengan senyumannya.
" Ya sudah, duduklah. Aku akan menjelaskan detail ujian kali ini."
" Siap pak !" Setelah memberikan sebuah hormat, gadis ini duduk di samping teman temanya dan menikmati hidangan dan teh yang di suguhkan oleh pegawai lain.
Rion menjelaskan detail-detail hal apa saja yang harus mereka selesaikan.
" Sampai disini apa ada pertanyaan ?"
" Apa aku boleh tambah makanannya ?" Tanpa basa basi gadis tadi meminta lagi tambahan cemilannya.
Tidak masalah bagi Rion, karena itu juga bagian dari penilaiannya dan itu termasuk penilaian khusus terserah pada penilai itu sendiri, tertera di dalam berkas.
Rion meminta pegawai, untuk membawakan lebih.
Untuk perilakunya yang dinilai kurang sopan, teman-temannya menghentikannya. Mereka berempat bahkan sama sekali tidak menyentuh minuman dan makanan mereka sama sekali.
" Namamu Rokan ?"
" B.. Benar namaku Rokan "
" Menurut mu, apa yang paling penting yang harus di miliki seorang pemimpin?"
" K.. Kemampuan untuk mem.. memberikan perintah ?"
" Kenapa kau bertanya ?"
" Tidak.. Aku tidak bermaksud "
" Ya sudah, jadi perintah ya ? lalu perintah seperti apa saja yang selalu kau berikan selama ini ?"
" Apa itu masuk dalam ujian kali ini ?"
" Tidak, aku hanya heran kenapa teman-temanmu sama sekali tidak menyentuh hidangan yang di suguhkan. Berbeda dengan temanmu yang satu ini"
Merasa dirinya yang di maksud, gadis itu berhenti sejenak dari menyuap makanan ke mulutnya.
" Eh, ada apa ?"
" Tidak ada, lanjutkan saja " Ujar Rion.
Keempat kandidat ini merasa iri dengan teman nya yang bisa dengan santai menyantap makanan yang terlihat lezat itu.
" Jadi apa kau masih bertahan dengan jawaban mu tadi atau kau punya jawaban lain yang sekiranya bisa memuaskan ku ?"
Pria bernama Rokan hanya diam menunduk, pikirannya serasa kosong karena takut ujian mereka kandas sebelum di mulai.
" Kalau begitu aku lempar pada yang lain "
Ketiga yang lainnya juga bereaksi sama, mereka hanya terdiam seribu bahasa.
" Mengapa kalian diam ?"
Rion beralih ke gadis yang mengangkat tangan di hadapannya, di mulutnya dia masih belum selesai mengunyah makannya dan Rion menunggu dengan tenang sampai dia selesai menelan.
" Mau tambahan lagi ?"
" Aku mau menjawab "
" Oh, benarkah ?"
" Yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah... "
Semua orang di sana menunggu dengan tenang jawaban apa yang akan di berikan olehnya, sedangkan teman-temannya menunggu dengan cemas atas apa yang akan keluar dari mulut nya.
" Adalah ?" Tanya Rion menanggapi jawaban yang tertahan karena gadis itu tengah meneguk teh untuk mendorong makanan yang belum sepenuhnya turun dari tenggorokannya.
" Adalah anggota parti !!"
Mendengar jawaban konyol dari temannya itu, Rokan dan teman-temannya tersentak dan hampir saja jatuh dari tempat duduknya.
" Rion san, jangan didengar. Anak ini memang seperti itu, memang suka bercanda, jadi jawaban tadi jangan di ambil serius. "
" Benar, sekali. Dia memang polos seperti itu sedari dulu, jadi tolong di maafkan "
Satu persatu mereka mulai membela gadis yang keheranan karena teman-temannya melindunginya.
" Aku sama sekitar tidak marah, malahan itu adalah jawaban yang ku cari "
Rion menulis di berkas yang selalu ia pegang.
Sedangkan mereka keheranan dan meminta klarifikasi namun segan.
" Dengarkan aku disini, jika kau tidak mempunyai anggota, lalu siapa yang akan kau pimpin ? Jawaban gadis ini benar, meski belum sempurna"
Gadis polos yang bernama Lois itu membusungkan dadanya yang tidak besar itu dengan tampang sombong.
" Boleh ku sentil ?"
Lois melindungi dahinya seketika ketika Rion sudah siap dengan sentilan nya.
Melihat usahanya tidak berhasil, Rion kembali dengan penilaiannya yang selanjutnya.
Dia bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju tas besar milik Lois.
" Bongkar semua isi tas ini dan susun seperti semula !"
" Tidak boleh, aku tidak mengijinkan nya. Kalian pikir berapa lama aku menyusunnya sampai aku terlambat datang kemari, hah ?" Lois memeluk tas yang lebih besar darinya dan menghalangi orang lain menyentuh tas miliknya.
" Lois, tenanglah. Aku akan membantu jika mereka gagal melakukannya " Pinta Rion.
Namun Lois bersikukuh agar tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh tas miliknya. Giginya gemeretak dan terlihat garang.
Berbagai upaya dilakukan oleh Rion agar diperbolehkan, namun semua tetap di tolak oleh Lois, sampai akhirnya mereka berdua mencapai kesepakatan.
" Baiklah, aku mengerti. Tapi setidaknya biarkan mereka memanggulnya, aku ingin melihat kemapuan fisik mereka."
" Benarkah hanya itu ?"
" Benar hanya itu "
Oleh karena itu, Rion memerintahkan mereka satu persatu.
Sejauh ini hanya Lois satu-satunya yang mampu menyandang tas itu tanpa kesulitan. Bahkan Rokan yang terlihat paling kuat, sama sekali tidak mampu mengangkat tas itu bahkan satu mili pun dari permukaan, apalagi anggota lainnya.
Rion masih tidak habis pikir mengapa gadis lugu dan terlihat lemah seperti itu mampu membawa beban yang beratnya tidak bisa di angkut oleh orang terkuat di party nya.
Setelah di baca lagi data tentang mereka ternyata dia adalah Ras yang paling dominan dalam pekerjaan fisik. Dwarf wanita.
" Tidak heran " Ujar Rion sembari terus menatap gadis itu lekat.
" Tapi tetap saja, membiarkan seorang gadis membawa beban seperti itu sama saja mencoreng nama baik seorang Pria. Bongkar lagi dan bawa barang milik kalian sendiri !"
Lois berteriak histeris ketika tasnya di bongkar, tubuhnya meronta-ronta ketika Rion menahannya.
Banyak orang yang tertawa geli melihat pemandangan ini.
Beberapa saat kemudian mereka selesai membongkar semuanya, pihak guild membawa tas pinjaman yang lebih kecil untuk mereka.
Mereka dengan malu mempercepat kerja mereka, sedangkan Lois hanya terduduk lemas, sambil terus menggumamkan " Peralatan ku "