
Rion yang masih Kelelahan terpaksa harus bangun pagi seperti kesehariannya.
Hari ini dia harus masuk sekolah, atau sekolah akan memberikan hukuman kepadanya.
Kecemasan nya semakin bertambah ketika dia berfikir apakah Gosip 'itu' akan sampai ke pihak Akademi.
Terlebih sekarang dia sudah menjalin kontrak dengan dua mahluk ganas yang menggemaskan.
Rion yang sudah siap dengan pakaiannya dan hendak berangkat, memandangi Felix dan Alto yang masih tertidur.
Dia tidak tega untuk membangunkan mereka berdua dan memilih berangkat sendiri. Lagi pula akan heboh jika mereka memaksa ikut, para gadis akan mengerumuni mereka berdua dan proses belajar mengajar akan tersendat.
Dengan begitu Rion berangkat ke sekolah sendirian, dia sengaja datang lebih pagi karena harus Menemui kepala Sekolah terlebih dahulu. Dia juga harus menyerahkan surat permintaan maaf yang tidak sedikit. Dia juga ingin memastikan Bahwa tidak ada lagi Gosip yang sampai ke telinga Kepala Sekolah itu.
Dengan gugup yang luar biasa Rion mengetuk Pintu Ruangan kepala sekolah.
" Masuklah "
Suara serak dan bergetar itu dapat ia kenali, karena sudah di izinkan masuk Rion pun masuk tanpa membuang waktu.
Namun ketika ia masuk kedalam Ruangan yang mempunyai atmosfir tidak menyenangkan itu, delapan siswa yang jika dilihat dari atribut mereka itu adalah seniornya, Rion mengurungkan Niatnya Untuk masuk.
" Apa aku datang di waktu yang tidak tepat ?, kalau begitu aku akan datang lagi nanti "
" Tidak, masuklah kami sudah menunggu mu "
Rion merasakan hal yang tidak menyenangkan akan menimpa nya, terlebih setelah melihat 2 kubu seniornya yang saling menatap tajam di hadapannya.
Rion dipaksa masuk dan ia diperkenalkan dengan delapan Seniornya itu.
Garis besarnya begini.
Dimulai dari Kubu pertama.
Sharon, gadis dengan rambut pirang bergelombang, ia memancarkan aura bak Tuan Putri.
Rillier, Pria tampan sombong yang selalu mengibaskan rambut sebahu nya.
Lux, Laki-laki dengan tubuh Anak kelas 6 SD yang tidak peduli dengan situasi ini dan sedang menikmati kue di tangannya.
Aluc, lelaki besar yang tampak dewasa dan pendiam, tubuh besar dan wajahnya terlihat sudah tidak bisa lagi di bilang seorang Pelajar.
Sedangkan di Kubu Kedua.
Galc, Lelaki tinggi dengan massa otot yang ideal. Wajahnya yang terlihat marah dan rambut merah nya membuatnya terkesan tidak ingin di dekati.
Dolce, Gadis kecil yang selalu menunduk. Dari sikapnya, Rion menyimpulkan Gadis ini mempunyai masalah dalam Bersosialisasi.
Aru, gadis tinggi dengan massa otot ideal yang tersenyum menantang kearah Kubu pertama.
Ray, laki-laki gemuk dengan poni yang hampir menutupi keseluruhan wajahnya.
Perasaan tidak enak yang dirasakan oleh Rion ketika pertama kali masuk ruangan ini, ternyata berasal dari mereka ber delapan.
Mereka tampaknya seperti Perundungan dan Mangsanya.
Rion lelah hanya dengan melihat mereka.
" Namaku Rion, pelajar biasa yang bisa di temukan dimana saja, salam kenal" Ucapnya gantian berkenalan.
" Dan kepala sekolah... Aku datang untuk menyerahkan Ini, kalau begitu sampai jumpa maaf sudah membuat Anda kerepotan "
Rion berbalik dan hendak keluar secepatnya, sebelum ia ikut terlibat dengan perselisihan antara 2 Kubu ini.
Namun kecepatan Melarikan dirinya di kalahkan dengan kecepatan penghenti gerakan yang di lancarkan oleh Kepala sekolah.
Kerah bajunya di bagian tengkuk tersangkut oleh sesuatu dan di tarik lagi mendekat ke meja.
" Hohoho, jangan terburu-buru begitu, hohoho "
Sangat di sayangkan untuk Rion. Dia sudah tidak bisa kabur, satu-satunya jalan adalah pasrah dengan senyum nyang di paksakan.
**********
Benar saja, Rion di paksa untuk masuk lebih jauh dalam kasus antara 2 kubu ini.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa :
Kubu pertama adalah Kubu yang di pilih Untuk menjadi perwakilan di dalam Turnamen musiman yang akan di lakukan Nanti. Nilai akademik mereka sangat bagus dikarenakan Riwayat keluarga mereka yang bisa dibilang memuaskan.
Hanya saja dalam hal Praktikum, kemampuan mereka masih jauh di bawah standar untuk lolos babak penyisihan.
Sedangkan untuk Kubu kedua, mereka terdiri dari Pelajar yang mempunyai Nilai akademik yang pas-pasan. Namun untuk Praktikum mereka mempunyai Nilai yang sempurna dan mempunyai kualifikasi untuk lolos sampai Babak final nantinya.
Sayangnya Kubu kedua adalah pelajar yang berasal dari Keluarga yang lebih rendah dari Kubu pertama.
Perbedaan yang besar ini yang sekarang menjadi perdebatan di antara Akademi dan para Bangsawan.
Para bangsawan kelas atas ingin anak-anak mereka yang terpilih sebagai perwakilan. Mereka mementingkan reputasi keluarga mereka, karena Turnamen kali ini adalah turnamen spesial yang di adakan 5 Tahun sekali. Hadiah untuk pemenang kali ini adalah gelar kebangsawanan yang akan di berikan langsung oleh keluarga kerajaan.
Dan hadiah utamanya adalah satu unit senjata atau armor yang di buatkan khusus oleh Pengrajin terbaik kerajaan.
Yup benar, hadiah utama kali ini adalah benda yang senilai dengan Harta Nasional.
Maka dari itu, Bangsawan menginginkan Putra-Putri mereka untuk merebut hadiah utama tersebut dan menjadikannya Harta Keluarga.
Mengesampingkan keinginan para bangsawan, Pihak Akademi lebih menginginkan Nama baik Akademi, dimana Murid-murid berbakat dari sekolah Mereka akan Menaikan Nama Akademi sehingga akan lebih banyak lagi Para orang tua yang menyekolahkan Putra-Putri mereka ke Sekolah ini.
" Lalu apa hubungannya dengan ku ?"
" Kami menginginkan Mereka semua berlatih di bawah Asuhan Mu "
" ..... "
" Ku tolak !!"
" Kami akan membayarnya "
" Aku menolak ! "
" Bagai mana jika, kesalahan mu yang sebelumnya di lupakan "
" Tetap ku tolak ! lagi pula aku sudah di hukum juga kan ?"
" Bagai mana jika kupon Makan siang selama 2 Bulan ?"
" Tidak Butuh "
" 4 Bulan ?"
" Tidak butuh "
" Setahun penuh ?"
" Tidak butuh !"
" Cih, betapa Gigihnya "
Kepada sekolah yang tidak kehabisan akal itu, langsung mengeluarkan Kartu andalannya.
Karena itu benar-benar dalam bentuk kartu dengan warna emas, Rion sedikit tertarik dengan manfaatnya.
" Dengan kartu ini, kau bisa dengan bebas pergi mengambil Misi di Guild Petualang tanpa harus mendapatkan Penalty dari Akademi. Bagaimana ?"
Rion tertarik dengan godaan yang menggiurkan itu, tangannya yang kesurupan itu mulai mendekati kartu itu tanpa harus di goda terlebih dahulu.
Mata nya sudah seperti terkena sihir pemikat ketika melihat cahaya emas terang yang terpancar dari Kartu Tersebut.
"" Padahal, Akademi sama sekali tidak melarang Siswanya untuk Mengambil Misi Di Guild Petualang. Dia sudah di kendalikan ""
Gumam semua orang, tapi karena ini demi masa depan mereka juga. Mereka Lebih memilih Diam.
" Aku Terima pekerjaan ini !!"
" Senang bekerja sama dengan mu "
Kepala sekolah menyerahkan dokumen yang harus Rion tanda tangani dan data dari Murid barunya.
" Tunggu sebentar, hump.. " Pria Pirang Angkuh mengibaskan rambutnya ketika berdiri, dia menghampiri Kepala sekolah dan mengutarakan Protes.
" Aku tidak tau berapa uang yang sudah kau bayar untuk dapat pekerjaan ini, tapi dengar... Jangan pikir kau bisa hanya akan menumpang Nama jika kami berhasil sampai Final, kau mengerti... Cebol ?"
Dengan wajah remeh dan memandang Rion rendah, Pria angkuh itu menekan dada kiri Rion dengan telunjuk nya.
Awalnya Rion hanya tersenyum biasa, namun Pria angkuh itu tidak menyadari bahwa senyuman itu mengandung amarah yang amat sangat dalam sekali.
Rion mematuk Leher Pria angkuh tersebut dengan dua jarinya dan pria itu jatuh tersungkur dengan kesulitan bernafas. Hembusan nafasnya terdengar kering dan berat, ia tampak kesakitan.
Tidak ada yang menolong Pria itu meski ia adalah keturunan Bangsawan.
Namun sebagai Kepala sekolah yang baik, tentu saja ia tidak akan membiarkan Muridnya Mati Konyol di hadapannya. Karena itu Kepala sekolah meminta seseorang Staff untuk Membawa Korban Ke Ruang Perawatan.
Sebelum ia di angkut, Rion menitipkan Pesan Pada Pria Angkuh itu.
" Sekali lagi kau bilang aku pendek, selanjutnya jari-jari ini akan menembus jantung mu. Kau paham ?" Rion menepuk-nepuk pipi Pria Angkuh itu sebagai teguran.
Dan Pria itu pingsan tak sadarkan diri tanpa sempat menjawab.
" Karena kalian tidak ada lagi yang keberatan, maka sudah di putuskan bahwa Mahluk ini Akan menjadi Pelatih Kalian " Ujar Kepala sekolah
" Mohon kerja sa, Oy... !! " Rion jengkel karena dirinya di kenalkan bukan sebagai Orang oleh Kepala sekolah.
" Sudah, sudah... Jangan di permasalahkan. Karena masalah ini sudah selesai, maka kalian sudah boleh kembali ke kelas, lihat sebentar lagi Bel akan berbunyi." Usir Kepala Sekolah.
Rion tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melesat dengan cepat, sebelum Kepala sekolah meminta sesuatu yang mustahil lagi.
Meninggalkan 7 Seniornya yang masih tidak bergerak dari Sofa, Rion tidak menyadari betapa ketakutan nya mereka sampai ia sudah pergi.
" Kalian tidak apa-apa?" Tanya Kepala Sekolah, meski ia sendiri dapat melihat Siswanya sedang Tidak Baik-baik saja.
Mereka tampak kesulitan bernafas dan mulai bernafas dengan cepat. Bahkan ada yang sampai menangis dan tidak ada yang sempat menenangkannya.
Senior berambut gelombang yang telat menyadari betapa mengerikannya Rion itu, merasa beruntung karena tidak membuat Amarah Rion tadi di tujukan kepadanya.
Mereka sepakat untuk tidak menyebut kata terlarang itu di depan Rion sampai kapanpun.
**********
Di dalam kelas, Rion disapa dan di tanyai berbagai macam hal menyangkut alasan ia di Skorsing. Meski gosip itu sudah tersebar namun mereka ingin mendengarnya langsung dari orang nya sendiri.
" Sensasi dari cerita orang lain sangat berbeda dari saksi langsung "
Mendengar kalimat itu Rion dengan senang hati menceritakan kisah pengalamannya ketika mengawasi Ujian kenaikan Rank dari Guild.
Ceritanya Membuat semua temannya tertarik untuk mencoba menjadi seorang Petualang.
Dan dari tanya jawab bersama teman-temannya juga Rion menyadari, bahwa tidak perlu Kartu bebas ber Petualang bagi Murid Akademi, untuk bisa mengambil Misi di Guild.
Rion merasa Di Bodohi dan jengkel. Dia bolos jam pertama untuk mencari Kepala sekolah di seluruh penjuru Akademi Karena tidak menemukan Kepala Sekolah Di Ruangannya.
Rion memang sudah di bohongi, Namun dia sudah berjanji untuk melatih seniornya untuk Lolos kualifikasi.
Terlebih dia juga sudah menanda tangani surat Kontrak nya.
Lagipula dia cukup luang jika hanya segini. Baginya ini hanyalah seperti kegiatan klub saja. Berlatih di pagi hari sebelum sekolah di mulai dan berlatih lagi di sore hari ketika sekolah sudah selesai.
Rion pulang dengan perasaan kecewa karena tidak menemukan Kepala sekolah dimana pun, meski begitu itu juga termasuk salahnya sendiri karena mudah di bohongi.
*****
Di Kamarnya.
Rion menggelar semua lembaran kertas yang tadi pagi Kepala Sekolah berikan. Semua data dari seniornya dengan lengkap tertera di masing-masing lembaran.
Alto yang melihat Rion terus memandangi lembaran-lembaran itu, merasa penasaran dan ikut bergabung.
" Musuh ?"
" Bukan, Senior ku "
" Master, aku bosan " Ucap Alto lemas ketika merubuhkan tubuhnya di atas paha Rion.
" Mengapa tidak bermain dengan Felix saja ?"
" Felix melarang ku masuk kamarnya, jadi seharian aku terus tidur dan sekarang aku masih segar "
" Benar begitu Felix ?"
" ..... " Felix tidak menjawab telepati nya, namun Rion tau jika Felix mendengarnya.
" Felix ?!"
" Huh, aku mengerti... "
Felix setengah hati mengundang Alto ke kamarnya di dalam Kristal. Karena itu, kristal Felix yang tadinya berwarna Biru muda terang kini berubah menjadi berwarna Biru tua Berkilau.
Dikarenakan mereka berdua sudah lebih tenang, Rion kembali fokus meneliti data dari para seniornya.
Secara garis besar mereka bukanlah orang-orang yang lemah yang terpilih sebagai Calon Peserta Turnamen dengan Membayar.
Staff pengajar melakukan tugas nya sebagai pengajar dengan Baik.
Oleh karena itu Mereka hanya perlu polesan sedikit lagi saja.
Berkat data ini Rion dapat meramu Menu khusus untuk masing-masing dari mereka. Berhubung hari masih sore, Rion menghabiskan waktunya sebelum makan malam untuk Menu Latihan yang ia Maksud.
" Hey, kalian berdua. Waktunya makan "
Sorak Rion kepada Batu kristal, tempat Monster-monster nya mengurung diri.
Alto dan Felix keluar sambil bercanda ria mengikuti Rion menuju Ruang makan. Melihat keakraban itu membuat Rion merasa tersisihkan, lain kali dia ingin bergabung bersama mereka.
Jujur saja, Rion Sudah lama menginginkan Adik Laki-laki. Tetapi ketika keinginan itu tercapai dia sama sekali tidak mempunyai waktu untuk merealisasikan mimpinya itu.
Di meja Makan Rin dan Yuki senang Memanjakan Felix dan Alto.
Bahkan Rion yang biasanya paling Ribut di meja makan, kali ini menjadi orang yang paling tenang.
Tentu saja semua orang tau penyebabnya, namun mereka lebih memilih diam. Mereka tidak ingin terlibat.
Sampai di waktu Luang setelah Makan Malam, di Ruang Bersantai pun Rion masih menunjukan kecemburuan nya.
Rin dan Yuki tengah bermain-main dengan rambut Felix dan Alto, gadis-gadis itu bahkan mendandani mereka berdua hingga terlihat seperti seorang anak perempuan.
Melihat Hasil dandanan mereka, membuat mereka terpuruk hingga drop. Mental mereka sebagai puncak rantai makanan, tersakiti.
" Kalian berdua berlebihan... " Tegur Rion kepada Rin dan Yuki yang sudah kehilangan akal sehat mereka.
Alto dan Felix ketakutan dengan tubuh mereka sendiri.
"" Master.... "" Mereka berlari kearah Rion dengan langkah kecil menggunakan kaki-kaki kecil mereka.
" Hehehe, maafkan kami. Kami terlalu bersemangat. " Ucap Rin dengan air Liur yang mengalir.
" Manusia menyeramkan "
Semua orang tertawa dengan pendapat Alto itu, meskipun ia adalah Naga tetapi ketakutan ketika di dandani.
Semoga Naga kecilku tidak akan mendapatkan trauma di dekati para gadis.