
Mengulik cerita sebelumnya. Rion yang secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Pangeran dari Negeri Padang Pasir ini, kembali di buat pusing.
Dia yang seharusnya hanya mentraktir Para Seniornya makan enak sebagai ucapan selamat, kini harus menderita karena Pangeran Berambut Pink selalu mengikutinya semenjak bereuni kembali.
Pangeran yang ketagihan mengerjai Rion secara terang-terangan tanpa ampun selalu Menyebut Rion dengan panggilan yang paling tidak ingin dia dengar, mumpung Kedua mahluk mengerikan sedang tidak bersamanya.
Jika saja dia bukanlah kekasihnya Nia, sudah dari tadi Rion mengirimnya terbang dengan pukulannya.
Meski begitu, Rion harus tetap bisa Menanggapi Sang Pangeran dengan lebih lembut, meski harus Mengorbankan amarahnya.
Karena itulah acara makan siang mereka menjadi tidak nyaman, meski hidangan yang disajikan itu sangat lezat dan mewah, namun mereka sama sekali tidak dapat menikmati.
Restoran mewah yang mereka kunjungi di hari itu, mengalami penurunan pendapatan karena Aura yang tidak menyenangkan yang di hasilkan oleh Dua orang paling Berbahaya, sehingga banyak pelanggan yang mengurungkan niat mereka untuk singgah.
Tidak hanya sampai di sana, bahkan setelah Para senior yang memisahkan diri dari dua orang itu, sang Pangeran terus mengikuti dan mengganggu Rion kemana pun Rion melangkah.
Dan seperti yang kita tahu, kedua orang ini adalah dua mahluk ajaib yang langka dan mempunyai masalah dengan petunjuk arah. Kalian bayangkan saja, mereka bahkan sanggup menjelajahi distrik Perbelanjaan sampai berkali-kali dan berjam-jam tanpa bertanya kepada orang di sepanjang jalan.
Hingga pada Sore harinya ketika Matahari hendak terbenam, Mereka menyerah.
Mereka lelah secara mental.
" Chibi "
" Apa ? aku sudah Tidak punya lagi Roti isi daging yang tersisa untuk mu"
" Bukan "
" Lalu apa, aku sudah cukup lelah bermain dengan mu "
" Apa kita tersesat ?"
Mendengar itu dari Pangeran yang baru sadar jika mereka tersesat, membuat keletihan Rion jadi berlipat ganda.
" Tidak ada jalan lain "
Akhirnya Rion menyerah dengan egonya. Dia menghampiri pasangan muda yang kebetulan berpapasan dengannya.
Pasangan yang baik itu dengan senang hati memberikan petunjuk arah, namun karena Rion memasang wajah kebingungan, pasangan yang baik hati itu dengan senang hati juga Mengantarkan Rion dan Pangeran ke jalan utama.
Rion memberikan bingkisan yang seharusnya ia beli tadi kepada pasangan baik itu, sebagai rasa Terima kasihnya.
" Sekarang kita Sudah kembali di jalur yang benar, jadi... Kita berpisah disini, sampai jumpa "
Rion berbalik dan meninggalkan Sang Pangeran sendirian. Tujuannya ada di depan sedangkan untuk Sang Pangeran, Rion sama sekali tidak tau pangeran akan kemana.
Tetapi baru beberapa langkah, Rion merasakan hawa kehadiran yang tidak menyenangkan.
" Pangeran ? "
" Chibi ?"
" ..... "
" ..... "
" Bukankah kau harusnya kembali ke penginapan mu ? " Senyum penuh arti Dari Rion sama sekali tidak mempan pada Pangeran berwajah datar.
" Ikut "
" Pangeran, kalau boleh tau. Dimana kau tinggal ?"
" Istana ?"
" Aku tau kau tinggal di istana, maksudku hari ini.. Kamu... Tidur... Dimana ?"
" Ah ! " Pangeran yang baru paham maksud Rion itu, memukul telapak tangannya dengan cara klasik miliknya.
Rion sebenarnya sudah curiga dari awal, tetapi dia sedang tidak ingin mempercayai instingnya saja.
Benar saja, Pangeran berwajah Datar itu menunjuk istana Duke yang dapat dilihat dari kejauhan. Itu juga adalah tempat dimana Rion ikut menumpang.
" Hah, tidak heran sih " Rion memijit keras dahinya yang keram karena menahan emosi.
" Chibi, kau sakit ?"
" Tidak, aku hanya lelah, sebaiknya kita cepat kembali sebelum gelap "
" Ok "
Mereka sampai dengan selamat tanpa tersesat lagi.
Dan ketika sesampainya di Ruang makan, ada beberapa orang tambahan yang sepertinya Anggota kelompok Pangeran, mereka yang secara terpaksa harus menginap di istana karena Permintaan dari Pangeran langsung.
Sebenarnya itu sama sekali tidak masalah bagi Tuan Rumah ini, hanya saja Pangeran selalu mengganggu Rion meski saat itu mereka sedang di meja makan bersama Duke dan Keluarganya.
Meski bangku kedua orang tadi terlihat suram, namun sama sekali tidak mengganggu acara makan malam mereka.
Hanya saja ketika Hidangan penutup yang di keluarkan sudah habis, Pangeran yang di beritahu bahwa Hidangan Penutup itu adalah buatan Rion, maka dengan segala cara Pangeran merengek sampai Rion menyerahkan semua makanan Penutup di Item Box miliknya, meski tanpa malu selalu bertengger di tubuh Rion, meski 2 mahluk yang ia takuti ada disana.
Guru pendamping dari Akademik Sang Pangeran meminta maaf dengan sungguh atas perlakuan Pangeran yang tidak sopan.
Rion sama sekali tidak mempermasalahkan makanannya habis, yang jadi masalah adalah jika nanti semua makannya habis, Pangeran akan kembali mengusiknya.
Yang Mulia, Duke kembali ke ruang kerjanya karena masih harus menyelesaikan beberapa berkas.
Karena itu Para tamu dan Pangeran akan di temani oleh Anggota Keluarga yang lain.
Mereka dibawa ke Ruang santai yang di sulap sedemikian rupa hingga terlihat mewah dan elegan, banyak permainan mulai dari Meja Biliar, Tenis Meja dan catur hingga Bar untuk orang dewasa.
Mereka juga terkejut dengan suasana dan keramahan Anggota Keluarga Duke ini. Berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiran mereka, mereka pikir Keluarga Duke yang terhormat adalah Keluarga yang selalu mengedepankan keeleganan.
Namun apa yang mereka lihat saat ini adalah keluarga yang hangat dan ramah. Mereka juga baru mengetahui jika Keributan dan keramaian adalah ciri khas dari keluarga ini.
Karena di paksa untuk tidak perlu segan, mereka pun mengambil tawaran itu meski harus berhati-hati.
Rion ikut bergabung hanya karna tidak mau berurusan dengan Pangeran yang tidak henti-hentinya menyantap jarahannya.
" Chibi, habis "
Dengan wajah datarnya dan mulut yang belepotan, Pangeran datang mengadu pada Rion yang sedang bermain PS dengan Felix.
" Maaf, itu yang terakhir " Tanpa menoleh dan melihat wajah terpuruk Pangeran, Rion menikmati waktu bermainnya.
Malam itu sangat menyenangkan karena Mansion semakin Ramai. Tetapi tidak dengan Para pekerja di dapur, dengan nafsu makan Pangeran yang di luar nalar membuat mereka bekerja extra terlebih, mereka menyesali Boikot yang mereka tangguhkan kepada Rion selaku kartu andalan Mereka.
Keesokan harinya, Rion mengawali hari secara rutin. Bangun jam 5 pagi, lebih awal dari biasanya karena senang di Terima kembali di ranah yang selalu ia geluti. Yup, jika kalian ingat Rion pernah di larang menggunakan dapur, namun larangan itu di cabut mulai hari ini.
Rion mulai membuat beberapa resep yang di modifikasinya sendiri setelah mencicipi jajanan yang ada di dunia ini. Dia membuat porsi yang lebih banyak untuk jaga-jaga jika nanti Pangeran meminta lebih. Rion juga membantu Pekerja lain yang kekurangan waktu istirahat mereka dan tidak butuh waktu lama, mereka mampu menyamai ritme mereka yang sebelumnya.
Rion meninggalkan dapur dan memulai latihan Rutinnya, di lapangan latihan para prajurit juga sudah memulai lebih dahulu.
Rion mengambil sepetak kecil lapangan dan memulai tarian karatenya dengan samsak tinju yang ia buat menggunakan Kulit Monster.
Para prajurit yang menonton pertunjukan itu sudah pasti terkesima dengan beladiri tangan kosong yang Rion tekuni. Ketika Rion mengambil pedang kayu dan beralih ke latihan Kendo nya, para prajurit langsung mengantri untuk menjadi lawan tandingnya. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas dimana Rion selalu menjelaskan celah dari gerakan yang ia pertontonkan dan cara mengatasinya.
Mereka belajar cukup cepat, sampai-sampai Duke takut jika gaya khas permainan Pedang yang sudah di wariskan turun temurun akan hilang, dan berganti dengan Gaya permainan Pedang Yang Rion Ajarkan.
Beberapa orang yang menjadi tamu kediaman Duke, terbangun karena kebiasaan bangun pagi penghuni Kediaman ini, secara tidak sengaja melihat para prajurit satu persatu diterbangkan ke udara.
Di antara para penonton Gelap itu, ada Pangeran yang juga penasaran bagaimana jadinya jika mereka dipertemukan di arena.
Waktu keberangkatan menuju Ibukota sudah datang, upacara kecil di adakan di dalam aula sekolah. Meski itu awalnya adalah upacara kecil sebagai pengantar untuk para peserta dan pendamping, ternyata ada lebih banyak siswa yang mengikuti Upacara itu.
7 peserta dipanggil naik ke atas Panggung, satu persatu mereka di sematkan sebuah Emblem dengan Lambang Akademi.
Sorakan dan tepuk tangan memeriahkan upacara pagi itu, membuat mereka bangga karena sudah bisa bertahan sampai hari terakhir Latihan neraka.
Disamping itu, mereka juga tidak sabar untuk melawan lawan tanding yang akan membuat mereka mencoba Jurus baru yang sudah di ajarkan kepada mereka.
Keberangkatan mereka di antar oleh Duke dan Direktur Institut Penelitian. Para junior mereka yang lain juga sudah sempat menyalami dan memberikan dukungan.
Lalu bagai mana dengan Rion ?
Anak itu sekarang sedang depresi berat, bagai mana tidak. Pangeran yang sedang dalam Mode Manja tidak mau lepas dari Rion, terlebih ketika dia mendengar Rion akan berangkat Menggunakan Motor.
" Tenang saja, ada Helm "
" Dari mana kau mendapatkan itu, ah. Aku tau "
" Mimio san"
" Ya siapa lagi jika bukan Ibuku "
Anggota Rombongan Pangeran juga ikut berangkat bersama mereka, meski tidak dapat sambutan hangat dari para murid lain.
Oleh karena itu, 4 gerbong kereta dan satu Motor Masa depan Siap berangkat.
Selama seminggu penuh mereka akan selalu bersama, baik itu Rion dan Pangeran maupun Senpai dan Rombongan Pangeran.
Meski mereka adalah musuh nantinya, namun mereka sekarang adalah teman seperjalanan.
Mereka mampu bekerja sama ketika beberapa Monster melompat kejalan, bahkan bandit yang kelewat percaya diri dapat di kalahkan tanpa berkeringat.
Mereka juga singgah di beberapa desa untuk membeli beberapa bahan makanan dan sayuran yang warga desa tanam, ini juga bertujuan untuk memakmurkan desa-desa yang tidak selalu mendapatkan barang dari tempat lain. Tujuan lainnya adalah, agar peredaran dan perputaran uang tidak tersendat. Bahkan tidak hanya uang saja, beberapa barang bermanfaat lainnya sampai kepada garam dan rempah pun tidak luput untuk di barter.
Selama seminggu Rion tidak selalu menggunakan Motornya, karena dari segi kecepatan saja itu berbeda jauh. Motor memang praktis, namun kebersamaan lebih utama.
Di hari kedelapan, mereka akhirnya sampai di Ibukota. Ada beberapa kendala sebelumnya sehingga mereka terlambat satu hari.
Di depan gerbang mereka di periksa, meski disebut pemeriksaan tetapi itu hanya pengecekan kartu undangan peserta turnamen dan berkas berkas resmi.
Mereka di tuntun ke tempat dimana para peserta lain Menginap.
Mereka di turunkan di depan halaman Hotel yang sudah Mirip dengan Mansion mewah.
Desain pintu yang dilapisi emas terlihat menawan meski terlalu mubazir jika hanya untuk sebuah Pintu.
Di tengah Loby ada Air Mancur besar dengan ikan hias berwarna cantik yang tengah berenang di tengah Kolamnya.
Ketika Rion tengah bermain dengan ikan ikan tersebut, seorang Pegawai Hotel datang menghampiri mereka. Dengan Blazer Hitam Pegawai itu menggiring kami ke kamar yang sudah di persiapkan.
Laki-laki di pisah, itu sudah pasti. Masalahnya ada beberapa kesalahan dari Pihak Hotel dimana mereka salah menghitung jumlah kamar dan penghuni yang akan menginap. Kamar dengan ukuran Giant hanya mampu menampung 4 Orang.
Aluc, Galc, Lux dan Ray.
Menyisihkan Rion yang harus berbagi Kamar dengan Orang yang merepotkan.
" Apa tidak ada kamar kosong lainnya?, aku tidak masalah jika harus membayar lebih " Pinta Rion, namun sayang, pegawai itu sudah di manipulasi.
" Good Job " Pangeran memberikan Jempol ke atas pada Pegawai yang Mengantarkan Rion ke Kamar yang di sewakan Pangeran.
Kurang dari satu minggu lagi turnamen babak penyisihan akan dimulai, Rion tidak bertanggung jawab atas segala administrasi semua Senpai nya, karena tugasnya hanyalah sebatas Pelatih. Karena itu sebagai hadiah dari kepala sekolah, Rion di hadiahi kursi khusus di jejeran orang penting saat turnamen nanti.
Karena Rion sangat bosan, dan ingin menghindari Pangeran yang menatapnya dengan mata berbinar seakan mengharapkan makanan, dia pergi setelah meninggalkan sesajian untuk Pangeran.
Sebelumnya Rion mengabari para Senpai nya bahwa dia akan jalan-jalan, mendengar hal itu spontan mereka spontan dan ingin mengawalnya. Sebagai mana yang kita tau, mahluk liar yang satu ini tidak boleh di biarkan berkeliaran sendirian.
Namun dengan kebaikan hati Rion, dia menolak tawaran itu dengan alasan peserta harus istirahat.
Rion juga meminta izin kepada Guru yang menjadi pendamping mereka.
Dengan segala pertimbangan dan rayuan, akhirnya Rion mendapatkan izinnya meski terpaksa keadaan.
Rion berkelana ke kios kios dan toko-toko di kota, hingga secara tidak sengaja dia sampai di bangunan mewah yang terpisah sendiri dari bangunan lainnya.
Dari lambang dan orang yang keluar masuk dari bangunan tersebut, Rion menyimpulkan bahwa bangunan ini adalah Sebuah Guild Petualang.
Dengan ide Nakal dan rasa bosan yang tinggi Rion berencana ingin menghabiskan waktu dengan berburu beberapa Monster, dan melihat misi apa saja yang mereka berikan.
Rion masuk dan langsung menuju papan misi yang sesuai dengan Rank nya sekarang. Tidak ada yang menarik perhatiannya, semua hampir sama persis dengan yang ada di Kota Rose.
Rion beralih ke papan Rank di bawahnya. Juga tidak ada yang menarik. Meskipun ada itupun masih ada banyak di Item Box nya.
Rion kembali beralih ke papan di sebelahnya lagi. Lagi dan lagi.
" Huh... "
" Tuan, apa ada yang bisa saya bantu "
Salah seorang Staf yang ternyata sedari tadi memperhatikannya datang menawarkan bantuan.
" Hmm... Aku sedang mencari misi... Ah, mumpung disini. Apa benar disini bisa ujian kenaikan Rank ?"
" Ya, benar sekali. Disini anda bisa ikut ujian kenaikan Rank. Jika di perkenankan oleh saya Lihat Kartu Petualang anda Tuan ?"
" Tentu "
Rion dengan senang hati memperlihatkan kartu keanggotaan nya.
Gadis itu adalah seorang Pro, dia sama sekali tidak memperlihatkan dengan jelas rasa keterkejutannya di depan Rion, meski tadi Rion melihat gadis itu tadi sedikit tersentak.
" Boleh saya pinjam sebentar tuan ?, sebelum itu anda bisa menunggu disini sembari saya memeriksa lebih lanjut."
Rion di giring ke sofa empuk di sudut ruangan, ternyata ini adalah pojok konsultasi untuk para petualang, terbukti dari banyak petualang lain yang sedang berdebat dengan Staf di sofa lain.
" Apa anda ingin Minum sesuatu, Tuan ?"
" Tidak, tidak perlu. Terima kasih "
" Ah, sayang sekali. Padahal kami menyediakan Jus buah yang lezat "
" Hahaha "
Rion tertawa kering ketika ia mengerti apa maksud Staf yang barusan pergi.
Lima menit kemudian gadis Staf tadi datang dan meminta Rion untuk mengikutinya.
Rion menurut ketika dia di bawa menaiki tangga ke lantai dua, melihat reaksi dari petualang lain Rion berasumsi ini adalah Wilayah orang penting. Tetapi tidak berhenti di sana, Rion dibawa menaiki tangga ke lantai lebih tinggi lagi.
Petualang yang menyombongkan diri mereka karena terpanggil dengan undangan khusus merasa terhina karena ada petualang yang sudah terpanggil ke lantai tiga dimana mengurusi kasus spesial dengan tingkat bahaya Level 5.
Bahkan dalam beberapa dekade belakangan, belum ada lagi petualang yang bisa menginjakan kaki ke lantai 3.
Mereka memandangi Rion dengan pandangan Cemooh, seperti Rion menggunakan Orang dalam atau kekuatan Uang.
Karena tidak banyak di luar sana bangsawan yang benar-benar mempunyai kemampuan menjanjikan, kebanyakan mereka adalah anak manja yang sedang bermain-main petualangan demi menggaet Wanita.
Mereka hanya tidak tau saja, di kemudian hari mereka akan merubah pemikiran mereka terhadap Rion.