
Normalnya butuh 3 hari sampai 4 hari untuk sampai ke ibu kota, namun dalam kasus kali ini bisa mencapai 5 sampai 6 hari, bahkan bisa satu minggu.
Mengingat rombongan kami tidak hanya sekedar tentara saja. Beberapa gerbong berisi barang perlengkapan makan, tenda, obat-obatan, barang jarahan sebagai bukti penaklukan, dan kereta penumpang.
Sehingga tidak mungkin untuk memacu laju kuda lebih cepat lagi.
Juga mengingat kuda-kuda itu butuh banyak istirahat. Beban yang mereka tanggung jauh lebih besar dari pada kami yang hanya menunggangi.
Sepanjang perjalanan tidak jarang kami singgah ke desa desa sekitar walaupun hanya sekedar lewat ataupun menumpang istirahat.
Tak jarang juga kami mengganti kuda kuda penarik gerbong barang yang sudah di ambang batasnya.
Agar mereka tidak kesepian dan canggung di rumah barunya, kami menukar kelompok mereka dengan kelompok kuda baru yang setara ketika sampai di pos pemeriksaan.
Selagi transaksi itu berlangsung, kami juga memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berkeliling dan menyapa, siapa tau di masa depan nanti kami akan kembali lagi kesini.
Warganya sangat ramah dan gemar menyapa. Anak anak mereka juga tumbuh dengan baik, dan bersemangat.
Sebagai tanda Terima kasih atas keramahan mereka aku juga menunjukan beberapa resep yang bisa mereka gunakan dengan bahan yang biasa mereka gunakan.
Sekarang menu makanan mereka bertambah dan itu membuat para ibu-ibu PKK terlihat tertantang untuk mencoba variasi lainnya.
Aku juga sudah mendapatkan hati anak-anak menggunakan beberapa cemilan ku. Tetapi sayangnya untuk makanan yang membutuhkan Freezer tidak bisa aku keluarkan. Karena pastinya akan membuat raut wajah mereka jadi kecewa.
Keripik kentang dan Cupcake pisang serta Susu Rasa Buah, masih bisa mereka Buat.
Kurang lebih selama 3 jam kami di desa desa di sepanjang jalan aku terus menukar barang-barang dengan beberapa keperluan.
Aku merasa diriku ini sudah seperti seorang pedagang saja, meski modal awal hanya berupa sebuah resep masakan saja.
Setelah melewati malam selama 6 hari, keesokan siangnya kami akhirnya dapat melihat sosok dinding kota dari kejauhan.
Meski dari jauh pun aku bisa tau, bahwa dari dekat akan jauh lebih menawan lagi.
Dan benar saja, Itu jauh lagi di atas menawan, itu sangat menakjubkan, bahkan fantastis.
Dinding setinggi 30 Meter, berdiri tinggi menjulang. Ketika melewati gerbang aku juga mengukur kedalaman dan ketebalan dinding itu.
Ketika sampai di ujung lorong, sinar terik matahari menusuk mataku. Sorak sorai yang ku dengar sebelum sampai di gerbang semakin jelas terdengar.
Dan kalian percaya ?!
Sambutan meriah dari penduduk yang memenuhi bahu jalan serta iring-iringan pawai serta atraksi lempar Baton menyambut kami.
Aku tidak pernah merasa seistimewa ini sebelumnya. Ini jauh lebih meriah di bandingkan ketika aku ikut turnamen bela diri tingkat Nasional, tahun lalu.
Secara spontan aku melambaikan tangan ku ke arah mereka.
Taburan kelopak bunga dan kertas mengkilap menghiasi langit siang itu.
Dari bangunan bangunan tinggi di sepanjang jalan, beberapa warga mengintip dari beranda mereka.
Juga beberapa keluarga kecil dengan bayi mereka yang mengajarkan bayi mereka cara melambaikan tangan.
Di sisi jalan para prajurit dengan seragam keren mereka juga berbaris membelakangi para penonton.
Satu persatu Mereka memberi penghormatan ketika kami melewati mereka.
Aku juga melihat sekelompok anak-anak ikut berlari di sisi kami dari dekat. Aku ingin sekali turun dan membawa mereka naik ke kuda. Tetapi ayah menghentikan ku, ya ada benarnya juga. Akan gawat jika mereka yang tidak sabaran terjun ke depan arak-arakan.
Butuh 15 menit kurang lebih untuk sampai ke ujung jalan.
Di ujung jalanan sana kami sudah di sambut lagi oleh beberapa prajurit berkuda.
Aku hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarku saja.
Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.
Metode penyambutan mereka terlalu memakan banyak proses ini dan itu. Terlalu bertele-tele.
Tetapi sebagai penghormatan, mari kita ikuti saja, apa mau mereka.
Setelah masuk ke gerbang lainnya, kami di antar oleh 6 orang Tentara berkuda.
Ayah memacu laju kudanya sejajar dengan salah satu dari mereka.
Salah satu dari mereka memasuki barisan sejajar dengan ku.
Wajahnya ramah dan tipe idaman semua wanita. Kulitnya putih, dan postur tubuhnya yang Proporsi.
Ikemen musuh alami ku. Jika ini di Bumi pasti pria ini akan menjadi rebutan oleh agensi agensi model remaja.
" Jika aku tidak salah tebak, apakah anda Rion Sama ?"
" Sama ?"
" Maafkan atas kelancangan saya ini "
" Apa tidak masalah jika kita tidak menggunakan bahasa formal ?, aku tidak terbiasa dengan hal-hal yang berbau formal. "
" Tentu, tidak masalah, aku bahkan lebih nyaman jika kita bisa lebih akrab kedepannya. "
Ikemen itu mengulurkan tangannya.
" Sama halnya denganku "
Dan aku menjabat tangannya, dari sentuhan sekejap itu aku bisa tau, jika orang di depanku ini bukan sekedar ikemen yang hanya mampu mengangkat beban yang tidak lebih berat dari sendok dan garpu.
Itu adalah tangan seorang pendekar pedang, terasa kasar dan berisi.
" Ngomong-ngomong kita belum sempat berkenalan, aku Rion, salam kenal"
" Aku Alan, salam kenal juga "
" Woo tidak hanya orangnya namanya pun sangat keren "
" Hahaha anda terlalu memuji, Rion san "
" Tidak apa-apa hanya dengan Rion saja, semua orang memanggilku begitu "
Alan tertawa dengan elegan, rambut pirang nya yang jatuh lurus itu bergoyang karena getaran tubuhnya.
Ada apa ini ? Aku pikir kami akan mulai berbicara non formal, tetapi berakhir tetap dengan bahasa formal dari awal mulai.
Sepertinya memang butuh penyesuaian dulu.
Tidak sampai lima menit kami sudah sampai di pemberhentian terakhir.
Kami berhenti didepan pintu masuk istana yang tidak kalah megah dari apa yang kubayangkan, setelah memutari taman air mancur yang megah dan besar.
Aku bahkan tidak menyadari jika bangunan utama di ibukota ini adalah Istana yang jauh lebih megah jika dilihat dari dekat, aku sampai lupa karena teralihkan dengan penonton pawai dan Alan.
Para maid berbaris rapi di setiap anak tangga yang terbilang banyak. Mereka sangat manis dengan pakaian Maid yang mereka kenakan.
Ada Beberapa orang diantara mereka yang berasal dari beberapa Ras yang tidak kalah cantik.
Dunia Lain memang sesuatu sekali.
Aku menaiki semua anak tangga itu mengikuti Alan. Dan di belakangku Izumi yang kelelahan keluar dari kereta sambil di seret oleh Istrinya.
Disusul oleh beberapa wanita yang memang berencana ikut bersama kami.
Wajah mereka terlihat cemas. Aku paham apa yang ada di pikiran mereka, namun aku tidak dapat membantu karena aku sendiri juga merasakannya.
'Apakah pantas bagi kami memasuki istana megah dengan pakaian biasa ?'
Tetapi setelah sesampainya di depan pintu istana kami di sambut lagi dengan lebih banyak Maid dan pelayan.
" Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, aku ucapkan selamat datang di Kerajaan Rose Guard" Alan membungkuk dan memberikan salam bangsawan dengan elegan.
Mengikuti di belakangnya, para Maid dan Pelayan juga memberikan salam porsi mereka.
"" Tuan dan Nyonya sekalian, selamat datang ""
Ucapan mereka yang serentak bergema di ruangan ini.
*****
Kami di antar keruang ganti, tentu saja pria dan wanita di pisah.
" Rion... Tolong aku "
Izumi yang terlihat sudah hampir mengering seutuhnya, meminta bantuan ku ketika dirinya yang tidak berdaya itu di seret oleh Momo.
Aku sempat berdebat hebat dengan Momo karena sikapnya yang semena-mena di kediaman orang lain.
Sampai akhirnya dengan enggan Izumi berhasil ku selamatkan sebelum ia jatuh terlalu dalam lagi.
" Terima kasih sudah menyelamatkanku dari jurang Neraka "
Suara Izumi terdengar kering dan serak. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan dirimu kawan ?
Kami terus melanjutkan langkah menuju ruang ganti. Lorong-lorong istana ini begitu panjang dan luas, juga tinggi. Jendelanya juga besar dan sudah terbuat dari kaca.
" Aku pasti akan tersesat jika di tinggal sendirian disini " Gumamku.
"Pufft"
Alan sepertinya mendengar gumaman ku yang tidak sengaja bocor.
" Rion san, tu tung gu~~ a~~ ku~~ "
Izumi yang sudah tidak tertolong lagi itu, memaksakan kaki-kakinya terus melangkah meski harus berpegangan pada dinding.
" Izumi ?! "
" Ri~~on "
Mata Izumi seperti melihat secercah cahaya ketika pandangan kami bertemu.
" Seret tubuh mu, meski harus merangkak "
Seakan mendapatkan serangan akhir, Izumi jatuh tersungkur dan pingsan.
*****
Pada akhirnya aku tetap menolong nya dan membopong nya keruangan ganti. Aku tidak sekejam itu, yang tadi hanya setengah bercanda.
" Kejam !!"
" Maaf, aku bercanda, jangan di bawa ke hati "
Izumi yang sudah mendingan setelah meminum ramuan pemulih itu sudah dapat bergerak lagi. Dia juga sudah bisa mengganti pakaian sendiri, tentu saja dia bisa, dia susah besar.
Izumi ada di bilik sebelah sedang mengganti pakaian dan aku ada di sebelahnya.
Pakaian khusus untuk hari ini sudah di sediakan oleh istana. Tetapi untuk ukurannya sangat tidak pas.
Karena itu sebagai gantinya kami meminta izin untuk mengenakan pakaian kami yang sekiranya mendekati Pakaian Formal.
Alan pun menyetujuinya setelah banyak meng Eliminasi beberapa baju yang sekiranya sopan.
Alhasil...
Untuk diriku, setelan Tuxedo hitam, dengan kemeja putih dan dasi Gantung hitam. Untuk rambut aku menggunakan Gel rambut dan ikatan poni tail, serta yang tidak kalah penting, sebuah kacamata hitam.
Alan memberikan tepuk tangan ketika aku keluar sambil berpose. Mulutnya membentuk huruf alfabet ' O '.
Selanjutnya giliran Izumi dengan Hakama Pria nya. Tidak lupa dengan rompi untuk Hakama nya yang membahagiakan kesan berwibawa.
Terlihat elegan dan terlihat tampan ketika Izumi melepas kacamatanya.
" Wow, sudah cocok menjadi Yakuza "
Kami bertepuk tangan dengan penampilan menakjubkan Izumi. Tidak disangka dia bisa sekeren ini.
" Terima kasih atas pujiannya "
Izumi keluar dengan tangan mendekap di dalam lengan Kimono nya.
" Tapi... "
"" Tapi... ?""
" Tapi tidak seperti ini juga !!"
Dengan kesal Izumi melepas wig palsu chonmage nya yang sepaket dengan kostumnya.
Alan terkekeh dengan Tsukomi yang di mainkan Izumi.
" cih, kupikir kau tidak akan menyadarinya... "
" Mana mungkin aku bisa tidak sadar, aku sendiri yang memasangnya "
" Kau memasangnya karena kau suka kan ?"
" Mana mungkin !!" Izumi menusuk pipiku dengan pedang kayu di pinggangnya.
" Hahaha maaf maaf, dari pada itu mari kita rapikan dulu rambut mu itu. "
" Apa yang salah dengan rambutku?!"
" Tidak ada yang salah, hanya sedikit di rapikan " Ujarku sambil menunjukan Gel Rambut.
Izumi menurut dan duduk di depan cermin.
Ini kesempatan langka untuk mempermainkan rambut orang lain.
Ku buat menjadi berbagai mode, dan ku foto.
Ku buat beberapa lagi dan ku foto.
Ku beri coretan luka dengan pensil alis, dan ku foto.
Ku beri coretan kumis lalu ku foto.
Sampai akhirnya Izumi sadar bahwa dirinya sedang di permai kan.
" Woy, jangan mempermainkan wajah orang "
" Hahaha maaf maaf, aku kelepasan "
Izumi tambah kesal ketika tau aku masih saja mengambil gambarnya.
Terjadi aksi kejar kejaran kecil antara aku dan Izumi.
Sedangkan Alan juga sedang sibuk dengan dirinya sendiri di sudut ruangan. Tubuhnya bergetar dan suara tawa kecil terdengar dari arahnya.
Kami berhenti karena menyadari ada yang salah dengan Ikemen yang satu ini.
Tuk Tuk
" Masuk!!" Jawab kami spontan.
" Tuan... Sudah waktunya unt... tuk... Pufftt "
Sang Maid sangat kesulitan menyampaikan laporan nya ketika melihat coretan di wajah Izumi yang terlihat konyol.
Kami menunggu dengan tenang sampai Maid tersebut selesai menyampaikan laporannya, dan dengan cepat undur diri.
" Lihat apa yang kau lakukan !!" Anak itu membentak ku dan menyalahkan ku karena mempermalukan dirinya di depan orang lain.
" Tidak, Izumi kun memarahi ku ~~" Godaku
" Berhenti bermain-main, cepat bersihkan semua kekacauan yang susah kau buat "
" Hee~~ padahal terlihat sangar " Keluhan ku kecewa.
" Sangar, matamu!!, cepat bersihkan !!"
" Iya iya, aku bersihkan "
Dengan enggan aku tetap membersihkan coretan coretan itu.
" Mau tinggalkan kumisnya saja ?"
" Jangan bercanda!!" Izumi benar-benar murka.
" Cih padahal sangat keren "
" Matamu!!"
*****
Kabarnya tempat yang akan kami kunjungi saat ini adalah Aula kerajaan dimana Raja biasanya menerima tamu penting.
Dari namanya saja aku bisa menebak orang-orang yang hadir nantinya pasti bukan orang yang sembarangan.
" Izumi, kita beruntung tidak menyisakan kumis palsu mu itu "
Izumi menghela nafas panjang dan berkata " Aku penasaran, kapan terakhir kali kau menggunakan otakmu itu "
Waw aku mendapatkan kritikan pedas.
Di persimpangan jalan kami berpapasan dengan para wanita dengan busana cantik, dandanan mereka sudah pada taraf level artis.
Aku menduga tangan Momo mempunyai skill mekanik yang handal dalam merias.
Sepertinya aku mempunyai saingan disini. Jangan harap kau bisa mengalahkan ku dalam rias merias.
*****
Karpet merah megah terputus di depan sebuah pintu kembar besar berwarna putih susu. Terdapat ukiran dan bordiran dari emas di kedua pintu besar yang menjulang sampai langit-langit.
Dua penjaga membukakan pintu besar itu untuk kami.
" Nah silahkan ikuti aku, santai saja"
Alan membimbing kami masuk kedalam, dikedua sisi sudah banyak Pria dan Wanita mengenakan berpakaian mewah. Semua orang tampak berkilauan. Tersirat dari Wajah mereka ketika menatap kami tajam seakan akan sedang menilai potensi kami.
Diujung barisan juga terdapat barisan lainnya yang bisa ku kira barisan para petinggi Militer. Aku juga bisa menemukan Ayah di sana bersama beberapa petinggi lain yang tidak kalah seram, mereka menggunakan seragam militer yang sama dengan yang di kenakan Alan.
" Rion san, silahkan tunggu disini "
" Eh, apa yang harus aku lakukan ?"
" Tenang saja dan ikuti apa yang lainnya lakukan "
Setelah berpesan namun tidak di sertai keterangan lebih lanjut, Alan seenaknya pergi dan memasuki barisan para Petinggi militer.
" Perhatian !!, Duke Batolf Mattel Rose Guard ke Tiga akan memasuki Ruangan Singgasana. Semua hadirin di Mohon Memberikan Penghormatan !!!"
Di saat itu juga, semua orang yang hadir, turun berlutut dengan satu kaki.
Eh, apa ? Kenapa aku tiba-tiba seperti orang bodoh yang tidak tau harus bagai mana. Setidak nya aku tau sopan santun dan adat menyambut penguasa. Tetapi kali ini tubuh dan otakku serasa blank.
Benar... Aku hanya harus mengikuti mereka. Tetapi tubuhku tidak mau merespon.
Disisi kiriku izumi juga tidak berlutut. Matanya kosong kelelahan dan hanya berdiri lesu. Sedangkan Momo dengan cuek hanya berdiri santai dengan Blush terbukanya sembari memeriksa kukunya.
Mereka terlalu santai.
Ayah memberikan tatapan tajam ke arahku yang tidak kunjung mengikuti adat penyambutan mereka.
Alan di satu sisi sedang tertawa geli di barisannya.
Saat ku lirik ke arah lain bangsawan dan pengawal di sisi jendela sedang panik mengisyaratkan aku untuk turun berlutut.
Aku tau aku tau.. Tapi tubuh ini tidak merespon.
Aku yang panik disini.
Tetapi sudah tidak ada waktu lagi. Rombongan Sang penguasa yang mereka sebut Yang Mulia sudah mulai memasuki ruangan.
Mereka berjalan dengan diiringi terompet kerajaan yang sudah bersiaga di sisi dinding aula.
Tanpa kehilangan muka, ku redam rasa panik ku dan berpose dengan satu tangan di saku celana.
Dengan pose mengintimidasi seperti yang kulakukan ketika hendak menyerbu markas clan lain yang berani mengusik daerah kekuasaan keluarga Kazuma.
Yang Mulia entah apalah namanya itu berhenti di singgasananya sejenak dan mengangkat satu telapak tangannya seraya menyapa semua hadirin sebelum duduk di tahtanya.
Tanpa merasa terganggu dengan tiga orang yang tidak memberikan penghormatan padanya.
Wajah senyum ramahnya menunjukan itu semua.
Pembaca agenda acara sempat panik, namun kembali sadar dengan agenda selanjutnya.
" Para hadirin di persilahkan berdiri kembali. "
Suara serentak dari mereka kembali menggetarkan jiwa.
" Secara pribadi Aku ucapkan, selamat datang di negeri ini, wahai para pahlawan kami !!"
" ..... "
" ..... "
Eh, ? Pahlawan itu maksudnya kami ?.
Ah, benar juga. Skenarionya begitu.
Tapi aku sama sekali tidak di briefing soal ini.
Aku melirik ke arah Alan, tetapi orang itu sedang sibuk dengan tawanya. Sedangkan Ayah... Tidak ada harapan.
Saat itu juga sepasang mata sedang menatapku, dan mata kami bertemu. Aku memanggilnya dengan jariku.
Pria itu tersentak, dirinya tau arti dan maksudku. Dia ingin menolak tetapi Yang Mulia mengizinkannya.
Dengan wajah panik dan penuh tanda tanya besar pria itu tetap datang menghampiri ku.
Dan kami berbisik blablabla ini dan itu.
Sekira dirasa cukup kami pun mengakhiri diskusi pendek kami. Dan kembali ke posisi masing-masing.
" Ehem... Teruntuk Yang Mulia khususnya dan kepada hadirin pada umumnya, saya mewakili teman-teman saya untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya. Semua adat istiadat disini jauh berbeda dari Negara tempat kami berasal. Oleh karena itu sudilah sekiranya Yang Mulia untuk menerima permintaan maaf kami ini dari lubuk hati yang paling dalam "
Kami bertiga serentak menunduk gaya Jepang sebagai respek dan rasa hormat kami menggantikan cara mereka.
" Seperti yang aku dengar sebelumnya " Yang Mulia memberikan senyuman hangat, ketika dagu beliau beristirahat di kedua punggung tangannya.
" Sebelumnya ? "
Ah, jadi begitu. Aku baru menyadari ternyata ada kemiripan antara beliau dengan Alan, apa Alan yang memberi taunya ? tidak mungkin Alan sedari awal selalu bersama kami hingga akhir. Apakah Ayah ? mungkin saja.
" Aku mendengarnya dari orang yang paling aku sayang " Ujarnya dengan senyum menggoda.
" Yang Mulia Ratu Elizabeth, Tuan putri Catherine dan Pendeta Agung, memasuki ruangan !!"
Penjaga pintu tempat Yang Mulia tadi masuk, bersorak dengan suara pantang dan kemudian membuka pintu yang tidak kalah megah itu.
Tiga orang yang menjadi sorotan utama memasuki ruangan dengan iringan terompet dan beberapa Maid Maid imut.
Ada dua wajah yang kukenal.
Ibu dan Rin. Syukurlah mereka sehat-sehat saja.
Tunggu sebentar. Kenapa Ibu juga berasa di sana ?
Ketiga orang di sana berjalan menaiki tangga dan menuju kursi di sebelah Tahta Raja.
" Rion-dono, izinkan aku memperkenalkan orang orang yang ku sayang "
" Yang ku sayang ?"
" Mulai dari Istri tercintaku "
" Istri ?!!! "
" Eh, ada apa? Apa ada yang salah, Rion-dono?"
" Tidak... Hanya saja aku baru saja mendengar kata istri barusan, heee~~ apa telinga ku tidak salah dengar "
" Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ?"
Aku bisa melihat wajah panik Raja dan semua orang. Ya tentu saja, di depanku dan Ayah, pria ini dengan terang terangan memperkenalkan ibu sebagai istrinya. Aku tidak menyangka Ayah Rin setega itu.
Aku tidak bisa menahan emosi ku, aku bahkan secara sadar mengeluarkan aura membunuh, sampai-sampai semua tentara bersiaga di depan Raja dan melindunginya.
Aku juga sudah siap mengeluarkan dua pedang dari inventori ku dan bertarung habis habisan jika diperlukan.
Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat tepat di ulu hatiku, yang membawa tubuhku terlempar dan terbanting ke pintu.
Dan berakhir pingsan.
Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu.
Tiba-tiba saja saat sadar aku menemukan tubuhku sudah berada si sofa di suatu ruangan.
" Kepalaku masih sedikit pusing. Perutku juga masih mual. Momo sialan !!!"
" Memangnya ada apa dengan ku ?"
Momo masuk ruangan dengan wajah cuek. Di ketiaknya ada Izumi yang lagi lagi membutuhkan bantuan.
Gadis itu duduk di sofa seberang bersama Izumi yang sedang merenggang nyawa.
" Woy, Momo apa maksudmu tadi, apa kau tidak sadar bahwa kau sudah menghalangiku "
" Hee.. Benarkah ? tetapi aku merasa bahwa aku sudah menyelamatkanmu dari kebodohanmu "
" Apa maksudmu ?"
Momo menatap ku tajam.
" Apa kau bodoh ?"
" Woy !!" Aku membentak sambil memukul meja.
" Izumi bantu aku "
Aku bangkit dari sofa hendak meminta penjelasan, disaat bersamaan dengan Alan yang masuk sambil mengetuk pintu yang terbuka lebar.
" Boleh aku masuk ?" Tanyanya sambil tertawa kecil.
Tanpa basa basi Alan duduk di bangku di sebelahku. Menyusul di belakangnya satu persatu orang-orang penting dalam kasus ini bermunculan.
Termasuk pelaku utama kasus kali ini. Yang Mulia raja.
Pria itu duduk di kursi membelakangi jendela. Dua Militer bersenjata lengkap, sedang siaga tingkat tinggi di kedua sisinya ketika aku menatapnya dengan tatapan membunuh.
Namun, wajah orang itu sama sekali tidak terganggu maupun terancam, dia bahkan menganggap semua ini seperti lelucon belaka.
Aku sempat berdebat dengan nya sekali lagi, sampai akhirnya seorang wanita berperawakan kecil memelukku dari belakang dan menjelaskan semuanya mulai dari awal ke salah pahaman ini.
Lalu...
" Aku minta maaf atas kehebohan yang sudah aku perbuat, aku sudah mencoreng nama baik anda sekeluarga di depan pengikut setia anda. Aku juga minta maaf karna sudah merusak moment krusial yang sudah repot repot dipersiapkan oleh semua orang. Aku minta maaf!!"
Aku Dogeza di hadapan Yang Mulia sebagai tanda kesungguhan ku, aku benar-benar merasa bodoh.
Tidak salah Momo memukul ku saat itu. Aku akan berterima kasih padanya nanti. Jika saja nanti aku masih hidup.
Tetapi beruntung aku tidak di eksekusi, dengan segala kebaikan hati Yang Mulia semua yang sudah terjadi dapat di selesaikan dengan bijak.
Kedepannya aku harus lebih hati-hati lagi dalam menganalisa dan mengambil keputusan. Aku tidak mau kejadian memalukan ini terjadi lagi kedepannya.
*****
Yang Mulia Raja mengiring kami ke ruangan selanjutnya dimana mereka sudah menyiapkan sebuah pesta besar sebagai penyambutan kami.
Aku tidak tau apa ini adalah tradisi atau memang mereka suka boros, hanya untuk menyambut kami yang bukan siapa-siapa.
Aku mengikuti Yang Mulia dari belakang ketika masuk ke dalam aula pesta.
Semua orang menatap kami. Terutama aku yang menjadi sorotan karena kejadian sebelumnya.
Dengan sabar Yang Mulia menjelaskan sebagian besar alasan dari amukan ku. Dan meminta maaf atas namaku.
Tidak mau di sebut tidak tau diri, aku juga meminta maaf dengan benar.
Dan pesta kembali berlangsung tanpa kendala.
Yang Mulia pamit undur diri, karena beberapa orang penting dari kalangan bangsawan tampak sedang menunggu beliau.
Di sudut lain Ibu juga sedang berkumpul dengan para remaja dan asik berbincang-bincang.
Ayah juga ditawan bangsawan lain dan terjebak dalam pembicaraan yang membosankan. Aku bisa tau dari raut wajahnya.
Alan. Lupakan.
Tersisa kami bertiga, aku, Izumi dan Momo yang... Eh, kemana mereka.
" Sial. Aku di tinggal. "
Pasangan bodoh itu malah terjebak di kelompok wanita-wanita yang sudah bersuami. Mereka sepertinya tertarik dengan pakaian dan paras cantik Momo.
Bagaimana tidak, dandanan Gyaru nya yang selalu mengeluarkan hormon Pheromones nya itu terlalu menggoda setiap mata yang memandangnya.
Baik dikalangan sejenis maupun lawan jenisnya.
Izumi sendiri saat ini juga berusaha untuk menyembunyikan nafsu membunuhnya ketika para lelaki dari kelompok lain mencoba mencuri curi pandang kearah istrinya.
" Sialan, mereka meninggalkan aku sendiri dan bersenang senang dengan yang lain"
Sekarang apa yang harus kulakukan ?
Oh benar juga, aku belum melihat Rin semenjak kejadian tadi.
Pintu utama terbuka ketika aku tengah sibuk mencari sosok Rin.
Panjang umurnya, orang yang kucari muncul dari sana bersama pengawal yang aku kenal dekat.
Sang bintang utama menjadi sorotan, dengan kimono megahnya dan dandanan elitnya.
Waw...
Ya itulah kata yang cocok untuk sosok menakjubkan gadis yang satu ini.
Tidak kusangka dia akan mengenakan pakaian tradisional asing, ketimbang pakaian tanah kelahirannya sendiri di acara pesta besar ini.
Gadis yang satu ini memang selalu membuatku tidak berhenti berdecak kagum. Tidak hanya aku, sepertinya semua orang yang hadir disini juga akan sependapat denganku.
" Rikun Rikun, bagaimana dandanan ku kali ini ?, Manis kan?"
" Sangat manis " Jawabku ku berikan 2 jempol kearahnya.
Gadis itu berputar kesenangan. Tidak kusangka orang pertama yang dia sapa di pesta adalah aku, padahal ada orang lain yang jauh lebih dekat dengannya tadi.
" Apakah aku cantik ?"
" Sangat cantik " Jawab ku lagi. " Kimono mu "
Gadis itu menggembungkan pipinya seketika, berbalik kembali berkumpul dengan pelayannya dan baru memulai menyapa semua orang.
Senang rasanya mengerjai nya.
" Hey kau !!"
Merasa yang di panggil itu adalah aku, aku pun menoleh kebelakang ku.
Tepat di sana ada 3 orang pemuda seumuran dengan ku sedang memasang tampang sombong dengan gayanya yang selangit.
Meski wajah mereka lumayan.
" Apa? Mau berkelahi ?, boleh ayo ke halaman belakang!!" Ku seret kerah orang yang sepertinya bos mereka.
" Tu.. Tunggu!! "
Mereka menahan tubuh ku, dan wajah mereka terlihat panik.
Aku melepaskan genggaman ku dan membawa mereka ke sudut ruangan, dimana sekiranya pembicaraan kami tidak akan terdengar oleh siapapun.
Aku menunggu sejenak sampai mereka benar benar siap dengan ocehan sombong mereka.
" Huh, betapa kasarnya. "
" Kau sendiri yang memulai " balasku.
" Aa.. Apa maksud mu, tuan yang kasar. Kami hanya menyapa mu ?"
" Menyapa ?, dengan menghardik 'hey kau'?"
" Tidak.. Ya, benar kami yang salah di awal "
" Lalu, apa yang kau inginkan dari ku ?"
" Beruntung kau bertanya. Kau... aku dengar kau..."
Belum sempat orang itu menyelesaikan kalimatnya, aku sudah lebih dulu menarik bajunya ke hadapanku.
" Kau..? Kau... ?! Kau...?!! sekali lagi memanggil ku 'kau', Ku patahkan lehermu"
Pria itu menggigil dengan wajah ketakutan. Meskipun dua temannya juga ketakutan tetapi mereka masih sempat menyelamatkan nya dengan mencoba melepas genggaman ku.
" T... Tapi.. Tapi aku belum tau namamu Tu.. Tuan."
" Hahaha... Jika kau tidak tau namaku, setidaknya kalian tau tatakrama dalam berkenalan bukan?, hey... jangan pikir aku adalah orang bodoh. Kalian pikir kalian bisa mengintimidasi ku dengan wajah sombong anak rumahan itu, hah?!!"
Gyut..
Mereka semakin menyusut di sudut dinding ketika saling berpelukan.
" Memalukan "
Sudut mata mereka mulai berair, sebenarnya aku tidak tega. Tetapi mereka harus di beri tau dengan benar cara bersikap dengan orang baru, supaya tidak semena mena pada orang.
Tidak peduli mereka itu bangsawan sekalipun.
" Lalu apa yang kalian inginkan ?"
" Tidak..tidak jadi, aku lupa. Benar aku lupa, hehehe.. "
" Benarkah ?" aku tau itu bohong, penjahat yang terpojok selalu begitu.
" T.. Tepat sekali, aku juga lupa.. Jadi tolong lepaskan kami "
" Ya sudah lah, sampai jumpa"
Aku meninggalkan mereka, jika ku teruskan mereka akan benar-benar menangis bahkan mereka bisa mengompol.
Tidak baik untuk mental mereka nanti, kasihan merekanya, padahal masih muda.
Aku sendiri juga sedikit berlebihan.
Tapi aku Puas. Puas sekali.
" Apa yang kalian bicarakan ?" Tanya Kazu ketika aku ikut di kelompoknya.
" Tidak ada, hanya membuang stres "
" Kau ini, tidak biasanya "
" Kau tau sendiri, semua ini membuatku stres sampai ke level muak" ucapku mengadu.
" Kalau begitu mau membuangnya sedikit lebih ?"
" Ooo~~ Kazu, kau benar-benar saudaraku. Aku akan memanggilmu Aniki mulai sekarang."
" Tolong jangan yang itu "
" Onii sama?"
" Ku tolak"
" Onii chan?"
" Jijik"
" Aniue ?"
" Hah.. Kazu saja, seperti biasa "
" Cih, tidak asyik seperti biasa "
Kami pun keluar dari ruang pesta. Kazu menggiring ku kelapangan latihan, tempat dimana para Pengawal dan Prajurit biasa berlatih.
Beruntung tempat itu kosong ketika kami datang, jadi aku tidak akan segan segan lagi dan mengeluarkan semua keluh kesah ku selama ini dalam tebasanku.
Namun di ujung lorong, tanpa aku sadari. Tiga pasang mata mengawasi kami dengan gemetar ketika melihat kami bertukar tebasan dengan brutal.