7 SLEEPER

7 SLEEPER
Rank UP Bagian 3



Entah bagaimana ceritanya, tetapi Rion dan Pangeran Berhasil Sampai di hotel tempat Mereka menginap, dengan selamat.


Meski membutuhkan waktu Berjam-jam.


Mereka tidak sempat untuk makan siang, karena itu mereka membalaskan dendam Makan siang yang terlewat di waktu Makan Malam tiba.


Pihak hotel menyediakan Prasmanan besar di aula milik mereka, ada banyak Peserta ujian lain yang menginap di Sini.


Mereka datang dengan Seragam mereka masing-masing. Mereka berbaur sesama mereka, hanya Akademi Rion dan Pangeran saja yang mau bercampur.


Meski nantinya mereka adalah Musuh di Arena, tetapi teman dalam perjalanan, sekarang mereka benar-benar menjadi teman dan lumayan akrab.


Hal ini akan membantu perasaan mereka nanti ketika kemungkinan mereka akan bertemu di arena.


Banyak Peserta yang memandang Remeh para peserta lain.


Itu dikarenakan mereka adalah sekolah bergengsi dari Negara lain, reputasi Akademi mereka memang terjamin bagus dan mereka juga berasal dari Bangsawan kelas atas.


Hanya Akademi Rion saja yang pesertanya dari berbagai macam kalangan. kalian pasti bertanya mengapa mereka bisa tau, sebenarnya selain mengembangkan kemampuan pribadi, mereka juga tidak di larang untuk mencari informasi lawan, sehingga kemungkinan informasi lawan juga akan tersangkut di dalam data lawan.


Kesampingkan dengan data data yang membosankan, Saat ini para Senpai nya Rion yang tidak terbiasa dengan jamuan Makan Malam Ala Bangsawan, merasa minder dan canggung.


Rion tidak menolong mereka, itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, terlebih Rion merasa mereka perlu menghadiri jamuan seperti ini agar terbiasa karena mereka juga seorang Bangsawan.


Rion lebih memilih menyantap Makanan di meja Prasmanan. Bersama sang Pangeran yang sudah lebih dulu menumpuk daging daging di piringnya.


Mereka Mencari Ruang Kosong di sudut. Itu di karenakan Tidak ada tempat duduk ataupun meja makan yang tersisa untuk mereka.


Ini adalah bentuk Diskriminasi dari para Bangsawan yang angkuh, mereka sengaja mengambil meja yang di persiapkan khusus untuk Akademi lain.


Menyebabkan Beberapa peserta dari Akademi lain yang Kekurangan Meja dan tempat duduk, terpaksa berdiri ataupun duduk di lantai.


Pangeran tanpa peduli juga duduk di atas lantai, beruntung Rion menghentikannya.


Meskipun orang itu Bodoh, Namun dia masihlah seorang Pangeran.


Rion mengeluarkan beberapa Tikar Tatami dan menyusunnya, sebuah Meja Kotatsu dan dua bantal untuk alas duduk.


" Silahkan Pangeran "


" Terima kasih "


"" Selamat makan ""


Mereka berdua menyantap makanan mereka dengan hikmahnya di sudut ruangan. Mereka bahkan sampai lupa membawa minuman karena mereka hanya mementingkan piring berisi makanan di kedua tangan mereka tadi.


Karena itu Rion terpaksa mengeluarkan beberapa Jus di botol ukuran besar.


Menyajikannya untuknya dan Pangeran.


" Enak, Lidah, sakit "


" Itu adalah Cola, hati hati "


Rion terlambat. Pangeran yang tidak terbiasa dengan minuman berkarbonasi, memuntahkan cola dari hidungnya.


Rion tertawa sembari tetap menyodorkan sapu tangan.


Pangeran terus mencoba minuman itu sampai terbiasa, meski ia masih saja memuntahkannya.


" Cobalah minum sedikit-sedikit "


" Uhm... Berhasil "


" Good Job "


Dalam hitungan menit, mereka berdua berhasil menghabiskan makanan mereka.


Kini mereka tengah menyeruput teh panas yang di hidangkan Rion, dengan wajah bahagia.


" Ada yang bisa saya bantu ?" Keringat sebesar biji Jagung jatuh dari dahi Rion, ketika sadar sudah banyak orang yang telah berkumpul menyaksikan apa yang sedang ia lakukan.


Apa yang telah ia lakukan  saat ini terlihat elegan dimata mereka, terlebih dengan aroma lezat dari Teh Hijau yang saat ini ia seduh.


Sebagai bangsawan dan mahluk sosialita, teh adalah salah satu item wajib bagi mereka.


" Maaf, aku tidak punya banyak "


Mereka memang tidak mengharapkan akan di bagi, tetapi tetap saja mereka penasaran dengan rasa dari Teh yang saat ini Rion dan Pangeran seruput.


" Rion San, apa ini  !!?" Ray yang sudah di tempa oleh Rion hingga menjadi sangat tampan dan sedikit berotot, heboh dengan Kotatsu yang terlihat nyaman.


" Kotatsu "


" Kotatsu ya " Ray mencoba masuk dan langsung di buat lemas dengan wajah bahagia.


Satu persatu seniornya yang penasaran ikut melakukan apa yang Ray lakukan dan merasakan apa yang Ray rasakan.


Aluc Yang berbadan besar ingin bergabung, tetapi tidak ada lagi tempat untuknya.


Saat ini saja mereka berempat sudah sempit sempritan. Aluc meskipun pendiam dia sama sekali tidak menyembunyikan rasa iri akan teman-temannya yang merasa damai.


" Hangatnya, membuatku malas bergerak " Ucap Ray.


Semua teman yang lain ikut mengiyakan.


Rion meskipun terganggu namun ia tetap menyeduh kan mereka teh hijau. Tidak semua mereka yang cocok dengan Teh tersebut, seperti Lux dan Dolce. Karena itu...


" Senpai, coba makan dengan kue ini " Rion menjamu kedua senpai nya dengan sepiring Manju dan Dango.


Mereka menyukai kuenya tapi tetap tidak untuk teh nya. Rion hanya tertawa dan tidak marah, ini masalah selera. Karena itu Rion menggantinya dengan Cola.


Pangeran yang sudah lebih Pro minum Cola dari mereka, memasang senyum sombong.


Kedua Seniornya meneguk minuman itu dengan tegukan besar. Dan terjadilah.


Cola yang mereka minum langsung keluar dengan kecepatan bukan main.


" Hua...  apa ini, hidung ku sakit. Kepalaku Hua... " Dolce menangis, air matanya tidak berhenti mengalir.


" Maaf, apa senpai terkejut ? Seharusnya aku bilang dulu minum pelan-pelan " Rion menyeka air mata dan hidung Senior kecilnya.


Sedangkan Lux, anak itu membenamkan wajahnya di atas meja, kepalan tangannya ia kepal dengan kuat mencoba untuk Kuat.


" Pemula " Ejek pangeran sambil mencontohkan cara minum Cola yang baik dan benar.


Dan Byuur


Pangeran juga melakukan kesalahan yang sama. Dia yang merasa sudah bisa minum dengan tegukan besar, termakan Karma nya sendiri.


" Chibi " Pangeran menangis.


" Makanya jangan sombong !!" Rion melemparkan sapu tangan bekas menyeka ingus Seniornya tadi ke wajah Pangeran.


" Nah cobalah minum pelan-pelan " Pinta Rion


Mereka berdua menuruti dan mempercayai kata-kata Rion kali ini.


" Bagai mana ?"


" Unnn, lezat meski lidah terasa di gigit " Dolce yang pertama berkomentar.


" Aku suka " Ujarnya meski tubuhnya menerima getaran mengasikkan.


" Senpai sekalian juga mau ?" Tawar Rion


Mereka menolak, mereka tidak mau terlihat memalukan di hadapan bangsawan lain, mereka lebih memilih menjaga martabat mereka, untuk saat ini.


Karena risih selalu di perhatikan, Rion akhirnya menyerah dan membagikan semua orang yang menonton mereka, satu gelas Cola untuk masing-masing orang.


Mereka mencoba Minuman asing di gelas mereka yang sisanya masih meledak-ledak.


" Enak... "


" Lezat "


" Yah, ini lezat. Meski menggigit di lidah "


" Ini sangat cocok di minum saat cuaca panas "


" Kau benar "


" Sepertinya aku akan suka "


" Dimana mereka menjualnya ?"


" Ah, itu aku membuatnya sendiri "


"" ..... ""


Rion mengabaikan mereka yang terkejut dan kabur dari kerumunan itu untuk menghindari Interograsi yang tidak di inginkan.


" Hey, Rion-san apa kau juga akan menjual ini kepada perusahaan kami ?" Tawar Ray sembari menunjuk kearah kotatsu yang tengah di bereskan. Bahkan jiwa dagangnya masih kental meski dalam kondisi ribut seperti ini.


" Iya iya, kita bicarakan itu nanti "


" Juga Cola itu "


" Meskipun Senpai Belum Mencobanya ?"


" Ya, meski aku belum mencobanya. Melihat reaksi dari semua orang, aku yakin itu akan laku di kalangan anak muda "


" Padahal ini minuman herbal "


" Eh ? Itu herbal ?"


" Ya, tergantung peracikan nya. Apa kah untuk herbal atau untuk obat terlarang, karena itu aku tidak bisa melepaskan yang satu ini ke perusahaan mu Senpai "


" Ya, aku mengerti "


" Tenang saja, Kami sudah Membuat team untuk memproduksi masal. Jadi tidak lama lagi minuman ini akan beredar di pasaran. Siapa tau perusahaan Senpai adalah salah satu Distributor kami. "


" Rion San, kau tidak pernah berhenti membuatku Terpukau "


Setelah makan malam berakhir dan semua orang kembali ke kamar mereka, Rion di culik oleh beberapa Anak-anak dari sekolah lain ke kamar mereka dan meminta lebih Cola meski mereka berani bayar mahal.


Mereka tidak puas hanya dengan satu gelas, mereka menuntut lebih.


Malam itu Rion melelang hampir 24 botol berisi 3 Liter dan meraup untung 370 koin Emas kecil.


Pada saat sarapan, Rion sama sekali tidak terlihat. Dan mereka yang tidak kebagian penjualan Cola merasa kecewa. Mereka berharap Rion juga mau menjual Cola itu kepada mereka.


Sedangkan Rion sendiri sudah berada di atas Hutan Angker dengan Menaiki Alto dalam bentuk Naga nya. Kejadian ini sempat menjadi keributan ketika Alto berubah di depan Pintu Hotel tempat mereka menginap karena sudah tidak sabar menggendong Rion di pundaknya.


" Apakah disini ?"


" Sedikit di depan lagi " jawab Alto.


" Udara disini terasa mengerikan "


" Itu dikarenakan kediaman salah satu Jendral tentara Raja Iblis di punggung gunung, lihat kita bisa melihatnya dari sini "


Alto menunjuk ke arah punggung Gunung yang ia maksud.


" Wah, kau benar. Lalu apa tidak apa apa jika masuk ke hutan ini ? Bukankah ini juga halaman belakang rumah mereka ?"


" Tenang saja, jika mereka marah aku tinggal meludahi mereka saja dan mereka akan kocar-kacir dan pipis di celana "


" Woh, kau sangat Hebat Alto " Rion mengelus tengkuk Alto sembari menahan keterkejutannya dari kata-kata Alto barusan.


" Ah, itu dia "


Alto menunjuk kepada Monster yang sedang terbang jauh di depan mereka.


Tubuhnya kurus dan jangkung dengan sayap Kelelawar besar di punggung, kulit nya putih susu tanpa cacat.


Alto memacu lajunya dan terbang di sisi Gar Gore itu.


"" Selamat siang "" Sapa Rion dan Alto bersamaan "


" Ghah !?"


Gar Gore itu hendak kabur tapi Alto dengan sigap menangkap nya dengan cakarnya.


" Tangkapan bagus, ayo kita wawancarai dia di bawah sana "


Meski Rion bilang Wawancara, tapi tidak mungkin mewawancarai Monster yang sepertinya tidak bisa bicara.


Beberapa saat kemudian...


Rion dan Alto duduk di Sofa panjang yang empuk, sedangkan di hadapannya ada Gare Gore yang duduk ketakutan di kursi kayu sederhana.


" Baiklah, kita mulai saja sesi wawancaranya. Pertama-tama boleh saya tau Nama anda ?"


" Gwah gwah "


" Owh, nama yang bagus. Lalu apa pekerjaan anda ?"


" Gwa gwa. Gawat gah gwah, gagaguwa gwa ga guh "


" Hm.. Itu pasti berat. "


" Ghahhh... "


" Apa anda sudah berkeluarga ?"


" Gugah !" Wajah nya terlihat tersipu


" Ow, selamat... Lalu sudah punya momongan ?"


" Gugah gugugawh "


" Kalian pasti keluarga yang harmonis bukan ?" Goda Rion


" Gegege " Monster yang di sanjung itu tersipu lagi dan menggosok kepalanya


" Lalu apa saja yang anda lakukan dalam pekerjaan anda ?"


" Gugaga guguwagu gagagu gugagu guguguwugawuga "


" Sepertinya pekerjaan yang sulit, tapi tetap semangat OK ?!"


" Gugah !!"


" Lalu, di belakang sana adalah Rumah Dari Tuan mu bukan, orang yang seperti apa Tuan mu itu, jika boleh kami tau ?"


" Gagagu gugu gagah gagugu gugah gwa guguguh gagaguguw gugugagaa gagu "


" Hm... Begitu. Saudara Alto, apa anda pertanyaan lain ?"


" Terima kasih atas kesempatannya, hanya satu pertanyaan ku. Bagai mana cara anda buang air  besar ?"


" Guuuu " Monster itu menatap Rion meminta klarifikasi.


" Hee.. Karena itu bersifat Pribadi, maka bisakah kita lupakan saja ?"


" Gaguw " Mahluk yang hanya bisa bilang 'gagu gagu' itu mengangguk dengan cepat


Alto kecewa dengan mata yang mati.


" Sepertinya, sudah semua. Saudara Alto apa anda sudah Mencatat semua hasil wawancara nya ?"


" Tentu saja, semua ada di sini " Alto menyerahkan papan riset dengan beberapa lembaran hasil wawancara mereka barusan.


Rion memeriksa dengan seksama semua lembaran itu.


" Yup, cukup bagus... weey... ini sama sekali tidak berguna " Rion membanting kesal Hasil riset mereka.


Rion sama sekali tidak mengerti sepatah katapun dari Pasien dadakannya. Data dari Alto pun sama sekali tidak membantu.


" Apa apaan ini !!"


Sebuah suara dengan aura memgancam datang dari arah atas mereka.


Rion dan Alto melirik kearah sumber suara itu dan melihat manusia dengan tanduk hitam di dahinya tengah berdiri di udara.


" Alto... "


" Di mengerti "


Beberapa detik kemudian, mereka mendapatkan satu lagi Pasien dadakan mereka dan sesi wawancara kedua dimulai.


" Hee, Boleh kami tau siapa nama anda Tuan ?"


" Apa-apaan ini, lepaskan aku !!"


Pasien kedua yang sangat aktif ini mengguncang guncang kursi yang ia duduki. Tubuhnya di ikat dengan erat sehingga siapapun tidak akan bisa lolos.


Rion adalah Pro.


" Sudah-sudah, duduk tenang saja. Ini kuberi Eskrim Porsi Jumbo " Bujuk Rion sambil mengeluarkan Meja dan menaruh 2 porsi Jumbo Eskrim dengan toping berbagai macam Buah dan potongan Coklat.


Gare Gore tanpa ragu menyantap hidangan yang sudah di suguhkan, karena dia bersikap kooperatif, Rion membebaskan nya dari ikatan.


" Sekarang kembali ke pertanyaan awal, boleh aku tau Nama anda Tuan ?"


" Oy, aku juga mau makan benda ini "


" Ah, maafkan atas kekasaran kami. Saudara Alto ?!"


" Di mengerti !!" Alto melepaskan ikatan Pasien baru mereka, pasien baru mereka pun mulai menyantap Eskrim yang juga di hidangkan untuknya.


Wajahnya saat suapan pertama itu terlihat sangat bahagia.


" Sekarang kita kembali ke awal lagi, Boleh kami tau siapa nama anda Tuan ?"


" Raju. Namaku Raju, wah benda ini dingin dan lezat "


" Terima kasih Tuan. Lalu pertanyaan kedua, Apa pekerjaan anda Tuan ?"


" Letnan, Bawahan salah satu Jendral yang melayani Raja Iblis, sekaligus Penguasa Hutan Angker ini "


" Wow, itu pekerjaan yang menakjubkan !"


" Ya, aku suka pekerjaan ini. Semenjak di pungut oleh Jendral aku sama sekali tidak bisa berpaling darinya. Beliau sudah memberikan ku kesempatan hidup yang lebih baik "


" Aku turut berduka, tapi aku ikut senang dengan perubahan yang beliau berikan kepadamu "


" Terima kasih, woow.... Ini semakin enak apalagi dengan buah segar ini. "


" Lalu. Orang seperti apa Jendral ini, jika boleh aku tau ?"


" Hm... Jika di jelaskan dengan kata-kata, pemalas, suka bangun siang, suka pilih pilih makanan terutama sayur, kamarnya selalu berantakan, selalu lalai dengan tugas yang di berikan, namun disaat beliau sedang dalam Mode serius, Pahlawan sekalipun akan di buat lari terbirit-birit. Intinya beliau adalah orang yang Menakjubkan. "


" Hooo, aku baru dengar ada pahlawan juga disini "


" Mereka hanya tumbal yang disiapkan oleh Kekaisaran karena dunia sedang damai, mereka hanya sensasi sesaat para bangsawan untuk mendapatkan uang, ah... apa namanya, hm.... ah benar, Sumbangan "


" Wah, itu sangat tidak bermoral "


" Minggu kemarin saja mereka secara terang-terangan mencoba masuk ke hutan ini dengan seratus Ksatria "


" Eh ?!, sebanyak itu ?"


" Ya, tapi kami berhasil ******* mereka "


" Turut berduka cita, lalu yang terakhir.. "


" Raju. Bawa orang itu ke istana "


Disaat Rion hendak mempertanyakan pertanyaan terakhirnya, di langit mereka bisa mendengar sebuah Suara yang mengundang mereka.


Rion yang tidak memikirkan kemungkinan ini datang, hanya tertawa kering dengan keringat turun di dahinya.


Sedangkan Raju dan Gare Gore, mereka diam ketakutan dengan pose sendok masih di mulut mereka.