7 SLEEPER

7 SLEEPER
Keseharian 2 Orang Bodoh



Sudah hampir 2 Minggu Rion dan kawan kawannya datang ke dunia ini.


Tujuan awalnya yang ingin melindungi teman masa kecilnya dari organisasi yang menargetkan temannya, sempat tertunda selama insiden sebelumnya.


Selama kurun waktu 2 minggu itu juga, Rion tidak bermalas-malasan. Berbagai kalangan sudah ia tanyai. Namun informasi tentang organisasi penculik itu sama sekali tidak ia dapatkan.


Setiap kali ia menanyakan pertanyaan yang sama, reaksi yang ia dapatkan selalu sama.


Mereka tertawa. Bukan mengejek hanya saja mereka merasa tidak mungkin.


Memang benar, itu memang mustahil. Rion tau hal itu, namun tetap saja itu mengganggu nya.


Informasi yang ia Terima terlalu sedikit, jauh dari kata lumayan.


Bahkan nyaris hampir tidak ada sama sekali.


Satu-satunya informasi yang bisa ia tangkap adalah, Seekor Goblin dan Minotaurus pada hari upacara penerimaan.


Itu saja, Tidak lebih. Ia pikir setelah jauh jauh datang ke sini pasti akan mendapat satu atau dua petunjuk. Tetapi pikiran kolotnya itu membawanya ke jurang kebuntuan.


Rion hanya mampu menghela nafas panjang.


" Huh... "


" Bisakah kau tidak melakukan itu setiap datang kemari "


Benar, ini sudah ketiga kalinya Rion melakukannya di depan Konoha.


" Kau benar-benar merusak rasa dari Kue-kue ini."


" Hahaha, maafkan aku. Aku tidak melihat mu di sana "


" Dengar Rion-San, ini adalah kamarku, aku mengizinkan mu masuk adalah karna kau membawa makanan enak untuk ku, tetapi jika kau sendiri yang menghalangi ku untuk memakannya, lebih baik dari awal aku tidak mengizinkan mu masuk."


Konoha sedikit menahan rasa jengkel nya. Urat-urat di dahinya juga sudah menonjol. Disaat Rion menyadari hal itu dirinya hanya tersenyum kecut, seakan meremehkan Konoha yang kata-katanya tidak senada dengan tindakannya.


" Lagipula mengapa harus di kamarku, apa yang kau inginkan dari ku. Atau jangan-jangan, kau mengincar tubuhku ?!! " 


Konoha memeluk tubuhnya sendiri dan mundur menjauh dari Rion.


" Ada krim di pipimu " Balas Rion datar.


Konoha yang masih memasang sikap waspada, lebih memilih duduk sedikit menjauh dan menarik semua makanan ke dekatnya.


Rion tidak terganggu dengan sikap Konoha, karena sudah sewajarnya seorang putri bangsawan menjaga diri dari pria asing ketika di dalam kamar, meski disini mereka tidak hanya berdua.


" Kamar ini.. " Rion menahan kalimatnya, ia tampak memejamkan matanya sejenak merasakan angin lembut yang membelai rambutnya yang sudah mulai panjang.


" Mengingatkanku dengan Rumah " Lanjutnya


" ..... "


" Kamar ini, serta semua koleksi mu dan tatanannya hingga tatami ini, semuanya. "


" Hee~~ begitukah ?" Dengan cuek Konoha hanya menanggapinya jauh dari kata setengah hati, karena sepenuh hatinya kini tertuju pada cemilan lezat dihadapannya.


" Hey, Konoha chan. Jika aku bilang aku datang ke negeri ini hanya untuk menyelamatkan seorang teman semasa kecil dari organisasi jahat, apa kau percaya ?"


Konoha yang awalnya mengabaikan Rion, sedikit tertarik dengan yang terakhir. Sendok yang tadi nya aktif itu terhenti di tengah jalan.


Dari raut wajah Rion yang tampak kesepian itu, Konoha dapat menyimpulkan bahwa saat ini pemuda di hadapannya sedang mengalami kebuntuan.


Sebenarnya Konoha bisa saja mengabaikannya seperti biasa, namun setelah melihat raut wajah yang putus asa itu, selera makannya jadi terganggu.


" Huh... "


Rion mendengar keluhan Konoha, dirinya sedikit bersalah sudah merusak acara makan makannya.


Rion juga melihat Konoha bangkit dari kotatsu dan pergi meninggalkan makanannya. Rion semakin merasa bersalah, apa dia di benci ?


Tetapi pikirannya itu terpatahkan ketika ternyata Konoha tidak pergi keluar, melainkan sedang mencari sesuatu di lemari geser nya, tidak lama kemudian Gadis itu datang dengan membawa sebuah kotak hitam panjang berkilau dengan banyak segel yang menempel.


Rion merasa tidak asing dengan kotak tersebut. Juga dengan segel tersebut. Dan ketika kotak itu di taruh di sisi meja yang dekat dengan dirinya, Rion sadar bahwa kotak itu benar-benar mirip seperti yang pernah ia lihat di gudang Rumah utama.


Meski dirinya tidak tau apa kotak ini dan itu mempunyai keterikatan atau hanya sekedar mirip saja.


Rion mendekati kotak itu, meraba dan mencari kunci rahasia ataupun kombinasi yang siapa tau benar-benar ada.


Namun mau itu kombinasi angka maupun pasak tersembunyi tidak dapat di temukan.


Harapannya dengan kotak rahasia mekanisme Ninja pupus saat itu juga, tampak di wajah kecewanya.


" Konoha chan, ini bukan kotak Ninja. Samasekali tidak keren"


" Memangnya apa yang kau harapkan "


" Kotak Ninja "


" Ko.. Kotak Ninja ?, aku dari dulu penasaran mengapa kau terlalu terobsesi dengan Ninja ?"


"Karna Ninja itu keren, mereka mampu menyelinap tanpa di ketahui musuh, bersembunyi didalam bayangan, atau berkamuflase dengan dinding, berjalan di atas air, menghilang di kepulan asap, tubuh pengganti, jurus bayangan, lemparan Suriken, Kunai, juga Ninjutsu, Taijutsu, Jujustu. Juga.."


" Cukup!!"


Konoha terpaksa menghentikan ocehan Rion sebelum lebih jauh lagi, jika ia terus mendengarnya  itu tidak akan ada habisnya.


" Aku tidak tau lagi, sebenarnya kau ini terobsesi atau seorang maniak "


" Aku lebih memilih menjadi Shinobi ketimbang di Panggil Maniak "


" Dengar, menjadi seorang... Eh?, kau bahkan tau tentang Shinobi." Konoha memijit kecil keningnya yang sedikit berdenyut.


" Dengar, dunia Shinobi itu keras. Meski fisik mu mumpuni namun jika mentalmu tidak, itu akan menjadi kuburan mu sendiri. Bahkan aku yang sudah sedari kecil menyelami dunia gelap ini saja merasa dunia kami terlalu gelap untuk orang awam yang hanya mengetahui dari kehebatannya saja, mereka tidak tau proses yang kami lalui sebelumnya, kau pasti juga tidak tau sudah berapa banyak teman-temanku yang kehilangan nyawa untuk bisa sampai kepuncak, kau pasti juga tidak tau sudah berapa nyawa yang melayang dengan tangan ini."


Konoha memasang wajah dingin, sorot matanya seakan menyibak pengalaman kelam yang dialaminya. Raut wajahnya yang manis tidak lagi terlihat. Bahkan aura riang dan menyenangkan yang terus ia keluarkan tidak ada lagi. Hanya atmosfir sesak yang mengisi ruangan.


Rion terkejut dengan perubahan drastis yang di buat Konoha. Tidak ia sangka gadis lugu yang ia kenal ternyata mampu menekan dirinya sejauh ini.


Tanpa merusak suasana, Rion menerima sambutan hangat itu.


Rion dengan skala yang hampir sama juga mengeluarkan aura yang mirip dengan yang di keluarkan Konoha.


Itu adalah aura yang biasa ia keluarkan ketika bekerja sebagai petinggi Klan di lapangan. Juga aura ketika mengintimidasi musuh yang sekiranya lebih banyak dari anggota yang ia bawa.


" Aku tidak terkejut lagi kau bisa bertahan sejauh ini, Rion-san."


" Jangan remehkan aku, aku bukanlah anak manja yang hanya tau mengunakan status Orangtuanya."


" Yah, semenjak pertama kali bertemu aku bisa tau. Aku yang paling ahli bersembunyi dan menyamarkan keberadaan bisa kau temukan dengan mudah "


" Ya, insting. Aku lebih mempercayai insting. Karna aku di besarkan dengan insting"


***


Sedikit info : di saat pembicaraan ini berlangsung, mereka berdua perlahan menambahkan tenaga di aura yang mereka pancarkan, tekanan itu semakin kuat dan saling beradu, tanpa mereka sadari itu berdampak pada sekitar.


Hanya segelintir orang yang mampu merasakan.


***


Tekanan yang mereka keluarkan saling beradu, membuat maid yang menemani mereka dari awal hampir pingsan di tempat. Beruntung mereka berdua sadar akan hal itu dan menelan kembali aura mengancam mereka.


Beberapa maid ada yang tumbang ketika bekerja, dan itu membuat heboh seluruh pekerja di kediaman.


Dan pastinya mereka berdua sudah diceramahi dengan benar, dan tidak mendapatkan jatah makan siang.


Hingga waktu makan malam nanti tiba, mereka harus di hukum dengan Seiza di depan gerbang.


Paha mereka di beri beban dan mereka juga dikalungi sebuah papan, bertuliskan " JANGAN DI BERI MAKAN" Dengan kapital Huruf dunia ini.


Banyak orang sekitar yang menonton mereka, ada yang datang karena penasaran, ada yang lewat dan terhenti, ada yang sengaja datang untuk menonton. Bahkan ada yang datang dan sengaja menggoda mereka dengan seruan semangat, aroma makanan, bahkan sorakan nakal.


Dan itu juga sedikit hiburan dikalangan rakyat untuk melihat Nona mereka yang usil di hukum.


Seperti yang terlihat mereka semua mencintai keluarga ini. Dan keluarga ini juga mencintai rakyatnya. Dari sini saja dapat terlihat jika keadilan itu juga memasuki rumah sang penguasa.


" Aku lapar...  "


" Setelah banyak makan kue kau masih menyebut dirimu lapar?"


" Ini dan itu berbeda. Lagipula seorang wanita mempunyai dua perut. Satu untuk cemilan satu untuk makanan"


" Uaaa, lihat siapa yang bicara "


" Apa!!?" Konoha memelototi Rion untuk menyembunyikan rasa malunya.


" Tidak " Rion menghindari perkelahian dan kembali berkonsentrasi.


Lama mereka menunggu di bawah terik matahari, baju yang mereka kenakan mulai basah karena keringat, dan membuat itu tidak nyaman.


Mereka sadar jika ini adalah hukuman, namun tetap saja, di jemur di bawah terik matahari terlalu berat untuk mereka berdua terlebih lagi ini masih tengah hari.


Godaan dari penonton semakin memanas mengalahkan terik matahari. Mereka yang berteduh dengan nikmat menikmati minuman dingin yang baru-baru ini di luncurkan.


" Meski itu ide ku, aku tidak berfikir itu akan di gunakan untuk melawan ku. Apakah ini yang di sebut, senjata makan tuan?"


" Aku tidak percaya jika itu juga datang dari dirimu, Rion-San."


" Kau mau?, aku masih punya beberapa liter lagi di penyimpanan ku."


" Penyimpanan ?"


Menghindari pertanyaan membosankan yang akan datang lagi, Rion langsung mengeluarkannya, beserta meja kecil dan dua gelas Minuman ber karbonat lengkap dengan es batu dan hiasan payung kecil lucu dan pipet lucu berwarna.


Terlihat jauh lebih mewah ketimbang hanya botol kaca seperti yang digunakan penonton di sana sebagai ajang memanas-manasi.


Wajah mereka tampak terkejut melebihi kekecewaan.


Namun dua orang yang sedang di hukum tidak melihat wajah mereka. Mereka berdua hanya terfokus dengan minuman di tangan mereka. Dan sesekali membahas hal lain yang tidak berkaitan dengan hukuman.


Penonton yang di bayar untuk memanas-manasi mereka, kalah telak saat itu juga. Bahkan instruktur   untuk itu sudah kehabisan akal setiap kali Rion mengeluarkan baik itu makanan atau pun minuman yang jauh lebih mewah dari yang ia keluarkan.


Tak lama waktu menjelang makan malam. Tuan Alberd datang menjemput mereka. Dan alangkah terkejutnya dia ketika mendapati mereka berdua tengah asik menyantap minuman hangat.


Dirinya dan pengawal di belakangnya hanya mampu menggelengkan kepala.


" Sepertinya menghukum mereka bukan lagi mendapatkan efek jera, namun mereka berdua semakin dekat. Aku tidak tau apa ini akan menjadi bendera kematian atau tidak "


Tidak ada yang tau arti dari gumaman Tuan Alberd, bahkan pengawal setianya sekalipun.


Tuan Alberd yang menyerah dengan sikap tidak jera mereka terpaksa melepas hukuman sedikit lebih awal.


Akan percuma saja jika ini di teruskan. Tidak akan ada yang berubah.


Penonton yang sudah menyempatkan diri untuk datang pun satu persatu pamit undur diri.


Meski sedikit mengecewakan tetapi mereka menikmati tontonan yang menarik. Terlebih Rion juga sedikit membagikan makanan pada beberapa orang karena keterbatasan stock.


Para prajurit mulai membantu membereskan peralatan, sedangkan Rion dan Konoha sedang kesemutan dan bersandar ke dinding pagar.


Dari kejauhan mereka berdua menyadari jika sedang di intip.


Rion memanggil orang itu yang ternyata adalah adik kecil yang tadi sempat dapat sedikit kue.


Tapi dia kini tidak datang sendirian. Ada gadis kecil yang lebih kecil bersembunyi dibelakangnya.


"Uoo~~ siapa gadis lucu ini?" Goda Rion yang memiringkan tubuhnya dengan cara lucu untuk mencoba mengintip wajah nya yang bersembunyi di balik tubuh kakaknya.


Gadis itu dengan malu-malu kembali semakin berusaha menutupi wajahnya dengan membenamkan wajahnya pada baju kakaknya.


" Ano, sebenarnya. Adik perempuan saya sangat tertarik dengan manisan yang Anda berikan tadi siang"


" Manisan ?"


" Ya, yang lembut, putih, manis dan dingin "


" Maksudmu ice cream?"


Rion mengeluarkan sekotak kecil eskrim sisa. Tidak banyak namun cukup untuk beberapa gelas kecil.


" Ais klim " Gadis yang bersembunyi tadi melompat keluar, ketika mendengar ice krim. Sorot matanya tertuju pada kotak di tangan Rion.


Rion senang melihat wajah ceria anak-anak. Baginya senyuman mereka jauh lebih menenangkan dari pada yang lain.


Terkadang sikap ini juga sering di salah artikan oleh orang lain dengan sesuatu yang pandangan ekstrem.


" Rion San, tolong jual itu padaku, aku akan membayarnya. Kumohon "


Pria kecil itu memohon dengan sungguh, di telapak tangannya ada beberapa koin tembaga kecil dan besar. Dan beberapa permen yang tadi di bagikan.


Pria kecil itu menunggu dengan cemas. Apakah dia sudah lancang ? Tetapi mengingat pribadi Rion tadi siang. Setidaknya Dia berfikir Rion akan luluh jika dia memohon dengan sungguh.


" Maaf ini tidak di jual. "


Betapa ibanya pria kecil itu ketika mendengar jawaban Rion. Dia tidak mampu mengangkat wajahnya. Air matanya mulai jatuh menetes ke tanah. Sang adik yang menyadari kakaknya bersedih, ikut merasakan sedih.


Adik kecil itu meremas ujung baju kakaknya, dia juga membenamkan wajahnya di perut kakaknya.


" Tu.. Tunggu dulu.. " Rion panik karena candaannya tidak sampai ke mereka berdua.


" Uah, Rion San. kau sudah membuat anak kecil menangis. Dewa pasti akan menurunkan hukuman berat padamu."


" T.. Ti.. tidak perlu bantuan mu " Rion jengkel dengan komporan Dari Konoha.


" Sudah sudah, jangan menangis. Aku bilang ini tidak di jual karena aku membuat nya memang bukan untuk di jual. Aku membuatnya untuk di nikmati bersama. Simpan kembali uang mu, dan bisa tolong ini sebentar ?"


Rion menunjuk ke perut pria kecil itu, ternyata sudah ada adik perempuannya yang terisak disana tanpa ia sadari.


Selagi pria kecil itu tengah membujuk dan menenangkan adiknya, Rion sudah selesai dengan urusannya, menyalin ice cream ke dalam gelas plastik dengan sedikit hiasan dan toping.


Cukup untuk 3 gelas. Tidak banyak perporsi tapi lumayan untuk penghabisan.


Wajah kakak beradik itu langsung ceria dan mereka berdua tidak lupa berterima kasih pada Rion. Bahkan Rion yang tersipu juga mendapatkan kecupan ringan di pipi dari sang adik.


Rion mengantar kepergian kakak adik itu dengan lambaian.


" Mereka keluarga yang bahagia kan ?" Sahut Konoha dari samping.


" Yup, hanya dengan sebuah senyuman semua rasa lelah akibat aktifitas seharian akan lenyap seperti debu"


" Dan lagi.. "


" Dan lagi apa ?"


" Dan lagi, seperti nya Rion San sangat pandai berurusan dengan anak kecil... "


Rion terpesona dengan senyuman Konoha di belakang matahari saat itu. Konoha yang pada dasarnya memang manis itu saat ini terlihat lebih menawan dengan gaya dan lekuk tubuh yang tak kalah menawan.


Apa itu karena efek ?, ya pasti karena efek. Rion berusaha kembali tenang. Hatinya hanya untuk Risu seorang.


Dan begitulah keseharian Rion dan Konoha hari ini. Sampai makan malam tiba mereka bersiap dan membersihkan diri mereka. Bergantian yang pastinya.


Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota. Di tengah hutan yang mulai gelap, sesosok mahluk berbulu raksasa terbangun dari hibernasi nya. Di kedalaman goa yang gelap sepasang mata merah menyala terlihat oleh mahluk kecil penghuni hutan lainnya.


Ajaibnya mahluk kecil itu sama sekali tidak takut dengan dirinya, bahkan mahluk kecil itu datang menghampiri dengan sukarela, seakan-akan dirinya sama sekali tidak terancam.


Meski mahluk hutan tidak takut padanya, namun bagi mahluk lain terutama manusia hanya dengan melihat sosoknya mereka bisa tau bahwa mahluk besar ini bukan tandingan mereka, setinggi apapun rank mereka di guild.


Tepat menjelang matahari akan benar-benar terbenam. Auman mahluk itu mengegerkan seisi hutan sejauh suaranya terdengar.


Membangunkan satu persatu penguasa malam yang lain, menandakan mereka tidak punya kekuatan untuk macam-macam di wilayah nya.