
Aku memutar balik sepedaku kearah yang berlawanan dari arah jalan ke Rumahku. Beberapa Orang yang mengejar Laki-laki itu sudah hampir mendekati Kami.
"Ayo, naik!" titahku.
Lantas, Ia pun segera duduk dibangku belakang Sepedaku, lalu Ia memelukku dengan kencang. Untunglah, jalan yang Kami lewati adalah jalan menurun. Aku tidak perlu bersusah payah mengayuh sepeda untuk kabur dari kejaran Mereka.
Kami tiba di sebuah pemukiman yang cukup ramai. Aku memilih masuk ke sebuah Gang kecil yang sekiranya tidak bisa ditemukan oleh Mereka. Aku berusaha dengan cermat bersembunyi dari kejaran Mereka.
Nafas Kami tersengal-sengal dan saling beradu. Betapa tidak, Aku baru menyadari kalau Aku berada dalam pelukan Laki-laki itu. Rupanya, Kami bersembunyi di lorong buntu yang begitu sempit.
"Sudah aman!" ujarnya sambil melihat sekeliling.
Aku merasa Jantungku berdegup kencang. Begitu pula dengannya, Aku bisa mendengar detak Jantungnya yang berdebar-debar. Aku dan Dia saling bertatapan. Cukup lama Kami saling menatap, hingga akhirnya Kami membuang muka karena merasa sangat malu.
Aku menggeser sedikit tubuhku dan hendak keluar dari lorong sempit itu.
"Tunggu!" Laki-laki itu mencoba menahanku.
"Ya, ada apa?"
"Biar Saya yang keluar lebih dulu. Saya khawatir jika Mereka masih ada disekitar sini."
"Baiklah."
Laki-laki itu keluar lebih dulu, dan memastikan apakah situasi sudah aman. Sudah dipastikan semua aman, Ia memberi isyarat padaku untuk keluar.
"Hah! Akhirnya. Siapa Mereka?"
"Entahlah! Tiba-tiba saja Aku dihadang oleh Mereka saat sedang jalan. Mereka membawa senjata dan terdiri dari 5 orang. Jika hanya Aku sendiri yang melawan, Aku mugnkin tidak sanggup, ditambah lagi kalau Mereka semua memiliki senjata. Jadi, lebih baik Aku pilih lari saja."
"Bukankah itu curang, ya? Coba diingat, apakah Kamu punya musuh?"
"Sepertinya tidak. Aku tidak pernah berkelahi dengan siapapun. Tapi, kalau yang iri sama Aku? Ah, entahlah!"
"Hmm— begitu. Oh ya, apakah Kamu Atlet Baseball?"
"Ya, begitulah."
"Tunggu! Coba buka topimu! Sepertinya dahimu berdarah."
Laki-laki itupun membuka topinya. Baru kusadari, ternyata— wajahnya sama persis dengan Laki-laki yang berada dalam mimpiku tadi. Ya Tuhan! Apa Aku sedang bermimpi lagi? Kucubit tanganku, tapi terasa sakit. Ini nyata!
Ah, tidak! Jantungku! Kenapa semakin berdebar kencang? Laki-laki ini, Dia sangat tampan! Apakah Aku jatuh cinta pada pandangan pertama?
"Dahimu berdarah. Biar kubantu obati lukamu!"
"Tidak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri. Aku pamit dulu. Terima kasih atas pertolongannya!"
Laki-laki itu beranjak pergi tanpa melihat kearahku. Menyebalkan! Baru kali ini Aku bertemu dengan Seseorang seperti Dia. Kutarik kembali ucapanku yang mengatakan kalau Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya!
Hah! Ya sudah, lebih baik Aku pulang saja. Aku tidak ingin Tante Aiko merasa khawatir karena Aku pulang terlalu Sore.
Sesuai dugaanku, saat tiba dirumah, Tante Aiko menungguku dengan penuh kekhawatiran. Tante Aiko begitu panik ketika melihat penampilanku. Mulai dari rambut hingga baju seragam yang kupakai terlihat berantakan.
"Yumiko! Ya Tuhan! Dari mana saja Kamu? Bagiamana bisa seperti ini?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Tante Aiko membuatku sedikit kesulitan untuk menjawabnya. Demi mencari aman, Aku jawab sekenanya.
"Tidak apa-apa, Tante Aiko. Barusan Yumiko jatuh dari sepeda."
"Ada yang luka?" Tante Aiko memeriksa tangan dan kakiku.
"Tidak ada, Tante."
"Baiklah, Kamu bersih-bersih dulu. Setelah itu, Kamu istirahat, ya!"
"Iya."
Hah! Lelah sekali. Semua terjadi begitu cepat. Siapa Laki-laki itu? Kenapa Dia bisa muncul di mimpiku? Dan yang membuatku takjub, kenapa bisa Laki-laki yang ada dalam mimpiku bisa muncul di Dunia nyata? Sungguh Misterius.
Ya sudah, Aku tidak ingin terlalu lama larut dalam anganku sendiri. Mungkin saja Kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Keesokan harinya...
"Yumiko!" Yui mengagetkanku.
"Ah, Yui."
"Entahlah, Aku kurang enak badan. Kalau Kamu mau ke Kantin, pergi saja. Aku mau di Kelas."
"Yumiko, ayolah! Temani Aku ke Kantin. Kalau Kamu kurang enak badan, Kamu seharusnya banyak makan. Maka dari itu, Ayo!"
Seperti biasa, Yui menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut bersamanya. Di tengah perjalanan menuju Kantin, Kami bertemu dengan Seika dan Teman-temannya.
"Hei, Para Perempuan j**a*g!" ujar Seika.
Suara Seika terdengar oleh Para Siswa dan Siswi yang kebetulan sedang berada di sekitar Kami. Lagi-lagi, Mereka hanya bisa saling berbisik membicarakan Kami. Aku berusaha mengontrol emosiku. Kulihat kearah Yui, Ia terus menundukkan kepalanya. Terkadang Aku merasa heran padanya. Apa yang sebenarnya Ia takutkan dari Seika dan Teman-temannya?
Kudengar, Ayah Yui adalah Seorang Pengusaha Sukses dan Kaya Raya. Setidaknya, Dia masih memiliki kekuatan untuk melawan Seika. Tapi, justru malah sebaliknya.
"Hmm— satu menggoda Laki-laki di Lapangan Basket. Dan, yang satu lagi menggoda Laki-laki saat di Perpustakaan. Sungguh memalukan! Tidak punya harga diri!" imbuhnya.
"Apa mau mu?" tanyaku.
"Mau ku? Aku ingin Kalian berdua enyah dari sini!"
"Terus? Kalau Kami enggak mau, kenapa? Ada masalah?"
"Hei, Perempuan gatal! Kalian masih belum sadar juga. Kalian itu sudah mengabaikan peringatanku."
"Mengabaikan peringatan? Yang mana, ya?"
"Enggak usah pura-pura lupa. Kalian berdua itu memang dasarnya Perempuan penggoda. Yang satu menggoda Laki-laki di Lapangan Basket, dan yang satu lagi menggoda Laki-laki di Perpustakaan."
"Ya ampun! Seika, Seika! Aku heran ya sama Kamu. Sebegitu besarnya ya rasa iri Kamu sama Kita berdua?Yang seharusnya dinobatkan sebagai Perempuan Penggoda itu siapa? Bukankah Kamu yang lebih pantas? Lagipula, Kamu itu terlalu percaya diri juga ya kalau Hiro atau Akira, atau mungkin keduanya bakal memilih Kamu? Kasihan! Mimpimu terlalu ketinggian. Kamu pikir, Dunia itu hanya berputar di sekeliling Kamu? Tentu tidak!"
"Kamu! Berani kurang ajar, ya!"
"Jelas saja Aku berani. Usia Kamu enggak lebih tua dari Aku. Tapi, wajahmu aja yang kelihatan lebih tua dari umurnya. Jadi, wajar saja mungkin Kamu bilang Aku kurang ajar. Soalnya, Aku terlihat jauh lebih muda."
Para Siswa dan Siswi yang mendengar celotehanku berusaha menahan tawa. Aku yakin, diam-diam sebenarnya Mereka memihakku.
"Kamu!" Seika hendak menamparku lagi. Tapi, niat itu Ia urungkan ketika tatapan matanya melihat sesuatu dibelakangku.
"Ada apa ini?"
Aku membalikkan kepalaku. Ternyata, suara itu adalah suara Hiro. Pantas saja, sejak tadi Yui mencubit lenganku. Rupanya, dari tadi Ia bersikap salah tingkah ketika Hiro mendatangi Kami.
Selain Yui, Seika pun ikut salah tingkah. Ia berusaha menjaga sikapnya agar terlihat baik oleh Hiro.
"Oh, Hiro-kun!" sapa Seika.
"Kenapa semua berkumpul disini? Menghalangi jalanku saja. Bubar semua!"
Masih dengan sikap dinginnya. Ia mengusir Kami yang sedang berdiri di tengah koridor. Memang benar, Kami sudah menghalangi jalan Siswa dan Siswi yang lain. Tapi, setidaknya kali ini aman kembali. Karena, secara tidak langsung, Hiro sudah membantu menghentikan Kami, agar tidak terjadi keributan seperti sebelumnya.
Sudah pukul 16.15 Sore, Para Siswa dan Siswi bubar Sekolah. Aku dan Yui berjalan bersama hingga ke tempat parkiran Sepeda.
Rumah Kami berlawanan arah. Maka dari itu, Kami berpisah di tempat parkiran Sepeda.
"Yui, mana Sepedamu?"
"Tadi pagi, Ban Sepedaku bocor. Berhubung takut terlambat, Aku meminta Kakakku untuk mengantarkanku ke Sekolah. Jadi, Aku akan menunggu Kakakku datang menjemput."
"Begitu, ya! Aku akan tunggu Kamu saja. Setelah Kakakmu jemput, Aku juga akan segera pulang."
"Eh, tidak perlu. Kamu pulang duluan saja. Aku takut kalau Kakakku terlambat datang."
"Enggak masalah. Kamu enggak perlu khawatir. Sambil menunggu, bagaimana kalau Kita jalan ke depan Gerbang."
"Baiklah! Oh ya, Yumiko! Kenapa Kamu baik sekali padaku? Kamu selalu membela dan membantuku setiap kali Seika dan Teman-temannya menggangguku."
"Yui, terkadang Kita bertindak impulsif saat membantu Orang lain. Bagiku, karena Kamu adalah Teman Baikku, maka Aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu. Aku bisa merasakan kalau Kamu begitu tulus berteman denganku."
"Yumiko! Aku pun sama, baru kali ini mengenal seseorang yang sangat tulus kepadaku. Kamu selalu membelaku. Aku sayang Yumiko!" Yui memeluk erat tubuhku, dan Aku pun tersenyum melihat tingkah lakunya yang menggemaskan.
Tin-tin-tin! Bunyi klakson motor. Sebuah Motor Sport berhenti tepat dihadapan Kami.
"Yumiko! Aku pulang dulu, ya! Kakakku sudah datang."
"Iya, hati-hati di jalan, Yui!"
Sepertinya, Aku merasa familiar saat melihat Kakak dari Yui. Meskipun Ia memakai Helm full face, tetap saja terlihat dari tatapan matanya kalau Ia seakan mengenaliku. Ah, entahlah! Mungkin hanya perasaanku saja.