YUMIKO

YUMIKO
LIBURAN MUSIM DINGIN



Akhirnya, Aku bisa merasakan Musim Dingin sekaligus Salju Pertama yang sangat indah disini. Saat masih di Indonesia, untuk sekedar pergi ke Arena bermain dengan Fasilitas Salju saja tidak sanggup, apalagi berangan-angan untuk bisa ke Negara yang memiliki empat musim.


Rasanya bagaikan mimpi. Saat ini, Sekolahku sedang libur musim dingin, pada akhir tahun hingga Minggu awal bulan Februari. Ayah dan Ibu mengajakku berlibur ke Resort Ski di Gunung Fuji. Sekalian juga mengajak Keluarga Bibi Emiko untuk ikut berlibur bersama Kami. Jika memang Keluarga Bibi Emiko ikut, itu berarti Hiro juga ikut bersama Kami.


Terdengar suara Klakson mobil dari luar Rumah, disusul suara Bibi Emiko memanggil Kami untuk segera bergegas keluar. Aku, Ayah dan Ibu akan ikut bersama di Mobil Bibi Emiko. Karena kebetulan Mobil Bibi Emiko adalah tipe SUV. Jadi masih cukup untuk mengangkut Kami bertiga.


Ayah dan Paman Toshio duduk di depan, Ibu dan Bibi Emiko di kursi penumpang bagian tengah, sedangkan Aku dan Hiro duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Suasana terasa sangat canggung, namun hal itu hanya berlaku untukku dan juga Hiro. Dari awal Aku duduk bersamanya, Ia sudah bersikap acuh padaku. Bahkan sama sekali tidak menyapaku, meskipun Bibi Emiko memintanya untuk mengajakku bicara. Hiro sibuk mendengarkan lagu dari Headset yang Ia kenakan. Pandangannya hanya tertuju kearah luar Jendela.


Hah! Sepertinya perjalanan kali ini terasa sangat membosankan. Ayah, Ibu, Paman Toshio dan Bibi Emiko, Mereka berempat asyik mengobrol sembari bersenda gurau. Sungguh membosankan!


"Hiro, ajak Yumiko mengobrol! Jangan saling acuh!" cetus Bibi Emiko.


"Ya," Hiro menjawab singkat. Namun pada akhirnya, Ia sama sekali tidak mengajakku bicara.


Aku ingin sekali bertanya tentang Yui. Apakah Mereka ada hubungan spesial atau tidak? Tapi, Aku urungkan niatku. Pasti Hiro tidak akan menjawab pertanyaanku. Daripada Aku merasa kecewa nantinya, lebih baik Aku diam saja dan menikmati perjalanan yang cukup panjang. Jarak dari Tokyo ke Resort Ski Gunung Fuji sekitar 122 Km dan memakan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit.


"Yumiko!" Bibi Emiko memanggilku.


"Ya, Bibi Emiko. Ada apa?"


"Bagaimana Hiro di Sekolah? Apakah Ia nakal?"


"Ah, tidak. Justru Hiro pendiam. Hiro adalah Kapten Tim Basket di Sekolah."


"Oh ya? Hiro Kapten Tim Basket? Saya kira Dia hanya sekedar ikut Basket saja, sebagai Anggota, bukan sebagai Kapten Tim. Lalu, apakah Hiro sudah punya Pacar di Sekolah?"


"A-Ah, itu—"


"Tidak. Aku tidak punya pacar di Sekolah!" Hiro langsung menyambar.


Hiro melirik kearahku. Dari tatapan matanya, seolah menyiratkan kalau Aku harus merahasiakan kedekatannya dengan Yui.


"Benarkah itu, Yumiko?" tanya Bibi Emiko.


"Entahlah! Aku kurang tahu. Tapi, Aku memang lebih sering melihat Hiro sendiri."


"Oh, begitu. Kalau Perempuan yang suka padanya, apakah ada?"


"Kalau itu, Aku juga kurang tahu."


"Hmm—" Bibi Emiko seakan kecewa mendengar jawaban dariku.


Jelas saja banyak yang suka pada Hiro, termasuk Yui dan Seika. Hanya saja, Aku tidak berani buka suara. Tatapan Hiro barusan seperti seekor Singa yang hendak menerkam mangsanya.


Sepertinya sudah tidak akan ada lagi yang berbicara padaku. Lebih baik Aku tidur saja. Kebetulan jam tidurku agak kurang. Mataku sudah sangat lelah dan ingin sekali kupejamkan. Tak terasa, Aku sudah berada di alam bawah sadarku.


Kubuka mataku secara perlahan. Sepertinya sudah cukup lama Aku tertidur. Suasana dalam Mobil begitu hening. Mungkin Ibu dan Bibi Emiko ikut tertidur juga. Hanya saja, badanku terasa sangat kaku. Aku ingin mengangkat tubuh ini, tapi tidak bisa. Karena apa? Karena kepalaku berada di pangkuan Hiro.


Bodoh! Kenapa Aku bisa tertidur dipangkuannya? Ya Tuhan, semoga Hiro juga sedang tidur! Jadi Aku bisa perlahan bangun dari pangkuannya. Tunggu! Sepertinya Aku mendengar hembusan nafasnya. Hembusan nafas seseorang yang sedang tertidur. Baguslah, Aku bisa dengan leluasa bangun.


Baiklah, perlahan tapi pasti, Aku mengangkat tubuhku sedikit demi sedikit agar tidak membangunkannya. Akhirnya, Aku bisa duduk dengan tegak dan menoleh kearah Hiro. Astaga! Jantungku rasanya ingin copot. Ternyata Hiro tidak tidur. Bagaimana ini? Aku jadi salah tingkah dan segera menggeser tubuh. Untung saja Ibu dan Bibi Emiko sedang tertidur. Jadi, Mereka tidak mengetahui tingkah bodohku di belakang.


"Lain kali, kalau tidur itu harap sadar diri! Jangan sampai merepotkan Orang Lain."


"Ma-maaf. Aku tidak sadar kalau ternyata bisa tertidur di—"


"Sekali lagi, Maaf!" ujarku penuh penyesalan.


"Hiro, ada apa?" tanya Paman Toshio.


"Tidak ada apa-apa, Ayah."


Akhirnya Kami tiba di Resort. Perjalanan panjang dan sangat melelahkan membuat seluruh tubuhku terasa kaku karena terlalu lama duduk di Mobil. Ketika Aku turun dari Mobil, Aku meregangkan kembali otot-otot tubuhku dengan berolahraga kecil.


"Yumiko, bagaimana? Kamu senang bisa kesini?" tanya Ibu.


"Tentu saja, Bu. Aku sangat senang sekali. Ini adalah pertama kalinya Aku merasakan Musim Dingin."


Ayah, Ibu, Bibi Emiko dan Paman Toshio tersenyum melihatku bahagia. Namun, lain hal dengan Hiro, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Ah! Biarkan saja. Yang penting Aku bisa menikmati liburan musim dinginku.


Ibu mengajarkan Aku bermain Ski. Ternyata, Ibu sangat hebat bermain Ski. Gerakannya sangat lincah. Aku sangat kagum melihat kemampuan Ibu bermain Ski. Ibu mencoba mengajariku dari tahap awal, dimulai dari turunan yang tidak terlalu curam. Aku masih sangat kaku dan selalu gemetar. Tapi, Ibu dengan sabar mengajariku hingga Aku mulai bisa menguasainya sedikit demi sedikit. Kami semua tertawa bersama menikmati kebahagiaan Kami. Tapi, Hiro tetap asyik dengan Dunianya. Ia lebih memilih untuk bermain Ski sendiri. Permainan Ski Hiro sangat hebat, seperti permainan Ski Ibu.


"Oke, waktunya Istirahat! Mari Kita makan siang dulu!" ujar Bibi Emiko.


"Baik!" Kami menjawab serempak.


Aku memang sudah merasa sangat lapar. Tenagaku cukup terkuras karena latihan Ski tadi. Kami mencari Restoran terdekat untuk mengisi perut Kami.


Setelah makan, Kami kembali bermain ke Arena Ski. Aku sudah mulai lancar memainkannya. Sungguh hal yang sangat luar biasa. Tak terasa, sudah menjelang sore hari. Kami dari awal sudah berencana untuk menginap di Hotel sekitar Resort. Berhubung Kami pergi di akhir pekan. Kami mencari Hotel lebih awal. Beruntung, Kami menemukan Hotel yang masih tersedia untuk 2 kamar. Satu kamar untuk para Pria, dan satu kamar lagi untuk para Wanita.


Ah! Hari yang sangat melelahkan sekaligus menyenangkan. Aku ingin sekali berendam di kolam air panas.


"Yumi, apakah Kamu ingin mandi duluan?" tanya Ibu.


"Tidak, Bu. Aku masih ingin istirahat."


"Baiklah kalau begitu, Ibu yang akan pakai Kamar Mandinya lebih dulu."


"Iya, Bu."


Ibu bergegas masuk Kamar mandi. Bibi Emiko sedang sibuk mengeluarkan pakaian yang akan dikenakan untuk malam ini.


Aku melihat keluar jendela, pemandangan Gunung Fuji tampak sangat indah. Aku ingin sekali berjalan-jalan sambil menikmati suasana dingin di Sore hari.


"Bibi Emiko!"


"Iya, ada apa Yumi?"


"Bolehkah Aku jalan-jalan sebentar?"


"Tentu saja. Tapi, Apakah Kamu enggak lelah?"


"Tidak. Aku hanya berjalan-jalan disekitar Hotel saja."


"Oke. Jangan lama-lama, ya! Kamu harus segera membersihkan diri. Karena sebentar lagi Kita akan makan malam bersama."


"Baiklah."


Aku meninggalkan Bibi Emiko yang masih sibuk merapikan pakaian yang Ia bawa. Aku berjalan santai di sepanjang koridor Hotel. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu hal yang cukup menyita perhatianku. Seorang Wanita cantik yang wajahnya terlihat sangat familiar, Ia sedang berjalan sembari di rangkul oleh seorang Pria tampan. Mereka berjalan berlawan arah denganku. Sesekali Pria itu mencium pipi sang Wanita, dan Wanita itu pun tertawa girang.


"Yo–shi–da?" gumamku.